Film, Film/Video, Kurasi/Kritik

Gadis-gadis Yang Hilang dari Timor Barat

Enam puluh satu ribu orang meninggal dan hilang empat tahun terakhir. 2600, dari Indonesia–itupun tidak menghitung pekerja yang direkrut secara ilegal. Pekerjaan sehari-hari “Suster kargo” adalah menunggu kargo berisi mayat gadis-gadis yang berhasil pulang. 

Alam, Cinta, Eksistensialisme, Filsafat, Puisi

Tenang di dalam Gua

Kata-kata menguap, menyerap ke pori-pori
dan kau adalah oksigen ke paru-paru
stimulan kehidupan, memabukkan
tapi hidup,

melenakan tapi hidup,

sementara kesadaran adalah kematian.

Kebebasan, pembebasan, jaga keseimbangan
agar tidak kebablasan, ketersesatan ada di setiap lekukan jalan

Aih, begitu banyak kawan yang jadi penipu, pelacur
pencuri, perusak, permainan berbahaya
bisakah kau dan aku tetap percaya
bahwa kita saling menjaga
bukan lawan main
tapi kolaborator

Biarkan aku menenangkanmu
dan kau, aku
ketika badai itu datang
rengkuh aku dalam gua-gua pikiranmu
dan aku akan nyalakan api Plato

dunia kita buat
dalam mimpi aboriginal

dunia kita buat
menjadi lengkap

Politik, Racauan

Kenapa Demonstrasi Umat Islam Ganyang Koruptor Takkan Pernah Ada

Ketika saya meliput demonstrasi 411 dan 212, saya menanyakan pertanyaan yang sama ke banyak orang soal Ahok, dan jawabannya semua sama: Ahok bersalah karena ia menistakan agama Islam. Ketika saya bertanya, apa ada hubungan demonstrasi ini dengan penggusuran, semua menjawab, “Itu masalah lain.” Sulit untuk tidak mengaitkan gerakan politik Islam 411 dan 212 dengan gerakan #2019gantipresiden, karena ada Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang berusaha mencari tokoh Islam untuk menjadi pengganti Jokowi.

Related image

Artinya kesejahteraan-keadilan sosial dan isu kelas bukanlah hal yang penting untuk banyak umat muslim di Indonesia. Saya katakan umat Muslim, karena demonstrasi besar-besaran anti Ahok waktu itu melibatkan mobilisasi massa dari seluruh Indonesia. Dengan kata lain, saya rasa cukup valid kalau jutaan orang itu bisa merepresentasikan Gerakan Islam di Indonesia—terlepas apakaha insitusi besar macam Muhammadiyah atau NU merestui gerakan mereka atau tidak. Saya tidak ingin berspekulasi tentang keterlibatan dana-dana ajaib dalam gerakan-gerakan besar tersebut, ataupun peran oposisi politik termasuk gerakan makar (yang penangkapan tersangkanya cuma hangat-hangat taik entok).

Image result for just take my money gif

Namun banyak orang akan setuju, bahwa imbas gerakan Islam hari ini jauh lebih besar dari gerakan-gerakan pendahulunya, seperti gerakan mahasiswa, misalnya. Gerakan buruh pun yang sudah puluhan tahun dibangun, tidak akan mendapatkan hasil seinstan gerakan Islam. Pemerintah tentunya ikut ambil bagian dalam hal ini, dengan mendukung gerakan berbasis agama sambil waspada melihat siapa saja elit oposisi atau calon oposisi yang mengambil keuntungan dari gerakan-gerakan itu.

Image result for anies baswedan gif

Kelindan negara dan agama bukanlah hal baru. Tidak akan ada agama Kristen, misalnya, tanpa persatuan dan perjanjian Kerajaan Romawi dengan para martir dan Santo. Inggris takkan benar-benar ‘merdeka’, tanpa Anglikannya, dan Amerika Serikat tidak akan pernah menjadi negara Adikuasa tanpa etika Protestanismenya. Negara bersekongkol dengan agama itu biasa saja. Tapi agama sebagai perlawanan terhadap penguasa juga hal yang biasa. Muhammad takkan bisa menjadi Nabi, Rasul, dan penguasa Jazirah tanpa melawan kaum Quraisy. Yesus takkan menjadi besar kalau ia tidak disalib Romawi. Namun ujung-ujungnya, seperti pergerakan ideologi lain, ketika agama menang melawan negara, negara tinggal pindah agama (atau mendukung agama mayoritas) dan masalah selesai. Biasanya begitu.

