Memoir, Racauan

Tumpukan Luka yang Tak Kunjung Sembuh

Salah satu kebiasaan terburuk saya adalah menumpuk luka di atas luka. Jika saya harus menunggu, khawatir, atau melihat bahwa sebuah masalah tidak ada pemecahannya, saya akan memilih untuk membuat masalah baru, tugas baru, ide baru. Dan ini malah jauh membawa saya ke terlalu banyak janji dan rencana yang sulit sekali ditepati.

Kebiasaan buruk ini harus dihentikan, tapi saya sendiri bingung bagaimana caranya. Mungkin menulis adalah salah satu caranya, karena ketika menulis ini, saya sedang mendapatkan sebuah deadlock dalam pekerjaan saya. Semua terasa terlalu banyak dan saya tenggelam di dalamnya. Saya sudah berusaha mengurangi, mengurai dan mengatur ulang. Tapi pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai menghantui saya, apalagi ketika pekerjaan yang di depan mata tidak menemukan titik cerah.

Jadi saya coba metode lain. Brain rot dengan game atau sosial media membuat ini semua tambah parah. Maka saya pakai waktu sekitar 15 menit untuk mengisi website ini dengan racauan-racauan saya. Semoga kawan-kawan sekalian tidak bosan. Racauan ini kemungkinan besar tidak punya isi apapun selain kebingungan. Apakah kawan-kawan pernah merasakan hal yang sama? Bagaimana cara kawan-kawan keluar dari fase seperti ini? Saya sudah istirahat berkali-kali dan tambah pusing.

Untuk menjadi grounded, mindful, mungkin diperlukan nafas dan kerja yang lebih tenang dan perlahan. Istirahat dan lihat lagi satu tugas, tanpa menambah tugas baru. Itulah rencana saya sambil menulis esei yang isinya kosong ini.

Saya pikir, website ini adalah satu hal yang selalu bisa menyelamatkan saya. Dan sejauh ini, itu benar sekali. Dalam kondisi transisi dimana saya sedang berubah dari seorang jurnalis internasional menjadi full time pengajar workshop, dan sedang menyiapkan film panjang pertama saja, sungguh sulit untuk bisa diam dan menerima dunia bergerak. Transisi juga sedang terjadi di MondiBlanc, dimana saya memutuskan bahwa kami harus pindah dari kantor ini karena kondisi finansial, sosial, dan politik sedang tidak baik-baik saja. Kantor ini terlalu besar untuk saya emban sendiri dan saya sudah mendapatkan begitu banyak bantuan untuk mempertahankannya, itu pun tidak cukup.

Sementara itu untuk pindah dari sini, banyak yang bisa dan mau membantu saya, tapi saya tidak tahu harus mulai darimana. Inventaris barang? banyak sekali dan saya mulai pelan-pelan sendirian. Masih jauh nampaknya tapi waktu tidak berpihak pada saya.

Ah, sudahlah. Saya akan kembali ke task at hand, dan pelan-pelan menyelesaikannya. Semoga semua ini selesai pada waktunya. Sekarang fokus saya cuma satu:

Tidak menambah luka baru.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Memoir, Racauan

Melunasi Hutang Project

Begitu banyak hutang karena ide-ide melimpah dan membuatku sedikit dendam pada aku di masa lalu. Hutang uang sudah jelas–tapi tidak sebanyak piutang yang belum kutagih, jadi masih bisa diatur. Hutang budi, rata-rata dibayar ke masa depan: ke orang-orang baru, kawan-kawan lama yang membutuhkan, dan ke murid-murid baru. Hutang project—nah ini yang paling berat. Dari film yang tak kunjug selesai, hingga struktur yang terdesain dan belum terbangun. Sebab penundaan kurang lebih ada tiga.

Pertama, tertunda karena pikiran yang terus berkecamuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Ini untuk project-project yang tidak terukur dan terjadi kesalahan produksi sehingga di post produksi rasanya deadlock. Project seperti ini memakan banyak sekali waktu pemikiran (bukan pengerjaan), dan eksperimen (juga tidak produktif).

Kedua, tertunda karena orang lain. Biasanya karena ada yang janji membantu dan mengerjakan tapi punya 1001 alasan kenaoa menundanya. Ini membuat pipeline kerja begitu mandeg dan jadi cukup sulit untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Dan ketiga tertunda karena faktor yang tidak bisa dikontrol seperti kehilangan sumber daya penghasilan, bencana alam, pandemi, dan cuaca buruk. Ini apa boleh buat, membuat project jadi sulit untuk diselesaikam.

Jika dipikir-pikir, penyelesaiannya sebenarnya ada pada setiap masalah itu sendiri. Yang terpenting, mungkin bukan menyelesaikan tapi memajukan, membuat perkembangan walau sedikit saja.

Jika halangannya pikiran, maka majukan pikiran tersebut menjadi eksperimen fisik yang dikerjakan dan dites. Seperti hari ini saya menulis, saya jadi bisa melihat bentuk fisik dari sebuah ide yang abstrak dan itu kemajuan.

