Filsafat, Memoir, Racauan, Uncategorized

BANAL

Seorang ibu berhijab syar’i, suka bermain lelaki. Ia seorang pengusaha sukses dengan suami yang tak mampu mengejar karir dan memilih untuk merawat anak-anaknya di rumah. Pasangan yang tak percaya kontrasepsi ini punya anak lima. Namun si istri percaya kontrasepsi penting ketika selingkuh. Suami kadang-kadang kalau tidak sedang pengajian atau mengurus anak, bermain perempuan dengan menggoda gadis-gadis muda yang bekerja menengah ke bawah: pelayan kafe, SPG, atau penjaga gerai kosmetik di Mal. Ia lumayan tampan, dan ia tak bisa mengeluarkan uang banyak karena istrinya nanti pasti tahu. Ia punya perasaan istrinya selingkuh, tapi perasaan hanya perasaan. Istri juga punya perasaaan suaminya selingkuh, tapi ya sudahlah namanya lelaki–paling tidak ia cuma akan menipu gadis karena ia tak punya uang. Anak-anak masuk sekolah agama islam internasional plus plus. Shalat dan baca Quran dipaksa setiap hari, kelas dengan bahasa Inggris. Orang tua pun berusaha kelihatan salih di depan kolega, keluarga, apa lagi anak-anak. Mereka percaya pada agama, umroh setiap tahun, dan akan naik haji dalam dua tahun ke depan. Menjadi bapak dan ibu haji.

Cerita lain adalah tentang seorang pengacara kasus korupsi yang sering ditraktir perempuan mahal oleh kliennya. Perempuan-perempuan impor dari luar negeri yang harganya jutaan per malam, menari seksi dan siap untuk ditiduri. Pengacara punya beberapa istri dan beberapa anak, tapi ya kenikmatan duniawi harus dinikmati karena hidup cuma sekali. Dengan Donald Trump di Amerika Serikat terang-terangan menghardik perempuan, ia mulai bicara di sosial media tentang pentingnya punya simpanan perempuan, bahwa istri yang baik adalah yang mengijinkan suaminya punya simpanan, toh sudah dikasih uang tiap bulan untuk ia belanja. Tapi istri yang baik tak boleh main lelaki. Harus setia. Cuma suami yang boleh macam-macam. Suami yang kaya dan bertanggung jawab, berhak untuk jadi bajingan.

Lalu ada remaja usia 20an yang sedang keranjingan bermain seks, karena pacarnya mengecewakan, keluarganya berantakan, dan ia ingin menyakiti dirinya sendiri dengan menyetubuhi lelaki manapun yang menunjukkan minat. Semakin asing dan semakin jahat semakin baik. Hisap kontol hingga tersedak tak bisa nafas, semua lubang dieksplorasi sampai sekali masuk rumah sakit karena pendarahan, tak kapok juga. Karena sakit tandanya masih hidup, dan sakit fisik tak ada apa-apanya dibanding sakit mental. Semua orang–kawan, keluarga, mantan pacar harus lihat betapa hancurnya dia, betapa menderitanya ia menyakiti dirinya sendiri karena mereka.

Seorang seniman multitalenta merasa jantan dengan  menjadi biseksual dan menebar benih promiscuous yang dia bilang liberalisme. Menipu lelaki dan gadis muda yang ia suka dengan berbagai macam ideologi kiri-kanan-atas-bawah, kebebasan berpikir dimulai dengan kebebasan tubuh, mengatur orgy, poliamori, apapun itu. Ia penyair, sutradara film dan teater, pelukis, fotografer, semua seni kontemporer (baca: tak ada yang mengerti kecuali kurator yang jago bicara dan mengarang-ngarang tentang kebesaran seni murni). Buku terbaru yang katanya realisme magis baru keluar, penerbit bayar editor cukup mahal untuk bikin bukunya minimal bisa dibaca. Ia suka menghina-hina penulis populer macam Tere Liye atau Dewi Lestari sebagai terlalu konvensional dan komersil, sementara karya-karyanya yang avant garde jauh lebih tinggi. Modus proof reading novel penulis muda nan cantik, atau bimbingan skripsi jadi senjata dapat mangsa seksual baru. Punya sahabat di media membesarkan namanya, karena sahabat-sahabatnya memang jago bicara dan mengarang seperti si kurator.

