Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

September Tak Beradab

Civilization bukan hanya berarti peradaban, tapi juga lebih dalam lagi, ia berarti “membuat orang jadi beradab.”

Apa itu adab? Menurut KBBI artinya “kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak:”

Sejarah membuktikan bahwa Civilization, per-adab-an, dibentuk oleh dua institusi besar: Agama dan Negara. Negara lahir ketika Agama berkembang menjadi kelompok-kelompok yang berbeda, yang saling bersaing dan berkonflik, sehingga dibutuhkan kekuatan besar lain yang bisa menengahi konflik tersebut. Per-adab-an adalah masalah ada atau tidaknya pihak ketiga, wasit, sang Leviathan, dalam sebuah pertarungan politik.

Sang Leviathan mensponsori kekerasan untuk menundukan konflik politik. Perdamaian seringkali didapatkan dari opresi berbagai bentuk hasrat kuasa dalam masyarakat. Di masa Orde Baru, termin yang terkenal adalah SARA, Konfik kepentingan harus ditekan oleh satu kepentingan besar, kepentingan negara.

Sejalan dengan opresi negara untuk membuat perdamaian, ideological state apparatus juga berjalan melalui pendidikan. Inilah yang hari ini jadi masalah besar di Indonesia. Pendidikan yang diberikan pada masa orde baru, menuai bencana: ketika informasi bocor kemana-mana, negara masih sibuk untuk menyangkal sejarah yang senyata-nyatanya BOHONG BESAR. Salah satu dari banyak kebohongan itu adalah fitnah terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Main tuduh Komunis menjadi budaya yang inheren di masyarakat menengah bawah, yang sudah terdidik untuk menjadi tidak beradab (De-civilize).

Dengan kata lain, negara Indonesia sejauh ini tidak berhasil, malahan memperparah peradabannya sendiri. Ketidakberadaban dapat dilihat dari mudahnya orang terprovokasi, mudahnya massa digerakan oleh sesuatu yang abstrak dan tidak bersifat material/nyata, seperti ketika agamanya tercoreng. Orang tidak bergerak ketika diopresi, ketika haknya diambil, tapi cepat naik pitam ketika agamanya atau pemuka agamanya dihina. Orang cepat marah dan manut ketika hantu masa lalu (Baca: PKI), menggerayangi layar handphonenya.

Maka tingkat kekerasan tidak kunjung turun. Hukum positif negara sering selingkuh dengan kekuatan politik akar rumput. Hari ini melarang diskusi sejarah, besoknya melindungi orang-orang yang sudah terjebak oleh massa otak tumpul yang kemarin difasilitasi polisi. Kan absurd?

Yang paling menyebalkan, ini isu basi yang selalu ditiupkan menjelang September, semenjak Jokowi naik. Biasanya isu ini punya agenda lain di bawahnya, sedang ada teater lain yang dimainkan secara sembunyi-sembunyi, entah itu misi pembangunan, atau taktik manipulasi politik. Saya tidak sedang berteori konspirasi; saya hanya melihat sebuah pola. Saya dan kalian akan terkejut ketika Oktober datang, membawa sebuah berita buruk yang sebenarnya bisa dicegah kalau kita tidak terlalu sibuk melindungi diri September ini dari fitnah-fitnah keji hasil Wawasan Wiyata Mandala dan P4.

Kembali ke soal per-adab-an. Presiden kita hari ini dulu disukai karena ‘kurang beradab’ sebagai presiden. Melanggar protokoler, menjadi ‘pejabat yang berbeda.’ Tapi setahun belakangan ini, kita melihat ketidakberadabannya semakin menjadi-jadi. Seperti lawan politiknya, ia sekarang tidak malu-malu ketika menjilat kiri-kanan-atas-bawah. Pendukungnya pasti selalu bisa mengambil hikmah bahwa presiden sedang berjuang untuk menggolkan misi politiknya–apapun itu–dengan menjilat ludahnya sendiri. Yang anti-presiden tidak punya banyak argumen lain selain kebencian akut, dan kekesalan karena presiden yang dulu difitnah sebagai komunis, hari ini jadi anti-komunis. Capek kan mencari bahan fitnahan baru.

Sementara itu, masyarakat yang tidak beradab dibuat semakin tidak beradab. Karena Negara bahkan seperti tidak ada niat sama sekali untuk melindungi Demokrasi, tidak ada niat untuk mengukuhkan nilai, ketika LBH, sebuah lembaga yang netral dan salah satu elemen terpenting demokrasi, dinafikan dengan mudahnya. Ketidakberadaban dikasih makan dengan plin-plannya.

Betapa mengecewakan. September hampir berakhir, linimasa masih akan penuh bahasan merah. Sepertih darah Jendral, yang cuma ada di filmnya Arifin.

Film, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Millenial Menghadapi Zaman Gila

Ini film art yang cukup seru dengan kebermainannya. Pacing editingnya asik banget pula, dan sederhana. Itu yang paling gue suka, kesederhanaannya. Tapi dibalik kesederhanaan itu banyak banget referensi-referensi yang bisa digali, dari pallette warna terang tahunjn 80an, terus adegan-adegan khas Holy Mountain-nya Jodorovsky dan Andy Warhol.

Sabi bet. The video will speak for itself.

