Meditasi Tulis, Prosa

Meditasitulis #1: Di Kota Ini, Semua adalah Fana

Aku memutuskan untuk packing dan keluar dari kamar kosku malam ini. Di dalam backpack hijauku ada satu liter air putih, dua pasang baju, tiga celana dalam, dan sebuah buku catatan dari kulit dan isinya separuh penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Aku memutuskan untuk menjadi diriku 15 tahun yang lalu, berkelana, sendiri, dan hidup apa adanya. Aku pakai kaosku yang paling nyaman, celana jeans belel, dan sepatu converse kanvas lusuh yang sudah lama tidak kupakai. Dan aku keluar dari kamar, mengunci pintu dan berjalan turun tangga. Di bawah kamar kos, aku tinggalkan kunci kamarku di meja dekat kamar penunggu kos. Lalu aku keluar pagar, berjalan kaki ke jalanan, meninggalkan semua barang-barang, mobil, semua harta yang kupunya–yang tidak banyak. 

Tadi terakhir kali aku melihat jam adalah jam 11.30 malam. Aku tinggalkan dua jam tangan lumayan mewah yang dulu kubeli waktu aku masih punya penghasilan besar di kamar itu. Aku tidak berniat kembali ke kehidupan ini, karena aku menemukan jalan untuk kembali ke kehidupan lain, sebuah kehidupan yang sudah lama kutinggalkan. Aku berjalan di pinggir jalan raya, dan malam ini adalah saatnya, malam yang tepat untuk mencari jalan pulang. Bulan besar merah menggelantung di langit tanpa awan, dan orang-orang lalu lalang dengan mobil dan motor tidak sadar bahwa ada yang aneh dengan bulan itu. Bulan begitu dekat, seperti menarik semua mereka yang berunsur air. Suara air comberan di bawah trotoar begitu besar seperti arus sungai yang mengamuk. Tapi kota ini terlalu sibuk untuk mendengar fenomena alam seperti itu.

Photo by Sayantan Kundu on Pexels.com

Aku menyusuri trotoar yang tak terlalu panjang, karena kota ini tak pernah ramah pada pejalan kaki. Jalan raya menurun dan mobil lalu lalang ketika lampu hijau seperti dikejar setan. Angin semakin besar, kukira dari mobil yang lalu lalang dengan cepat, tapi tidak. Angin ini dari langit, dibawa oleh bulan merah jahat itu. Aku mencari tanda-tanda yang dibilang Mama yang bukan Mama di dalam mimpi yang bukan mimpi yang kudapat pagi tadi–ini cerita lain yang kusimpan setelah perjalanan ini kulalui. Aku mencari celah di jalan, sesuatu yang berbeda dari kenyataan sehari-hari. Ada kucing yang berlari menyebrang jalan. Sebuah mobil melintas cepat dan melindasnya. Kucing itu lari ke arahku dengan tubuh yang aneh: terpelintir. 

Ada rasa takut bercampur jijik dan bulu kudukku merinding. Kucing itu meloncat-loncat kesakitan di depanku, lalu terkapar gemetar. Dia belum mati, tapi pasti organ dalam dan tulang-tulangnya sudah remuk. Matanya terbelalak mengeluarkan air mata darah. Tubuhku merinding dan aku gemetar kuat. Tremor. Tremor yang dulu menjangkiti ketika aku trauma kembali. Aku menangis ketakutan. Aku ingin mematikan kucing ini tapi tidak bisa. Mata besarnya yang penuh urat merah kesakitan menatapku tajam, dan cahaya mobil yang lalu-lalang membuat mata itu mengkilat-kilat. Aku muntah di pinggir jalan. Aku muntah banyak sekali. Tubuhku gemetar hebat. Mobil dan motor terus lewat-lewat. Ada seorang bapak menarik gerobak berhenti dan melihatku. Ia nampak lelah, menarik gerobak menanjak. Tapi matanya kosong menatap nanar. Sementara perutku terus terkocok dan aku terus muntah. Awalnya makanan, tapi lama-kelamaan lendir-lendiri hijau dan merah. 

