Kurasi/Kritik, Teater, Uncategorized, Workshop

Lima Pementasan Hasil Tangkapan di Amerika 2015

Berikut adalah laporan 5 pementasan yang saya tonton di Amerika secara gratis. Gratis bukan berarti murahan, karena empat dari lima pementasan ini adalah profesional dan dimainkan oleh aktor-aktor kenamaan, dengan sutradara dan penulis yang kebanyakan menang Tony Award atau minimal masuk nominasinya. Hampir semua tiket pementasan ini didapatkan atas fasilitas Fulbright, jadi tulisan ini juga untuk berterima kasih atas akses ke kebudayaan tinggi Amerika.

William Shakespeare’s The Tempest (Central Park, May 2015)

Sutradara: Michael Greiff

Screen Shot 2016-01-27 at 1.34.49 AM
Prospero dan Ariel

Pementasan ini sangat lambat. Tempo tidak terbantu oleh musik ataupun bloking aktornya, padahal soal keaktoran pementasan di Central Park ini tidak main-main. Ada Sam Waterson, nominator Academy Award yang sering kita lihat dalam serial TV Newsroom dan Law and Order. Waterson bermain sebagai Prospero, namun seperti sama sekali tidak ada usaha untuk menghidupkan karakter yang berbeda dari dirinya sendiri.

17tempestjp-master675
Stage yang sederhana dan kurang memaksimalkan visual. Foto: NY Times

Panggungnya begitu luas tapi kosong. Tata cahaya yang redup dan kalimat-kalimat Shakespeare yang sangat panjang tanpa dibantu musik yang mumpuni membuat pementasan Shakespeare in The Park tahun 2015 ini jadi salah satu yang bikin saya ngantuk. Apalagi aktor utama seperti Chris Parfetti yang bermain sebagai Ariel (asisten Prospero) benar-benar menjatuhkan tempo permainan. Gaya aktingnya yang agak ‘melambai’ seperti ingin memberikan karakter androgini di tokoh Ariel, alih-alih membuat pementasan kaya makna, malahan membuat intensitasnya jatuh bebas, karena semua kata dipukul rata dengan kelembutan.

Kostum dan treatmaent pementasan bertema Bondage dan Sadomasokisme. Tapi apa artinya tema itu jika dibawakan dengan energi dan nafsu yang rendah. Padahal seandainya ada usaha lebih, tema ini bisa membuat The Tempest jadi sangat aktual.

Screen Shot 2016-01-27 at 1.39.07 AM
Sam Waterson dan Francesca Carpanini, dalam The Tempest. Foto: Sarah Krulwich, NY Times

Vanya and Sonya and Masha and Spike

Sutradara: Aaron Posner/ Naskah: Christopher Durang

Vanya and Sonia and Masha and Spike
(L to R) Sherri L. Edelen sebagai Sonia, Grace Gonglewski sebagai Masha, Jefferson Farber sebagai Spike, Rachel Esther Tate sebagai Nina and Eric Hissom sebagai Vanya dalam Vanya and Sonia and Masha and Spike di Arena Stage at the Mead Center for American Theater April 3-May 3, 2015. Foto oleh C. Stanley Photography.

Salah satu pementasan terbaik yang saya tonton tahun kemarin, Vanya and Sonia and Masha and Spike benar-benar drama yang menggembirakan soal orang-orang menyedihkan. Adaptasi drama-drama Chekov oleh Christopher Durang ini diramu seperti sebuah lenong kontemporer yang sesuai perkembangan zaman.  Uncle Vanya dibuat menjadi gay kesepian yang tinggal bersama Sonia, saudaranya yang perawan tua. Mereka didatangi adik bungsu mereka, Masha, seorang artis terkenal menjelang masa tuanya, yang membawa pacarnya, seorang berondong bernama Spike. Para aktor bermain sangat baik dalam format teater arena, yang membuat semua penonton tenggelam ke dalam konflik keluarga yang aneh ini.

