Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (Part I)

Bagaimana Elit Politik dari kedua sisi spektrum politik telah merusak persamaan sosial, politik, dan lingkungan kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

 

Selama 50 tahun, Noam Chomsky telah menjadi Socrates-nya Amerika, mewabahi publik dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyengat. Ia bicara tidak kepada penduduk Athena, tapi kepada desa-desa global yang menderita, dan sekarang, sepertinya, dalam bahaya.

Dunia bermasalah hari ini masih mengetuk pintu Noam Chomsky, karena ia sudah lama memperingatkan akan datangnya angin topan. Dunia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketika Chomsky memperingatkan mereka bahwa bencana sedang mereka buat. Ingatlah ketika Chomsky membantai argumen William F. Buckley Jr., pembawa acara TV terkenal di Amerika, soal perang Vietnam di tahun 1969.

Ada hal aneh soal Noam Chomsky: The New York Times menyebutnya “bisa jadi” pemikir publik terpenting hari ini, walau koran itu jarang mengutipnya, atau berdebat dengannya, apalagi bintang-bintang media populer di televisi jaringan. Namun Chomsky tetap mendunia dan dirujuk di usianya yang ke 89 ini: ia adalah ilmuan yang mengajarkan kita untuk berpikir soal bahasa manusia sebagai sesuatu yang terpatri secara biologis, dan bukan akuisisi sosial; ia adalah humanis yang berdemo melawan Perang Vietnam dan memproyeksikan sisi lain kekuatan Amerika, awalnya atas dasar moral dan lama kelamaan untuk pertimbangan praktis. Ia menjadi rock star di kampus-kampus, di Amerika atau di luar negeri, dan ia menjadi semacam Bintang Utara untuk generasi pasca Occupy Wallstreet yang menolak kekalahan Bernie Sanders. 

Sayangnya, Chomsky tetap terasing di dunia dimana kebijakan dibuat. Tapi di markasnya, di Massachusetts Institute of Technology (MIT), ia tetap seorang profesor tua yang terkenal, yang dengan mudah dihubungi, menjawab email, dan menerima pengunjung seperti kami dengan ramah.

Minggu lalu, kami mengunjungi Chomksy dengan sebuah misi pikiran terbuka: Kami mencari pendapat yang tidak umum tentang sejarah terbaru kita, dari seseorang yang terkenal jujur. Kami bersurel-surelan padanya, dan bilang kami ingin tahu bagaimana ia berpikir, bukan apa yang ia pikirkan. Ia membalas surel kami dengan bilang ia bekerja keras dan membuka pikirannya, dan menerapkan, dalam kata-katanya sendiri, “Kemauan gaya Socrates untuk mempertanyakan apakah doktrin konvensional yang diterapkan cukup adil.”

Christopher Lydon: Kami hanya ingin Anda menjelaskan, sedang dimana peradaban kita hari ini–

Noam Chomsky: Gampang itu.

CL: [Tertawa]—Ketika banyak orang ada di tepian sesuatu, sesuatu yang bersejarah. Adakah ringkasan Anda mengenai semua ini?

NC: Ringkasan singkat?

CL: Ya.

NC: Ringkasan singkat saya pikir bisa dimulai ketika kita melihat sejarah baru-baru ini di Perang Dunia Ke-II, sesuatu yang mengagumkan telah terjadi. Pertama, kecerdasan manusia menciptakan dua palu godam raksasa yang dapat menghancurkan keberadaan kita–atau paling tidak keberadan kita yang terstruktur ini—keduanya berasal dari PD II. Salah satunya cukup mudah dikenali. Bahkan keduanya hari ini mudah dikenali. PD II berakhir dengan penggunaan senjata nuklir. Langsung jelas pada tanggal 6 Agustus, 1945, hari yang sangat saya ingat. Jelas bahwa teknologi akan berkembang ke titik dimana ia akan menjadi bencana mutakhir. Para Ilmuan sudah pasti mengerti ini.

 

Tahun 1947, Bulletin of Atomic Scientists meresmikan Jam Kiamatnya yang terkenal. [Jam kiamat adalah sebuah jam simbolik yang maju mundur menuju kiamat, kiamat adalah tengah malam. Ia meramalkan setiap kemungkinan bencana global dari nuklir, perang antar agama, hingga pemanasan global; sifatnya fluktuatif]. Kamu tahu, seberapa dekat jarum menitnya ke tengah malam? Dan itu dimulai tujuh menit sebelum tengah malam. Tahun 1953, ia dua menit ke tengah malam [menjelang perang nuklir]. Itu adalah tahun dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet meledakan bom-bom hidrogen mereka. Tapi kini kita mengerti bahwa di akhr PD II dunia juga memasuki kisah epik geologis yang baru. Epik itu dinamakan Anthropocene, kisah dimana manusia menjadi sebuah perusak atau bencana terhadap lingkungan. Maju lagi ke tahun 2015, lagi di tahun 2016. Langsung setelah pemilihan Trump di akhir Januari tahun ini, jam nya bergerak lagi ke dua setengah menit ke tengah malam, ini yang terdekat sejak tahun ’53.