Kucing sekarat itu bergerak pelan-pelan, menjilat-jilati muntahku. Ia bergerak-gerak dan aku terus muntah. Perlahan sambil menjilati muntahku tubuh terpelintirnya meregang, dan ia kembali seperti semula, semakin lahap memakan muntahku. Sementara si bapak dengan gerobak terus menatapku muntah, seperti sedang menyaksikan sebuah drama yang menyedihkan, karena perlahan ia menangis. Kepalaku pusing, perutku sakit dan aku terus muntah. Tubuhku mengurus, tanganku menirus, dan rambutku… rambutku memanjang. Aku sudah mengeluarkan seluruh isi perut dan entah apalagi. Sementara si kucing makan dengan cepat, ia menggemuk dan tambah kekar, dan si bapak tetap diam di situ, sampai aku terjatuh duduk, dan melihat bahwa mobil-mobil sudah hilang, jalanan malam sepi, kucing masih makan dan si bapak gerobak terdiam terpaku.

Aku merasa sangat lelah, dan aku tidak bisa mengingat aku dimana. Ini bukan jalan dari kosanku. Ini bukan pinggir jalan raya yang tadi, karena di samping jalan yang tadinya tembok semen, berubah menjadi kebun… bukan… hutan. Hutan lebat. Dan kucing yang memakan muntahku tidak cuma menggemuk, ia membesar.. Terus membesar, dan bulunya berubah menjadi loreng. Ia menjadi harimau besar yang terus menjilati aspal bekas muntahanku. Si bapak mengecil, menjadi seorang anak kecil dengan baju lusuh kebesaran. Ia melepas gerobaknya, dan gerobak itu berjalan mundur di jalan turunan. Si anak menghampiriku, ia masih menangis. Lalu ia memelukku. “Kamu sudah makan?” Tanya anak itu, aku menelungkup di dadanya dan air mataku turun. 

“Kamu sudah makan?” suara itu datang dari dalam mulutku, dan seperti berkedip, aku ada di pinggir jalan Margonda, dan anak itu sedang berdiri memperhatikan aku. Ia menggelengkan kepalanya, dan aku tawarkan nasi goreng yang baru kumakan dua sendok. Aku suruh anak itu untuk duduk di sebelahku, dan dia makan dengan lahap. 

“Nama kamu siapa?”

“Ari, Kak.”

“Kok malam-malam masih di jalanan?”

“Nunggu bapak,” jawab Ari sambil makan lahap. “Kak ini boleh dibungkus?”

“Kenapa? Habisin aja?” Kataku.

“Buat ade, kak.”

“Ade kamu dimana?”

Ari menunjuk ke sebuah gerobak di seberang jalan pinggir trotoar. Aku ingin membelikan satu porsi lagi, kurogoh kantong, tinggal recehan. Kubuka tas selempang hijau lusuhku, yang kupakai sejak SMA. Ada dompet, tidak ada uangnya. Lalu kubilang pada tukang nasi goreng untuk membungkus nasi goreng itu. 

Ari mengambil sebungkus nasi goreng lalu berlari menyebrang menuju gerobak. Ia masuk ke dalam gerobak itu. Perutku berbunyi. Rasanya perutku kosong sekali, apalagi sehabis muntah itu. Tapi aku ingat kejadian ini, nasi goreng di pinggir Margonda, anak bernama Ari. Tapi aku lupa ini kapan tepatnya. Kalau kulihat dari pakaian, tas, sepatu butut, sorjan jawa warna ungu, rambutku yang panjang, ini tubuhku ketika aku mahasiswa. Pantas aku tak punya uang sepeserpun dan selalu lapar. 