Vanya and Sonia and Masha and Spike
Sonia, Masha, dan Vanya. Foto: Washington Post

Drama ini sungguh pantas memenangkan Tony Award 2013 sebagai drama terbaik. Kesederhanaan tata panggung dan jumlah aktor yang sedikit, membuat tidak ada satupun elemen drama ini yang terbuang percuma. Perasaan kesepian dan tawa naik-turun dengan sangat dinamis. Keseriusan yang dibangun bisa dipecahkan permainan, dan permainan dan tawa yang kita berikan bisa tiba-tiba membuat kita merasa bersalah karena ikut berbahagia di atas penderitaan orang lain.

 

Dear Evan Hansen

Sutradara: Michael Greiff/  Penulis Lirik dan Musik: Benj Pasek & Justin Paul

wk-stagebox0807-1

Memang kita tidak bisa menilai seseorang dengan satu karya saja. Saya bertemu kembali dengan karya Michael Greiff (yang tadi menyutradarai The Tempest di New York), di Washington DC. Kali ini ia menyutradarai sebuah drama musikal berjudul Dear Evan Hansen. Drama musikal remaja yang dbintangi oleh salah seorang bintang dari film Pitch Perfect 2, Ben Platt, meninggalkan kesan yang cukup dalam buat saya. Dari segi musik, drama ini luar biasa. Lagu-lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul ini mengingatkan saya pada lagu-lagu Ben Folds Five, dan Ben Platt adalah vokalis yang sangat cocok membawakan lagu-lagu semacam ini. Anda bisa dengarkan lagunya di soundcloud yang saya cantumkan di bawah ini.

Screen Shot 2016-04-11 at 11.00.09 AM
Ben Platt (Evan), Michael Park (Larry), Jennifer Laura Thompson (Cynthia), dan Laura Dreyfuss (Zoe).

Saya pribadi kurang suka akting Ben Platt. Dia mungkin vokalis yang bagus, tapi begitu akting, ia seperti berusaha terlalu keras. Saya malah lebih suka akting Mike Faist, yang bermain sebagai tokoh Connor. Connor adalah seorang anak anti-sosial yang akhirnya bunuh diri karena depresi. Sepanjang drama ia menghantui Evan sang tokoh utama, yang memakai kematiannya sebagai alasan untuk kenal kepada Zoe, adiknya. Evan mendapat simpati banyak orang karena pura-pura jadi sahabat Connor, padahal sebenarnya itu semua bohong. Evan, seperti Connor adalah anak-anak anti-sosial, namun kematian Connor jadi pintu masuk Evan ke dunia pergaulan.

tn-1000_14_dehweb_229
Mike Faist sebagai Connor.

Dear Evan Hansen menjadi istimewa karena musik dan wacananya yang kontemporer. Liriknya yang dalam dan cerita tentang keterasingan remaja di era digital, benar-benar terasa aktual di masa ini, dimana semakin terkoneksi internet, seseorang menjadi tambah terasing. Terakhir, Michael Greiff memiliih tone warna tata panggung dan permainan visual yang sama seperti The Tempest: biru dan merah. Namun yang membuat Dear Evan Hansen menjadi sangat berbeda, adalah bagaimana desainer adegan, lighting, proyektor dan stage manajer membuat campuran antara visual digital dengan pergerakan material dari setiap layarnya. Pementasan ini tidak hanya menggunakan video mapping, tapi juga robot-robot panggung untuk memindah-mindahkan layar proyektor ke berbagai posisi dalam pergantian setting.

