Memoir, Racauan

Orang Gila: Kisah Singkat Anak ADHD

Sejak kecil saya dianggap gila. Saya penderita ADHD, dan saya tidak bisa diam. Saya sangat-sangat nakal dan bengal. Di TK guru-guru saya menyerah karena saya suka teriak-teriak sendirian di kelas, dengan kata-kata yang awalnya tidak jelas; saya cuma senang diperhatikan. Lalu ketika mulai berkawan dengan anak-anak kampung, teriakan saya jadi ada maknaya buat orang dewasa atau anak kecil yang terlalu sopan: “Anjing!” “Taik!”, kata saya yang berumur lima atau enam tahun itu. Tapi saya sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa orang dewasa kesal dengan kata-kata ini. Penjelasan mereka seringkali tidak masuk akal.

“Kenapa nggak boleh ngomong taik?”

“Karena itu nggak sopan.”

“Kenapa nggak sopan?”

“Karena itu kotor.”

“Tanah juga kotor, kenapa boleh ngomong tanah?”

“Udah anak kecil nurut aja. Jadi anak baik dong.”

“Kenapa?”

“HAAAAAH!!!”

Saya juga suka menyiksa teman-teman saya tanpa alasan, dari mulai menyelengkat kaki mereka ketika lari, hingga membuka rok anak-anak perempuan. Ini bukan bully, karena bully masih punya keinginan kuasa atau menguasai. Saya hanya penasaran, apa yang terjadi kalau saya tidak menurut pada guru saya, atau kalau saya melanggar aturan-aturan itu. Saya juga penasaran kenapa anak perempuan memakai rok dan saya memakai celana, bukan karena ngeres atau apa. Anak TK jaman saya, nggak ngerti ngeres-ngeresan. Saya bahkan pernah menyetrika tangan saya sendiri karena saya melihat telapak tangan saya seperti lecek (ada guratan guratannya), dan katanya setrika dipakai supaya baju tidak lecek. Maka, “NYESSS…” Jadilah tangan saya tidak lecek tapi bengkak. Papa saya panik, dikasih kecap dingin (entah darimana ide itu). Lalu saya dibawa ke puskesmas.

Anak goblok.

Karena kenakalan saya maka orang tua saya dipanggil ke TK, dan guru saya mereferensikan saya ke psikolog anak. Papa saya tidak terima kenyataan bahwa anaknya dibilang sakit jiwa. Dia marah kepada guru-guru TK saya yang menyuruhnya membawa saya ke psikolog anak. Beberapa kali saya malah dibawa ke Kiai atau orang pintar, tapi toh mereka juga menyerah. Kebiasaan bicara kotor dan berteriak-teriak seperti anak kesurupan ketika minta perhatian membuat orang tua saya bingung. Semua kebun binatang keluar dari mulut saya. Anak-anak kampung memang punya peran besar dalam melengkapi kata-kata saya. Tapi di rumah masing-masing, anak-anak kampung ini sopan-sopan karena orang tuanya doyan mukul. Mereka tidak sekolah TK tapi langsung SD. Orang tua saya dari kelas menengah jadi agak takut memukul anaknya. Saya tambah sebodo amat.

Kembali ke pak Kiai. Jadi dia baca-baca doa, dan saya disembur. Lalu seperti adegan di film Exorcist, saya nguamuk sambil menangis-nangis karena merasa tak salah apa-apa tapi disembur. Pak kiai pasti sudah gila, dan saya maki-maki dia balik. Mama panik. Saya tidak ingat kejadian ini, tapi Mama nampaknya trauma punya anak seperti saya. Haha.

