Racauan

Menunggu Mesin Waktu

Di tongkrongan MondiBlanc HQ, saya bertanya iseng:

“Kalau ide bisa diciptakan lebih dulu dari kenyataan, kenapa kita masih kayak gini-gini aja: perang, krisis, mana teknologi yang bisa mecahin itu?”

Pertanyaan itu sarkastik, tentu saja. Tapi seperti banyak ketidakjelasan pikiran saya, ini jadi pertanyaan yang bisa dibahas panjang.

Karena sejarah teknologi manusia, pada dasarnya, adalah rangkaian penundaan. Penundaan antara ide dan izin. Antara fiksi dan produksi massal. Dan yang paling menyedihkan: antara kesadaran kolektif dan kesiapan mental untuk bertanggung jawab atas konsekuensi ide-ide cemerlang itu sendiri.

Mari kita mulai dari atas: langit.

Dulu, manusia percaya bumi adalah pusat segalanya. Sampai Copernicus memutar balik semesta lewat De revolutionibus orbium coelestium di abad ke-16, dan Galileo mengkonfirmasi lewat teleskop murahan tapi revolusioner. Tapi perubahan itu tak terjadi seketika. Ide bahwa bumi hanyalah remah di antara putaran kosmis baru benar-benar diterima setelah ratusan tahun debat, ancaman, dan pembakaran buku. Fiksi kosmologis sudah ada jauh sebelum itu—di India kuno, di Yunani—tapi tanpa alat dan krisis, ia hanya dianggap dongeng.

Kita bisa lompat ke abad 19. Jules Verne menulis From the Earth to the Moon di tahun 1865, lengkap dengan deskripsi kapsul logam dan kalkulasi peluncuran. Tapi dunia baru benar-benar melihat manusia ke bulan pada 1969, dan itu pun karena Amerika panik kalah saing dari Uni Soviet. Lagi-lagi: fiksi menjadi nyata bukan karena dunia siap, tapi karena dunia takut.

Begitulah polanya: fiksi muncul saat dunia masih santai, dan jadi kenyataan saat dunia panik dan bingung.

Lihat mobil listrik. Sudah ada sejak 1800-an, tapi dikubur oleh bensin, ExxonMobil, dan budaya maskulin bertangki penuh. Lihat internet—yang awalnya imajinasi militer paranoid dalam bentuk ARPANET, lalu meledak jadi kebutuhan global karena kita terlalu malas mengangkat telepon.


Lihat pula video call yang muncul di film Metropolis tahun 1927, tapi baru kita pakai massal saat pandemi membuat bersalaman jadi aksi kriminal ringan.

Namun, ada satu fiksi yang belum juga jadi kenyataan: mesin waktu.

H.G. Wells menulis The Time Machine di 1895, dengan gagasan bahwa waktu adalah dimensi keempat yang bisa dilintasi. Teori relativitas Einstein di awal 1900-an diam-diam mendukung kemungkinan itu, dan matematikawan seperti Kurt Gödel bahkan menemukan solusi dalam persamaan ruang-waktu yang secara teori memungkinkan “closed timelike curves”. Tapi teori saja tidak cukup. Sebab ada yang lebih kuat dari sains: kekhawatiran etis.



Bayangkan jika seseorang bisa kembali ke masa lalu dan membisiki Adolf Hitler saat masih bocah: “Jangan ambil jurusan seni. Dunia akan berterima kasih.”
Atau sebaliknya—seseorang kembali dan mempercepat munculnya teknologi nuklir, hanya karena iseng.

Itulah paradoks. Dan inilah mengapa sains—meski kadang bisa melompat lebih cepat dari moral—akhirnya selalu ditarik kembali oleh ketakutan bahwa dunia belum siap menerima kenyataan yang bisa dibongkar pasang.

Di sinilah kita perlu menyebut Yuval Noah Harari, sejarawan Israel yang tak sengaja jadi semacam filsuf global. Lewat bukunya Homo Deus (2015), Harari menyodorkan spekulasi berani: bahwa manusia kelak akan naik level, bukan jadi makhluk spiritual, tapi makhluk teknospiritual. Ia membayangkan manusia dengan kapasitas ketuhanan—menguasai genetika, kehidupan, dan waktu. Ia menyebut mereka: Homo Deus.

