Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian V: Emas Yang Jadi Abu, sebuah Kesimpulan

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Baca dari awal bagian I 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

0_1024_ripleyscroll
Alkimia, salah satu peninggalan Zaman Keemasan Islam, yang berusaha mengubah benda-benda jadi emas. Walau hasilnya gagal, tapi ini menjadi dasar ilmu Kimia modern.

Standar Emas?

Dalam usaha menjelaskan kemunduran intelektual dunia Islam, penting untuk menunjuk beberapa faktor penting: otoritarianisme, pendidikan buruk, dan kurang dana (Negara Muslim menghabiskan dana pendidikan lebih rendah daripada riset dan pengembangan di negara berkembang, dalam presentase PNB-nya). Tapi alasan-alasan ini terlalu luas dan masih kasar, dan membuat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Di level yang lebih rendah, Islam mundur karena ia gagal untuk menawarkan cara untuk menginstitusionalisasi pemikiran bebas. Karenanya, ia gagal untuk menggabungkan antara iman dan rasio. Di banyak titik, masyarakat Islam lebih mundur bukan hanya dibanding dengan dunia Barat, tapi juga lebih mundur dari masyarakat Asia. Dengan beberapa negara pengecualian, setiap negara di Timur tengah yang menjadi bagian dunia Islam, dipimpin oleh otokrat, sekte Islam radikal, atau kepemimpinan suku. Islam tidak memiliki tradisi dalam memisahkan politik dan agama.

Kejatuhan peradaban Islam dan kemunculan peradaban Kristen adalah perkembangan yang memalukan untuk kaum Muslim. Karena Islam cenderung menempatkan kekuatan politiknya melalui klaim bahwa agamanya lebih tinggi dari agama lain, kemunduran kekuasaan duniawi Islam menimbulkan pertanyaan mendalam di mana kesalahan terjadi. Kurang lebih beberapa abad belakangan ini, banyak pembaharu Muslim berdebat, bagaimana cara mendapatkan kembali kehormatan yang hilang. Di periode yang sama, dunia Muslim mencoba, dan gagal, untuk membalik keadaan dengan meminjam teknologi Barat dan ide-ide sosial politiknya, termasuk soal sekularisme dan nasionalisme. Sebaliknya, rasa “modernisasi” ini justru membuat banyak Muslim jauh dari modernisasi. Ini menimbulkan pertanyaan baru: Dapatkah atau haruskah pencapaian Islam di masa lalu menjadi standar untuk Islam masa depan? Lagipula, sudah wajar untuk mengatakan, seperti yang Presiden Obama bilang, pengetahuan tentang sains Arab di zaman keemasan bisa bagaimana pun mendorong dunia Islam untuk berkembang sendiri, dan tidak begitu membenci Barat.

Cerita tentang sains Arab menawarkan jendela bagaimana hubungan antara Islam dan modernitas; mungkin juga, ia memegang prospek Islam kembali ke prinsip-prinsip yang ia sangat butuhkan untuk makmur, seperti persamaan hak antar gender, aturan hukum, dan kehidupan sipil yang bebas. Tapi kebanyakan orang Muslim hari ini lebih banyak berpikir bahwa kehidupan yang baik ditentukan dengan kembali kepada masa lalu yang murni dan saleh — dan bentuk ini terbukti beracun ketika berhadapan dengan modernitas. Islamisme, sebab utama kekerasan yang sering kita lihat di dunia sekarang sayangnya sangat dekat dengan sebuah doktrin yang ditandai nostalgia dalam pada era Islam klasik. Hingga hari ini, bilang bahwa al-Quran tidak setara dengan Allah bisa membuat orang dicap kafir.

Namun tetap saja, perkembangan intelektual dan keterbukaan budaya pernah terjadi di masyarakat Arab. Jadi sepanjang ingin melihat masa lalu, nostalgia salah yang fanatik bisa dijinakan. Beberapa Muslim pembaharu telah menunjukkan bahwa banyak Muslim di abad pertengahan menggunakan rasio dan ide modern sebelum masa modern, dan menggunakannya tidak berarti tidak saleh. Tidak juga berarti keduniawian mengalahkan akhirat. Di tataran intelektual, usaha ini bisa diperdalam dengan menantang ortodoksnya Ash’ari yang telah mendominasi Islam Suni selama seribu tahun — yaitu, dengan menanyakan apakah al-Ghazali dan kaum Ash’ari-nya benar-benar mengerti alam, teologi dan filsafat lebih baik daripada kaum Mu’tazilah.

Tetapi ada alasan-alasan kenapa dorongan untuk meniru nenek moyang Muslim, bisa jadi salah arah. Salah satunya, Islam abad pertengahan tidak menawarkan standar politik yang pantas. Jika dibandingan standar Barat, Sains Arab Zaman Keemasan Islam bukanlah Zaman Keemasan untuk Kesetaraan. Ketika Islam dibilang lumayan toleran dengan penganut agama lain, toleran hari ini berbeda dari toleran zaman Muslim (ataupun Kristen) awal. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis dalan Yahudi dalam Islam (1984), memberikan hak yang sama kepada umat dan non-umat tidak hanya dilihat sebagai hal aneh, tapi juga “kelalaian dalam bertugas.” Yahudi dan Kristen adalah warga nomor dua dalam status sosiopolitis ketika awal zaman Muhammad, dan tekanan kekhalifahan Abbasid juga termasuk persekusi dan pemusnahan gereja dan sinagog. Zaman Keemasan juga era dimana perbudakan terhadap orang dengan kelas lebih rendah terjadi secara luas. Dengan semua pencapaian abad pertengahan Arab, cukup jelas bahwa sejarah sosial dan politisnya tidak bisa dipakai sebagai standar hari ini.

Namun ada banyak lagi alasan fundamental kenapa tidak masuk akal untuk menekan dunia Muslim agar kembali ke bagian masa lalunya yang menghargai rasio dan penelitian bebas; kembali ke masa Mu’tazilah tidaklah cukup. Bahkan aliran Islam yang paling rasional pun tidak pernah menekankan pentingnya rasio. Seperti yang dikatakan Ali A. Allawi dalan Krisis Peradaban Islam (2009), “Tidak ada aliran pikiran-bebas dalam Islam klasik —  seperti Mu’tazilah —  yang bisa menerima ide putusnya Allah-Manusia dan mengkritisi validitas al-Quran, walaupun mereka mendukung filsafat rasio.” Maka, di tahun 1889, akademisi Hungaria Ignaz Goldziher mencatat di eseinya “Perilaku Islam Ortodok kepada ‘sains kuno’” bahwa bukan hanya Ash’ari tapi juga Mu’tazilah yang “membuat banyak risalah polemik terhadap filsafat Aristotelian dan logika secara khusus.” Bahkan sebelum serangan al-Ghazali pada kaum Mu’tazilah, membaca filsafat Yunani tidaklah aman di luar kondisi tertentu, itu pun sifatnya sementara.

