Anthropology, Buku, Filsafat, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan, terjemahan

Zygmunt Bauman: Bagaimana Menulis Ilmu Sosial Tanpa Data

Diterjemahkan tanpa izin dari New York Times, “How to Do Social Science Without Data.”
oleh Neil Gross, dosen sosiologi Colby College.

zygmunt-bauman-consumiamo

Dengan meninggalnya sosiolog Zygmunt Bauman bulan lalu pada usia 91, dunia intelektual kehilangan seorang pemikir dengan wawasan dan jangkauan keilmuan yang sangat luas. Karena gaya kerjanya secara radikal berbeda dari kebanyakan ilmuwan sosial Amerika Serikat saat ini, kematiannya adalah saat untuk mempertimbangkan apa yang mungkin diperoleh jika lebih banyak akademisi mengikuti teladan Bauman.

Pak Bauman menulis sejumlah buku dan mengajar selama bertahun-tahun di University of Leeds, Inggris. Ia menjadi seorang akademisi yang diperhitungkan dalam waktu yang relatif terlambat. Sebuah sukses besar datang pada tahun 1989, pada usia 64, ketika ia menerbitkan sebuah studi penting, “Modernity and Holocaust“. Ia mengkritik pandangan luas bahwa Holocaust disebabkan kegilaan anti-Semit yang di dalam peradaban Jerman. Menurutnya holocaust berasal sifat kebiasaan sistem negara dan  genosida adalah produk budaya modern.

Awal abad ke-20, pak Bauman mencatat, telah membawa pabrik skala besar, sistem transportasi yang efisien, perusahaan besar dengan angkatan kerja yang disiplin dan ideologi pseudoscientific (ilmu palsu) seperti eugenika (rekayasa manusia). Eugenika adalah elemen penting, di samping anti-Semitisme, dalam pembantaian massal Hitler. Pak Bauman berpendapat bahwa kita tidak bisa merayakan prestasi zaman modern tanpa juga memperhatikan sisi gelapnya.

Modernity and Holocaust” adalah sebuah karya teori dan sintesis. Pak Bauman tidak mengumpulkan data dan tidak membicarakan metodologi apapun. Tapi ketiadaan itu tidak membuat karya tersebut kurang penting.

Sebagai seorang yang dilahirkan menjadi Yahudi-Polandia, Pak Bauman meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1939, setelah invasi Jerman, dan melarikan diri ke Uni Soviet. Di sana ia bergabung dengan Angkatan Darat, memerangi Nazi di front timur. Setelah perang ia kembali ke Polandia untuk memulai karir akademiknya.

Hidup dibalik Tirai Besi, menjadi seorang sosiolog berarti menjadi seorang ahli pada semua hal tenttang Marx. Pak Bauman langsung menyelami Marxisme. Tetapi ketika komitmennya kepada golongan kiri tidak pernah pudar, antusiasmenya untuk komunisme perlahan menghilang. Ketika ia memberikan dukungan kepada pembangkangan mahasiswa pada tahun 1960, ia kehilangan pos mengajar dan diusir dari Uni Soviet.

Dia pindah ke Inggris, di mana karya sosiolog Max Weber menjadi batu pijakan banyak orang. Pak  Bauman menolak gagasan Weber bahwa ilmuwan sosial harus berusaha untuk memisahkan nilai-nilai pribadi dari keilmiahan mereka, namun ia menemukan ide yang menarik dari Weber tentang masyarakat modern, yang menekankan peran sentral birokrasi.

john-hurt-v-for-vendetta-still-670-380
Mirip Max Weber. Tapi ini almarhum John Hurt.

Weber melihat birokrasi sebagai elemen sosial yang kuat, tapi sangat impersonal. Pak Bauman menambahkan ini: Birokrasi bisa tidak manusiawi. Ia bilang, misalnya, struktur birokrasi telah mematikan rasa moral tentara Jerman, yang membuat Holocaust mungkin. Mereka bisa selalu mengaku bahwa mereka membunuh karena mengikuti perintah dan melakukan pekerjaan mereka.

max-weber
Max Weber. Doppleganger John Hurt.