Midsummer Nights Dream

Sutradara: Ethan McSweeney

midsummer-macao
Sarah Tophan (Titania/Hipolita) dan Dion Johnson (Oberon/Theseus). Foto: shakespearetheater.org

Sebagai aktor yang pernah memainkan drama “suka-suka” ini, sungguh tidak sulit buat saya memaparkan konsep dan konteksnya. Drama ini tidak logis dan memberikan kebebasan interpretasi yang sangat luas kepada sutradaranya. Teater Sastra UI, pernah mementaskan ini dengan menggabungkan kreativitas dan konsep suka-suka ini dengan maksimal, membiarkan setiap divisi dalam mengekplorasi dirinya masing-masing, dari mulai memasukan elemen tradisi dalam koregrafi dan tata gerak, pola-pola kain Indonesia dalam kostum, dan musik yang menggabungkan pop, rock dan tradisional. Pementasan oleh Shakespeare Theater Company ini tentu saja jauh lebih bermodal dan lebih mewah. Pemain-pemainnya pun bukan hanya mahasiswa atau anak muda, tetapi banyak pemain senior yang lebih berpengalaman. Namun dengan semua keunggulan itu, dengan sombong saya bisa bilang bahwa pementasan Teater Sastra UI tidak kalah kualitasnya.

webheader-under35-midsummers2015_194
Pertengkaran Hermia (Chasten Harmon) dan Helena (Julia Ogilvie) menggunakan props panggung yang disiapkan Puck.

Konsep yang ditawarkan McSweeney adalah penggabungan antara kenyataan yang hitam-putih dengan latar negara Eropa tahun 1930-1940an, dunia kelas bawah tempat para pemain drama rendahan seperti Bottom dan kawan-kawan yang berwarna coklat kusam, dan dunia peri dengan hutan imajiner di dalam sebuah panggung teater yang sudah rusak. Hutan imajiner ini menggunakan properti-properti panggung dari mulai tali tambang, piano rusak sebagai ranjang, ember dan lain-lain. Peri-peri menggunakan kostum zaman Victorian yang memang glamor dan penuh dengan mistisisme. Di satu sisi konsepnya jelas, namun di sisi lalu jadi terlalu jelas dan membunuh imajinasi penonton.

cropmidsummers_146-press
Adam Green sebagai Puck memasuki Panggung dengan Akrobat

Pemeran Puck (Adam Green), yang nampaknya jadi aktor yang paling diistimewakan di drama ini, memang bermain prima. Bersama dengan peri-peri lainnya, ia memainkan atraksi lompat tali sirkus yang menantang. Aktor-aktor profesional ini bukan hanya terlatih akting, bernyanyi dan menari, tapi juga atraksi–sepertinya kebanyakan pementasan Midsummer Night’s Dream di industri teater memang harus menampilkan atraksi. Pementasan ini “aman” dan “pantas” untuk kelas Broadway. Tapi di saat yang sama jadi biasa saja, tidak banyak inovasi baru–karena saya pribadi sudah cukup riset dan mencari-cari model Midsummer Night’s Dream dua tahun lalu. Mungkin ini yang terbaik, karena toh, eksperimen yang terlalu macam-macam seperti yang dilakukan Julie Taymor bisa berakibat fatal.

midsummers_108resized1
Pembukaan adegan peri. Foto: Scott Suchman

 

Akeela and the Bee

Sutradara: Charles Randolph-Wright

hires_akeelah02
NIcole Wildy sebagai Akeela dan James William sebagai Dr. Larabee

Tidak banyak yang bisa saya katakan tentang Akeela and The Bee. Drama ini diangkat dari film anak-anak yang bertujuan membuat komunitas Afrika-Amerika yang lebih terdidik dan suka membaca. Dramanya pun dibuat oleh grup komunitas (campuran antara pemain profesional dan amatir). Kualitasnya kurang lebih sedikit di atas kebanyakan teater sekolah/kampus di Indonesia. Dan penontonnya pun rata-rata punya hubungan dengan komunitas tersebut.