Image result for trump christian catholic gif

Namun ketika kita bicara koruptor, kita bicara soal perbaikan sistem negara modern: transparansi dan proyek-proyek pembangunan ideologi modernitas. Korupsi adalah cara melancarkan kepentingan untuk menggolkan sebuah proyek, atau untuk mengembalikan modal politik. Sempat belum satu dekade lalu, korupsi menjadi salah satu cita-cita yang diinginkan banyak orang ketika ia jadi PNS/Birokrat atau politikus. Secara sederhana korupsi artinya tidak amanat, atau khianat. Itu adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Lalu kenapa penistaan agama lebih penting dan lebih banyak massanya dari gerakan anti korupsi?

Satu hal yang pasti, gerakan anti korupsi tak punya aliran dana besar dan organisasi masssa yang sistematis. Pengusaha banyak diuntungkan oleh korupsi, jadi untuk apa memberikan kucuran dana anti-korupsi? Kecuali tentunya untuk memenangkan pertarungan politik, untuk menjebolkan proyek sebesar Meikarta, misalnya.

Terlebih lagi, kesadaran bahwa ada hubungan langsung antara pejabat korup dengan kemaslahatan hidup orang belum banyak. Kita masih terbiasa pada janji kampanye yang tidak pernah ditepati, dan kita juga sering memaklumi orang yang kita anggap jujur ternyata korup. Lebih kompleks lagi, beberapa orang yang jatuh karena korupsi biasanya ditengarai oleh sesama koruptor yang lebih besar, entah sebagai whistle blower, atau sebagai kambing hitam.

Gerakan Islam anti korupsi, pasti ada. Tapi kecil-kecil dan menyebar-nyebar. Tanpa koordinator dan kucuran dana besar, susah membesarkan gerakan ini. Sementara gerakan-gerakan politik besar seperi #gantipresiden2019 lebih mudah menggema–dengan para pengikut yang hardcore menghardik anak kecil dan ibu-ibu lawan politiknya, dimana pendukung dua kubu sama-sama tolol menggunakan CFD sebagai ajang kampanye prematur. Nyaris tidak ada gerakan besar untuk isu-isu spesifik seperti korupsi atau pelanggaran HAM. Kalau pun ada, mereka tidak bawa-bawa nama Islam.

Maka bagaimana Islam bisa tidak tercoreng, ketika pendomplengan namanya cuma dipakai untuk politik praktis dan terorisme? Mengapa, oh mengapa?

 

Memoir, Racauan

Cinta dan Pekerjaan

Belajarlah dari petani yang punya tanah sendiri. Mereka tidak punya jam kerja, alat produksi milik sendiri, kerja sebentar tapi telaten, sisa waktu seharian dipakai untuk leha-leha, main judi, berorganisasi, kawin, atau berkesenian. Tapi tak ada pembagian waktu kerja dan waktu santai, toh bekerja pun tetap santai dan (buat banyak petani yang saya kenal) santai pun sebenarnya sambil kerja. Ada saja yang dibuat, dari mulai bikin alat tani sendiri, sampai bangun rumah sendiri.

Dalam konteks kota, kebanyakan kita tentu tidak bisa begitu. Kebanyakan kita yang mau punya peran ekonomi sosial harus bekerja di bawah payung korporasi dengan sistem dan jam kerja yang mengikat, dengan disiplin kerja dan target-target produksi, dan dengan keterasingan bahwa apa yang kita hasilkan adalah milik perusahaan kita. Keringat kita dibayar dengan gaji untuk hidup sehari-hari. Sistem seperti ini tentunya membuat banyak dari kita stress, apalagi kalau kita tidak mencintai pekerjaan kita.

Tapi pada kenyataannya, ketika kita bekerja hal yang kita cintai dalam konteks industri kota, kita akan tetap terasing. Saya, misalnya, sangat menyukai pekerjaan saya saat ini–sebuah pekerjaan impian dimana saya bisa memproduksi film-film dokumenter pendek secara reguler, dari belahan dunia lain, dan mengandung wacana-wacana yang mampu menggelitik (kalau tidak mengubah) peradaban. Saya cukup senang ketika membantu mengedit ulang film kawan saya dari India, Kshitij Nagar, tentang muslim Sunni dan Syiah di New Delhi yang shalat berjamaah ketika lebaran haji. Saya edit dalam bahasa Indonesia/Malaysia, dan efeknya hate speech berseliweran di kolom komentar dari orang-orang ber-IQ 2 digit. Polemik terjadi, dan mulai banyak yang dihadapkan pada keraguan, apakah kebencian ini pantas untuk terus dijalani. Pekerjaan yang sangat asik, bukan?