Harari tidak sedang bercanda. Tapi ia juga tidak menulis nubuatan. Ia menulis sebagai seorang Yahudi sekuler yang hidup dalam negara yang secara politis selalu terlibat perang atas masa lalu. Dan justru karena itulah, ia sangat peka pada fakta bahwa: kekuasaan atas waktu, jika jatuh ke tangan yang salah, bisa mengulang sejarah dengan hasil yang lebih buruk.

Jadi jika kamu bertanya, kenapa sampai hari ini mesin waktu belum tersedia?, jawabannya bisa jadi bukan karena kita tidak bisa, tapi karena kita belum diizinkan oleh peradaban yang lebih sadar.

Mari kita berspekulasi. Mungkin di masa depan, umat manusia bukan lagi penguasa tunggal bumi. Mungkin kita hidup berdampingan dengan entitas baru—hasil kawin silang antara kecerdasan buatan, warisan trauma kolektif, dan kehausan spiritual yang belum sembuh. Mereka bukan dewa. Mereka hanya manusia yang belajar dari kesalahan dan memutuskan untuk tidak memberikan kekuatan absolut pada spesies yang masih panik kalau sinyal hilang satu bar.

Komite kosmik—sebut saja Komisi Kesadaran Temporal—dibentuk. Isinya bukan politisi, tapi entitas yang mampu menilai apakah sebuah masyarakat sudah cukup dewasa untuk tidak membunuh Hitler hanya demi konten TikTok.

Mereka menetapkan aturan:
“Mesin waktu akan dirilis saat umat manusia berhenti menyalahkan masa lalu dan mulai bertanggung jawab atas masa depan yang mereka bentuk sendiri.”

Maka, mesin waktu pun disimpan di luar jangkauan. Seperti senjata nuklir di laci anak-anak. Bukan karena ia tidak berguna, tapi karena kita belum siap memegangnya tanpa meledakkan diri sendiri.

Jadi jika hari ini kamu merasa punya ide cemerlang yang tak kunjung jadi kenyataan, ingat:
Realitas tidak menunggu siapa yang pertama berpikir, tapi siapa yang paling sadar dampaknya.
Dan jika suatu hari kamu ditawari kesempatan mengulang masa lalu, jangan tergoda.

Bisa jadi, satu-satunya alasan kamu ada di sini hari ini adalah karena semesta tidak memberi tombol undo.

Karena seperti yang diam-diam disepakati oleh para filsuf, insinyur, dan makhluk setengah dewa dari masa depan:
Kita tidak butuh mesin waktu untuk memperbaiki hidup, kita butuh keberanian untuk tidak lari dari hasilnya.

Racauan

Kalau sudah terasing lalu apa?

Aku merasa begitu asing dengan dunia hari ini ketika aku melihat media sosial yang random dan di luar kebiasaanku. Pertama kali membuka Tiktok, sebelum ia merekam apa yang kusuka dan tidak kusuka, aku disuguhi apa yang banyak orang Indonesia suka, dan aku mau muntah. Begitupun ketika melihat facebook video yang random keluar di feed berdasarkan kesukaan banyak orang.

Aku tidak bilang bahwa apa yang orang suka, aku tidak paham. Aku hanya merasa bahwa yang kebanyakan orang suka adalah hal-hal banal, tentang seks, perselingkuhan, atau kisah-kisah agama yang sangat dangkal. Kurasa begitulah kebanyakan manusia hidup. Secara praktis apa yang kubaca dan kupikirkan tidaklah begitu berguna untuk kehidupan.

Inginnya sih berusaha rendah diri, dan melihat secara antropologis dan filosofis tentang eksistensi orang lain. Tapi bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri dengan lebih dalam secara eksistensial. Semua misteri tentang keberadaan sudah terjawab. Tuhan tidak bisa dipercaya keberadaannya, dan kalaupun dia ada aku pun tidak mempercayai kebijakan dan apapun yang ia buat. Lalu keberadaanku dan seluruh manusia hingga sekarang cuma kebetulan saja dari sebuah struktur biologis yang tumbuh seperti kanker.

