Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi, Racauan

Esser

Possible-phone-wallpaper-131.jpg

There is a place where we don’t have to choose. We can love each other freely, out of differences or social restraints. This place is an island of mystery and secrets; our mystery, our secret. It is a garden that we nurture, sacred, therefore we need to protect it with all our might.

It has to be kept from the outside world. And the outside has to be kept from it. For when a breach exist, both will ruin one another, and consume us like the giant snake of time. You, me, and the world we live in will cease to exist, thus end life as we know it.

So let us protect it with complications; create a deep labyrinth with tricks and traps, with monsters and demigods. You have your minotaur, I’ll have my Medusa. But beware of the green-eyed cyclops luring from behind the mountain. For it is a blind Shiva, with Uoroboros on his neck, ready to destroy anything on its path. Its eyeball is a mirror of a bitter truth, that will open any secrets, expose every sin, and use it to kill us.

It will pollute our island, defile our garden, and we will be transformed from angels and fairies to be a two shouldered beast. We will eat each other, and when we’re done, we will eat ourselves. From carcasses of our memories we will make our body; a chimera, the undead.

Alas, even to imagine it we quiver with fear, more than we fear death. For death is nothing but eternal sleep, but this clash of two worlds, is a big bang to eternal nightmare. She run through frozen fire and burning ice, and we’ll be her tormented captive. We’ll be forgetful of each torture, so every time we die, we’ll be revived with fresh memories to run with her and die again and again and again…

Thus, to avoid that mare, we meet each other’s eyes, and we lie truthfully. So truthful that we come to believe, that there was no secret island, no sacred garden. Just lonely people who happened to have the same imagination, but never share it to one another.

Nobody will ever know our great golden copulations, our Dionysian ritual, but ourselves, individually. Just a glimpse of an eye, is a thousand years in that island, that secret garden. Keep that secret, and we can die in peace and dignity in reality, while live happily ever after in the island.

Lie to each other, live with each other, life for each other, love one another.

Alam, Cinta, Eksistensialisme, Puisi, Uncategorized

Muazin

Dia memandang langit mendung dan kerinduan merundung
pada apa-apa di kegelapan, ketika waktu jadi lautan
ia terbawa jauh ke tengah, gelegak air asin masuk ke dada
tenggelam hingga pasrah, lalu mengambang tak berdaya

Bintang itu adalah rumahnya,
sebuah pulau di angkasa raya
di sana, ia lihat bapaknya, bercahaya,
tak tergapai, sinar yang sampai
sudah lama selesai

Suara adzan menggema semesta
menyambut kefanaan,
tak pernah habis
shalat tak pernah didirikan
Muazin terus bersenandung

Kidung sapaan Tuhan
hantu berjalan terbalik
likur garis angkasa
kasar mengabur
mengubur
buram
ramal
malam

Musafir yang selalu berikhtiar
adalah kafir bagi mereka
yang memuja dan melupa
bahwa hidup yang sementara
tak hanya untuk berdoa
tapi juga untuk bekerja
dan bersukaria

 

 

Cinta, Musik, Portfolio, Puisi

Telaga

Kala sendiri
Sepinya riang
Sunyinya nyaring
Diam, dia bahagia

Kasihnya pergi
Dua menjadi
Satunya letih
Dia, mengurung dirinya

O, apa guna
Membuka diri untuk cinta
Sementara di telaga
Hanya ada dia

Imajinasi
Jukstaposisi
Seakan nyata
Semua yang ia khayalkan

Lalu mengapa kau sedih
Setiap malam berlalu sendiri
dan pagi menghapus ilusi diri
yang kau racik sendiri, Kau teguk sendiri
cinta simpan sendiri benci diri sendiri

Cinta, Puisi

Bar

Tuangkan kesepian dengan penuh ke gelas ini
dan mari kita teguk bersama sampai dasarnya

Ada musik Blues mengalun dari seorang pianis
seperti kita berdua, iapun kesepian memainkan
Round Midnight dengan improvisasi curahan hati

Aku bisa menghirup aroma sherry dari nafasmu
dan kau seperti sengaja menghirup aroma whisky
yang menguap dari bibirku

Lalu kita berteriak pada Bartender
untuk memenuhi lagi gelas kita

dengan kesepian

Kita bicara soal keramaian dan kesenangan
agar segala perih ini punya makna
cinta yang sedang kita buang-buang
kita hamburkan dalam kata-kata

Lalu kita tenggak lagi kesepian ini
“Hey, salah satu dari kita harus sober”
kataku

Kau malah mengajakku berdansa
dalam alunan musik improvisasi

Seperti sang Pianis, kita berdua tidak peduli
kita menari dan tersenyum menikmati
sampai bibir kita hampir bertemu
Lagu keburu selesai dan senyap…

Senyap menghentikan kita

Saatnya pulang, kau kuantar ke depan
udara dingin, taksi melipir

Matamu bilang, ikutlah denganku
Mataku bilang, ya, aku ikut

Mata kita kesepian yang bicara
kau bawa pulang sedikit aku
aku sedikit kau

Esok pagi toh sedikit akan habis
kita biarkan masing-masing berlalu

Kau menuju atas kota ke hingar-bingaran
aku kembali ke bawah, ke subway bising bau pesing

Kesepian kau bawa ke atas
kesepian kubawa tenggelam

Dan dalam gelap-terang
kita bercinta sendiri-sendiri

Subway Brooklyn-Manhattan, 2016