Meditasi Tulis, Prosa

Meditasitulis #1: Di Kota Ini, Semua adalah Fana

Aku memutuskan untuk packing dan keluar dari kamar kosku malam ini. Di dalam backpack hijauku ada satu liter air putih, dua pasang baju, tiga celana dalam, dan sebuah buku catatan dari kulit dan isinya separuh penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Aku memutuskan untuk menjadi diriku 15 tahun yang lalu, berkelana, sendiri, dan hidup apa adanya. Aku pakai kaosku yang paling nyaman, celana jeans belel, dan sepatu converse kanvas lusuh yang sudah lama tidak kupakai. Dan aku keluar dari kamar, mengunci pintu dan berjalan turun tangga. Di bawah kamar kos, aku tinggalkan kunci kamarku di meja dekat kamar penunggu kos. Lalu aku keluar pagar, berjalan kaki ke jalanan, meninggalkan semua barang-barang, mobil, semua harta yang kupunya–yang tidak banyak. 

Tadi terakhir kali aku melihat jam adalah jam 11.30 malam. Aku tinggalkan dua jam tangan lumayan mewah yang dulu kubeli waktu aku masih punya penghasilan besar di kamar itu. Aku tidak berniat kembali ke kehidupan ini, karena aku menemukan jalan untuk kembali ke kehidupan lain, sebuah kehidupan yang sudah lama kutinggalkan. Aku berjalan di pinggir jalan raya, dan malam ini adalah saatnya, malam yang tepat untuk mencari jalan pulang. Bulan besar merah menggelantung di langit tanpa awan, dan orang-orang lalu lalang dengan mobil dan motor tidak sadar bahwa ada yang aneh dengan bulan itu. Bulan begitu dekat, seperti menarik semua mereka yang berunsur air. Suara air comberan di bawah trotoar begitu besar seperti arus sungai yang mengamuk. Tapi kota ini terlalu sibuk untuk mendengar fenomena alam seperti itu.

Photo by Sayantan Kundu on Pexels.com

Aku menyusuri trotoar yang tak terlalu panjang, karena kota ini tak pernah ramah pada pejalan kaki. Jalan raya menurun dan mobil lalu lalang ketika lampu hijau seperti dikejar setan. Angin semakin besar, kukira dari mobil yang lalu lalang dengan cepat, tapi tidak. Angin ini dari langit, dibawa oleh bulan merah jahat itu. Aku mencari tanda-tanda yang dibilang Mama yang bukan Mama di dalam mimpi yang bukan mimpi yang kudapat pagi tadi–ini cerita lain yang kusimpan setelah perjalanan ini kulalui. Aku mencari celah di jalan, sesuatu yang berbeda dari kenyataan sehari-hari. Ada kucing yang berlari menyebrang jalan. Sebuah mobil melintas cepat dan melindasnya. Kucing itu lari ke arahku dengan tubuh yang aneh: terpelintir. 

Ada rasa takut bercampur jijik dan bulu kudukku merinding. Kucing itu meloncat-loncat kesakitan di depanku, lalu terkapar gemetar. Dia belum mati, tapi pasti organ dalam dan tulang-tulangnya sudah remuk. Matanya terbelalak mengeluarkan air mata darah. Tubuhku merinding dan aku gemetar kuat. Tremor. Tremor yang dulu menjangkiti ketika aku trauma kembali. Aku menangis ketakutan. Aku ingin mematikan kucing ini tapi tidak bisa. Mata besarnya yang penuh urat merah kesakitan menatapku tajam, dan cahaya mobil yang lalu-lalang membuat mata itu mengkilat-kilat. Aku muntah di pinggir jalan. Aku muntah banyak sekali. Tubuhku gemetar hebat. Mobil dan motor terus lewat-lewat. Ada seorang bapak menarik gerobak berhenti dan melihatku. Ia nampak lelah, menarik gerobak menanjak. Tapi matanya kosong menatap nanar. Sementara perutku terus terkocok dan aku terus muntah. Awalnya makanan, tapi lama-kelamaan lendir-lendiri hijau dan merah. 