Dan dengan kemajuan teknologi media sosial dan kecerdasan buatan, semakin banyak kebodohan yang terlihat–karena orang cerdas memberikan orang-orang tolol kanal bersuara alih-alih membuka komunikasi dengan pendidikan. Aih, racauanku ini seperti tidak ada puasnga bikin masalah.

Namanya racauan, aku meracau saja dulu. Toh pada akhirnya semua ini politik saja. Semua orang berebut kuasa dalam konteksnya sendiri-sendiri, dalal lapisan-lapisan yang berbeda-beda dari borjuis kecil hingga pemilik modal, punya politik horizontalnya masing-masing. Pa

Pada akhirnya semua orang butuh kerja dan diatur masyarakat atau institusi untuk mendapatkan relevansinya masing-masing. Di luar itu manusia akan jadi anarkis atau gila saja.

***

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Jika kamu suka yang kamu baca dan ingin dukung aku, traktir aku kopi, boleh? Biar semangat dan bisa nabung bayar website ini. Klik tombol di bawah.

Filsafat, Racauan

Siap-siap Indonesia Tamat

Beberapa bulan terakhir ini, khususnya menjelang dan setelah pemilihan umum presiden, politik Indonesia menjadi semakin tidak menarik untuk saya. Semakin mudah tertebak, pola oligarki tidak berubah, janji perubahan tidak ditepati, lanjutan pembangunan infrastruktur yang meminggirkan orang terus berlangsung, papua begitu-begitu saja, pelanggaran HAM terjadi tiap hari dan ditumpuk karena yang lama juga tidak pernah diselesaikan, kebakaran hutan lagi dan lagi, izin lahan keluar lagi dan lagi.

Lalu akhirnya mau nulis apa lagi soal politik? Bahan sudah habis diulang-ulang buzzer. Perjuangan toh seperti pekerjaan sehari-hari saja, dan mulai membosankan–padahal perjuangan saya toh cuma membuat berita yang akurat, video yang cukup imbang dan tidak memihak. Tetap saja jadi gemas dan tidak menarik untuk dibicarakan lagi. Apakah karena saya sudah jadi terlalu nyaman? Mungkin saja. Tapi ya bagi-bagi kue di elit politik ini kan biar pada diem tuh, jadi agenda pemerintah bisa jalan. Jadi muak aja sih.

Hari ini facebook saya menunjukkan satu postingan lama soal seorang mahasiswa tajir yang mau membayar saya tiga juta untuk membuat tugas kuliahnya. Saya sarankan pada dia untuk cari pisau yang tajam dan bunuh diri saja. Saran itu tak mungkin ia laksanakan, dan ia cuma akan cari orang lain yang mau membuat tugasnya dan membuatnya lulus. Ketika dewasa dia mungkin akan jadi anggota DPR, atau pejabat–orang pragmatis gini biasanya karirnya lulus. Dan fuck banget saya akan berhadapan dengan produk-produk hukum dan politik buatan dorang.

Jadi saya sedang berpikir untuk bikin rencana apokaliptik: apokaliptik dalam artian, bagaimana kalau semua sistem di Indonesia turn off–seperti lampu mati Jawa-Bali beberapa bulan silam. Saya jadi berencana untuk membeli diesel, membeli back pack kiamat, yang isinya persediaan makanan dan minuman, dan duit cash beberapa juta cuma buat dipake sementara sebelum semua collapse. Terus saya mau ambil kursus pramuka dan kemping lagi deh. Kabur ke gunung atau kemana gitu.

Serem banget masa depan bangsa ini. Camping di kolong jembatan layang Jokowi kayaknya asik juga, siapa tahu proyeknya mangkrak kan. Kayak jaman-jaman waktu sistem ngedrop dulu di jaman orba. Tapi ya nyambi kerja biasa, ngajar semau saya, dan bikin-bikin film deh. Sambil nyicil persediaan.