Tetapi yang lebih penting, mempopulerkan aliran rasionalis yang lama tidak akan mengajak orang Muslim lebih jauh dalam merefleksikan masalah teologi-politik Islam. Atas semua bantuan besar dalam menemukan kembali filsuf Arab yang berpengaruh (khususnya al-Farabi, Ibnu Rushid dan Musa bin Maimun/Maimonides) bisa menyediakan sebuah reinterpretasi Islam yang menantang prinsip pemerintahan komprehensif agama tersebut, dalam cara yang secara bersamaan meyakinkan orang Muslim bahwa mereka benar-benar kembali ke ajaran fundamental Islam ketika memakai sains dan filsafat. Karena belum ada ajaran di tradisi Islam yang bisa mengkritik agamanya sejauh Luther dan Calvin di Kristen.

Walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri.

Ada alasan terpenting kenapa tidak perlu mendorong orang Muslim kembali ke masa lalunya: walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri. Hari ini, kritik Muslim terhadap agamanya hanya dihargai sejauh ia bisa membuat orang Muslim lebih saleh dan rohaninya tidak korup. Dan kebanyakan kritik kaum Muslim adalah ke luar agama Islam, ke Barat. Praduga ini — apa yang disebut Fouad Ajami (merujuk dunia Arab) sebagai “sebuah tradisi politik untuk memerangi rasa rendah diri” — jelas jadi masalah utama Islam. Itu membuat segala informasi yang berlawanan dengan kepercayaan ortodoks jadi irrelevan, dan itu juga menutup debat ilmiah dan sejarah Islam sendiri.

maxresdefault
Salah satu penceramah dengan teknik al-Ghazali yang cukup terkenal hari ini adalah Zakir Naik. Berbeda dengan Mohammed Yusuf, Naik menggunakan logika yang diputarbalik, menghakimi agama dan kepercayaan lain, dan melakukan pertunjukkan-pertunjukkan spektakuler dalam “pura-pura dialog antar agama”, padahal tujuannya menjatuhkan. Akal dan logika seringkali dipakai hanya dalam kerangka ‘mempersalahkan’ pihak lain, jarang mengkritik agamanya sendiri.

Dalam konteks ini, penelitian atas sejarah sains Arab, dan pemulihan serta riset manuskrip era itu, mungkin bisa memberikan keuntungan —  selama dilakukan secara analitis. Artinya orang Muslim harus menggunakannya di dalam tradisi mereka sendiri untuk secara kritis berkenalan dengan kelemahan-kelemahan filosofi, politis, dan kesalahan yang ditemukan. Jika itu terjadi, perkembangan itu bukan karena usaha Barat, tapi akan jadi konsekuensi keinginan, kreatifitas, dan kebijaksaan kaum muslim sendiri –pendeknya, cara-cara itulah yang dipelajari Barat dari kaum Muslim di Zaman Keemasan.


Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Texas, Amerika Serikat

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian IV: Membandingkan Islam dan Kristen

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan Caption tanggung jawab penerjemah.

tahmasp_humayun_meeting
http://sensiblereason.com

Kenapa Penelitian Akademis Gagal di Dunia Muslim

Tapi apakah Ash’arisme adalah akar masalah hancurnya sains Arab? Ash’ari menang dan Mu’tazilah kalah menunjukkan bahwa untuk alasan apapun, kebanyakan Muslim menganggap pemikiran Ash’ari lebih meyakinkan dan nyaman; ia pas sekali dalam mengungkung sentimen dan ide politis. Maka dari itu, banyak ahli teologi muslim nampak menerima pandangan occasionalis bahkan dari abad ke sembilan, jauh sebagai penemu Ash’arisme lahir. Dus, kemenangan Ash’ari melahirkan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang kecenderungan politik teologi dalam Islam.

Sebagai cara mengartikulasikan apa yang lebih dalam daripada debat antara Ash’ari dan Mu’tazilah, ada baiknya kita membandingkan dulu Islam dengan Kristen. Kristen mengakui pembedaan ranah pribadi dan publik dan (paling tidak secara teori) mengijinkan pengikutnya untuk menentukan kehidupan sosial-politiknya sendiri. Islam, sementara itu, tidak membedakan privat-publik, karenanya banyak hukumnya menjangkau detil-detil kehidupan pribadi. Dengan kata lain, Islam tidak mengakui perbedaan antara agama dengan politik: ia adalah agama yang menentukan aturan politik untuk komunitasnya.

c39altima_cena_-_juan_de_juanes
The Last Supper, dilukis oleh Juan de Juanes, c. 1562. Sumber: Wikimedia

Perbedaan antara dua macam iman itu bisa dilacak sampai perbedaan nabi-nabinya. Ketika Yesus adalah orang dari luar negara, dan tidak mengatur siapapun, dan agama Kristen tidak menjadi agama negara sampai beberapa abad setelah kelahiran Yesus, Muhammad bukan hanya seorang nabi, tapi juga pemimpin pemerintahan, seorang pemimpin politik yang menguasai dan memerintah komunitas religius yang ia temukan. Karena Islam lahir di luar Kekaisaran Romawi, Islam tidak pernah lebih rendah dari politik. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis, Muhammad adalah Konstantin untuk dirinya sendiri. Artinya untuk Islam, agama dan politik saling tergantung sejak awal; Islam membutuhkan negara untuk menerapkan hukumnya, dan negara butuh basis dalam Islam untuk melegitimasi. Maka sejauh manakah politik Islam bisa memungkinkan penelitian bebas — yang seringkali dinilai subversif oleh pemerintah dan tradisi yang sudah mapan — di dalam institusinya?

Beberapa petunjuk bisa ditemukan dengan membandingkan institusi-institusi di abad pertengahan. Jauh sebelum menerima occasionalisme dan positivisme hukum kaum Suni, para sarjana Eropa berargumen secara eksplisit bahwa Injil berlawanan dengan hukum alam, dan tidak boleh dibaca secara literal. Filsuf-filsuf gereja berpengaruh seperti Augustine berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasio sudah ada sebelum agama Kristen; ia mendekati subjek penelitian sains dengan kewaspadaan, dan menyuruh orang Kristen untuk menggunakan sains klasik untuk membantu pemikiran Kristen. Galileo yang pernah ditahan rezim punya kalimat terkenal bahwa “tujuan Roh Kudus adalah untuk mengajarkan kita bagaimana cara masuk surga, bukan bagaimana surga bekerja,” menggarisbawahi ketahanan semangat sains di dalam kesalehan masyarakat Barat. Maka seperti yang diargumenkan David C. Lindberg dalam sebuah esei yang dalam kompilasi Galileo Ke Penjara dan Semua Mitos tentang Sains dan Agama (2009) [Galileo Goes to Jail and Other Myth about Science and Religion], “Tidak ada institusi atau kekuatan budaya dari periode patristic yang menggalakkan penelitian ilmu alam, daripada gereja Kristen.” Dan, seperti sosiolog dari Universitas Baylore, Rodney Stark, tulis dalam bukunya Demi Kemenangan Tuhan (2003) [For The Glory of God], banyak ilmuan pada masa revolusi sains di Eropa adalah pendeta Kristen atau Misionaris.

