#drama, Film/Video, Workshop

5 Macam Aktor yang Paling Merepotkan Buat Diajak Kerja dan Cara Ngehandlenya


Selama 12 tahun ngajar film, acting, media, nulis, teater dan ngedirect, gue sering ketemu aktor atau orang yang mengaku aktor, yang bikin gue capek banget. Ini konteksnya gue sebagai pengajar, sutradara dan hasil ngeghibah sama temen-temen di industri ya. Kerja bareng aktor-aktor yang nyusahin lumayan sering jadi cukup tahu gimana ngehandlenya, sampe filmnya jadi. Ini 5 macam aktor yang sering ngerepotin gue, dan cara ngehandlenya.

Pertama, aktor yang belajar akting buat jadi bintang atau selebriti. Ini orang-orang menyedihkan yang terpengaruh media atau sosial media soal aktor. Mereka sama sekali nggak paham apa itu akting sebagai seni, dan ingin masuk ke industri sinetron atau apapun yang bisa mewujudkan mimpi glamor mereka. Gue cuma berharap, impian itu cuma jadi pintu masuk untuk menerima sebuah kenyataan bahwa menjadi aktor sama saja seperti pekerjaan seni lainnya seperti melukis, mematung, mengedit, menari, memotret, dll. Tidak ada yang spesial soal seni peran. Ia cuma pekerjaan biasa saja yang perlu bakat dan keterampilan, serta tentunya panggilan hati dan panggilan syuting.

Cara handle: kalo duitnya ga gede, jangan mau kerja sama aktor kayak gini. Kalo duitnya gede, kasih aja apa maunya produserlo. Dan siap-siap tipu-tipu pake kamera aja. Kasih insto buat nangis, siap dubbing, dan siapin astrada buat bacain skrip buat si aktor superstar ini biar dia tinggal ngulang ngomong nggak usah ngehapal. Taik emang, tapi duit, borr.

Kedua, aktor berbakat yang tidak suka membaca. Bisa jadi dia akan jago akting di bawah sutradara yang bagus; bisa jadi dia dapat menyampaikan empati dan perasaan dengan baik, tapi nggak paham subtext naskah, nggak bisa metodologi dalam pendekatan kepada karakter, nggak bisa menjelaskan referensi-referensi yang ia pakai. Sulit kerja sama aktor yang kosakatanya sedikit, susah komunikasi sama dia. Dan metodenya nggak bisa diduplikasi karena banyak yang pake feeling doang, nggak terukur. Terlalu banyak bermain dengan kebetulan. Ga bisa main teknik nafas atau teknik olah tubuh karakter yang bisa mengolah mood dan karakter jadi lebih siap buat di take dan retake.

Cara handle: sediain waktu yang lama buat dia panas. Banyakin ngobrol praporduksi untuk isi kepalanya dengan referensi karena dia biasanya auditory learner, alias males baca seneng ngobrol. Kalo waktunya sedikit, well suruh fake ajalah, pokoknya kelar. Males overtime nungguin doi in the mood. Nggak baca sih, lemot deh.

Ketiga, aktor sotoy metode banyak gaya. Ini ngeselin sih: udah males baca sotoy pula. Dan ini buanyak banget yang gue kenal: dari yang gayanya sok-sok dukun kearifan lokal, gaya orang gila, sampe yang sok rockstar mabok-mabokan di set panggung untuk ngikutin idolanya di jaman orba. Gak jaman bor, kayak gitu. Ini jaman internet, malu lo sama Meissner dan Stanislavski. Brecht muntah di alam kubur gara-gara lo ngomong Verfremdungsteffekt aja ga lancar tapi lo berkoar-koar. Malu lo sama Deadpool yang udah break the fourth wall di bioskop!

Cara ngehandlenya: pecat aja. Suruh suting sama demit atau bikin film art sama Jim Morrison.