Jadi ada dua ancaman eksistensial yang kita ciptakan–yang satu kemungkinan perang nuklir menyapu kita semua; dan satu lagi bencana lingkungan hidup, menciptakan akibat parah–lalu ada lagi ancaman lain muncul.

Ancaman ketiga terjadi. Dimulai sekitar tahun 70an, kecerdasan manusia didedikasikan sepenuhnya untuk memusnahkan, atau melemahkan, halangan utama yang bisa menangani dua bencana sebelumnya. Mereka menambah masalah dengan menciptakan neoliberalisme. Ada transisi pada saat itu dari periode yang banyak orang sebut “kapitalisme ter-regimen,” di tahun 50 dan 60-an, periode pertumbuhan besar, pertumbuhan egalitarian, banyak kemajuan di keadilan sosial dan sebagainya–

CL: Sosial Demokrasi…

NC: Ya, sosial demokrasi. Itu juga kadang disebut, “masa keemasan kapitalisme modern.” Itulah yang mengubah tahun 70-an dengan cara pikir era neoliberal yang sampai sekarang kita hidupi. Dan jika Anda tanya diri sendiri, era apakah ini, prinsip utamanya adalah era dimana terjadi pengrusakan mekanisme solidaritas sosial dan dukungan sesama dan keterlibatan populer dalam menentukan kebijakan.

Tapi era ini tidak pernah menyebut dirinya demikian. Apa yang hari ini disebut “kebebasan,” arti sebenarnya adalah manut pada kuasa yang terpusat, tak bertanggung jawab, dan swasta. Itulah arti sebenarnya. Intitusi pemerintahan [demokratis]–atau asosiasi-asosiasi lain yang memperbolehkan masyarakat terlibat dalam pembuatan kebijakan–secara sistematis dilemahkan. Margaret Thatcher mengatakannya dengan gamblang ketika bilang, “tidak ada masyarakat, yang ada hanya individu-individu.”

 

Bersambung ke part II.

Anthropology, Buku, Filsafat, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan, terjemahan

Zygmunt Bauman: Bagaimana Menulis Ilmu Sosial Tanpa Data

Diterjemahkan tanpa izin dari New York Times, “How to Do Social Science Without Data.”
oleh Neil Gross, dosen sosiologi Colby College.

zygmunt-bauman-consumiamo

Dengan meninggalnya sosiolog Zygmunt Bauman bulan lalu pada usia 91, dunia intelektual kehilangan seorang pemikir dengan wawasan dan jangkauan keilmuan yang sangat luas. Karena gaya kerjanya secara radikal berbeda dari kebanyakan ilmuwan sosial Amerika Serikat saat ini, kematiannya adalah saat untuk mempertimbangkan apa yang mungkin diperoleh jika lebih banyak akademisi mengikuti teladan Bauman.

Pak Bauman menulis sejumlah buku dan mengajar selama bertahun-tahun di University of Leeds, Inggris. Ia menjadi seorang akademisi yang diperhitungkan dalam waktu yang relatif terlambat. Sebuah sukses besar datang pada tahun 1989, pada usia 64, ketika ia menerbitkan sebuah studi penting, “Modernity and Holocaust“. Ia mengkritik pandangan luas bahwa Holocaust disebabkan kegilaan anti-Semit yang di dalam peradaban Jerman. Menurutnya holocaust berasal sifat kebiasaan sistem negara dan  genosida adalah produk budaya modern.

Awal abad ke-20, pak Bauman mencatat, telah membawa pabrik skala besar, sistem transportasi yang efisien, perusahaan besar dengan angkatan kerja yang disiplin dan ideologi pseudoscientific (ilmu palsu) seperti eugenika (rekayasa manusia). Eugenika adalah elemen penting, di samping anti-Semitisme, dalam pembantaian massal Hitler. Pak Bauman berpendapat bahwa kita tidak bisa merayakan prestasi zaman modern tanpa juga memperhatikan sisi gelapnya.

Modernity and Holocaust” adalah sebuah karya teori dan sintesis. Pak Bauman tidak mengumpulkan data dan tidak membicarakan metodologi apapun. Tapi ketiadaan itu tidak membuat karya tersebut kurang penting.

Sebagai seorang yang dilahirkan menjadi Yahudi-Polandia, Pak Bauman meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1939, setelah invasi Jerman, dan melarikan diri ke Uni Soviet. Di sana ia bergabung dengan Angkatan Darat, memerangi Nazi di front timur. Setelah perang ia kembali ke Polandia untuk memulai karir akademiknya.

Hidup dibalik Tirai Besi, menjadi seorang sosiolog berarti menjadi seorang ahli pada semua hal tenttang Marx. Pak Bauman langsung menyelami Marxisme. Tetapi ketika komitmennya kepada golongan kiri tidak pernah pudar, antusiasmenya untuk komunisme perlahan menghilang. Ketika ia memberikan dukungan kepada pembangkangan mahasiswa pada tahun 1960, ia kehilangan pos mengajar dan diusir dari Uni Soviet.