Kucing sekarat itu bergerak pelan-pelan, menjilat-jilati muntahku. Ia bergerak-gerak dan aku terus muntah. Perlahan sambil menjilati muntahku tubuh terpelintirnya meregang, dan ia kembali seperti semula, semakin lahap memakan muntahku. Sementara si bapak dengan gerobak terus menatapku muntah, seperti sedang menyaksikan sebuah drama yang menyedihkan, karena perlahan ia menangis. Kepalaku pusing, perutku sakit dan aku terus muntah. Tubuhku mengurus, tanganku menirus, dan rambutku… rambutku memanjang. Aku sudah mengeluarkan seluruh isi perut dan entah apalagi. Sementara si kucing makan dengan cepat, ia menggemuk dan tambah kekar, dan si bapak tetap diam di situ, sampai aku terjatuh duduk, dan melihat bahwa mobil-mobil sudah hilang, jalanan malam sepi, kucing masih makan dan si bapak gerobak terdiam terpaku.

Aku merasa sangat lelah, dan aku tidak bisa mengingat aku dimana. Ini bukan jalan dari kosanku. Ini bukan pinggir jalan raya yang tadi, karena di samping jalan yang tadinya tembok semen, berubah menjadi kebun… bukan… hutan. Hutan lebat. Dan kucing yang memakan muntahku tidak cuma menggemuk, ia membesar.. Terus membesar, dan bulunya berubah menjadi loreng. Ia menjadi harimau besar yang terus menjilati aspal bekas muntahanku. Si bapak mengecil, menjadi seorang anak kecil dengan baju lusuh kebesaran. Ia melepas gerobaknya, dan gerobak itu berjalan mundur di jalan turunan. Si anak menghampiriku, ia masih menangis. Lalu ia memelukku. “Kamu sudah makan?” Tanya anak itu, aku menelungkup di dadanya dan air mataku turun. 

“Kamu sudah makan?” suara itu datang dari dalam mulutku, dan seperti berkedip, aku ada di pinggir jalan Margonda, dan anak itu sedang berdiri memperhatikan aku. Ia menggelengkan kepalanya, dan aku tawarkan nasi goreng yang baru kumakan dua sendok. Aku suruh anak itu untuk duduk di sebelahku, dan dia makan dengan lahap. 

“Nama kamu siapa?”

“Ari, Kak.”

“Kok malam-malam masih di jalanan?”

“Nunggu bapak,” jawab Ari sambil makan lahap. “Kak ini boleh dibungkus?”

“Kenapa? Habisin aja?” Kataku.

“Buat ade, kak.”

“Ade kamu dimana?”

Ari menunjuk ke sebuah gerobak di seberang jalan pinggir trotoar. Aku ingin membelikan satu porsi lagi, kurogoh kantong, tinggal recehan. Kubuka tas selempang hijau lusuhku, yang kupakai sejak SMA. Ada dompet, tidak ada uangnya. Lalu kubilang pada tukang nasi goreng untuk membungkus nasi goreng itu. 

Ari mengambil sebungkus nasi goreng lalu berlari menyebrang menuju gerobak. Ia masuk ke dalam gerobak itu. Perutku berbunyi. Rasanya perutku kosong sekali, apalagi sehabis muntah itu. Tapi aku ingat kejadian ini, nasi goreng di pinggir Margonda, anak bernama Ari. Tapi aku lupa ini kapan tepatnya. Kalau kulihat dari pakaian, tas, sepatu butut, sorjan jawa warna ungu, rambutku yang panjang, ini tubuhku ketika aku mahasiswa. Pantas aku tak punya uang sepeserpun dan selalu lapar. 

Aku berjalan ke arah gerobak untuk melihat Ari. Di gerobak itu, Ari dan adiknya yang masih balita tertidur seperti janin kembar yin yang, dengan sebungkus nasi goreng di tengah-tengah mereka. Aku memutuskan untuk menunggu bapak mereka sampai. Aku duduk di trotoar, membongkar-bongkar tasku. Cuma ada satu buku catatan, pulpen bocor, dan buku puisi Arthur Rimbaud. Ada pembatas kertas bon yang sudah terhapus di sebuah halaman:

As I drifted on a river I could not control,
No longer guided by the bargemen’s ropes.
They were captured by howling Indians
Who nailed them naked to coloured posts.

