Eksistensialisme, English, Puisi, Uncategorized

Beth The Sheathmaker

In every end of a wrath
Lives a woman named Beth
One night she carved a sheath
From skins and strings of death

The killers wait outside her garden
With a rusted sword held by a maiden

“Full moon is upon us,”
Said the maiden in a lamenting song
“Lateness is disastrous
For the sword needs to belong. “

‘Tis the sword of jade
Rusted with stains of blood
A natural poisoned blade
And human flesh, its food

And from its recent victims
The heathens the people claims
A new cover must be woven
Before the sword get awaken

But see, dear Beth is too old
For milleniums her story has been told
It’s even hard for her to fold
A sheath to shield she cannot mold

Full moon started to bleed
The sword begins to feed
On those who says they need
To kill because of greed

Beth survives the dreadful mess
She has made an awful dress
The remnants that she caress
Have now become her fortress


Musik, Portfolio

Pesan dari Kamar Zoe masuk Release Radar Spotify! Dan Saya Produsernya!

EP Pesan-pesan Dari Kamarku Side A oleh Avigayil Enautozoe resmi dirilis dan masuk release radar spotify! Ini EP yang saya produseri dan prestasi ini membuktikan bahwa di usia ke 36 ini, saya berhasil menjadi produser musik. Saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pembuatan EP ini, karena usaha yang kami lakukan, walau tidak terasa berat karena kami senang, jika dipikir-pikir panjang juga.

Suatu hari sebelum workshop tiga tahun lalu, Zoe bermain gitar di depan rumah saya. Saya belum benar-benar mengenalnya tapi lagunya begitu akrab dan perih. Komentar pertama saya adalah, “Sakit apa lo, Zo?”

Saya langsung akrab dengan lagunya, dan bukan cuma satu. Dia sudah bikin beberapa lagu. Kebetulan saya punya microphone lumayan bagus yang saya beli untuk VO dokumenter. Dengan itu Zoe merekam beberapa demo. Dan semuanya ajaib. Saya waktu itu memang sudah kepikiran untuk jadi produser musik karena band saya hiatus. Tapi dengan semua kesibukan dan musibah-musibah yang terjadi, niat itu selalu saya urungkan.

Selama menanti ini, Zoe ikut workshop film dan membuat film pendeknya yang pertama dan kedua bersama MondiBlanc Film Workshop. Kedua film soundtracknya dia isi sendiri. Selain filmnya sendiri, Zoe juga membuat soundtrack untuk film kawan-kawan seperti Kalut (sutradara Aka Wiharja) dan Cheap Thrills (sutradara Candra Aditya). Ini adalah soundtrack dari film fiksi pertama Enautozoe, Pergilah Pergi dari film Fiction.

Hingga beberapa bulan sebelum pandemi 2019, saya memutuskan untuk nekat mengajak Zoe, Nando, dan Rojak untuk merekam album Zoe hanya dengan satu gitar, di vila om saya di Banten. Saya ingat di sana ada sebuah ruang serba guna yang akustiknya ajaib. Kami rekaman dengan alat-alat pinjaman dan gitar-gitar yang kondisinya tidak sempurna. Nando merekam semuanya dengan kamera, sementara Rojak menjadi sound recordist yang stres karena walau akustiknya bagus tapi tempat itu punya choir berupa bebek dan soang milik warga sekitar, dan sesekali motor lewat memberikan efek distorsi yang membuat kesal. Saya sempat berkolaborasi dengan Zoe di dua lagu cover.

Tapi itu adalah konsep yang saya inginkan sebagai produser. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja dengan Zoe untuk membuat soundtrack film saya bersama WWF Indonesia. Judul lagunya “Sigi” untuk film Sejak Dini. Saya memproduksi lagu itu bersama sahabat saya Avrilla Bayu, seorang arranger profesional. Di situ Zoe berduet dengan mantan murid saya yang lain, Alduri Asfirna. Ini lagunya:

Menurut saya lagu itu dibuat begitu proper dengan teknologi dan teknis yang mumpuni. Namun bukan itu yang ada di kepala saya jika saya ingin merekam album Zoe. Saya merindukan masa-masa muda saya dimana saya dan kawan-kawan band Wonderbra membuat lagu dengan alat alakadarnya, yang penting jadi dan bisa kita bawa ke panggung. Salam merindukan keajaiban kolaborasi dengan keterbatasan, kesalahan-kesalahan manusiawi, dan kenikmatan mencipta, seperti yang kamu dengar di lagu Wonderbra ini yang kami buat di studio kecil kantor ibu saya dulu sekali, hanya dengan gitar dan software jadul komputer.

