my desire
a cube on a desert
black iron floating
stormy weather
flowers
stairs
constellations
conversations
horses
cornucopia
If you like what you read, and want to see some exclusive content, be my patron:
my desire
a cube on a desert
black iron floating
stormy weather
flowers
stairs
constellations
conversations
horses
cornucopia
If you like what you read, and want to see some exclusive content, be my patron:
I am so tired, and my body crave for sleep. There are so many problems and hope in life. So many despair, so many love, list, ambition, disappointment. Many experience yet to be experienced. And yet during my tired times, I don’t really care.
So I left my door unlocked, in case when I managed to sleep, I will never wake up. It’s not a suicidal thought or a death wish. It’s just a “come what may” thought. Everybody struggle to stay alive. To survive and hopefully to strife. Only to be beaten, lose, and try again.
I too have plans, excitement, hopes and dreams, but I realize now that all those stuff is not real. Reality is unpredictable, and cannot be fight. If you gotta go, you gotta go. We are all somewhat always dying. No matter what we do, death is always lurking around the corner. Like an old friend that we want to forget, a promise that we made when we were born.
And death is not special. It comes to every living being. In grief, we cry or depressed, or impulsively hurting others. We forgot how natural death is. And how we all are somewhat dying. Forgetting death, we become this arrogant sentient being. Embracing death, make us humble.
I feel like I am always dying. Therefore I use my life as good as I could. So little time. But I am in no rush. There is no joy in rushing things. Let the world give you anything you deserve. Take what has been provide, with cautious.
And this dawn, I feel like dying. I don’t have time to prepare my lot, so I unlock my door so people can find my body, if I never wake up. Because I care for the living. My corpse will leave trouble, and that I don’t want that. If everything is according to my plan, I will die old and my death will be tremendously helpful. But a plan is just a plan. Thus, my door is unlock.
So I can welcome an old friend.

***
Be my patron for exclusive content, music, films:
Manusia sapiens adalah binatang bercerita. Diri mereka dibentuk oleh cerita, peradabannya adalah cerita. mereka hidup dalam cerita, dan menyumbang cerita. Cerita menjebak, cerita membebaskan, cerita merebak, cerita melegenda menjadi mitos, yang terinstitusi jadi agama, yang tidak terinstitusi menjadi dongeng belaka.

Lalu di sinilah kita, kawan. Dalam cerita-cerita yang seringkali tak ada logika. Cerita-cerita yang membangkitkan atau membunuh perasaan. Padahal apalah perasaan selain reaksi kimia dalam tubuh biologi kita. Cerita cuma berpengaruh kalo kita sensi saja.
Ada cerita kesedihan, dari Roman Picisan sampai kisah heroik. Ada cerita sederhana, tentang proyek yang gagal hingga kita saling marah dan bermusuhan. Ada kisah sukses, yang sebenernya selalu berakhir tragis jika saja diteruskan. Tidak ada happy dalam sebuah ending. Kaena bahagia dan kesedihan berputar-putar saja dalam sebuah siklus mood dan hormon. Kesuksesan atau tragedi bisa berasa bahagia atau sedih, tergantung obat apa yang ditelan.
Sekarang aku seperti mengerti banyak perasaan, dan dapat membuat naratif untuk membangkitkan perasaan-perasaan itu, dalam tulisan, dalam lagu, dan dalam film. Tapi di saat yang sama kadang aku merasa kebas karena perasaan-perasaan yang ada dalam naratif karya itu, akhir-akhir ini sulit untuk kurasakan jika aku berpikir logis. Bahwasannya, rasa, emosi, itu tak lebih dari interpretasi otak dan hormonku atas kenyataan, dan jika aku mau tidak terbawa, aku hanya perlu bernafas dengan teratur dan berpikir dengan terstruktur. Dan jika aku mau merasakannya, aku hanya perlu immerse ke dalam naratif tersebut.

Kemampuan untuk mengontrol emosi dan mood ku tidak serta-merta membuatku kurang manusiawi. Seperti orang autis atau psikopatik juga manusia. Merka hanya kurang empati.
Emosi dan rasa kini keluar kalo aku capek atau manic, dan aku langsung bisa tahu bahwa perasaan tidak enak, hadir dari dalam diriku, bukan dari luar. Tidak seru, dan aku butuh ketidakseruan itu. Karena keseruan seringkali bikin musibah saja.
Ini adalah racauan terbaruku yang menggunakan asosiasi bebas, untuk mengungkapkan pikiranku dan kucicil-cicil dalam waktu beberapa hari karena aku sedang sangat sibuk. Sibuk. Yang menyenangkan karena emosiku dan mood ku cukup terkendali dan konsisten buat bisa kerja sehari-hari. Semoga kamu pun begitu, optimis menyingsing tahun 2022.

Di tahun ini aku punya banyak rencana. Film panjang pertamamu ingin kuselesaikan sebagai produser. Lalu aku ingin bikon workshop gratis buat anak-anak muda termarginal. Aku juga sedang semangat belajar soal crypto dan NFT tapi tanpa punya keduanya. Kupikir crypto dan NFT bisa kuubah jadi produk budaya-finansial yang bisa bikin Seniman kita jadi kembali menjadi Seniman rakyat akar rumput. Tunggu tulisanku berikutnya soal hal ini.
Kalau kamu suka yang kamu baca sejauh ini, traktir aku kopilah. Jadi tulisan selanjutnya bisa lebih cepat keluar.
Halo pembaca EseiNosa.
Selamat tahun baru 2022.
15 tahun yang lalu, gue dan teman-teman gue bikin band bernama Wonderbra dan dirilislah album ini, Crossing The Railroad.

Crossing The Railroad adalah album Rock and Roll Blues yang berisi 8 lagu soal kegalauan, kemarahan, kemasabodoan dan kenarsisan anak muda di tahun 2000an.
Ada yang bercerita tentang masokisme percintaan (Die Die Baby Die), tribute buat Janis Jopline (Ode to Lady Janice), Horror ala Tim Burton (Obituary), bahkan begahnya hidup di Jakarta (Hell’s kitchen) dan banyak lagi yang lainnya.
Pasang album ini sambil jalan, lari, atau nyetir, gue jamin bikin semangat kalian membara!
Dan album ini bisa menyelamatkan kalian ketika susah sinyal, nggak wi fi dan kuota karena…
Album ini offline.
Yep, kami di Wonderbra mau coba jualan album lagi dengan cara yang setengah lama setengah baru, mendekatkan diri pada teman lama dan berharap punya teman baru. Bentuknya data, hanya untuk device kalian saja.
Dengan beli dan download album ini, kamu langsung support wonder buat semangat dan nabung bikin album ke 3.
Dan kami percaya sama kekuatan komunitas untuk menghidupi senimannya, daripada kekuasaan streaming platform. Musik ini semua dibentuk dari keresahan jadi mahasiswa tahun 2000an, dan ini mewakili zaman kami. Jadi lebih baik kami persembahkan buat teman-teman kami sendiri, yang lama ataupun yang baru.
Yuk ikutan nostalgia!