Ketika aku hanyut di sungai yang tak bisa kukontrol,
Tidak diarahkan tali nahkoda tongkang
Mereka ditangkap para Indian yang melolong
Yang memaki mereka di tiang-tiang berwarna

“Hei,” suara seorang perempuan yang lembut menyapaku. Ana. Ia duduk di sampingku. Ana adalah mantan kekasihku yang tidak pernah jadi kekasihku. Seperti Mama yang bukan Mama yang kutemui sehari sebelum ini, Ana yang ini juga bukan Ana. “Kamu nggak tahu mau pulang kemana ya?”

“Iya, Na.” Jawabku. “Gue bahkan nggak tahu ini tepatnya kapan.”

“Ini malam itu, waktu lo ketemu gue di jalan, terus nganter gue ke kosan gue.”

“Tapi…” aku melihat ke gerobak. Seorang bapak lusuh–bapak yang tadi menatapku nanar ketika aku muntah, datang dan membawa sebungkus nasi. Ia membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka makan. 

“Yuk,” ajak Ana. Kami berdiri lalu berjalan menyusuri Margonda. Menuju kosannya. 

Kami berjalan menyusuri Margonda yang bukan Margonda. Karena Margonda terakhir kali aku lewat, adalah jalan lebar yang macet dengan banyak gedung-gedung dan apartemen. Margonda ini tidak ada gedung apartmen satupun. Aku ingat bahwa setiap hari aku tidur di tempat-tempat berbeda. Kadang di kampus, di kantin, di kosan teman, di halte bus, dan kadang di kosan Ana. 

Kami masuk ke gang-gang kecil, dan sampai di sebuah pagar dengan kos-kosan petak yang berderet. Kami masuk, dan aku ingat semua detail kosan Ana. Aku masih hafal bau kosannya, tempat tidur di bawah dengan seprai biru muda, dan semua tertata rapih. Buku-bukunya di rak kecil namun padat, kebanyakan non fiksi. Kami punya kesamaan, kami tidak begitu suka fiksi karena kami mudah terbawa cerita. Ana menutup pintu, lalu mengambil handuk dari gantungan di pintu, melemparkannya padaku. 

“Mandi. Kamu bau.”

Aku ingat kami cukup intim. Tapi dia Ana yang bukan Ana, aku ragu membuka baju. Ana mengambil sebuah baju merah dari dalam lemari. “Nih, udah gue cuci.” Bajuku, aku ingat suatu hari, beberapa tahun dari sekarang, ia mengirimiku fotonya dengan baju itu, sambil mengucapkan selamat ulang tahun padaku. 

Kutaruh tasku, dan aku masuk kamar mandi. Iya, aku bau. Bajuku juga apek. Pintu kamar mandi itu tidak bisa dikunci, atau tertutup dengan baik. Sudahlah, kupikir. Aku buka seluruh bajuku dan aku mengguyur tubuhku dengan air dingin. Ada yang memelukku dari belakang. Ana. “Aku kangen,”

Photo by cottonbro on Pexels.com

Aku membalik tubuhku. Bibirnya merekah. Matanya yang selalu sayu. Dan aku menciumnya, rahangnya terbuka, lidah kami bersatu. Ada bunyi krak kecil setiap kali kami berciuman dengan penuh nafsu, ketika ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghisap lidahku. Tapi kali itu ia tidak hanya menghisap lidahku, ia menghisap seluruh nafasku. Aku tidak bisa bernafas! Dan ia berubah menjadi air, dan aku tenggelam. Aku tenggelam di dalam air tanpa dasar. Ana menghilang, menjadi buih-buih.  

Aku sulit bernafas dan aku tak tahu arah. Aku tak tahu mana atas mana bawah, tidak ada cahaya yang jelas, seperti tenggelam di malam hari. Sampai aku melihat cahaya merah: bulan merah. Aku berenang menuju cahaya itu, tapi seperti tidak pernah sampai. Aku melihat ke sekelilingku, ini bukan laut, bukan kolam. Ini adalah langit, karena di bawahku adalah kota yang bercahaya. Cairan ini bukan air, ini udara. Aku sesak dengan udara. Lalu aku pasrahkan semua udara mengisi tubuhku, dan aku hembuskan jadi buih-buih. 

