Pendek saja, ini tulisan reaksi yang agak ad hominem, untuk tulisan lain di selasar.com dari Dr. Fithra Faisal Hastiadi SE. MSE. MA, LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa. Pak Fithra ini orang hebat! S1 di UI dan S2 dan S3-nya di Keio dan Waseda University, Jepang. Dengan mengantungi titel kampus-kampus mentereng, saya sangat curiga bahwa akunnya di Selasar dibajak orang. Ada beberapa permasalahan penting di sini.Tulisan soal LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa itu strukturnya kacau balau. Mari kita mulai dari kalimat tesisnya.
“Di sini, saya akan memberikan sebuah analisa empiris sederhana berbasis data yang valid dan mudah diakses. Model estimasi saya terdiri dari 27 negara Uni Eropa dengan variabel yang diperoleh dari World Government Indicators (WGI) dan EU LGBT Survey.”
Jadi kita berharap akan menemukan (1) analisa empiris sederhana berbasis data yang valid dan mudah diakses dan (2) estimasi yang terdiri dari 27 negara Uni Eropa dengan Variabel dari WGI dan EU LGBT Survey.
(1) Analisa Empiris berbasis data yang valid dan mudah diakses.
Dalam tulisan tersebut sama sekali TIDAK ADA “analisa empiris berbasis data”, maka kita tidak bisa tahu sama sekali apa data itu valid atau tidak. Ini adalah data yang dipakai pak Doktor: “…pada tahun 2060, negara-negara ini akan kehilangan hampir setengah penduduknya karena kondisi rapid aging society. Mau bukti? Lihat saja isi timnas Jerman dan Perancis yang mulai dari mulai penjaga gawang sampai strikernya didominasi oleh keturunan imigran. Lihatlah nama-nama mulai dari Zinedine Zidane, Marcel Desaily, Thierry Henry, Mehmet School hingga yang teranyar semisal Mamadou sakho, Eliqoium Mangala, Mesut Ozil, Ilkay Gundongan dan Lukas Podolski.”
Apanya yang basis data Dok? Okelah, demi argumen saya anggap itu data, tapi sumbernya dari mana? Dr. Fithra menuduh bahwa LGBT adalah sebab Jerman dan Perancis banjir imigran. Padahal imigran ramai karena Jerman sangat membuka diri untuk imigran (lihat kasus pengungsi Suriah dan Kebijakan Merkel) dan Prancis membuka lebar-lebar negaranya untuk para penduduk bekas negara jajahan seperti Al Jazair atau Morocco. Perubahan pola keluarga dan turunnya populasi disebabkan adanya perubahan moda produksi ekonomi, kemajuan teknologi, keterbukaan seksual dan individualisme (Lihat kajian Prof. Robert Cliquet dalam website PBB, unduh PDF Major Trends Affecting Families in the New Millenium).
(2) Estimasi dari 27 negara Uni Eropa dengan variabel yang diperoleh dari WGI dan EU LGBT Survey
Ini yang keren. Selain Jerman dan Prancis yang datanya tidak jelas itu, Doktor kita sama sekali tidak menyebutkan negara Uni Eropa lain. Dia malah menyebutkan:
“Tengok saja Tiongkok. Negara ini terkenal akan one child policy-nya. Kebijakan itu terbukti sukses menekan populasi Tiongkok.”
Saya perlu pencerahan, sejak kapan Tiongkok menjadi bagian negara Uni Eropa? Atau kasih tahu saya, sejak kapan pak Doktor mengubah kalimat tesisnya dari Uni Eropa ke negeri Cina? Apalagi Cina sedang krisis maskulinitas dan mereka Anti-LGBT dengan alasan nasionalis-komunisnya yang memang masih sering fasis.
Lalu pak Doktor bilang, “Jika ustadz dan pendeta tidak dapat meyakinkan para pemangku kebijakan, mudah-mudahan tulisan ini dapat menuntun mereka untuk dapat berpikir lebih jernih dan rasional, bukan sekedar pakai ilmu kira-kira.”
