Memoir, Racauan

Islam dan Saya (Bagian II dari IV)

Lihat Bagian I

Saya tidak mau cerita horor. Saya cuma mau bilang bahwa suara mengaji Mama saya bukan hanya memberikan kekuatan untuk menahan sakit, tapi juga memberikan keberanian dan kesenduan tersendiri buat saya, buat bayi-bayi di ruangan itu, dan buat makhluk-makhluk lain. Suaranya tidak seperti pengaji di Tilawatul Quran, atau ustadzah atau ustadz yang sering kita lihat di televisi. Suara mengaji Mama sama seperti suara ia bicara–tapi dengan tajwid dan nada yang benar. Tidak ada yang spesial dari suara itu, kecuali kejujuran dan getaran-getaran karena kekagumannya pada firman-firman Allah yang ia mengerti. Ia menangis seperti saya menangis ketika mendengar lagu Jingga oleh Efek Rumah Kaca.

baby-hand-in-big-hand
Photo: Vivapartnership

Mama saya adalah salah satu muslim terbaik yang saya kenal. Ia tidak memakai Jilbab dan ia perokok berat–sampai sekarang. Tanpa atribut keislaman apapun, Mama adalah orang paling cerewet yang menyuruh saya shalat dan mengaji–FPI mah, lewat. Menurut Mama tugasnya adalah menunjukkan jalan dan mengingatkan anak-anaknya akan pentingnya amal ibadah. Mama tidak peduli apakah saya melaksankannya atau tidak, yang penting ia memastikan saya bisa mengaji dan shalat, dan ia takkan pernah lelah untuk mengingatkan saya.

Dalam saat-saat paling parah dan paling putus asa di hidup saya, adalah kata-kata Mama, suara mengaji Mama dan nasihat Mama yang selalu membuat saya merasa syahdu dan kuat. Seperti suara-suara di alam bawah sadar. Di saat-saat itu, shalat menjadi begitu khusyuk dan bermakna. Di saat-saat itulah saya sadar betapa cinta Mama kepada saya berguna begitu besar dalam menjelaskan kehidupan yang tanpa batas dan permasalahan-permasalah hidup yang tak mungkin dijawab dengan logika, seintens apapun saya membaca, mencari tahu dan berpikir. Saya tidak bisa mendustakan nikmat tersebut.

Sejak saya kecil Mama mengkursuskan saya mengaji, bahkan menyekolahkan saya di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul Azhar. Sebuah sekolah kecil dengan sedikit sekali murid yang Mama percaya lebih bisa membuat saya jadi anak soleh daripada sekolah islam bonafid seperti yang di Kemang itu–padahal saya yakin alasannya juga karena sekolah islam saya lebih murah, dekat rumah, dan guru-gurunya masih tetangga.

Sekolah dekat rumah dan dengan guru yang dekat adalah langkah orang tua saya yang paling jitu untuk menghadapi anak yang gila seperti saya. Saya pernah direferensikan ke psikolog anak waktu TK karena hiperaktif, dipermasalahkan di SD swasta yang bonafid karena saya suka berteriak-teriak di kelas atau menyelengkat teman yang sedang lomba lari,  lalu pernah juga menimpuk kepala guru dengan bata di sekolah lain. Pokoknya, saya anak yang sangat bermasalah. Madrasah dengan kontrol ketat guru/tetangga, adalah jawaban terbaik. Buktinya, saya baru bisa baca-tulis ketika saya sekolah di Madrasah, dengan rotan sebagai cara untuk saya bisa konsentrasi. Cara lain tidak akan mempan.

Di Madrasah saya belajar dasar-dasar Islam, dari Aqidah Ahlaq, Al-Quran Hadist, Bahasa Arab, Sejarah Islam dan Fiqh (tentunya hampir semua saya sudah lupa, kecuali sejarah islam, karena saya suka sejarah). Saya juga belajar alat musik pertama saya: rebana. Walau tugas saya hanya memukul dua kali setiap 4/4 ketuk. Dub-dub, dub-dub, dub-dub. Dan saya tetap nakal sampai seorang kawan sekelas membully saya habis-habisan. Si kawan pembully ini selalu ranking 1, jadi saya kesal dan berusaha mengejarnya dengan belajar. Tentu saja saya tidak pernah menang baik dalam hal berkelahi ataupun pelajaran. Tapi paling tidak saya lulus SD dengan kemampuan membaca yang cukup akut.

bersambung ke bagian ke III.

Filsafat, Memoir, Racauan

Menjadi Ada Adalah Menjadi Bahagia

 

oscar-fingal-oflahertie-wills-wilde-3-011
Sumber Gambar: Art.zeflin.com

Oscar Wilde punya kata-kata yang sekarang jadi klise, “Hal yang lebih buruk daripada diomongin orang adalah tidak diomongin sama sekali.” Semua orang saya yakin punya perasaan ketakutan itu: ketakutan tidak diomongin sama sekali, ketakutan dianggap tidak ada. Bahkan mereka yang inginnya tidak diperhatikan dan bersembunyi dalam ke ‘biasa’ annya, sebenarnya juga takut kok tiba-tiba menghilang.