Aku berjalan ke arah gerobak untuk melihat Ari. Di gerobak itu, Ari dan adiknya yang masih balita tertidur seperti janin kembar yin yang, dengan sebungkus nasi goreng di tengah-tengah mereka. Aku memutuskan untuk menunggu bapak mereka sampai. Aku duduk di trotoar, membongkar-bongkar tasku. Cuma ada satu buku catatan, pulpen bocor, dan buku puisi Arthur Rimbaud. Ada pembatas kertas bon yang sudah terhapus di sebuah halaman:

As I drifted on a river I could not control,
No longer guided by the bargemen’s ropes.
They were captured by howling Indians
Who nailed them naked to coloured posts.

Ketika aku hanyut di sungai yang tak bisa kukontrol,
Tidak diarahkan tali nahkoda tongkang
Mereka ditangkap para Indian yang melolong
Yang memaki mereka di tiang-tiang berwarna

“Hei,” suara seorang perempuan yang lembut menyapaku. Ana. Ia duduk di sampingku. Ana adalah mantan kekasihku yang tidak pernah jadi kekasihku. Seperti Mama yang bukan Mama yang kutemui sehari sebelum ini, Ana yang ini juga bukan Ana. “Kamu nggak tahu mau pulang kemana ya?”

“Iya, Na.” Jawabku. “Gue bahkan nggak tahu ini tepatnya kapan.”

“Ini malam itu, waktu lo ketemu gue di jalan, terus nganter gue ke kosan gue.”

“Tapi…” aku melihat ke gerobak. Seorang bapak lusuh–bapak yang tadi menatapku nanar ketika aku muntah, datang dan membawa sebungkus nasi. Ia membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka makan. 

“Yuk,” ajak Ana. Kami berdiri lalu berjalan menyusuri Margonda. Menuju kosannya. 

Kami berjalan menyusuri Margonda yang bukan Margonda. Karena Margonda terakhir kali aku lewat, adalah jalan lebar yang macet dengan banyak gedung-gedung dan apartemen. Margonda ini tidak ada gedung apartmen satupun. Aku ingat bahwa setiap hari aku tidur di tempat-tempat berbeda. Kadang di kampus, di kantin, di kosan teman, di halte bus, dan kadang di kosan Ana. 

Kami masuk ke gang-gang kecil, dan sampai di sebuah pagar dengan kos-kosan petak yang berderet. Kami masuk, dan aku ingat semua detail kosan Ana. Aku masih hafal bau kosannya, tempat tidur di bawah dengan seprai biru muda, dan semua tertata rapih. Buku-bukunya di rak kecil namun padat, kebanyakan non fiksi. Kami punya kesamaan, kami tidak begitu suka fiksi karena kami mudah terbawa cerita. Ana menutup pintu, lalu mengambil handuk dari gantungan di pintu, melemparkannya padaku. 

“Mandi. Kamu bau.”

Aku ingat kami cukup intim. Tapi dia Ana yang bukan Ana, aku ragu membuka baju. Ana mengambil sebuah baju merah dari dalam lemari. “Nih, udah gue cuci.” Bajuku, aku ingat suatu hari, beberapa tahun dari sekarang, ia mengirimiku fotonya dengan baju itu, sambil mengucapkan selamat ulang tahun padaku. 

Kutaruh tasku, dan aku masuk kamar mandi. Iya, aku bau. Bajuku juga apek. Pintu kamar mandi itu tidak bisa dikunci, atau tertutup dengan baik. Sudahlah, kupikir. Aku buka seluruh bajuku dan aku mengguyur tubuhku dengan air dingin. Ada yang memelukku dari belakang. Ana. “Aku kangen,”

Photo by cottonbro on Pexels.com

Aku membalik tubuhku. Bibirnya merekah. Matanya yang selalu sayu. Dan aku menciumnya, rahangnya terbuka, lidah kami bersatu. Ada bunyi krak kecil setiap kali kami berciuman dengan penuh nafsu, ketika ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghisap lidahku. Tapi kali itu ia tidak hanya menghisap lidahku, ia menghisap seluruh nafasku. Aku tidak bisa bernafas! Dan ia berubah menjadi air, dan aku tenggelam. Aku tenggelam di dalam air tanpa dasar. Ana menghilang, menjadi buih-buih.  