Kemudian, Pak Bauman mengalihkan perhatian ilmiahnya kepada masyarakat pascaperang dan dunia di akhir abad ke-20, di mana sifat dan peran segala lembaga menjadi titik fokusnya. Karena keinginan adanya stabilitas setelah perang, kata Bauman, orang mendirikan lembaga-lembaga untuk mengarahkan kehidupan mereka – versi yang lebih jinak daripada birokrasi Weber. Anda bisa pergi ke bekerja untuk sebuah perusahaan di usia muda dan tahu bahwa itu akan menjadi payung berlindung sampai Anda pensiun. Pemerintah menjaga perdamaian dan membantu orang-orang yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri. Pernikahan dibentuk melalui hubungan antar-komunitas dan diharapkan untuk bertahan dalam komitmen jangka panjang.

3
Pernikahan Kakek-Nenek penerjemah, circa 1960-an.

Tapi pada akhir abad ini, di bawah tekanan dari berbagai sumber, lembaga-lembaga ini melemah. Secara ekonomi, perdagangan global telah meluas, sementara di Eropa dan Amerika Utara manufaktur mengalami penurunan; keamanan kerja lenyap. Politik, juga, mengalami banyak perubahan: Perang Dingin berakhir, Eropa terintegrasi dan politisi memangkas negara kesejahteraan. Secara budaya, konsumerisme tampaknya meliputi segala sesuatu. Pak Bauman mencatat pergeseran besar dalam cinta dan keintiman juga, termasuk keyakinan yang berkembang di institusi perkawinan dan – akhirnya – popularitas kencan daring.

Dalam pandangan Pak Bauman, itu semua terhubung. Dia berargumen bahwa kita telah menyaksikan transisi dari “modernitas yang solid” di pertengahan abad ke-20, dengan “modernitas cair” hari ini. Hidup telah menjadi lebih bebas, lebih cair dan lebih banyak risiko. Sekarang, pekerja bisa lebih mudah ganti pekerjaan setiap kali mereka bosan. Mereka bisa pindah ke luar negeri atau menemukan kembali diri mereka sendiri melalui belanja. Mereka bisa menemukan pasangan seksual baru dengan menekan sebuah tombol. Tapi ini bukan tanpa akibat.

Pak Bauman memikirkan implikasinya. Beberapa hal memang berkembang di zaman baru ini; misalnya lembaga-lembaga dan norma-norma bisa membosankan sekaligus opresif. Tapi bisakah tenaga kerja yang terus berubah ini datang bersama-sama untuk memperjuangkan distribusi yang lebih adil dari sumber daya? Bisakah konsumen belanja kembali bertanggung jawab dan menjadi warga yang terlibat dalam pembuatan kebijakan? Bisakah keintiman percintaan yang termotivasi oleh keinginan hubungan jangka pendek belajar artinya komitmen?

Dalam buku terbitan 2003, “Liquid Love,” dia mengajukan pertanyaan terakhir tadi sebagai sebuah paradoks. Pak Bauman menulis,bahwa sekarang orang banyak “galau karena sendirian dan merasa gampang dibuang,” dan karena itu mereka “galau ingin  ‘jadian.'” Pada saat yang sama mereka juga”waspada terhadap keadaan ‘jadian'”karena mereka takut itu “bisa membatasi kebebasan yang mereka butuhkan, yaitu” – ya, tebakan Anda benar – “kebebasan untuk berhubungan dengan orang yang lain lagi.”

cok-sevgililerin-utanc-verici-partilerinden_x_95289_b
Pesta Poliamori di New York. Dimana orang bisa ‘mencintai’ banyak orang sekaligus tanpa takut kehilangan kebebasan hubungan.