Ada seorang murid saya bernama Gammamoto yang membuat film berjudul Transparan. Ceritanya tentang maling yang ke dukun dan mendapat celana dalam ajaib yang bisa membuatnya transparan, asalkan ia tidak bersuara selama memakai celana dalam itu. Dukunnya bilang, akibatnya sangat gawat, jika pantangan itu dilanggar. Lalu Dengan celana dalam ajaib itu, ia mencuri uang di Koperasi. Ia berbahagia karena berhasil. Ia menciumi uang itu dan ia bersin. Akibatnya kalau ia bersuara adalah: ia akan menghilang selama-lamanya.

Maka komedi paling gelap dari cerita itu adalah, si maling hilang dari keberadaan, tapi punya kesadaran bahwa ia telah hilang. Ia terikat oleh kesadaran soal dunia yang tidak lagi melihat, merasakan keberadaanya. Dunia yang tidak bisa lagi ia raih atau ia ubah. Itulah yang paling menakutkan dari menghilang. Bayangkan keadaan lumpuh total seperti itu, tanpa tubuh, tanpa kemampuan untuk menggerakan apapun, menyuarakan apapun. Ada untuk diri sendiri, tapi tidak ada untuk yang lain–ini persoalan fenomenologi yang berat.

Percaya tak percaya, saya punya beberapa kawan yang benar-benar merasa tak kasat mata seperti si maling. Bahwasannya orang tidak peduli pada keberadaan mereka dan mereka pun berusaha untuk tidak peduli pada keadaan orang. Ada semacam insecurity yang sangat parah yang menghantui, seakan setiap karya, tulisan, seni atau perkataan mereka tidak diperhatikan siapapun. Tidak menarik untuk siapapun.

Perasaan seperti itu sangat berbahaya. Perasaan kecil, tak terlihat dan tak kasat mata dekat dengan depresi. Belum lagi kalau dicampur waham, sebuah cara pandang negatif atas semua hal. Orang memuji dikira kasihan padanya, orang mengkritik dikira menghina. Itu separah-parahnya eksistensi. Ketidakmampuan untuk tidak peduli, ketidakmampuan untuk bersenang-senang.

Saya juga kadang merasa seperti itu. Obat utama buat saya adalah melarikan diri dari perasaan itu. Bisa dengan makan makanan enak, nonton acara sampah, membuka 9gag, berolahraga (biasanya jogging lumayan membantu), chatting dengan sahabat atau bersenda gurau dengan istri, menonton film porno (untuk riset, biasa antropolog), dan tentunya, menulis. Jika tubuh dan pikiran tidak bisa dipaksakan untuk melakukan hal-hal itu, aih, artinya kamu butuh ritual agama atau psikolog.

Karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk membuat kebahagiaan, bukan mencari kebahagiaan. Cuma orang sakit yang tidak bisa bahagia.

Memoir, Racauan, Uncategorized

Islam dan Saya (Bagian I dari IV)

Disclaimer: Saya mengaku sebagai seseorang yang masih suka shalat dan puasa (walau bolong-bolong), masih percaya pada spiritualitas  (atau Allah SWT), tidak percaya pada institusi bernama agama (atau agama yang diinstitusikan–termasuk Ustad-Ustad yang saya tidak kenal dekat dan suka omong sembarangan), dan memilih jalan hidup yang selalu mencari tanpa pernah selesai sampai saya mati. Saya menerima takdir saya sebagai orang yang selalu bodoh tapi senang berdiskusi, dan sebal  jika dinasihati tanpa mau didengarkan. Jadi kalau setelah membaca tulisan ini Anda mau menasihati saya, saya akan langsung hapus komentar Anda. Kalau Anda ngeyel saya akan flag akun Anda, biar kita terasing satu sama lain. Ha-ha-ha-ha.

 

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim yang moderat. Mama saya seorang pencari Tuhan yang pernah berkelana dari pesantren ke pesantren karena itu ketika bicara soal Islam saya harus bicara soal Mama saya. Mama hampir hafal Al-Quran dan terjemahannya, sekali mengaji kalau ia sedang khusyuk bisa khatam satu-dua kali. Dia tidak pernah meninggalkan shalat kecuali kalau diharuskan (untuk perempuan), dia juga sering puasa dan shalat malam dengan penuh doa dan tangis.

Mama saya adalah seorang semi-paranormal. Ia bisa melihat makhluk halus tapi memilih untuk menganggap mereka seperti kucing dapur. Tanyalah padanya, dan ia akan menyangkal. Ia juga punya kemampuan menyembuhkan beberapa penyakit ringan, dari masuk angin sampai ketempelan jin–ya, saya pernah beberapa kali ketempelan Jin, dan Mama akan mengurut sambil membaca doa-doa, menekan jempol kaki, lalu berdoa lagi sambil meniup air putih, diminumkan pada saya dan saya langsung teler dan tidur, besoknya sembuh.

