Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est
-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-
Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.
Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.
Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama
menyatu.
Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai
grativasi menarik balik.
Kami
… terjatuh
Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…
Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.
Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.
Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.
Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!
Depok, 24 Nopember, 2008
Terima kasih sudah membaca tulisan lama yang baru saya gali ini. Jika kalian suka yang kalian baca, bolehlah kiranya traktir saya kopi supaya tetap semangat mengisi blog ini, dan merasa ada yang menghargai pemikiran saya. Makasih sudah mampir.
Manusia sapiens adalah binatang bercerita. Diri mereka dibentuk oleh cerita, peradabannya adalah cerita. mereka hidup dalam cerita, dan menyumbang cerita. Cerita menjebak, cerita membebaskan, cerita merebak, cerita melegenda menjadi mitos, yang terinstitusi jadi agama, yang tidak terinstitusi menjadi dongeng belaka.
Lalu di sinilah kita, kawan. Dalam cerita-cerita yang seringkali tak ada logika. Cerita-cerita yang membangkitkan atau membunuh perasaan. Padahal apalah perasaan selain reaksi kimia dalam tubuh biologi kita. Cerita cuma berpengaruh kalo kita sensi saja.
Ada cerita kesedihan, dari Roman Picisan sampai kisah heroik. Ada cerita sederhana, tentang proyek yang gagal hingga kita saling marah dan bermusuhan. Ada kisah sukses, yang sebenernya selalu berakhir tragis jika saja diteruskan. Tidak ada happy dalam sebuah ending. Kaena bahagia dan kesedihan berputar-putar saja dalam sebuah siklus mood dan hormon. Kesuksesan atau tragedi bisa berasa bahagia atau sedih, tergantung obat apa yang ditelan.
Sekarang aku seperti mengerti banyak perasaan, dan dapat membuat naratif untuk membangkitkan perasaan-perasaan itu, dalam tulisan, dalam lagu, dan dalam film. Tapi di saat yang sama kadang aku merasa kebas karena perasaan-perasaan yang ada dalam naratif karya itu, akhir-akhir ini sulit untuk kurasakan jika aku berpikir logis. Bahwasannya, rasa, emosi, itu tak lebih dari interpretasi otak dan hormonku atas kenyataan, dan jika aku mau tidak terbawa, aku hanya perlu bernafas dengan teratur dan berpikir dengan terstruktur. Dan jika aku mau merasakannya, aku hanya perlu immerse ke dalam naratif tersebut.
Kemampuan untuk mengontrol emosi dan mood ku tidak serta-merta membuatku kurang manusiawi. Seperti orang autis atau psikopatik juga manusia. Merka hanya kurang empati.
Emosi dan rasa kini keluar kalo aku capek atau manic, dan aku langsung bisa tahu bahwa perasaan tidak enak, hadir dari dalam diriku, bukan dari luar. Tidak seru, dan aku butuh ketidakseruan itu. Karena keseruan seringkali bikin musibah saja.
Ini adalah racauan terbaruku yang menggunakan asosiasi bebas, untuk mengungkapkan pikiranku dan kucicil-cicil dalam waktu beberapa hari karena aku sedang sangat sibuk. Sibuk. Yang menyenangkan karena emosiku dan mood ku cukup terkendali dan konsisten buat bisa kerja sehari-hari. Semoga kamu pun begitu, optimis menyingsing tahun 2022.
Di tahun ini aku punya banyak rencana. Film panjang pertamamu ingin kuselesaikan sebagai produser. Lalu aku ingin bikon workshop gratis buat anak-anak muda termarginal. Aku juga sedang semangat belajar soal crypto dan NFT tapi tanpa punya keduanya. Kupikir crypto dan NFT bisa kuubah jadi produk budaya-finansial yang bisa bikin Seniman kita jadi kembali menjadi Seniman rakyat akar rumput. Tunggu tulisanku berikutnya soal hal ini.
Kalau kamu suka yang kamu baca sejauh ini, traktir aku kopilah. Jadi tulisan selanjutnya bisa lebih cepat keluar.