Keempat, aktor yang berbakat, tapi nggak mau ngalah demi egonya. Ini aktor yang cuma perduli sama akting dia sendiri tapi nggak sama pertunjukkan atau filmnya secara keseluruhan. Mikirnya akting harus dia yang nikmat sendirian, orang harus ikut dia semua. Self centered actor kayak gini harus kena producer atau sutradara yang bisa nempeleng dia buat ngingetin kalo akting itu proyek tim, bukan proyek sendirian. Dan hubungan antar aktor dengan rekan sekerjanya yang lain seperti hubungan lelaki dengan perempuan: si lelaki harus bekerja keras untuk memberikan kenikmatan pada si perempuan dengan banyak ngalah dan mendengarkan, karena kalau perempuannya orgasme, seksnya berhasil. Tapi kalau lelakinya doang, well, it’s lame bro.

Cara ngehandlenya: ajak ngobrol dan minta tolong buat saling sayang aja sama satu sama lain. Bikin dia ngerti kalo cuma dia doang yang bagus, film ini jadi jelek dan penonton juga males. Kalo dia nggak mau dan ngancem hengkang, lepasin aja. Berarti dia nggak sayang sama elo, lawan mainnya, dan kru yang lain. Tunda aja dulu syuting sampe dapet yang hatinya lebih tulus.

Ke lima, aktor yang ga mau kelihatan aslinya. Akting itu adalah seni kejujuran, bukan seni pura-pura. Karena untuk pura-pura dalam acting, si aktor harus bisa pura-pura dengan jujur sampai semua orang percaya bahwa dia pura-pura. Aktor yang masih punya banyak tembok untuk nunjukkin sisi lemah dirinya, sisi buruk dirinya, adalah aktor yang nggak siap akting. Dia harus selesai dulu menerima diri apa adanya, untuk bisa berkembang. Dan satu-satunya cara untuk menerima diri itu adalah dengan latihan, latihan dan latihan—dengan guru dan sparing partner yang benar.

Cara ngehandlenya: demi filmnya, fake aja udah. Yang penting ceritanya tersampaikan. Habis itu evaluasi, suruh aja latihan lagi. Tapi film yang sudah dishoot, ya sudah. Salah kamu sendiri pilih dia dari awal. JANGAN PERNAH BERUSAHA NGECRACK DI SET! Aktor kayak gini kalo sampe kamu crack emosinya bisa ga terkontrol. Abis itu ga bisa ganti shot atau take ulang. Cracking emosi itu butuh guru yang bagus.

Jadi, kawan-kawan aktor sekalian, gua harap kalian jadi paham ekspektasi gue sebagai director/producer/scriptwriter/mentor kalian. Tapi kalau kalian nggak bisa memuaskan ekspektasi gue, ya nggak apa-apa juga. Toh, banyak aktor yang gue kenal adalah yang 5 di atas. Tapi berharap kalian jadi lebih keren, boleh dong.

Love and peace out lah!

***

Makasih sudah baca sampe habis. Kalau kamu suka sama blog ini, boleh lah nyumbang om yang nulis kopi dengan klik tombol di bawah ini, biar punya motivasi.

Puisi, Workshop

Mengubah Rasa Jadi Puisi

Kekasihmu pergi, orang yang kau cintai meninggal, kau tidak lulus sekolah, kau ditembak gebetanmu, kamu masuk kampus yang kamu inginkan, atau dapat pekerjaan ideal. Semua kejadian ini menyisakan rasa yang kuat. Bagaimana caranya untuk berbagi rasa ini kepada banyak orang? Toh tidak semua orang mengalami apa yang kamu alami. Jawabannya: dengan puisi.

Temukan apa yang mau kamu katakan secara literal tapi tidak mungkin kamu katakan. Misalnya kamu mau bilang, “Benci untuk mencinta” pada pacarmu. Walau mengandung ironi, tapi ini bukan puisi. Ini kalimat yang jelas, yang interpretasinya tidak banyak. Kita akan buat kalimat ini jadi kaya dengan rasa.

Biasanya yang pertama harus ditarik dulu adalah sebuah rasa yang abstrak. Benci dan cinta sendiri adalah kata-kata yang sudah abstrak, kita tidak bisa menyentuh benci atau cinta. Maka untuk menjadikannya puisi kita bisa membuatnya menjadi fenomena nyata dengan kata benda dan kata kerja. Benci untuk mencinta, adalah ketidaksukaan untuk melakukan yang kita suka, karena yang kita suka merugikan kita. Cari perumpaannya, membenci yang kita cintai itu seperti…. Kecanduan pada narkoba, misalnya. Maka untuk bilang aku cinta untuk membenci dalam puisi, bisa saja (satu diantara banyak caranya), memakai perumpaaan narkoba. Jadinya seperti ini:



***
Heroin, pahlawanku, yang tak bisa kulepaskan Atau tak mau melepaskanku

Meth, kristal paling berharga, dan tubuhku rubuh, organku rusuh ingin kau!

