Memoir, Politik, Racauan

Tidak Ada Maaf Ramadan Ini

Disclaimer: Bukan tulisan untuk diskusi atau dialog, cuma luapan stres dan kemarahan. Jangan dibaca kalau mau sehat.

pawai_obor_20160912_094604

Dua hari ini saya tertekan. Video-video yang masuk untuk saya kerjakan, adalah video-video yang tak pernah saya bayangkan ada di Jakarta di saat bersamaan, dari inisiasi preman yang membacok secara acak, bom bunuh diri kampung Melayu, dan di malam yang sama, anak-anak kecil berteriak bunuh-bunuh Ahok. Saya selalu berusaha mengerti dan memahami bagaimana pikiran manusia bekerja, tapi beberapa hari ini, saya benar-benar gagal paham.

Besok malam ada tabligh akbar di depan rumah. Saya tidak pernah absen mendengarnya, karena masjid punya toa yang sangat besar dan, ini epik, pernah di suatu gang, saya melihat komunitas pengajian yang jauh dari masjid, mendirikan tenda, menaruh TV LED di atas panggung, lalu memasang live feed youtube dari masjid besar, lengkap dengan amplifier-amplifier dangdut menggemakan suara si Habib. Sponsornya tetangga-tetangga saya sendiri. Nampaknya tabligh akbar sabtu ini akan menggunakan cara yang sama.

Pilkada DKI Jakarta telah membawa eksesnya, dan sentimen ini sudah pasti ditunggangi banyak pihak dari opisisi pemerintahan, lalu teroris. Mungkin inilah arti pemerintahan Rakyat yang sebenarnya: rakyat memenangkan seorang gubernur dengan sentimen agama, rakyat menyebar kata-kata kebencian, dan rakyat menuai hasilnya: anak-anak bermulut sadis dan sepasang Jihadis di terminal bus.

Setelah itu pun, akal nampaknya tak juga menyala malah tambah gelap. Teori konspirasi berseliweran, menuduh polisi dan pemerintah sebagai dalang pemboman bunuh diri, sebagai pengalihan isu untuk menangkap mahasiswa Islam yang sedang berdemo di Istana negara. Mahasiswa yang merasa sangat penting, dan sangat cerdas hingga penangkapannya seakan-akan memerlukan pengorbanan 3 orang polisi di Kampung Melayu. Padahal kalau kita baca berita, mahasiswa-mahasiswa demonstran itu otaknya taik kotok: kecil, sangit, baunya setengah mati dan sering jadi jebakan batman di jalanan.

Sungguh menahan mereka sama saja seperti menculik anak miskin yang makannya banyak–tak ada untungnya banyakan ruginya.

Kenyataannya begini kawan, itu hoax-hoax dan teori konspirasi dibikin oleh dua macam orang. Pertama, orang bebal yang ngotot bahwa dia benar dan ingin dapat perhatian; kedua orang cari uang dari klik, iklan, dan duit politik oposisi buat bikin rusuh, dengan tujuan yang lebih jelas: duit. Lalu orang-orang tolol klik, share, dengan rajin copy-paste di WA grup, dan tidak mau dipersalahkan kalau itu hoax, “mana saya tahu, saya kan cuma share dan ingin tahu pendapat kalian di grup ini,” kata si penyebar kotololan. Padahal kita semua tahu, ketololan yang ia sebar didasari atas benci kepada siapapun yang didiskreditkan hoax itu.

Persis seperti orang-orang yang bilang anti-terorisme tapi di saat yang sama mendukung ISIS, dan menyebar kebencian kemana-mana. Dan apapun yang kita sodorkan, argumen sudah mati. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk bicara, karena bicara dijamin konstitusi. Dan tidak ada yang bisa membuat mereka berpikir logis, atau sekedar punya empati pada orang yang berbeda. Jadi muslim yang baik tambah sulit. Di kanan dibilang radikal sementara di kiri dikafir-kafirkan.