Dia pindah ke Inggris, di mana karya sosiolog Max Weber menjadi batu pijakan banyak orang. Pak  Bauman menolak gagasan Weber bahwa ilmuwan sosial harus berusaha untuk memisahkan nilai-nilai pribadi dari keilmiahan mereka, namun ia menemukan ide yang menarik dari Weber tentang masyarakat modern, yang menekankan peran sentral birokrasi.

john-hurt-v-for-vendetta-still-670-380
Mirip Max Weber. Tapi ini almarhum John Hurt.

Weber melihat birokrasi sebagai elemen sosial yang kuat, tapi sangat impersonal. Pak Bauman menambahkan ini: Birokrasi bisa tidak manusiawi. Ia bilang, misalnya, struktur birokrasi telah mematikan rasa moral tentara Jerman, yang membuat Holocaust mungkin. Mereka bisa selalu mengaku bahwa mereka membunuh karena mengikuti perintah dan melakukan pekerjaan mereka.

max-weber
Max Weber. Doppleganger John Hurt.

Kemudian, Pak Bauman mengalihkan perhatian ilmiahnya kepada masyarakat pascaperang dan dunia di akhir abad ke-20, di mana sifat dan peran segala lembaga menjadi titik fokusnya. Karena keinginan adanya stabilitas setelah perang, kata Bauman, orang mendirikan lembaga-lembaga untuk mengarahkan kehidupan mereka – versi yang lebih jinak daripada birokrasi Weber. Anda bisa pergi ke bekerja untuk sebuah perusahaan di usia muda dan tahu bahwa itu akan menjadi payung berlindung sampai Anda pensiun. Pemerintah menjaga perdamaian dan membantu orang-orang yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri. Pernikahan dibentuk melalui hubungan antar-komunitas dan diharapkan untuk bertahan dalam komitmen jangka panjang.

3
Pernikahan Kakek-Nenek penerjemah, circa 1960-an.

Tapi pada akhir abad ini, di bawah tekanan dari berbagai sumber, lembaga-lembaga ini melemah. Secara ekonomi, perdagangan global telah meluas, sementara di Eropa dan Amerika Utara manufaktur mengalami penurunan; keamanan kerja lenyap. Politik, juga, mengalami banyak perubahan: Perang Dingin berakhir, Eropa terintegrasi dan politisi memangkas negara kesejahteraan. Secara budaya, konsumerisme tampaknya meliputi segala sesuatu. Pak Bauman mencatat pergeseran besar dalam cinta dan keintiman juga, termasuk keyakinan yang berkembang di institusi perkawinan dan – akhirnya – popularitas kencan daring.

Dalam pandangan Pak Bauman, itu semua terhubung. Dia berargumen bahwa kita telah menyaksikan transisi dari “modernitas yang solid” di pertengahan abad ke-20, dengan “modernitas cair” hari ini. Hidup telah menjadi lebih bebas, lebih cair dan lebih banyak risiko. Sekarang, pekerja bisa lebih mudah ganti pekerjaan setiap kali mereka bosan. Mereka bisa pindah ke luar negeri atau menemukan kembali diri mereka sendiri melalui belanja. Mereka bisa menemukan pasangan seksual baru dengan menekan sebuah tombol. Tapi ini bukan tanpa akibat.

Pak Bauman memikirkan implikasinya. Beberapa hal memang berkembang di zaman baru ini; misalnya lembaga-lembaga dan norma-norma bisa membosankan sekaligus opresif. Tapi bisakah tenaga kerja yang terus berubah ini datang bersama-sama untuk memperjuangkan distribusi yang lebih adil dari sumber daya? Bisakah konsumen belanja kembali bertanggung jawab dan menjadi warga yang terlibat dalam pembuatan kebijakan? Bisakah keintiman percintaan yang termotivasi oleh keinginan hubungan jangka pendek belajar artinya komitmen?

Dalam buku terbitan 2003, “Liquid Love,” dia mengajukan pertanyaan terakhir tadi sebagai sebuah paradoks. Pak Bauman menulis,bahwa sekarang orang banyak “galau karena sendirian dan merasa gampang dibuang,” dan karena itu mereka “galau ingin  ‘jadian.'” Pada saat yang sama mereka juga”waspada terhadap keadaan ‘jadian'”karena mereka takut itu “bisa membatasi kebebasan yang mereka butuhkan, yaitu” – ya, tebakan Anda benar – “kebebasan untuk berhubungan dengan orang yang lain lagi.”

cok-sevgililerin-utanc-verici-partilerinden_x_95289_b
Pesta Poliamori di New York. Dimana orang bisa ‘mencintai’ banyak orang sekaligus tanpa takut kehilangan kebebasan hubungan.

