Filsafat, Racauan

Rencana Manik

Kau seperti klise yang diulang-ulang, walau sesungguhnya jauh dari pikiran banyak orang.

Seperti semua kebenaran politis yang kau paksa untuk anut tapi sebenarnya kau tak suka-suka amat, jadi munafik dalam dirimu karena pada kenyataannya kalau bisa kau langgar, kau langgar.

Aku tidak di tempat yang cocok untuk menilaimu, aku tahu, dan kau… Kau jauh dari tempat tinggi untuk menilaiku. Kita toh berbuat semau-maunya saja dalam cerita ini–cerita dimana di versimu kau korbannya dan aku penjahatnya. Sementara di versiku penjahat dan korban adalah orang yang sama: aku.

Terlalu banyak drama untuk jiwa setua kita. Sementara kawan dan sanak saudara sudah beranak pinak seperti marmut, kelinci, tikus atau kecoak, kita macam spesies mau punah yang tidak mampu regenerasi, spesies yang kalah dalam kompetisi Lamarck-Darwin.

Kita pesakitan yang terjangkit wabah bernama intelektualitas dan bias kelas dan fatalistik, banalitas; kita percaya manusia menuju kepunahan dan kita berusaha tidak jadi munafik dengan cara memodifikasi diri supaya kita melampaui manusia macam ubermench Nietzsche: kita mau menyatu dengan kimiawi artifisial dan mesin-mesin sehingga kita tidak perlu berkembang biak macam binatang. Kita jadi manusia yang lebih manusiawi: egois, dan berusaha untuk abadi.

Karena apa gunanya beranak pinak, kalau kau tak bisa mati?

Lalu kita buat kemutakhiran diri dengan obat-obatan, campuran mesin, dan komputerisasi otak. Siapa lagi yang butuh memori biologis kalau kita bisa tersambung ke memori data kolektif dengan penanggalan karbon dan jam atom paling akurat?

Kasih sayang, seks, cinta, petualangan, kebencian, rasa, semua akan jadi hiburan semata dalam realita virtual kita. Lalu makna juga tak lebih dari fabrikasi. Manusia yang tak mampu berevolusi cuma jadi kucing jalanan saja, cuma perlu kita steril supaya tidak merepotkan.

Manusia terlalu merepotkan dan semakin lama semakin tertebak, terjebak dalam putaran kuasa yang itu-itu saja sementara polusi tidak berhenti melebar dan polisi semakin tidak mengerti tugasnya menjaga apa.

Sudahlah. Tidurkan dengan euthanasia. Supaya semua cepat berganti, karena aku sudah tidak sabar lagi.

Untuk mati dan hidup lagi.

Iklan
Filsafat, Politik, Racauan

Pelukis Tanpa Kelingking

horses2

Kau dan aku adalah debu-debu semesta. Kita begitu kecil dan tak berarti, maka kurasa kita harus menerima kenyataan ini. Semua hal yang kita anggap penting hari ini, dari agama sampai cinta, cuma dongeng belaka. Tenang saja, bahkan ketika kiamat datang, cuma kita yang mati, semesta jalan terus dan akhirat cuma ada di buku-buku dan artefak yang kita tinggalkan.

Baca lebih lanjut