Film, Kurasi/Kritik

Eternals dan Matinya Mitologi Tuhan

Kebanyakan orang beragama pasti spanneng, kalau Tuhan dibilang mitos, apalagi dongeng. Rocky Gerung pernah kena batunya waktu dia bilang agama adalah fiksi. Tapi yah, kita mau bilang apa sama kebebalan spesies kita? Yang bikin kita jadi manusia toh ternyata bukan akal, bukan logika, tapi dongeng apa yang mau kita percaya.

Kita sudah menemukan hal-hal paling mutakhir: tulisan, metode pengumpulan data, perekam data. Dan data ini terus kita olah menjadi peradaban kita. Tapi data tidak ada gunanya tanpa cerita. Cerita adalah manual kita, semacam petunjuk arah bagaimana kita mau memaknai sebuah data. Data tentang hidup kita, misalnya, cuma bisa relevan kalau kita bagun dalam sebuah cerita.

Kisah-kisah superhero, tidak jauh beda dengan kisah-kisah di kitab suci. Bedanya cuma institusi yang menghasilkannya. Institusi produksi film atau sastra akan dengan gampang mengakui bahwa mereka adalah pabrik imajinasi. Sementara institusi agama akan selalu bilang mereka memegang yang lebih nyata dari yang nyata (baca: akhirat). Tapi orang songong, atheist yang solat, seperti saya akan bilang bahwa memang Tuhan, Dewa-dewa, Setan, Akhirat, Agama-agama, semuanya sama saja dengan dongeng. Mitos. Imajinasi. Semua itu bukan kenyataan tapi jadi pegangan kita dalam menghadapi dan membentuk kenyataan.

Pembicaraan filsafat panjang ini penting saya paparkan ketika bicara soal Film Eternals Marvel-Disney. Ini termasuk film dengan naratif paling songong. Avengers dan Thanos, Dr. Strange, Thor, itu udah bener-bener songong kan. Bayangin aja ada Tuhan bawa-bawa palu, kalah lagi sama Hulk–makhluk yang diciptakan sains. Malu. Untungnya orang Norwegia dan Viking yang beberapa masih menganut agama lama gak sensian kayak orang Islam yang dengan gampang gasih fatwa mati. Mungkin itu juga penganut agama Viking sudah beragama buat gaya-gayaan aja. Toh, negara merka udah jadi salah satu negara termaju di dunia.

Jadi Marvel ini memang segerombolan komikus yang paling songong, bikin dan make imajinasi Tuhan dan mitologi orang dengan semena-mena. Jadi inget buku The American Gods-nya Neil Gaiman, yang ngumpulin seluruh Tuhan-tuhan kuno di Amerika sebagai simbol imigran. Di buku itu nggak ada Allah (adanya Jin) , dan itu membuktikan keberhasilan fatwa mati orang Islam terhadap Salman Rushdie atau Ki Panji Kusmin, yang bikin gak ada penulis mainstream yang akan berani buat “menghina Islam”.

Eternals songong karena mereka bikin plot multidimensional, ketuhanan, dan Paralel Universe Marvel jadi tambah keos. Plus, dunia mereka berkelindan sama Avengers dan X-Men. Gile, Marvel nih udah kayak 72 aliran Islam. Plus mereka udah jelas plagiat beberpa superhero DC, lalu dengan bebasnya ngasih reference bahwa Ikaris adalah Superman. Mungkin udah tahu kali ya kalo Ikaris emang referencenya Superman, makanya daripada dibilang plagiat mendingan hajar bae ngaku itu tribute.

Kelindan, claim, dan tinggi-tinggian superhero itu bukan hal baru. Waktu Sunan Kalijaga bikin wayang, dia pake cerita Hindu dan dewa-dewa Hindu dari Ramayana dan Mahabarata. Bedanya, dan ini yang keren banget dari pembajakan agama Hindu untuk dakwah Islam, sang Sunan ngasih Gusti Allah sebagai dewa tertinggi, dan Punakawan (manusia biasa) sebagai tokoh bijaknya. Resmi tuh agama dibajak untuk dakwah agama lain. Keren. Dan ga ada yang ngamuk saat itu, kerena cerita wayang seseru cerita superhero yang sekarang sering kita tonton.

Menarik melihat Sapiens mengkategorikan agama dan cerita yang mirip agamanya tapi bukan agamanya. Double standard dan paradoxnya ga nahan juga: bahwa agama terinstitusi lebih bisa dipercaya daripada superhero. Kebayang nggak sih kalo dimasa depan, semua superhero ini menggantikan Tuhan kita hari ini, kagak bagaimana Tuhan kita hari ini menggantikan dewa-dewa dan mitologi nenek moyang kita?