Akhirnya, pak Bauman khawatir, bukankah mungkin saja ada risiko bahwa orang-orang yang hidup dalam “modernitas cair” ini terpinggirkan dan akan beralih ke orang kuat, pemimpin yang berjanji untuk mengembalikan kepastian dan menghapus kosmopolitanisme?

trump-article-header

Semua penilaian matang tentang pemikiran pak Bauman ini akan memberi kesimpulan  bahwa dia kurang data dan metodologi. Banyak dari tulisannya acak, penuh kata-kata mutiara dan berulang-ulang. Dia tidak tahu apa-apa tentang batas-batas disiplin ilmu, membelok ke filsafat, sastra, antropologi dengan seenak-enaknya; itu bisa jadi karya yang kaya atau sembarangan. Bukti empiris pun asing baginya. Imajinasi dan ketajaman ia terapkan untuk semua tulisannya.

Ilmu sosial Amerika tidak memiliki banyak ruang untuk pemikir seperti Pak Bauman. Peneliti terkemuka Amerika lebih memilih konkret daripada abstrak; mereka lebih fokus pada klaim sebab-akibat yang bisa diuji daripada teori berbunga-bunga yang tidak bisa dibuktikan. Dan jelas ada lebih banyak hal yang dikatakan dengan pendekatan berdasarkan fakta tersebut.

Tapi kita bisa belajar lebih dari  intelektual yang luas dan visi yang dibawa pak Bauman. Tulisannya – yang sangat digemari oleh khalayak Eropa – membantu pembaca berpikir berkali-kali tentang kehidupan mereka sendiri, dengan cara yang sama sekali baru.

***

Catatan penerjemah: Sebagai seorang berusia hampir seabad, Bauman selalu bisa dengan lancar bicara hal-hal kontemporer, dari pergaulan anak muda hingga teknologi terbaru. Ia memang tidak pernah bicara soal metodologi, tapi menurut saya metodologi Bauman jelas: ia pembaca akut yang membiarkan teks merasuk ke alam bawah sadarnya, lalu memproses wacana dengan lautan pengetahuannya itu tanpa perlu referensi yang jelas. Ia penulis bebas. Pada akhir tulisan ini, adalah video pendapat pak Bauman soal pengungsi, sebuah analisis yang tajam tanpa data dan metodologi dengan animasi menarik dari Al-Jazeera.

Film, Kurasi/Kritik, terjemahan

Surat Albert Camus kepada Gurunya, dibacakan oleh Benedict Cumberbatch

Yang terhormat, Pak Germain,

Saya membiarkan keributan di sekitar saya hari ini mereda sedikit sebelum berbicara kepada Anda dari lubuk hati saya. Saya baru saja diberikan suatu kehormatan yang terlalu besar, yang saya tidak cari atau minta.

Tapi ketika saya mendengar kabar itu, pikiran saya tertuju, setelah pada ibu saya, adalah pada Anda. Tanpa Anda, tanpa tangan sayang Anda diperpanjang untuk anak miskin kecil seperti saya, tanpa pengajaran dan contoh Anda, tak satu pun dari semua ini akan terjadi.

Saya tidak punya banyak kehormatan semacam ini. Tapi setidaknya ini memberi saya kesempatan untuk memberitahu Anda apa yang Anda telah dan masih lakukan pada saya, dan untuk meyakinkan Anda bahwa usaha Anda, pekerjaan Anda, dan kemurahan hati Anda yang Anda berikan masih tinggal di salah satu murid kecil Anda yang, meskipun sudah bertahun-tahun, tidak pernah berhenti bersyukur pernah menjadi murid Anda. Saya menghormati Anda dengan sepenuh hati.

Albert Camus

Anthropology, Kurasi/Kritik

Ketika Dunia Modern Menarik Paksa Mentawai

Teu Kapik Sibajak, left, and Aman Aqwi Sakkukuret, members of the Mentawai tribe, on the island of Siberut in Indonesia.
Teu Kapik Sibajak, kiri, dan Aman Aqwi Sakkukuret, anggota suku Mentawai di Siberut. Kredit foto Sergey Ponomarev untuk The New York Times

DOROUGOK, Indonesia — Orang tua itu hanya memakai selembar kain, menunjukkan ototnya yang kekar dan kulit tebal karena telah puluhan tahun tinggal di hutan. Seperti banyak anggota sukunya yang lain, ia dipenuhi tato dari kepala sampai tumit. Walau ia terlihat kuat, ia telah sedikit bungkuk dan batuk-batuk karena terlalu banyak merokok tembakau.

