Kekasihmu pergi, orang yang kau cintai meninggal, kau tidak lulus sekolah, kau ditembak gebetanmu, kamu masuk kampus yang kamu inginkan, atau dapat pekerjaan ideal. Semua kejadian ini menyisakan rasa yang kuat. Bagaimana caranya untuk berbagi rasa ini kepada banyak orang? Toh tidak semua orang mengalami apa yang kamu alami. Jawabannya: dengan puisi.
Temukan apa yang mau kamu katakan secara literal tapi tidak mungkin kamu katakan. Misalnya kamu mau bilang, “Benci untuk mencinta” pada pacarmu. Walau mengandung ironi, tapi ini bukan puisi. Ini kalimat yang jelas, yang interpretasinya tidak banyak. Kita akan buat kalimat ini jadi kaya dengan rasa.
Biasanya yang pertama harus ditarik dulu adalah sebuah rasa yang abstrak. Benci dan cinta sendiri adalah kata-kata yang sudah abstrak, kita tidak bisa menyentuh benci atau cinta. Maka untuk menjadikannya puisi kita bisa membuatnya menjadi fenomena nyata dengan kata benda dan kata kerja. Benci untuk mencinta, adalah ketidaksukaan untuk melakukan yang kita suka, karena yang kita suka merugikan kita. Cari perumpaannya, membenci yang kita cintai itu seperti…. Kecanduan pada narkoba, misalnya. Maka untuk bilang aku cinta untuk membenci dalam puisi, bisa saja (satu diantara banyak caranya), memakai perumpaaan narkoba. Jadinya seperti ini:
*** Heroin, pahlawanku, yang tak bisa kulepaskan Atau tak mau melepaskanku
Meth, kristal paling berharga, dan tubuhku rubuh, organku rusuh ingin kau!
Kau, opium terkuat, seperti Tuhan yang ilusif antara ada dan tiada,
Tapi opresif Posesif.
***
Jadi untuk membuat puisi dari rasa dan emosi, yang kamu perlukan adalah manifestasi nyata dari rasa itu, dengan perumpamaan-perumpaan yang menimbulkan rasa semacam itu. Dan dengan perumpamaan puisimu bisa membuka pintu persepsi banyak orang. Bukan hanya untukmu.
EP Pesan-pesan Dari Kamarku Side A oleh Avigayil Enautozoe resmi dirilis dan masuk release radar spotify! Ini EP yang saya produseri dan prestasi ini membuktikan bahwa di usia ke 36 ini, saya berhasil menjadi produser musik. Saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pembuatan EP ini, karena usaha yang kami lakukan, walau tidak terasa berat karena kami senang, jika dipikir-pikir panjang juga.
Suatu hari sebelum workshop tiga tahun lalu, Zoe bermain gitar di depan rumah saya. Saya belum benar-benar mengenalnya tapi lagunya begitu akrab dan perih. Komentar pertama saya adalah, “Sakit apa lo, Zo?”
Saya langsung akrab dengan lagunya, dan bukan cuma satu. Dia sudah bikin beberapa lagu. Kebetulan saya punya microphone lumayan bagus yang saya beli untuk VO dokumenter. Dengan itu Zoe merekam beberapa demo. Dan semuanya ajaib. Saya waktu itu memang sudah kepikiran untuk jadi produser musik karena band saya hiatus. Tapi dengan semua kesibukan dan musibah-musibah yang terjadi, niat itu selalu saya urungkan.
Selama menanti ini, Zoe ikut workshop film dan membuat film pendeknya yang pertama dan kedua bersama MondiBlanc Film Workshop. Kedua film soundtracknya dia isi sendiri. Selain filmnya sendiri, Zoe juga membuat soundtrack untuk film kawan-kawan seperti Kalut (sutradara Aka Wiharja) dan Cheap Thrills (sutradara Candra Aditya). Ini adalah soundtrack dari film fiksi pertama Enautozoe, Pergilah Pergi dari film Fiction.
Hingga beberapa bulan sebelum pandemi 2019, saya memutuskan untuk nekat mengajak Zoe, Nando, dan Rojak untuk merekam album Zoe hanya dengan satu gitar, di vila om saya di Banten. Saya ingat di sana ada sebuah ruang serba guna yang akustiknya ajaib. Kami rekaman dengan alat-alat pinjaman dan gitar-gitar yang kondisinya tidak sempurna. Nando merekam semuanya dengan kamera, sementara Rojak menjadi sound recordist yang stres karena walau akustiknya bagus tapi tempat itu punya choir berupa bebek dan soang milik warga sekitar, dan sesekali motor lewat memberikan efek distorsi yang membuat kesal. Saya sempat berkolaborasi dengan Zoe di dua lagu cover.
