Last night I had a dream in a form of a stop motion. It seems like millions of pictures, intertwined to one. A person’s life, a bisexual person. Drunk scene, sex scene, a gig, a dim-lit room, a bright space, a time-lapse of a bed in front of a window where a man is sleeping naked for several days, a cheap hotel, a luxurious room in a big empty house, people dancing and getting drunk, swimming, having sex in a pool with a guy, then doing a hand job on a young ginger girl. So many images, no beginning, no end. Just endless dejavu, like a loop but not a loop. I can sense small detail in the mood of every scenes. Happiness, sadness, the smell of bodily fluid, a taste of chocolate and wine, etc.
.
Since it’s POV, I don’t know whether it was a him or a her. It’s certainly not my memory, I can’t swim that good, nor do I have ginger girl friends, I never had sex with a guy in a pool. It’s not from a film or porn either. The narrative is too consistent to be made from a montage.
.
If I believe in reincarnation, it could be me in the past live, or in the future.
.
Funny thing is, I can’t remember this dream until I listened to Silverchair’s ‘Those Thieving Birds’ part I. Then those images suddenly struck me. I was stunned. In that song, every images came back, from a Freudian Latent dream. Why Thieving Birds? Why Silverchair? I don’t know. But those images gave me a sudden but lasting melancholy. It might be the lyric of the song. Wanna help interpret?
.
***
Those thieving birds
Hang strung from an empty nest
This swan plagued pond
Foresaken and under whelmed
.
Those leaving words
Hang strong from an emptiness
Hang strong from an emptiness
Those thieving birds
Hang strung from an empty nest
Those theiving birds
This is tearing me apart
If the Sun won’t shine
Forever will never be fine
Underneath the hollow ground
Lies a night time sky
For only a desperate eye
When I’m paranoid I see walls behind walls behind walls
When I’m over joyed I see falls over falls over falls
When I’m all alone I’ll be wary and careful to
Only eat with uncles
Never talk to strangers
God is in the kitchen
Faking baby dangers
Not only liked but loved as well
If this streets air ain’t up to par
I’ll take my clothes and take this strange behaviour
Not only liked but loved as well
Change whatever karma means
For the only things that end never truly begin
If this streets air ain’t up to par
I’ll take my clothes and take this strange behaviour
Not only liked but loved as well
If this streets air ain’t up to par
I’ll take my clothes and take this strange behaviour
Not only liked but loved as well
When I’m paranoid I see walls behind walls behind walls
When I’m over joyed I see falls over falls over falls
When I’m all alone I’ll be wary and careful to
Only eat with uncles
Never talk to strangers
God is in the kitchen
Faking baby dangers
If this keeps tearing me apart
The walls come down won’t stop this empty feeling
For everything apart from this (x3)
Lonely in life
Dead or alive
If the truth had incursions
No more goodbyes
No more big lies
If the truth had versions
As long as you and I are together
I’ll hold onto the jewellery
Like staple strapped clenched fist and tongs
Hang strung from an empty nest
Those thieving birds (x3)
Kepala saya sakit dan pandangan saya pusing ketika saya berjalan pulang dari Senayan City menuju Halte Busway Ratu Plaza malam tadi. Saya baru sembuh dari diopname karena demam berdarah dan Hepatitis A. Tapi saya tidak suka menganggur, jadi saya tetap mengajar di kampus, lalu nongkrong bersama kolega dan mahasiswa di Mal sebentar. Di kelas dan di tongkrongan, saya lupa kalau saya baru sembuh–selalu begitu ketika bertemu mahasiswa-mahasiswa yang semangat. Dan ketika berjalan pulang, kumatlah saya.
Jalanan begitu ramai dengan pejalan kaki yang pulang kantor menunggu bus. Di perjalanan, belok kiri setelah 7 Eleven, saya melihat ada keributan. Segerombolan orang berkumpul. Seorang kernek bus Patas berlari dari seberang jalan sambil berteriak, “Jangan dipukul lagi! Itu anak kecil!”