Akhirnya, pak Bauman khawatir, bukankah mungkin saja ada risiko bahwa orang-orang yang hidup dalam “modernitas cair” ini terpinggirkan dan akan beralih ke orang kuat, pemimpin yang berjanji untuk mengembalikan kepastian dan menghapus kosmopolitanisme?

trump-article-header

Semua penilaian matang tentang pemikiran pak Bauman ini akan memberi kesimpulan  bahwa dia kurang data dan metodologi. Banyak dari tulisannya acak, penuh kata-kata mutiara dan berulang-ulang. Dia tidak tahu apa-apa tentang batas-batas disiplin ilmu, membelok ke filsafat, sastra, antropologi dengan seenak-enaknya; itu bisa jadi karya yang kaya atau sembarangan. Bukti empiris pun asing baginya. Imajinasi dan ketajaman ia terapkan untuk semua tulisannya.

Ilmu sosial Amerika tidak memiliki banyak ruang untuk pemikir seperti Pak Bauman. Peneliti terkemuka Amerika lebih memilih konkret daripada abstrak; mereka lebih fokus pada klaim sebab-akibat yang bisa diuji daripada teori berbunga-bunga yang tidak bisa dibuktikan. Dan jelas ada lebih banyak hal yang dikatakan dengan pendekatan berdasarkan fakta tersebut.

Tapi kita bisa belajar lebih dari  intelektual yang luas dan visi yang dibawa pak Bauman. Tulisannya – yang sangat digemari oleh khalayak Eropa – membantu pembaca berpikir berkali-kali tentang kehidupan mereka sendiri, dengan cara yang sama sekali baru.

***

Catatan penerjemah: Sebagai seorang berusia hampir seabad, Bauman selalu bisa dengan lancar bicara hal-hal kontemporer, dari pergaulan anak muda hingga teknologi terbaru. Ia memang tidak pernah bicara soal metodologi, tapi menurut saya metodologi Bauman jelas: ia pembaca akut yang membiarkan teks merasuk ke alam bawah sadarnya, lalu memproses wacana dengan lautan pengetahuannya itu tanpa perlu referensi yang jelas. Ia penulis bebas. Pada akhir tulisan ini, adalah video pendapat pak Bauman soal pengungsi, sebuah analisis yang tajam tanpa data dan metodologi dengan animasi menarik dari Al-Jazeera.

Filsafat, Politik, Racauan

Politickle: Antara Trump & Rizieq

Secara global, salah satu ketakutan terbesar adalah bangkitnya kembali fasisme, rasisme, primordialisme dan chauvinisme di dunia. Menjadi fasis, rasis, primordial, dan chauvinis, bagi siapapun yang dididik etika moral dasar, jelas tidak benar. Tapi tahun ini suara-suara parau diberi ruang yang luar biasa besar oleh media massa dan media sosial. Karena formula lama, Bad News is Good News, yang diprakarasai oleh rating dan click bait kapitalisme internet, kini mencapai titik kulminasinya yang paling parah dalam berita pelintiran dan hoax.

Semua yang aneh dan lucu tiba-tiba jadi serius. Filmmaker Michael Moore tersentak pada kenyataan ini, hingga ia membuat drama pertunjukkan Trumpland, menghimbau agar masyarakat lebih serius menanggapi Donald Trump, yang ia anggap lebih jitu membaca keadaan Amerika Serikat yang sedang morat marit menghadapi kesenjangan sosial dan pendidikan. Perkiraan Moore benar, Trump menjadi presiden terpilih, walaupun kalah suara–karena ternyata Demokrasi Amerika ada di belakang Indonesia. Mereka tidak pernah benar-benar memilih langsung presidennya, Trump dimenangkan oleh Electoral College, sekelompok orang yang ‘mewakili’ populasi negara-negara bagian. Orang-orang ini tidak mewakili rakyat sepeti halnya parlemen, karena itulah banyak demonstrasi di Amerika akhir-akhir ini yang tidak mengakui Trump sebagai presiden mereka.

Saya jadi ingat kritik Hae Joon Chang tentang doktrin liberalisme barat. Menurut Chang, negara-negara macam Amerika dan Inggris, ditenggarai oleh Bank Dunia dan IMF berusaha membuat negara-negara berkembang mengikuti kebijakan ekonomi dan politik yang mereka desain tapi tidak pernah mereka alami sendiri. “Do what we say, don’t do what we did,” kata Chang meniru omongan ekonom liberal macam Milton Friedman. Namun berbeda dengan Chang, yang memandang doktrin liberalisme macam itu murni negatif, saya malah melihat sisi positifnya untuk Indonesia saat ini: bahwasannya presiden kita masih dipilih oleh rakyat yang ‘riil’, sementara kekuatan politik macam electoral college Amerika, tidak terlihat jelas di sini. Tapi bukan berarti tidak ada kekuatan lain selain suara rakyat di Indonesia. Untuk menang seorang capres harus punya backingan politik. Dalam konteks budaya kita, backingan ini adalah hantu-hantu feodal berwujud kartel dan oligarki politis yang bersembunyi dalam kemaluan mereka terhadap negara-negara maju yang mendoktrin demokrasi (baca: Barat). Kita bangsa yang memang jagonya berpura-pura, sementara Amerika Serikat lebih sering main frontal dan pamer.

