Ethnography, Politik, Racauan

Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

www.go-jek.com
http://www.go-jek.com

DISCLAIMER:

Dilarang posting iklan. Karena ilmu pengetahuan itu GRATIS!

Kalau Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek. Harus profesional, teratur, terstruktur dan meminimalisir hubungan negosiasi antara tukang ojek (yang disebut driver (supir) oleh Gojek, padahal harusnya Rider (pengendara) karena motor tidak disetir tapi dikendarai)). Akan ada kepastian harga, kepastian keselamatan (asuransi) dan tidak ada ruang main-main atau dipermainkan. Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan. Coba saya bantu anda dengan memori saya tentang ‘institusi lokal’ yang hendak dibantai modernisme ini.

Anggap saja namanya pak Adi (bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya dari Depok-Cilandak waktu saya masih tinggal di Margonda dan bekerja di sebuah sekolah national plus tahun 2009-2011. Pak Adi ini sarjana muda dan kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama seperti bapak saya. Kalau saya ngobrol sama dia, saya jadi ingat pada bapak saya.

Ada lagi Mamat (juga bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya di depan rumah keluarga besar saya di Kebagusan. Selain tukang Ojek, Mamat juga suka jadi tukang parkir, tukang ledeng, tukang bangunan dan tukang lain-lain yang diperlukan keluarga besar saya. Dan dia bisa dipanggil 24 jam karena rumahnya dekat rumah saya. Saya sering ngutang sama Mamat karena jarang bawa duit kecil dan dia jarang punya kembalian. Misalnya saya minta antar Kebagusan-Pasar Minggu (10-15 ribuan), lalu uang saya 50 ribu, mamat suka tak punya kembalian dan bilang, “Yaudah bos nanti aja.” Lain hari duit saya 100 ribu dan lima ribu, saya bayar Mamat cuma lima ribu dan dia bilang lagi, “Yaudah bos, nanti aja.”

Setelah saya menikah dan hendak pindah dari rumah keluarga besar, siang-siang Mamat datang ke rumah dan menagih 85 ribu–bang Mamat tahu saya pindah karena waktu ada acara pengajian di rumah, bang Mamat jadi tukang parkir tamu-tamu keluarga saya. Ketika saya tanya detilnya itu apa saja, dia dengan gampang dan tanpa catatan mengingatkan bulan apa dan tanggal berapa saya diantarnya beserta detil berapa utang saya. Saya kasih 100 ribu, “Bunga nih, bang!” kata saya.

Mamat bilang, “Ih, Nggak ah! Riba! Jangan pake bunga dong.”

“Yaudah, kembaliin 15 rebo,” kata saya.

“Yaah, kaga ada duit kecil,” balas Mamat. “Kalo bonus saya terima dah.” Lanjutnya.

“Heum. Yaudeh-yaudeh, bonus bang.”

“Tengkyu bos.”

Itu dua tukang ojek pangkalan yang saya kenal. Dari saya kecil, ada beberapa lagi yang saya pernah cukup tahu namanya–tapi tidak usah disebutkanlah. Langganan saya waktu SD, langganan saya waktu SMP, dan langganan saya waktu SMA (saya sering pindah rumah, 12 kali selama 30 tahun belakangan ini). Tukang ojek pangkalan menemani hampir tiap fase hidup saya. Mereka yang saya kenal ini, penting di hidup saya.

Lalu nasib sebagai antropolog membuat saya bersinggungan lagi dengan tukang ojek pangkalan sebagai wacana di dalam kelas. Saya ingat seorang kawan saya Edna Caroline pernah membuat riset soal tukang ojek di UI dan gesekan yang ditimbulkan ketika UI membuat mereka terdata dan terstruktur dengan kartu, helm, dan jaket resmi Ojek UI. Lalu di kelas yang saya ajar, dua orang murid saya di angkatan yang berbeda membuat kajian antropologi tentang tukang ojek pula. Yang pertama sebuah esei antropologi oleh Agung Rino Prasetyo (2013) dan yang kedua sebuah etnografi visual berbentuk dokumenter pendek oleh Andrika Fandra Salim (2014)–keduanya belum diterbitkan.

Dari tiga penelitian tentang ojek itu saya jadi mengerti beberapa hal penting soal tukang ojek pangkalan.

Pertama, ojek pangkalan adalah sebuah struktur sosial yang rapih. Andrika dalam presentasi proposal film dokumenternya melaporkan bahwa subjeknya, tukang ojek bernama Daus, adalah salah satu pionir ojek di daerah Palmerah. Dia seorang betawi yang kehilangan pekerjaannya di tahun 1980-an, dan memutuskan untuk menjadi tukang ojek–ini bukan sesuatu yang mudah. Daus sempat hampir dipukuli karena dia tidak paham sistem pangkalan: bahwasannya dia tidak boleh sembarang mangkal di daerah orang. Ketika dia sudah paham itu, akhirnya dia membuat pangkalan ojeknya sendiri.

Dalam pangkalan ojek ada sebuah komunitas, sebuah paguyuban. Daus membuat pangkalan ojeknya sendiri berdasarkan kekosongan pangkalan di daerahnya, dan ia mengumpulkan sanak keluarga dan tetangganya untuk menjadi anggota pangkalannya. Di situ ada hukum sosial yang berlaku, ada antrian, ada bagi-bagi rejeki dan ada pelanggan-pelanggan lokal. Setiap pangkalan akan buat struktur sosialnya kalau tidak ingin ada chaos.

Struktur ini tidak main-main. Dari pengamatan saya, di daerah Lenteng agung, ada tiga pangkalan ojek yang saling bersaing. Yang pertama pangkalan arah Lenteng Agung -Depok, yang kedua arah Stasiun Lenteng-kemanapun, dan yang ketiga arah Lenteng Agung Pasar Minggu. Mereka memang tidak saling bertengkar, tapi tidak juga saling menyatu. Tidak bisa sembarang bercampur karena target penumpangnya beda-beda. Yang di tengah stasiun lenteng targetnya pengguna kereta api, sementara yang di luar targetnya pengguna angkot. Keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dengan pangkalan–karena itu artinya dia tidak mau antri.

Sekarang kita punya masalah baru: pertikaian antara GoJek yang modern dengan Ojek Pangkalan. Ini logika yang tidak akan ketemu. Logika GoJek adalah logika Korporat yang ‘profesional’ atas asas kapitalisme liberal yang menggurita: dia hendak mengubah semua tukang ojek menjadi tukang GoJek, sesuai dengan tanggapan pada insiden keributan tukang Ojek dan Gojek:

“Kami memanggil semua ojek pangkalan untuk bergabung dan menikmati keuntungan-keuntungan menjadi Gojek Driver.”