Aku pejamkan mataku, dan aku bisa bernafas lagi. Ada suara ombak. Aku buka mataku, dan aku sedang duduk bersila di sebuah pantai. Suara burung camar, dan suara tawa anak-anak kecil. Ada suara musik di kejauhan, orang-orang bermain gitar dan membawa gendang, bernyanyi lagu-lagu yang akrab di telinga tapi aku tak tahu apa. Di laut, ada seorang perempuan yang menepi. Mama yang bukan Mama. Dengan daster yang basah ia datang padaku. 

“Nak. Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Ma.” Kataku. “Maaf ya Ma, harus ketemu Mama dalam kondisi kayak gini. Di tempat entah dimana kayak gini lagi.”

“Kata orang, bagian laut yang ini bisa nyembuhin penyakit. Penyakit apapun, dari diabetes, jantung, stroke–”

“–penyakit jiwa?”

“Ya, mungkin aja. Coba nanti kamu berenang ke tengah, Nak.”

“Kan abang nggak bisa berenang, Ma.”

“Pasti bisa. Itu kan laut yang bukan laut, air yang bukan air.” Kata Mama sambil senyum. Benar, ia Mama yang bukan Mama. Karena sudah lama aku tidak melihat Mamaku seperti itu, seperti tidak ada yang hilang, seperti tidak ada beban pikiran. 

“Lihat, semua orang sudah mulai pada pulang,” kata Mama. Sekelompok orang dengan gitar dan gendang masuk ke laut. Mereka tenggelam dan bersama tenggelamnya mereka musik menghilang. 

“Kamu bisa ikut pulang sama mereka,” kata Mama. “Kamu selalu bisa ke sini, nangis, ketawa, tenang, sedih, tapi apa yang ada di sini, jangan kamu bawa ke sana.”

Jadi ini saja? Perjalanan ini berakhir di sini, di sebuah pantai yang tidak jelas, dengan Mama yang bukan Mama. 

Dari semak-semak di pantai, seekor harimau keluar. 

“Eh, Hitler…” kata Mama. 

Harimau itu mengecil dan menjadi kucing lagi. Ia meringkuk di kaki Mama. 

“Kalau kamu nggak pulang, kasihan Mama di sana. Kasihan semua orang yang kamu tinggal. Yang di sini kan sudah kamu tinggal semua, biarin aja kita di sini. Kita nggak kemana-mana kok.”

Aku mengambil tangan Mama, dan Mama mencium keningku, membisikan sebuah mantra dan meniup keningku. Ia tersenyum lagi. Memelukku. Benar-benar bukan Mama, karena Mama dan aku tidak bisa berpelukan, ada pandemi di luar sana. Lalu aku berlari ke laut, pas ketika matahari menguak berwarna ungu, dan bulan merah tenggelam. Lalu aku menyelam, dan air berubah menjadi kata-kata. Aku menjadi orang yang sedang mengetik ini. 

Ini adalah mimpi yang bukan mimpi, dimana aku bertemu Mama yang bukan Mama, Ana yang bukan Ana, Ari, adiknya dan bapaknya yang bukan mereka. 

Lalu aku berpikir, apakah aku harus mulai packing, dan meninggalkan semua ini: kosan, komputer, mobil, kehidupanku, hanya untuk bertemu Mama yang bukan Mama, dan semua yang sudah berlalu dan tak mungkin kembali ke hidupku. Semua yang sebenarnya tidak lebih baik dari hari ini. Tapi toh sudah berlalu, dan aku bersamamu. Membawamu ke dunia itu.

Ah, sudahlah, aku pergi dulu. Aku ingin menyusuri trotoar dan mencari Hitler. Siapa tahu aku bisa menyelamatkannya sebelum ia terlindas mobil. 


Ini adalah bagian pertama dari meditasi tulis, kategori baru di eseinosa sebuah cara terapi menulis yang saya kembangkan untuk perlahan memperbaiki isi otak saya. Jika kamu suka dengan apa yang kamu baca dan ingin membaca lebih banyak cerita sureeal seperti ini, traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:

Filsafat, Memoir, Racauan

Pabrik Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana banget. Itu cuma aliran hormon dan synapsis yang bekerja untuk bikin kamu merasakan kepuasan. Sumbernya, dari perut. Endorphine, serotonin. Cara paling mudah dapetnya, makan. Minum. ML/masturbasi, atur nafas dalam ritual/ibadah. Cara artifisial dapetinnya pake drugs, medication. Dan cara mengamplifikasinta dengan berbagi kebahagian dengan orang lain, apalagi yang kita sayang.