Setelah rekaman Zoe selesai, saya butuh packaging dan citra yang bisa menyempurnakan rekaman itu untuk dipresentasikan dengan pantas ke khalayak ramai. Musiknya kami buat dengan tidak pantas, maka presentasinya harus bagus. Ada beberapa ide dari Bimo Guntur, salah satu producer dan publicist di EP ini, untuk menyamakan struktur kasar hasil rekaman dengan artworknya. Tapi sebagai produser, saya pikir malah baiknya kita cari penyeimbang, seniman grafis yang karyanya sangat-sangat berkelas. Di kepala saya hanya terbayang satu orang: Jessie Tjoe.

Jessie adalah mantan mahasiswa saya di kelas sejarah seni, dan sampai sekarang tetap menjadi salah seorang seniman lukis yang paling saya kagumi. Sempat ragu, apakah seniman yang sudah pernah pameran dalam Kintsugi ini bersedia untuk berkolaborasi. Ternyata Jessie tetap seorang jenius yang rendah hati. Dia tidak hanya bersedia, tapi juga memberikan effort luar biasa untuk project ini. Sebuah effort yang mengangkat saya dan kawan-kawan untuk memberikan effort yang minimal sama kuatnya, agar hasil kerja kami bisa disandingkan dengan seni mewah ini.

Single pertama, Lagu Panjang Untuk Kisah Singkat, dirilis dengan satu gambar yang sudah jadi dari Jessie dan sudah dipamerkan di IG nya. Setelah itu kami brainstorm dan bekerja lama sekali (karena kami juga masing-masing punya kerjaan lain), untuk menyelesaikan EP side A ini. Maka akhirnya EP ini selesai baik dari mixing mastering, sleeve, art, dan canvas spotifynya.

Bimo Guntur publicist kami bekerja untuk mengajukan EP kami ke release radar spotify dan wow! Kami berhasil masuk! Maka akhirnya dirilislah EP Pesan-pesan dari Kamarku Side A. Dalam release party online, kami berbagi dan mendengarkan album ini bersama kawan-kawan dekat. Sungguh memuaskan. Terima kasih semuanya.

Namun kerja belum selesai. Masih ada Side B. Masih ada rilisan fisik juga yang akan kami lepas dengan sebuah memento: sebuah buku tentang mengolah sakit yang berisi bukan hanya artwork dan lirik, tetapi beberapa life hacks untuk menghadapi penyakit mental ringan yang menguasai banyak penduduk kota. Desember, kami harap pandemi sudah reda, buku bisa dicetak, dan yang terpenting kami bisa manggung live untuk merilis EP side B.

Sementara itu, silahkan menikmati EP side A di spotify. Ini single yang masuk ke release radarnya yang ada di Youtube Topic, untuk sedikit icip-icip.

***

Terima kasih telah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, traktir saya kopi dengan login ke trakteer.id melalui tombol dibawah ini. Traktiranmu memberikan saya motivasi.

Racauan, Workshop

3 Halangan Menulis dan Cara Menerobosnya

Entah sudah berapa banyak janji yang terlanggar soal menulis harian. Tapi pernah ada masa-masa konsisten, dimana secara rutin saya menulis. Jika diingat lagi, dengan mudah saya bisa tahu dimana batas menulis itu putus di jalan. Secara sederhana, sebabnya ada tiga.

Pertama, karena ada disrupsi rutinitas. Beberapa bulan ini, disrupsi selalu terjadi dengan berbagai macam masalah: dari masalah keluarga, kerjaan, dan yang akhir-akhir ini sedang sangat mengganggu: lonjakan pasien covid, kawan dan sanak saudara yang sakit dan meninggal. Jelas, menulis tidak sepenting mereka. Di situ saya paham bahwa menulis adalah privilise.

