Racauan, Workshop

3 Halangan Menulis dan Cara Menerobosnya

Entah sudah berapa banyak janji yang terlanggar soal menulis harian. Tapi pernah ada masa-masa konsisten, dimana secara rutin saya menulis. Jika diingat lagi, dengan mudah saya bisa tahu dimana batas menulis itu putus di jalan. Secara sederhana, sebabnya ada tiga.

Pertama, karena ada disrupsi rutinitas. Beberapa bulan ini, disrupsi selalu terjadi dengan berbagai macam masalah: dari masalah keluarga, kerjaan, dan yang akhir-akhir ini sedang sangat mengganggu: lonjakan pasien covid, kawan dan sanak saudara yang sakit dan meninggal. Jelas, menulis tidak sepenting mereka. Di situ saya paham bahwa menulis adalah privilise.

Kedua, kurang baca dan kurang bergaul. Penulis menghabiskan hidupnya banyak di depan HP, buku catatan, atau laptop untuk menulis draftnya. Namun ia butuh sekali untuk keluar dari zona penulisannya. Haruki Murakami mengunakan lari jauh setiap pagi, lalu bergaul di berbagai tempat sosial, atau berkelana ke sana kemari. Perjalanan bisa setahun dan dalam setahun itu ia sambil menulis 3-4 jam sehari tentang apa yang ia pelajari setahun sebelumnya. Begitupun penulis perjalanan (travel writers). Mereka sebenarnya lebih banyak di rumah, karena kalau di jalan, mereka mengumpulkan data. Tapi kalau mau aktif seperti Paul Theroux misalnya, yang hingga usia hampir 100 masih jalan-jalan dan menerbitkan buku, memang harus ada rutinitas. Bahwasannya yang ia banggakan, sebagai penulis ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh di rumah. Karena ia banyakan di rumah daripada di jalan. Novellette saya Kaori, mengambil inspirasi dari Paul Theroux dan kemampuannya membagi waktu antara tulisan dan rumah—walau Aoyama di Kaori lebih menderita karena ia tak punya anak.

Ketiga, muncul keinginan untuk membuat karya yang sempurna. Saya punya ratusan draft tulisan di blog ini. Beberapa ide dan topik yang saya pikir potensial untuk jadi besar. Ini bahaya, karena akhirnya yang jadi keluar ke permukaan hanya sedikit. Dan dari pengalaman saya, menyimpan ide tidak pernah baik kalau tidak ada deadline. Akhirnya bayi tulisan kita bisa cacat atau keguguran. Prematur itu buruk, tapi post term atau overdue bisa jauh lebih buruk untuk bayi dan yang mengandung. Kita sebagai penulis bisa terjebak di ide itu sampai gila.

Jadi baiknya diselesaikan, walau belum diterbitkan. Itu yang sedang saya usahakan, bahwa setiap draft adalah sesuatu yang selesai. Draft satu dan draft dua adalah tulisan yang berbeda. Bahkan ketika sudah terbit pun, dalam beberapa tahun bisa saya lihat lagi dan saya revisi, sesuai perubahan zaman.

Jadi ini cara utama yang sedang saya lakukan untuk bisa tetap menulis:

Jika saya bisa meminimalisir efek dari disrupsi dengan menepati janji saya untuk menulis, dan saya bisa terus membaca dan bergaul, dan saya tidak mengejar kesempurnaan, maka saya yakin saya bisa kembali aktif dan tidak buang-buang uang website 2.5 juta per tahun. Kunci yang selama ini berhasil adalah: ketika disrupsi itu berlalu, paksa rutinitas untuk kembali dengan fokus ke apa yang ada di sini sekarang di depan kamu. Residu dari disrupsi yang mengganggu dan menyedihkan, biarkan jadi bisikan-bisikan setan yang akan selalu ada. Relakan dia ada di sana tapi jangan berhenti untuknya. Saya tahu ini tidak mudah, tapi jangan dicoba. Dikerjakan saja. Satu-satu, pelan-pelan, dan tekan publish.

