Filsafat, Politik, Racauan

Kar(l)ma(rx)

Photo by 🇮🇳Amol Nandiwadekar on Pexels.com

Kita takut karma, ketika dosa yang kita lakukan kembali kepada kita, maka kita berusaha menjadi orang baik. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa tanpa karma pun, shits happen. Dosa orang bisa kita tanggung, hutang orang bisa kita yang harus bayar, orang lain yang membuat berantakan bisa kita yang harus bereskan. Hidup seperti perkerjaan menanggung kerusakan orang yang tidak ada habisnya. Hidup adalah kumpulan karma yang seringkali tidak ada hubungan sebab akibat.

Photo by Alexander Krivitskiy on Pexels.com

Maka itu, Karma bukanlah wanita jalang seperti kata orang hippie Amerika. Karma adalah sebuah mitos, dan mitos, seperti kata Roland Barthes, adalah sebuah petanda yang sudah terlalu jauh hubungannya dengan penandanya; mitos adalah sebuah konotasi yang sudah ngejelimet dan nyasar, sebuah simbol dari simbol yang seringkali diawali dengan sesuatu yang sebegitu personal dan diakui sebagai universal. Seperti gagak petanda buruk, ketiban cicak petanda sial, atau sirik petanda tak mampu. Padahal kita semestinya tahu, gagak adalah ada petanda burung berwarna hitam yang berteriak gaak gaak, ketiban cicak petanda cicak bisa melompat, dan sirik petanda kesenjangan kelas.

Di poin yang ketiga inilah maka Karl Marx lebih masuk akal daripada Karma. Karena Karl Marx berusaha mengkritisi dialektika sebab-akibat adanya eksploitasi dan kesenjangan kelas, sementara karma berusaha menjelaskan kesenjangan kelas dari dosa-dosa baik di kehidupan ini atau (ini yang parah) di kehidupan masa lalu. Karl Marx berusaha membongkar kelas-kelas sosial; karma menjadi dasar kelas sosial paling parah sepanjang sejarah kelas manusia: kasta. Terlahir sudra akan mati jadi sudra, terlahir brahmana akan mati brahmana–dan dalam kehidupan, darma baik dan buruk diharapkan dapat menjadi karma di kehidupan mendatang.

Tapi sayang sungguh sayang, saya sendiri suka sulit menghindari pikiran soal Karma. Dosa dan agama sudah jadi bagian dari keseharian yang merasuk ke alam bawah sadar dan, akhir-akhir ini, menjadi semacam penyelamat dari penyakit kejiwaan yang saya derita. Kata Marx mengembangkan buah pikiran Fuerbach, agama adalah candu. Dalam konteks kota kapitalis ini, saya jadi atheis yang praktikal: tidak percaya Tuhan sebagai entitas personifikasi, tapi beritual dan berspiritualitas pada energi besar yang mengendalikan alam semesta semau-maunya dia. Melepaskan ilusi kontrol dan rencana-rencana besar, dan mulai fokus pada rencana-rencana kecil saja yang saya rencanakan punya efek baik, dari mulai membiayai pemuda desa kuliah, sampai menyelenggarakan workshop gratis yang memberikan skill tambahan untuk anak-anak muda perkotaan yang galau mau jadi apa.

Jadi apa saya percaya karma? Tidak. Apa saya takut akan karma? Ya! Lah kok bisa takut pada sesuatu yang tidak kamu percaya? Lah kenapa tidak bisa? Coba, berapa banyak orang yang ngaku Atheis tapi pas pesawat yang ditumpanginya mau jatuh dia berdoa? Berapa banyak yang mengaku saintifik tapi takut pada kecoak atau ulat bulu?

Mitos dan cerita-cerita ini menyatukan kita sebagai manusia, membuat kita menjadi spesies paling berkuasa di dunia. Mitos dan cerita-cerita begitu kuatnya, ia membentuk sistem ekonomi, strata sosial, dan dapat membunuh lebih banyak orang daripada senjata nuklir. Mitos dan cerita-cerita menghidupkan dan mematikan kemanusiaan kita. Maka Karl Marx boleh berdialektika semacam apapun, Nietzsche bisa bilang Tuhan telah dibunuh para penganutnya seperti apapun, namun mereka semua pada akhirnya terkena Karma: yang satu jadi hantu karena ideologi yang dibuatnya menjadi pondasi paling kuat kapitalisme hari ini; dan yang satu lagi meninggal di rumah sakit jiwa karena kegilaan. Mereka berdua kena Karma. Salah apa mereka? Lah, tidak tahu, mungkin dulu sempat menjadi kapitalis busuk, atau jangan-jangan salah satu dari mereka pernah menjadi kecoak yang meracuni keluarga terakhir homo denisovans hingga punah.