Kedua, kurang baca dan kurang bergaul. Penulis menghabiskan hidupnya banyak di depan HP, buku catatan, atau laptop untuk menulis draftnya. Namun ia butuh sekali untuk keluar dari zona penulisannya. Haruki Murakami mengunakan lari jauh setiap pagi, lalu bergaul di berbagai tempat sosial, atau berkelana ke sana kemari. Perjalanan bisa setahun dan dalam setahun itu ia sambil menulis 3-4 jam sehari tentang apa yang ia pelajari setahun sebelumnya. Begitupun penulis perjalanan (travel writers). Mereka sebenarnya lebih banyak di rumah, karena kalau di jalan, mereka mengumpulkan data. Tapi kalau mau aktif seperti Paul Theroux misalnya, yang hingga usia hampir 100 masih jalan-jalan dan menerbitkan buku, memang harus ada rutinitas. Bahwasannya yang ia banggakan, sebagai penulis ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh di rumah. Karena ia banyakan di rumah daripada di jalan. Novellette saya Kaori, mengambil inspirasi dari Paul Theroux dan kemampuannya membagi waktu antara tulisan dan rumah—walau Aoyama di Kaori lebih menderita karena ia tak punya anak.

Ketiga, muncul keinginan untuk membuat karya yang sempurna. Saya punya ratusan draft tulisan di blog ini. Beberapa ide dan topik yang saya pikir potensial untuk jadi besar. Ini bahaya, karena akhirnya yang jadi keluar ke permukaan hanya sedikit. Dan dari pengalaman saya, menyimpan ide tidak pernah baik kalau tidak ada deadline. Akhirnya bayi tulisan kita bisa cacat atau keguguran. Prematur itu buruk, tapi post term atau overdue bisa jauh lebih buruk untuk bayi dan yang mengandung. Kita sebagai penulis bisa terjebak di ide itu sampai gila.

Jadi baiknya diselesaikan, walau belum diterbitkan. Itu yang sedang saya usahakan, bahwa setiap draft adalah sesuatu yang selesai. Draft satu dan draft dua adalah tulisan yang berbeda. Bahkan ketika sudah terbit pun, dalam beberapa tahun bisa saya lihat lagi dan saya revisi, sesuai perubahan zaman.

Jadi ini cara utama yang sedang saya lakukan untuk bisa tetap menulis:

Jika saya bisa meminimalisir efek dari disrupsi dengan menepati janji saya untuk menulis, dan saya bisa terus membaca dan bergaul, dan saya tidak mengejar kesempurnaan, maka saya yakin saya bisa kembali aktif dan tidak buang-buang uang website 2.5 juta per tahun. Kunci yang selama ini berhasil adalah: ketika disrupsi itu berlalu, paksa rutinitas untuk kembali dengan fokus ke apa yang ada di sini sekarang di depan kamu. Residu dari disrupsi yang mengganggu dan menyedihkan, biarkan jadi bisikan-bisikan setan yang akan selalu ada. Relakan dia ada di sana tapi jangan berhenti untuknya. Saya tahu ini tidak mudah, tapi jangan dicoba. Dikerjakan saja. Satu-satu, pelan-pelan, dan tekan publish.

Tentunya saya ingin berterima kasih pada para patron saya, yang sudah menyumbang di laman traktir saya. Insentif ketika menulis itu penting juga di umur di atas 30 ini, apalagi saya tidak mau jadi penulis sepenuhnya. Saya masih mau jadi filmmaker, musisi, penyair, peneliti, kritikus, guru, dan banyak lagi. Hidup cuma sebentar.

Maka saya sangat menghargai mereka yang mentraktir saya kopi atau apapun untuk membiarkan saya bicara dan menulis. Kalau kamu baca ini sampai habis dan merasa ini ada gunanya, traktirlah saya secangkir kopi.