Tapi hari-hari ini di kota ini makin susah mendapat kebahagiaan. Makan nggak enak, tidur nggak enak, selalu diganggu kekhawatiran macam-macam. Dari pandemi, masalah kerja, masalah hutang, masalah tanggung jawab, dan idk, masalah peradaban? Dan mudah untuk terjebak dalam kesedihan. Akhirnya ya, cari cara bahagia.

Bahagia itu dibuat-buat kok. Bukan sesuatu yang harus dicari. Bahagia kayak bikin teh, kopi, atau olahraga. Pada akhirnya kita cuma harus selalu sadar kita dimana, sama siapa, sedang apa, dan menyadari bahwa hal yang membuat kita ga enak, baru saja berlalu. Kemarahan kita seharusnya ikut berlalu, kesedihan kita harusnya sudah lewat begitu masalah tadi lewat juga.

Susah memang, seringkali rasa sakit itu terbawa sampai lama. Kadang membekas jadi trauma. Kadang kita ketrigger, dan terbawa lagi ke sana. Makanya harus bener-bener dilatih, untuk membuat pabrik kebahagiaan di dalam diri kita.

Saya pun masih belajar. Dan semakin hari, reaksi saya semakin baik. Jauh dari sempurna, tapi ada perkembangan. Dan itu membahagiakan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau yang kamu baca bisa menghibur atau membantu kamu, traktir yang nulis kopi di sini:

Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Burning Brine

Lord I am drowning
In my own tears
Since these glimpses
Just won’t let me go

I see corpses of my uncle, auntie, best friend, father

Dead bodies, empty vessels, fade voices and laughters

And I can’t stop thinking about my sins and guilt

I don’t think I am a victim
On the contrary, I was a perp
Inflicting pain to others
Like strains of hair on her sink
Or scars below her belly
Or my hand marks on her neck

And my dear sibling inability to function
Or my mother constant sadness in her laugh

Jesus how did you take the sins
By being crucified, betrayed.

Sleep now, sleep my friend
All will be done in no time

All shall pass

To the grave in a hope for grace


This website is run by donation. If you are in Indonesia, click the button below to support me

Memoir, Racauan

Berteman Dengan Kriminal

Kita semua hidup berkoeksistensi dengan berbagai macam manusia, banyak dari mereka adalah orang punya kepercayaan yang sangat berseberangan dengan kita. Saya punya beberapa teman, sahabat dan keluarga yang bersebrangan sama saya pandangannya soal perempuan, kekerasan seksual dan LGBT. Malah ada seorang keluarga saya yang berpendapat bahwa semua orang LGBT harus direhab, dan dia kesal dengan negara yang tidak memperbolehkan itu. Tapi saya tetap berteman dengan mereka, sampai saat dimana saya harus melawan mereka; misalnya nanti ketika negara menangkap orang-orang LGBT dan mulai memaksa rehab. Mungkin saya akan pasang topeng Guy Fawkes dan menggali terowongan ke gedung DPR.

Photo by TheBooringLens on Pexels.com

Tapi bisa jadi saya munafik. Semunafik bapak saya yang selalu bilang ke adik saya kalau dia bermasalah sama polisi, bapak saya nggak akan bantu. Kenyataanya almarhum papa pernah pasang badan buat adik saya ketika ia benar-benar kena masalah yang bisa bikin dia di penjara. Saya bisa jadi munafik juga. Saya bisa jadi orang yang plin-plan ketika sahabat saya atau saudara saya tersangkut kasus. Dan mereka yang kenal saya pasti tahu kalau saya pernah membela orang yang kena kasus (soal yang ijo-ijo), biar dia nggak masuk pengadilan. Walaupun dalam hati saya, saya mendukung legalitas ganja, tapi ketika saya membantu orang yang tertangkap dengan mengakali sistem negara, saya telah turut serta membantu kriminal. Soal membiarkan orang kriminal bebas, saya mungkin punya pengalaman. Sayangnya saya nggak bisa cerita detail. Saya takut keluarga mereka atau ‘circle’ saya yang kenal dengan mereka, atau bahkan mereka sendiri membaca artikel ini terus saya dapat masalah. Karena mereka bisa lepas dari jeratan hukum gara-gara punya backingan kuat. Sangking kuatnya, nanti saya kena masalah bukannya keadilan ditegakkan, saya malah masuk penjara karena UU ITE.