Exorcist_PukeGIF.gif

Yah singkat cerita saya disekolahkan di Madrasah dan jadi terkontrol sedikit karena beberapa guru yang galak dan tidak takut main fisik (mukul tangan pake kunci, jewer, atau pukul pake rotan kalau salah baca Juz’ama). Kebetulan murid madrasah itu hanya sedikit, satu angkatan saya hanya 12 anak. Jadi semua dapat perhatian yang besar. Ini sudah pernah saya tulis di memoir Islam dan Saya. Tapi perilaku penasaran ini tak pernah berhenti dan saya masih sering gila dalam bentuk lain: marah. Saya jadi anak yang sangat-sangat pemarah.

Waktu kecil saya bisa marah pada apa saja: saya marah karena jalanan macet dan tidak bisa nonton acara tv favorit, saya marah karena terlalu lama di acara keluarga dan tidak pulang-pulang, saya marah karena ini dan karena itu. Seluruh keluarga akhirnya memaklumi kalau saya memang sakit jiwa dan sudahlah, Nosa tidak perlu diambil hati. Dia gila. Sebutan untuk anak gila di keluarga saya adalah: Den Angor, sebutan untuk anak manja yang pemarah. Angor dari bahasa Sunda yang sepertinya turunan dari bahasa Jawa Angkara, dan sepertinya juga diambil bahasa Inggris sebagai kata “Anger.” Nggak ding saya cocologi aja kok ini. Walau kata “Amok” dalam bahasa Inggris memang turunan dari kata “amuk” bahasa melayu.

Marah jadi energi utama saya apalagi kalau kenyataan tidak seperti keinginan saya. Saya jadi anak yang mudah dendam. Ketidakmengertian orang tua saya terhadap anak ADHD membuat amarah saya semakin tidak terkendali. Di sekolah SD, pada awalnya guru-guru bisa mengendalikan dengan disiplin dan kekerasan, tapi toh ketika beranjak kelas tiga atau empat, saya semakin manipulatif dan kenakalan saya menjelma keisengan. Pelan-pelan saya jadi anak jahat tanpa motif. Seperti Iago, tokoh antagonis di drama Othello.

maxresdefault

 

Namun saya beruntung karena punya orang tua yang penyabar, guru-guru yang tegas, keluarga besar yang pengertian, kawan-kawan yang setia dan musuh-musuh yang cerdas yang memaksa saya berpikir. Pelan-pelan saya belajar dari manusia yang disfungsional, menjadi manusia yang bisa berfungsi secara sosial–ilmu antropologi membantu banyak soal ini. Kegilaan itu tentu tidak hilang, hanya jadi lebih terkontrol dan terpelihara dalam relung hati, dan bisa digunakan dalam saat-saat yang penting seperti ketika bekerja kreatif, atau ketika berdebar kusir. Saya bisa menulis panjang soal ini di esei yang lain saja.

Saya sangat sadar bahwa ada banyak saat di hidup saya, dimana harusnya saya mati atau berakhir tragis karena kegilaan saya. Tapi saya bisa selamat dari diri sendiri karena ada orang-orang yang peduli pada saya dan tetap menerima saya walau sudah bikin kesalahan yang lumayan fatal. Saya selalu diberikan kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya–walau satu kesempatan ke kesempatan lain memiliki beban tanggung jawab yang semakin berat. Di situlah saya merasa jadi orang yang semakin kuat dan semakin waras: karena di dalam diri, saya tetap gila.

 

 

 

 

Filsafat, Politik, Racauan

Ilmuan: Bumi Terancam Orang-orang Kebal Fakta

Andy Borowitz*

MINNEAPOLIS (The Borowitz Report)—Ilmuan menemukan tegangan kuat orang-orang kebal fakta yang mengancam kemampuan Bumi untuk mendukung kehidupan, kajian terbaru melaporkan.

Riset tersebut dilakukan oleh Universitas Minnesota, menemukan tegangan orang-orang yang kebal terhadap semua bentuk pengetahuan pasti, membuat para ilmuan putus asa untuk melawan mereka.

