Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia. Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia seperti psikosis lain, adalah penyakit karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.
Weeks ago, I found this short documentary on Stanley Kubrick by Jim Casey, Kubrick: The Lost Tape, and it made me eager to make films again. My last (and second) film, Stalkers, haven’t been screened or distribute for many reasons–one of them is because I don’t have time, money, and enough skill to craft it yet. And being a producer and director was really hard especially if you were going abroad without having the time to edit the film or distributed it properly. Having a producer that was not yourself helped a lot. My first short, Mother Earth, produced by Tito Imanda, for me wasn’t really satisfying in terms of production and direction. But having Tito there made the film a lot more available to a specific public, more valuable and worth-watching somehow–in academic context. On the contrary, Stalkers cost me and some people quite a lot so I almost gave up trying to dream of another film of mine before this one is properly re-edited and distributed.
But watching this documentary made me realized a lot of things. One of them is my collection of short stories and scattered ideas. I heard Kubrick voice in my head, and I was surprise that his voice is just like an ordinary nerd, and he seemed like a fun guy to work with. He never hesitated to say that his films were awful or horrible. He did not stop, and he learn a lot.
Kubrick started his career as a photographer, then an assistant professional photographer, then an amateur documentary filmmaker, then a feature filmmaker and most of his early works sucks. He admitted that he hated reading until he graduate from college, and he needed to catch up intellectually to match his cinematography and his references. He learned film productions by making a lot of stupid mistakes. And that is exactly what I am doing today. Of course I’m in my thirties, kind of a little late. But Yasmin Ahmad, the famous Malaysian director, made her first feature in her 40’s, which is nice.
Well, without further ado, enjoy this short documentary. I’m gonna finish another story of mine about an A.I. thief who run to Kansas, then have walk outside to make some video diary. If Kubrick has a lot of reading to catch when he was my age, I got a lot of shooting to catch. My sense of space and geometric really sucks. I need to learn simple cinematography, before I can hire a real cinematographer.
A Poem by Darius Simpson on Black Genocide in USA. It seems, not only Indonesian have “Kamisan.” I can’t say much about this poetry and Darius’s performance. It is Awesome!
Saya merasa harus mengabadikan link ini di blog saya ini. Produk turunan menurut saya adalah apresiasi paling tinggi dari sebuah karya. Ketika pertama kali mendengar lagu ini, Saya pun punya banyak khayalan seandainya saya membuat videonya. Muhammad “mstmnd” Iqbal, sedikit banyak menghidupkan khayalan saya itu pada bagian “Tiada” yang memang liriknya lugas dan deskriptif. Imajinasi kami berpisah di bagian “Ada” yang memang liriknya lebih metaforik dan puitik. Tapi tetap, perbedaan imajinasi itu tidak membuat lagu dan komikalisasinya ini berkurang nilai kekerenannya.
Great job!
Dari channel Youtube empunya komik:
Komik dengan musik (yang kemudian dinamakan komikalisasi, sebagaimana karya komik dari puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono oleh Mansjur Daman dengan musik oleh Ari Reda) ini mulanya saya buat sebagai tugas perkuliahan apresiasi desain, DKV ITS Surabaya.
Komikalisasi yang saya buat ini merupakan persembahan bagi mereka yang gugur dalam memperjuangkan keadilan, dan bagi kehadiran harapan baru. Sebagaimana lirik lagu aslinya yang terbagi atas dua bagian, dengan bagian pertama berjudul “Tiada” yang dimaksudkan untuk Adi Amir Zainun, dan “Ada” untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan ‘semua harapan di masa depan’.
Saya menyadari posisi komikalisasi ini yang pada akhirnya memenggal interpretasi kawan – kawan pada lagu ‘Putih’ ini, namun tujuan saya sejatinya hanya berbagi interpretasi saya tentang lagu ini. Maka komik ini sangat terbuka pada apresiasi positif maupun negatif. Dan jika ada dari kawan – kawan yang membuat karya yang serupa, silakan berkabar dan saya akan sangat senang jika dapat belajar darinya.
Ucapan terimakasih : Tuhan YME, Bu Senja Aprela, Mas Tony Midi (terimakasih masukannya), dan kawan – kawan yang sudah sudi menonton karya ini.
NB : terdapat kesalahan lirik yang baru ketahuan sesaat sebelum saya unggah, pada bagian ‘tiba – tiba datang atau dihentikan’, yang seharusnya ‘tiba – tiba datang atau dinantikan’.