Kebayang dong, tapi pasti banyak orang akan deny. Nggak ada yang mau Terima bahwa Tuhan itu jahat. Tapi Tuhannya Eternal, jahat. Ini ancurnya logika film ini. Tuhannya Eternal jahat padahal dia cuma force of nature. Semua juga pada akhirnya akan meledak atau beku. Lucunya Tuhannya Eternals malah kasih kesempatan kedua pasca kiamat, seakan Tuhan bisa dipetisi dewa-dewa atau para malaikatnya. Kalau dibandingkan sama agama semit, Tuhan akan menjadikan malaikat yang mengritiknya jadi setan dan membuangnya ke neraka.

Sudahlah. Mereka perlu itu buat bikin cerita yang manusiawi. Dewa-dewa abadi yang hidup disekitar kita, ama-lama jadi kita. Gitu kali maksudnya. Kasihan amat. Mental tuh dewa-dewa abadi yah. Yang jelas dari jaman Yunani kuno, Dewa-dewa emang udah galau aja sih, mau jadi kayak manusia yang rendah hati, atau kayak manusia yang sombong. Ini membuktikan mitologi Tuhan atau Dewa dengan karakteristik manusia masih laku aja.

Gue rasa percuma ngomongin akting atau aspek teknis di film ini. Apalagi CGI nya banyak banget, udah lah ya. Tapi menarik sih melihat Hollywood dan obsesinya terhadap dewa-dewa dan agama tua. Dari Clash of Titans sampe Gods of Egypt, Hollywood suka banget bawa-bawa nama Tuhan. Well mungkin ini tradisi reinassance Eropa, yang dengan songongnya melukis Yesus dengan kulit putih. Padahal Yesus dalam bukti sejarahnya harusnya Yahudi berkulit gelap.

Klaim-klaim semacam ini bukanlah sebuah hal baru. Mereka yang menguasai seni dan media bisa membuat berbagai macam klaim. Karenanya semakin bebas sebuah media seni, semakin tidak berharga pula klaim-klaim itu. Klaim cuma bisa bekerja dalam sebuah sistem buku rekam seperti hari ini kita punya blockchain. Tanpa ada sistem rekam , maka klaim tidak berharga karena tidak bisa diverifikasi–begitupun Tuhan. Tanpa ada instutusi Agama maka Tuhan tidak bisa diferifikasi sebagai sebuah kode yang menyatukan banyak orang di dalam lindungan (agama)-Nya.

Kembali pada The Eternals, satu hal yang penting dari franchise film ini adalah bagaimana kaum abadi ini merangkum peradaban besar manusia, dan mengklaim diri mereka sebagai bagian dari sejarah peradaban manusia. Dan kesiumpulannya, seperti banyak film superhero hari ini, bukan tidak mungkin di masa depan, superhero hari ini adalah Tuhan di masa depan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, kamu bisa bantu sang penulis untuk bisa tetap punya blog yang proper dengan mentraktir dia kopi dengan menekan tombol ini:

Ethnography, Politik, Racauan

NFT buat Orang Tolol

NFT atau Non-Fungible Token jadi trend di Indonesia gara-gara selfie seseorang yang kita semua sudah tahu siapa, kalau nggak tahu kalian bisa cari sendiri di google. Ini tentunya membuat pusing situs market NFT karena habis itu pasar NFT dipenuhi dengan sampah-sampah dari netizen Indonesia. Terus kalau kalian searching NFT di internet, pasti kalian banyak yang bingung karena ini kayak udah jadi ribet banget. Untuk ngerti NFT kalian harus ngerti Blockchain, Crypto Currency, FT, NFT dan pada akhirnya otak kalian biasanya akan teriak WTF. 

Photo by Worldspectrum on Pexels.com

Saya paling jago ngejelasin konsep ngejelimet dengan cara yang sangat bodoh, tapi kalian semua bakal ngerti. Di tulisan ini saya akan bahas soal blockchain, Crypto Currency, FT dan NFT dengan sederhana buat kalian yang otaknya segoblok saya waktu browsing ini sekitar 3 bulan yang lalu. Dan yang paling keren dari tulisan ini, saya bisa kasih tahu kalian bagaimana mengambil sistem NFT dan membuatnya menjadi sebuah penghasilan instan tanpa kalian harus punya crypto currency. Tulisan ini akan menjelaskan hubungan antara blockchain dengan pernikahan, crypto currency dengan perbudakan, dan NFT dengan taik kucing.