 

 

 

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (part III)

Sejak Perang Dunia ke dua, kita menciptakan dua cara kehancuran. Sejak era neoliberal kita menghancurkan cara menanggulanginya. Itulah masalah kita, Itulah yang kita hadapi, dan jika masalah itu tidak bisa diselesaikan, habislah kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini. Lihat juga Part I dan Part II dari artikel ini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

18622-the-ten-best-noam-chomsky-quotes-wallpaper-1600x12001

Christopher Lydon: Saya mau kembali ke Pankaj Mishra dan Zaman Amarah sebentar–

Noam Chomsky: Ini bukan Zaman Amarah. Ini adalah zaman kebencian (resentment) terhadap kebijakan sosioekonomis yang telah menyakiti mayoritas populasi selama satu generasi dan telah secara sadar dan prinsipiil merusak partisipasi demokrasi. Kenapa tidak boleh marah?

CL: Pankaj Mishra menyebutnya–sebuah kata Nietzschean–“ressentiment,” yang berarti semacam amarah meledak-ledak. Tapi dia bilang, “Inilah fitur di dunia dimana janji modern tentang kesetaraan bertabrakan dengan pemisahan yang massif dari kuasa, pendidikan, status dan–

NC: Yang memang didesain sedemikian rupa, yang memang sengaja dirancang seperti itu. Kembalilah ke tahun 1970-an. Melintasi spektrum, spektrum elit, ada keresahan yang dalam tentang aktivisme tahun 60-an. Itulah masa yang disebut “masa bermasalah.” Masa itu membuat negara jadi beradab, dan itu berbahaya. Apa yang terjadi adalah banyak bagian dari populasi–yang biasanya pasif, apatis, dan penurut–mencoba memasuki arena politik dengan satu dan lain cara untuk menuntut kepentingan dan kepeduliannya. Mereka disebut, “kepentingan khusus.” Artinya minortas, anak muda, orang tua, petani, pekerja perempuan. Dengan kata lain: populasi. Populasi adalah kepentingan khusus, dan tugas mereka [menurut kaum neoliberal] adalah hanya untuk memerhatikan dalam diam. Dan itu eksplisit.

Ada dua dokumen yang terbit di pertengahan tahun 70-an yang sangat-sangat penting. Dokumen tersebut hadir dari kedua ujung spektrum politik, sama-sama berpengaruh, dan dua-duanya berakhir di kesimpulan yang sama pula. Salah satu dari dokumen itu, dari perspektif kiri, diterbutkan oleh Komisi Trilateral–internasionalis liberal, tiga negara industri besar, kebanyakan di bawah administrasi presiden Carter. Ini dokumen yang lebih menarik [unduh pdf bahasa Inggris: The Crisis of Democracy, a Trilateral Commission report]. Penulis Amerika dari Harvard, Samuel Huntington, melihat ke belakang dengan nostalgia pada hari ketika, menurut dia, Truman bisa menjalankan negara dengan kerjasama abeberapa pengacara dan eksekutif Wallstreet saja. Waktu itu semua baik. Demokrasi sempurna.

Tapi di tahun 60-an mereka setuju itu jadi bermasalah karena kepentingan khusus tadi mencoba untuk masuk ke kancah politik, dan itu menyebabkan banyak tekanan dan negara tak bisa menanganinya.

CL: Saya ingat buku itu dengan baik.

NC: “Kita harus mengurangi demokrasi.”

CL: Tak hanya itu, Huntington juga membalik pernyataan Al Smith. Al Smith bilang, “Penyembuh demokrasi adalah lebih banyak demokrasi.” Tapi truman bilang, “Tidak, penyembuh demokrasi ini adalah kurangi demokrasi.”

NC: Itu bukan Huntington. Itu adalah kalimat lembaga liberal. Huntingten bicara untuk mereka. Ini adalah pandangan konsensus dari internasionalis liberal dan tiga demokrasi industrial. Mereka–dalam konsensusnya–mereka menyimpulkan bahwa masalah utamanya adalah, “tanggung jawab institusi adalah indoktrinasi anak muda.” Sekolah, universitas, gereja, mereka tidak kerja. Mereka tidak mendoktrin anak muda dengan benar. Anak muda, menurut mereka, harus dikembalikan menjadi pasif dan patuh, dan dengan itu, demokrasi akan baik-baik saja. Itu adalah sisi kirinya.

Lalu apa yang terjadi di kanan? Sebuah dokumen yang berpengaruh juga: Memorandum Powell [Download di sini], terbit di saat yang bersamaan.  Lewis Powell, seorang pengaca korporat, selanjutnya menjadi Mahkamah Agung AS, membuat sebuah momerandum rahasia untuk Kamar Dagang Amerika Serikat, yang pengaruhnya besar sekali. Ini kurang lebih menjadi sesuatu yang meluncurkan “gerakan konservatif” di masa modern. Retorikanya agak gila. Kita tidak perlu membahasnya secara dalam, tapi intinya mereka menanggap kelompok kiri [pemerintah AS] telah mengambil alih semuanya. Kita harus gunakan segala sumber daya yang kita punya untuk menghabisi amukan kaum kiri ini, yang telah merusak kebebasan dan demokrasi kita.

Ada sesuatu yang lain yang terhubung dengan ini. Sebagai hasil dari aktivisme tahun 1960-an dan militansi buruh, ada penurunan keuntungan. Ini tak dapat dierima. Jadi kita harus membalik kerugian ini, kita harus merusak partisipasi demokrasi, dengan apa? Neoliberalisme, yang hasilnya adalah seperti yang kita lihat hari ini.

Akhir artikel.

Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.