Terima kasih sudah membaca. Selamat menulis dan kabari saya di kolom komentar jika kamu menulis karena membaca ini atau karya saya yang lain. Saya ingin kita diskusi, nanti saya yang gantian traktir kopi biji jika kamu anak indie; atau teh jika kamu mau lebih berkelas, atau whisky jika kamu tipe yang ngeblues, gin jika kamu ingin lebih ekspresif tapi kalem, dan wine jika kamu filosofis.

Tabik!

Filsafat, Memoir, Racauan

Hidup Manual Lebih Baik daripada Matic

Pagi ini ada insiden: sebuah mobil Alphard yang kinclong dan baru menabrak tembok kosan saya dengan sangat parah, kecepatan tinggi, hingga bagian depanya hancur, cairan warna hijau keluar dari mobil, dan asap keluar dari mesin. Kejadian ini berlangsung dengan sangat konyol.

Saya hendak mengambil jemuran dari teras lantai dua, ketika saya lihat Alphard mewah sedang mundur untuk putar balik. Saya dengar alarm belakang mobil itu sudah bunyi cepat sampai melengking panjang menandai mobil sudah tidak bisa mundur. Tapi kenapa dia terus mundur saya bingung. Apa dia mabuk? Pelan-pelan bagian belakangnya menabrak tiang listrik sampai bunyinya seperti tulang remuk diremas besi pelan-pelan… “KRKKK… ” Ia baru mengerem. Dan kejadian selanjutnya begitu mengejutkan:

Tiba-tiba saja mobil itu ngegas dengan sangat cepat! Kencang sekali seperti melompat, dan sontak menabrak tembok di depannya. Seorang teman saya yang sedang lari pagi lewat di depan mobil itu bilang, “Takut ketabrak gue. “

Kawan saya berjalan menuju mobil yang mundur pelan-pelan. Bagian depan sebelah kanan hancur total. Asap keluar. Klaksonnya rusak terus berbunyi, membuat tetangga-tetangga pada keluar. Kawan yang hampir tertabrak mengarahkan supir supaya bisa melipir dan membuka jalan. Sambil klakson terus berbunyi, saya lihat supir itu berusaha memasukan balon keselamatan yang pastinya keluar dari setirnya. Ia lalu berkata keras-keras kepada semua orang yang berkumpul: “Gasnya terjepit sandal saya! ” Sulit dipercaya, dia panik karena bagian belakang menabrak tiang listrik, lalu ganti gigi dan langsung nabrak depan? Tidak masuk akal.

Tak lama setelah itu saya menuju kantor. Saya pikir, mungkin kalau mobil itu manual, kejadiannya tidak mungkin separah itu. Saya ingat Papa saya sangat anti mobil matic, karena hal-hal seperti ini. “Papa takut nggak bisa ngontrol. ” Yes, Pap. Bener juga. Kalo gigi 1, ngebut dikit lepas kopling pasti mati. Dan kalo kaki kanan kejepit, kaki kiri masih terbiasa injak rem. Tiba-tiba dalam 15 menit menuju kantor, saya berpikir soal hidup. Seperti lagi Drive oleh Incubus.

Tubuh kita tak lebih dari mesin biologis. Dan kita bisa belajar dari mesin, untuk memperpanjang waktu hidup kita dengan berkualitas. Tiap pagi dipanaskan, baru mulai bekerja. Jadi bangun tidur, jangan langsung kerja. Pemanasan dulu, relaksasi, baru… Tidur lagi… Maksud saya mandi lalu bekerja.

Seandainya jarak tempuh adalah pekerjaan dan tujuan adalah cita-cita, maka perjalanan kita dimulai dengan doa, dan digapai sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan mesin kita. Setelah dipanaskan, kita mulai perjalanan kita.

Gigi 1, perhatikan rpm. Jangan ganti gigi sebelum rpm sampai ke angka 3 atau 4. Lambat memang, tapi tidak perlu juga ngesot dan drifting di awal-awal. Biarkan kita rasakan jalanan, ingat kapan ada polisi tidur, tanjakan, dan belokan.