Penerimaan gereja dan penggalangan filsafat dan sains sudah ada sejak akhir Abad Pertengahan sampa masa modern. Almarhum Ernest L. Fortin dari Boston College mencatat di sebuah essai dalam kompilasi Kristen Klasik dan Tatanan Politik (1996) [Classical Christianity and the Political Order], tidak seperti al-Farabi dan para penerusnya, “Aquinas jarang dipaksa untuk mengikuti bias anti-filsafat dari otoritas eklektik Kristen. Sebagai orang Kristen, ia bisa belajar dan menulis filsafat tanpa ikut terlibat dalam argumen publik untuk membela atau melawannya.” Dan ketika seseorang seperti Galileo terkena masalah, karyanya terus ada dan diteruskan oleh orang lain; dengan kata lain, dedikasi institusi untuk penelitian sains sudah terlalu mengakar di Eropa hingga sulit dikontrol siapapun. Setelah  pertengahan abad tiga belas di Barat Latin, kita tahu tidak ada lagi persekusi instan pada siapapun yang mengajar filsafat sebagai bahan pembantu memahami Injil.  Di masa ini, “serangan terhadap rasio dianggap aneh dan tidak dapat diterima,” kata sejarawan Edward Grant dalam Sains dan Agama, 400SM sampai 1550M [Science and Religion 400 b.c. to a.d. 1550].

Kesuksesan Barat adalah sebuah topik yang dapat mengisi — atau sudah mengisi — banyak buku-buku tebal. Tapi perbandingan umum ini bisa membantu kita mengerti kenapa Islam secara institusi berbeda dengan Barat. Perbedaan paling penting dikatakan Bassam Tibi dalam Tantangan Fundamentalisme (1998) [The Challenge of Fundamentalism]: “karena disiplin rasio tidak sempat terinstitusionalisasi di Islam klasik, maka adopsi warisan Yunani tidak lama dalam peradaban Islam.” Dalam buku Munculnya Sains Modern Awal [The Rise of Early Modern Science], Toby E. Huff membuat sebuah argumen persuasif kenapa Ilmu Pengetahuan Modern muncul di Barat dan tidak di dunia Islam atau Cina:

Munculnya sains modern adalah hasil dari perkembangan peradaban berdasarkan kebudayaan yang secara unik humanistik dalam artian bahwa sains yang dianggap bid’ah dan inovatif bisa diterima, dilindungi dan dipromosikan walaupun berlawanan dengan ajaran agama. Sebaliknya, orang bisa bilang bahwa elemen kritis dari cara pandang sains secara secara sembunyi-sembunyi dimasukan dalam prasangka agama dan hukum di Eropa Barat.

Dalam kata lain, peradaban Islam tidak punya kebudayaan yang ramah terhadap kemajuan sains, sementara Eropa punya.

Perbedaan paling nyata ada di ranah pendidikan formal. Seperti kata Huff, kurangnya kurikulum sains di madrasah abad pertengahan membuat hilangnya kapasitas atau keinginan untuk membangun institusi yang secara legal otonom. Madrasah didirikan di bawah hukum waqaf, atau sumbangan, yang berarti madrasah secara legal berkewajiban mengikuti komitmen keagamaan dari pendirinya. Hukum islam tidak mengenal kelompok korporat, maka mereka mencegah harapan apapun untuk institusi seperti Universitas dimana norma akademik bisa berkembang. (Cina abad pertengahan, juga, tidak memilik institusi independen yang didedikasikan untuk pendidikan; semua tergantung dari birokrasi pemerintah atau negara). Institusi yang secara legal otonom hampir tidak ada di dunia Islam sampai akhir abad sembilan belas. dan madrasah hampir selalu menyingkirkan mata pelajaran apapun selain pelajaran Islam: tata bahasa Arab, al-Quran dan Hadist, dan prinsip syariah. Ini biasanya disebut “Pelajaran Agama Islam,” dan bertolak belakang dengan sains Yunani, yang secara luas dikenal sebagai ilmu “asing” (bahkan istilah “filsuf” dalam bahasa Arab “Falasi” sering dipakai secara negatif). Lebih jauh lagi, kekakuan kurikulum agama di madrasah membiasakan cara belajar hafalan; bahkan hari ini pengulangan, latihan hafal, dan imitasi — dengan hukuman bagi mereka yang mempertanyakan atau berinovasi –dibiasakan dari kecil di banyak tempat di dunia Arab.

Penyingkiran sains dan matematika dari madrasah memperlihatkan bahwa mata pelajaran-mata pelajaran ini “secara institutional dipinggirkan di kehidupan Islami abad pertengahan,” tulis Huff. Pelajaran seperti itu ditoleransi, dan kadang dipromosikan oleh beberapa orang, tapi tak pernah “secara resmi terinstitusional dan didorong oleh elit intelektual Islam.” Ini artinya ketika penemuan intelektual dibuat, penemuan tersebut tidak diangkat dan dibawa oleh siswa, dan tidak mempengaruhi pemikir-pemikir lain dalam komunitas Muslim, Tidak ada yang peduli pada karya Ibnu Rushid setelah ia diasingkan keluar Spanyol ke Moroko, misalnya — sampai orang Eropa menemukan karya-karyanya. Mungkin kurangnya dukungan institusional pada sainslah yang membuat pemikir Arab seperti al-Farabi lebih berani daripada sesama ilmuan di Eropa. Tapi itu juga berarti banyak pemikir Arab tergantung pada ijin dari pemerintah yang merek akrabi dan kondisi-kondisi sementara.

Perbandingan kontras lain, sistem hukum yang berkembang di abad dua belas dan tiga belas di Eropa — yang terkena pengaruh filsafat Yunani, hukum Romawi, dan teologi Kristen — menjadi penting dalam membentuk budaya filsafat dan teologi yang terbuka terhadap perkembangan sains. Seperti kata Huff, karena universitas di Eropa secara legal otonom, mereka bisa mengembangkan peraturannya sendiri, norma-norma akademik, dan kurikulum. Norma-norma yang mereka terapkan mengandung rasa ingin tahu dan skeptisisme, dan kurikulum yang mereka pilih berakar dari filsafat Yunani kuno. Di dunia Barat di abad pertengahan, semangat skeptisisme dan rasa penasaran menggerakan teologian dan filsuf. Itu adalah semangat “menyelidiki dan menggerataki segala sesuatu,” kata Edward Grant dalam buku Tuhan dan Rasio di Abad Pertengahan (2001) [God and Reason in the Middle Ages].

