Ethnography, Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi

Causa Libre

Lirik oleh: Rhino Ariefiansyah

Niplivrata lugens
Arthropoda penghisap amino
Tanaman padi kering kerontang
Hamparan mati hopperburn

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Perang data wibawa presiden
Petani menggelepar terjerat hutang

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Militer turun ke sawah
Todong senjata buat tengkulak

Niplivrata lugens
Arthropod causa libre

Niplivrata lugens
Antropogenic catastrophes

Niplivrata lugens

Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi, Racauan

Kami/Kota

 

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sebatas sahabat dan saudara

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sejauh hutan rimba yang kau tebas menjadi

Reff
Uang kota menggeliat
kota menjadi kanker di tubuh kami
ruang kelas mencerabut
kelas mengasingkan nenek moyang kami

Orang kota menjelajah
kota menjajah tanah dan tubuh kami
sekat kelas meminggirkan
kelas menyingkirkan keberadaan kami

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami setitik buih di laut luas

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami seredup lentera nelayan yang melaut malam

Lampu kota menyilaukan
kota mengaburkan bintang arah kami
pulau palsu menjejalkan
palsu menjejal kami di ruang sempit

orang kota menduduki
kota menduduki hak asasi kami
ruang kota memberangus
kota memberanggus kampung-kampung kami

Politik, Racauan, Uncategorized

HARUSKAH MAHASISWA “SOPAN” PADA DOSENNYA?

Pendidikan harus bikin orang jadi beradab, dan adab itu dimulai dari sopan-santun ketika bicara, email, sms, atau chat WA. Sopan bukan hanya pada dosen, tapi juga pada sesama. Tapi sebelum saya jadi patron kesopanan, saya harus kasih disklaimer dulu bahwa saya bukan orang yang sopan.

Saya dibesarkan di keluarga dengan latar belakang etnis, budaya, dan ekonomi yang berbeda jauh antara dua orang tua saya. Kawan-kawan dan sodara-sodara saya ada yang orang kaya kota, ada juga orang kampung miskin, orang kaya kampung, dan orang miskin kota. Ketidaksopanan saya pelajari dari yang terakhir: orang miskin kota. Orang kampung mau kaya atau miskin biasanya sopan, maklum, guru ngajinya masih pake rotan buat nyabet salah baca Iqra, yang kaya gitu ga ada pilihan kecuali jadi rendah hati dan (seringkali) rendah diri.

Sementara orang miskin kota ada dua macam, yang miskin ekonomi dan yang miskin pendidikan sosial (pensos). Paling nggak sopan yang miskin ekonomi dan miskin pensos, yang begini hidupnya mah senggol bacok. Tapi mahasiswa jaman ini sulit dikategorikan miskin ekonomi. Kuliah mahal bos, BSI aja hari ini lebih mahal daripada UI jaman saya.

Artinya kebanyakan mahasiswa yang dinilai tidak sopan ini adalah produk dari cukup ekonomi dan miskin pensos. Mahasiswa jaman ini yang sering disebut millenial (baca: dari SD sudah kenal gadget), memang kuper. Tapi pertanyaannya apakah itu salah mereka? Memang siapa yang kasih gadget? Atau pertanyaan klasik ibu guru: “Di rumah kamu nggak diajari sopan santun ya?” Dengan enteng, mahasiswa kuper yang tidak sopan akan menjawab, “Iya.”

Jadi kesalahannya ya struktural. Pasca reformasi muncul banyak kelas menengah baru Indonesia. Kelas ini pekerja keras, kerja dari pagi sampai malam. Bersamaan dengan itu muncul sekolah-sekolah dan tempat-tempat kursus yang memastikan anak sekolah dan ekskul dari pagi sampai malam, yang tidak ekskul kurang perhatian orang tua. Kalaupun dapat perhatian, banyak juga orang tua yang kawin muda jadi masih terlalu hedon, atau orang tua yang baru punya anak di usia senja hingga susah mengendalikan anaknya. Banyaklah faktornya, namun utamanya sopan santun itu yah didapat di rumah. Bukan di sekolah.

Bagaimana dengan sopan santun pada guru? Bukannya itu di sekolah? Kembali lagi tergantung bagaimana sekolahnya. Pendidikan yang visinya kapitalistis, dan ngejar akreditasi, biasanya lebih memanjakan siswa. Guru-guru diharuskan lebih perhatian, lebih mengerti bahwa kebutuhan setiap anak berbeda. Itu bukan hal buruk kalau dilakukan dengan benar. Tapi akibatnya fatal, kalau standarnya ganda: asal mampu bayar, lulus-lulus saja. Murid yang secara intelektual dan emosional tidak kompeten, jadi bisa masuk perguruan tinggi.

Masalah tidak berhenti di situ. Mahasiswa yang masuk perguruan tinggi punya kejomplangan yang lebar. Ada yang memang pintar sejak SMA, sekolahnya bagus, standarnya bagus, kemampuan sosialnya bagus, bisa menulis dasar, bahasa inggris bagus, dan biasa berpikir kritis; bertemu dengan lulusan sekolah yang standarnya rendah, komunikasi sulit, bahasa inggris pas-pasan, nulis nggak bisa, dan terbiasa didikte.