Massa sedikit berpencar dari kerumunan, air hujan membentuk kubangan berlumpur, seorang anak lelaki berambut merah berumur sekitar 10 tahun, merintih kesakitan memegangi perut dan kepalanya. Dalam keadaan basah, ia berteriak-teriak sambil menangis, mengumpat dua orang lelaki dewasa, yang satu tukang parkir dan yang satu lagi lelaki berkemeja coklat muda dan berkalung emas. Setiap dia mengumpat, kedua lelaki itu kembali menghantamnya. Yang satu memukul kepalanya, yang satu menendang perutnya.
“Makanya jangan suka nimpuk-nimpuk orang! Bahaya orang naik motor ditimpuk-timpuk!” si lelaki berkalung emas kembali menendang . Saya dan kernek serta seorang perjalan kaki menahannya. Tapi lalu si tukang parkir kembali memukul si anak. “Udah dibilangin jangan suka nongkrong di sini!”
Si anak dalam kesakitannya masih melawan dan mengumpat. Tukang parkir menyeretnya ke trotoar bukan untuk menyelamatkannya tapi untuk membuangnya. Si kecil itu terjerembab lagi, kali ini ke trotoar. “Jangan ngalangin orang!” Kata si tukang parkir, sambil melemparnya lalu memukul kepalanya lagi. Saya dan si mas pejalan kaki kembali berusaha menghalangi supaya anak itu tidak dipukul, sementara si kernek kembali ke bus patas yang sudah berjalan.
Lalu perlahan saya bicara pada si anak yang terus berteriak kesakitan dan memaki-maki, agar ia sabar. “Sabar…sabar. Ntar lo tambah digebukin, sabar…” Kata saya.
Si anak lalu bilang, “Abis saya nggak tahu apa-apa diusir, bang. Lagi duduk ditendang-tendang.”
Tiba-tiba si pria berkalung emas menerjang hendak menendang, tapi saya halangi dengan punggung saya, ia menghentikan tendangannya. “Ngadu lagi lo! Anjing!” katanya.
“Udah, bang!” Teriak si pejalan kaki. “Anak kecil nggak usah didengerin. Udah!” kata saya menimpali.
Saya lalu membopong si anak agak jauh dari tempat itu. Si pejalan kaki masih menemani saya tanpa bicara banyak. Ia adalah pria usia sekitar 30-an bergaya rambut tentara. Saya bawa si anak yang masih merintih kesakitan. Ketika cukup jauh dari pandangan si tukang parkir dan si pria berkalung emas, beberapa anak kecil lusuh, satu berbaju biru muda dan satu berbaju kuning datang menghampiri. Mereka nampaknya kawan si anak babak belur ini yang kabur ketika keributan dimulai.
Saya dudukkan si anak di dekat penjual minuman, dan saya meminta air. Si pejalan kaki mengambilkan sebotol air mineral. Saya bukakan botol air untuk anak itu dan ia meminumnya sambil terisak-isak. Ia terus memegang dada kirinya, ketika sudah tenang, si anak yang babak belur itu mulai tidak bisa berkata apa-apa, hanya menangis terisak. Mungkin karena tidak ada yang mengancamnya lagi, atau mungkin karena ia kesakitan. Semua hinaan yang keluar dari mulutnya hanya cara ia membela diri, karena tubuhnya terlalu kecil untuk melawan.
Saya jongkok untuk melihat wajahnya yang sudah mulai membiru, lalu saya bilang padanya, “Lo tuh idup di jalanan, jangan suka ngelawan kalo lo belom bisa ngelawan. Lo jadi kuat dong, jangan sembarangan ye, lo masih lama idup, jangan mati dulu, masih panjang umurlo.” Dia hanya terisak.
Seorang kawannya yang berbaju kuning nyeletuk memarahi si anak babak belur, “Lo sih nyolot. Nih, gue juga tadi kena gebuk nih.”