Teu Kapik Sibajak nama orang tua itu. Suatu pagi ia mengambil kapaknya dan pergi ke hutan untuk menebang sebuah pohon sagu. Pak Kapik menghantam dengan pasti sampai ia dan beberapa kawannya berhasil menebang lalu menggelindingkan sebantang pohon yang berat itu ke rumahnya. “Kerja keras, ini!” katanya.

Tapi usahanya tak sia-sia: dedaunan pohon itu menjadi atap di rumah kayu panjangnya; tepung kanjinya bisa dimasak dan dimakan, atau dijadikan pakan babi, bebek dan ayam ternaknya.

Pak Kapik dan istrinya, Teu Kapik Sikalabai, adalah dua diantara sedikit orang Mentawai yang tersisa, yang hidup secara tradisional di hutan rimba, di dalam kepulauan terpencil Siberut.

Mereka, dan orang-orang seperti mereka, telah puluhan tahun melawan kebijakan pemerintah Indonesia yang menekan orang rimba untuk meninggalkan adat lamanya, dan menerima agama resmi pemerintah, serta pindah ke desa-desa bentukan pemerintah. Perpindahan itu, membawa juga dunia modern kepada anak-anak mereka, yang membuat pemisah  generasi makin melebar di suku Mentawai.

mentawai-3
Suku Mentawai telah hidup di hutan hujan tropis selama ribuan tahun. Kredit foto Sergey Ponomarev untuk The New York Times

Suku Mentawai, yang hari ini berjumlah sekitar 60.000 jiwa, adalah pemilik budaya langka Indonesia yang tidak terpengaruh Hindu, Buddha, atau Islam yang mengguyur selama dua millenia terakhir. Sebaliknya, tradisi dan kepercayaan mereka mirip dengan orang asli Austronesia yang datang ke kepulauan ini dari Taiwan sekitar 4.000 tahun yang lalu. Jika kebudayaan mereka menghilang, salah satu hubungan terakhir kita dengan penghuni Indonesia paling awal akan hilang bersamanya.

Kehidupan mereka yang sangat keras kini menjadi tantangan untuk anak-anaknya. “Mereka harus bekerja walaupun mereka sangat tua, sampai mereka tidak bisa bekerja lagi,” kata Petrus Sekaliou, anak lelaki keluarga Kapik. Pak Sekalio memakai pakaian ala barat, dan tidak seperti orang tuanya, ia bisa bicara bahasa Indonesia, bahasa nasional, dengan lancar.

Pak Sekliou, 42 tahun, hidup di desa Mongorut di luar hutan, sekitar 90 menit jalan kaki dari rumah orang tuanya. Ia bertani dan melakukan kerja serabutan di sana, dan berusaha mengunjungi orang tuanya setiap akhir pekan.

Ketika orang tuanya tidak bisa lagi menjaga diri mereka sendiri, Pak Sekaliou bilang, ia berencana untuk meninggalkan anak-istrinya, dan kembali ke hutan sampai orang tuanya meninggal. Cara lain — memindahkan orang tuanya ke desa, dimana banyak motor dan remaja bermain telpon pintar — akan terlalu membebankan usia renta mereka.

“Mereka bahagia di hutan,” katanya. “Inilah yang mereka tahu.”

Pak Kapik, ayahnya, berasal dari kasta tinggi yang disebut Sikkerei — dukun, penyembuh hutan dan penjaga kepercayaan animisme Mentawai. Ia dan istrinya bersikeras mereka tidak akan pergi kemana-mana.

“Saya tidak akan pernah pindah dari sini,” kata bu Kapik.

Sejak sampai di kepulaun Siberut sekitar 2,000 tahun yang lalu, orang Mentawai menjaga jarak dengan dunia luar. Sampai Indonesia merdeka di tahun 1945, dan pemimpin baru negara itu berusaha untuk menyatukan seluruh kepulauan dengan bahasa dan budaya yang sama, barulah kebudayaan Mentawai berubah.