Oke pak Doktor. Semoga pemangku kebijakan bisa yakin setelah membaca tulisan ala Vicky Prasetya ini. Nah, apa bisa bapak beritahukan sekarang hubungan tulisan bapak dengan judulnya? “LGBT dan Kegagalan sebuah bangsa.” Bangsa siapa? Bangsa yang mana? Karena kalau kita pakai pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur, jelas-jelas bangsa Indonesia yang religius dan moralis ini tingkat ekonominya JAUH di bawah negara-negara pendukung LGBT. Kalau bapak Doktor yang terhormat mau bilang “…jika melihat faktor pemerintah, setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pro LGBT, maka terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1 persen.” SUMBERNYA mana? Kok pake ilmu kira-kira, pak? Katanya tadi harus jernih dan rasional.
Ah, sudahlah. Saya siapa sih. Cuma Antropolog yang kerjaannya main di kampung. Tidak ada apa-apanya dibandingkan pak Doktor yang lulus dari Universitas Keio dan Universitas Waseda Jepang. Paling tidak Waseda University masih membuka dialog dan melihat ke depan soal masalah ini dengan memberikan penghargaan pidato pada siswa yang membahas isu LGBT. Tidak seperti UI yang malah menyuruh SGRC mencoret nama institusinya. Pasti Almamater Bapak di Jepang sana bangga ya, ada alumninya yang jago mengarang bebas.
Terus terang, saya takut kejadian menara babel kembali terulang. Kamu tahu kan, ketika budak-budak babylon menghancurkan menara yang mereka bangun karena mereka tak tahu apa artinya–yang tahu artinya hanya para konseptor, arsitek kelas atas, yang tidak mau mendidik para budak karena mereka butuh para budak tetap bodoh supaya jadi budak?
Hari ini ada pencapaian besar. Gelombang Gravitasional kini bisa dideteksi. Apa itu gelombang gravitasional?
Untuk menyederhanakannya, itu adalah gelombang ke ‘ada’ an sebuah benda fisik yang memiliki massa dan energi. Ruang kosong (space) tidaklah kosong. Kekosongan bisa bereaksi ketika ada yang mengisi. Isinya adalah benda dengan massa dan energi tadi. ‘Gaya tarik’ gravitasi adalah sebuah istilah yang kurang tepat, karena gravitasi tidak ‘menarik’. Gravitasi bermain dengan ‘keberadaan’, yang membuat ruang kosong jadi bergelombang, melengkung, atau terlipat. ‘Gaya tarik’ gravitasi ini yang membuat planet berputar mengelilingi matahari, adalah karena matahari membuat ruang kosong menjadi ‘tertekan’, hingga planet-planet yang memiliki massa dan energi berputar mengelilinginya.
Einstein memberi contoh dengan membentangkan seprai di atas udara (empat orang menahan setiap sudutnya). Ia menaruh sebuah bola yang besar dan berat di seprai itu hingga seprai itu melengkung ke dalam. Lalu ia melemparkan bola kecil yang dengan energi dan massanya berputar mengelilingi bola besar. Itulah cara gravitasi bekerja.
Masih kurang jelas? Bayangkan Anda ada di sebuah pesta yang banyak orang. Tiba-tiba masuklah seorang gadis yang sangaat cantik ke ruangan. Semua orang tertarik padanya–para pria berputar di sekitarnya, para wanita menjauh dan mulai mencibir atau memuji diam-diam. Si perempuan cantik itu adalah Matahari di galaksi pesta tersebut. Dan para tamu–baik pria atau wanita, terpengaruh dengan gravitasi si Matahari.
Namun gelombang gravitasi yang dipancarkan setiap tamu-tamu pesta, hampir tidak mungkin dibaca karena riaknya sangat-sangat kecil. Kalaupun energi dan massanya besar, seperti planet atau matahari-matahari lain di galaksi lain, sulit juga menemukan gelombang gravitasinya. Bukan karena kita tak bisa membacanya, tapi karena ada begitu banyak bintang, matahari, dan lubang hitam di luar sana yang mana semuanya mengeluarkan gelombang. Kita tidak bisa membedakan gelombang mana punya siapa. Sampai satu hari yang lalu.
Sampai alat besar bernama LIGO ini berhasil mendeteksi gelombang gravitasi dari dua buah lubang hitam yang saling berkelindan. Satu lubang hitam ukurannya bisa jutaan bahkan milyaran Matahari kita. Jadi lubang hitam adalah benda terbesar di alam semesta yang kita tahu. Kelindan ini terjadi 1.3 milyar tahun yang lalu, dan gelombangnya terasa hari ini, terdeteksi dengan pasti oleh LIGO. Anda bisa simak liputannya di bawah ini.