1444407559-4_akeelah_tickets
Akeela Lomba Mengeja

Beberapa bagian drama ini cukup melelahkan saya, apalagi karena saya tidak akrab dengan aksen, istilah-istilah dan slang komunitas Afrika-Amerika. Walhasil, saya seringkali tidak tertawa ketika penonton terbahak-bahak, karena saya tidak bisa mengikuti dialog-dialognya. Drama ini mencoba menjadi multikultural, dengan menampulkan tokoh-tokoh berwajah Asia–khususnya Cina–dan memberikan mereka stereotipe “pekerja keras” yang memiliki orang tua yang “ambisius. Lucu juga sebenarnya, ketika orang kulit hitam banyak yang menuntut agar tidak distereotipe, drama ini sangat penuh stereotipe. Bukan hanya pada komunitas lain, tapi juga pada komunitasnya sendiri. Ironis.

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Perlawanan, Politik, Racauan, Uncategorized

Terkait Kartini Kendeng, Dian Sastro Masih Anak Filsafat

Jadi ceritanya, Dian Sastro mengirim surat klarifikasi atas artikel Kompas yang sembarangan menulis ulang opininya tentang ibu-ibu Kendeng yang menyemen kaki mereka. Saat itu Dian sedang ada di acara bertajuk, “Spirit Kartini dalam membangun bangsa yang mandiri.” Dari judulnya saja kita tahu bahwa itu acara emansipasi perempuan, dan karena event Kartini Kendeng baru berjalan, wajar jika ada penonton (bukan wartawan) yang bertanya soal acara itu.

 

dian
Foto: Eva Mariani Sofian

Sebagian kawan-kawan saya di sosmed bilang, bahwa klarifikasi Dian di atas, masih bias gender dan kelas menengah kota, karena ia mempertanyakan “Ketidakhadiran laki-laki” dalam demonstrasi semen ibu-ibu Kendeng. Sebelum saya menanggapi isu ini, ada baiknya saya tekankan kalimat Dian, “Saya kurang paham atas peristiwa tersebut dan belum mendalami duduk permasalahannya.”

Dengan dasar ketidak-tahuan konteks ini, ia bertanya balik dalam kerangka emansipasi acara Spirit Kartini tadi, kenapa laki-lakinya tidak ikut disemen? Kenapa perempuan yang disemen? Dan ini pertanyaan yang menurut saya penting:

“Apa karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yang berbau politik dan hierarki patrialis, sehingga di luar hal-hal domestik dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya?”

Ini pertanyaan standar dan dasar dalam feminisme, menyangkut representasi perempuan sebagai makhluk apolitis. Jangan lupa, ibu-ibu yang disemen secara simbolik mengandung sebuah kekerasan terhadap perempuan, sama seperti mitos-mitos siksaan simbolik kepada perempuan yang lain dalam budaya Hindu-Jawa: dari Drupadi yang ditelanjangi Kurawa, sampai Shinta yang meloncat ke api untuk membuktikan kesuciannya. Secara tekstual-kultural, perempuan yang disemen lebih “Nampol” daripada laki-laki yang disemen. Ini memprihatinkan, ketika kita bicara soal kesetaraan gender. Namun sebagai pertunjukan, ia cocok dengan masyarakat patriarkis kita yang cepat luluh kalau ibu-ibu yang bergerak. Karena bagaimanapun, demonstrasi adalah pertunjukan, semurni apapun niatnya; pertunjukan harus aktual.

lepas-belenggu-semen
Foto: Omahkendeng.org

Menurut saya hal ini sangat wajar ditanyakan orang yang terlatih secara filsafat tapi miskin pengalaman lapangan. Apakah ini bias? Ya, jelas, tidak ada pendapat/pertanyaan di dunia ini yang tidak bias. Maka itu penting untuk ilmuan dalam membuat disclaimer metodologis, bahwa “Kemungkinan saya akan bias, karena….” Dian sudah melakukan itu ketika dia bilang, “Saya kurang paham dan belum mendalami.”

Dia bicara sebagai seorang intelektual kritis berlatar belakang filsafat, pertanyaannya prosedural bias ilmuan feminis. Tugas kita sekarang adalah berdialog, supaya dialektikanya jalan. Lagipula posisi Dian Sastro sebagai “mitos” dalam ranah budaya pop Indonesia, membuat kalimat apapun yang dia keluarkan mengenai sebuah isu, sudah pasti bisa memboost-up isunya. Masalah kalimatnya seperti apa, tergantung pembacaan masing-masing–karena tidak semua orang punya kapasitas untuk mengerti studi gender. Untuk soal wacana ini kita harus paling tidak berterima kasih pada Dian Sastro.