Konstellasi politik kita pasca 1965 memang selalu mengikuti Amerika–Ketika Amerika pintar kita ikut macam orang bodoh yang mau belajar, dan ketika Amerika bodoh seperti sekarang ini, kita seperti tak mau kalah: kita buat kebodohan jadi populer. Orang-orang yang selama ini kita anggap becandaan, tiba-tiba naik ke ranah politik mainstream. Sebut saja Habib Rizieq, yang dengan modal suara lantang dan omong kasar, dianggap titisan Umar bin Khattab di Indonesia–bahkan bagi beberapa orang yang saya kenal, lidah sang Habib lebih tajam dari pedang Khalifah Umar. Untuk yang satu ini saya sedikit setuju, karena lidah Habib Rizieq memang senjata yang lebih mutakhir dari pedang orang Arab jaman dulu–lidahnya bermata dua. Satu tajam menohok ke atas dengan kata-kata kasar yang diamini kaum kelas menengah ke bawah, satu tajam ke bawah menipu kelas yang mengamininya. Kenapa saya bisa bicara begitu? Anda baca saja tesis sang Habib yang menyebar viral di media sosial. Tesis  itu adalah penjabaran strategi politik yang jitu.

Rizieq

Rizieq menjelaskan pemaknaan-pemaknaan pancasila dari rezim ke rezim. Ia lalu mengambil satu potongan sejarah, piagam Jakarta, dan mengakuinya sebagai Pancasila yang murni: pancasila yang Islami. Dalam tesisnya ia menjelaskan bahwa ia dan FPI yang dipimpinnya sering bersebrangan dengan banyak golongan lain, dari golongan yang paling ia hina-dinakan, Sepilis (Sekuler, Pluralisme, dan Liberalisme), sapai golongan Islam konservatif sendiri sepeti Partai Keadilan (PK), yang lebih percaya pada Syariat Islam versi Piagam Madinah, berlawanan dengan Rizieq yang percaya pada Piagam Jakarta sebagai adaptasi piagam Madinah di Indonesia (Shihab, 2012).

Nama Rizieq yang menggema, terlebih lagi dalam kasus penistaan agama Ahok, membuat banyak orang di luar lingkaran simpatisan FPI yang minor itu, menjadi kesal. Kekesalan menjelma rasisme dan stereotipe terhadap Arab-Indonesia, khususnya golongan habib dan keluarga keturunan Nabi Muhammad di Indonesia yang bukan hanya Rizieq Shihab. Sastrawan Ben Sohib, misalnya, menuangkan kegalauan ini tanpa menyebut-nyebut nama Rizieq dalam tulisannya di tirto.id. Konteks ‘panasnya’ penggorengan Sang Imam Besar FPI itu, membuat saya pribadi merasa bahwa tulisan itu sedikit banyak diarahkan pada congor mulut Rizieq. Sohib, yang juga keturunan marga Shihab, seperti menghimbau orang agar tidak stereotipe dan rasis hanya karena ulah Rizieq yang doyan mengkafirkan orang.

Kembali ke hal yang menggelikan, FPI yang biasanya terkenal dengan ormas bersifat paramiliter yang sering main fisik dan jadi vigilante syariat Islam, beberapa bulan ini sering main jadi korban (play victim). Kini mereka sering berkoar bahwa mereka dizalimi, mereka digebuki preman, dan lain-lain. Bahkan ketika beberapa simpatisan Ahok balas menuntut Rizieq atas penistaan agama non Islam yang ia lakukan dalam dakwahnya–pasal yang sama yang menjerat Ahok–ia langsung berkilah jadi korban dan mengcopy paste semua langkah-langkah Ahok sebelum sang gubernur kejam, tukang gusur, dan tiran modernis itu disidang. Entah kenapa, langkah bela diri Rizieq ini sedikit banyak mengingatkan saya pada pidato Melania Trump yang plek-plekan meng-copy-paste pidato Michelle Obama. Lucu kan? Iya lucu, sampai Trump menang, bahkan dengan cara-cara menggelikan semacam ini.

Dari sini kita tahu, bahwa kemungkinan Rizieq menang dalam perjuangannya menerapkan Syariat Islam untuk muslim Indonesia masih ada. Dia sendiri membeberkan fakta dalam tesisnya, bahwa syariat Islam sudah masuk ke dalam berbagai ranah kehidupan sosial-politik-ekonomi masyarakat Indonesia. Dia memaparkan produk-produk hukum yang mengandung syariat Islam, kebijakan-kebijakan pendidikan yang didominasi agama Islam, serta banyak hal lain yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Seperti Trump, Rizieq paham politik kebodohan: bahwa kuasa politik adalah kuasa yang membutuhkan penyebaran imajinasi dan pengimanan terhadap imajinasi itu oleh massa. Ketika Rocky Gerung bilang bahwa negara memiliki peralatan paling lengkap untuk menyebarkan Hoax, ia lupa bahwa di zaman ini, perlengkapan yang lengkap itu tidak lagi milik negara. Perlengkapan itu adalah milik kaum aristokrat  oligarki politik, seperti Donald Trump atau para kaum borjuis Indonesia. Rizieq punya jalur ke sana dengan berbagai macam traktat politik yang ia buat bertahun-tahun selama FPI menjadi anjing penguasa dulu. Kini anjing itu telah diangkat menjadi pelayan, yang sudah boleh punya suara dan tidak boleh menggigit lagi. Hanya boleh menyalak kadang-kadang, dan bermain teraniaya, seperti layaknya film-film Motinggo Busye yang melibatkan pembantu dan majikan.