Tentunya saya ingin berterima kasih pada para patron saya, yang sudah menyumbang di laman traktir saya. Insentif ketika menulis itu penting juga di umur di atas 30 ini, apalagi saya tidak mau jadi penulis sepenuhnya. Saya masih mau jadi filmmaker, musisi, penyair, peneliti, kritikus, guru, dan banyak lagi. Hidup cuma sebentar.

Maka saya sangat menghargai mereka yang mentraktir saya kopi atau apapun untuk membiarkan saya bicara dan menulis. Kalau kamu baca ini sampai habis dan merasa ini ada gunanya, traktirlah saya secangkir kopi.

Terima kasih sudah membaca. Selamat menulis dan kabari saya di kolom komentar jika kamu menulis karena membaca ini atau karya saya yang lain. Saya ingin kita diskusi, nanti saya yang gantian traktir kopi biji jika kamu anak indie; atau teh jika kamu mau lebih berkelas, atau whisky jika kamu tipe yang ngeblues, gin jika kamu ingin lebih ekspresif tapi kalem, dan wine jika kamu filosofis.

Tabik!

Filsafat, Memoir, Racauan

Hidup Manual Lebih Baik daripada Matic

Pagi ini ada insiden: sebuah mobil Alphard yang kinclong dan baru menabrak tembok kosan saya dengan sangat parah, kecepatan tinggi, hingga bagian depanya hancur, cairan warna hijau keluar dari mobil, dan asap keluar dari mesin. Kejadian ini berlangsung dengan sangat konyol.

Saya hendak mengambil jemuran dari teras lantai dua, ketika saya lihat Alphard mewah sedang mundur untuk putar balik. Saya dengar alarm belakang mobil itu sudah bunyi cepat sampai melengking panjang menandai mobil sudah tidak bisa mundur. Tapi kenapa dia terus mundur saya bingung. Apa dia mabuk? Pelan-pelan bagian belakangnya menabrak tiang listrik sampai bunyinya seperti tulang remuk diremas besi pelan-pelan… “KRKKK… ” Ia baru mengerem. Dan kejadian selanjutnya begitu mengejutkan:

Tiba-tiba saja mobil itu ngegas dengan sangat cepat! Kencang sekali seperti melompat, dan sontak menabrak tembok di depannya. Seorang teman saya yang sedang lari pagi lewat di depan mobil itu bilang, “Takut ketabrak gue. “

Kawan saya berjalan menuju mobil yang mundur pelan-pelan. Bagian depan sebelah kanan hancur total. Asap keluar. Klaksonnya rusak terus berbunyi, membuat tetangga-tetangga pada keluar. Kawan yang hampir tertabrak mengarahkan supir supaya bisa melipir dan membuka jalan. Sambil klakson terus berbunyi, saya lihat supir itu berusaha memasukan balon keselamatan yang pastinya keluar dari setirnya. Ia lalu berkata keras-keras kepada semua orang yang berkumpul: “Gasnya terjepit sandal saya! ” Sulit dipercaya, dia panik karena bagian belakang menabrak tiang listrik, lalu ganti gigi dan langsung nabrak depan? Tidak masuk akal.

Tak lama setelah itu saya menuju kantor. Saya pikir, mungkin kalau mobil itu manual, kejadiannya tidak mungkin separah itu. Saya ingat Papa saya sangat anti mobil matic, karena hal-hal seperti ini. “Papa takut nggak bisa ngontrol. ” Yes, Pap. Bener juga. Kalo gigi 1, ngebut dikit lepas kopling pasti mati. Dan kalo kaki kanan kejepit, kaki kiri masih terbiasa injak rem. Tiba-tiba dalam 15 menit menuju kantor, saya berpikir soal hidup. Seperti lagi Drive oleh Incubus.