Perilaku penelitian semacam ini yang meletakkan fondasi sains modern. Dimulai di awal abad pertengahan, perilaku ini sudah menghasilkan inovasi di banyak seniman dan pedagang, bahkan dari kalangan yang tidak berpendidikan. Orang-orang awam ini berkontribusi ke pengembangan teknologi praktis, seperti jam mekanik (circa 1272) dan kacamata (1284). Bahkan di awal abad ke enam, orang Eropa berusaha membuat teknologi yang bisa menghemat kerja, seperti bajak dengan roda besar dan, nantinya, bajak tenaga kuda. Menurut riset oleh almarhum Charles Issawi dari Universitas Princeton, Inggris di abad sebelas punya lebih banyak lumbung per kapita dibanding di tanah otoman pada masa kejayaan kerajaan itu. Dan walaupun Barat punya percetakan sejak tahun 1460, dunia Islam baru mendapatkannya tahun 1727. Dunia Arab nampak lebih lambat dalam menemukan guna alat teknologi akademis. Contohnya, teleskop hadir di Timur Tengah langsung setelah penemuannya di tahun 1608, tapi orang Arab tidak tertarik menggunakannya hingga berabad-abad setelahnya.

Ketika sains di dunia Arab menurun dan mundur, Eropa secara rakus menghisap dan menerjemahkan karya-karya klasik dan saintifik, melalui pusat kebudayaan di Spanyol. Pada tahun 1200, Oxford dan Paris telah memiliki kurikulum yang mengandung sains Arab. Karya oleh Aristoteles, Euclid, Ptolemy, dan Galen, beserta kritik oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rushid, semua diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Tidak hanya karya-karya ini diajarkan secara terbuka, mereka dimasukkan ke dalam program studi di universitas-universitas. Sementara di dunia Islam, hancurnya Zaman Keemasan sedang terjadi.

laurentius_de_voltolina_001
Salah satu universitas awal di Eropa, Bologna (1930an).

Bersambung ke bagian V.

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Peradaban Sains Islam Bagian III: Al-Ghazali yang Mengakhiri Ilmiah dan Mengembalikan Mistisisme

science-in-a-golden-age-chemistry

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Lihat bagian I dan bagian II

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dalam beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

Bagaimana Zaman Keemasan Pudar

Sementara Abad Pertengahan berlalu, peradaban Arab mulai kehilangan gairah. Selama abad dua belas, Eropa mulai memiliki sarjana sains melebih dunia Arab, seperti yang dikatakan sejarawan Harvard George Sarton dalam Pengantar Sejarah Sains (1928-48). Setelah abad ke empat belas, dunia Arab hanya menghasilkan sedikit inovasi di lahan yang tadinya mereka kuasai, seperti optik dan kedokteran; sejak saat itu kebanyakan inovasi bangsa Arab bukan di ranah metafisika atau sains, tapi lebih sempit dan praktis, seperti vaksin. “Renaissance, reformasi gereja, bahkan revolusi sains dan Pencerahan, lewat begitu saja tanpa disadari dunia Muslim,” tulis Bernard Lewis dalam Islam dan Barat (1993).

Ada sedikit kelahiran kembali sains di dunia Arab pada abad ke 19, sebagian besar disebabkan oleh ekspedisi Napoleon tahun 1798 ke Mesir, tapi tak lama kemudian jatuh lagi. Lewis mencatat di buku Apa yang Salah? bahwa “Hubungan antara Kristen dan Islam dalam ranah sains jadi terbalik. Mereka yang tadinya murid jadi guru; mereka yang tadinya guru jadi murid, dan seringkali jadi murid yang keras kepala dan pemarah.” Peradaban yang dulu menghasilkan kota-kota, perpustakaan-perpustakaan, dan observatorium perbintangan dan membuka diri kepada dunia kini jatuh menjadi tertutup, pemarah, penuh kekerasan, dan tak ramah pada wacana dan inovasi.

Apa yang terjadi? Untuk mengulang poin penting, kejatuhan ilmiah tidak hanya milik peradaban Arab-Islam. Kejatuhan seperti itu adalah norma sejarah; hanya di Barat memang terjadi sesuatu. Tetapi masih mungkin untuk mencari sebab-sebab spesifik kejatuhan itu –dan mencoba mengerti kenapa, bisa memperdalam pengertian kita tentang dunia Arab-Islam dan ketegangannya dengan modernitas. Seperti Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, seorang figur berpengaruh dalam pan-Islamisme kontemporer, berkata di akhir abad sembilan belas, “Boleh saja … bertanya kenapa peradaban Arab, setelah memberikan begitu banyak cahaya ke dunia, tiba-tiba hilang; kenapa obor ini tidak bisa dinyalakan lagi sejak itu; dan kenapa dunia Arab masih terkubur di dalam kegelapan.”

Seperti tidak ada penjelasan sederhana tentang kesuksesan sains Arab, tidak ada juga penjelasan sederhana tentang kejatuhannya– kejatuhan yang tidak tiba-tiba, kata al-Afghani. Faktor paling signifikan adalah faktor fisik dan geopolitik. Sejak awal abad sepuluh atau sebelas, kerajaan Abbasid mulai terfaksi dan terbagi karena banyaknya otonomi propinsi dan pemberontakan. Pada tahun 1258, kekuasaan Abbasid tinggal sedikit sekali karena tersapu invasi Mongol. Dan di Spanyol, Kristen menguasai kembali Kordoba di tahun 1236 dan Seville di tahun 1248. Namun kemunduran Islam dari keilmuan sebenarnya mendahului kejatuhan geopolitik peradaban itu — kita bisa melihatnya dari naiknya aliran Ash’arism yang anti-filfasat diantara para santri Sunni, yang menjadi mayoritas di seluruh dunia Islam.

Untuk mengerti gerakan anti-rasional ini, kita harus kembali ke masa Khalifah al-Mamun dari dinasti Abbasid. Al-Mamun mengambil obor keilmuan yang dinyalakan pendahulunya al-Mansur, dan melarikan obor itu lebih jauh. Ia merespon sebuah krisis legitimasi dengan menekan santri keagamaan yang tradisional, dan secara aktif mensponsori doktrin yang disebut Mu’tazilah, yang banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Yunani, khususnya Aristotelian. Di sini, ia menyelidiki semua orang yang tidak setuju dengan gerakan Mu’taziliah, dan menghukum mereka dengan pencambukan, penjara, bahkan pancung. Namun khalifah penerus al-Mamun tidak tertarik mengurus masalah ini, dan lama-kelamaan, keadaan mulai terbalik. Mereka yang mengikuti Mu’tazilah jadi bisa dihukum. Pembalasan terhadap Mu’tazilah sangat sukses: pada tahun 885, setengah abad setelah kematian al-Mamun, bahkan menyalin buku filsafat menjadi kejahatan. Di sinilah awal dari de-hellenisasi kebudayaan tinggi Arab. Pada abad ke dua belas atau tiga belas, pengaruh Mu’tazilah sudah sangat terpinggirkan.