Lalu si anak berbaju biru muda bilang, “Kan dia [menunjuk tukang parkir] yang salah. Dia yang salah bang, kita lagi duduk diusir, ditendang-tendang. Ya udah, kita timpuk aja.”
Lalu saya bilang, “Ya udah elo-nya jangan ngelawan, lain kali pindah aja. Kasihan kan kalo ada yang ketangkep gini.”
Setelah bilang itu, saya berdiri dan terasa kembali pusing dan sakit kepala saya. Ternyata melerai orang ribut dan berjalan kaki cukup jauh lumayan berpengaruh untuk saya. Saya melihat isak si anak sudah mulai mereda jadi saya mohon diri secepatnya. Tidak lucu kalau saya pingsan habis menolong orang.
Saya mengeluarkan uang untuk membayar Air mineral, tapi si pejalan kaki yang dari tadi memperhatikan bilang tidak usah. Dia sudah membayar Air itu. Ia sedang menghisap rokok dan seakan acuh tak acuh. Tapi saya tahu ia sangat peduli. Mungkin kalau saya tidak membopong anak itu duluan, dia yang akan membopongnya. Saya ucapkan terima kasih dan saya bilang, “Mari pak, saya duluan.” Ia hanya mengangguk.
Saya berjalan agak tergopoh-gopoh menuju halte Busway Ratu Plaza, membeli karcis dan langsung naik bus yang baru sampai. Saya mengatur nafas pelan-pelan dan di perhentian berikutnya saya mendapat tempat duduk. Perlahan sakit kepala dan pusing saya hilang dan saya mulai berpikir tentang anak tadi.
Entah sudah berapa kali saya mengajak makan pengamen jalanan cilik. Saya ajak ngobrol, dan mereka bercerita tentang hidup mereka. Di notes lain, saya pernah menulis tentang mereka. Tapi ini pertama kali saya benar-benar berhadapan dengan kekerasan di jalan. Kekerasan yang sangat tidak adil: dua tubuh besar, melawan tubuh kecil tanpa tenaga kecuali mulut dengan kata-kata pisau.
Seandainya saya tidak sakit, saya pasti mengajak mereka (tiga anak kecil tadi) makan malam dulu. Dan saya menyesal tidak melakukan itu.
Disclaimer:Bukan tulisan untuk diskusi atau dialog, cuma luapan stres dan kemarahan. Jangan dibaca kalau mau sehat.
Dua hari ini saya tertekan. Video-video yang masuk untuk saya kerjakan, adalah video-video yang tak pernah saya bayangkan ada di Jakarta di saat bersamaan, dari inisiasi preman yang membacok secara acak, bom bunuh diri kampung Melayu, dan di malam yang sama, anak-anak kecil berteriak bunuh-bunuh Ahok. Saya selalu berusaha mengerti dan memahami bagaimana pikiran manusia bekerja, tapi beberapa hari ini, saya benar-benar gagal paham.
Besok malam ada tabligh akbar di depan rumah. Saya tidak pernah absen mendengarnya, karena masjid punya toa yang sangat besar dan, ini epik, pernah di suatu gang, saya melihat komunitas pengajian yang jauh dari masjid, mendirikan tenda, menaruh TV LED di atas panggung, lalu memasang live feed youtube dari masjid besar, lengkap dengan amplifier-amplifier dangdut menggemakan suara si Habib. Sponsornya tetangga-tetangga saya sendiri. Nampaknya tabligh akbar sabtu ini akan menggunakan cara yang sama.
Pilkada DKI Jakarta telah membawa eksesnya, dan sentimen ini sudah pasti ditunggangi banyak pihak dari opisisi pemerintahan, lalu teroris. Mungkin inilah arti pemerintahan Rakyat yang sebenarnya: rakyat memenangkan seorang gubernur dengan sentimen agama, rakyat menyebar kata-kata kebencian, dan rakyat menuai hasilnya: anak-anak bermulut sadis dan sepasang Jihadis di terminal bus.