Sementara logika tukang Ojek Pangkalan sederhana: jangan nyelak kalau tidak mau dijitak! Apakah ini logika kampungan, logika tidak modern, atau logika semut yang diajari sejak kita balita? Logika Sopan Santun?

Ya, memang logika sopan santun dan etika ini sudah banyak dilupakan orang karena sopan santun disalah artikan jadi mulut manis basa-basi dan penjilatan. Kalau sudah bicara sopan-santun, apalagi di Jakarta, biasanya kita langsung ingat mulut anak-anak SD (atau orang tua dengan mental anak SD) yang bilang Ahok tidak sopan. Padahal sopan santun ini bisa jadi cuma masalah permisi dan negosiasi yang apik tanpa omong keras apalagi omong kotor. Sesederhana membungkuk ketika lewat orang yang lebih tua dalam budaya Jawa. Masalahnya, Gojek nampaknya tidak perduli dengan logika ini. Ironisnya, ketika Gojek tidak [sudi] menganggap ojek pangkalan sebagai ‘saingan‘. mereka mengajak ojek pangkalan untuk bergabung. Ini skenario lama, modernisasi tipe kolonial gold gospel glory. Buat dapat emas, buatlah semua inlander jadi kristen, dan kita menang. Protestant Ethics. White men’s burden.

Ditambah reaksi netizen dan warga jakarta, juga dukungan Ahok, maka ‘penertiban’ terhadap para pangkalan Ojek ini tinggal tunggu waktu saja. Apalagi semenjak Transjek, yang berdasarkan laporan Prasetyo (2013) moda produksinya sama dengan Gojek, tidak terdengar lagi, Gojek hampir memonopoli industri ojek berteknologi (walau saingannya sudah mulai pada muncul, dan tahun depan mungkin akan dimulai sebuah perang brand). Tawaran Gojek juga begitu menggiurkan: penghasilan lebih pasti dan asuransi. Ojek Pangkalan nampaknya akan jadi sejarah; dan ini tidak pernah adil. Karena ojek pangkalan tidak terepresentasi dengan baik dan dipukul rata sebagai kelompok ‘inlander’ tanpa memperhatikan moda-moda produksinya dan spesifikasi setiap pangkalan yang berbeda-beda. Sifat korporat, birokrat dan kelas menengah yang seperti ini memang sulit berubah.

Tapi tetap ada harapan bagi Ojek Pangkalan untuk bertahan. Ojek pangkalan sering tidak disukai ketika beberapa mereka menerapkan harga seenak jidatnya. kadang-kadang lebih mahal dari taksi. Tidak ada standar tarif yang jelas. Dari sini senjata ojek pangkalan cuma satu: paguyuban. Fungsi paguyuban memang abstrak, tidak bisa diukur. Paguyuban menyediakan asuransi berupa bantuan teman/keluarga dan paguyuban menyediakan kesetiaan yang tak terhitung. Ojek Pangkalan semestinya memang guyub, penuh nepotisme terhadap saudara dan pelanggan tetap. Itu moda produksinya. Kalau ia mau bertahan, ojek pangkalan harus menyatu dengan komunitasnya dan lingkungan pangkalannya–yaitu para pelanggannya. Seperti Adi, Mamat dan Daus.

Walau saya curiga, usaha mempertahankan Ojek Pangkalan itu akan sangat sulit apalagi di Jakarta. Karena tukang ojek membludak, yang picik lebih sering kelihatan daripada yang baik: dari yang bermain harga hingga yang berlagak preman dengan memeras pelanggan atau melarang angkot beroperasi. Terlebih lagi warga Jakarta semakin individual, instan dan semakin ingin kepastian ukuran angka–seperti layaknya kota metropolis lain di dunia ini. Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati.

223 pemikiran pada “Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

  1. Gojek menambah penghasilan tukang ojeg yg mau bergabung. Udah pernah ngobrol sama mereka? Sejak gabung dg Gojek, para tukang ojeg itu bisa dapat 10 order pada hari sabtu dan minggu yg gak akan terjadi kalau mereka mangkal. Selain itu mereka bisa jawab order dari rumah jadi gak perlu mangkal. Daftarnya juga gampang cukup punya sim dan stnk.
    #sayakonsumenGOJEK

    1. Boleh lho ditulis bahagianya jadi tukang gojek. Dan mas bisa klik juga link hyperlink di tulisan saya. Ada nyambung ke banyak blog soal betapa kerennya Gojek.

      Saya juga kagum kok. Hehe.

  2. Harusnya kejadian ini ga sekedar ditanggapi oleh twit. Menurut gw dari pihak Gojek hal ini sebuah pekerjaan besar, yang punya nilai social responsibility dan bisa jadi titik terang buat kemajuan Gojek ke depannya.

    Sejauh ini gw liat sistem gojek bisa ditanamkan secara coexist dengan ojek pangkalan. PR-nya adalah gimana mereka bisa mensosialisasikan Gojek dengan baik biar si ojek pangkalan mengerti. Dari tulisan lu gw dapet pelajaran baru bahwa ojek pangkalan juga punya sistem sendiri dengan nilai nilai sendiri yang mungkin juga ga bisa “dibeli” dengan iming iming penghasilan yang lebih besar semata. Dan sejujurnya gw agak ragu ini bisa diselesaikan sama Gojek, apalagi foundernya katanya lulusan Harvard yang mungkin ‘ga nyambung’ buat ngertiin dan ngeyakinin para ojek pangkalan. Yah semoga aja bisa… karna kalau ga bisa berarti ini mungkin tugas lu, Andrika atau teman teman antropolog lainnya yang lebih mengerti yang seharusnya mengemban tugas ini menjembatani kedua belah pihak.

    Poin lain yang gw ingin komentari juga tentang warga Jakarta kebanyakan yang tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Ini gw rasa agak menggeneralisir, dan bukan berarti dengan Gojek hal ini menjadi hilang. Setiap kita pesen gojek nomer pribadi si rider akan tertera di handphone kita, sangat mungkin apabila kita “cocok” sama sang rider kita akan telepon dia langsung sebagai rider langganan.

  3. GOJEK secara bisnis adalah kapitalisme murni bukan social business. mengapa didefinisikan kapitalisme? karena GOJEK sebagai start up mendapatkan pendanaan dari Venture Capitalist. Mereka harus membalikkan dana Venture Capitalist plus “dividen” atas pinjaman mereka. Mereka menekan biaya (hanya kasih bagi hasil, tidak ada gaji) biar balik modal cepat untuk ke VC. Disisi lain tukang ojek merasa diri mereka meningkat pendapatan mereka, namun pada saat GOJEK monopoli murni, pendapatan ojek akan menurun..mengapa?layanan akan menurun.kaya pertamina yang seenak ya kasih pelayanan karena monopoli dan persaingan tukang Gojek sendiri (kanibalisme). dari sisi social, kita kehilangan social capital…kita ga akan kenal sama tukang ojek lagi dan merasa empati.. itu penting untuk negara… thank you untuk penulis blog ini…briliant.