“Manusia-manusia ini nampaknya memiliki semua yang diperlukan untuk menerima dan memproses informasi,” kata David Logsdon, salah satu ilmuan yang mengkaji masalah ini. “Namun, entah bagaimana, mereka mengembangkan pertahanan yang, entah apa maksud dan tujuannya, membuat kemampuan berpikirnya mati total.”

Lebih parah lagi, kata Logsdon, “Ketika fakta yang dipaparkan semakin banyak, maka semakin kuat pula pertahanan mereka terhadap fakta-fakta tersebut.”

Ketika para ilmuan tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang mekanisme yang mencegah manusia kebal fakta untuk memproses data, mereka berteori bahwa tegangan ini mungkin disebabkan kemampuan untuk menghadang dan membuang informasi yang mereka terima dari indra mereka ke syaraf otak mereka. “Fungsi normal kesadaran manusia, telah mati rasa seutuhnya,” kata Logsdon.

Ketika memastikan hasil pemeriksaan yang menyedihkan ini, Logsdon masih berharap bahwa ancaman manusia-manusia kebal-fakta ini bisa diatasi di masa depan. “Penelitian kami memang masih awal, tapi ada kemungkinan orang-orang ini akan menjadi lebih menerima kenyataan di lingukngan tanpa makanan, air, atau oksigen,” katanya.

*) Andy Borowitz adalah penulis best-seller dari New York Times dan seorang komedian yang telah menulis di The New Yorker sejak 1998. 

Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

Politik Kebodohan

Dalam politik, seringkali tidak diperlukan fakta, ilmu pengetahuan atau logika; namun fakta, ilmu pengetahuan dan logika memerlukan politik untuk bisa memajukan masyarakat.

Itu adalah hal yang saya pelajari ketika melihat bagaimana politik bekerja di banyak masyarakat di dunia. Politik adalah sebuah seni, dan seni selalu melebihi kenyataan, fakta atau logika. Seni memerlukan imajinasi, kreatifitas, dan kecakapan dalam menggunakan peralatannya: kostum, media, dll. Seni politik, sementara itu, adalah seni yang tujuannya hanya satu: kuasa.

Kuasa sendiri memiliki makna yang luas, dari yang sederhana dengan menggunakan kekuatan fisik semata, sampai yang kompleks dengan kekuatan simbolik seperti bahasa, referensi, hubungan sosial dan modal. Permainan kuasa, karenanya, menghalalkan apa saja, dari tipuan sampai manipulasi kenyataan. Dari membunuh satu orang martir, sampai membantai jutaan orang dalam sebuah genosida. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai, dan tujuan ini tidak pernah sesederhana ‘menguasai dunia’.

 

insides-of-pinky-and-the-brain-80356

Tujuan politik, bahkan yang paling sederhana sekalipun, bergantung pada konteks yang lebih besar dari tubuh individual itu sendiri. Sebuah tindakan pembunuhan dalam masyarakat sederhana, macam Qabil membunuh Habil, mewakili sebuah perebutan kuasa atas tubuh perempuan dan kuasa akan lahan. Setiap individu membawa dalam dirinya representasi-representasi. Keempat anak Adam, misalnya, membentuk oposisi biner dalam budaya agama semit.  Habil sebagai lelaki ideal yang baik dan altruistik, Qabil sebagai lelaki jahat dan egoistik, Lubuda sebagai perempuan buruk rupa, dan Iqlima sebagai perempuan cantik. Di sini lelaki dinilai dari kualitasnya, dan perempuan dinilai dari kuantitasnya.

Representasi-representasi ini adalah imajinasi politik. 

Kuasa politik didapat dengan cara membuat imajinasi politik menjadi kenyataan. Caranya dimulai dengan berbagi imajinasi dengan masyarakatnya. Imajinasi yang pertama kali dibagi adalah melalui bahasa. Bahasa mengajarkan posisi diri sendiri dan orang lain. Ketika seorang bayi belajar menyebut bapak dan ibu, ia pun belajar posisinya sebagai seorang anak yang tidak boleh memanggil bapak atau ibunya dengan sebutan nama langsung, khususnya dalam budaya timur. Dalam keluarga konvensional anak akan belajar bahwa bapak adalah kepala rumah tangga dan ibu adalah ‘milik bapak.’ Bapak adalah imam dan anak istrinya adalah makmum.