Secara hukum, seluruh Warga Negara Indonesia harus menerima agama resmi Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Buddha. Tapi di Mentawai, seperti banyak pemeluk kepercayaan animisme Indonesia, menolak mengambil agama versi pemerintah.

Pada tahun 1954, kepolisian Indonesia dan para pejabat negara sampai di Siberut untuk mengirimkan ultimatum: Orang Mentawai punya tiga bulan untuk memilih Kristen atau Islam sebagai agama mereka, dan menghentikan praktik tradisional mereka, yang dianggap jahiliyah. Kebanyakan orang Mentawai memilih Kristen, karena agama Islam melarang memelihara babi, yang jadi salah satu elemen utama budaya mereka.

Selama beberapa tahun setelahnya, Polisi Indonesia bekerja dengan pejabat negara lain dan pemimpin agama, mengunjungi desa Mentawai untuk membakar hiasan rambut tradisional, dan artefak ritual agama lokal mereka yang lain.

Keluarga Kapik kabur ke dalam hutan untuk menghindari pemaksaan negara ini, namun tidak berhasil. Bu Kapik ingat bagaimana komandan polisi lokal melarang mereka membuat tato atau mengasah gigi, dua adat kebiasaan Mentawai.

“Saya sangat marah,” katanya. Jadi ia melawan.

Pada akhir tahun 1960, bu Kapik bilang, dia memutuskan akan menghiraukan larangan pemerintah dan membuat tato di kakinya. Komandan polisi saat itu, Nikodemus Siritoitet, melihat tato baru tersebut ketika ia mengunjungi keluarga Kapik di hutan. Ia menghukum bu Kapik dengan memaksanya berladang di bawah terik matahari selama satu minggu, tanpa dibayar.

“Menderita sekali,” katanya. “Saya tidak pernah berani untuk membuat tato lagi.”

Reimar Schefold, seorang antropolog Belanda yang tinggal bersama suku Mentawai di akhir tahun 1960, juga punya masalah dengan pak Siritoitet, yang keberatan soal penelitiannya di sana.

“Waktu itu, banyak warisan tua dihancurkan,” kata Dr. Schefold. “Ketika mereka membuat ritual, polisi akan datang dan membakar peralatan ritual mereka — ‘membakar Tuhan mereka,’ menurut mereka.”

Yang membuat khawatir keluarga-keluarga seperti keluarga Kapik adalah, jika mereka tidak ikut agama pemerintah, maka pemerintah Suharto yang waktu itu baru berkuasa, akan menuduh mereka komunis.

Hanya setelah turis Barat mulai mengunjungi orang rimba di tahun 1990, maka pemerintah lokal mulai mengakui adanya keuntungan ekonomi dalam mengijinkan suku Mentawai hidup bebas. Pada saat itu, satu generasi penuh telah dibesarkan tanpa pernah menyentuh adat tradisional.

Hari ini, menurut antropolog Mentawai Juniator Tulius, hanya sekitar 2000 orang Mentawai yang masih mempraktikan kepercayaan tradisional mereka.

Tarikan antara tua dan muda terus terjadi di desa. Tahun 2014, pemerintah Indonesia membuat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dua tahun yang lalu, didirikanlah sebuah puskesmas yang menyediakan pengobatan gratis di Saibi Samukop, sebuah desa di pinggir hutan.

Tapi seorang dokter di sana, Winda Anggriana, 26 tahun, bilang masih banyak orang yang menolak jasanya, dan memilih ke dukun di dalam hutan. “Sayang sekali,” katanya, sambil menyebutkan pasien-pasien dengan keadaan medis yang sebenarnya bisa diselamatkan, jadi meninggal karena tidak ke dokter selama dua tahun Anggriana di sana.