    1. untuk kota sih menurut saya nggak apa2lah bung. Udah ancur begini emang harus ditanggulangi. tapi untuk yang lain, yang masih bagus2, itu baru bahaya. excessnya akan kemana2 dan harusnya kita sudah siap2 lah.

      Excess ini kan yang nggak pernah dipikirkan oleh kelas menengah baru yang buta diskursus. hahhahaa…

      tapi saya rasa bentukya nanti bukan kanibalisme, tapi murni persaingan bisnis, perang brand lah. Either way, seru ajah. Merepotkan, tapi seru. Hahah

      1. Di sini mungkin harus lebih jelas yg masihh bagus2 yg dimana ?.. Yg kemana2 yg dimana ?? Terus ‘kelas menengah baru’ yg mana lantas posisi anda di kelas yg mana ? Ada ‘kelas menengah baru’ berarti ada ‘ ada kelas menengah lama’ … Ada lagi ‘merepotkan’ tapi seru !?!?! Ahahaha….

        Padahal kalo sy simak dari tulisan dan komentar di sini yg 1 mau jadi pahlawan di salah satu pihak dan yg 2 nya SUDAH menjadi pahlawan di lain pihak (paling tidak memberi SOLUSI dan SUDAH di terima )

        Semoga ada ‘kelas menengah LAMA’ turun tangan dan urun SOLUSI 😁😂👍, kayanya kurang pas kalo kelas menengah lama “MUNCUL” ahahaha….

      2. Posisi saya kan jelas, saya berbagi memori. Dan saya nggak menyudutkan gojek lho, saya optimis bahwa sistem bagus akan menggantikan sistem yang lama.

        Cuma saya minta anda2 buka pikiran aja, bahwa solusi diberikan pada yg perlu solusi. Itu saya sudah tulis masalah2 ojek pangkalan, gojek jadi solusi saya setuju.

        Tapi buat yg nggak bermasalah, ya jangan dipaksakan lah. Nanti jadi masalah baru.

    2. Monopoli sepertinya engga terjadi. Sekarang aja udah ada Grab Bike, mereka punya tarif promo lebih murah dan (katanya) anggaran dana asuransi. Mungkin akhirnya yang terjadi bakal kaya taksi, pelanggan punya brand brand kepercayaannya sendiri, setiap brand akan punya diferensisasi karakternya masing masing, dan para ridernya pun punya paguyubannya tersendiri yang semoga diikuti jaminan tenaga kerja, asuransi kecelakaan, serikat tenaga kerjanya dan kode etik masing masing.

      1. Nilai sudah bergeser dari sosial ke total kapitalis, karena apa.. mungkin globalisasi. Gw pribadi ya ngeliat untuk di jakarta ya oke lah karena kotanya sudah metropolitan, wajar. Nah yg ga setuju jika sampe ojek koorporat ini juga sampe ke desa desa dan menghabiskan nilai2 sosial yg tersisa.

        Ga pa pa deh gojek berkembang, grab bike berkembang asal jangan ada deal dealan harga di antara mereka sehingga konsumen yg menikmati semua harga dengan maksimal.

    3. Pemetaannya sebenernya ringan ringan aja ; ada 2 sistem layanan ojek yg 1. Sistem lama (mangkal di satu titik) yg ke 2. Sistem perantara melalui piranti (mempertemukan jasa ojek dg pengguna nya ). Nahhh kembali ke pengguna yg memerlukan ojek mau pilih yg mana ??? Hal lainnya pendiri go jek sebagai pemulai sistem ojek baru ini berdasarkan pengalamannya sbgai pengguna ojek juga ingin membantu memudahkan jasa ojek dg sistem yg dia bikin (di anggap Pahlawan bagi sebagian org dlm satu hal)…… Nahhh bagi yg ingin menolong atau jadi pahlawan di lain pihak silahkan dg solusi apa yg kalian miliki !?!? APAKAH DG TULISAN DAN KOMEN KOMEN DI SINI sudah terpecahkan SOLUSI ?!?! Catat !!! : berdasarkan sejarah berdirinya GOJEK sbagai start up .pendirinya terinspirasi oleh jasa yg dia gunakan (Nasib si tukang ojek) ….nahhh ga tau kalo GRAB BIKE !?!?

      1. Terima kasih mas udah berbagi pengalaman pikniknya sayang cuma 1kalimat 👉….Terlebih lagi warga Jakarta semakin individual, instan dan semakin ingin kepastian ukuran angka–seperti LAYAKNYA KOTA METROPOLIS LAIN DI DUNIA INI….

        Terima kasih juga utk CEO Gojek jauh2 ke Amerika utk S2 Balik ke Jakarta cuma untuk “ngeGo-jek”. Ngembangin yg pernah di rintis …hihihi

      2. Salah fokus mas ini. Dikit2 dibawanya ke gojek. Katanya mau diskusi.

        Hahaha… puas2in deh muja-muja gojek. Fokus aja terus ke situ dan lupakan masalah transportasi atau maaalah sosial lain.

        Iya, memang kota metropolis hampir sama dimana2. Tapi saya kan nggak ngomongin itu doang. Hahaha.

        Selamat berpuasa.

  4. Tulisan menarik. IMHO, katan yg kuat antar sopir ojek pangkalan di satu sisi bagus, mereka sangat kompak, setia kawan, tolong menolong, gotong royong dsb dan kalau kita sudah kenal sangat enak (ngutang, bisa nitip anak dst)

    Tapi di sisi lain efeknya juga menyeramkan, benar-salah karena satu pangkalan ya dibela habis-habisan. Nyenggol sopir ojek dekat pangkalannya? walaupun kita yg benar tahu sendiri akibatnya. Pernah juga terjadi bentrokan dengan sopir angkot di dekat rumah saya, gara-gara sopir angkot melewati jam jatah ojek. Jadi pangkalan ojek jadi sebenarnya monopolis juga, dan mereka tidak segan menggunakan kekerasan. Pangkalan ojek yang ”ideal” sekalipun menyimpan potensi seperti ini. Mungkin solusinya perlu ada pelatihan untuk mereka atau dibuatkan app lokal setiap pangkalan.