Jika Anda mau tahu pertanyaan yang sangat-sangat bias kelas menengah kota dan modernis, Anda bisa melihat pertanyaan Ganjar Pranowo atau Goenawan Mohammad soal siapa yang desain demonstrasi dan “Can’t Subaltern Speak?” Lalu biarkan bapak-bapak “aktor intelektual” dalam video ini bicara. Sekalian menjawab pertanyaan Dian Sastro tadi soal kemana bapak-bapaknya.

Anthropology, Ethnography, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Lima Pertanyaan Tentang Uber vs Taksi di Indonesia

Tulisan ini dibuat berdasarkan pertanyaan wawancara wartawan Viriya Paramitha, yang salah satu bagiannya ditulis The Jakarta Post dalam artikel di tautan ini. Banyak hal yang saya kurang setuju dalam artikel tulisan Ayomi Amindoni itu, khususnya soal framing politiknya yang sangat bias konsumen kelas menengah, dan menolak untuk dengan kritis “Covering Both Sides.” Tulisan di The Jakarta Post berusaha memberikan opini analisis dalam kesempitan ruang yang justru meninggalkan banyak sekali kedangkalan analisa, sangat berbeda dengan media berbahasa Inggris internasional seperti New YorkerThe Washington PostThe Guardian atau The New York Times, yang rela menulis versi daring secara mendalam. Selain diskusi dengan Viriya, saya juga mendapatkan banyak data dari diskusi di lapak facebook saya dengan kawan-kawan dekat. Komentar dan data dari kawan-kawan memberikan banyak sekali insights pada kasus ini, baik yang paling klise dan umum dari sudut pandang konsumen, parahnya kartel di perusahaan Taksi seperti Blue Bird dan Express, parahnya ilusi “Sharing Economy”, sampai akal-akalan UU Koperasi untuk mengubah juragan rental jadi bos (Taxi) Uber!

Sebelum membaca esei ini, saya ingin Anda paham konteksnya dulu. Pertama Anda harus membedakan kasus Gojek vs Ojek dan kasus Uber vs Taksi. Keduanya berada di struktur yang sangat jauh berbeda. Ojek pangkalan bersifat guyub, lokal, dan skalanya kecil-kecil menyebar. Sementara Taksi (khususnya Blue Bird dan Express) ada di ranah kapitalis korporat yang mendukung status quo. Ojek jangan disangkutkan dulu di sini, nanti otak kita kacau kayak supir Blue Bird yang gebukin Gojek. Itu masalah “salah paham identitas” soal transportasi online yang bisa dibahas secara berbeda.

Kedua, latar belakang kejadian kisruh transportasi ini adalah karena adanya “krisis transportasi”, khususnya di Jakarta. Dulu Nadiem Makarim bilang bahwa kesuksesan Gojek terjadi karena ia berhasil mengambil momentum. Krisis transportasi Jakarta adalah salah satu momentum ini. Ini juga yang jadi dasar keputusan Jokowi untuk memaksa menteri Jonan mencabut aturan Gojek yang ia celup.

Ketiga, perusahaan transportasi online adalah sebuah sistem baru yang jauh dari matang, belum punya dasar hukum dan UU, dan sesungguhnya tidak mengandung sharing economy sama sekali, kalau sharing maksudnya berbagi dan tidak semata-mata berdagang. Bandingkan Uber (yang jelas meraup untung besar) dengan Nebengers (yang mendahulukan hubungan sosial untuk berbagi kursi kosong tanpa harus seperti ekslusif seperti taksi). Bandingkan juga AirBnB (prinsip sama dengan hotel) dengan Couchsurfing (membina hubungan antar back-packers). Uber dan AirBnB adalah dua model bisnis yang ekspansif dan berusaha mengambil pasar Taksi dan Hotel/Penginapan, korporat Uber dan AirBnB mengambil untung yang banyak sekali tanpa punya modal produksi hotel/penginapan, perijinan, dan birokrasi perpajakannya. Sementara itu, Nebengers dan Couchsurfing benar-benar “sharing” karena dari awal keduanya tidak mengincar penumpang taksi atau tamu hotel, tapi mengutamakan hubungan sosial dan komunitas.