Tubuh kita tak lebih dari mesin biologis. Dan kita bisa belajar dari mesin, untuk memperpanjang waktu hidup kita dengan berkualitas. Tiap pagi dipanaskan, baru mulai bekerja. Jadi bangun tidur, jangan langsung kerja. Pemanasan dulu, relaksasi, baru… Tidur lagi… Maksud saya mandi lalu bekerja.

Seandainya jarak tempuh adalah pekerjaan dan tujuan adalah cita-cita, maka perjalanan kita dimulai dengan doa, dan digapai sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan mesin kita. Setelah dipanaskan, kita mulai perjalanan kita.

Gigi 1, perhatikan rpm. Jangan ganti gigi sebelum rpm sampai ke angka 3 atau 4. Lambat memang, tapi tidak perlu juga ngesot dan drifting di awal-awal. Biarkan kita rasakan jalanan, ingat kapan ada polisi tidur, tanjakan, dan belokan.

Jangan lupa rem dan lihat kiri-kanan sebelum berbelok. Tujuan kita tidak pernah lurus, tapi sembarangan belok bisa berakibat fatal buat kita dan orang lain. Karena di luar sana selalu ada orang yang mulai lebih dulu dari kita dan bisa jadi sudah cepat. Menghalangi jalannya akan membuat kita ditabrak. Terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sulit. Sulit untuk mengalah, apalagi kalau orang yang sudah ngebut itu slebor entah karena pengen cepat sampai karena mules, atau memang gila saja.

Tapi tak guna toh menyalahkan orang lain. Biarkan saja ia lewat seperti semua pikiran buruk dan pikiran jahat yang ada di belakang pikiran kita. Biarkan anjing-anjing menggonggong, gerombolan hyena lewat mengejar gerombolan rusa. Toh kita tidak sedang ikut berburu. Baru kita lanjutkan perjalanan, ketika sudah ada ruang buat kita. Sabarlah, ruang akan terbentuk. Dari kita lahir, kita toh sudah menyeruak keluar dari rahim dan menyerusuk masuk ke dunia.

Gigi 2. Cepat sedikit. Kasihan yang di belakang, tapi perhatikan di depan. Jika ramai, pertahankan gigi dua dan satu. Tidak guna gigi tiga jika kita harus berguncang-guncang di dalam. Ketenangan adalah tujuan utamanya. Usahakan ketika mengganti gigi, tidak terasa persneling kita pindah. Santai, sabar, injak kopling perlahan ketika kecepatan sudah stabil. Depan ada ruang, pindah gigi

Gigi 3. Percepat. Kasihan mereka yang di belakang kita sulit mengejar. Tapi jalan kota jakarta non-tol tidak begitu butuh gigi 4, santai saja di gigi 3. Kopling bisa mulai dilepas sampai lalu lintas mulai padat lagi. Jalan kecil berkelok-kelok juga tidak butuh gigi 4. Kita justru harus banyak rem, dan turun gigi. Hidup sesuai konteks. Tidak ada gunanya kebut-kebutan di jalan kecil lalulintas ramai.

Masuk jalan tol. Padat tapi tidak merayap. Naik gigi 4. Minimal 40 km/jam. Tingkatkan kecepatan ketika jarak sudah aman, 60 km. Jalanan mulai sepi dan panjang. Kecepatan 75. Pindah gigi.

Gigi 5, kecepatan stabil di 80 menuju 100, ambil lajur tengah menuju kanan untuk menyalip. Usahakan tidak lebih dari 100. Usahakan di tengah saja, tidak ambil kanan terus. Jangan melanggar aturan. Jangan menyalip dari kiri. Tapi kadang kita bisa bersnang-senang.

Jalanan lurus. Kosong. Sekali-sekali coba 120 km/jam, dengan kepercayaan mobil terawat baik. Power steering bagus. Rem bagus. Sebentar saja lalu kau lihat lengkungan jalan, lepas gas pelan-pelan, turunkan kecepatan. Menuju gerbang keluar tol, kembali ke gigi 4. 3. 2. 1. Netral. Berhenti. Bayar tol. Keluar dan kembali menanjak pelan-pelan. Masuk kembali ke kota. Kalem lagi.