Di tempat sains Arab jatuh muncul Ash’ari yang anti-rasional mendominasi. Dengan bertambahnya kaum ini, etos di dunia Islam mulai berlawanan dengan metode akademis dan sains yang tidak berkontribusi langsung dengan  dunia agama atau kehidupan publik. Ketika kaum Mu’tazilah percaya bahwa Al-Quran diciptakan Allah maka manusia harus menginterpretasinya dengan akal, kaum Ash’ari percaya bahwa al-Quran harus disetarakan dengan Allah — dan karenanya tidak boleh dikaji secara kritis. Inti dari metafisik Ash’ari adalah occasionalisme, sebuah doktrin yang menolak sebab-akibat alamiah. Sederhananya, doktrin tersebut mengatakan bahwa hukum alam tidak bisa ada karena Allah bebas berkehendak. Kaum Ash’ari percaya bahwa Allah adalah sebab utama, jadi dunia hanya sekumpulan kejadian fisik yang bermacam-macam karena kehendak Allah semata [bukan karena ada hukum sebab akibat].

Seperti yang digambarkan Maimonides dalam buku Panduan Orang Bingung (The Guide of the Perplexed), pandangan occasionalisme ini melihat bahwa hal-hal yang alami nampak permanen karena kebiasaan. Api menjadi panas, dan kurang makan jadi lapar karena kebiasaan, bukan kebutuhan, “seperti raja naik di punggung kuda selama jalan di kota, dan raja tidak pernah punya kebiasaan lain; namun akal masih memberi kemungkinan raja jalan kaki.” Menurut pandangan occasionalist, dinginnya hari esok bisa dikarenakan api, dan kenyang bisa dikarenakan kurang makan. Kehendak Allah mencakupi semua kejadian dan Allah tidak akan terikat akal [atau alam]. Ini sama saja sebagai sebuah penolakan terhadap koherensi dan pengertian logis dunia ilmiah. Dalam pidato kontroversial tahun 2006 di Universitas Regensburt, Paus Benedict XVI menggambarkan ide ini dengan mengutip filsuf Ibnu Hazm (meninggal tahun 1064) dengan mengatakan, “Jika itu [benar-benar] kehendak Allah, maka kita harusnya menyembah berhala.” Tidaklah sulit untuk melihat bagaimana doktrin semacam ini bisa membawa kita ke dogma dan akhir dari kebebasan berpikir terhadap sains dan filsafat.

al-ghazali

Suara paling besar dan berpengaruh dalam golongan Ash’ari adalah ahli agama Abu Hamid al-Ghazali (yang juga dikenal sebagai Algazel; meninggal 1111). Dalam buku berjudul Tahafut Al-Falasifah (Kesalahan para Filsuf/The Incoherence of the Philosophers), al-Ghazali secara keras menyerang filsafat dan para filsuf–baik dari Yunani ataupun pengikutnya di dunia Muslim (seperti al-Farabi dan Ibnu Sina). Al-Ghazali khawatir ketika orang terpengaruh argumen filsafat, mereka juga akan percaya para filsuf soal agama, dan membuat Muslim jadi kurang saleh. Rasio, karena mengajarkan cara penemuan, mempertanyakan, dan menginovasi, menjadi musuh Islam; al-Ghazali berargumen bahwa karena filsafat berpegang pada hukum alam, maka ia tidaklah kompatibel dengan ajaran Islam, yang menganggap semua alam dan hukumnya adalah ciptaan Allah dan terserah Allah: “Tak ada satupun di alam ini,” katanya, “yang bisa bergerak sendiri tanpa izin Allah.” Ketika al-Ghazali membela akal, ia membelanya hanya sebagai alat dalam kerangka agama, dan menggunakannya untuk menghancurkan logika filsafat. Kaum Suni mengangkat al-Ghazali sebagai pemenang yang berhasil mengalahkan para pemikir Hellenistik, dan perlawanan terhadap filsafat semakin besar, hingga pemikiran dan penelitian bebas dilarang, dan seringkali dikriminalkan. Namun adalah hal yang berlebihan ketika kita menganggap, seperti Steven Weinberg tulis di Times of London, bahwa setelah al-Ghazali “tidak ada lagi ilmu pengetahuan yang berarti di negara-negara Islam.”‘ Di banyak tempat, khususnya di Asia Tengah, karya-kara ilmiah Arab masih berlanjut cukup lama, dan filsafat masih dipelajari di banyak masyarakat beraliran Syiah. (dalam dunia Suni, filsafat berubah menjadi mistisisme.) Tapi faktanya, kontribusi ilmiah Arab menjadi menyebar ke seluruh dunia justru ketika pemikiran anti-rasional mengusirnya.

Pemikiran Ash’ari bertahan hingga hari ini. Kita bisa melihat pemikiran ini dalam bentuk paling ekstrim sekte-sekte Islam. Contohnya dalam ideologi yang dibawa Mohammed Yusuf, pemimpin Taliban Nigeria, yang mengatakan bahwa “pendidikan Barat adalah dosa.” Simak penjelasannya soal hujan: “Kita percaya bahwa hujan adalah ciptaan Allah, dan bukanlah uap air yang disebabkan panas matahari.” Pandangan Ash’ari juga mengatakan bahwa bencana alam adalah bentuk hukuman Allah, seperti ketika mereka menanggapi meletusnya gunung api Eyjafjallajökull di Islandia, yang mereka klaim sebagai hukuman Allah karena perempuan-perempuan berpakaian tidak pantas di Eropa. Klaim semacam itu terdengar agak gila buat Barat, tapi kita akan sering mendengarnya dalam dunia Muslim; buat orang Muslim bencana alam sebagai azab tidak gila-gila amat. Seperti yang diargumenkan oleh Robert R. Reilly dalam buku Tertutupnya Pikiran Muslim (The Closing of the Muslim Mind) (2010), “Keterputusan yang fatal antara Sang Pencipta dan pikiran mahlukNya adalah kesengsaraan utama kaum Islam Suni.”