Masih kurang jelas? Anggaplah perempuan cantik di pesta tadi adalah Lubang Hitam yang menghisap seluruh alam semesta pesta. Dia membuat hati-hati para pria patah karena ditolak, dan emosi para wanita pecah karena cemburu. Lalu masuklah pria itu, pria paling tampan di pesta, lubang hitam yang lain. Dan mereka berdansa di pesta itu, hingga semesta pesta terpana, teraduk, tertarik, dan tidak bisa melupakan tarian dua lubang hitam yang terjadi 1,3 milyar tahun yang lalu.
Semoga Anda mengerti dan bisa mengajari orang lain tentang pencapaian besar hari ini. Jauh lebih besar dari perseteruan politik kita sehari-hari. Jauh lebih besar daripada perbedaan kita. Dan semoga ini bisa berlanjut terus, tanpa ada budak-budak bodoh yang tidak mengerti dan ingin menghancurkan peradaban yang kita buat sama-sama selama ribuan tahun umur spesies kita. Tidak ada cara lain untuk mencegah tragedi menara babel selain membuat kesetaraan, menyebar pengetahuan, dan menghancurkan kebodohan dengan kasih sayang dan pendidikan.
Karena pencapaian ini tidak dilakukan oleh segolongan orang, tapi bermacam-macam orang: agamis, atheis, liberal, konservatif, straight, gay, semua. Jangan kehilangan satu orang pun. Jangan renggut Hak Asasi satu orang pun. Jangan buat menara Babel.
Setelah banyak membaca dan belajar, saya tiba-tiba sadar kalau selain kedamaian dan kekuatan spiritual, Islam juga memberikan ketakutan-ketakutan pada saya. Ketakutan-ketakutan ini membatasi pikiran dan kehidupan saya. Misalnya: saya takut pada anjing karena haram, saya takut pada orang asing (dengan agama asing), saya takut pada makanan yang dibuat orang beragama berbeda, dan saya takut pada seks, saya takut pada LGBT. Setelah banyak membaca dan belajar saya tergoda untuk menantang ketakutan-ketakutan itu. Godaan yang membuat saya menjadi lebih dewasa.
Dulu ketika umur saya lima atau enam tahun, Mama mengajarkan sebuah dzikir ketika menghadapi ketakutan, “Ya Hafidz”, maha penjaga atau maha pemelihara. Saya berdoa agar anjing itu tidak mengejar, menjilat apalagi menggigit saya. Konon ludah anjing najis dan harus dicuci dengan tanah 7 kali. (sekarang saya tidak akan menyebut nama itu lagi gara-gara seorang selebtweet yang alimnya seperti eksibisionis yang suka pamer titit, sampai saya jijik. Itu lho yang pentolan Gerakan Antimo).
Misi untuk menantang ketakutan-ketakutan itu saya jalankan. Saya buang jauh-jauh doa minta dijaga–setiap melihat anjing, saya berusaha mendekati dan membelainya. Karena teman-teman saya banyak pecinta anjing, ketakutan itu berubah menjadi kecintaan. Kini saya merasa bahwa cuci tangan dengan sabun cukup untuk menghilangkan ludah anjing. Apalagi anjing peliharaan jaman sekarang bersih-bersih dan lebih sering ke dokter untuk perawatan daripada saya. Sekarang, salah satu cita-cita saya adalah: punya anjing.
ORANG ASING DAN MAKANANNYA
Photo: Chinese Master Chef UK. ytimg.com
Saya juga diajarkan untuk takut pada orang asing dengan agama asing dan makanan mereka karena banyak sekali keharaman menyangkut makanan: awas ada alkoholnya, awas minyak babi, awas makanan dimasak dengan perlengkapan bekas memasak babi dan awas babi, anjing, kadal, buaya, haram ini haram itu. Papa saya sampai sekarang enggan makan di rumah orang kristen atau orang Cina non muslim walaupun itu saudara atau sahabatnya sendiri dan makanan sudah dilabeli “halal”, dipisahkan dari meja “Mengandung Babi”. Phobia itu tak hilang dari Papa saya yang tak relijius-relijius amat.