Namun, seperti Marx yang ia kritik dalam tesisnya, perjuangan Rizieq belum selesai dan sepertinya takkan pernah selesai. Toh ia dan FPI-nya, kini sudah masuk ke ranah-ranah yang dilupakan pemerintah, dari masalah orang miskin, sampai aktivisme tani dan lingkungan. Tak percaya, cek saja video profil pesantren Habib Rizieq di akhir esei ini. Pada akhirnya kita semua harus berjuang untuk mewujudkan dunia yang ideal untuk kita. Kebanyakan orang cukup puas dengan mewujudkannya di rumah bersama keluarga dan anak-anak yang cukup mereka kasih uang, makan, serta pendidikan agama. Sisanya, seperti saya, akan selalu berusaha mewujudkan dunia dimana hasutan Rizieq cuma jadi obrolan warung kopi yang bisa dibicarakan berapi-api dengan saudara dan sahabat-sahabat, menajamkan pikiran dan kadang urat syaraf, tapi habis itu kembali ngopi dan ketawa-ketiwi menunggu mati.

 

 

 

 

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan, Uncategorized

Gerakan Konsumen Melawan Hoax

Summary: pendapatan situs-situs berisi berita palsu adalah dari iklan online. Konsumen bisa menghentikan jalur pendapatan mereka dengan memberitahu pada perusahaan pengiklan kalau iklan mereka muncul di situs hoax; kebanyakan perusahaan tidak tahu itu karena iklan dikendalikan oleh bots.

Suatu hari di akhir November, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan bernama Nathan Phillips mengunjungi situs hoax Breitbart News untuk pertama kalinya. Tuan Phillips telah mendengar headline penuh kebencian di situs itu — seperti “Kontrasepsi Membuat Perempuan jadi Jelek dan Gila” — dan bertanya-tanya perusahaan semacam apa yang mendukung pesan-pesan seperti itu dan beriklan di website tersebut. Ketika ia mengklik website itu, ia begitu terkejut karena menemukan iklan universitas-universitas, termasuk kampus pasca sarjana yang menjadi almamaternya sendiri — Sekolah Lingkungan Nicholas, Duke University. “Itu serasa dipukul di perut,” Katanya.

Mengapa program lingkungan dari kampus ternama mau dipromosikan situs yang menolak perubahan iklim? Tuan Phillips menemukan  bahwa pegawai Universitas Duke tidak tahu di mana iklan mereka akan muncul, jadi ia mengirimkan sebuah twit ke Duke tentang hubungan mereka dengan website yang “seksis dan rasis” tersebut. Akibatnya, setelah percakapan berbunga-bunga dengan departemen lingkungan, ia menerima resolusi yang memuaskan — jaminan bahwa iklan kampusnya takkan muncul lagi di Breitbart.

19667681581_56e50e3275_b

Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Dengan resolusi itu, maka Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Di pertengahan November, sebuah grup twitter bernama Sleeping Giants (Raksasa Tidur) menjadi hub dari gerakan baru tersebut. Giants dan para pengikutnya telah berkomunikasi dengan 1000 perusahaan dan grup-grup non-profit yang iklannya muncul di Breitbart, dan sekitar 400-an dari organisasi itu telah berjanji akan mencoret situs tersebut dari belanja iklan ke depannya.

“Kami fokus ke Breitbart sekarang karena mereka adalah ikan terbesar, ” salah seorang pencetus Sleeping Giants mengatakan pada saya. (Ia meminta anonimitas karena beberapa anggota mereka bekerja di industri media digital.) Dengan itu, Sleeping Giants dapat memperlebar kampanye mereka untuk melawan sekelompok aktor-aktor jahat, tapi mereka membutuhkan pasukan yang lebih banyak, dan “baru satu bulan kami melakukan ini, ” katanya pada saya di Desember. Lalu ia menambahkan,”Ini adalah satu bulan terpanjang selama hidup saya.” Ia mengatakan bahwa ia menemukan ada yang salah di iklan internet di Novermber, saat karena keingintahuan ia mengunjungi situs Breitbart. Seperti tuan Phillips, ia terenyuh dengan apa yang temukan di sana.Ia melihat Breitbart diplaster dengan logo-logo merk Silicon Valley yang ditujukan untuk peminat teknologi, dan millenial yang pro pada keberagaman. “Saya tidak bisa percaya bahwa perusahaan-perusahaan progresif ini membayar untuk Breitbart News,” katanya.

