Alam, Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Kendala Kundera

00.-unbearable

Kita berdua berdiri bergandengan tangan

di pinggir pantai matahari terbenam
dan rembulan perlahan muncul membirukan jingga

Kita berjanji bergandengan tangan
tapi bahtera tak kunjung tiba dan air laut naik
dan kaki kita terjangkar dan kita bergandengan dan kita berciuman dan kita bercinta dan air laut naik ke kaki, ke pinggang, ke perut, dada, leher, ke kepala

Dan kita tenggelam.

Untuk apa semua ini?

Aih, aku benci Milan Kundera
Ini semua akibat dia sakit perut di suatu pagi
dan menciptakan kita dan semua perselingkuhan!

Sial!

Alam, Perlawanan, Puisi

Berlari, Belantara tidak Berpikir tentang Janinmu

running_through_the_woods_by_darkhorses90-d4h8ywn

Berlari, belantara tidak berpikir tentang janinmu
padahal kau selalu menganggap dirimu tanah, bumi, yang subur
yang sakit ketika harapan-harapan gugur
tanpa pernah lahir tanpa pernah terkubur

Bercak-bercak darah
serpihan-serpihan benih
berserakan di lapangan bunga
dan membunuh semua yang hidup

Dasar bodoh,
Alam tidak akan peduli kesakitan, kenikmatan
Ia tidak menangis, tidak mengeluh,
ia tidak mengadili atau menghukum
ia tidak pasif tidak juga aktif
ketika ia muntah bencana dan membunuh kita semua
ketika kiamat yang kau imani itu datang

Ibu kita pertiwi akan tetap kokoh dan melahirkan dan membunuh
tanpa perasaan, tanpa apa. Terus mengada dan menghilang.

Tidak seperti kau!

Makhluk jalang fana, yang bersembunyi di balik
simbol-simbol kepalsuan yang kau buat di atas wajahmu

Lihat!
Langit biru, terik, angin menghilang
akan ada badai datang, sayang
Kau tak mungkin jadi ibu pertiwi
kalau selalu takut badai

Semoga anak itu mati sebelum lahir,
Dan jadilah ia manusia paling beruntung.
Karena ibu sepertimu, adalah bencana
Kau pikir kenapa aku lari?

Washington DC, 12 Juli.

Eksistensialisme, English, Memoir, Puisi, Racauan

Living is Easy with Eyes Closed…

wpid-20150318_175850.jpg

I want everybody to see what I can’t see.

The faith and the belief that everybody have feelings. Including you people.

You people are seen as you want them to see you: cheap, marginalized, exploited, evil, poor.

But I refuse to believe thay because you people survived. As people. Not as animal.

You have love and loved. You have happiness and sadness, in between them you have good and evil. In between good and evil you have calculation and logical reasons of your own.

No matter how error and full of fallacy from common logic, no matter how illogical, it is your own reason.

And if one care to see the bigger context one will understand them. One will know thay if one put themselves in your shoes, one will be you and nothing else. Everybody’s not free. Everybody bound to existence.

I can’t see that right know. My eyes are common eyes like yours or theirs. But I believe its there: the story of being human. I want to see that. And share that. We will meet again. And we will prove to them, that they are us.

Like you are me.

Alam, Cinta, Puisi

Muntah Kun!

icelandSebanyak apapun kau muntahkan
Kau akan selalu mual dan muntah
Muntahanmu takkan pernah usai
Hingga kau sumpal dengan wajah

Wajah yang berseri, wajah yang tersenyum
Wajah yang berkata semua baik-baik saja

Hingga kau sendirian dan tak ada mata
Yang mandang wajah sumpalan
Dan kembali mual dan muntah
Isi perutmu tak ada batas

Kau muntahkan cinta, rindu, dendam
Kau muntahkan rasa perih binasa
Kau muntahkan alam semesta
Kenapa tak henti kau pun tak paham

Akal tak bisa menjelaskan
Bagaimana muntah menjelma
Jadi kata, jadi gerak, jadi aksara
Dan dari muntah kau berbagi sengsara

Tidak ada nikmat yang dibawa
Sengsara kembaran samsara

Dan kau sadar, disitulah asal tiada
Pada ia yang kembali ke samsara
Dan membuatmu sengsara
Meratapi pusara
Lara
Ara
Ra
A

Kun fa ya kun!

Allah adalah segala
Ia adalah kita Ia adalah semesta
Ia kekal tak berawal dan tak berakhir
Maka semua  kekal tak berawal tak berakhir

Kun fa ya kun!

Berubah bentuk bereinkarnasi menjadi jadi
Menjadi tanah, menjadi abu, menjadi udara
Menjadi batu menjadi ilmu menjadi lembu
Menjadi ini menjadi itu menjadi hampa dan
Menjadi ada menjadi tiada menjadikan kun!

Kun fa ya kun! Terjadi!
Kun fa ya kun! Mengada!
Kun fa ya kun! Meniada!

Innalilahi wa inna ilaihi raa ji’un!
Maka terjadilah ketiadaan…