Perbedaan yang tajam juga hadir antara gereja-gereja, tentang bagaimana baiknya memperlakukan tradisi animisme Mentawai, yang masih dipercaya banyak warga desa. Di akhir Juli, gereja Lutheran di Mentawai merayakan 100 tahun agama itu menerima orang Kristen Mentawai pertama. Dalam sebuah wawancara, seorang pendeta Lutheran menekankan tidak akan ada sinkronisasi antara Kristen dengan kepercayaan animisme.

Sementara, Gereja Katolik Roma, yang telah berkali-kali meminta maaf atas tindakan mereka terhadap masyarakat suku asli di Amerika Latin dan tempat-tempat lain, lebih terbuka terhadap cara orang Mentawai mempraktikan tradisi asli mereka bersamaan dengan Katolik, kata Tangkas Dame Simatupang, Pastur Gereja Katolik Saibi. Pastur menambahkan, sebagai contoh, masyarakat Katolik Mentawai harus membuat tanda salib dengan jari mereka dulu, sebelum mereka menghubungi nenek moyang mereka.

Usaha-usaha untuk menghidupkan kembali tradisi Mentawai telah dimulai, bagaimanapun lambatnya. Indonesia memulai transisinya ke demokrasi di tahun 1998, dan generasi termuda Mentawai menjadi dewasa di masa yang tidak begitu mengekang. Aktivis telah berhasil mendorong untuk menambahkan budaya Mentawai di kurikulum sekolah-sekolah lokal. Hari ini, tetua Mentawai boleh menyembah dan berpakaian semau mereka.

Tetap saja, banyak orang Mentawai terseret jauh dari budaya mereka yang hilang akibat puluhan tahun opresi pemerintah. “Anak-anak saya tidak tahu tentang apapun soal budayanya,” kata pak Sekaliou, warga desa yang akan kembali ke hutan untuk mengurus orang tuanya.

Pak Sekaliou bilang bahwa ia kecewa dengan kehidupannya di desa, dan ia menanti-nanti saat bisa tinggal dengan orang tuanya nanti. “Secara pribadi, saya lebih memilih tinggal di hutan,” katanya. “Saya lebih bahagia di sana. Tidak perlu stres cari kerja tiap hari.”

Di suatu siang, ketika ia melihat ayahnya kembali dari memberi makan babi, ia menambahkan: “Generasi tua lebih bahagia daripada kami sekarang.”

mentawai-4
Pak Kapik mengurus ayam dan babinya. Anaknya yang berumur 42 tahun, Petrus Sekaliou, sudah memakai pakaian modern dan tinggal di desa di luar hutan. Kredit foto Sergey Ponomarev for The New York Times
Filsafat, Politik, Racauan

Politickle: Antara Trump & Rizieq

Secara global, salah satu ketakutan terbesar adalah bangkitnya kembali fasisme, rasisme, primordialisme dan chauvinisme di dunia. Menjadi fasis, rasis, primordial, dan chauvinis, bagi siapapun yang dididik etika moral dasar, jelas tidak benar. Tapi tahun ini suara-suara parau diberi ruang yang luar biasa besar oleh media massa dan media sosial. Karena formula lama, Bad News is Good News, yang diprakarasai oleh rating dan click bait kapitalisme internet, kini mencapai titik kulminasinya yang paling parah dalam berita pelintiran dan hoax.

Semua yang aneh dan lucu tiba-tiba jadi serius. Filmmaker Michael Moore tersentak pada kenyataan ini, hingga ia membuat drama pertunjukkan Trumpland, menghimbau agar masyarakat lebih serius menanggapi Donald Trump, yang ia anggap lebih jitu membaca keadaan Amerika Serikat yang sedang morat marit menghadapi kesenjangan sosial dan pendidikan. Perkiraan Moore benar, Trump menjadi presiden terpilih, walaupun kalah suara–karena ternyata Demokrasi Amerika ada di belakang Indonesia. Mereka tidak pernah benar-benar memilih langsung presidennya, Trump dimenangkan oleh Electoral College, sekelompok orang yang ‘mewakili’ populasi negara-negara bagian. Orang-orang ini tidak mewakili rakyat sepeti halnya parlemen, karena itulah banyak demonstrasi di Amerika akhir-akhir ini yang tidak mengakui Trump sebagai presiden mereka.