Jadi ia menciptakan akun twitter Sleeping Giants yang membuat dia dan teman-teman aktivisnya bisa secara anonim berinteraksi dengan pengiklan. Lalu mereka mengirim screenshot pada perusahaan seperti Chase, SoFi dan Audi untuk membuktikan bahwa iklan mereka muncul di sebelah konten ofensif. Dalam hitungan jam, mereka mendapatkan respon, dan mereka sadar, mereka telah sampai pada taktik potensial yang kuat.

Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

“Kami mencoba untuk menghentikan website rasis dengan memutus uang iklannya,” tulis Sleeping Giants di profil akunnya. “Banyak perusahaan tidak tahu ini terjadi. Ini saatnya kita bilang pada mereka.” Mereka bilang, tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak. Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

iflix.PNG
Iklan Iflix di Breitbart, 8 Agustus 2017.

…tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak.

Usaha maju-mundur para aktivis ke perusahaan-perusahaan memperlihatkan kabut kebingungan yang melingkupi iklan online. Banyak organisasi sama sekali tidak tahu bahwa iklan mereka akan berdampingan dengan konten yang mengerikan.

Anda mungkin bisa menyalahkan hal ini –sebagian– pada robot-robot (atau dalam istilah IT di Indonesia sering disebut Bot). Menurut riset firma eMarketer, perusahaan Amerika sekarang menghabiskan lebih dari 22 trilyun dollar per tahun pada “iklan yang terprogram,” jenis iklan yang dibeli dengan sedikit pengawasan manusia. Joshua Zeitz, wakil direktur korporat komunikasi di perusahaan ad-tech AppNexus, menjelaskan kepada saya bagaimana pembelian otomatis ini berlangsung. Saat Anda mengklik sebuah tautan, “dalam kurang dari sedetik, sebuah panggilan akan keluar, dan alogritme dan perangkat lunak otomatis langsung melelang klik Anda pada pengiklan untuk meletakkan iklannya di laman yang Anda klik,” katanya. “Jadi mungkin algoritma Nabisco mau menempatkan iklan di situs itu; juga Macy’s dan Honda.” Algoritma yang memberikan harga tertinggi akan memenangkan kesempatan iklan untuk muncul di layar Anda.

Iklan terprogram juga mengikuti individual di sekitar internet, berdasarkan sejarah browsingnya, seperti yang terjadi pada Tuan Phillips. Iklan target tunggal seperti ini mungkin berharga murah, tapi pundi demi pundi bisa bernilai industri milyaran dollar.

Bahkan ketika penempatan iklan secara otomatis, perusahaan-perusahaan masih punya kekuatan untuk mengontrol pengepul neo-Nazi atau berita palsu. Malahan, sebenarnya cukup mudah untuk perusahaan menuntut kebijakan etis, menurut Tuan Zeitz. Benar, perusahaan dia sendiri (yang mengendalikan iklan terprogram untuk organisasi lain) yang baru saja memutuskan untuk mencopot Breitbart News dari pasar iklannya. “Kami tidak mengasingkan mereka karena mereka kanan atau konservatif. Kami mengasingkan mereka dari pasar kami, karena mereka melanggar kebijakan ujaran kebencian kami, yang melarang iklan di situs yang mempromosikan kekerasan dan diskriminasi terhadap minoritas.” (Breitbart sendiri mengatakan bahwa mereka mengutuk rasisme dan bigotri “dalam bentuk apapun.”)

8621752767_af70604d7f_z

…berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Tuan Zeitz menunjukkan merk-merek perusahaan yang telah menemukan cara untuk tetap menjaga iklan mereka tidak hadir di situs porno, karena “kau tidak mau iklan sereal sarapan di sebelah video porno hardcore, ” jadi “ada alat-alat yang bisa membuat perusahaan mengontrol kemana iklan mereka.” Sebuah perusahaan dapat memblok situs spesifik seperti Breitbart News dari belanja iklannya. Atau perusahaan bisa juga memilih “daftar putih” dari situs yang sejalan dengan nilai-nilai mereka.”

Tapi untuk melakukan itu, perusahaan-perusahaan harus melalui situs yang didesain untuk mengirimkan dengtan tepat apa yang mereka mau — audiens sebanyak mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Pada November, reporter NPR mewawancarai Jestin Coler soal kerajaan berita-palsunya. Tuan Coler dan timnya membuat situs mereka terlihat seperti koran lokal dan mereka menulis headline fantastis dan cerita bohong yang mengundang banyak pembaca. Walau berita itu palsu, iklannya tidaklah palsu. Tuan Coler tidak memberitahu reporter berapa tepatnya penghasilan iklan yang ia dapatkan, tapi ia estimasikan penghasilan iklannya sekitar USD 10.000 (130 juta rupiah) dan USD 30.000 (390 juta rupiah) per bulan.