Jangan lupa rem dan lihat kiri-kanan sebelum berbelok. Tujuan kita tidak pernah lurus, tapi sembarangan belok bisa berakibat fatal buat kita dan orang lain. Karena di luar sana selalu ada orang yang mulai lebih dulu dari kita dan bisa jadi sudah cepat. Menghalangi jalannya akan membuat kita ditabrak. Terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sulit. Sulit untuk mengalah, apalagi kalau orang yang sudah ngebut itu slebor entah karena pengen cepat sampai karena mules, atau memang gila saja.

Tapi tak guna toh menyalahkan orang lain. Biarkan saja ia lewat seperti semua pikiran buruk dan pikiran jahat yang ada di belakang pikiran kita. Biarkan anjing-anjing menggonggong, gerombolan hyena lewat mengejar gerombolan rusa. Toh kita tidak sedang ikut berburu. Baru kita lanjutkan perjalanan, ketika sudah ada ruang buat kita. Sabarlah, ruang akan terbentuk. Dari kita lahir, kita toh sudah menyeruak keluar dari rahim dan menyerusuk masuk ke dunia.

Gigi 2. Cepat sedikit. Kasihan yang di belakang, tapi perhatikan di depan. Jika ramai, pertahankan gigi dua dan satu. Tidak guna gigi tiga jika kita harus berguncang-guncang di dalam. Ketenangan adalah tujuan utamanya. Usahakan ketika mengganti gigi, tidak terasa persneling kita pindah. Santai, sabar, injak kopling perlahan ketika kecepatan sudah stabil. Depan ada ruang, pindah gigi

Gigi 3. Percepat. Kasihan mereka yang di belakang kita sulit mengejar. Tapi jalan kota jakarta non-tol tidak begitu butuh gigi 4, santai saja di gigi 3. Kopling bisa mulai dilepas sampai lalu lintas mulai padat lagi. Jalan kecil berkelok-kelok juga tidak butuh gigi 4. Kita justru harus banyak rem, dan turun gigi. Hidup sesuai konteks. Tidak ada gunanya kebut-kebutan di jalan kecil lalulintas ramai.

Masuk jalan tol. Padat tapi tidak merayap. Naik gigi 4. Minimal 40 km/jam. Tingkatkan kecepatan ketika jarak sudah aman, 60 km. Jalanan mulai sepi dan panjang. Kecepatan 75. Pindah gigi.

Gigi 5, kecepatan stabil di 80 menuju 100, ambil lajur tengah menuju kanan untuk menyalip. Usahakan tidak lebih dari 100. Usahakan di tengah saja, tidak ambil kanan terus. Jangan melanggar aturan. Jangan menyalip dari kiri. Tapi kadang kita bisa bersnang-senang.

Jalanan lurus. Kosong. Sekali-sekali coba 120 km/jam, dengan kepercayaan mobil terawat baik. Power steering bagus. Rem bagus. Sebentar saja lalu kau lihat lengkungan jalan, lepas gas pelan-pelan, turunkan kecepatan. Menuju gerbang keluar tol, kembali ke gigi 4. 3. 2. 1. Netral. Berhenti. Bayar tol. Keluar dan kembali menanjak pelan-pelan. Masuk kembali ke kota. Kalem lagi.

Sampai di tempat tujuan. Gigi 1. Parkir reverse dengan berbagai macam tips dan trik spion dan manuver. Dengarkan alarm belakang jika ada. Perhatikan spion kiri-kanan dan dalam. Hingga semua baik-baik saja. Posisi gigi netral. Tarik rem tangan. Kamu sampai ke tujuan. Istirahat lalu kerja.

Kopling, gigi, menjaga tetap aman menjaga kecepatan dan kontrol. Kontrol yang didapat susah payah dengan mati-mati mesin, loncat-loncat, dan tabrak menabrak, serempet menyerempet. Paling tidak kalau kaki tersangkut gas, tapi gigi 1, kecepatan cuma di bawah 20 Km/jam. Bayangkan jika gas terinjak dan kaki terjebak sandal di mobil matic. Kaki kiri tidak biasa bekerja, rem tidak bisa ditekan, rem tangan pun dilupakan. Maka bisa jadi hidup kita akan berakhir buruk dengan sangat konyol. Seperti mobil Alphard pagi ini di depan kosan saya.