Tapi itu adalah konsep yang saya inginkan sebagai produser. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja dengan Zoe untuk membuat soundtrack film saya bersama WWF Indonesia. Judul lagunya “Sigi” untuk film Sejak Dini. Saya memproduksi lagu itu bersama sahabat saya Avrilla Bayu, seorang arranger profesional. Di situ Zoe berduet dengan mantan murid saya yang lain, Alduri Asfirna. Ini lagunya:
Menurut saya lagu itu dibuat begitu proper dengan teknologi dan teknis yang mumpuni. Namun bukan itu yang ada di kepala saya jika saya ingin merekam album Zoe. Saya merindukan masa-masa muda saya dimana saya dan kawan-kawan band Wonderbra membuat lagu dengan alat alakadarnya, yang penting jadi dan bisa kita bawa ke panggung. Salam merindukan keajaiban kolaborasi dengan keterbatasan, kesalahan-kesalahan manusiawi, dan kenikmatan mencipta, seperti yang kamu dengar di lagu Wonderbra ini yang kami buat di studio kecil kantor ibu saya dulu sekali, hanya dengan gitar dan software jadul komputer.
Setelah rekaman Zoe selesai, saya butuh packaging dan citra yang bisa menyempurnakan rekaman itu untuk dipresentasikan dengan pantas ke khalayak ramai. Musiknya kami buat dengan tidak pantas, maka presentasinya harus bagus. Ada beberapa ide dari Bimo Guntur, salah satu producer dan publicist di EP ini, untuk menyamakan struktur kasar hasil rekaman dengan artworknya. Tapi sebagai produser, saya pikir malah baiknya kita cari penyeimbang, seniman grafis yang karyanya sangat-sangat berkelas. Di kepala saya hanya terbayang satu orang: Jessie Tjoe.
Jessie adalah mantan mahasiswa saya di kelas sejarah seni, dan sampai sekarang tetap menjadi salah seorang seniman lukis yang paling saya kagumi. Sempat ragu, apakah seniman yang sudah pernah pameran dalam Kintsugi ini bersedia untuk berkolaborasi. Ternyata Jessie tetap seorang jenius yang rendah hati. Dia tidak hanya bersedia, tapi juga memberikan effort luar biasa untuk project ini. Sebuah effort yang mengangkat saya dan kawan-kawan untuk memberikan effort yang minimal sama kuatnya, agar hasil kerja kami bisa disandingkan dengan seni mewah ini.
Single pertama, Lagu Panjang Untuk Kisah Singkat, dirilis dengan satu gambar yang sudah jadi dari Jessie dan sudah dipamerkan di IG nya. Setelah itu kami brainstorm dan bekerja lama sekali (karena kami juga masing-masing punya kerjaan lain), untuk menyelesaikan EP side A ini. Maka akhirnya EP ini selesai baik dari mixing mastering, sleeve, art, dan canvas spotifynya.
Bimo Guntur publicist kami bekerja untuk mengajukan EP kami ke release radar spotify dan wow! Kami berhasil masuk! Maka akhirnya dirilislah EP Pesan-pesan dari Kamarku Side A. Dalam release party online, kami berbagi dan mendengarkan album ini bersama kawan-kawan dekat. Sungguh memuaskan. Terima kasih semuanya.
Namun kerja belum selesai. Masih ada Side B. Masih ada rilisan fisik juga yang akan kami lepas dengan sebuah memento: sebuah buku tentang mengolah sakit yang berisi bukan hanya artwork dan lirik, tetapi beberapa life hacks untuk menghadapi penyakit mental ringan yang menguasai banyak penduduk kota. Desember, kami harap pandemi sudah reda, buku bisa dicetak, dan yang terpenting kami bisa manggung live untuk merilis EP side B.
Sementara itu, silahkan menikmati EP side A di spotify. Ini single yang masuk ke release radarnya yang ada di Youtube Topic, untuk sedikit icip-icip.
***
Terima kasih telah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, traktir saya kopi dengan login ke trakteer.id melalui tombol dibawah ini. Traktiranmu memberikan saya motivasi.
Entah sudah berapa banyak janji yang terlanggar soal menulis harian. Tapi pernah ada masa-masa konsisten, dimana secara rutin saya menulis. Jika diingat lagi, dengan mudah saya bisa tahu dimana batas menulis itu putus di jalan. Secara sederhana, sebabnya ada tiga.