    1. Monopolis dalam tingkat lokal namanya proteksi ekonomi mas. Haha.

      Iya bener memang yang gitu harus ditertibkan. Dan ide bagus tuh app lokal tiap pangkalan. Dibatasi wilayah kerja kalau menyangkut transportasi (bukan kirim barang). Didata pangkalan ojeknya dimana.

      Yah semoga diskusi penggembira ini didenger para eksmud itu. Haha.

      1. Proteksi kalau tanpa landasan hukum ya tetap susah. Solusinya mungkin buat asosiasi yang formal yang bisa memperjuangkan hak-hak mereka secara legal (mirip seperti taksi) Sekalian asosiasi ini bisa digunakan ngeberesin berbagai masalah yang ada (standarisasi tarif, pelayanan dst).

  5. Saya melihat ini bukan bentuk kapitalisme. Karena untuk Bersaing dengan GoJek ini sangatlah tidak butuh modal kapital yang besar.
    Para pelaku bisnis ojeg hanya perlu merubah attitude mereka. Pelayanan prima; ramah, mengutamakan safety, dan tarif yang masuk akal. HANYA ITU !

    1. Sederhana sekali anda kalo ngomong (1) kapitalisme hanya soal uang dan (2) pelaku bisnis ojek harus mengubah attitude seakan2 SEMUA pelaku bisnis ojek attitudenya jelek.

      Dan apa? Ini bukan bentuk kapitalisme? Kapitalisme dalam kepala anda emangnya apa?

  6. Sah-sah saja bila anda seorang inovator yang meraih pendidikan secara mandiri & melakukan inovasi bermotif ekonomi, daripada anda (bukan penulis ya hanya bahasa satir) yang ditugaskan melakukan inovasi dengan beban anggaran negara tapi hasilnya NIHIL!!!… Intinya saya sebagai pengguna jalan melihat berbagai permasalahan sosial dalam dunia transportasi lebih ke arah “Krisis keteladanan”… Anda tahu siapa yang meneladani para tukang ojek untuk mengenakan tarif sesuka hati? Anda tahu siapa yang meneladani para supir angkot remaja tanggung berakselerasi seenak udelnya dalam operasionalnya? Anda tahu siapa yang meneladani supir angkutan bus sedang mengoper penumpang seenaknya padahal belum sampai tujuan akhir perjalanan? Dan apakah anda tahu juga siapa yang meneladani para supir bus angkutan besar ber-AC maupun Non AC berjalan seperti keong hingga mendapatkan penumpang menumpuk seperti ikan sarden didalam makanan kaleng?… Menurut saya Go-Jek walau mungkin punya motif ekonomi yang massive tetapi bisa juga menjadi teladan atau paling tidak teguran yang baik dalam dunia transportasi khususnya ojek… Banyak sekali problematika sosial yang erat dengan kehidupan bermasyarakat yang bisa kami (bukan saya hanya pengandaian jika saya seorang inovator) sentuh tentunya dengan motif ekonomi karena kami paling tidak harus menutupi pengeluaran selama melakukan riset… 10% orang baik + 10% orang jahat + 80% orang hanya mengikuti (yang dominan), mudah-mudahan 10% orang baik sedang mengendalikan 80% orang yang hanya mengikuti… Hidup 10% orang baik!!!

  7. Izin ngasih sudut pandang yg berbeda.
    Apakah Adi, Daus, Mamat akan mau menjadi tukang ojek yg disebut sebagai profesional, rapih, dan teratur? Sepertinya tidak…alasannya ada banyak, tp utamanya barangkali adalah “keengganan untuk berubah”. Mereka sudah merasa nyamana dgn kondisi yg mereka jalani, dan ketika memasuki kondisi yg berbeda yg membutuhkan perubahan, atau yg mereka sebut “ribet”, mereka tidak siap, atau tepatnya enggan.
    Mungkin ini gambaran dari kondisi masyarakat kita kebanyakan. Dari kondisi yg tidak teratur, masing-masing berkelompok dgn peraturan sendiri, punya monopoli di daerah masing-masing, menjadi teratur, terorgansasi, dan modern. Kebanyakan dari kita tidak siap untuk kemajuan seperti itu

  8. menarik tulisannya… semua pilihan ada di pengguna, tapi yang sangat disayangkan adalah menggunakan pendekatan ‘primitif’ (bahasa sendiri) dari ojek analog (bahasa sendiri lagi) secara represif, dibandingkan “show who the best services!”.

  9. Sebenarnya Gojek bisa bermanfaat juga sih buat tukang ojek pangkalan, asal mereka mau bukia pikiran dikiiit aja. Misalnya, tukang ojek pangkalan di stasiun KRL juanda yang cuma rame pas pagi sama sore aja, diwaktu-waktu tersebut mereka bisa saja mangkal, karean lagi rame banget dan menguntungkan, tp pas jam-jam sepi mereka bolehlah ganti seragam gojek, jadi pendapatan mereka bisa meningkat, dapat jaminan sosial, tukang ojek heppy, penumpang heppy 🙂

  10. Sebetulnya ada 2 sisi dari gojek (ya semua hal ada 2 sisi sih, dan yang terbaik memang win-win dan segala perbaikan butuh proses)

    Masyarakat Produksi (Supir Gojek)
    + Bagi mereka yang tidak tergabung di pangkalan, hal ini membantu untukmendapatkan konsumen tetap. Sistemnya kejar setoran, bukan nunggu rejeki. Mereka sendiri bisa mengatur hari ini bisa target dapet berapa dan leha-leha sisanya, beda dengan yang mangkal aja yang tidak pasti targetnya akan tercapai dalam berapa jam. Mereka bisa mengatur prioritas.
    + Ada asosiasi value bagi para driver, dimana disini keamanan menjadi isu utama dari para pengguna jasa. Bagi mereka yang baru terjun, ini kesempatan untuk mendapatkan kredibilitas. Apalagi konsumen yang “ngojek di jalan”. Bukan dari tempat biasa mereka naik atau on-demand ojek user
    – Bagi mereka yang memang kolot dan tak bersistem, skema pasti membebani karena beberapa ojek layaknya sopir angkot, sebenernya gapeduli soal target income.

    Masyarakat konsumsi (pengguna gojek)
    + JAMINAN KEAMANAN dan harga. DI bold karena itu isu utama. Harga karena kalo ojeknya belom kenal, harganya beneran seenak jidat, apalagi ojek nemu di jalan…bisa 2x lipet taksi. Udah gitu pake acara kesasar.