Aku sulit bernafas dan aku tak tahu arah. Aku tak tahu mana atas mana bawah, tidak ada cahaya yang jelas, seperti tenggelam di malam hari. Sampai aku melihat cahaya merah: bulan merah. Aku berenang menuju cahaya itu, tapi seperti tidak pernah sampai. Aku melihat ke sekelilingku, ini bukan laut, bukan kolam. Ini adalah langit, karena di bawahku adalah kota yang bercahaya. Cairan ini bukan air, ini udara. Aku sesak dengan udara. Lalu aku pasrahkan semua udara mengisi tubuhku, dan aku hembuskan jadi buih-buih. 

Aku pejamkan mataku, dan aku bisa bernafas lagi. Ada suara ombak. Aku buka mataku, dan aku sedang duduk bersila di sebuah pantai. Suara burung camar, dan suara tawa anak-anak kecil. Ada suara musik di kejauhan, orang-orang bermain gitar dan membawa gendang, bernyanyi lagu-lagu yang akrab di telinga tapi aku tak tahu apa. Di laut, ada seorang perempuan yang menepi. Mama yang bukan Mama. Dengan daster yang basah ia datang padaku. 

“Nak. Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Ma.” Kataku. “Maaf ya Ma, harus ketemu Mama dalam kondisi kayak gini. Di tempat entah dimana kayak gini lagi.”

“Kata orang, bagian laut yang ini bisa nyembuhin penyakit. Penyakit apapun, dari diabetes, jantung, stroke–”

“–penyakit jiwa?”

“Ya, mungkin aja. Coba nanti kamu berenang ke tengah, Nak.”

“Kan abang nggak bisa berenang, Ma.”

“Pasti bisa. Itu kan laut yang bukan laut, air yang bukan air.” Kata Mama sambil senyum. Benar, ia Mama yang bukan Mama. Karena sudah lama aku tidak melihat Mamaku seperti itu, seperti tidak ada yang hilang, seperti tidak ada beban pikiran. 

“Lihat, semua orang sudah mulai pada pulang,” kata Mama. Sekelompok orang dengan gitar dan gendang masuk ke laut. Mereka tenggelam dan bersama tenggelamnya mereka musik menghilang. 

“Kamu bisa ikut pulang sama mereka,” kata Mama. “Kamu selalu bisa ke sini, nangis, ketawa, tenang, sedih, tapi apa yang ada di sini, jangan kamu bawa ke sana.”

Jadi ini saja? Perjalanan ini berakhir di sini, di sebuah pantai yang tidak jelas, dengan Mama yang bukan Mama. 

Dari semak-semak di pantai, seekor harimau keluar. 

“Eh, Hitler…” kata Mama. 

Harimau itu mengecil dan menjadi kucing lagi. Ia meringkuk di kaki Mama. 

“Kalau kamu nggak pulang, kasihan Mama di sana. Kasihan semua orang yang kamu tinggal. Yang di sini kan sudah kamu tinggal semua, biarin aja kita di sini. Kita nggak kemana-mana kok.”

Aku mengambil tangan Mama, dan Mama mencium keningku, membisikan sebuah mantra dan meniup keningku. Ia tersenyum lagi. Memelukku. Benar-benar bukan Mama, karena Mama dan aku tidak bisa berpelukan, ada pandemi di luar sana. Lalu aku berlari ke laut, pas ketika matahari menguak berwarna ungu, dan bulan merah tenggelam. Lalu aku menyelam, dan air berubah menjadi kata-kata. Aku menjadi orang yang sedang mengetik ini. 

Ini adalah mimpi yang bukan mimpi, dimana aku bertemu Mama yang bukan Mama, Ana yang bukan Ana, Ari, adiknya dan bapaknya yang bukan mereka. 