Jika halangannya orang lain, mungkin waktu bisa membantu. Berikan deadline kepada orang itu dan jika deadline lewat, cari pengganti atau kerjakan sendiri—selama waktu kita sendiri ada. Kita tidak bisa mengatur waktu orang lain tapi kita bisa mengatur waktu diri sendiri.

Jika halangannya adalah faktor yang tidak bisa dikontrol, pemecahannya paling mudah karena cuma satu: ditunggu saja dan pasrahkan pada semesta. Bisa jadi ketika bencana sudah lewat, masalah itu malahan sudah hilang dimakan waktu, atau orang lain yang sempat mengerjakannya.

Pada akhirnya, tidak semua hutang bisa dilunasi. Dan apakah kita akan menjadi hantu atau tidak untuk melunasinya, mungkin tergantung amal ibadah kita pada semesta dan orang lain. Apakah kita cukup pasrah untuk moving on?


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Filsafat, Memoir, Racauan

Pertemuan Luka Lama

Luka lama yang kita bawa, merusak apa yang ada. Kerja keras kita, cinta yang kita bina, dan cerita yang kita cipta.

Luka lama adalah fantasmagoria. Kau lihat ia di sudut mata, menggoda untuk masuk ke dunia niskala. Kau akan terjebak di dalamnya dan tanpa sadar menarik semua yang bahagia menjadi nestapa.

Luka lama diberikan orang tua. Dalam usaha coba-coba membuat manusia, mereka menanamkan kasih sayang hingga mengakar, hanya untuk mencerabutnya dengan cinta atau dengan kasar, meninggalkan lubang pertama, luka terdalam. Tidak ada manusia yang akan luput dari luka yang dibuat orang tua.

Luka lama diberikan saudara kandung, dari perebutan kasih sayang, atau kompetisi menjadi lebih terang. Dalam berjuang, menjadi buah matang atau busuk di pohon yang sama. Tumbuh jadi peneduh atau jadi benalu. Cinta dan benci tiada henti.

Luka lama tinggal selamanya. Pada keluarga ia ditahan dengan tawa dan kebahagiaan serta perjuangan.

Luka lama diberikan yang terkasih. Cinta demi cinta yang berlalu memberikan nikmat dan laknat. Ada yang melukai demi kehormatan, ada yang demi cinta, ada yang demi keluarga, demi diri sendiri, dan demi bintang-bintang, Tuhan dan agama. Ada yang demi kesehatan fisik dan mental, dan yang paling sering terjadi, luka lama cinta dibuat karena luka lama lain.

Luka lama yang kita bawa, merusak apa yang ada. Luka lama adalah gerbang yang indah dan menggoda menuju keniscayaan hidup. Jika kau pikir mengejarnya akan menyembuhkannya, kau adalah golongan yang merugi.

Takdir pernah mempertemukan aku dengan sebuah Luka Lama, dan aku mengajaknya untuk menyembuhkan dan menutup diri. Kupikir, karena tidak kukejar, mungkin ini takdir untuk mengakhiri sakitnya.

Ia bilang, “Tak ada yang perlu dibicarakan.”

Kata-kata terakhir itu menghantui. Dan Luka Lama justru terus ku rawat berdarah, hingga suatu hari ia menganga dan merusak lagi, kali ini bisa membuat aku melukai banyak orang, seperti seorang bocah membawa pistol ke sekolah karena luka lama yang dibuat keluarga dan kawan-kawannya. Dor… Dor … Dor…

Maka untuk bertahan hidup dan membangun kemanusiaan, luka lama harus ditabur garam, antiseptik, atau dibakar. Sakitnya akan membuat sadar, apa yang punya hari ini, dimana kau, siapa yang ada di sampingmu, bagaimana kalian bisa saling kenal dan saling sayang, apa yang sedang dibangun. Luka lama adalah kehidupan yang menyuruh mati pelan-pelan.

Ambil nafas hidupmu dalam-dalam. Dan hiduplah sekarang, yang berlalu detik demi detik, huruf demi huruf. Luka Lama adalah cerita. Tapi sekarang, adalah menulis. Yang kau baca kau tulis di pikiran. Dan jika kau cinta maka kau kerjakan di kenyataan, kau tulis di peradaban.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Keniscayaan Komunitas | Bagian 6:  Mengembangkan Imajinasi Bersama

Ringkasan

  • Mengikuti Benedict Anderson, komunitas hanya hidup sejauh kita mampu membayangkannya bersama—bukan sebagai struktur, tetapi sebagai hubungan yang terus diperbarui.
  • Tanpa iman, lembaga mengecil menjadi mesin administrasi; dengan iman, ia menjadi ruang imajinasi masa depan.
  • Komunitas berkelanjutan memandang dirinya sebagai cerita tanpa akhir; tidak ada puncak, nabi terakhir, atau generasi pamungkas—hanya rantai kontinuitas.
  • Etos kerja hidup dari kesadaran naratif: setiap tindakan kecil adalah kalimat dalam cerita panjang yang kita tulis bersama.
  • Komunikasi adalah syarat regenerasi; tak ada pembaruan jika imajinasi tidak dibagikan dan visi tidak disuarakan.
  • Tantangan terbesar bukan menjaga masa lalu, tetapi membuat diri kita layak dibayangkan oleh mereka yang akan datang.
  • Komunitas bertahan bukan karena besar atau mapan, tetapi karena mencintai cara mereka bekerja—dan membuka ruang bagi sesuatu yang belum pernah dibayangkan.