Tapi maaf banget, karena saya riset lumayan banyak buat bikin tulisan renyah ini, saya mau minta kalian nyumbang duit kopi dan wi fi saya. Kebetulan tagihan wi fi baru saja mendarat. Kalian bisa baca tulisan ini dengan traktir saya secangkir kopi susu warung. Klik tombol di bawah ini:

Film, Gender, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan

Quo Vadis, Henricus Pria?

Tulisan ini buat mbak yang komen di IG cinemapoetica. Ya, saya patriarki. Itu ideologi yang dipakai semua orang hari ini. Dan saya feminis, karena saya melawan ideologi itu, termasuk melawan diri dan privilise saya sendiri sebagai lelaki heteronormatif, yang berusaha untuk terus evaluasi diri. Yes, thank you, saya tidak kenal kamu tapi saya menghormatimu. Semoga bahagia dan sehat-sehat, ya.

Ketika rumah produksi Penyalin Cahaya menyebarkan kabar bahwa penulis naskahnya dicoret dari kredit karena menjadi terduga pelaku pelecehan seksual, saya sangat galau. Saya sedang ada di tengah project film panjang pertama saya, 6 film pendek yang saya eksekutif produser sedang jalan post produksi dan satu sedang distribusi, dan saya sudah melabeli diri saya sebagai pembuat film aktivis, arus pinggiran, khusus NGO dan misi humanitarian, plus saya self proclaimed feminist, tapi… Saya anxious dipenuhi rasa bersalah!

Karena faktanya, saya adalah laki-laki heteroseksual yang dibesarkan di dalam budaya patriarki, dan saya belajar soal seksualitas dan feminisme ketika saya kuliah, untuk lebih mengerti ibu saya yang seperti gambarannya Betty Friedan dan gebetan saya yang seperti Helene Cisoux. Itu pun, dalam masa-masa kuliah dan pasca kuliah yang rock and roll (saya punya 2 album rock and roll dan pernah punya groupies), saya bergaul dengan lumayan banyak perempuan. Dan seremnya, saya takut ada yang saya lecehkan tapi saya nggak sadar karena saya bias patriarki. Karena seperti kata Hannah Arendt, kejahatan itu banal. Anwar Congo nggak merasa bersalah membantai Komunis, sampe dia dipersalahkan zaman Baru yang melihat pembunuhan sebagai pembunuhan. Dan kebanyakan boomer yang melecehkan perempuan menganggap bahwa hal yang mereka lakukan normal- normal saja pada masanya. Intinya, banyak pelecehan terjadi karena kebodohan dan kekurangan kemanusiaan. Sejarah seringkali tidak bersifat linear, tapi paralel dan komparatif: seperti ditemukannya perbudakan manusia di jaman ini di rumah Bupati Langkat. Atau pemikiran beberapa aliran puritan Islam yang tidak mau hidup dengan teknologi karena tidak sesuai dengan cara hidup rasul.

Untuk memastikan saya tidak melecehkan mantan-mantan pacar, gebetan atau FWB, saya menjaga hubungan baik dengan kebanyakan dari mereka. Nggak semua soalnya ada yang sudah kawin, beranak, berbahagia dan suaminya insecure, jadi saya nggak hubungi lagi. Anyway, kasus Penyalin Cahaya bikin saya ga bisa tidur dan saya bikin draft tulisan yang isinya nama dan peristiwa dimana saya mungkin saja pernah melecehkan perempuan. Saya berusaha mengevaluasi diri karena takut nanti pas film saya jadi, ada yang mengadukan saya karena saya pernah tolol aja waktu muda. Tapi pas saya tulis, saya malah ketrigger sendiri—secara saya banyak dibikin nangis sama perempuan. Sad boi gitu, tapi mabok dan ngeblues, maklum belom jamannya Emo jadi saya terhindar dari punya poni banting.

Saya sedih diputusin tapi saya nggak pernah dilecehkan. Saya cuma not good enough to be their man. Saya juga nggak merasa melecehkan, karena toh saya bener-bener sayang sama mereka semua, dan saya sangat terbuka untuk tanggung jawab dan minta maaf pada mereka kalau mereka bilang saya menyakiti mereka. Tubuh saya penuh luka yang pantas saya dapatkan karena membuat mereka patah hati. Beberapa ada yang mereka kasih karena mereka kesal saya selingkuh terus jujur, tapi kebanyakan luka saya toreh atau saya pukul sendiri karena saya merasa bersalah menyakiti hati orang yang sayang sama saya. Ah, sudah ah. Sedih.