18671491_1234722746649797_1134553460836842586_o.jpg

Begitupun mereka yang mengaku liberal, progressif, pendukung Ahok si kalah itu, terus-terusan tidak bisa move on, melemparkan kritik-kritik pada gubernur yang bahkan belum mulai kerja, menyebar hoax-hoax atau berita fakta parsial, hanya untuk nyinyir saja. Eh tot, lu ga ada kerjaan lain? Ini udah darurat bulan puasa isinya telek! If you’r not part of the solution, you’re part of the problem–heck there’s a possibility that you ARE the problem in the first place.

Lalu kalau sudah tidak bisa berdialog, dan hanya bisa bermonolog sama-sama begini, bagaimana cara minta maaf? Bagaimana cara memaafkan? Ramadan ini akan jadi Ramadan terburuk sepanjang tiga dekade hidup saya; sama sekali tidak ada keridhaan di hati saya, dan niat ibadah sudah hilang sama sekali. Setiap detik saya mau muntah, karena toa tak henti-hentinya berteriak-teriak serak. Saya tidak bisa lagi membedakan mana yang dzikir dan mana yang makian. Masjid bertambah megah, tapi udaranya kotor.

Ini seperti menghadapi setan kiriman yang mengganggu tidur. Saya ingin berdzikir untuk melawan kebencian, si setan berdzikir menyebar kebencian. Saya ingin mengaji biar damai, si setan mengaji biar perang dan terbakar. Ah, taiklah semua ini. Marah sendiri tidak ada gunanya, membuka hubungan untuk mengerti terasa sangat menghina pikiran dan hati nurani.

Lalu harus apa? I need an explanation but everything is so scattered now, I got disoriented. Mungkin saatnya mencari ganja ke kampung Arab di belakang komplek rumah. Bandarnya sudah naik haji dua kali dan nampaknya santai saja dengan keadaan ini, tak pernah benci-benci, menjadi sufi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Katanya, “Yang haram adalah yang memabukkan. Cimeng ini menyadarkan, jadi halal.”

Bener, Ji. Suntikin dulu, baru saya maafin semua orang dan ibadah enak Ramadan ini. SSSSUUUUTTT!!!!

1200px-arabischer_maler_des_krc3a4uterbuchs_des_dioskurides_004

Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Jangan Pilih Ahok Sebagai Pemimpin Muslim! Capische!?

ahok-hoax
Photo: Agan Harahap

Saya mengaku muslim. Tapi bukan muslim yang baik. Solat masih jarang-jarang, tapi berzakat lumayan teratur (diingetin nyokap). Puasa masih bolong-bolong (tapi diitung buat dibayar belakangan kalo ada umur). Saya juga sudah berhenti solat Jum’at di mesjid Indonesia. Terakhir kali solat Jumat di Indonesia sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu, saya ingat saya Walk Out dengan kesal, nggak tahan dengar setan yang jadi khatib.

Terakhir kali saya Solat Jum’at adalah di World Bank, Washington DC awal tahun ini. Kuil kapitalisme, dimana Tuhan kebanyakan orang disembah hari ini: DUIT. Di sana saya shalat dengan muslim-muslim dari seluruh dunia. Di sebuah mushalla kecil yang pakenya harus shift-shift-an, saya dapat shift 3, sekitar jam 2 siang. Lucunya, sebagai orang yang mengaku ‘kiri’, solat di World Bank membuat saya bukan ‘kiri yang baik,’ walau setiap ada kesempatan saya selalu ikut atau membuat proyek komunitas, dan jalur hidup, prinsip, dan pekerjaan saya lumayan jauh dari struktur industri.

Saya Solat di World Bank bersama murid-murid saya yang sedang mengunjungi DC. Mereka seperti kebanyakan muslim Indonesia, setengah tidur dengerin ceramah–sudah biasalah mereka nggak perduli dengan isi ceramah Jum’atan. Tapi saya terjaga dan mendengarkan. Inti pembicaraan adalah bagaimana menjadi adil dalam Islam, yaitu ‘menempatkan sesuatu pada konteksnya.’ Yang menarik adalah, si penceramah menarik jauh tema itu menjadi pentingnya ilmu pengetahuan, baik alam, sosial, ekonomi, filsafat dan politik, untuk menjadi adil. Karena keadilan tanpa referensi itu tidak ada. Kita tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya kalau kita tidak tahu itu apa dan dimana tempatnya. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah hal yang tidak adil: memakai celana dalam di kepala, misalnya, adalah hal yang tidak adil buat kepala dan buat si celana dalam (ini kalimat saya sendiri, bukan kalimat si penceramah–haha).