Siapa yang ngatur rejeki? Yah waktu kamu lahir, keluargamu adalah ground Zero rejeki mu. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir miskin. Ini dalam sosiologi disebut ascribed status, atau status yang hadir dari sononya. Jadi keluarga dan sanak saudara adalah sumber rejeki pertama, dari susu nyokap, duit bokap, pangkat om di kantornya, rejeki arisan tante, pencapaian sepupu-sepupu, dan lain-lain. Keluarga adalah dimana kita pertama kali ngatur dan ngumpulin rejeki kita.
Kita ga bisa ngatur lahir di keluarga kayak apa. Ada yang lahir di keluarga miskin dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga kaya dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga miskin fungsional dimana cinta dan usaha bokap nyokap keren banget buat gedein kita, ada yang lahir di keluarga kaya fungsional dimana kasih sayang dan kecukupan seringkali bikin kita manja dan takut buat terjun ke dunia, gampang baper, dan ga keluar-keluar dari rumah. Kalian dari keluarga apa? Tulis di komen lah, nanti kita ngobrol.
Sambil nunggu kalian komen, kita bisa mulai identifikasi keluarga sebagai sumber rejeki pertama kita. Membaca keluarga sendiri adalah tantangan paling sulit, karena kita terlalu dekat, terlalu terbawa konflik di dalamnya. Tapi biasanya, ketika ada acara keluarga dari mulai sunatan, lebaran, kawinan, kematian, kita bisa lihat sekompak apa keluarga kita. Ada keluarga yang sangking kompaknya sampe bisa bikin kawinan atau pemakaman gede-gedean walau semua orang miskin. Ada keluarga yang kaya banget, tapi sangking gak kompaknya, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang dateng dikit dan yang nguburin bahkan bukan keluarganya. Masing-masing keluarga punya cara berbeda dalam berprodikai dan mengolah modalnya.
Ada keluarga kaya yang nggak suka berbagi dan sangat kompetitif, bangga-banggain prestasi anak dan pamer kekayaan, tapi begitu ada yang susah, perhitungannya setengah mati. Ada juga keluarga yang walau hidupnya pas-pasan tapi begitu ada anggota keluarga yang susah, semua kumpul guyub, bantuin sama-sama. Nggak ada yang salah dengan cara masing-masing keluarga mengatur rumah tangganya, toh mereka masih jadi keluarga–mungkin karena terpaksa.
Sekarang coba lihat keluargamu sendiri. Apa tata cara dan bahasa sosial mereka? Bagaimana mereka bekerja? Bisa nggak kamu ngobrol dan cari data sejarah keluargamu? Apakah keluargamu mantan ningrat, Raden Ayu atau Tubagus? Apa pengaruh keningratan itu? Atau jangan-nangan keluargamu adalah imigran dari Cina daratan, India, atau Arab? Ini semua menentukan rejeki awalmu. Dan ketika dunia kapitalis mulai jahat padamu, ketika bisnismu gagal semua, dan semua teman tidak bisa membantumu, sebelum kamu ke Allah, biasanya kamu ke keluarga. Bagaimana cara mereka membantumu?
Di luar keluarga kamu punya teman dan sahabat. Siapa lingkaran temanmu, juga menjadi sumber-sumber rejekimu. Kalau temanmu pada mabok semua dan ga ada yang bisa kerja, dan kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan mati dimakan teman-teman. Kalau sebaliknya, teman-temanmu yang kamu makan. Kalau kamu cuma berteman di internet dan introvert, itu masalah besar ketika kamu harus berjejaring dan bebas dari keluarga yang disfungsional, atau ketika kamu mau membantu keluarga disfungsionalmu.
Kemampuan bergaul dan komunikasi dimulai dari kemampuan membaca situasi dan keadaan sosial di lingkaran teman dan sahabat dekat. Jika itu saja kamu tidak berhasil, mungkin kamu harus ambil kelas atau baca buku how to yang sederhana untuk belajar ulang caranya bicara. Mungkin referensimu terlalu tinggi, atau terlalu kurang untuk bisa mengenal orang. Tanpa ilmu bergaul yang baik, kamu susah berjejariny dan rejekimu mandeg. Sudah diatur ada di situ, tapi kamu ga bisa dapet karena kamu ga tahu cara minta apalagi cara ngolahnya. Orang mikir kamu ga sopan dan ga empati, ngapain mereka sopan dan empati sama kamu?