    Bagi saya, sebetulnya kalo ojek PANGKALAN punya preposisi lebih UNGGUL di mata konsumen SELAMA mereka betul2 menerapkan COSTUMER RELATIONSHIP. Di Indonesia, kita masih memandang connection sebagai base untuk kerjasama. Kalo kita udah kenal lama, dan mereka juga enak ngobrolnya, konsumen cenderung balik lagi ke penyedia itu terlepas apapun labelnya. Yang bikin males kan yang “neng, sayang , mau kemana” lah ilfil. Sedangkan ojek depan kantro yang udah kenal gakan pernah punya prilaku melecehkan karena mereka paham harus buat konsumen nyaman 🙂

    1. “customer” mbak, bukan “costumer.” Kalo “costumer” itu biasanya yang di acara jejepangan pake baju tokoh anime.

      *maap saya kolot soal ejaan Inggris2an.* :-p

      1. menurut saya pangkalan ojek yang kurang ajar harus ditindak malah. kalau aja polisi indonesia kerja dan hukumnya bener, verbal abuse kayak gitu harusnya langsung ditangkep.

        Termasuk tukang ojek yang ngendaliin trayek angkot seenak jidatnya. Atau tukang ojek yang gebukin gojek. Kasusin ke polisi yang gitu2.

    2. Setuju Rahma.
      Lebih enakan yang kenal, tukang ojek depan komplek juga gitu, lebih ramah, kadang kalo jam tertentu suka sms “bos, ngojek ngga”..

      trus pas udah order mereka langsung buru2..tanpa ditanya mereka tau destinasi kita kemana
      “mau ambil mobil ya bos” kaget kan doi bisa apal..

      pernah satu hari pas mau ambil mobil, kunci ketinggalan..
      trus si tinggal telpon mintain ambil kunci mobil sama orang rumah..

      pas sampe ngga minta uang tambahan, cuman minta uang buat bayar uang masuk parkir keruko aja katanya..

  11. Saya pernah lihat di sebuah gang ada tiga tukang ojek yang sedang mangkal. Dua di antaranya memakai atribut Gojek, satu memakai atribut Grab Bike. Semuanya terlihat sedang santai menunggu order sambil bercengkrama. Tidak ada gesekan satu sama lain. Walaupun berbeda atribut, mereka tetap tukang ojek satu pangkalan.

    Rupanya sistem pangkalan tetap berlaku jika ada pelanggan yang mendatangi mereka tanpa memesan lewat aplikasi. Hubungan personal dengan pelanggan pun tetap terjaga karena umumnya mereka sudah kenal satu sama lain di gang tersebut.

    Sistem Gojek dan Grab Bike sebenarnya bisa berjalan berdampingan dengan sistem ojek pangkalan. Terlebih, ada beberapa keuntungan bagi tukang ojek dan pelanggan dengan hadirnya sistem yang ditawarkan oleh Gojek maupun Grab Bike.

    Pertama, tarif menjadi lebih fair dan transparan. Tidak mudah menentukan tarif dengan memperkirakan saja karena kemampuan prediksi orang memang ada batasnya. Soal empati, kalau mau, pelanggan sebenarnya bisa memberi lebih dari seharusnya dan lebih tenang tanpa merasa ditipu, karena sudah tahu harga seharusnya. Saya pernah lihat anjuran di social media dari salah satu pelanggan Gojek untuk memesan dua paket makanan saat menggunakan Go Food, layanan antar-mengantar makanan dari Gojek. Satu paket untuk tukang ojeknya.

    Kedua, keamanan lebih terjamin. Identitas tukang ojek dan pelanggan tersimpan di server Gojek atau Grab Bike, sehingga jika terjadi hal yang tidak diinginkan, pihak berwajib bisa langsung menindak orang tersebut dengan berbekal info tersebut. Verifikasi identitas tukang ojek saat mendaftar menjadi “Driver” bahkan sebenarnya bisa membantu mencegah terjadinya kejahatan tersebut.

    Ketiga, waktu tunggu tukang ojek pangkalan bisa lebih produktif dengan mengambil order di luar area cakupan pangkalannya. Variasi layanan yang ditawarkan pun lebih banyak, karena melalui Gojek misalnya, tukang ojek bisa menjadi kurir atau penyedia jasa lainnya, seperti membantu membelikan barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini mungkin karena adanya rasa aman tadi.

    Keempat, memberi jempol dan bintang lewat app sebenarnya memberikan keuntungan yang nyata bagi tukang ojek, lebih dari sekedar ucapan terima kasih atau senyuman. Secara akumulatif, hal ini memberikan reputasi yang baik bagi tukang ojek, sehingga orang yang tidak kenal secara personal pun bisa memiliki rasa percaya dan merasa lebih tenang saat menggunakan jasanya. Sekali lagi, rasa empati tidak hilang dengan adanya sistem ini. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Kebebasan untuk mengekspresikan hal itu tetap ada.

    Sori kepanjangan.

    1. Saya like komentar ini. Ini adalah akumulasi empati kan?

      Banyak yang like tulisan ini, lihat betapa banyak empati buat saya.

      Pleeaasee… empati kok dikonversi jadi like dan akumulasi modal. Empati macam apa itu? hahaha…

      1. Arahnya bukan ke situ, sih. Sistem rating dan ekspresi rasa empati tiap orang bisa beriringan. Sambil membangun hubungan baik dengan tukang ojek, pelanggan juga bisa memberi rating bagus untuk membantu pelanggan lain, yang bahkan tidak dikenalnya, supaya tahu bahwa tukang ojek langganannya punya kualitas bagus.

        Sama seperti tulisan ini juga. Semakin banyak yang “like” dan “share” tulisan ini, semakin tinggi peringkatnya di mesin pencari atau social media dan semakin tinggi peluangnya untuk menjangkau lebih banyak pembaca.

        Pada akhirnya teknologi itu hanya alat. Berpikir tentang risiko itu bagus. Tapi melihat dari sudut pandang negatif saja malah kontraproduktif.

      2. Melihat dari sudut pandang postif saja juga kontraproduktif. Ada tulisan lain yg ber’nada’ negatif selain tulisan ini?

        Kayaknya jaranng. Hahahah

  12. Sebagai sesama alumni antropologi, saya menilai argumen anda terhadap gojek ngga objektif. Tidak selama tech company/startup itu synonym dengan “kapitalis liberal dengan logika korporat” yg (cepat atau lambat) akan menggerus usaha kecil. Mereka hadir co-exist dengan tatanan sosial yg sdh ada (bukan satu menghilangkan yg lain).

    Gojek punya added-value sebagai kurir barang yg jauh lbh bisa dipercaya & professional ketimbang perusahaan pengantar barang yg ada di jkt. Tidak berarti saya tidak punya tukang ojek langganan. Saya tetap punya langganan tukang ojek yg sdh dianggap seperti keluarga oleh orang tua saya.