Akhirnya dosen-dosen kelimpungan. Entah sudah berapa dosen dari beberapa perguruan tinggi berbeda-beda yang saling curhat sama saya tentang ‘keharusan mengejar akreditasi’ dengan non-skripsi lah, dengan kuota kelulusan kelas lah, atau menurunkan standar didik lah, supaya mahasiswa yang masuknya sudah jomplang, bisa paling tidak sinkronisasi otak. Di tempat saya mengajar beberapa tahun ini pun, gejala ini terjadi. Beberapa tahun lalu, saya dengan mudah mengajar dalam bahasa Inggris di kampus internasional. Sekarang dilebur dan yang bahasa inggrisnya bagus dan kritis jadi minoritas.

Dan untuk itu, saya harus turunkan standar ajar, supaya yang lulus banyak. FYI, saya turunkan standar ajar bukan karena kebijakan kampus–secara silabus yang baru belum keluar, tapi kebijakan saya sendiri melihat beberapa anak pekerja keras yang tidak mampu baca buku teks pegangan yang memang untuk kelas internasional. Dulu ada satu dua anak yang begitu. Saya bisa tangani langsung secara personal tanpa harus turunkan standar. Sekarang sudah tidak bisa lagi karena mereka mayoritas.

Kembali ke soal kesopanan, saya akan menutup bahwa menurut saya dosen/guru sekarang yang harus pintar-pintar mengakali ketidaksopanan murid-muridnya. Karena kini murid sudah kencing terbang dengan gadget, media sosial, google, sementara kebanyakan guru dan dosen kencing berlari pake sosmed aja masih gaptek. Soal sopan tidak sopan, tidak penting lah, sistem pendidikannya saja masih kacrut.

Filsafat, Memoir, Racauan, Uncategorized

BANAL

Seorang ibu berhijab syar’i, suka bermain lelaki. Ia seorang pengusaha sukses dengan suami yang tak mampu mengejar karir dan memilih untuk merawat anak-anaknya di rumah. Pasangan yang tak percaya kontrasepsi ini punya anak lima. Namun si istri percaya kontrasepsi penting ketika selingkuh. Suami kadang-kadang kalau tidak sedang pengajian atau mengurus anak, bermain perempuan dengan menggoda gadis-gadis muda yang bekerja menengah ke bawah: pelayan kafe, SPG, atau penjaga gerai kosmetik di Mal. Ia lumayan tampan, dan ia tak bisa mengeluarkan uang banyak karena istrinya nanti pasti tahu. Ia punya perasaan istrinya selingkuh, tapi perasaan hanya perasaan. Istri juga punya perasaaan suaminya selingkuh, tapi ya sudahlah namanya lelaki–paling tidak ia cuma akan menipu gadis karena ia tak punya uang. Anak-anak masuk sekolah agama islam internasional plus plus. Shalat dan baca Quran dipaksa setiap hari, kelas dengan bahasa Inggris. Orang tua pun berusaha kelihatan salih di depan kolega, keluarga, apa lagi anak-anak. Mereka percaya pada agama, umroh setiap tahun, dan akan naik haji dalam dua tahun ke depan. Menjadi bapak dan ibu haji.

Cerita lain adalah tentang seorang pengacara kasus korupsi yang sering ditraktir perempuan mahal oleh kliennya. Perempuan-perempuan impor dari luar negeri yang harganya jutaan per malam, menari seksi dan siap untuk ditiduri. Pengacara punya beberapa istri dan beberapa anak, tapi ya kenikmatan duniawi harus dinikmati karena hidup cuma sekali. Dengan Donald Trump di Amerika Serikat terang-terangan menghardik perempuan, ia mulai bicara di sosial media tentang pentingnya punya simpanan perempuan, bahwa istri yang baik adalah yang mengijinkan suaminya punya simpanan, toh sudah dikasih uang tiap bulan untuk ia belanja. Tapi istri yang baik tak boleh main lelaki. Harus setia. Cuma suami yang boleh macam-macam. Suami yang kaya dan bertanggung jawab, berhak untuk jadi bajingan.

Lalu ada remaja usia 20an yang sedang keranjingan bermain seks, karena pacarnya mengecewakan, keluarganya berantakan, dan ia ingin menyakiti dirinya sendiri dengan menyetubuhi lelaki manapun yang menunjukkan minat. Semakin asing dan semakin jahat semakin baik. Hisap kontol hingga tersedak tak bisa nafas, semua lubang dieksplorasi sampai sekali masuk rumah sakit karena pendarahan, tak kapok juga. Karena sakit tandanya masih hidup, dan sakit fisik tak ada apa-apanya dibanding sakit mental. Semua orang–kawan, keluarga, mantan pacar harus lihat betapa hancurnya dia, betapa menderitanya ia menyakiti dirinya sendiri karena mereka.