Akhirnya tulisan itu jadi draft aja yang entah kapan bakal saya keluarkan. Dan saya coba bikin kritik Penyalin Cahaya sebagai filmmaker saja. Tapi setelah saya tonton dua kali, saya langsung bosan dengan filmnya. Filmnya well crafted, bagus banget secara visual dan naratif, tapi nggak mengulik intelektualitas saya kayak film-filmnya Joko Anwar, misalnya. Penyalin Cahaya yaudah gitu aja. Paling kalo mau dikritisi, filmnya ga mengandung keistimewaan feminist secara visual: cewek-cewek di film itu tetap aja tereksploitasi dan jadi fetish buat cowok-cowok yang suka sama cewek feminist. Yes, seperti ada cowok-cowok fetish sama nenek-nenek, orang kerdil, anak kecil, dan perempuan cantik, ada juga cowok-cowok yang fetishnya sama dominatrix atau feminist. Kalau cowok-cowok yang fetish feminist ini adalah masokis, itu lebih baik daripada Penyalin Cahaya. Karena, dan ini simpulan saya sama Penyalin Cahaya:

Penyalin Cahaya secara visual dan naratif memberikan sebuah orgasme pada para lelaki patriarki dominan yang fetish pada feminist, bahwa pada akhirnya para perempuan yang melawan ini mereka kuasai, sistemnya kuasai. Di visual filmnya tubuh, punggung, dan ranah privat sudah diekspos ke penonton, memberikan kenikmatan. Dan cerita-cerita terfotokopi hanya sekedar buang-buang kertas ke jalanan. Secara visual keren, kertas kuning melayang di udara, tapi secara subtansi cuma jadi sampah di jalanan. Long live patriarchy.

Maka kesimpangsiuran kasus Henricus Pria, dan banyak pelecehan lain cuma menambah kuat statement film ini: cerita-cerita pelecehan itu sampah yang buang-buang kertas aja. Toh angka penonton dan penjualan di Netflix tetap tinggi, dan cerita korban berkeliaran seperti gosipan lambe turah saja.

Dan saya tetap tidak bisa tidur. Bukan karena saya merasa bersalah seperti ketika film ini tercekik wacana dan jadi trending dulu, tapi karena kasusnya seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak waktu. Saya tidak bisa tidur memikirkan para perempuan yang trauma, terluka, dan melanjutkan hidup seperti veteran perang yang sengaja dibuat kalah dan traumatis. Saya tidak bisa tidur memikirkan, apa yang bisa saya lakukan besok, biar saya, murid-murid saya, generasi masa depan, tidak mengulang pelecehan yang sama. Karena bikin film soal pelecehan seksual, yang menang banyak penghargaan dan sempat bikin Peraturan Menteri no. 30 jadi hits, nggak bisa membuat korban diurus dengan lebih baik. Saya merasa helpless sebagai filmmaker.

Taik kucing semua kertas fotokopian itu. Saya akan bikin pendidikan film gratis aja buat filmmaker perempuan. Jadi mereka ga motokopi cerita, MEREKA SYUTING SENDIRI! Kalau kamu merasa kamu berbakat jadi sutradara, penulis, atau produser perempuan, tapi ga bisa sekolah film, daftar MondiBlanc!


Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu suka dengan yang kamu baca, kamu boleh sebarkan tulisan ini. Dan jika kamu mendukung saya untuk bisa terus konsisten menulis, boleh klik tombol di bawah ini dan traktir saya segelas kopi. Terima kasih.

Filsafat, Memoir, Racauan

Omnis Ardentior Amator Propriae Uxoris Adulter Est

Photo by Myriams Fotos on Pexels.com

Neraka punya satu aturan:

Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est

-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-


Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.

Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.

Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama 

menyatu. 

Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai

grativasi menarik balik.

Kami

… terjatuh

Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…

Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.

Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.

Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.

Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!

Depok, 24 Nopember, 2008


Terima kasih sudah membaca tulisan lama yang baru saya gali ini. Jika kalian suka yang kalian baca, bolehlah kiranya traktir saya kopi supaya tetap semangat mengisi blog ini, dan merasa ada yang menghargai pemikiran saya. Makasih sudah mampir.