Dan yang paling mengasyikan dari pekerjaan saya adalah ada kuota yang harus dikejar, tapi tak ada persaingan yang harus dimenangkan–karena kebetulan kantor saya adalah non-profit yang bergerak dengan uang hibah. Memang ada deg-degannya juga ketika uang hampir habis dan harus cari perpanjangan dana–kami semua tentu takut kehilangan pekerjaan. Tapi toh, karena buat beberapa orang (seperti saya dan bos-bos saya), ini adalah pekerjaan impian, kami selalu membuat target sendiri dan menggapainya semampu kami. Dengan semampu kami bukan seadanya, karena toh target yang kami buat setinggi-tingginya. Kami sekelompok masokis yang senang menantang diri sendiri. Hahaha…

Tempo hari saya bicara dengan seorang kawan lama, pemilik sebuah agency/PH yang usahanya hampir mati. Ia stress karena perusahaannya terancam tutup karena mudahnya orang membuat produk media visual. Teknologi merusak pasar, katanya. Saya coba bahas masalahnya dengan sebuah pertanyaan, sejauh mana kamu mencintai pekerjaanmu?

Ia jawab, “Saya mencintai pekerjaan saya, tapi bagaimana caranya bekerja jika tidak ada klien, tidak ada uang?”

“Kalau memang cinta,” kata saya, “kerja yah kerja saja.” Saya jelaskan padanya bahwa kebanyakan proyek-proyek yang saya kerjakan dengan sepenuh hati dan membuat saya bahagia adalah proyek-proyek dengan bujet kecil atau tidak ada dana sama sekali. Toh sebenarnya untuk bisa kerja kita hanya butuh makan-minum-tidur–seperti layaknya para budak. Bedanya, budak dipaksa bekerja sementara saya tidak. Dalam dunia seni visual, jika tidak ada dana kamera, pinjam. Jika kurang gaul sehingga tidak ada yang mau meminjamkan, pakai HP saja. Jika tidak punya gadget apa-apa, melukislah. Jika tidak ada kertas dan alat gambar, ambil tanah, ambil batu, ambil sampah, buatlah seni instalasi. Kau bahkan bisa membuat musik dengan siulan dan tepuk tangan. Kemungkinannya tak terbatas, mengapa membatasi diri dengan uang?

“Ah, tapi seni seperti itu siapa yang mau lihat? Siapa yang mau beli?” Katanya. “Saya juga stres karena banyak orang-orang yang bukan berlatar belakang media, menjual produk media dengan harga murah.”

“Salah sendiri dijual,” kata saya.”Jual belakangan, bro. Bikin dulu aja. Lagian ngapain takut sama kemampuan orang lain bikin produk. Toh, banyak orang bisa menulis tapi berapa sih yang akan jadi penulis?”

“Ah, kalau begitu artinya masturbasi doang dong?”

“Yah, kalau masturbasi disebar kemana-mana, di kolam renang misalnya, kali aja ada yang hamil kan?”

“Gilak, lo!”

***

Seperti mencari jodoh, mencari pekerjaan yang dicintai tidaklah mudah. Saya sendiri harus eksplorasi banyak hal, mengumpulkan segala macam skill untuk berlabuh di pekerjaan ini. Bahkan saya sempat putus asa selama tinggal di Indonesia–karena tidak ada yang memakai skill saya secara maksimal dengan bayaran yang setimpal. Segala proyek-proyek non profit itu adalah lahan belajar saya, cara saya mengumpulkan skill.

Tapi sesungguhnya saya tidak benar-benar masturbasi. Saya selalu punya guru. Untuk masalah editing saya sering nongkrong di studio editing sejak saya SMA, ketika zaman masih kaset video. Copywriting sudah saya lakukan sejak SMA pula, ketika iseng-iseng membantu perusahaan iklan ibu saya. Kuliah di Sastra UI juga banyak membantu. Teater membantu saya untuk fokus pada sebuah peran. Antropologi membantu saya agar tidak anti sosial, serta melihat dari berbagai sudut pandang manusia. Kecintaan saya pada seni banyak sekali membantu saya baik dalam hal referensi ataupun konseptual, dan semua harus diawali bukan dengan mencari uang, tapi mencari kecintaan, mencari kegemaran.

Karena keluarga saya bukan role model yang baik masalah kerja, jadi saya cenderung mencari sendiri. Berbagai kerja saya geluti, dari penerjemahan sampai menjadi badut di Mal. Saya berusaha membuat diri saya sendiri. Dan di situlah saya sadar, pekerjaan tida ada hubungannya dengan kantor, atau gaji. Pekerjaan buat saya adalah pelarian saya yang paling sakral–seperti beribadah. Ia bisa saya imani, dan membantu memyembuhkan saya dari penyakit-penyakit hati dan otak. Pekerjaan adalah terapi, liburan, rekreasi. Betapa menyengangkannya mencipta sesuatu, apalagi ketika menciptakannya dengan kawan-kawan baik. Maka bahkan ketika tidak ada kantor atau uang pun, saya akan tetap bekerja. Badan gerak, tulis, rekam, edit, publish. Sumbangkan perubahan pada dunia. Konsistensi itulah bukti kecintaan, bukan hanya pada pekerjaan tapi pada diri sendiri, dan pada kehidupan.