Setelah itu pun, akal nampaknya tak juga menyala malah tambah gelap. Teori konspirasi berseliweran, menuduh polisi dan pemerintah sebagai dalang pemboman bunuh diri, sebagai pengalihan isu untuk menangkap mahasiswa Islam yang sedang berdemo di Istana negara. Mahasiswa yang merasa sangat penting, dan sangat cerdas hingga penangkapannya seakan-akan memerlukan pengorbanan 3 orang polisi di Kampung Melayu. Padahal kalau kita baca berita, mahasiswa-mahasiswa demonstran itu otaknya taik kotok: kecil, sangit, baunya setengah mati dan sering jadi jebakan batman di jalanan.
Sungguh menahan mereka sama saja seperti menculik anak miskin yang makannya banyak–tak ada untungnya banyakan ruginya.
Kenyataannya begini kawan, itu hoax-hoax dan teori konspirasi dibikin oleh dua macam orang. Pertama, orang bebal yang ngotot bahwa dia benar dan ingin dapat perhatian; kedua orang cari uang dari klik, iklan, dan duit politik oposisi buat bikin rusuh, dengan tujuan yang lebih jelas: duit. Lalu orang-orang tolol klik, share, dengan rajin copy-paste di WA grup, dan tidak mau dipersalahkan kalau itu hoax, “mana saya tahu, saya kan cuma share dan ingin tahu pendapat kalian di grup ini,” kata si penyebar kotololan. Padahal kita semua tahu, ketololan yang ia sebar didasari atas benci kepada siapapun yang didiskreditkan hoax itu.
Persis seperti orang-orang yang bilang anti-terorisme tapi di saat yang sama mendukung ISIS, dan menyebar kebencian kemana-mana. Dan apapun yang kita sodorkan, argumen sudah mati. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk bicara, karena bicara dijamin konstitusi. Dan tidak ada yang bisa membuat mereka berpikir logis, atau sekedar punya empati pada orang yang berbeda. Jadi muslim yang baik tambah sulit. Di kanan dibilang radikal sementara di kiri dikafir-kafirkan.
Begitupun mereka yang mengaku liberal, progressif, pendukung Ahok si kalah itu, terus-terusan tidak bisa move on, melemparkan kritik-kritik pada gubernur yang bahkan belum mulai kerja, menyebar hoax-hoax atau berita fakta parsial, hanya untuk nyinyir saja. Eh tot, lu ga ada kerjaan lain? Ini udah darurat bulan puasa isinya telek! If you’r not part of the solution, you’re part of the problem–heck there’s a possibility that you ARE the problem in the first place.
Lalu kalau sudah tidak bisa berdialog, dan hanya bisa bermonolog sama-sama begini, bagaimana cara minta maaf? Bagaimana cara memaafkan? Ramadan ini akan jadi Ramadan terburuk sepanjang tiga dekade hidup saya; sama sekali tidak ada keridhaan di hati saya, dan niat ibadah sudah hilang sama sekali. Setiap detik saya mau muntah, karena toa tak henti-hentinya berteriak-teriak serak. Saya tidak bisa lagi membedakan mana yang dzikir dan mana yang makian. Masjid bertambah megah, tapi udaranya kotor.
Ini seperti menghadapi setan kiriman yang mengganggu tidur. Saya ingin berdzikir untuk melawan kebencian, si setan berdzikir menyebar kebencian. Saya ingin mengaji biar damai, si setan mengaji biar perang dan terbakar. Ah, taiklah semua ini. Marah sendiri tidak ada gunanya, membuka hubungan untuk mengerti terasa sangat menghina pikiran dan hati nurani.
Lalu harus apa? I need an explanation but everything is so scattered now, I got disoriented. Mungkin saatnya mencari ganja ke kampung Arab di belakang komplek rumah. Bandarnya sudah naik haji dua kali dan nampaknya santai saja dengan keadaan ini, tak pernah benci-benci, menjadi sufi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Katanya, “Yang haram adalah yang memabukkan. Cimeng ini menyadarkan, jadi halal.”