Saya jadi ingat kritik Hae Joon Chang tentang doktrin liberalisme barat. Menurut Chang, negara-negara macam Amerika dan Inggris, ditenggarai oleh Bank Dunia dan IMF berusaha membuat negara-negara berkembang mengikuti kebijakan ekonomi dan politik yang mereka desain tapi tidak pernah mereka alami sendiri. “Do what we say, don’t do what we did,” kata Chang meniru omongan ekonom liberal macam Milton Friedman. Namun berbeda dengan Chang, yang memandang doktrin liberalisme macam itu murni negatif, saya malah melihat sisi positifnya untuk Indonesia saat ini: bahwasannya presiden kita masih dipilih oleh rakyat yang ‘riil’, sementara kekuatan politik macam electoral college Amerika, tidak terlihat jelas di sini. Tapi bukan berarti tidak ada kekuatan lain selain suara rakyat di Indonesia. Untuk menang seorang capres harus punya backingan politik. Dalam konteks budaya kita, backingan ini adalah hantu-hantu feodal berwujud kartel dan oligarki politis yang bersembunyi dalam kemaluan mereka terhadap negara-negara maju yang mendoktrin demokrasi (baca: Barat). Kita bangsa yang memang jagonya berpura-pura, sementara Amerika Serikat lebih sering main frontal dan pamer.

Konstellasi politik kita pasca 1965 memang selalu mengikuti Amerika–Ketika Amerika pintar kita ikut macam orang bodoh yang mau belajar, dan ketika Amerika bodoh seperti sekarang ini, kita seperti tak mau kalah: kita buat kebodohan jadi populer. Orang-orang yang selama ini kita anggap becandaan, tiba-tiba naik ke ranah politik mainstream. Sebut saja Habib Rizieq, yang dengan modal suara lantang dan omong kasar, dianggap titisan Umar bin Khattab di Indonesia–bahkan bagi beberapa orang yang saya kenal, lidah sang Habib lebih tajam dari pedang Khalifah Umar. Untuk yang satu ini saya sedikit setuju, karena lidah Habib Rizieq memang senjata yang lebih mutakhir dari pedang orang Arab jaman dulu–lidahnya bermata dua. Satu tajam menohok ke atas dengan kata-kata kasar yang diamini kaum kelas menengah ke bawah, satu tajam ke bawah menipu kelas yang mengamininya. Kenapa saya bisa bicara begitu? Anda baca saja tesis sang Habib yang menyebar viral di media sosial. Tesis  itu adalah penjabaran strategi politik yang jitu.

Rizieq

Rizieq menjelaskan pemaknaan-pemaknaan pancasila dari rezim ke rezim. Ia lalu mengambil satu potongan sejarah, piagam Jakarta, dan mengakuinya sebagai Pancasila yang murni: pancasila yang Islami. Dalam tesisnya ia menjelaskan bahwa ia dan FPI yang dipimpinnya sering bersebrangan dengan banyak golongan lain, dari golongan yang paling ia hina-dinakan, Sepilis (Sekuler, Pluralisme, dan Liberalisme), sapai golongan Islam konservatif sendiri sepeti Partai Keadilan (PK), yang lebih percaya pada Syariat Islam versi Piagam Madinah, berlawanan dengan Rizieq yang percaya pada Piagam Jakarta sebagai adaptasi piagam Madinah di Indonesia (Shihab, 2012).

Nama Rizieq yang menggema, terlebih lagi dalam kasus penistaan agama Ahok, membuat banyak orang di luar lingkaran simpatisan FPI yang minor itu, menjadi kesal. Kekesalan menjelma rasisme dan stereotipe terhadap Arab-Indonesia, khususnya golongan habib dan keluarga keturunan Nabi Muhammad di Indonesia yang bukan hanya Rizieq Shihab. Sastrawan Ben Sohib, misalnya, menuangkan kegalauan ini tanpa menyebut-nyebut nama Rizieq dalam tulisannya di tirto.id. Konteks ‘panasnya’ penggorengan Sang Imam Besar FPI itu, membuat saya pribadi merasa bahwa tulisan itu sedikit banyak diarahkan pada congor mulut Rizieq. Sohib, yang juga keturunan marga Shihab, seperti menghimbau orang agar tidak stereotipe dan rasis hanya karena ulah Rizieq yang doyan mengkafirkan orang.