Sampai di tempat tujuan. Gigi 1. Parkir reverse dengan berbagai macam tips dan trik spion dan manuver. Dengarkan alarm belakang jika ada. Perhatikan spion kiri-kanan dan dalam. Hingga semua baik-baik saja. Posisi gigi netral. Tarik rem tangan. Kamu sampai ke tujuan. Istirahat lalu kerja.

Kopling, gigi, menjaga tetap aman menjaga kecepatan dan kontrol. Kontrol yang didapat susah payah dengan mati-mati mesin, loncat-loncat, dan tabrak menabrak, serempet menyerempet. Paling tidak kalau kaki tersangkut gas, tapi gigi 1, kecepatan cuma di bawah 20 Km/jam. Bayangkan jika gas terinjak dan kaki terjebak sandal di mobil matic. Kaki kiri tidak biasa bekerja, rem tidak bisa ditekan, rem tangan pun dilupakan. Maka bisa jadi hidup kita akan berakhir buruk dengan sangat konyol. Seperti mobil Alphard pagi ini di depan kosan saya.

English, Memoir, Racauan

Dysphoria #1: Self-made Hell

This is a work fiction. All resemblance with the reality is on purpose. Explicit content.

It is obvious that my loneliness is the main cause of all these fuss, unfaithfulness, the distorted feeling of entitlement. It is my most deceptive defensive mechanism–that the truth, in itself, is self destructing. I am alienating people in order to alienate myself from the hell that they construct.

Creating my own hell, is better than living somebody else’s heaven.

Thus, I hurt myself again, just to find a way to make me forget that I am lonely. I hurt myself with bulimia, with days of sleep, with obsessive scratching, cutting, and obsessive exercise when the manic came, sleepless nights, and after that I still want to punch any guy, or fuck any girl that I think deserve my fist or my dick. I am all open to fight or fuck because I’m sick of flight.

And I’d desperately love anybody who wants to love me. And I’d burn myself, sacrifice myself, ready to be crucify like Jesus H. Christ, and I’d beg people not to leave me until they’d got annoyed and see me as a freak and they need to leave me to stay sane because I’d drive them crazy, so I’d drive my car. I’d drive and drink myself hope to die on the road, hopefully with other assholes that swarming the highways of this city.

And all of it would be my fault. Nobody can blame or even care about my disorder, my upbringing, the system that I am in. I and only I, will be held responsible for all this mess that’s happening with my life and other people that I dragged.

The fucking shrink might say that this thought is cognitive distortion, self entitlement, but fuck you, the court, the people’s court cannot hold my disorder, my upbringing responsible for my actions. They cannot put those abstract nouns in jail, they could not rehabilitate my illness. It is I and only I, will be held responsible for my actions.

And what else should I do but to embrace what the universe has given me? I have eliminate the choice to take my own life because of the meds or because I’m a fucking coward. Anyway, I have no choice but struggle against a sea of trouble and by opposing hope to end them. Even though I know, that I will lose and drown and will face inevitable slow death. But at least I did fight back and refuse to flight.

At least I did good, at being brave. To open my eyes every day, and trying hard to get out of bed and go out to the world. To fight or to fuck. And if I have to lose love again, I think it’s just because I don’t deserve love. I am condemn to beg. For mercy, for love, for attention, only to toss it all out, when I feel lonely.

Because of this distorted feelings and thought, that I’d rather be alone, than be lonely. And the only way to be out of the misery of loneliness, is to break all ties and be perfectly alone to face the misery of the ubermench, the homo deus. Until there is no happines or misery any more, until there is no value in the narrative of my life.

It is when I became forgetful, mad, or die.

Sickness unto death.

This site is run by donation. If you like what you read, please be a patron at by clicking this link.