Bener, Ji. Suntikin dulu, baru saya maafin semua orang dan ibadah enak Ramadan ini. SSSSUUUUTTT!!!!
Pagi saya sekitar sekitar 140 hari yang lalu, dimulai dengan teriakan Mama di tangga di bawah kamarnya. Mama menangis meraung-raung dan memulai kepanikan besar. Ia mendapat telepon dari keponakannya, bahwa kakak pertamanya, perempuan yang paling dekat dengan Mama, Hj. Ratu Happy Komala Dewi, meninggal dunia di rumah sakit.
Sekitar 6 jam sebelumnya, Mama masih bertemu dan mengobrol dengan almarhum. Wapi, panggilan akrab para ponakan kepada almarhum, sempat meminta Mama untuk menginap di rumahnya. Mama sudah sering menginap di rumah Wapi, dan mungkin karena itu ia menolak–ditambah lagi saya dan istri sedang menginap di rumah Mama, keluarganya sedang berkumpul lengkap. Beberapa jam setelah Mama pulang, ketika pembantu Wapi ada di kamar atas, sedang tidur, nampaknya Wapi kesakitan dan berusaha naik tangga memanggil pembantunya. Ia meninggal tersungkur di lantai di bawah tangga. Sampai tulisan ini dibuat, tidak jelas penyebab meninggalnya wapi. Tidak ada bekas luka, ataupun tanda penyakit dalam. Dan karena Wapi paling anti ke dokter, tidak ada catatan kesehatan yang cukup bisa dijadikan referensi menginggalnya wapi.
Ia pernah sekali diopname ketika ia mengeluh tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kami, anak dan ponakan, menggotongnya ke rumah sakit sambil ia marah-marah minta dipijat atau dikerok saja, dan jangan dibawa ke rumah sakit. Sekitar sehari di rumah sakit, ketika ia bisa berdiri dan jalan, ia kabur. Belakangan ketika saya tanya kenapa ia kabur, ia bilang, “Mendingan gue mati di jalanan daripada mati di rumah sakit. Gue udah biasa di jalanan. Tapi di rumah sakit… ih serem. Pokoknya kalo mati gue gak pengen ditahan-tahan, ngerepotin. Mati ya mati aja.”
Dan benar, meninggalnya Wapi sama sekali tidak merepotkan. Sangat tiba-tiba, tidak ada perlawanan yang terlihat dari tubuhnya yang utuh. Matanya tertutup dan bibirnya pun tidak terbuka. Mayatnya pucat tapi seperti orang tidur, tidak putih seperti kehabisan nafas.
Mama menyalahkan dirinya sendiri sampai saat ini, itu yang saya tahu dan saya rasakan. Tapi ini bukan pemandangan baru untuk saya. Papa saya juga mengalami trauma yang sama ketika adiknya meninggal di bawah pengawasannya. Ketika baru sembuh dari penyakit jantung dan strokenya, om Mamat, adik Papa, ikut kerja bakti di RT tempat ia tinggal di Pamulang, dan meninggal tiba-tiba setelah mencabut pohon pisang. Jantungnya kumat. Ditinggal orang terkasih pasti akan meninggalkan trauma, tapi ditinggal tiba-tiba dan melewatkan kesempatan pilihan yang bisa menentukan hidup-matinya, tidak hanya akan menimbulkan trauma kehilangan, tapi rasa bersalah yang tidak tertahankan. Mama-Papa saya tak punya cahaya mata dan semangat hidup yang sama setelah itu.
Beberapa hari sebelum meninggal, Wapi memang mengeluh masuk angin. Kami yang sudah mengenalnya puluhan tahun akan menganggap itu penyakit kambuhan. Ketika masuk angin, Wapi akan minta dikerok, dan tidak tanggung-tanggung, kerokannya akan meliputi seluruh tubuh hingga ke wajahnya. Ketika ia duduk di kursi singgasananya di rumah Kebagusan, rumah keluarga besar saya yang sekarang ditinggali Mama-Papa, sambil merokok dan dengan secangkir kopi di sampingnya, saya seperti melihat kepala suku Mentawai yang penuh tato hingga di wajah–tato kerokan.