Pastikan Anda paham konteks ini dulu, sebelum kita bicara lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan berikut diberikan oleh Viriya sebagai bagian dari wawancaranya. Pertanyaan-pertanyaan yang cukup sederhana ini saya rasa baik untuk memberikan pemahaman yang lebih awam.

1. Sebenarnya gegar sosial apa yang hadir di masyarakat?

Yang terjadi di masyarakat hari ini bukan hal baru. Ini adalah technological socio-economic disruption, dan sudah terjadi semenjak Homo Sapiens dengan kapak logamnya membantai Neanderthal yang memakai kapak batu. Plotnya selalu sama: ada sebuah struktur (transportasi Indonesia) yang sudah well-established, tapi dalam kondisi krisis karena status quo, sehingga mudah diganggu oleh agen-agen dari struktur lain (dalam hal ini perusahaan multinasional teknologi baru bernama online companies) yang memanfaatkan krisis tersebut. Ini menghasilkan semacam reaksi kimia yang berbeda-beda di bagian-bagian struktur yang beda-beda pula.

Di komunitas lokal seperti ojek pangkalan, yang terjadi adalah perlawanan-perlawanan tak teroganisir dari unit-unit ekonomi informal. Dalam soal taksi, karena perusahaan taksi adalah model bisnis kapitalis yang formal dan global, maka reaksi yang terjadi juga global. Tapi tentu saja cara bereaksi berbeda-beda karena konteks dan latar belakang hukum dan budaya yang beda-beda pula. Dalam konteks Jakarta, ada letupan-letupan kericuhan yang terjadi, ada juga peran paguyuban supir taksi untuk mengorganisasi supirnya. Jangan lupa bahwa taksi Blue Bird dan Express punya model yang cenderung monopolistis–mereka telah banyak menyingkirkan taksi lokal yang sulit bersaing karena modal yang cukup besar. Struktur korporasinya memang sedang bermasalah. Tapi jangan sangka kejadian kekerasan demo anti Uber hanya ada di Jakarta. Di Jakarta tak ada laporan pengemudi Uber kena pukul, tapi di negara lain banyak!

20150625174035-uber-riot-italy
Demonstrasi Anti-Uber di Paris, Prancis. Sumber: The Wired

Dari sisi pemerintah, ada kegagapan UU dan peraturan menyangkut e-Commerce dan Perusahaan Transportasi berbasis Jasa Internet. Infrastruktur UU dan Peraturan untuk aplikasi transportasi Online belum ada, jadi payung hukumnya cenderung dimanipulasi baik oleh pengusaha dan oleh pemerintah sendiri. Oleh pengusaha, Gojek menggunakan payung hukum perusahaan IT, sementara Uber menggunakan payung hukum Koperasi–padahal pada praktiknya, keduanya tidak di ranah IT apalagi Koperasi! Gojek memberi modal jaket, helm dan smartphone pada pengendaranya; Uber Indonesia punya sistem heirarki mirip taksi tapi bentuknya rental mobil.