    Sedikit saran untuk penulis , coba pahami dunia start-ups lebih dulu sblm membuat argumen. Most of start-ups yg berhasil muncul bkn semata2 karen ingin jadi konglomerat tapi krn ingin ber-inovasi untuk memperbaiki/memberi alternative untuk kehidupan orang banyak.

    “Startups can make the world a better place”

    1. Mbak ratri harusnya baca lagi deh pelan-pelan.Nggak ada satupun kalimat saya yang bilang, “tech company/startup itu synonym dengan “kapitalis liberal dengan logika korporat” yg (cepat atau lambat) akan menggerus usaha kecil.”

      Itu salah baca. Jangan ngarang.

      Saya semata-mata menunjukan kepada orang-orang yang ‘terlalu percaya’ bahwa ‘startups can make a better place’, bahwa ada lho yang belom butuh starts-up. awas jadi fasis.

      Justru di sini saya mau bilang BISA LHO BUAT CO-EXIST.

      dan saya emang ga objektif, lha wong ini blog curhat saya kok. haha.

      Boleh cari paper akademik saya aja kalo mau baca yang objektif2.

      1. Sekarang kita punya masalah baru: pertikaian antara GoJek yang modern dengan Ojek Pangkalan. Ini logika yang tidak akan ketemu. Logika GoJek adalah logika Korporat yang ‘profesional’ atas asas kapitalisme liberal yang menggurita: dia hendak mengubah semua tukang ojek menjadi tukang GoJek, sesuai dengan tanggapan pada insiden keributan tukang Ojek…

        ^^
        Mbak ratri kayaknya mengutip dari sini deh. Jadi maksud penulis dengan paragraf tsb apa ya?

        Anw, tulisannya bagus karena memberi perspektif lain dunia perojekan. Kalo bahasa sekarang sih, penulis ini “anti mainstream”. Udah banyak yang dukung gojek, ane dukung ojek pangkalan aja dah

      2. Simple: kebanyakan orang lihat masalah ojek-gojek ini karena tukang ojek nggak mau ngerti. Salah tukang ojek.

        Padahal bukan nggak mau ngerti tapi nggak akan bisa ngerti. Karena logika berpikirnya beda. Itu sama kayak kita ngomong sama orang tua kita yang konservatif kalo kita mau pindah agama. Bukannya orang tua kita ga mau ngerti, tapi gak balal bisa ngerti.

        Kalo udah kayak gitu jangan ditabrakin atau disalahin. Public Relation Gojek mencoba menawarkan dengan baik2 untuk masuk ke ranah Gojek (agar logikanya bisa masuk juga). Mereka sadar tuh ada masalah ini.

        Nah yang saya kritik tuh orang2 yang berkoar seakan2 nggak ada cara lain. Seakan2 tukang ojek2 SEMUAnya inlander, liat harus ditertibkan. Makanya saya kasih contoh yang ga gitu.

  13. Sebenarnya sikap empati juga bisa dibangun melalui gojek, tapi saya juga kurang paham sistem komukasi antara driver dan pelanggan.. apakah melalui gojek pelanggan bisa berlangganan dgn driver tetap dia di gojek.. soalnya belum coba app nya hehe…

    Lagipula kalo komunikasi yg dibangun dgn baik kepada driver “jika sistem gojek memungkinkan kita memilih driber langganan” bukannya driver tersebut bisa menjadi mamat, daus, adi selanjutnya?

  14. Tulisan yang bagus. Saya pribadi sering tidak suka dengan ojek, lebih karena ketidakpastian harga dan malas tawar-menawar. Tapi juga kasihan kalau mereka sampai tergusur. Mungkin koperasi adalah salah satu sollusi bagi mereka dan perlu ada tenaga profesional atau paguyuban yang lebih resmi, biar bisa bersaing dengan Gojek dan korporasi lainnya.

    1. tenaga profesional kan ada gojek/grabjek dan ojek branding lainnya. sementara paguyuban resmi itu ada tapi sifatnya lokal. yang tahu yah RT/RW atau warga sekitar. Kayaknya saya pernah baca satu tugas mahasiswa tentang paguyuban kayak gitu–mereka kayak klub motor tapi klub ojek. heheeh.. nanti kalo sempet saya cari2 lagi deh bahannya.

      Saya sih nggak setuju paguyuban jadi kayak korporasi. Korporasi ya korporasi aja, padat modal, buat di metropolitan yang udah butuh itu.

      Sementara pangkalan ojek kalo mirip koperasi sih mungkin aja ya. Itu ide bagus jaman orba yang wajib dikembangkan–karena banyak koperasi sekarang2 ini malah jadi lahan korup. haha.

  15. Saya lebih setuju kalau pangkalan ojek lah yg mengijut ke gojek/grabjek. Mungkin skrg gojek memonopoli, tp udh ad grab jek, mngkin akan af byk lgi.. ini cma bakal jfi “pangkalan” baru yg tiap2 pangkalanya bkal ribut dma pangkalan lain soal konsumen. TAPI , saya lupa, gojek kan sistemnya terorganisir, si ojek A tidak akan melihat pelanggan si ojek B jdi ga akan ad prtikaian antri ga antri, ya toh? Saya memang belom pernah menggunakan atau tau API dri gojek, namun kalo smua pelanggan lapor dlu ke database bru databse cri ojek terdekat, bukanya justru menghemat wktu biaya dsb?

    Ojek pangkalan masalahnya emng skrg udh sesuka jidat naruh tarif.. apalagi pangkalan di pnggir jalan suka parkir2 di trotoar/dekat trotoar menimbulkan kemacetan. Itu yang hrus dihindari.. mungkin ini ga penting, tp byk jg pangkalan ojek yg selalu godain cwe” kalo lewat. Bro, that’s offensive.

    Jdi dengan tidak perlu mangkalnya para ojek2 ini, melainkan cuma mengendrai motor mreka ketika dibutuhkan saja, tntu akan lbh efisien dan efektif kan?

    1. sebaiknya lebih spesifik bro. pangkalan ojek yang jelek2 gitu emang perlu diurus–entah mereka jadi gojek aja atau mereka ditertibkan pemda. tapi gue cuma bilang, kaga bisa dipukul rata dengan bilang semua pangkalan ojek jelek kan? efisien dan efektif di satu pangkalan, bisa beda di pangkalan yang lain.

      Dan soal saingan gojek: perang brand. nah ini juga kita bisa siap2 nonton nih. kayaknya bakal seru. Tapi ini beda ya sama apa yang gue bilang. Ojek pangkalan harus didukung kalo dia maunya begitu dan cocok sama lingkungannya. komunitas itu namanya.