Kekeraskepalaan yang sama juga muncul di ranah hukum. Empat abad pertama sejak muncul, Islam adalah agama yang memiliki tradisi diskusi yang kencang dan fleksibilitas ketika bicara soal hukum; ini adalah tradisi yang disebut ijtihad, atau penilaian independen dan berpikir kritis. Tapi pada akhir abad sebelas, segala ide yang tidak sama dilihat sebagai masalah, dan para pemimpin otokratik khawatir ketika ada perselisihan — jadi “gerbang ijtihad” mulai tertutup untuk muslim Suni: ijtihad [terhadap hukum] dianggap tidak lagi perlu karena semua pertanyaan penting soal hukum dianggap sudah dijawab. Pembacaan baru terhadap Al-Quran dianggap sebagai kejahatan. Yang diperbolehkan hanya kepatuhan terhadap instruksi dari otoritas keagamaan; untuk mengenal moralitas, orang hanya perlu membaca fatwa. Pemikir yang melawan dilihat sebagai penjahat. (Ibnu Rushid, mislanya, diasingkan karena dianggap bid’ah dan buku-bukunya dibakar.)

Bersambung ke bagian IV

[catatan penerjemah: Ijtihad yang dimaksud penulis sebenarnya adalah Ijtihad menyoal hukum syariah Islam, yang  tidak dilarang dalam tradisi Suni, namun hanya boleh dilakukan oleh ahli fiqih atau Mujtahid (baca: orang yang menguasai teologi Islam, bahasa Arab, dll.). Namun Ijtihad dalam bidang-bidang lain, termasuk hukum negara sekuler justru diharuskan untuk seorang Muslim. Ditutupnya “Gerbang Ijtihad” berarti semua permasalahan yang sudah ada hadistnya tidak boleh lagi dikritisi, dianggap sudah jelas, dan kalaupun ada masalah baru, yang boleh berijtihad hanya Mujtahid. Namun nantinya ini jadi masalah besar di negara Islam Suni yang tidak memakai hukum sekuler, atau konsep demokrasi negara modern, karena semua dasarnya syariah, maka  Ijtihad (berpikir kritis, dalam, dan sungguh-sungguh tentang suatu masalah) jadi dilarang untuk banyak hal, cuma Mujtahid yang boleh bicara soal biologi, misalnya–kategorisasi jadi kacau. Di Indonesia (dengan populasi Islam Suni terbesar di dunia), Ijtihad dianjurkan sebagian besar ulama untuk banyak hal kecuali syariah Islam. Karenanya, gerakan seperti Jaringan Islam Liberal, yang menggunakan referensi di luar al-Quran dan Hadist dalam masalah syariah, tidak diperbolehkan oleh kaum Islam Suni kebanyakan. Di sisi lain, masalah juga sering terjadi ketika Mujtahid mulai ikut campur masalah non-agama, seperti yang beberapa kali dilakukan Majelis Ulama Indonesia.] 

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam Bagian II: Terjemahan Adalah Kunci

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Lihat bagian pertama tulisan ini.

7c42ddfa515d78bc584444ff9291e754

Bagaimana Sains Arab Berjaya

Apa yang membuat sains Arab berkembang, dan kapan? Apakah karena kondisi yang menaungi para pemikir berbahasa Arab ini? Tentunya tidak ada satu penjelasan saja untuk perkembangan sains Arab, tidak ada satu pemimpin yang memprakarsainya, tidak ada satu budaya yang membuatnya. Seperti kata sejarawan David C. Lindberg dalam buku The Beginnings of Western Science (1992), sains Arab berjaya selama beberapa abad karena “sebuah rangkaian kompleks dari keadaan yang kebetulan.”

Aktivitas saintifik mencapai puncaknya ketika Islam menjadi peradaban yang dominan di dunia. Jadi salah satu faktor penting dari terbitnya budaya akademik di Zaman Keemasan adalah setting materialnya, yang disediakan oleh sebuah kerajaan yang kuat dan makmur. Tahun 750, Bangsa Arab telah menguasai Jazirah Arab, Iraq, Suriah, Libanon, Palestina, Mesir dan banyak bagian Afrika Utara, Asia Tengah, Spanyol, dan beberapa bagian Cina dan India. Rute-rute baru dibuka menggabungkan India dan Mediterania timur, membuat banyak kekayaan masuk melalui jalur dagang, juga industri pertanian.

Untuk pertama kalinya semenjak rezim Iskandar Agung, wilayah luas disatukan secara politik dan ekonomi. Hasilnya adalah, pertama, kerajaan Arab di bawah khalifah Ummayad (memerintah di Damascus tahun 661-750) lalu kerajaan Islam dibawah dinasti Abbasids secara luas membentuk kehidupan di Dunia Islam, mengubahnya dari kebudayaan tribal dengan sedikit daya baca menjadi kerajaan yang dinamis. Pastinya, kerajaan besar memiliki agama dan etnis yang beragam; tapi batas politik yang dulu membagi daerah dihilangkan; artinya ilmuan dari agama dan etnik yang berbeda bisa bepergian dan berinteraksi dengan ilmuan lain. Batasan bahasa, juga berkurang karena bahasa Arab menjadi bahasa akademis di wilayah yang luas.

Menyebarnya kerajaan membawa urbanisasi, pasar, dan kekayaan yang membantu penyebaran kolaborasi intelektual. Mearten Bosker dari Universitas Utrecht dan koleganya menjelaskan bahwa pada tahun 800, ketika negara Barat berbahasa Latin (dengan pengecualian Italia) “secara relatif terbelakang,” dunia Arab kebanyakan telah menjadi perkotaan, dengan populasi penduduk kota dua kali lipat lebih banyak daripada di Barat. Beberapa kota metropolitan besar –termasuk Bagdad, Basra, Wasit, dan Kufa — disatukan dibawah dinasti Abbasid; mereka berbagi satu bahasa dan berdagang melalui jalur sutra. Khususnya Bagdad, ibukota Abbasid, adalah tempat di mana istana-istana, masjid-masjid, perusahaan saham gabungan, bank, sekolah-sekolah dan rumah sakit berdiri; pada abad ke sepuluh, Bagdad adalah kota terbesar di dunia.

Ketika Kekaisaran Abbasid berkembang, ia juga meluas ke timur, membawa hubungan dengan Mesir, Yunani, India, Cina, dan budaya Persia, yang hasil karyanya siap dinikmati. (Di era ini, Muslim tidak tertarik pada Barat, karena alasan yang jelas: Barat sedang masa kegelapan). Salah satu penemuan penting oleh orang Muslim adalah kertas, yang mungkin ditemukan di Cina sekitar tahun 105 Masehi dan dibawa ke dunia Islam pada abad ke delapan Masehi. Pengaruh kertas pada kebudayaan akademik di masyarakat Arab sangatlah besar: ia membuat reproduksi buku jadi murah dan efisien, dan ia mendukung akademis, korespondensi, puisi, pendokumentasian, dan perbankan.