Jadi kita bikin pake abstraksi saja. Dari pengalaman saya, saya kenal pelaku kriminal dengan kejahatan yang sangat parah: menghilangkan nyawa orang lain; kejahatan parah: bandar besar sabu, pelecehan seksual dan penyiksaan; dan kejahatan ringan: ganja, klepto, maling karbitan. Semuanya memusingkan. Kita mulai dari yang paling parah, karena deadlock banget.

Ada dua orang yang saya kenal pernah menghilangkan nyawa orang dan bisa bebas jalan-jalan. Satu laki-laki yang sampai sekarang masih suka petantang petenteng, satu lagi perempuan yang terakhir ketemu 8 tahun lalu dan adalah salah satu orang paling baik yang saya kenal. Yang lelaki mabuk, nabrak orang lalu lari ke keluarganya minta perlindungan. Yang perempuan mabuk, nabrak orang, lalu dilarikan keluarganya karena takut malu punya skandal–padahal teman saya itu sempat meraung-raung minta dipenjara saja. Dua-duanya teman saya dan punya backingan kuat. Saya jadi inget ibu-ibu di film Georgia yang berusaha melindungi anak-anak lelakinya yang memperkosa orang hingga meninggal, dengan alasan “mereka masih muda, masa depan merka masih panjang.” Hidup ini memuakkan, dan saya jadi saksinya. Bystander, tidak bisa apa-apa melihat sistem yang memang memihak pada penguasa. Sentimen precariat ini sering bikin depresi, seperti saat ketika saya menulis artikel ini. Saya tidak membela dan tidak berhak menuntut mereka. Saya mendengar, menyimak, dan selalu ada rasa yang aneh ketika saya bertemu orang-orang ini.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Tipe kejahatan kedua adalah bandar narkoba besar, pelecehan seksual dan kekerasan seksual. Bandar narkoba besar sudahlah. Ini kasus sudah jelas kalo nggak hukuman mati di nusa kambangan, hidup foya-foya aja. Ada teman yang sekarang dipenjara seumur hidup. Ada juga yang foya-foya dan senoat saya wawancara sebagai narsum berita saya. Tapi mari kita fokus di kekerasan seksual aja. Kali ini, teman-teman saya yang melindungi pelaku yang melecehkan mereka. Ini berkaitan erat dengan video ceramah yang sedang viral soal melindungi aib keluarga. Saya punya beberapa teman–artinya lebih dari dua, yang berusaha menjaga supaya ‘aib’ keluarga tidak keluar dari rumahnya. Mereka datang ke saya karena saya dianggap, entah, mungkin berpengalaman, mungkin moralnya terlalu fleksibel, atau apa. Mereka cerita dan bikin saya muntah di dalam mulut. Ada yang dipukul suaminya, di bagian punggung. Sampe biru-biru. Ada yang diperkosa suaminya. Dan saya sudah bilang, saya punya koneksi ke pendamping KDRT, saya bisa membantu mereka kabur ke Yayasan yang bisa menaungi mereka. Tapi mereka malah marah sama saya, dan takut saya membocorkan aib keluarga mereka. Mereka cuma ingin ada yang mendengar, tapi tidak ingin diusut. Tidak ingin dibela. Salah satu dari mereka ada yang saya suruh mengadu kepada orang tuanya, dan cerita kalau dia pernah melakukan itu tapi malah disuruh pulang ke rumah suaminya dan menyelesaikan masalah keluarga dia. Nampaknya tradisi pukul dan perkosa bini ini, buat beberapa orang dari golongan tertentu itu biasa aja, dan mengeluh soal itu jadi lebay. Menyedihkan. Pada akhirnya saya minta tolong, saya bilang, “kalau kamu tidak mau menolong dirimu sendiri, tolong jangan pernah lagi cerita ke saya soal ini. Ceritalah kalau kamu siap melawan. Saya stand by.