Pertama, karena ada disrupsi rutinitas. Beberapa bulan ini, disrupsi selalu terjadi dengan berbagai macam masalah: dari masalah keluarga, kerjaan, dan yang akhir-akhir ini sedang sangat mengganggu: lonjakan pasien covid, kawan dan sanak saudara yang sakit dan meninggal. Jelas, menulis tidak sepenting mereka. Di situ saya paham bahwa menulis adalah privilise.
Kedua, kurang baca dan kurang bergaul. Penulis menghabiskan hidupnya banyak di depan HP, buku catatan, atau laptop untuk menulis draftnya. Namun ia butuh sekali untuk keluar dari zona penulisannya. Haruki Murakami mengunakan lari jauh setiap pagi, lalu bergaul di berbagai tempat sosial, atau berkelana ke sana kemari. Perjalanan bisa setahun dan dalam setahun itu ia sambil menulis 3-4 jam sehari tentang apa yang ia pelajari setahun sebelumnya. Begitupun penulis perjalanan (travel writers). Mereka sebenarnya lebih banyak di rumah, karena kalau di jalan, mereka mengumpulkan data. Tapi kalau mau aktif seperti Paul Theroux misalnya, yang hingga usia hampir 100 masih jalan-jalan dan menerbitkan buku, memang harus ada rutinitas. Bahwasannya yang ia banggakan, sebagai penulis ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh di rumah. Karena ia banyakan di rumah daripada di jalan. Novellette saya Kaori, mengambil inspirasi dari Paul Theroux dan kemampuannya membagi waktu antara tulisan dan rumah—walau Aoyama di Kaori lebih menderita karena ia tak punya anak.
Ketiga, muncul keinginan untuk membuat karya yang sempurna. Saya punya ratusan draft tulisan di blog ini. Beberapa ide dan topik yang saya pikir potensial untuk jadi besar. Ini bahaya, karena akhirnya yang jadi keluar ke permukaan hanya sedikit. Dan dari pengalaman saya, menyimpan ide tidak pernah baik kalau tidak ada deadline. Akhirnya bayi tulisan kita bisa cacat atau keguguran. Prematur itu buruk, tapi post term atau overdue bisa jauh lebih buruk untuk bayi dan yang mengandung. Kita sebagai penulis bisa terjebak di ide itu sampai gila.
Jadi baiknya diselesaikan, walau belum diterbitkan. Itu yang sedang saya usahakan, bahwa setiap draft adalah sesuatu yang selesai. Draft satu dan draft dua adalah tulisan yang berbeda. Bahkan ketika sudah terbit pun, dalam beberapa tahun bisa saya lihat lagi dan saya revisi, sesuai perubahan zaman.
Jadi ini cara utama yang sedang saya lakukan untuk bisa tetap menulis:
Jika saya bisa meminimalisir efek dari disrupsi dengan menepati janji saya untuk menulis, dan saya bisa terus membaca dan bergaul, dan saya tidak mengejar kesempurnaan, maka saya yakin saya bisa kembali aktif dan tidak buang-buang uang website 2.5 juta per tahun. Kunci yang selama ini berhasil adalah: ketika disrupsi itu berlalu, paksa rutinitas untuk kembali dengan fokus ke apa yang ada di sini sekarang di depan kamu. Residu dari disrupsi yang mengganggu dan menyedihkan, biarkan jadi bisikan-bisikan setan yang akan selalu ada. Relakan dia ada di sana tapi jangan berhenti untuknya. Saya tahu ini tidak mudah, tapi jangan dicoba. Dikerjakan saja. Satu-satu, pelan-pelan, dan tekan publish.
Tentunya saya ingin berterima kasih pada para patron saya, yang sudah menyumbang di laman traktir saya. Insentif ketika menulis itu penting juga di umur di atas 30 ini, apalagi saya tidak mau jadi penulis sepenuhnya. Saya masih mau jadi filmmaker, musisi, penyair, peneliti, kritikus, guru, dan banyak lagi. Hidup cuma sebentar.
Maka saya sangat menghargai mereka yang mentraktir saya kopi atau apapun untuk membiarkan saya bicara dan menulis. Kalau kamu baca ini sampai habis dan merasa ini ada gunanya, traktirlah saya secangkir kopi.
Terima kasih sudah membaca. Selamat menulis dan kabari saya di kolom komentar jika kamu menulis karena membaca ini atau karya saya yang lain. Saya ingin kita diskusi, nanti saya yang gantian traktir kopi biji jika kamu anak indie; atau teh jika kamu mau lebih berkelas, atau whisky jika kamu tipe yang ngeblues, gin jika kamu ingin lebih ekspresif tapi kalem, dan wine jika kamu filosofis.