 

2. Kenapa Supir Taksi tidak beralih jadi Supir Uber?

Pertanyaan kedua ini SANGAT BIAS KONSUMEN. Cuma konsumen yang bukan pemangku kepentingan (Stakeholder) perusahaan yang bisa dengan gampang pindah produk kalau tidak cocok. Sementera pekerja, tidak mungkin segampang itu, kecuali kalau tidak ada yang pernah ia bangun dengan perusahannya, tidak ada insentif yang ia kumpulkan. Logikanya begini, mungkinkah seseorang yang sudah hidup di sebuah struktur dan menginvestasikan waktu, tenaga, dan loyalitasnya berpindah begitu ada hal baru yang ‘lebih menjanjikan’?

qrft5su
Perbandingan supir Uber dan Taksi di Negara Maju (bukan Indonesia). Sumber gambar: imgur.com

 

Saya akan kembali ke masalah global tadi: demonstrasi taksi adalah demonstrasi global karena yang terdisrupsi adalah struktur kapitalisme global perusahaan taksi. Dan perusahaan adalah bentuk usaha modern–sebelum adanya usaha online. Dalam perspektif supir taksi, ini tidak ada hubunganya dengan kegagapan teknologi, tapi lebih kepada keamanan ekonomi dan status quo.

Saya ulangi, paguyuban supir taksi bukanlah paguyuban ojek. Padanan paguyuban taksi adalah serikat buruh, yang hadir akibat adanya kapitalis/perusahaan. Lucunya, hubungan antara perusahaan dengan paguyuban supir taksi yang demo ini nampak sangat mesra–karena yang didemo bukan perusahaan. Di negara maju mungkin wajar supir taksi setia pada perusahaan karena perusahaan Taksinya lebih menjamin keamanan ekonomi supir. Di Indonesia tidak begitu, banyak sekali eksploitasi yang dilakukan pada supir yang dengan gampang bisa tergantikan karena kompetisi pasar tenaga kerja yang ketat. Mengingat susahnya jadi supir taksi yang harus melalui seleksi ketat dan terikat aturan perusahaan dan pemerintah, wajar jika mereka stress berat dan gampang tersulut di lapangan demonstrasi. Seperti Rocker, supir taksi juga manusia.

Spain Uber
Demonstrasi Anti-Uber di Spanyol. Foto: Wired.com

3. Bagaimana seharusnya Perusahaan Taksi Konvensional Bereaksi?

Ini pertanyaan klasik dan akan saya jawab dengan jawaban klasik: inovasi. Dalam sebuah persaingan usaha, yang tidak bisa berinovasi akan kalah. Itu prinsip utama kapitalisme liberal. Selama puluhan tahun, industri pelayanan Taksi tentunya sudah banyak berinovasi, apalagi ketika berhadapan dengan persaingan melawan perusahaan Taksi lain. Namun ketika berhadapan dengan Uber atau Grab persaingan sulit dilakukan karena perusahaan transporatasi online tidak ada di bawah payung hukum yang sama. Yang terjadi adalah, tim voli melawan tim sepakbola di lapangan basket. Kacau belau!

Memang harus diakui, ada yang busuk dalam sistem korporat taksi Indonesia. Sistem kartel ini harus berinovasi, harus berubah dengan cepat. Karena sistem ini meninggalkan celah-celah yang membuat konsumennya mudah berpaling. Terlebih lagi, di dalamnya terdapat eksploitasi pekerja yang tidak main-main kerasnya. Supir Blue Bird yang tidak ikut demo dalam sebuah video wawancara yang sudah viral di media sosial, mengungkapkan peran paguyuban supir taksi yang kongkalikong dengan perusahaan untuk membiayai dan memprovokasi demonstrasi.

 

Jadi inovasi seperti apa yang harus dilakukan? Sekalian saya jawab di pertanyaan ke empat:

4. Apa sebenarnya keluhan konsumen pada Taksi Konvensional?

Kita sudah bahas di atas, masalah dari sudut pandang supir dan perusahaan yang seperti kartel. Di sisi lain masalah dari sudut pandang konsumen bukan cuma tarif, tapi juga akses dan customer service. Dalam kondisi krisis transportasi Jakarta, Taksi konvensional pra-uber (seperti juga ojek pangkalan sebelum ada Gojek), punya bargaining position yang tinggi apalagi setelah ia memonopoli pasar industri taksi. Beberapa dari mereka bisa mempermainkan harga, kalaupun “profesional” seperti Blue Bird, tarifnya mahal. Belum lagi aksesnya seringkali sulit–dalam pemesanan jam sibuk, pelanggan akan mengantri dan besar kemungkinan tak dapat taksi, dan customer service-nya sangat-sangat tertinggal. Customer service ini mencakup perilaku pengemudi yang bisa menolak pelanggan atau mempermainkan harga ketika rumahnya jauh, hujan atau lewat jalan macet, sampai sistem pembatalan yang berat sebelah: kalau customer yang cancel harus bayar beberapa persen kalau supirnya sudah sampai, namun ketika taksi yang cancel tidak ada denda apa-apa. Dalam kondisi seperti inilah sangat wajar kalau konsumen ingin yang lebih murah, terakses, dan servisnya baik (alias bisa dengan mudah diadukan diberi rating, dll).

Tapi jangan dikira Uber tidak akan memainkan harga dan jadi jahat pada konsumen. Kalau Taksi konvensional, supirnya secara individual bisa jadi jahat ketika macet atau hujan, Uber bisa menaikan tarif seenaknya juga ketika macet atau hujan bukan secara individual tapi secara terpusat. App-nya sendiri yang akan menaikan tarif! Ini artinya sudah jahat, supirnya untung, dan perusahaan ikut untung! Konsumen juga harus waspada dengan model “sharing economy abal-abal” lain seperti Gojek dan Grab, karena semuanya pakai harga promosi yang disubsidi investor. Jangan sampai ketika subsidi itu raib, harga jadi mahal, tapi taksi dan ojek konvensional sudah tidak ada untuk Anda.

5. Pemerintah harus apa?

Ini pertanyaan terpenting yang tidak ditanyakan Viriya. Seluruh kisruh transportasi ini disebabkan karena kebijakan pembangunan yang salah dan hancur-hancuran! Dalam hal krisis transportasi, menurut saya harus ada penyesuaian kebijakan tertulis dari penyelenggara negara untuk memberikan payung hukum yang jelas pada usaha transportasi online (secara khusus) dan e-commerce (secara umum).

Taksi menuntut kepada pemerintah untuk menjadi protektif pada usaha mereka. Secara hukum, sebenarnya itu bisa sekali dilakukan, karena dasar hukum Uber dan Grab di Indonesia (dan hampir di seluruh dunia, bahkan Amerika Serikat) belum jelas. Tuntutan untuk melarang Uber dan Grab itu tentu terlalu muluk, tapi dalam demonstrasi yang dilakukan memang selalu menuntut yang muluk untuk dinegosiasikan menjadi win-win solution. Yang harus dibaca dari kasus Ojek sampai Uber adalah, pemerintah tidak boleh membiarkan krisis ini berlarut-larut dalam sebuah perang sipil antar pekerja di kelas bawah, dan perang politik ekonomi di kelas atasnya (pemilik modalnya).

Pemerintah harus menemukan mekanisme pembentukan payung hukum yang cepat, efektif dan fleksibel ketika ada perubahan lain yang terjadi. Misalnya dengan Permen atau Perda, yang harusnya bisa dibuat tanpa melalui jalur birokrasi yang panjang dan menjelimet. Semua harus dimulai dari kenyataan lapangan dan harus diresmikan. Tidak bisa pemerintahnya “membiarkan” bentrokan ini untuk selesai sendiri, malahan cenderung ikut memanipulasi hukum yang sudah ada. Dalam krisis transportasi ini, proyek infrastruktur publik jangka panjang seperti MRT dan Bus memang harus tetap berjalan, tapi proyek infrastruktur yang jangka pendek dan bersifat legal-formal juga harus ditopang hukum kalau tidak mau bangunan sosialnya collapse.

 

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Phronemophobia Indonesia

 

imrs

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia. Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia seperti psikosis lain, adalah penyakit karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Baca lebih lanjut