Kau, opium terkuat, seperti Tuhan yang ilusif antara ada dan tiada,

Tapi opresif
Posesif.

***

Jadi untuk membuat puisi dari rasa dan emosi, yang kamu perlukan adalah manifestasi nyata dari rasa itu, dengan perumpamaan-perumpaan yang menimbulkan rasa semacam itu. Dan dengan perumpamaan puisimu bisa membuka pintu persepsi banyak orang. Bukan hanya untukmu.

Racauan, Workshop

3 Halangan Menulis dan Cara Menerobosnya

Entah sudah berapa banyak janji yang terlanggar soal menulis harian. Tapi pernah ada masa-masa konsisten, dimana secara rutin saya menulis. Jika diingat lagi, dengan mudah saya bisa tahu dimana batas menulis itu putus di jalan. Secara sederhana, sebabnya ada tiga.

Pertama, karena ada disrupsi rutinitas. Beberapa bulan ini, disrupsi selalu terjadi dengan berbagai macam masalah: dari masalah keluarga, kerjaan, dan yang akhir-akhir ini sedang sangat mengganggu: lonjakan pasien covid, kawan dan sanak saudara yang sakit dan meninggal. Jelas, menulis tidak sepenting mereka. Di situ saya paham bahwa menulis adalah privilise.

Kedua, kurang baca dan kurang bergaul. Penulis menghabiskan hidupnya banyak di depan HP, buku catatan, atau laptop untuk menulis draftnya. Namun ia butuh sekali untuk keluar dari zona penulisannya. Haruki Murakami mengunakan lari jauh setiap pagi, lalu bergaul di berbagai tempat sosial, atau berkelana ke sana kemari. Perjalanan bisa setahun dan dalam setahun itu ia sambil menulis 3-4 jam sehari tentang apa yang ia pelajari setahun sebelumnya. Begitupun penulis perjalanan (travel writers). Mereka sebenarnya lebih banyak di rumah, karena kalau di jalan, mereka mengumpulkan data. Tapi kalau mau aktif seperti Paul Theroux misalnya, yang hingga usia hampir 100 masih jalan-jalan dan menerbitkan buku, memang harus ada rutinitas. Bahwasannya yang ia banggakan, sebagai penulis ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh di rumah. Karena ia banyakan di rumah daripada di jalan. Novellette saya Kaori, mengambil inspirasi dari Paul Theroux dan kemampuannya membagi waktu antara tulisan dan rumah—walau Aoyama di Kaori lebih menderita karena ia tak punya anak.

Ketiga, muncul keinginan untuk membuat karya yang sempurna. Saya punya ratusan draft tulisan di blog ini. Beberapa ide dan topik yang saya pikir potensial untuk jadi besar. Ini bahaya, karena akhirnya yang jadi keluar ke permukaan hanya sedikit. Dan dari pengalaman saya, menyimpan ide tidak pernah baik kalau tidak ada deadline. Akhirnya bayi tulisan kita bisa cacat atau keguguran. Prematur itu buruk, tapi post term atau overdue bisa jauh lebih buruk untuk bayi dan yang mengandung. Kita sebagai penulis bisa terjebak di ide itu sampai gila.

Jadi baiknya diselesaikan, walau belum diterbitkan. Itu yang sedang saya usahakan, bahwa setiap draft adalah sesuatu yang selesai. Draft satu dan draft dua adalah tulisan yang berbeda. Bahkan ketika sudah terbit pun, dalam beberapa tahun bisa saya lihat lagi dan saya revisi, sesuai perubahan zaman.