Let say keluargamu disfungsional dan temen-temenmu ga bisa diandalkan. Kamu masuk ke dunia kerja. Kamu pilih kerjaan yang nggak usah bergaul, ga usah menjilat ga usah sosial. Kamu mau jadi sekrup di mesin yang besar, yang semua diatur sistem: jam kerja diatur, asuransi diatur, semua diatur. Kamu ga perlu kenal bosku cukup kenal supervisor di atas kamu satu tingkat, itu pun ga deket sama sekali. Di situ kamu lupa, bahwa sistem bisa dan seringkali akan collapse.
Krisis ekonomi, pandemi, bencana alam dan banyak lagi akan bikin sistem collapse dan kamu mau kemana ketika sistem itu hancur? Mungkin kamu bisa beruntung seperti orang Jepang tokoh bapaknya tokoh utama di 1Q84, yang sampai mati dikubur oleh jasa pemakaman yang ia pesan sendiri, dan selama hidup bekerja kayak robot, pensiun dengan dana investasi dan deposito. Itu kalau kebetulan bisa kerja let say, jadi PNS, yang sistemnya cenderung stabil. Di tahap itu rejeki yang diatur sudah kamu kumpulkan dan kamu atur sendiri. Tapi masa rejeki cuma duit? Si bapak itu keluarganya hancur, anaknya dia singkirkan dan dia ga mau kenal, cuma tahu Terima warisan aja. Bapak itu trauma karena istrinya selingkuh, dan ga mau berhubungan lagi dengan siapapun–termasuk anaknya sendiri. Itu pilihan dia sih, nggak apa-apa juga.
Bapak itu menggunakan solidaritas sosial yang ga kelihatan; karena semua sistem yang dibangun dan tempat dia hidup adalah sistem sosial. Ada orang-orang yang nggak dia kenal yang bangun rumahnya, sampai gali kuburnya. Dan itu mungkin tidak semenyakitkan kalau yang bangun rumah dan gali kubur adalah orang yang kita kenal. Itu ide bagus dalam menghindari baper di jaman ini. Kalau kamu lihat bahwa hidup sesepi itu lebih baik. Semua balik-balik sama kamu sendiri sih.
Rejeki sudah diatur, tapi hanya diawal ketika kita belum bisa atau dipaksa mengatur rejeki kita. Ketika kita punya tanggungan, rejeki tanggungan kita ya kita yang atur. Kita kumpulkan satu-satu dari keluarga, teman, kantor, atau bisnis sendiri dengan mengolah minimal ketiga sumber itu, ditambah sumber-sumber lain seperti investasi dan tabungan. Dan semua yang itu bisa membuat kita mengurus diri kita sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisa kah kita mengurus orang lain?
***
Saya bangga sekali degan saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang membantu saya untuk tetap menulis, menyemangati, membaca, mengomentari, dan mentraktir saya kopi untuk membuat website ini tetap ada. Dulu saya menulis untuk diri sendiri, sekarang saya menulis untuk kalian semua. Terima kasih sudah membaca. Website ini saya buat supaya kalian nyaman membaca, dan saya butuh bantuan kalian untuk ikut patungan bayar domain dan hostingnya. Traktir saya kopi murahan dengan menekan tombol di bawah ini atau dengan gopay, biar kalian tetap nyaman membaca semua konten di sini.
So many bad things I’ve done. Burning bridges, taking for granted the love, the trust. I cheated, I lied, I hide, I told incredible stories that probably didn’t happened–I don’t know I was nuts.
The guilt haunts me in every breath that I took, and it doesn’t make me good. I m guilty as charged and I have admitted it. I have been punished by losing the things I love, people I care about, a home, sanity, and money.
And yet still I get happiness. And this happiness is my ultimate crime because I made people love me. I don’t deserve this love, this life. After all that I’ve done. But I’ve got the words to describe it now. Now that I am blessed with unbearable lightness of being, I’ve got to earn what has been given. That privilege should be a debt that can only be paid forward.
With every evaluated sin, wisdom should come forth. And wisdom is nothing but action to earn what has been given.
Blessed thy soul, you who have passed by and who will come forth. I cannot save you but I will endure you if I can.
This website is run by donation. If you like this post, and you live in Indonesia, please click this button to treat the writer some coffee.