Filsafat, Racauan

Eseinosa, Akhirat dan Akhir

Cuma manusia, yang bisa membayangkan kalau hidup itu sia-sia. Agar tidak sia-sia, mereka menciptakan cerita. Ada cerita soal akhirat, ada cerita soal akhir.

Cerita akhirat membayangkan adanya dunia setelah kematian, yang ‘mungkin’ tidak sia-sia.

Cerita akhir membayangkan semuanya sementara dan akhir adalah akhir, maka hidup yang sia-sia dipakai untuk hedon, atau beramal baik demi meninggalkan warisan buat mereka yang melanjutkan kehidupan. Kesia-siaan adalah bagian dari cerita kehidupan, dan akan dirasakan semua yang hidup. Dan ketidak sia-siaan adalah milik orang lain selain diri sendiri.

Eseinosa adalah perjalanan spiritual saya, untuk mencapai kewarasan, kebijaksanaan, dan umur yang lebih panjang daripada kehidupan. Karena kalian yang kenal saya, akan tahu bahwa saya Atheist yang shalat.

Saya tidak percaya Tuhan, bahkan jika ia benar-benar ada. Tapi ibadah adalah teknologi, sebuah konsekuensi logis dari punya akal dan tubuh. Ibadah adalah privilise tiga spesies (sejauh ini): Homo Naledi, Neanderthal dan Homo Sapiens.

Dan ibadah bentuknya banyak tergantung apa yang dipercaya. Saya percaya pengetahuan. Karena kepercayaan hanya dimungkinkan oleh ketidaktahuan, kalau sudah tahu maka tidak perlu percaya lagi. Cukup tahu, dan percaya pada yang jelas diketahui saja. Saya tidak butuh kepercayaan, lebih butuh bukti dan argumen logis.

Saya tidak tahu banyak hal. Tapi bahwa menulis dan mencipta adalah hal yang saya tahu dan saya bisa, maka itulah saya ada.

Ketika nanti saya mati, ciptaan saya akan tetap ada, termasuk ide-ide saya di kepala kalian.

Sebentar lagi ada badai dari pikiran saya, tersebar di banyak kanal. Kalian mungkin tidak tahu bahwa itu saya. Nikmati saja, berenang, kalau bisa jangan tenggelam dalam amarah dan benci.

Karena kebodohan kalian bukan urusan saya. Kecerdasan kalian, bisa jadi urusan saya kalau kalian mau diskusi lebih lanjut.

Tabik!

English, Filsafat, Racauan

That Vegetarian Plan

Some religious rituals, like the slaughter of livestock during Eid, is no longer endurable for me. I cannot fathom nor accept it, as it is a display of celebrated cruelty. Does that make me a hypocrite, since although I seldom eat meat and tried so much not to eat it at all, I still eat poultry and fish. Well, here is the thing: I am thinking of being a vegetarian, but not yet can do it because there is not enough vegetarian food around me. But that does not mean I cannot build the context of my life to be that.

Pain, suffering, can only occur with the development of the brain and nervous system. So every creature who has a brain will have to endure pain. I will stop endorsing it if I can. Slowly I will make these carcasses unavailable to me. I won’t take part of their bodies to my mouth. But if I care about others suffering, I also need to take care of my own suffering. I cannot suffer myself with hunger or malnutrition just because I don’t want other beings to suffer.

It turns out, fortunately, that I also have a disease that makes it hard to break down proteins. So I do need a hard hard diet. I think this intolerance is needed also because of my age and health condition which enables my behavior and hormones to become calmer. Being a vegetarian could ease my pain.

No meat is easy. No poultry or fish is harder. And the aim is to minimize my relationship with cruelty as little as possible. To be as humane as possible, because only humans can have this story.

Racauan

Kalau sudah terasing lalu apa?

Aku merasa begitu asing dengan dunia hari ini ketika aku melihat media sosial yang random dan di luar kebiasaanku. Pertama kali membuka Tiktok, sebelum ia merekam apa yang kusuka dan tidak kusuka, aku disuguhi apa yang banyak orang Indonesia suka, dan aku mau muntah. Begitupun ketika melihat facebook video yang random keluar di feed berdasarkan kesukaan banyak orang.

Aku tidak bilang bahwa apa yang orang suka, aku tidak paham. Aku hanya merasa bahwa yang kebanyakan orang suka adalah hal-hal banal, tentang seks, perselingkuhan, atau kisah-kisah agama yang sangat dangkal. Kurasa begitulah kebanyakan manusia hidup. Secara praktis apa yang kubaca dan kupikirkan tidaklah begitu berguna untuk kehidupan.

Inginnya sih berusaha rendah diri, dan melihat secara antropologis dan filosofis tentang eksistensi orang lain. Tapi bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri dengan lebih dalam secara eksistensial. Semua misteri tentang keberadaan sudah terjawab. Tuhan tidak bisa dipercaya keberadaannya, dan kalaupun dia ada aku pun tidak mempercayai kebijakan dan apapun yang ia buat. Lalu keberadaanku dan seluruh manusia hingga sekarang cuma kebetulan saja dari sebuah struktur biologis yang tumbuh seperti kanker.

Dan dengan kemajuan teknologi media sosial dan kecerdasan buatan, semakin banyak kebodohan yang terlihat–karena orang cerdas memberikan orang-orang tolol kanal bersuara alih-alih membuka komunikasi dengan pendidikan. Aih, racauanku ini seperti tidak ada puasnga bikin masalah.

Namanya racauan, aku meracau saja dulu. Toh pada akhirnya semua ini politik saja. Semua orang berebut kuasa dalam konteksnya sendiri-sendiri, dalal lapisan-lapisan yang berbeda-beda dari borjuis kecil hingga pemilik modal, punya politik horizontalnya masing-masing. Pa

Pada akhirnya semua orang butuh kerja dan diatur masyarakat atau institusi untuk mendapatkan relevansinya masing-masing. Di luar itu manusia akan jadi anarkis atau gila saja.

***

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Jika kamu suka yang kamu baca dan ingin dukung aku, traktir aku kopi, boleh? Biar semangat dan bisa nabung bayar website ini. Klik tombol di bawah.