
Saya adalah badut Zarathustra yang terjerembab di tanah. Seluruh tulang saya remuk dan saya akan mati. Penonton tepuk tangan dan berteriak melihat kematian saya.
Ini adalah tulisan kritik atau kurasi saya atas teks yang saya suka.

Saya adalah badut Zarathustra yang terjerembab di tanah. Seluruh tulang saya remuk dan saya akan mati. Penonton tepuk tangan dan berteriak melihat kematian saya.

Saya adalah badut Zarathustra yang melihat bayangan overman di ujung tiang yang saya tuju, saya sudah sangat dekat.

Jika perpeloncoan adalah sebuah tindakan kejahatan oleh yang kuat kepada yang lemah, sebuah pelecehan dengan menggunakan kekerasan fisik dan mental yang berujung pada luka psikis bahkan kematian, maka perpeloncoan adalah masalah yang perlu dihilangkan dari muka bumi ini. Tapi masalahnya definisi barusan bukanlah perpeloncoan. Menurut KBBI Daring:
pelonco 1/pe·lon·co / Jw 1 v pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dng mengendapkan (mengikis) tata pikiran yg dimiliki sebelumnya;2 a gundul tidak berambut (tt kepala);
memelonco/me·me·lon·co/ v 1 menjadikan seseorang tabah dan terlatih serta mengenal dan menghayati situasi di lingkungan baru dng penggemblengan: para mahasiswa senior sedang ~ mahasiswa baru; 2 menggunduli (tt rambut di kepala);
Kalau kita melihat Surat Edaran Mendikbud Anies Baswedan No. 59389/MPK/PD/TAHUN 2015 tentang pencegahan perpeloncoan kepada orientasi peserta didik baru, kita boleh curiga, jangan-jangan Bapak Mendikbud yang senyumnya hangat dan retorikanya mantap itu belum cek KBBI ketika ia membuat surat edaran itu, atau bisa juga KBBI yang tak pernah memperbaharui kata ‘pelonco’ yang sudah mengalami peyorasi yang parah di realitas kita sehari-hari.

Ini tanggapan buat adinda Beatrice Silvia yang menulis soal panduan nonton gig di Provoke-online, juga buat dinda-dinda lain yang masih suka berseronok di skena musik hari-hari ini. Abang ini cuma hendak berbagi pengalaman sahaja, Dinda. Bahwasannya di tahun 2000-an, tidak ada polisi skena, karena isi seluruh skena biasanya penjahat. Menurut abang, itulah sebab hari-hari ini banyak polisi. Dulu, ya, Dinda, Mantan gebetan Abang saja harus kabur dari rumah untuk nonton skena, karena bapaknya takut keperawanannya hilang sepulang nonton skena; padahal keperawanan mantan gebetan abang sudah hilang dari SD, ketika ia kecelakaan sepeda mini. Skena itu serem!
Alkisah, Wonderbra, Band Rock en Roll abang ni, sudah pernah manggung ratusan gig. Dari 2005 sampai tahun 2009, abang ingat kami sering mendapat panggung dengan mosh pit yang yang ibarat lubang anjing hyena: orang tabrak-tabrakan, menyelam di kerumunan, bahkan suatu kali pernah ada yang kelahi dengan golok dan membuat lubang anjing itu menjadi arena gladiator jawara. Basist band abang, kang Asep, sampai pura-pura pingsan agar panggung tidak dibakar. Penonton dulu begitu jahatnya, begitu aktifnya dan begitu berbahayanya. Belum lagi seksisme yang mereka teriakan pada vokalis band rock atau dangdut perempuan. Teraya, vokalis abang, pernah disuruh telanjang. Sebagai feminis, tentulah ia membalas, “Lu aja sini telanjang sampe k****l!”
Tapi abang ni tiada bisa menyalahkan para penjahat skena tersebut. Selain karena mereka menghidupkan panggung (kadang-kadang benar-benar membakar dengan api), mereka pun memberikan pengalaman panggung yang tidak tanggung-tanggung untuk abang dan budak-budak abang. Lagipula, abang pula sering menjadi penjahat untuk menghidupkan panggung, ketika nonton skena dulu itu. Ini abang hendak berbagi pengalaman, yaitu bagaimana tata cara menjadi penjahat skena.