Photo by Heorhii Heorhiichuk on Pexels.com
Filsafat, Memoir, Racauan

Ilusi Gap Generasi

Doni arinova

Seperti cepatnya perkembangan industri yang menyebabkan global warming dan perubahan iklim, jurang generasi 100 tahun terakhir ini semakin melebar. Apa itu jurang generasi? Jurang itu adalah perbedaan pengetahuan dan persepsi antar sekumpulang orang yang dipisahkan oleh satuan waktu lahir. Melebarnya jurang generasi, berbanding terbalik dengan jarak umur. Lebarnya jurang generasi artinya semakin hari, semakin sulit buat orang tua mengerti anak mudanya. Tapi menurut saya, ini cuma ilusi.

Coba saya jelaskan lebih jauh. Jurang generasi selalu ada di pikiran orang-orang yang merasa tua dan semakin hari semakin banyak orang yang ‘merasa tua’ tadi, karena peradaban sekarang jauh lebih cepat berubah daripada dulu dengan adanya internet dan majunya kecerdasan buatan. Tahun 50an, orang tua lebih mudah meneruskan nilai-nilai budaya pada anak. Namun pasca perang dunia kedua, semakin banyak “rebel without a cause,” khususnya di negara-negara demokrasi. “rebel without a cause” adalah ketidakmengertian orang tua pada anak yang memberontak, padahal yang tidak mereka mengerti bukan anaknya, tapi konteks sosial-politik-psikologi dimana anak itu hidup.

Sudah banyak pembahasan dan pelabelan generasi, dengan nama XYZ, atau baby boomer, post baby boomer dll. Pembahasan ini didasarkan pada event yang terjadi di sebuah masa yang mempengaruhi orang-orang yang lahir pada masa itu. Tapi buat saya, label itu telalu banyak dan membingungkan. Apalagi sulit ketika sample diambil dari negara tertentu. Waktu bisa jadi relatif secara geopolitik teknologi, buktinya saya kenal banyak orang yang lahir di tahun-tahun millenial, tapi otaknya setua senior-senior saya. Hahah.

Image result for senior bully gif

Tapi semua orang angkatan saya ke atas, yang berhadapan dengan anak-anak muda sekarang–yaitu yang masuk dalam kategori milenial bukan hanya secara umur tapi juga secara perilaku hidup–memang banyak yang sedang bingung menghadapi generasi yang begitu cepatnya belajar, kritis, dan melompat melebihi apa yang pernah mereka bayangkan. Butuh energi muda dan akses informasi tak terbatas untuk menjadi seperti angkatan pemuda hari ini, saya sendiri jadi merasa tua di depan mereka yang dengan cepat bisa menguasai skill-skill baru.

Image result for millennial gif

Ketika saya pertama kali memegang kamera umur 20an, mereka sudah terekspos dunia video sejak SD. Ketika saya fasih berbahasa Inggris umur 16an, mereka sudah fasih dari balita. Tapi ini belum apa-apa. Di Amerika Serikat, saya menemukan bocah berumur 9 tahun yang baca bukunya lebih banyak dari saya: buku novel-novel petualangan tebal, dan sains fiksi macam-macam. Pulang dari Amerika, saya merasa bukan cuma saya yang ketinggalan: anak-anak muda yang sulit dimengerti orang tuanya di Indonesia, juga ketinggalan jauh dengan anak-anak muda di negara maju.

Image result for nerd kid gif

Artinya, mereka yang merasa ketinggalan oleh anak-anak muda Indonesia, bukan hanya tua tapi juga bodoh–termasuk saya.

Lalu kita yang tua mau apa? Ya, terserah. Mau belajar bersama yang muda, seperti yang saya lakukan ketika mengajar–yang mana sebenarnya saya belajar lebih banyak dari mereka daripada mereka dari saya; atau mau pakai senioritas, kemarahan, dan frustasi pada generasi yang mereka tidak mengerti? Generasi yang lebih output oriented, mencari insentif untuk membentuk identitas mereka, dan sedang pusing menempatkan diri di dunia global.

Intinya, menurut saya pribadi, gap generasi itu tak ada. Yang ada adalah gap kerajinan dan intelektualitas. Yang malas belajar pada yang muda dan merasa senior, silahkan menyingkir dan pensiun dini saja.

***

Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir yang nulis kopi di link ini:

https://trakteer.id/Eseinosa/tip

Thank you.

Image result for retired gif