Lalu aku berpikir, apakah aku harus mulai packing, dan meninggalkan semua ini: kosan, komputer, mobil, kehidupanku, hanya untuk bertemu Mama yang bukan Mama, dan semua yang sudah berlalu dan tak mungkin kembali ke hidupku. Semua yang sebenarnya tidak lebih baik dari hari ini. Tapi toh sudah berlalu, dan aku bersamamu. Membawamu ke dunia itu.

Ah, sudahlah, aku pergi dulu. Aku ingin menyusuri trotoar dan mencari Hitler. Siapa tahu aku bisa menyelamatkannya sebelum ia terlindas mobil. 


Ini adalah bagian pertama dari meditasi tulis, kategori baru di eseinosa sebuah cara terapi menulis yang saya kembangkan untuk perlahan memperbaiki isi otak saya. Jika kamu suka dengan apa yang kamu baca dan ingin membaca lebih banyak cerita sureeal seperti ini, traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:

Politik, Racauan, Uncategorized

HARUSKAH MAHASISWA “SOPAN” PADA DOSENNYA?

Pendidikan harus bikin orang jadi beradab, dan adab itu dimulai dari sopan-santun ketika bicara, email, sms, atau chat WA. Sopan bukan hanya pada dosen, tapi juga pada sesama. Tapi sebelum saya jadi patron kesopanan, saya harus kasih disklaimer dulu bahwa saya bukan orang yang sopan.

Saya dibesarkan di keluarga dengan latar belakang etnis, budaya, dan ekonomi yang berbeda jauh antara dua orang tua saya. Kawan-kawan dan sodara-sodara saya ada yang orang kaya kota, ada juga orang kampung miskin, orang kaya kampung, dan orang miskin kota. Ketidaksopanan saya pelajari dari yang terakhir: orang miskin kota. Orang kampung mau kaya atau miskin biasanya sopan, maklum, guru ngajinya masih pake rotan buat nyabet salah baca Iqra, yang kaya gitu ga ada pilihan kecuali jadi rendah hati dan (seringkali) rendah diri.

Sementara orang miskin kota ada dua macam, yang miskin ekonomi dan yang miskin pendidikan sosial (pensos). Paling nggak sopan yang miskin ekonomi dan miskin pensos, yang begini hidupnya mah senggol bacok. Tapi mahasiswa jaman ini sulit dikategorikan miskin ekonomi. Kuliah mahal bos, BSI aja hari ini lebih mahal daripada UI jaman saya.

Artinya kebanyakan mahasiswa yang dinilai tidak sopan ini adalah produk dari cukup ekonomi dan miskin pensos. Mahasiswa jaman ini yang sering disebut millenial (baca: dari SD sudah kenal gadget), memang kuper. Tapi pertanyaannya apakah itu salah mereka? Memang siapa yang kasih gadget? Atau pertanyaan klasik ibu guru: “Di rumah kamu nggak diajari sopan santun ya?” Dengan enteng, mahasiswa kuper yang tidak sopan akan menjawab, “Iya.”

Jadi kesalahannya ya struktural. Pasca reformasi muncul banyak kelas menengah baru Indonesia. Kelas ini pekerja keras, kerja dari pagi sampai malam. Bersamaan dengan itu muncul sekolah-sekolah dan tempat-tempat kursus yang memastikan anak sekolah dan ekskul dari pagi sampai malam, yang tidak ekskul kurang perhatian orang tua. Kalaupun dapat perhatian, banyak juga orang tua yang kawin muda jadi masih terlalu hedon, atau orang tua yang baru punya anak di usia senja hingga susah mengendalikan anaknya. Banyaklah faktornya, namun utamanya sopan santun itu yah didapat di rumah. Bukan di sekolah.

Bagaimana dengan sopan santun pada guru? Bukannya itu di sekolah? Kembali lagi tergantung bagaimana sekolahnya. Pendidikan yang visinya kapitalistis, dan ngejar akreditasi, biasanya lebih memanjakan siswa. Guru-guru diharuskan lebih perhatian, lebih mengerti bahwa kebutuhan setiap anak berbeda. Itu bukan hal buruk kalau dilakukan dengan benar. Tapi akibatnya fatal, kalau standarnya ganda: asal mampu bayar, lulus-lulus saja. Murid yang secara intelektual dan emosional tidak kompeten, jadi bisa masuk perguruan tinggi.