  16. Perspektif yang menarik dan perlu, buat pengimbang. Karena selama ini sentimen datangnya dari kelas menengah yang ingin nyaman saja. 🙂

    Tapi memang jadi terlihat ya, bahwa struktur sosial ojek pangkalan adalah mekanisme yang khas untuk beradaptasi di lingkungan yang tidak ditata dari luar, sehingga mengandalkan kedekatan/keguyuban para anggotanya berikut mereka yang dekat dengan lingkungan itu. Namun lantas memang jadinya repot ketika sistem ini beroperasi di lingkungan urban yang kosmopolit dan bercampur. Ketika penghuni/langganan sudah ada kesepakatan internal karena kenal sama tukang2 ojeknya, bisa saja kan orang dari luar jadi “korban”, karena tidak mengenal lingkungannya. Dan tidak setiap orang punya privilese masuk dalam inner circle lingkungan dimaksud.

    Sehingga di situlah Gojek berperan. Sistemnya memang khas tata kelola yang tidak mensyaratkan kedekatan. Tapi untuk bisa mengatasi lintas lingkungan yang beda-beda, apa boleh buat.

    Dinamika modernisasi sistem begini saya rasa terjadi di mana-mana di seluruh dunia. Tapi memang saya pun jadi merenung juga: sejauh mana kita patut menyesali ini? Apa risiko yang kita tanggung dari transformasi sistem ini?

    1. kalo kita baca kajian-kajian developmentalisme, penyesalan biasanya datang ketika hubungan sosial merenggang parah akibat gentrifikasi. Tetangga saling tidak kenal, paranoia massal. Hal ini terjadi kalau gentrifikasi dilakukan di tempat yang tidak membutuhkannya.

      Dalam konteks gojek, saya rasa ekspansinya sendiri harus didasarkan riset preliminer tentang keadaan sebuah daerah. Gojek tentu cocok untuk mengatur pangkalan ojek yang semakin ramai, tidak terkontrol, dan membuat masalah sosial. Gojek bisa jadi jawaban bagus.

      Tapi untuk tempat-tempat tertentu di suburban, dimana ojek-ojek sudah mengatur dirinya sendiri dengan harmonis bersama komunitasnya dan masyarakatnya, gojek tidak diperlukan. Keberadaannya cuma akan mengganggu ekosistem sosial yang sudah terbangun, yang didalamnya sudah ada jejaring sosial dan keamanan. transformasi sosial yang dipaksakan bukan hanya tidak demokratis, tapi juga fasis.

      1. Sepertinya itu batasan yang menarik. Memang kentara kan bedanya ojek pangkalan di area urban sama yang di suburban. Persis justru karena yang di suburban, masih bisa teratasi dengan sistem sosial yang tercipta sendiri itu. Jika suatu saat area suburban tertelan/tersedot ke dalam area urban, jangan2 nanti butuh juga sistem baru seperti Gojek?

  17. kalau penulis berempati pada tukang ojek, janganlah sering ngutang sama mereka dengan alesyan tidak punya uang kecil. jangan-jangan kalau tidak ditagih mamat, penulis langsung pindah saja tanpa mengingat melunasi utang. kayak gitu ngomong empati, halah

    1. hahahah… bukan nggak empati mas, namanya juga tetangga. biasanya dia juga nggak ragu2 nagih ke keluarga saya kok. bukannya suka ngutang juga, cuma kebetulan aja nggak ada kembalian dianya–orang dia yang nawarin. :-p

      1. Bukan mau pamer dan sombong, tapi biasanya saya kalau naik ojek pangkalan deket kosan dan ketika ngasi ongkos ga ada kembalian, saya serahin uang saya dan bilang kembaliannya tar aja, bukan sebaliknya. Karena mereka sepertinya lebih butuh duitnya walaupun mereka bilang gpp. Kasian aja sih klo banyak penumpangnya yang merasa dekat dengan abangnya trus abangnya ga punya kembalian, lalu semuanya pada ga bayar dulu dan tukang ojeknya juga ga enakan buat nerima dulu uangnya.
        Amannya sih kita harus siapin uang pas aja demi kenyamanan bersama.

      2. Klo kita berpikir dari sisi penjual/tukang ojek, “biarlah saya menderita sejenak daripada saya kehilangan pelanggan”. Karena ketika kehilangan pelanggan, bisa jadi mereka akan merasa kehilangan penghasilan untuk beberapa hari. Ya wajar klo dia nawarin, bagi mereka yang penting kita selaku konsumen pake jasa mereka terus. Tapi apa dengan begitu kita biarin aja sampe ditagih?
        Kenapa gw bisa ngomong gini? Karena gw masih inget banget ditegur ibu. Ga ngasih duit laundry ke tukang cuci gara2 ga ada duit kecil. Tukang laundry langganan bilang, “ya udah kapan2 aja”. Niatnya sih mo bayar besok klo mo ngelaundry lagi. Tapi jadinya malah dimarahin, harus dibayar besoknya, karena bisa jadi tuh duit ditungguin cuman ada perasaaan ‘sungkan’/’pakewuh’ buat nagih ke kita.
        Kesimpulannya, klo sampe kita yang ditagih, berarti itu yg punya jasa ‘bener2 butuh’, bisa dibilang yg punya hutang ini ‘kebangeten’ ga punya kesadaran ato mungkin bahasa antropologinya ’empati’?

        Maaf klo ada yg keliru, gw bukan pakar antropolog. Tapi gw lebih setuju sama @hayukjalan. Lebih baik kasih lebih, biar kita ga ngutang ke mereka. Pertimbangannya, di mata gw hutang itu dibawa sampe mati. Jadi daripada tiba2 (semoga ga kejadian) pergi dari dunia dan punya hutang, mending ngasih lebih tapi yg penting ikhlas jadi ga ada beban.

        CMIIW

      3. Halo mas. Saya antropolog, sejenis manusia gitu yang suka buat salah. Hehehe… saya bilang lho utangnya saya lunasin. Hubungan saya baik lho sama temen saya si mamat. Orangnya sering ke rumah saya lho mas. Makan2.

        Selamat puasa ya.

  18. Menarik. Kalau dulu empati terjalin antara tukang ojeg dan penumpang secara dua arah. Sekarang tiada, terlihat dari premanisme ongkos bagi penumpang

    Otomatis hitungan pasti akan ongkos menjadi primadona

    Aduh bahasanya jadi mirip sama penulis maaf

    1. bung uno saja yang bahas, nanti saya bantu sebar, deh. tapi benar mas, masalah kriminal harus lebih didalami tuh. Bukan cuma ojek tapi juga pemalakan dan perkosaan di angkot dan di taksi. Jakarta oh jakarta,

  19. Selamat sore Mas, tulisannya punya perspektif yang bagus. Kebetulan saya sedang sedikit menggeluti tentang fenomena ini. Saya ingin berdiskusi lebih lanjut, boleh minta emailnya mas? Terima kasih.