Wapi di keluarga besar kami memang seperti dukun suku atau shaman. Dalam kebudayaan-kebudayaan kuno, atau di beberapa budaya dayak, shaman atau dukun suku selalu perempuan dan kedudukannya seringkali ada di atas kepala suku. Shaman ini punya kedekatan spiritual dengan roh nenek moyang, sehingga semua wejangannya dipercaya sebagai sebuah tuah yang tak boleh diacuhkan begitu saja. Tapi sebenarnya, tidak ada yang gaib soal hubungan Wapi dan roh nenek moyangnya. Secara, sebagai anak tertua, ia selalu jadi yang paling kenal dengan orang tua-tua di keluarga Antawidjaja. Jadi saya pribadi tak heran jika ia bisa mengaitkan anak, ponakan, saudara, atau cucunya dengan saudara-saudara yang berada di satu-dua generasi di atas mereka, lalu dengan bercanda ia akan berkelakar: “Elu kena arwah nenek moyang si anu…” ketika ponakan atau anaknya sedang curhat soal masalah-masalah mereka.
Salah satu kelakarnya pada saya adalah, “Nosa, elu kayak si anu (menyebut nama tetua), ntar lu mati gara-gara anak lu.” ‘Mati gara-gara anak’ bukan semacam bapaknya Oedipus yang dibunuh anaknya sendiri, tapi maksudnya saya akan menderita karena terlalu sayang pada anak saya–jikalau saya punya anak nanti. Latar belakang pembicaraan itu tidak jelas; Wapi tiba-tiba saja bicara seperti itu ketika kami sedang menonton serial Turki bersama-sama. Well, saya rasa benar-tidaknya wejangan itu akan kita lihat di masa depan. Haha.
Satu lagi kata-kata yang paling kami ingat dari Wapi adalah slogan hidupnya: FREEDOM. Freedom versi Wapi bukanlah seperti yang diterikan Mel Gibson dalam Braveheart. Freedom versi Wapi adalah kemerdekaan dalam mengambil keputusan dan belajar dalam kehidupan. Pasca perceraiannya di tahun 90-an, ia mulai mencari makna hidup kemana-mana: dari diskotik sampai pesantren. Dan cara belajarnya tidak tanggung-tanggung. Dia mencatat dengan tekun interpretasi ayat suci dan hadis, al-qurannya penuh stabilo dan coretan. Ia punya beberapa guru agama–yang memastikannya bisa kroscek dan tidak terjebak dengan kiai karbitan macam Aa Gatot. Sementara itu dalam bisnis, ia sudah memakan asam, garam, terasi dan cabainya–lengkap sudah sambal hidup itu; ibarat kata, semua suka duka, kena tipu, menang banyak dan kalah banyak telah membuatnya jadi pedagang yang handal tapi tetap jujur. Tanyalah pada pedagang-pedagang Rawa Bening soal dia, dan Anda akan menemukan fakta-fakta semacam itu.
Karena itu, adiknya, Tubagus Djody Rawayan Antawidjaja, mengatakan dalam obituari di film dokumenter saya, bahwa kakaknya adalah ahli kitab. Inilah yang mungkin bisa kita anggap sebagai keajaibannya–karena sebagai Muslim, kita kudu percaya bahwa Al-Quran adalah mukjizat. Tanpa jilbab atau atribut agama, dengan rokok di tangan, saya pun berani bilang bahwa ilmu agama Wapi tak kalah dengan Mama Dedeh, malah lebih kaya dengan referensi-referensi kehidupan yang luas. Maklum, Wapi bukan hanya pernah berhaji, ia juga pernah keliling dunia di masa mudanya. Ia pernah menjadi sangat kaya, sangat miskin, socialite dan ibu-ibu kampung. Kehidupannya sangan Multidimensional.