Dan ketika saya, anak lelakinya yang paling ringkih ini, sakit parah hingga harus bedrest atau diopname, suara mengaji Mama yang akan membuat saya bisa tidur dan tahan terhadap segala kesakitan. Sejak kecil saya beberapa kali diopname, dari typhus, dilempar beling, demam berdarah, dan banyak lagi–suara mengaji Mama selalu menemani.

Ada satu ingatan yang saya tidak bisa lupa. Suatu kali ketika usia saya 9 atau 10 tahun, saya diopname di rumah sakit Harapan Kita. Saya satu kamar dengan bayi-bayi yang bermasalah (ada yang penisnya hilang, ada yang jantungnya tidak bekerja dll.), beberapa dari mereka di inkubator sedang sisanya di ranjang bayi. Tempat tidur saya ada di paling pojok ruangan, persis di dekat jendela.

Entah kenapa saya ditempatkan di kamar itu, mungkin karena biayanya tidak terlalu mahal. Mama tidur di bawah ranjang saya, di atas sajadahnya. Seperti biasa, setiap malam Mama shalat dan mengaji. Suatu malam, saya melihat ke jendela saya ketika mama sedang mengaji. Ada seorang perempuan, usianya sekitar tiga puluhan, melihat ke dalam kamar dari luar jendela. Matanya sendu, dan sepertinya semakin Mama mengaji wajahnya semakin pilu–seperti menikmati melankolia. Saya tahu karena entah kenapa saya tidak takut untuk terus melihat perempuan itu. Saya kasihan, dia sepertinya kesepian, dan suara mengaji Mama menghiburnya dengan cara yang sangat aneh.

Entah surah apa dan ayat berapa, suara mengaji Mama seperti obat bius buat saya. Saya perlahan tertidur. Ketika saya bangun pagi itu, dan duduk menghadap jendela, saya baru sadar. Saya ada di lantai atas–mungkin lantai tiga atau empat saya lupa persisnya. Dari kamar saya di siang hari saya bisa melihat lanskap luar rumah sakit. Ada kuburan yang sangat luas jauh di luar lapangan parkir rumah sakit. Artinya, tadi malam, perempuan itu…

Bersambung ke bagian II

 

Screen Shot 2016-01-08 at 5.01.51 PM
photo: etsy.com

 

Memoir, Racauan

Halo, Saya Ganti Rupa

IMG_5203
Foto oleh Tyagita Silka di Tryst Adams Morgan, Washington DC

Saya melihat diri sendiri di cermin dan merasa tidak kenal dengan pria di cermin itu. Pria itu mirip bapak saya, dan kata Gabriel Garcia Marquez, ketika seorang pria melihat ke cermin dan melihat bapaknya, itulah artinya ia mulai dewasa. Saya dewasa? That must be a joke! 

Semoga saya tidak terlalu dewasa untuk menjadi anak-anak. Tanpa kekanak-kanakan tidak akan ada kreativitas, The child is the father of the man, kata Wordsworth.

Tapi perubahan itu toh selalu terjadi. Tanpa sadar saya sudah ada di negeri orang, dengan seorang partner yang juga sahabat terbaik saya, dan dengan semua tantangan-tantangan hidup baru. 2015 adalah tahun perubahan besar buat saya. Tahun liminal. Saya melepaskan status bujangan, saya melepaskan pekerjaan, saya melepaskan Indonesia. Satu tahun dimana saya sangat sibuk membangun inner-self.  Saya banyak berpikir dan berproses untuk memantapkan pilihan-pilihan di hidup, hingga saya selalu bisa sibuk dalam keadaan apapun.

Deadline saya untuk adaptasi pada Washington DC, pada ketidakpastian tujuan sudah lewat. Tugas saya sudah jelas dan proyek-proyek ke depan sudah tersusun rapih. Pertengahan Januari saya akan sibuk di New York untuk membantu proyek seorang kawan, dan selama tahun 2016 ini saya akan sibuk membangun sebuah kanal informasi baru bersama sahabat-sahabat saya di Bandung dan Jakarta. Ada juga beberapa proyek film dari jauh, sebagai produser bayangan, konsultan, scriptwriter dan lain-lain.

Dan dalam kesibukan-kesibukan itu, seperti biasa saya juga akan tetap mengisi blog ini dengan pemikiran-pemikiran saya yang terpinggirkan tapi tetap worth sharing. Saya persembahkan tampilan baru Esei Nosa untuk Anda sekalian. Semoga kita bisa tetap diskusi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Saya juga membuat versi tulisan bahasa Inggris di Medium.com, be sure to check itu out. Versinya agak beda dengan blog ini karena ada beberapa tulisan yang lebih enak ditulis dengan bahasa inggris. Grammar agak kacau karena memang sudah lama saya tidak menulis bahasa Inggris.

Tabik!