Saya melawan ketakutan soal asing dan makanan asing dengan logika dan riset. Sebagai antropolog yang kerjaannya harus bergaul, ketakutan soal makanan ini berbahaya, karena makan adalah tanda keakraban dengan subjek. Menolak suguhan di budaya manapun akan dianggap kasar. Kalau cuma menolak makan babi atau anjing karena muslim, masih tidak masalah. Tapi kalau menolak SEMUA MAKANAN termasuk yang sudah dilabeli “halal” hanya karena yang memasak berbeda agama, itu namanya mencari musuh.
Apalagi soal alkohol. Rata-rata semua makanan ada alkoholnya, dan kebanyakan alami– dan itu HALAL. Ketika makan bakso dengan cuka, itu alkohol. Ketika makan tape, itu alkohol. Duren, itu alkohol. Ada kawan yang menolak makan sushi karena menggunakan arak beras dan mirin di dalamnya, menurut saya itu argumen yang benar-benar tolol. Karena arak beras dan mirin di sushi tidak untuk mabuk, dan fungsinya sama seperti cuka, untuk memberi keasaman. Kalau segitu takutnya pada alkohol, makan buah-buahan saja. Tapi jangan makan duren, pepaya, nanas, anggur, dan salak–semuanya mengandung alkohol!
Intinya, semua dogma dan mitos soal makanan di Islam baiknya dipelajari benar-benar dan ditantang dengan logis. Soal Babi, misalnya. Hari ini semua muslim bisa makan babi, karena daging babi sudah ada yang halal: daging babi organik yang terbuat dari tempe dan sayur-sayuran sudah tersedia di pasaran dengan rasa yang otentik! Saya sudah memastikannya–rasanya ENAK. Dan ketakutan pada masakan orang asing, itu yang paling harus disingkirkan. Orang mengundang kita ke rumahnya, kita harus sopan. Orang sudah tahu bahwa kita muslim, dia membuatkan makanan halal, KITA HARUS MAKAN! Jangan suuzhon!
Terakhir masalah seksualitas. Bukan muhrim itu masalah besar buat orang yang dibesarkan di tradisi islam konservatif. Dulu ada kawan saya yang sama sekali tidak berani melihat perempuan! Apalagi menyentuh, dia takutnya setengah mati, bisa keringat dingin. Tentunya ini bisa disembuhkan dengan… PACARAN! Ya, saya sangat menyarankan pacaran dengan bertanggung jawab. Belajar membuat batas, belajar mengontrol dan belajar melepas kontrol. Itu penting!
Ketakutan akan seks, lawan jenis atau sesama jenis itu ketakutan tidak beralasan. Lebih logis takut pada kecoak yang bisa menyebarkan penyakit. Saya menyembuhkan ini dengan banyak bersahabat dengan perempuan, belajar feminisme, belajar teori seksualitas dan kesehatan reproduksi dan pacaran tadi. Islam yang melarang pacaran itu Islam yang tidak akan saya ikuti. Terserah kalau Felix Siauw mau larang-larang anaknya sendiri, nanti juga anaknya akan melanggar. Ha-Ha.
Ketakutan pada seks juga membawa pada ketakutan pada LGBT atau homophobia. Ketakutan ini saya lawan dengan belajar kajian gender dan memperbanyak kawan-kawan gay. Dari mereka saya belajar dan tahu banyak hal. Mereka menghargai orientasi seksual saya seperti saya menghargai orientasi seksual mereka. Kadang kami saling menggoda. Kawan saya bilang, “Semua orang itu ada homo di dirinya. Lu cobain dulu dah.”
Lalu saya jawab, “Kalo nih bray, kalo gua homo. Gua juga pasti pilih-pilih. Kalo cowoknya kayak elu, gak bakal konak gua! Lu pernah nyobain M***k gak? Kalo belom lu AMATIR! Jangan-jangan lu salah jalan.” Haha.
Saya pernah beberapa kali tidur seranjang dengan sahabat-sahabat saya–ada yang gay, ada yang perempuan bukan muhrim. Aman-aman saja, kami tidak saling iseng secara seksual dan menghormati privasi kami masing-masing. Karena kalau tidak jodoh dan tidak nafsu, masa mau dipaksakan? Apalagi kalau sudah jadi modus operandi, seperti kawan sastrawan kita yang tersohor itu. Kalau ada yang memaksa, itu namanya pelecehan seksual. Teriak aja biar tetangga pada bangun. Hahaha.