Kembali ke hal yang menggelikan, FPI yang biasanya terkenal dengan ormas bersifat paramiliter yang sering main fisik dan jadi vigilante syariat Islam, beberapa bulan ini sering main jadi korban (play victim). Kini mereka sering berkoar bahwa mereka dizalimi, mereka digebuki preman, dan lain-lain. Bahkan ketika beberapa simpatisan Ahok balas menuntut Rizieq atas penistaan agama non Islam yang ia lakukan dalam dakwahnya–pasal yang sama yang menjerat Ahok–ia langsung berkilah jadi korban dan mengcopy paste semua langkah-langkah Ahok sebelum sang gubernur kejam, tukang gusur, dan tiran modernis itu disidang. Entah kenapa, langkah bela diri Rizieq ini sedikit banyak mengingatkan saya pada pidato Melania Trump yang plek-plekan meng-copy-paste pidato Michelle Obama. Lucu kan? Iya lucu, sampai Trump menang, bahkan dengan cara-cara menggelikan semacam ini.

Dari sini kita tahu, bahwa kemungkinan Rizieq menang dalam perjuangannya menerapkan Syariat Islam untuk muslim Indonesia masih ada. Dia sendiri membeberkan fakta dalam tesisnya, bahwa syariat Islam sudah masuk ke dalam berbagai ranah kehidupan sosial-politik-ekonomi masyarakat Indonesia. Dia memaparkan produk-produk hukum yang mengandung syariat Islam, kebijakan-kebijakan pendidikan yang didominasi agama Islam, serta banyak hal lain yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Seperti Trump, Rizieq paham politik kebodohan: bahwa kuasa politik adalah kuasa yang membutuhkan penyebaran imajinasi dan pengimanan terhadap imajinasi itu oleh massa. Ketika Rocky Gerung bilang bahwa negara memiliki peralatan paling lengkap untuk menyebarkan Hoax, ia lupa bahwa di zaman ini, perlengkapan yang lengkap itu tidak lagi milik negara. Perlengkapan itu adalah milik kaum aristokrat  oligarki politik, seperti Donald Trump atau para kaum borjuis Indonesia. Rizieq punya jalur ke sana dengan berbagai macam traktat politik yang ia buat bertahun-tahun selama FPI menjadi anjing penguasa dulu. Kini anjing itu telah diangkat menjadi pelayan, yang sudah boleh punya suara dan tidak boleh menggigit lagi. Hanya boleh menyalak kadang-kadang, dan bermain teraniaya, seperti layaknya film-film Motinggo Busye yang melibatkan pembantu dan majikan.

Namun, seperti Marx yang ia kritik dalam tesisnya, perjuangan Rizieq belum selesai dan sepertinya takkan pernah selesai. Toh ia dan FPI-nya, kini sudah masuk ke ranah-ranah yang dilupakan pemerintah, dari masalah orang miskin, sampai aktivisme tani dan lingkungan. Tak percaya, cek saja video profil pesantren Habib Rizieq di akhir esei ini. Pada akhirnya kita semua harus berjuang untuk mewujudkan dunia yang ideal untuk kita. Kebanyakan orang cukup puas dengan mewujudkannya di rumah bersama keluarga dan anak-anak yang cukup mereka kasih uang, makan, serta pendidikan agama. Sisanya, seperti saya, akan selalu berusaha mewujudkan dunia dimana hasutan Rizieq cuma jadi obrolan warung kopi yang bisa dibicarakan berapi-api dengan saudara dan sahabat-sahabat, menajamkan pikiran dan kadang urat syaraf, tapi habis itu kembali ngopi dan ketawa-ketiwi menunggu mati.