Mungkin yang paling mengesankan buat saya adalah caranya mengajar anak-anak perempuannya. Saya belajar feminisme dari S1, dan lucunya, semua teori dan praktik aktivisme feminis sudah dilakukan oleh Tante saya ini. Ia selalu mengajarkan anak-anak perempuannya (ia punya empat anak perempuan dan satu laki-laki), untuk tidak bergantung kepada suami, tidak bergantung pada lelaki. Ia selalu menyemangati anak-anak perempuannya untuk menjadi terdepan soal ekonomi keluarga, untuk menjadi wanita yang berdigdaya dan berdaya. Dan ia selalu geram pada ibu-ibu yang menyemangati anak perempuannya untuk mencari suami yang kaya raya. “Elu aja yang kaya. Ngapain cari laki kaya terus bisa ngontrol-ngontrol elu. FREEDOM DONG!”
Freedom buat Wapi kadang juga bikin deg-degan. Suatu hari Jakartabeat menugaskan saya untuk meliput Jazz Gunung di Bromo. Di sana sudah janjian bertemu Arman Dhani yang waktu itu anak kampung yang skripsinya tak kunjung rampung–bukan selebriti seperti sekarang. Saya akan naik bus ke Probolinggo dari Lebak Bulus, dan rencananya saya akan backpacking dari Jawa Timur ke Jawa Tengah, mengunjungi kawan di Jember, Yogja, dan Muntilan. Saya bertemu Wapi di restoran Mama yang waktu itu ada di Lebak Bulus. Tanpa ba-bi-bu, Wapi memutuskan untuk ikut, dengan pakaian seadanya dan tanpa persiapan sama sekali.
Kami naik bus belasan jam dari Lebak Bulus ke Probolinggo. Selama di bus, Wapi bahkan sempat digoda oleh seorang bapak-bapak–bahkan di usianya yang setengah abad, ia tak pernah berhenti menjadi perempuan menarik untuk lelaki seangkatannya. Tentunya ia menolaknya dengan jijik. Kami turun di Probolinggo sekitar jam 9 malam dan saya bingung kemana harus mencari hotel. Sementara akomodasi saya sebenarnya sudah dijamin di gunung Bromo di rumah warga, saya tidak mungkin membawa Wapi ke atas gunung malam-malam dan menginap di rumah warga bersama saya dan beberapa remaja bau kencur dari Jakartabeat dan Gigsplay. Dengan penuh percaya diri, Wapi duduk-duduk di teras hotel paling bagus setelah kami turun bus. Hotel itu sudah full booked. Akhirnya saya berjalan kaki keliling jalan besar Probolinggo untuk mencari hotel. Ketika menemukan hotel dengan kamar kosong, saya kembali ke tempat Wapi nongkrong untuk menjemputnya dan menemukannya sedang asik merokok dan minum kopi.
Ia bilang kita sudah mendapat kamar di hotel bagus itu, karena ia menyuruh seorang bapak-bapak yang ia kira pelayan untuk membuat kopi. Bapak itu adalah pemilik hotel. Mereka mengobrol dan dengan ajaib Wapi dan saya dapat kamar mewah: kamar si pemilik hotel yang malam itu jadi entah tidur dimana.
Masih banyak kenangan dan wejangan yang ingin saya tulis, tapi kalau saya teruskan maka tulisan ini tidak akan habis-habis. Karena banyaknya kenangan-kenangan itulah saya membuat film dokumenter soal Wapi setelah kematiannya ini. Tidak banyak bahan yang bisa saya dapat, tapi untungnya om Jody, adik Wapi, menyimpan banyak sekali foto-foto dan beberapa video tua yang bisa saya masukan ke film ini. Adik saya, Gilang, juga punya beberapa video wapi yang selalu bahagia, bernyanyi dan berjoget dangdut. Sayangnya tidak banyak video wejangannya–padahal wejangan itu bisa jadi sangat berharga. Wapi pemalu soal intelektualitasnya, tapi kalau nyanyi dangdut, urat malunya sudah putus.