Alam, Cinta, Puisi

Antara Tanah Liat dan Batu Kali

file yang terkubur, mungkin terjemahan atau sangat terpengaruh Rimbaud

Photo by cottonbro on Pexels.com

Cinta tidaklah memuaskan dirinya sendiri
atau mengasihi diri sendiri

Cinta memberikan ruang pada yang dicinta
& membuat surga dalam keputusasaan neraka
Keliatan tanah membentuk kemanusiaan
rela terbentuk dan hilang oleh alam

Cinta hanya ingin memuaskan dirinya sendiri
untuk mengikat orang lain demi kesenangan pribadi
bahagia atas keterbatasan yang dicintai
dan membangun neraka atas nama surga

Kekerasan tersapu air dan menjadi bercahaya
licin, menjebak, dan membawa kekerasan
kita adalah daun yang terbawa di antara
Tanah liat dan batu kali

Depok, 5 Juli, 2008


Terima kasih telah membaca puisi ini. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, traktir saya kopi dengan menekan tombol berikut ini:

Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Vanili

Ivan dan Lily malam ini
Tergeletak di jalan sepi
Dua kekasih hati
Sudah dipisahkan mati

Kebut-kebut, rasa menggebu
Gebu-gebu dada berpacu
Pacu-pacu menuju ayahmu
Malam ini kulamar kamu

Berdua sepulang kerja
Lily dan Ivan menatap senja
Dari atas flyover Jakarta
Ivan menyatakan cinta

Sudah bersahabat tahun ke lima
Sudah lewat banyak masa
Dan gagalnya banyak cinta
Tentu saja, Lily bilang iya

Tapi kau harus temui aku punya Papa

Cinta, Puisi

Ini Kabar Dia Yang Kau Tanyakan

Buang ke bintang-bintang, cerita kita pernah jadi binatang berpunuk dua di sarang peri-peri hutan kota ini.

Kadang lara ada dan tiada, seperti cintamu yang kau sembur di lidah dan ludahnya, hingga semburatnya di dadamu, di perutmu, tapi tidak di mulutmu.

Mulutmu hanya untuk ku. Bibirmu adalah liang menuju sungai-sungai waktu, surai-surai di derai-derai pelangi; kaki-kakinya menghubungkan lidahmu dan lidahku.

Dan lidahku di liangmu, kau menggelinjang dan dawai-dawai ribuan syarafmu kumainkan dengan jari-jemari ajaib ku. Desah, resah akan akhir sebuah kisah yang bisa jadi sangat menyakitkan karena semua ini tak terasa salah.

Namun kita tahu ada tabu ditabuh dalam ritme tubuh kita. Maka kita saling menolak cinta, dan kita buang kata-kata ke angkasa.

Menjadi meteor-meteor yang menabrak bintang-bintang. Memandu arah jalan pulang, jiwa-jiwa yang mengejar kerinduan.

Jakarta, 2020.