*
Achdiyat A. Miharja pernah menulis seperti ini di novel Atheis-nya (saya parafrase): Ada dua sebab ketakutan. Ketakutan karena tahu dan ketakutan karena tidak tahu. Ketakutan karena tahu adalah ketika kita sudah memastikan sesuatu bisa menyakiti kita. Misalnya kita lihat api bisa membakar dan menyakiti kita, maka kita takut pada api dan berusaha mengendalikannya. Ketakutan karena tahu adalah ketakutan yang kita perlukan untuk hidup. Ketakutan kedua adalah yang berbahaya: ketakutan karena tidak tahu. Kita takut gelap karena tidak tahu ada apa di kegelapan itu. Kita takut orang asing karena tidak kenal. Ketakutan karena tidak tahu adalah bentuk kepengecutan, dan bisa membawa kepada malapetaka.
Melawan ketakutan adalah kewajiban jika ingin hidup dengan tenang. Apa enaknya hidup dibayangi dengan ketakutan? Allah tidak akan menolong orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Untuk apa minta tolong pada Tuhan atas kegoblokan diri sendiri? Walau begitu, tidak semua hal bisa menjadi logis. Kita tidak bisa melogikakan Cinta, misalnya. Saya bisa berkali-kali menyakiti orang tua saya, menjadi anak durhaka, tapi orang tua saya tetap mencintai saya dengan sepenuh hati dan jiwa mereka–logika macam apa itu?
Saya bisa berdebat, bertengkar, dan berbeda pendapat dengan sahabat dan kawan saya, tapi di akhir perdebatan kami akan kembali bicara tentang hal-hal lain yang menyenangkan, ngeteh, ngopi dan bersilaturahmi, sebeda apapun kami. Hubungan yang saya bangun dengan orang-orang yang saya sayang tapi sangat berbeda dengan saya adalah hal mistis. Ini juga yang Islam berikan pada saya.
Islam memberikan sebuah kepastian bahwa hidup pantas dihidupi. Hidup pantas dihidupi dengan segala peperangan, kehilangan, cinta, rejeki, musibah, dan kematian. Dan kematian adalah misteri yang bisa dibaca melalui tanda-tanda yang perlu interpretasi. Mendekatkan diri kepada Allah seperti mendekatkan diri kepada alam semesta, takdir dan kepasrahan tanpa batas. Seperti mengakui kekecilan kita sebagai entitas yang hidup dalam debu biru yang sangat kecil.
Tidak ada yang lebih nyata sekaligus puitis selain cinta dan kematian, yang semuanya dirangkum dalam Islam versi hidup saya.
Saya ingat pertama kali saya shalat setelah beberapa tahun murtad, adalah ketika saya dilanda banyak masalah sekaligus: kegalauan percintaan, ekonomi pribadi, ekonomi keluarga, dan sakit psikologis krisis seperempat abad. Saat semua masalah itu menghantam keras, saya tidak punya cara lain selain shalat dan berdoa. Dan di situ saya begitu malu padaNya; bahwa pada akhirnya saya menyerah pasrah. Dan di situ, Islam dan saya menjadi begitu akrab, begitu bebas, dan begitu rahasia karena sedetil apapun saya bercerita, Anda takkan pernah mengerti penuh pengalaman dan perasaan yang saya alami. Cuma saya dan Allah SWT yang tahu.
Menjadi Antropolog yang belajar soal manusia, kebudayaan, dan kemanusiaan sedikit banyak mengembalikan saya pada Islam versi saya ini, yaitu Islam inklusif yang selalu belajar dari banyak orang. Islam saya bukan agama terinstitusi, yang butuh pengakuan dan butuh pembelaan–ia adalah ikatan pribadi saya dengan Allah SWT. Saya membutuhkan Islam seperti saya membutuhkan udara, air, makan, tempat tinggal, dan seni. Islam versi saya adalah yang membebaskan diri sendiri, tapi tidak membebaskan orang lain–karena kebebasan adalah urusan masing-masing, kita hanya bisa tunjukkan jalan buat yang butuh petunjuk saja.