Baca dari Bagian 1: Ritual ke Institusi


Benedict Anderson menulis bahwa bangsa—sebuah entitas sebesar itu—hanya bisa berdiri karena ia diimajinasikan bersama. Keberadaannya ditopang oleh kesadaran kolektif yang tidak pernah sepenuhnya kasat mata: kesediaan saling percaya pada orang yang tidak pernah kita temui, kesediaan merasa terhubung dengan masa depan yang belum kita lihat.

Gagasan itu relevan bukan hanya untuk negara, tetapi untuk setiap komunitas, lembaga, atau ekosistem sosial yang ingin bertahan lebih dari satu generasi. Pada akhirnya, komunitas hidup bukan karena struktur, tetapi karena cara orang-orang di dalamnya membayangkan diri mereka dalam hubungan dengan orang lain, dengan masa lalu, dan dengan masa depan. Dan di sinilah krisis banyak komunitas modern bermula: mereka berhenti membayangkan diri mereka bersama.

AT-AT Melawan Manusia Purba, dengan gaya Rembrant. Komunitas masa lalu melawan masa depan yang fiktif.

Dalam dunia yang bergerak cepat, identitas pekerjaan makin rapuh. Namun cara bekerja—etika, imajinasi, disiplin moral—justru semakin penting. Sebab yang memberi keberlanjutan bukanlah daftar tugas, tetapi cara tugas itu dilaksanakan. Menjadi kompeten dan profesional adalah fondasi sebuah institusi yang sehat; untuk itu perlu ada batasan yang jelas tentang cara belajar dan cara bekerja, dan bagaimana cara berdiskusi ketika sebuah kebijakan diambil. 

Imajinasi kolektif masa depan tidak membutuhkan pahlawan tunggal, tetapi kebiasaan orang biasa yang bekerja dengan cara yang benar. Itulah iman baru: bukan percaya pada jabatan atau gelar, tetapi percaya bahwa tindakan yang dikerjakan dengan integritas selalu membuahkan masa depan yang layak dihuni. Anderson mengingatkan: komunitas bertahan karena ia bersedia menjadikan dirinya ruang bagi generasi yang belum lahir. Ini bukan sekadar regenerasi. Ini adalah kesediaan untuk diubah.

Peradaban, kata Harari, selalu bertahan karena fiksi kolektif. Tetapi yang menentukan masa depan bukan fiksi itu sendiri—melainkan keyakinan pada fiksi itu. Iman, dalam pengertian ini, bukan religius semata: ia adalah keberanian mempercayai sesuatu yang belum terbukti, dan bekerja demi mewujudkan ide itu.

Tanpa iman, lembaga mengecil menjadi ruang administratif. Dengan iman, ia menjadi ruang imajinasi masa depan.

Komunitas yang berkelanjutan memahami dirinya sebagai cerita yang tidak selesai. Tidak ada generasi yang menjadi “puncak” atau “penutup”; semuanya menjadi penghubung. Tidak ada “Nabi terakhir,” atau “Pemimpin penutup zaman.” Yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi relevan bersama lewat struktur yang memastikan bahwa pemegang kebijakan adalah orang-orang kompeten. Yang ada adalah reinkarnasi dalam Samsara. Imajinasi kolektif inilah yang menjaga etos kerja tetap hidup: ketika seseorang membersihkan ruang, menutup pintu, mengajar satu murid, atau memperbaiki sistem, ia sadar bahwa tindakannya akan menjadi bagian dari cerita yang lebih panjang. Tapi untuk itu pula, ia harus belajar untuk bicara dan mengkomunikasikan cerita yang ia bayangkan atas kerja yang ia lakukan. Sehingga tidak ada yang tertinggal dan terasing dalam narasi kebungkaman dan keenganan. 

Tantangan terbesar bukan mempertahankan masa lalu, tetapi membuat diri kita layak dibayangkan oleh mereka yang datang kemudian. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bekerja hari ini agar mereka ingin melanjutkannya besok?

Masa depan diimajinasikan bersama. Komunitas yang bertahan bukanlah mereka yang paling besar, paling kaya, atau paling tua, tetapi yang paling mampu mencintai cara mereka bekerja—dan dengan itu, terus membuka ruang bagi orang lain untuk menambahkan sesuatu yang belum pernah dibayangkan.

Dan dengan itu, segala perubahan dan rintangan bisa dihadapi bersama. Karena kita ingin bersama, kita cinta untuk bersama, dan kita tidak bisa membangun peradaban yang kita bayangkan, tanpai kolaborasi di imajinasi kita.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.