 

Apakah mereka bahagia?

Mendengar dan melihat mereka, aku jelas tidak bahagia. Begitu banyak masalah di dunia ini yang harus diselesaikan. Anak-anak lahir tanpa diminta, dibuang atau diasuh tanpa pengetahuan yang memadai. Lalu ketika melihat kekacauan ini, apa yang akan mereka pikirkan tentang dunia? Di belahan bumi yang lain jutaan orang menjadi pengungsi dan tercerabut dari tanahnya. Di pulau yang lain, sebuah masyarakat dimabukkan supaya bodoh, dan tanahnya yang penuh emas dikeruk sampai habis-habisan. Dimiskinkan, dianggap binatang. Hutan-hutan menjelma kebun sawit, dan mereka hidup damai di dalamnya dipaksa melupakan bahasa, agama, dan budayanya. Diberadabkan. Siapa yang peduli? Apa orang-orang yang bahagia itu peduli?

Aku peduli dan aku mengandung kesakitan tak terperi. Setiap hari aku berpikir apa yang harus kulakukan untuk membuat dunia ini lebih baik. Seorang bijak mengatakan, mulai dari lingkaranmu sendiri. Keluarga, teman, kolega. Bilang salah adalah salah dan benar adalah benar. Tapi hidup tidak pernah hitam putih. Ia berwarna warni yang campurannya tak jelas lagi. Mencari identitas diri menjadi semakin sulit. Siapa orang yang ada di cermin? Bagaimana kita harus bergerak? Adakah kehendak bebas?

Yang jelas Tuhan sudah lama mati–bahkan ia tak pernah hidup. Ia cuma bagian dari akal dan imajinasi untuk membuat kita tahan atas dosa-dosa kita sendiri, cara mencari penebusan. Tidak adil menyalahkan manusia atas semua kekacauan dan memuja Tuhan ketika kebaikan terjadi. Tidak adil pula menyalahkan Tuhan atas derita dan melupakannya ketika kenikmatan datang. Yang adil: lupakan Tuhan. Semua orang harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri-sendiri. Walaupun pilihan itu terkungkung sistem, tergantung banyak faktor, tapi tanggung jawab tetap harus diemban oleh pribadi-pribadi. Aku akan menanggung dosa-dosaku, dan pahala-pahalaku takkan mungkin menebusnya. Khilaf bukan berarti tidak salah. Pikirkan dosa, lupakan pahala. Tapi kalau Tuhan tidak pernah ada, maka dosa itu harus dipertanggung jawabkan pada siapa?

Semua orang akan menanggung dosanya sendiri-sendiri. Masyarakat akan menghukum, dan kalau tidak ketahuan, maka dirinya akan menghukum dirinya sendiri dengan semua kesepian dan kehampaan. Adakah orang yang luput dari itu? Adakah seorang Ma’rifat, yang begitu tenangnya menghadapi kekacauan dunia ini karena ia paham logika berpikir Tuhan-yang-tak-pernah-ada? Menurutku tidak ada. Ketenangan itu adalah penggunaan imajinasi dan ketidakpedulian tingkat tinggi–bahkan membunuh bagian-bagian syaraf tertentu. Untuk tidak sakit hati, janganlah punya hati.

Semua kita terjebak Samsara. Dan tak ada Moksa atau Nirwana, sampai kita mati dan melihat sendiri. Sementara yang hidup akan tersiksa dengan sakit dan kenikmatan yang tak berujung. Beberapa dari kita bisa berpura-pura kuat; padahal bukan kekuatan yang ada di situ, tapi kekebasan, kelumpuhan. Seperti mereka yang menyingkirkan rasa bersalah dan kekhawatiran dengan candu, seks, opium, dan agama.