Datangnya kertas juga membantu memberi kemampuan baca-tulis, yang telah didorong oleh Islam sejak awal melalui dasar aksara mereka, Al-Quran. Muslim Abad Pertengahan menganggap pelajaran agama sangat serius, dan beberapa ilmuan di wilayah itu, besar dengan belajar agama. Ibnu Sina, misalnya, dikatakan telah hafal Al-Quran sebelum ia sampai ke Bagdad. Mungkinkah bisa dikatakan, Islam sendiri  mendukung usaha-usaha keilmuan? Pertanyaan ini bisa menimbulkan banyak jawaban yang berbeda-beda. Beberapa Ulama berargumen bahwa banyak bagian Al-Quran dan Hadis yang menyuruh umatnya untuk berpikir dan berusaha mengerti Allah melalui ciptaanNya dalam semangat keilmuan. Salah satu hadis berkata, “Carilah Ilmu, walau sampai negeri Cina.” Namun ada juga Ulama lain yang berkata bahwa “ilmu pengetahuan” di dalam Al-Quran bukanlah sains, tapi agama, dan mencampur sains dan agama adalah tidak tepat, bahkan naif.

p02xlbqt
BBC.uk

Hadiah dari Bagdad

Alasan paling signifikan kenapa Zaman Keemasan terjadi adalah karena adanya penyerapan dari warisan Yunani Kuno — sebuah perkembangan yang disebabkan oleh gerakan penerjemahan di masa Dinasti Abbasid Bagdad. Gerakan penerjemahan ini, menurut sejarawan Universitas Yale dan ahli budaya klasik Dimitri Gutas, adalah “sama pentingnya dengan, dan memiliki narasi yang sama dengan… Pericles di Athena, Renaissance di Italia, atau revolusi sains pada abad ke enam belas dan tujuh belas.” Orang bisa menyangsikan perkataan Gutas dan ingin membandingkan data, tapi tidak diragukan lagi bahwa gerakan penerjemahan di Bagdad — yang pada tahun 1000 Masehi telah menghasilkan hampir seluruh buku Yunani kuno di bidang kedokteran, matematika, dan filsafat alam ke dalam bahasa Arab — menyediakan dasar untuk belajar sains. Ketika kebanyakan pemikir besar di Zaman Keemasan tidak ada di Baghdad, pusat-pusat kebudayaan dunia Arab yang tersebar tidak akan menjadi besar tanpa gerakan penerjemahan yang dilakukan Bagdad. Karena inilah, luasnya pengaruh Zaman Keemasan di seluruh jazirah ini disebabkan suksesnya Dinasti Abbasid dalam dunia penerjemahan.

Naiknya kekuasaan Kekhalifahan Abbasid di tahun 750 adalah, seperti kata Bernard Lewis dalam buku Sejarah Arab (1950), “sebuah revolusi dalam Sejarah Islam, yang sangat penting sebagai titik balik seperti revolusi Prancis dan Rusia dalam sejarah Barat.” Kekhalifahan Abbasid tidak menggunakan suku dan etnis untuk identitas mereka, malahan mereka menggunakan agama dan bahasa sebagai penyatu identitas negara mereka. Ini membuat masyarakat menjadi kosmopolitan, dan semua Muslim dapat berpartisipasi di dalam kehidupan politik dan budaya. Kerajaan ini hidup sampai tahun 1258, ketika bangsa Mongol menyerang Bagdad dan mengeksekusi Khalifah Abbasid terakhir (bersamaan dengan banyak orang-orang Abbasid yang lain). Namun, peninggalan Abbasid telah membawa pengaruh politik dan kemasyarakatan dari Tunisia sampai ke India.

Gerakan penerjemahan Yunani-Arab di Abbasid Bagdad, seperti usaha akademis lain di dunia Islam, terpusat di institusi-institusi yang tidak begitu akademik–kebanyakan di rumah-rumah bangsawan yang menginginkan prestise sosial. Tapi Bagdad memang agak berbeda: aktivitas filsafat dan sainsnya mendapat dukungan besar dari kebudayaan mereka. Seperti yang dijelaskan Gutas dalam buku Pemikiran Yunani, Budaya Arab (1998), gerakan penerjemahan yang kebanyakan berkembang dari tengah abad ke delapan sampai akhir abad sepuluh, adalah usaha pengabadian diri yang didukung oleh “seluruh elit masyarakat Abbasid: khalifah dan para pangeran, pegawai negeri dan pemimpin militer, pedagang dan bankir, serta siswa dan ilmuan; itu bukanlah proyek satu kelompok saja demi agenda tertentu.” Ini adalah anomali dalam dunia Islam, yang kebanyakan, seperti kata Ehsan Masood, “didukung oleh patron pribadi demi kepentingan pribadi, atau ketika mereka mati, institusinya ikut mati bersama mereka.”

Nampaknya ada tiga faktor besar yang membuat gerakan penerjemahan ini. Pertama, dinasti Abbasid menemukan bahwa teks Yunani Kuno sangatlah berguna untuk pengembangan teknologi — memecahakan masalah sehari-hari. Karena itulah mereka tidak menerjemahkan puisi, sejarah, atau drama, yang mereka anggap tidak ada gunanya atau lebih rendah daripada filsafat atau ilmu alam. Karenanya, sains di bawah Islam, walaupun adalah bagian dari Sains Yunani, lebih praktis daripada teks aslinya. Terjemahan mencakup matematika, misalnya, biasanya berhubungan dengan teknik dan irigasi, juga untuk menghitung hukum waris. Terjemahan teks Yunani soal kedokteran, jelas memiliki guna praktis.

2aa18844a8c60e8f846e0ad354e20e19
Spherical Astrolabe, Museum of the History of Science, 1480 – 1481. Astrolabe ini dibuat dari perunggu dengan ukiran-ukiran, garis jam, meridian, dan lingkar altitude dari perak. Peta bintang dibuat dari perunggu, dilaminasi dengan perak di bagian gerhana dan lingkar ekuator. Sumber: Artfund.org

Astrologi juga adalah salah satu subjek Yunani yang diterjemahkan di Bagdad: dinasti Abbasid menggunakannya untuk membuktikan bahwa kekhalifahan mereka adalah takdir Allah, titisan dari kerajaan Mesopotamia kuno —  walau klaim tersebut kadang-kadang dikritik kaum Muslim, karena ramalan bintang untuk masa depan sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam (Bid’ah), dan hanya Allah yang punya pengetahuan itu.

Ada juga alasan-alasan praktis untuk agama, ketika mempelajari sains Yunani. Juru Kunci masjid menemukan astronomi dan trigonometri penting untuk menentukan arah kiblat, waktu shalat, dan awal Ramadan. Contohnya, ahli perbintangan Ibnu al-Shatir (meninggal 1375) yang juga bekerja sebagai pengatur waktu di masjid (muwaqqit), di Masjid Raya Damaskus. Motivasi agama lain dalam menerjemahkan teks Yunani kuno adalah untuk keperluan retorika atau apa yang hari ini kita sebut perang ideologi: topik soal Aristotoles, risalah soal logika, digunakan untuk membantu permasalahan agama dengan non-muslim dan gerakan Islamisasi (yang adalah kebijakan negara di bawah dinasti Abbasid).