  20. Atas nama modernitas memang orang lebih memilih bertumpu pada sistem daripada individu-individu. Kompleksitas modernitas tanpa sistem hanyalah menjadi ajang kapitalisme tanpa check and balance. Seberapa kecilnya tukang ojek dan komunitasnya mereka menerapkan prinsip kapitalisme terhadap pelanggannya, mungkin tidak bagi sebagian pelanggan tetap. Tapi ini justru muncul masalah moral dalam masyarakat modern. Orang tidak diperlakukan sama karena kedekatan primordial. Penerimaan nilai ini secara luas yang memunculkan praktek kolusi dan korupsi yang diterima.
    Oleh karena itu sistem harus tetap ditata agar itu sebuah keniscayaan. Membiarkan sekumpulan paguyuban tukan ojek untuk mengatur dirinya sesuai hukum pasar yang asimetri juga merapakan pengejawatahan praktek kapitalisme, meskipun dalam tataran kelas kampung. Menyederhanakan korporasi kebagai kapitalisme dan usaha kecil sebagai lawan kapitalisme sepertinya terlalu menyederhanakan masalah…

    1. betul. tidak ada yang boleh disederhanakan. Korporasi seperti gojek ini spesifik dan bagus dalam konteks tertentu. begitupun model guyub juga bagus untuk konteks tertentu. saya justru nulis karena konsep guyub ini telalu disederhanakan. Kalo gojek pasti bisa lah evaluasi dan introspeksi–karena sistemnya nampak begitu baik.

      Jangan dijadikan lawan–saya tidak pernah menempatkanya sebagai oposisi. tapi kalau mau jadi kapitalisme sejati, ojek pangkalan yang bisa berkembang dan sesuai konteks harus juga didukung. begitu maksudnya.

  21. Apa penulis nggak mau kalo Adi, Mamat, sama Daus jadi pengojek profesional dengan gaji tetap dan sistem benefit yang terorganisir untuk kesejahteraan yang lebih baik?

    1. Mau lah. tapi gojek kan bukan SATU2nya jalan. ada jalan2 yang lain tho, kalau mereka nggak mau gabung? kalo gojek satu2nya jalan, penjajahan sekali jadinya. hahahah.

      1. Penjajahan? kenapa bisa jadi penjajahan? Kan mereka ga di bikin ga kerja, mereka di tawarin masuk juga.. kalo gua sih bilangnya ini lg masa perubahan, perubahan emang selalu susah…

      2. Kan kalo diteken2 seakan2 ga ada jalan lain. Itu kan yg dari kemarin diributkan banyak orang?

        Kalo merekanya mau sih? Bagus2 aja. Tapi yang ga mau ya udah dong.

      3. Aih kan tinggal mendidik mereka buat sadar asuransi kan ya, sadar pengelolaan keuangan, sadar pengelolaan waktu, sadar teknologi, sadar tentang kepuasan konsumen dll dll, kan ga susah kan ya mas, ayo mas bikin gerakan untuk mensejahterakan mereka, ayo action, kasian mas soalnya para pengojek itu mereka lagi mau dijajah sama orang yang udah action melalui gojek, ayo mas, action

  22. ini pertama kalinya ada orang yg tidak terlalu pro sama gojek, saya setuju bgt sama tulisan ini. saya sendiri punya tiga tukang ojek langganan yang saya anggap teman sendiri, sering saya ajak makan atau main ke rumah jika sedang luang…
    dan kata2 ini:
    … Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati ….
    couldn’t agree more.
    salam kenal…

  23. Tulisan yang menarik. Dari sudut pandang yang berbeda juga mengingat penghuni media sosial saat ini seakan begitu galak mem-bully para tukang ojek konvensional seolah ingin menciptakan stigma negatif ke tukang ojek konvensional. Saya jadi kepikiran tesis George Ritzer tentang McDonaldisasi (judul bukunya: The McDonaldization of Society). Adakah “Gojekisasi” ini merupakan McDonaldisasi bagi para tukang ojek? Hm…..

    1. Mcdonalization, cocacolonization, you name it. tapi kayaknya nggak bisa juga disebut itu karena ‘ojek’ ini khas endonesah kayaknya. dan jauh lebih kompleks dari industrialisasi dan kapitalisme klasik karena ada jaminan kerja dan lain-lain–etikanya lebih diperhatikanlah.

      walaupun modelnya ya gentrifikasi. bukannya buruk, cuma… kurang guyub aja menurut saya–maap saya agak ngampung. haha.

      1. Bukan. Maksud saya begini, Mas. Konsep “McDonaldisasi” yang dikemukakan Ritzer itu intinya mencoba memotret sistem yang mengacu pada sistem yang ada pada restoran cepat saji (dalam hal ini McDonalds). Nah, dalam McDonaldisasi ada 4 prinsip utama: efisiensi, daya hitung, daya prediksi, kontrol. Ini yang saya lihat dalam sistem Gojek. Ada efisiensi (biaya lebih murah, bagi konsumen dan produsen juga terkait biaya operasional), ada daya hitung (tarif berdasarkan jarak, misalnya), ada daya prediksi (pesan melalui smartphone), ada kontrol juga. Makanya jadi kepikiran apakah Gojek ini merupakan McDonaldisasi dunia perojekan yang ada di Indonesia. Meski tentu saja ada banyak faktor yang memengaruhi terkait dengan kompleksitas dunia ojek itu sendiri. Oh, iya, Mas dari antropologi UI, ya? Saya dari sosiologi UI, tetangga, hehehe. Salam kenal.

      2. salam kenal juga. Iya-iya, bisa juga sih dibedah pake Ritzer. Tapi untuk kontrol kayaknya nggak masuk deh. Soalnya di Ritzer kan ada usaha-usaha untuk memekanisasi manusianya. McD berubah dari yang pelayannya seksi jalan-jalan pake sepatu roda jadi pelanggannya yang ngantri dan pekerja jadi/dianggap mesin. Itu gak terjadi sama gojek (sejauh ini).

        Gojek menurut saya lebih mirip konsep Uber (taksi personal) tapi dengan seragam. It’s a very good concept, actually. Dan, again, nggak kejam kayak McDonalisasi.

    2. itulah bisnis, setiap tumbuh yg baru pasti bakal ada yg di korbankan.. btw ini misalkan aja… misalkan Gojek makin membludak dan ojek ojek pangkalan makin ga laku. apa ruginya mereka gabung sama gojek daripada berantem ‘lahan’? dari janji janji Gojek kayanya ga ngerugiin juga kalo kerja disitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.