 

 

Cinta, English, Filsafat, Memoir, Puisi, Racauan

Et Tristis Laetitiam

Nobody wants to love anybody
If there is love, its not a choice
Because if you want to love somebody
You don’t love, you’re just lonely

I

You see yourself in the mirror

and people say,
you should love yourself first
before you love others
but no matter how beautiful you are
if the love its not there, then its not there

Then like the old cliche
of gratefulness and making happiness
you make the best of yourself
and try to love what you are

and that’s not too bad, though you certainly fail
you never ask to be born anyway

Since only narcissists
who love themselves selfishly
and condemned to be drown
in the self-absorbed ego-maniacal pond

Thus, unable to love others truthfully
socially crippled as a pathological psychopath
or destructive bipolar, hurting others around them

Nothing good comes out of beautiful narcissist

except probably some good selfies taken from one angle
you don’t want to look bad with that amount of ego
and in the end, self mutilating is the only answer
just to make you keep loving yourself

vincent-color-alt
“Vincent Van Gogh Self-Portrait with Cut Ear” by Eric Wayne. 

II

Nobody wants to love anybody
because other people is hell
but when it comes like a disease
like death, it is inevitable
like life, it will grow
and like desperation
you will die with it

But love is not a wolf, its not your desire
its not a matter of feeding which wolves
you can deprived it of actions or efforts
you can buried it alive with distractions
but it will stay where it is
alive and kicking

And there will always be moments
that make a glimpse feels like a lifetime
in between your thoughts and works
or on your bed, when you look at the ceiling

You see faces of your loved ones:
one that got away, one that died,
one that never love you back,
and one that sleeps beside you
as a complete stranger

And those moments, my friends,
is what they called

melancholy.

mel2

 

Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi, Racauan

Esser

Possible-phone-wallpaper-131.jpg

There is a place where we don’t have to choose. We can love each other freely, out of differences or social restraints. This place is an island of mystery and secrets; our mystery, our secret. It is a garden that we nurture, sacred, therefore we need to protect it with all our might.

It has to be kept from the outside world. And the outside has to be kept from it. For when a breach exist, both will ruin one another, and consume us like the giant snake of time. You, me, and the world we live in will cease to exist, thus end life as we know it.

So let us protect it with complications; create a deep labyrinth with tricks and traps, with monsters and demigods. You have your minotaur, I’ll have my Medusa. But beware of the green-eyed cyclops luring from behind the mountain. For it is a blind Shiva, with Uoroboros on his neck, ready to destroy anything on its path. Its eyeball is a mirror of a bitter truth, that will open any secrets, expose every sin, and use it to kill us.

It will pollute our island, defile our garden, and we will be transformed from angels and fairies to be a two shouldered beast. We will eat each other, and when we’re done, we will eat ourselves. From carcasses of our memories we will make our body; a chimera, the undead.

Alas, even to imagine it we quiver with fear, more than we fear death. For death is nothing but eternal sleep, but this clash of two worlds, is a big bang to eternal nightmare. She run through frozen fire and burning ice, and we’ll be her tormented captive. We’ll be forgetful of each torture, so every time we die, we’ll be revived with fresh memories to run with her and die again and again and again…

Thus, to avoid that mare, we meet each other’s eyes, and we lie truthfully. So truthful that we come to believe, that there was no secret island, no sacred garden. Just lonely people who happened to have the same imagination, but never share it to one another.

Nobody will ever know our great golden copulations, our Dionysian ritual, but ourselves, individually. Just a glimpse of an eye, is a thousand years in that island, that secret garden. Keep that secret, and we can die in peace and dignity in reality, while live happily ever after in the island.

Lie to each other, live with each other, life for each other, love one another.

Filsafat, Racauan

Racauan Tentang Lautan dan Gurun

Putar video ini sambil membaca.

 

Pikiran bukanlah sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Pikiran adalah lautan yang ketika permukaannya tenang, maka di dalam bertemu arus-arus dengan perbedaan suhu, dan ketika badai, di dalam tersembunyi ketenangan yang tidak disadari. Kedalaman pikiran setiap orang berbeda-beda. Mereka yang dangkal, tidak memiliki banyak kehidupan di pikirannya, mereka yang dalam memungkinkan kehidupan.