6348cdcea77dec03dfa96b08da32c535
Jestin Coler, bos besar website Hoax di Amerika

“Pengusaha” semacam itu punya pengaruh luar biasa dalam ranah politik kita. Buzzfeed News melaporkan bahwa selama tiga bulan pemilu, berita-berita hoax telah mengalahkan berita nyata di sosial media. Ini karena orang-orang secara antusias menyebarkan headline pro Trump yang disajikan dengan umpan klik dalam dunia aneh iklan online, berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Ezra Englebardt, seorang strategist periklanan, bergabung dengan kampanye Sleeping Giant karena ia percaya akun tersebut menciptakan transparansi yang sangat dibutuhkan dalam dunia iklan online. Ketika banyak orang berbagi foto di iklan yang mereka lihat di layar mereka, di situ bisa dilihat kemana uang iklan pergi, katanya.

Namun, kenyataan pasca-kebenaran membuat semakin sulit untuk mengukur skup masalahnya. Kepala Redaksi Breitbart mengatakan pada Bloomberg bahwa walaupun sudah di-‘ban’, perusahaanya “terus berkembang secara pesat.” Namun, publik komunikasi twitter dan akun berita membuktikan bahwa para pengiklan telah meninggalkan situs tersebut.

Lebih penting lagi, screenshot aktivis memaksa perusahaan untuk berpihak. Setelah tekanan dari konsumen, perusahaan Kellog’s, misalnya, jadi salah satu merk besar yang mengumumkan bahwa ia akan menarik iklannya dari Breitbart News. Sebagai balasannya, Breitbart mengajak boikot dan merk sereal tersebut mendapatkan reaksi keras di media sosial. Di saat yang sama, Kellog’s juga mendapatkan banyak pemberitaan baik karena telah mengambil stance politik; di awal Desember, banyak konsumen mengumumkan bahwa mereka akan menghadiahi perusahaan tersebut dengan membeli semua jenis sup Kellog untuk memberi makan fakir miskin.

Sekarang, melawan rasisme bisa membuat  beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya.

Saya berharap bahwa perusahaan-perusahaan lain mau menggaungkan pemutusan hubungan mereka dengan Breitbart. Nampaknya mudah untuk P.R. korporasi untuk tahu dan menjauh dari situs-situs rasis yang menulis–“setiap pohon, atap, pagar dan tiang di Selatan Amerika harus mengibarkan bendera konfederasi.”

Tapi ketika saya menghampiri beberapa organisasi yang sepertinya telah bergabung dengan pengasingan Breitbart, mereka tidak mau bicara tentang itu. Sebuah bank dan grup nonprofit tidak merespon pertanyaan saya. Dua perusahaan — 3M dan Zappos — menolak untuk bicara soal itu. Seorang juru bicara dari Patagonia mengatakan bahwa perusahaannya tidak beriklan di situs supremasis — tapi ia tidak mau berkomentar tentang screenshot yang aktivis kirimkan padanya di awal Desember, yang meperlihatkan logo perusahaanya di laman Facebook Breitbart. Warby Parker adalah pengecualian; seorang perwakilan perusahaan tersebut menunjukkan pada saya sebuah pernyataan terimakasih pada seorang aktivis Twitter karena menginspirasi perusahaan itu untuk tidak beriklan di Breitbart.

Dengan perilaku beberapa perusahaan ini, Anda bisa mendeteksi bagaimana norma-norma kita telah bergeser. Dulu, tidak ada akibat yang besar ketika melawan slogan-slogan Neo Nazi secara terbuka. Sekarang, melawan rasisme bisa membuat beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya. Tuan Trump beberapa waktu lalu membuktikan kerusakan yang bisa ia lakukan pada sebuah perusahaan, dengan mengkritik Locheed Martin di Twitter; setelah itu, saham perusahaan tersebut terjun bebas.

trump-article-header

…bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman

Namun, gerakan konsumen baru telah terbit, dan para aktivis percaya bahwa ketika surat suara gagal, dompet bisa berkuasa. Perjuangan ini lebih besar daripada sekadar iklan di Breitbart News — ini tentang menggunakan korporasi sebagai tameng untuk melindungi orang-orang yang rawan di-bully dan jadi korban kejahatan kebencian.

Nicholas Reville, anggota dewan di Participatory Culture Foundation, yang bekerja sama dengan Sleeping Giants, menunjukkan bahwa bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman: “Anda harus menjadi inklusif jika Anda ingin menjual kepada pembeli yang lebih luas.” Dan ia pun menunjukkan aktivisme konsumen bisa menjadi efektif karena banyak orang merasakan merka tidak punya cara lain untuk mengekspresikan ketidaksukaan mereka pada nilai-nilai Trump-ian.

Pencetus Sleeping Giant setuju pada hal ini. “Menakutkan untuk mengatakan ini, tapi mungkin perusahaan-perushaan akan punya standaa moral sekarang,” katanya. Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan mendukung kebijakan (paling tidak di atas kertas) yang melarang bully rasisme dan intimidasi seksual. Bahkan jika Presiden Trump menghilangkan aturan ini, korporasi mungkin akan tetap berusaha menerapkannya. “Kita semua melihat bahwa buku kepegawaian memiliki kode etik perilaku,” katanya. “Mungkin di situlah kita harus mulai bersandar sekarang.”