Faktor kedua yang penting menyoal gerakan penerjemahan ini adalah bahwa pemikiran Yunani telah menyatu dengan daerah tersebut, perlahan-lahan dan dalam masa yang lama, sebelum dinasti Abbasid dan sebelum Islam berkembang. Ini karena, terjemahan Abbasid Bagdad berbeda dengan penggalian Barat terhadap teks Yunani klasik di Athena, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali Hellenisme (budaya Yunani). Pemikiran Yunani menyebar cepat selama ekspansi militer Iskandar Agung (Alexander the Great) di Asia dan Afrika utara pada tahun 300 SM, dan pusat peradaban Yunani sudah terbentuk di Alexandria (Mesir) dan Kerajaan Greco-Bactrian (238-140 SM, di daerah yang sekarang Afganistan). Peradaban di sana adalah pusat akademik yang produktif, bahkan ketika kedatangan Kerajaan Romawi. Ketika bangsa Arab mulai menyerang, bahasa Yunani sudah menjadi bahasa yang sering dipakai di wilayah itu, dan Yunani menjadi bahasa administratif di daerah Suriah dan Mesir. Ketika Kristen hadir, pemikiran Yunani disebarkan lebih jauh melalui misi misionaris, khususnya oleh kaum Kristen Nestorian. Berabad-abad berikutnya, di masa pemeritahan Abbasid di Bagdad, banyak kaum Nestorian ini –beberapa adalah orang Arab atau orang Persia yang sudah terarabisasi yang akhirnya menjadi mualaf–menyumbang tenaga teknis mereka dalam menerjemahkan bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan banyak mengisi posisi penerjemah profesional di administrasi pemerintahan Abbasid.

Iskandar Agung
Iskandar Agung atau Alexander The Great, dikenal di peradaban Islam sebagai Iskandar Zulkarnain (Zul: Manusia, Karnain: bertanduk dua), karena ia menguasai Barat dan Timur. Banyak teks Muslim mengklaimnya beragama monoteis, tapi artefak-artefak peninggalan Macedonia menunjukkan Iskandar sebagai penganut Pagan dan biseksual. Sumber foto: Artefak Museum Arkeologi Nasional Napoli.

Guna praktis dan pengaruh budaya Yunani memang bisa menjelaskan bagaimana sains berkembang, tapi ia sudah hadir di Jazirah Arab bahkan sebelum Zaman Keemasan; jadi penerjemahan Abbasid bukanlah satu-satunya faktor. Seperti yang dikemukakan Gutas, faktor yang khas, yang membuat pergerakan terjemahan itu adalah usaha-usaha raja-raja Abbasid untuk meligitimasi kekuasaannya dengan budaya Persia, yang saat itu banyak merujuk pemikiran Yunani. Daerah Bagdad, dimana Dinasti Abbasid berkuasa, terdiri dari banyak orang Persia yang memainkan peran besar dalam mengakhiri Dinasti sebelumnya; dus, dinasti Abbasid membuat banyak gerakan simbolik dan politik untuk menyatukan diri mereka dengan bangsa Persia. Sebuah usaha untuk membungkus kekuasaannya dengan dasar pemerintahan yang kuat, Abbasid menggabungkan Zoroasteriasm (agama Persia) dengan ideologi imperial Dinasti Sassanian Persia yang sudah lama hilang, sebagai platform politiknya. Pemerintah Abbasid berhasi menegakkan ide bahwa mereka bukanlah penerus dinasti Ummayad dari Arab, yang jatuh pada tahun 950, tapi penerus dinasti Persia sebelumnya, Sassinian.

Penggabungan dengan ideologi Sassinian ini membawa penerjemahan teks Yunani ke bahasa Arab karena itu dilihat sebagai pemulihan bukan hanya pengetahuan Yunani tapi juga pengetahuan Persia. Orang Persia percaya bahwa teks Zoroastrian kuno tersebar karena penghancuran Persepolis tahun 330 SM oleh Iskandar Agung, dan telah diadaptasi oleh bangsa Yunani. Dengan menerjemahkan teks Yunani ke dalam bahasa Arab, kebijaksanaan Persia bisa dipulihkan.

darius_relief1
Zoroastrianism adalah salah satu agama tertua di dunia (teks terawal yang ditemukan sekitar 2000 SM), dari kebudayaan Mesopotamia dan Babylonia. Nabinya bernama Zoroaster atau Zarathustra, dengan kitab suci Avesta.

Sebelumnya, Muslim Arab sendiri tidak keberatan terhadap gerakan penerjemahan dan studi keilmuan, mereka merasa bahwa penerjemahan itu “tidak mengancam etnis dan sejarah mereka,” kata Gutas. Ini mulai berubah ketika rezim al-Mamun (meninggal tahun 883), khalifah Abbasid ke tujuh, berkuasa. Untuk melawan kerajan Byzantium, al-Mamun mengorientasi ulang gerakan penerjemahan dengan membatasinya hanya untuk ilmu Yunani, bukan Persia.  Di mata Muslim Abbasid di era ini, Yunani Kuno memang tidak punya reputasi ‘murni’ –toh mereka bukan Muslim — tapi paling tidak belum ‘dinodai’ Kristen. Salah satu filsuf Arab, al-Kindi (meninggal tahun 870), bahkan membuat sebuah geneologi yang menghadirkan Yunan, nenek moyang Yunani Kuno, sebagai saudara dari Qahtan, nenek moyang bangsa Arab.

Sampai kejatuhannya karena invasi Mongol tahun 1258, khalifah Abbasid adalah kekuatan terbesar di dunia Islam dan telah melewati gerakan intelektual paling produktf selama sejarah bangsa Arab. Kaum Abbasid membaca, mengkritik, menerjemahkan dan memelihara karya-karya Yunani dan Persia yang bisa saja hilang. Dengan membuat pemikiran Yunani bisa diakses, mereka juga telah membentuk fondasi Zaman Keemasan Arab. Karya-karya besar filsafat dan sains yang jauh dari Bagdad — di Spanyol, Mesir, dan Asia Tengah — dipengaruhi oleh terjemahan Yunani-Arab, keduanya selama dan setelah kekuasaan Abbasid. Maka, walaupun hanya kebetulan bahwa bangkitnya sains di Barat tergantung sains Arab, tidak diragukan lagi bahwa Barat mendapat banyak keuntungan dari karya Yunani dan akademisi Arab yang mengkritiknya.

Bersambung ke bagian III

Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Austin, Texas.