Kedalaman pikiran yang sedalam lautan akan menghasilkan kehidupan bukan hanya di laut, tapi di pulau-pulau pikirannya. Saya tidak percaya pepatah lama bahwa manusia bukanlah pulau. Kita bisa menjadi sebuah pulau, di tengah lautan. Seseorang dengan pikiran yang dalam akan punya banyak pulau, dengan berbagai macam bentuk, tempat ia merenung, tertawa, menangis sendirian. Karena hanya ada dua tempat dimana orang bisa benar-benar sendirian, terputus dari manusia lain, dari alam: di dalam pikiran dan di dalam kuburan.

Yang menyedihkan adalah orang dengan pikiran yang dangkal, maka ia hanya punya sedikit kubangan air, dan sisanya gurun pasir dengan tanah gersang. Beberapa orang dengan pikiran dangkal ini punya keberuntungan, ketika mereka menemukan oase dalam bentuk cinta atau agama–itulah kubangan air tadi. Yang paling menyedihkan adalah mereka yang merasa memiliki oase, menghabiskan hidupnya untuk mengejarnya, untuk mengobati kehausan keberadaanya, namun hanya menemukan fatamorgana.

Kaum fatamorgana ini hidup tanpa banyak referensi, dan dengan buta mengikuti ilusi yang ditunjukkan oleh orang lain. Orang-orang yang jauh dari cahaya Tuhan: kreatifitas. Mereka merasa menemukan jalan yang lurus, jalan yang sudah dibuat orang lain, tanpa sadar bahwa jalan itu tidak akan membawa mereka kemanapun. Beberapa dari mereka hidup dengan ambisi yang sedangkal pikirannya, ambisi akan kekayaan dan kekuasaan. Visi mereka adalah keagungan diri, dan hasrat untuk menguasai orang lain, menguasai alam sekitarnya. Mereka yang disebut orang-orang serakah.

Tapi keserakahan punya akar yang lebih berbahaya, akar yang merusak semua hal di dalam kehidupan: rasa iri, syirik. Inilah sumber penyakit hati, ketika seorang makhluk berakal membandingkan dirinya dengan yang lain, dan mulai menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tanpa ada rasa syukur terhadap eksistensi diri sendiri, tanpa punya pencarian tentang apa yang sebenarnya ia butuhkan. Segala cara dijalankan untuk mendapatkan identitas itu, memuaskan hasrat itu, namun tidak mau melewati proses yang dilewati orang lain. Iri hati adalah matahari gelap yang sangat panas, yang berusaha untuk mengisi kehampaan dengan fatamorgana. Kekosongan, diisi kekosongan, menghasilkan sebuah energi jahat yang menghancurkan dirinya sendiri dan segala yang ada disekitarnya.

Lalu bagaimana caranya hidup? Bagaimana caranya membuat lautan? Bagaimana caranya memperdalam pikiran?

Sederhana, ingat perintah pertama salah satu agama terbesar di bumi ini: IQRA. Bacalah. Bacalah buku, bacalah manusia, bacalah keadaan, bacalah alam, bacalah diri sendiri. Bacalah sampai habis. Setelah selesai membaca, refleksi dan evaluasi akan muncul dengan sendirinya. Air kehidupan menjelma lautan, lautan memberi benih-benih kehidupan. Dengan membaca, muncullah lautan di gurun, lalu perlahan muncullah makhluk hidup di dalam laut, yang berevolusi menjadi berbagai macam jenis. Suatu hari ledakan-ledakan bawah laut membuat pulau-pulau. Di pulau-pulau kau bisa mulai menulis, mendesain, membuat tempat-tempat tinggal yang paling sempurna untukmu, yang bisa kau kunjungi dalam setiap kesedihan, kemarahan, kebingungan, atau kesepian. Dan di satu titik, kau bisa mengajak orang lain mengunjungi pulau-pulaumu.

Ini adalah salah satu pulauku, kau boleh datang kemari dan kita bisa berbincang berdua. Dan ketika kita berbincang, kau sedang membawa bagian dari diriku ke dalam laut pikiranmu. Hingga suatu hari kuharap aku bisa berada di pulau mu. Kita bisa berbincang di pulau yang sama, bahkan ketika aku telah jauh darimu.

Dan kita tidak akan pernah kesepian, sesesepi apapun kenyataan kita.