Kenyataannya, mereka tidak pernah lagi cerita sama saya. Semua orang pegang deritanya masing-masing, pada akhirnya, Pilihan masing-masing.

Photo by Damian Barczak on Pexels.com

Tipe ketiga bikin pusing ini pagi buta. Kalau soal yang ijo-ijo, saya udah cerita di atas. Itu kasus yang jadi biasa aja di Jakarta, cepu ngisi kuota. Tapi yang ini lain lagi. Saya punya seorang kawan, dan ini kisah yang sedang terjadi, yang dituduh mencuri namun tidak pernah terbukti. Sudah beberapa kali proyek yang ada dianya, ada barang hilang. Dan dia selalu terbuka untuk diperiksa dan tidak pernah ketahuan. Rumor beredar di kalangan kru, bahwa dialah pencurinya, tapi toh tidak ada yang berani frontal menuduh karena memang tidak ada buktinya. Orang-orang cuma main halus aja, nggak ngajak-ngajak dia proyek. Akibatnya, rejekinya mandeg. Dan dia mulai curhat sama saya minta tolong pinjam uang atau kasih dia kerjaan. Hasil kerjaan dia bagus. Dia orang yang telaten dan mau kerja keras. Tapi tidak ada yang mau kerja sama dia, atau kalau pun mau, kerja jadi tidak nyaman karena orang takut bawa barang. Saya kasihan. Tapi saya nggak bisa egois dan memasukan dia ke tim yang sudah sering omong belakang soal dia. Dan saya juga sulit untuk bicara sama dia kalau teman-teman yang dia anggap teman sebenarnya sangat tidak nyaman. Akhirnya, yah, saya masih berpikir sih mau apa. Kita lihat saja inspirasi ilahi.

Kita hidup di masyarakat majemuk dengan sistem nilai yang berbeda-beda. Dalam konteks tertentu, hukum negara tidak punya nilai dalam konteks adat istiadat, keluarga, atau konsensus komunal. DUI, memukul istri, bisa selamat-selamat saja dengan circle dan budaya yang permisif. Saya punya juga beberapa teman yang ‘konon’ suka melecehkan orang lain secara seksual. Kenapa saya sebut konon, karena dalam pergaulan, itu sudah jadi trademark mereka. Saya tidak kenal dengan Haye tapi teman saya yang seperti itu yah ada. Yang congornya nggak bisa dijaga, yang suka ‘cek ombak’ dengan bicara seks kepada lawan jenis dengan tidak sopan, saya kenal. Tapi selama si korban ikut tertawa, atau tidak cerita sama saya bahwa mereka dilecehkan. Atau, mereka cerita tapi melarang saya intervensi, saya akan menghormati keputusan itu. Ada banget masa-masa dimana korban pelecehan seksual verbal cerita pada saya perilaku om-om dari sebuah lingkaran elit akademik yang genit, dan menyuruh saya untuk ‘let it go,’ padahal mereka yang kena. Saya paham juga sih logikanya kalo dasar hukumnya pun nggak ada, dan sistemnya secara track record jelek. Saya harap sekarang, dengan banyaknya pendamping, dan momentum-momentum besar untuk buka suara, mereka mau mulai mengurus traumanya.

Semeua tindakan itu, menolong seorang kriminal, membiarkan seorang kriminal, atau jadi bystander ketika kejahatan terjadi adalah hal yang manusiawi. Karena itulah ada struktur institusi yang lebih besar daripada hubungan keluarga atau pertemanan. Karena itulah ada negara. Tapi ketika negaranya terdiri dari orang-orang yang juga ‘kekeluargaan’, maka sistemnya akan korup, sekorup insting seorang individu yang punya kawan dan saudara.

Artikel ini direvisi tanggal 5 Februari jam 1:29 pagi.


Website ini berjalan dengan donasi kalian. Kalau kalian merasa yang kalian baca ada gunanya, boleh traktir saya kopi untuk bayar hosting dan domain, atau sebarkan saja artikel ini ke teman kalian yang punya kebutuhan baca ini. Terima kasih sudah membaca ya.