Saya minta tolong monyet-monyet di WordPress buat lihat keaktifan saya ngeblog. Salah satu intinya, tulisan soal memori Gojek yang disebar selebtwit Arman Dhani, nyampe ke angka 10.242 orang, dan komentar kelas menengah, seperti biasa, banyak yang ngehe-ngehe-in saya. Dasar ngehe. Selamat Tahun baru semuanya. Semoga tahun 2016 orang goblok egois dan orang pinter yang sombong berkurang. Semoga bisa lebih banyak berbagi.
The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.
Here’s an excerpt:
Madison Square Garden can seat 20,000 people for a concert. This blog was viewed about 68,000 times in 2015. If it were a concert at Madison Square Garden, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.
Ini tanggapan buat adinda Beatrice Silvia yang menulis soal panduan nonton gig di Provoke-online, juga buat dinda-dinda lain yang masih suka berseronok di skena musik hari-hari ini. Abang ini cuma hendak berbagi pengalaman sahaja, Dinda. Bahwasannya di tahun 2000-an, tidak ada polisi skena, karena isi seluruh skena biasanya penjahat. Menurut abang, itulah sebab hari-hari ini banyak polisi. Dulu, ya, Dinda, Mantan gebetan Abang saja harus kabur dari rumah untuk nonton skena, karena bapaknya takut keperawanannya hilang sepulang nonton skena; padahal keperawanan mantan gebetan abang sudah hilang dari SD, ketika ia kecelakaan sepeda mini. Skena itu serem!
Alkisah, Wonderbra, Band Rock en Roll abang ni, sudah pernah manggung ratusan gig. Dari 2005 sampai tahun 2009, abang ingat kami sering mendapat panggung dengan mosh pit yang yang ibarat lubang anjing hyena: orang tabrak-tabrakan, menyelam di kerumunan, bahkan suatu kali pernah ada yang kelahi dengan golok dan membuat lubang anjing itu menjadi arena gladiator jawara. Basist band abang, kang Asep, sampai pura-pura pingsan agar panggung tidak dibakar. Penonton dulu begitu jahatnya, begitu aktifnya dan begitu berbahayanya. Belum lagi seksisme yang mereka teriakan pada vokalis band rock atau dangdut perempuan. Teraya, vokalis abang, pernah disuruh telanjang. Sebagai feminis, tentulah ia membalas, “Lu aja sini telanjang sampe k****l!”
Tapi abang ni tiada bisa menyalahkan para penjahat skena tersebut. Selain karena mereka menghidupkan panggung (kadang-kadang benar-benar membakar dengan api), mereka pun memberikan pengalaman panggung yang tidak tanggung-tanggung untuk abang dan budak-budak abang. Lagipula, abang pula sering menjadi penjahat untuk menghidupkan panggung, ketika nonton skena dulu itu. Ini abang hendak berbagi pengalaman, yaitu bagaimana tata cara menjadi penjahat skena.
Berikut 10 banyolan yang saya dengar di kuliah umum Žižek, saya terjemahkan dan parafrasa. Beberapa lelucon ini sudah ada dalam buku Žižek’s Jokes, dan ia menceritakannya dengan narasi yang hampir sama sebagai ice breaker selama kuliah umum.
Mereka yang kuliah dan pernah kuliah di FIB UI pasti mengenal Sandy ‘Bagong’ Surakusumah. Kalau pun tidak secara langsung mengenal orangnya, pasti mengenal karyanya. Di banyak event, ia melukis mural dan membangun karya-karya instalasi dari yang kecil sampai yang raksasa. Dari bentuk tetumbuhan, pepohonan, hingga gapura dan gedung. Ia juga membuat berbagai macam karya sesuai wacana yang hendak dibawakan: dari perjuangan gerakan 98, sampai menyindir rektor ketika biaya kuliah mahal dan mahasiswa miskin tak bisa kuliah. Kebanyakan karya itu ia bangun dengan bahan-bahan sederhana: bambu, lem, kertas koran, pulp, cat tembok, cat kayu, kaso, kawat dan kadang hal-hal yang tak masuk akal untuk jadi karya seni: dedaunan kering, batang-batang pohon, botol plastik, tanah–Sandy Bagong adalah ahlinya mix media. Ia adalah satu dari tiga begawan seni rupa kontemporer FIB UI (versi saya) selain Mulyadi Iskandar dan Anca Dudy.