Jadi ini cara utama yang sedang saya lakukan untuk bisa tetap menulis:

Jika saya bisa meminimalisir efek dari disrupsi dengan menepati janji saya untuk menulis, dan saya bisa terus membaca dan bergaul, dan saya tidak mengejar kesempurnaan, maka saya yakin saya bisa kembali aktif dan tidak buang-buang uang website 2.5 juta per tahun. Kunci yang selama ini berhasil adalah: ketika disrupsi itu berlalu, paksa rutinitas untuk kembali dengan fokus ke apa yang ada di sini sekarang di depan kamu. Residu dari disrupsi yang mengganggu dan menyedihkan, biarkan jadi bisikan-bisikan setan yang akan selalu ada. Relakan dia ada di sana tapi jangan berhenti untuknya. Saya tahu ini tidak mudah, tapi jangan dicoba. Dikerjakan saja. Satu-satu, pelan-pelan, dan tekan publish.

Tentunya saya ingin berterima kasih pada para patron saya, yang sudah menyumbang di laman traktir saya. Insentif ketika menulis itu penting juga di umur di atas 30 ini, apalagi saya tidak mau jadi penulis sepenuhnya. Saya masih mau jadi filmmaker, musisi, penyair, peneliti, kritikus, guru, dan banyak lagi. Hidup cuma sebentar.

Maka saya sangat menghargai mereka yang mentraktir saya kopi atau apapun untuk membiarkan saya bicara dan menulis. Kalau kamu baca ini sampai habis dan merasa ini ada gunanya, traktirlah saya secangkir kopi.

Terima kasih sudah membaca. Selamat menulis dan kabari saya di kolom komentar jika kamu menulis karena membaca ini atau karya saya yang lain. Saya ingin kita diskusi, nanti saya yang gantian traktir kopi biji jika kamu anak indie; atau teh jika kamu mau lebih berkelas, atau whisky jika kamu tipe yang ngeblues, gin jika kamu ingin lebih ekspresif tapi kalem, dan wine jika kamu filosofis.

Tabik!

Film, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Workshop

Karena Film Itu Tinggi dan Video Itu Rendah

Kalau kita pakai definisi film secara kebudayaan, bukan secara teknis, maka film adalah sebuah produk media yang dibuat untuk discreening atau ditonton bersama dalam sebuah ritual modern. Budgetnya relatif, bisa kecil bisa besar, tapi ia didedikasikan sebagai seni yang lebih tinggi daripada video.

Sementara video dibuat untuk dibroadcast, dilihat sebanyak mungkin orang dengan semudah mungkin akses. Semua orang yang bisa bikin video hari ini, tapi tidak semua orang yang punya kamera bisa bikin film, karena setelah shooting selesai, pasar pertama produk tersebut adalah tempat screening; baik itu di bioskop ataupun di festival.

Konon film adalah anak haram antara kapitalisme dan seni. Dalam hubungan itu, ada yang dominan dan tergantung produser dan sutradaranya. Namun di muaranya, film dianggap sebagai seni tinggi, disakralkan. Makanya filmmaker suka emoh kalo dibilang filmnya video. Filmmaker juga banyak yang merasa bahwa film tv bukan film, karena dia dibroadcast di tv. Film yang sudah masuk TV tak berbayar, alias frekuensi publik, bukan lagi film, tapi dianggap sudah jadi seni rendah: video. Padahal di era digital hari ini, kebanyakan film dibuat dengan alat perekam yang menyimpan data digital (baca: video).

Film adalah video yang dilabeli ritual dan ekslusifitas. Sebuah dokumentasi kawinan Batak, yang diputar dalam festival film kebudayaan eksotis di Inggris akan jadi “film”, sementara kalau diputar diantara sanak saudara mempelai, atau dishare di youtube melalui grup WA keluarga, ia akan jadi “video.”

Jadi yang membuat sebuah produk media jadi film atau video hari ini adalah masalah presentasi dan segmentasi. Presentasi artinya dimana ia discreening, dan segmentasi artinya siapa yang menonton screening tersebut. Semakin highclass yang menonton, semakin mahal dan prestisius sebuah film. Karena itu festival film juga punya kelas, dari yang abal-abal, sampai yang super wah.

Konversi dari film ke video jadi bukan hanya masalah teknologi, tapi jadi konversi transaksi pasar: setelah mengalami presentasi publik, apakah film itu akan dilepas dengan akses di platform publik, atau dijual streaming ke platform berbayar. Apapun itu, setelah selesai screening, semua film berubah menjadi video. Dan video sejatinya menjadi data, yang nilai ritualistik dan ekonominya akan turun seiring berjalannya waktu.