Bertahun-tahun yang lalu saya pernah bertanya pertanyaan itu kepada dekan FIB UI, ketika kebijakan yang ia keluarkan merugikan banyak pihak di kampus. Saya dan kawan-kawan dari berbagai elemen kampus berdemonstrasi di depan kantornya dan si ibu dekan menerima kami untuk berdiskusi. Namun semua permasalahan yang kami ajukan ia mentalkan dengan jawaban birokrasi. Saya pikir ini sudah buntu maka saya bertanya, “Apa ibu goblok?”
Itu pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab tapi sudah pasti menyakitkan. Akhirnya ijasah saya ditahan beberapa bulan dan saya kesulitan cari kerja. Tapi beberapa masalah yang kami ajukan dapat solusi jadi, yaa alhamdulilah. Haha.
Gara-gara demo ijazah ditahan, tapi beberapa tuntutan berhasil which is nice
Beberapa jam yang lalu, saya baru saja merendahkan orang dengan kata-kata itu dalam sebuah diskusi soal LGBT. Orang yang saya tolol dan goblokan tentunya seorang maha suci yang membawa-bawa agama dan melaknatkan LGBT. Sejak awal dia tidak mau diskusi, cuma mau ceramah. Maka saya bertanya padanya, “Apa Anda goblok?” Lalu saya kabur.
Saya ingat seorang sahabat pernah merasa saya tolol dan goblokkan karena dalam diskusi soal Ahmadiyah dan Syiah dia merasa begitu tahu dan menganggap bahwa kedua golongan itu harus (1) hengkang dari indonesia atau (2) direhabilitasi ke jalan islam ‘yang benar’. Ia merasa bahwa kekerasan terhadap mereka sudah sewajarnya dilakukan. Ia belum pernah sama sekali membaca kajian soal kedua aliran tersebut, atau berniat untuk tahu. Biasa, pak Ustad pengajiannya bilang itu salah maka itu salah. Daya kritis mati sudah, dan terpaksa keluar lagi pertanyaan itu dari mulut saya, “Apa Anda goblok?” Lalu saya kabur lagi
Pertanyaan “Apa Anda goblok?” adalah senjata pamungkas saya untuk mengakhiri debat kusir. Saya tidak perlu jawaban. Saya tidak perlu memanjangkan debat itu. Ketika orang sejak awal hanya berniat debat kusir, tidak berniat belajar dan cari solusi, kita langsung tahu betapa buang-buang waktunya berdiskusi dengan orang macam itu. Jadi lebih baik diakhiri saja dengan manis.
Mungkin saya sendiri sudah lelah untuk bermain debat kusir di Internet. Mungkin saya sendiri sudah berubah menjadi orang goblok yang cuma pengen didengar dan tidak ingin mendengar apalagi diskusi/berdebat. Permasalahan yang diangkat itu lagi-itu lagi, berulang-ulang dan saya pribadi sudah bosan. Jumlah bigot tidak berkurang, malah cenderung bertambah dari hari ke hari. Tapi umur baru segini, masa nyerah!?
Saya rasa yang harus saya lakukan adalah belajar lebih banyak untuk berdiskusi sehat di internet. Berdiskusi dengan setting dan kondisi yang kondusif, dan memastikan bahwa lawan bicara memang mau diskusi. Kalau tidak mau diskusi, baiknya segera diakhiri saja, toh alat kontrolnya sudah banyak. Blog ini misalnya, saya sangat kontrol siapa yang komentar. Demokrasi? My Ass!
Kebuntuan diskusi adalah hal kontraproduktif yang sedapat mungkin saya hindari.
Tapi semua akan kembali pada takdir. Saya pernah beberapa kali menjadi orang gobloknya karena saya sembrono dan sok pintar. Dan orang serius yang mau diskusi baik-baik malah saya nafikkan dengan kasar–mungkin waktu itu saya sedang PMS. Saya pernah menafikkan seorang profesor ternama, psikolog ternama, dan ahli hukum ternama karena kesotoyan saya. Dan salah satu dari mereka pernah bertanya balik ke saya, “Apa Anda goblok?”
Waktu itu tentunya saya dengan ego saya menyangkal pertanyaan itu. Tapi sekarang saya sudah tahu jawaban pastinya.