Masalah tidak berhenti di situ. Mahasiswa yang masuk perguruan tinggi punya kejomplangan yang lebar. Ada yang memang pintar sejak SMA, sekolahnya bagus, standarnya bagus, kemampuan sosialnya bagus, bisa menulis dasar, bahasa inggris bagus, dan biasa berpikir kritis; bertemu dengan lulusan sekolah yang standarnya rendah, komunikasi sulit, bahasa inggris pas-pasan, nulis nggak bisa, dan terbiasa didikte.

Akhirnya dosen-dosen kelimpungan. Entah sudah berapa dosen dari beberapa perguruan tinggi berbeda-beda yang saling curhat sama saya tentang ‘keharusan mengejar akreditasi’ dengan non-skripsi lah, dengan kuota kelulusan kelas lah, atau menurunkan standar didik lah, supaya mahasiswa yang masuknya sudah jomplang, bisa paling tidak sinkronisasi otak. Di tempat saya mengajar beberapa tahun ini pun, gejala ini terjadi. Beberapa tahun lalu, saya dengan mudah mengajar dalam bahasa Inggris di kampus internasional. Sekarang dilebur dan yang bahasa inggrisnya bagus dan kritis jadi minoritas.

Dan untuk itu, saya harus turunkan standar ajar, supaya yang lulus banyak. FYI, saya turunkan standar ajar bukan karena kebijakan kampus–secara silabus yang baru belum keluar, tapi kebijakan saya sendiri melihat beberapa anak pekerja keras yang tidak mampu baca buku teks pegangan yang memang untuk kelas internasional. Dulu ada satu dua anak yang begitu. Saya bisa tangani langsung secara personal tanpa harus turunkan standar. Sekarang sudah tidak bisa lagi karena mereka mayoritas.

Kembali ke soal kesopanan, saya akan menutup bahwa menurut saya dosen/guru sekarang yang harus pintar-pintar mengakali ketidaksopanan murid-muridnya. Karena kini murid sudah kencing terbang dengan gadget, media sosial, google, sementara kebanyakan guru dan dosen kencing berlari pake sosmed aja masih gaptek. Soal sopan tidak sopan, tidak penting lah, sistem pendidikannya saja masih kacrut.

Filsafat, Politik, Racauan

Dari Manusia Bernama Guido ke Ide bernama V: Kenapa Demonstran KAMMI Gagal Total


Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya mengubah akun Facebook saya menjadi Guy Fawkes setelah menonton V for Vendetta. Saya bersama kawan saya (anonim) membuat akun tersebut bermodalkan akun saya, supaya si Guy langsung punya teman (yaitu teman-teman saya). Di situ, kami berkomitmen untuk membuat akun GF tersebut jadi simbolik–kami akan upload status, tulisan atau apapun berkenaan dengan gerakan sosial dan segala bentuk perlawanan terhadap tiran. Saya sendiri membuat akun FB lain, yang saat ini saya pakai untuk menulis note ini. Sampai tahun 2011 Guy Fawkes buatan kami cukup banyak followernya–termasuk follower-follower dengan nama dan foto profil sama di seluruh dunia. Guy Fawkes menjadi gerakan anonim yang besar. Ada 22.000 orang lebih di seluruh dunia memakai topeng dan nama ini di facebook. Di tahun 2011 itu lah Facebook memutuskan untuk menghapus semua member yang punya nama Guy Fawkes, God, Muhammad SAW atau Allah SWT, dan hanya memperbolehkan orang membuat Fan Page tentang tokoh-tokoh simbolik ini. Dan semua notes, serta status-status keren hilang bersama Guy Fawkes kami.

Baca lebih lanjut