Tidak ada yang tahu kebenaran sebuah mitos, kecuali sebuah mitos lain yang belum tentu pula kebenarannya—mitos apa itu? Coba pikirkan sambil beribadah hari ini.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Alam, Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi

Obelos

In your sleep I found
the five rivers of the underworld

Your lips, as sweet as ródi paliá
the fruit of Persephone, as she sang
with the song of your heartbeat,
and with it came Charon and his boat,
to take me, from river Acheron to beyond

I caressed your hair, strings of spirits
woven by the weird sisters

Every time you got anxious
and took one of those strings
someone died, and lost
to the river Styx

That was how powerful you are, my vvitch, my Dionysian Nymph

As I watched you drifting in slumber
I closed my eyes and still I found you
on Phlegethon, the river of fire
where you took my hand,
and taught me to dance

And in that dance, I knew your name:

L, was for Lethe
the river of forgetfulness
where I drank to oblivion
to put all burden and sadness
and froze them in Cocytus,
the river of burning ice, where
treachery and lies were kept
in Tartarus, with other Titans

As you drifted, I drifted
five rivers, took me to Hades
the outcast, the most beautiful God
the beholder of the truth
and the master of the only
real thing ever existed:
Death.

He touched my face and and I smiled
because he, the estranged God,
was the sinister who matched you and me
in the wheel of destiny and fate

He created Love not by cupid’s arrow,
but built it carefully, with pain and sorrow,
broke everything we know
no fear of tomorrow
just the magic of now
and the happiness we sow

Moral Bengkok, Prosa

Three Men and A Woman

She was screaming and yelling, throwing things from upstairs

“No men in this house is a man!”

There were three men in the house: her husband and her two teenage sons. None, she said, is a man.

The three men tried to calm her down, but she got more berserk.

Some people just came last night taking the car and things from the house.

In a few weeks, the mad woman and her family must moved out.

You see, she had debts. A lot of debts. All those money were used for her underpaid husband, sons education and her altruistic lifestyle.

Three men were weak. She was the breadwinner therefore she had all the rights to be mad.

Her youngest son left, probably tried to find weed with his friends then fuck his 14 years old girlfriend.

The mad woman still screaming. Her husband went downstairs to the dining room, and just sat there, staring blankly at the window.

Backyard was green. Soothing. He planted all those trees himself. He was about to lose all of it.

The Mad woman bought the land, he built the house and the garden. He was the true man of the house, literally: he doesn’t work outside anymore since his little brother died under his watch–a heart attack, leaving two kids and a wife. He was never fortunate enough to be a successful businessman. After all, he was a simple man. He didn’t need that much money because he didn’t have a high standard of living.

And the eldest son, almost seventeen, usually lived with his uncle cuz he went to school far away from home. But at home, he always felt this darkness: the terror of debts. Loansharks. Bad business! Bad! And now they all trapped, but mad woman endure the most: her business, her debt, her land and house, and she might be arrested and nobody could do anything about it, especially three men in the house. Useless men. Financially and politically impotent.

Therefore, the oldest son, sweared he will never have debts that he don’t know how to pay. If he’d be poor, he’d rather beg for charity than asking for a loan. After all, being a beggar is simple: for beggars cannot choose.

Three men and a woman used to lived in that house. You can still hear her screaming during the twilght, if you put your ear on the wall. You can see his shadow on the garden. You can still read the first son’s cursed words beneath the paint below the stairs. And in the first floor bathroom, there’s still specks of blood from an attempted suicide of the youngest son, for the guilt after he aborted his unborn child, with his 14 years old girlfriend.

A pain like that, stays.

Prosa

Arasdiva

Dan dalam diam mereka berdua melihat ke kedalaman mata masing-masing. Aras memandang neon-neon malam kota di mata Diva, dan Diva memandang bintang-bintang langit hutan di mata Aras.

Inilah perpisahan.

Tangan mereka bergandengan di atas meja, di kafe stasiun. Kereta sudah sampai sedari tadi dan Aras sudah semestinya pergi. Lampu jingga dan suara-suara orang lalu lalang menjadi latar adegan ini. Air mata Diva mengalir dari mata kanannya. Bibir Aras gemetar. Tangan kanannya menyapu air mata, menempelkan tetesan di jarinya ke bibirnya. Merasakan asin air mata Diva.

Inilah perpisahan.

Nafas mereka berat. Seperti kali terakhir mereka bercinta di dalam mobil Diva beberapa jam yang lalu. Tapi kata sudah terucapkan, komitmen telah dibuat. Diva akan menikahi lelaki lain, dan Aras harus pergi menyelesaikan filmnya ke penjuru negeri. Peta hidup masing-masing sudah ditandai. Persinggahan sudah selesai. Perjalanan percintaan sudah berakhir.

Kenapa tidak dilanjutkan? Agar intimasi ini abadi, kata Diva. Karena hidup kita harus lebih besar dari keberadaan kita, kata Aras. Berdua sepakat, salah satu harus berangkat.

Inilah perpisahan.