Seorang seniman multitalenta merasa jantan dengan  menjadi biseksual dan menebar benih promiscuous yang dia bilang liberalisme. Menipu lelaki dan gadis muda yang ia suka dengan berbagai macam ideologi kiri-kanan-atas-bawah, kebebasan berpikir dimulai dengan kebebasan tubuh, mengatur orgy, poliamori, apapun itu. Ia penyair, sutradara film dan teater, pelukis, fotografer, semua seni kontemporer (baca: tak ada yang mengerti kecuali kurator yang jago bicara dan mengarang-ngarang tentang kebesaran seni murni). Buku terbaru yang katanya realisme magis baru keluar, penerbit bayar editor cukup mahal untuk bikin bukunya minimal bisa dibaca. Ia suka menghina-hina penulis populer macam Tere Liye atau Dewi Lestari sebagai terlalu konvensional dan komersil, sementara karya-karyanya yang avant garde jauh lebih tinggi. Modus proof reading novel penulis muda nan cantik, atau bimbingan skripsi jadi senjata dapat mangsa seksual baru. Punya sahabat di media membesarkan namanya, karena sahabat-sahabatnya memang jago bicara dan mengarang seperti si kurator.

 

Apakah mereka bahagia?

Mendengar dan melihat mereka, aku jelas tidak bahagia. Begitu banyak masalah di dunia ini yang harus diselesaikan. Anak-anak lahir tanpa diminta, dibuang atau diasuh tanpa pengetahuan yang memadai. Lalu ketika melihat kekacauan ini, apa yang akan mereka pikirkan tentang dunia? Di belahan bumi yang lain jutaan orang menjadi pengungsi dan tercerabut dari tanahnya. Di pulau yang lain, sebuah masyarakat dimabukkan supaya bodoh, dan tanahnya yang penuh emas dikeruk sampai habis-habisan. Dimiskinkan, dianggap binatang. Hutan-hutan menjelma kebun sawit, dan mereka hidup damai di dalamnya dipaksa melupakan bahasa, agama, dan budayanya. Diberadabkan. Siapa yang peduli? Apa orang-orang yang bahagia itu peduli?

Aku peduli dan aku mengandung kesakitan tak terperi. Setiap hari aku berpikir apa yang harus kulakukan untuk membuat dunia ini lebih baik. Seorang bijak mengatakan, mulai dari lingkaranmu sendiri. Keluarga, teman, kolega. Bilang salah adalah salah dan benar adalah benar. Tapi hidup tidak pernah hitam putih. Ia berwarna warni yang campurannya tak jelas lagi. Mencari identitas diri menjadi semakin sulit. Siapa orang yang ada di cermin? Bagaimana kita harus bergerak? Adakah kehendak bebas?

Yang jelas Tuhan sudah lama mati–bahkan ia tak pernah hidup. Ia cuma bagian dari akal dan imajinasi untuk membuat kita tahan atas dosa-dosa kita sendiri, cara mencari penebusan. Tidak adil menyalahkan manusia atas semua kekacauan dan memuja Tuhan ketika kebaikan terjadi. Tidak adil pula menyalahkan Tuhan atas derita dan melupakannya ketika kenikmatan datang. Yang adil: lupakan Tuhan. Semua orang harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri-sendiri. Walaupun pilihan itu terkungkung sistem, tergantung banyak faktor, tapi tanggung jawab tetap harus diemban oleh pribadi-pribadi. Aku akan menanggung dosa-dosaku, dan pahala-pahalaku takkan mungkin menebusnya. Khilaf bukan berarti tidak salah. Pikirkan dosa, lupakan pahala. Tapi kalau Tuhan tidak pernah ada, maka dosa itu harus dipertanggung jawabkan pada siapa?

Semua orang akan menanggung dosanya sendiri-sendiri. Masyarakat akan menghukum, dan kalau tidak ketahuan, maka dirinya akan menghukum dirinya sendiri dengan semua kesepian dan kehampaan. Adakah orang yang luput dari itu? Adakah seorang Ma’rifat, yang begitu tenangnya menghadapi kekacauan dunia ini karena ia paham logika berpikir Tuhan-yang-tak-pernah-ada? Menurutku tidak ada. Ketenangan itu adalah penggunaan imajinasi dan ketidakpedulian tingkat tinggi–bahkan membunuh bagian-bagian syaraf tertentu. Untuk tidak sakit hati, janganlah punya hati.

Semua kita terjebak Samsara. Dan tak ada Moksa atau Nirwana, sampai kita mati dan melihat sendiri. Sementara yang hidup akan tersiksa dengan sakit dan kenikmatan yang tak berujung. Beberapa dari kita bisa berpura-pura kuat; padahal bukan kekuatan yang ada di situ, tapi kekebasan, kelumpuhan. Seperti mereka yang menyingkirkan rasa bersalah dan kekhawatiran dengan candu, seks, opium, dan agama.