Peristiwa Demo anti-Ahok mengingatkan saya pada ceramah tersebut. Apakah Ahok adil membawa-bawa ayat Al-Quran dalam orasinya? Apakah umat Islam yang anti-Ahok adil dalam menempatkan Ahok sebagai calon pemimpin yang haram bagi muslim? Saya tidak bisa bicara soal ayat, tafsir, atau apapun itu. Itu bukan kapasitas saya dan saya merasa tidak adil bicara soal ayat dalam konteks agama. Dalam konteks budaya, saya masih pede bicara ayat dari kitab manapun, tapi konteks agama? Saya sih merasa tidak adil lah. Di situ saya merasa, Ahok tidaklah adil.

Namun, ketika orang-orang muslim mengharamkan pemimpin non-muslim, apakah itu adil? Ya, kalau pemimpin ‘muslim’ yang dimaksud adalah pemimpin agama, tentu adil-adil saja menolak Ahok. Kalau pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin seluruh umat Islam Jakarta, tentu baiknya jangan memilih pemimpin non muslim. Seorang kiai yang namanya saya lupa berkata, “Tidak mungkin seorang kristen menjadi imam shalat.” Saya setuju.

Cuman ya si Ahok jelas bukan pemimpin muslim. Dia nggak ngajarin agama. Dia juga bukan pemimpin Kristen, toh dia nggak ceramah di gereja tiap minggu–paling cuma sekali-kali aja dituduh pendetanya. Konteksnya, dia bukan pemimpin agama. Dia cuma pelamar kerja untuk jadi pelayan sipil (mengutip dia sendiri). Dia mau jadi CEO-nya Jakarta, anak buahnya warga Jakarta–masalah warga yang mana dari kelas apa, itu masalah lain. Adilkah kita menempatkan Ahok sebagai pemimpin muslim yang harus kita tolak?

Saya ikutan menolak Ahok menjadi pemimpin umat Islam. Tapi soal Ahok jadi pemimpin Jakarta, saya masih mau punya hak memilih dia atau kandidat lainnya. Dan saya yakin, kalau Pilkada Jakarta ini adalah untuk memilih pemimpin dengan tingkat kegantengan, Ahok pasti kalah. Dia jarang ngegym kok. Bandingin aje bodinya sama Sandiaga Uknow atau Agus Udahyanak—Udah Ya Nak, jangan jadi tentara lagi… Nyokap saya aja sudah bulat akan memilih Agus karena doi six pack (aduh mamah… ternyata cukup girang jeee sama brondong.)

Socrates dalam buku ‘Republik’ yang ditulis Plato, diceritakan pernah menggrataki pasar dengan ngajakin orang-orang ngobrol soal keadilan. Jawabannya tentu berbeda, dan seperti biasa, tidak ada kesimpulan mana ‘Adil’ yang benar dan yang salah. Ada yang menjawab keadilan adalah milik penguasa, ada juga yang menjawab–lucunya seperti muslim–bahwa keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, ada juga yang menjawab keadilan adalah ibarat timbangan. Seperti kata Aa Gym (yang juga jarang ngeGym), kita jadi banyak belajar dari kejadian Ahok dan surat Al-Maidah yang dia bawa-bawa. Ambil saja hikmahnya. Tapi, jangan ambil hak suara orang lah… di situ kita harusnya sepakat, mengambil hak suara orang artinya tidak a…

Ah, sudahlah. Saya tidak ingin bikin kesepakatan apa-apa. Terserah aja pilkada nanti gimana. Toh itu juga cuma ilusi besar demokrasi. Saya mah pro khilafah saja. Memilih naik onta dariada naik kendaraan bermotor. Onta ramah lingkungan dan tokainya bisa jadi pacar kuku.