Ketika masyakarat menjadi lebih kompleks dan teknologi media berkembang dengan ditemukannya tulisan, mesin cetak, lalu media elektronik, imajinasi-imajinasi semakin dinamis berbenturan satu sama lain, berebut tempat dalam kenyataan. Agama yang pada awalnya hanya dikuasai segelintir orang pemilik kitab suci, tiba-tiba mendapat perlawanan dengan cara-cara yang berbeda dalam menafsirkan firman Tuhan. Mashab-mashab bermunculan, perang saudara, perang agama, masa kegelapan berlangsung hanya demi mewujudkan imajinasi soal Tuhan dan dunia Tuhan yang ia percaya. Dunia dijalankan oleh para psikopat delusional. Masa-masa itu tak pernah berakhir, kita masih bisa melihatnya di Timur Tengah hari ini.

isis-2_2591265a
ISIS. Sumber gambar: The Sun

Imajinasi politik non-agama juga tidak kalah mengerikan. Sejarah mencatat Hitler sebagai salah satu diktator paling parah yang ingin mewujudkan dunia ras Arya. Dia berpikir ke depan dengan cara yang sangat-sangat salah. Efeknya tidak main-main: imajinasi Hitler yang telah membantai jutaan orang, membuat sekelompok ras/agama Yahudi mengamini imajinasi mereka yang lain soal negara bernama Israel. Itu jadi masalah kita hari ini, di mana mereka yang sekuler dan konon ras paling cerdas ini, menduduki Palestina dengan alasan Agama dan janji Tuhan mereka akan tanah Perjanjian. Kelindan antara sekularisme dan agama ini membingungkan, saya tahu. Tapi seperti pembukaan tulisan ini, politik tidak pernah masalah logika, tapi kuasa.

Raving_mad_Hitler.gif

Lalu kita bertemu dengan ilmu pengetahuan, sains, yang logis, matematis, eksakta, dan konon, tidak pernah bohong. Banyak orang atheis atau agnostik berharap bahwa ilmu pengetahuan tidak akan mengkhianati mereka; bahwa Tuhan tidak ada kecuali jika bisa dibuktikan ada secara rasional dan empiris. Selama seratus tahun belakangan ini, banyak dari kita percaya bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan adalah mesin anti-politik (anti-political machine). Bahwasannya banyak masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, karena itu objektif.

Tapi bisa jadi masalah terbesar kita di abad ini adalah karena ilmu pengetahuan dan sains. Seratus tahun belakangan ini, terjadi banyak revolusi. Dan kerusakan terbesar datang bukan dari revolusi politik, tapi dari revolusi industri dan Iptek. Perang memang membunuh banyak orang, tapi perang-perang seratus tahun belakangan ini bukan semata-mata karena Tuhan. Imajinasi akan negara dan industrialisasi menimbulkan perang-perang akan sumber daya alam. Lalu ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangan seratus tahun belakangan ini juga berpusat pada eksploitasi terhadap alam dan manusia. Sepanjang sejarah planet ini, sumber daya yang dibentuk ratusan juta tahun, benar-benar dikuras dalam jangka waktu kurang dari seabad. Global warming yang terjadi abad ini adalah yang tercepat dan yang terparah sepanjang sejarah homo sapiens tinggal di bumi.

tumblr_n48sxopo1z1sjwwzso1_500

Pola pikir sains dan Iptek yang seperti mesin ini butuh sentuhan perempuan, sentuhan seorang ibu yang memelihara dan membesarkan alam. Bukan sentuhan seorang bapak yang membentuk alam seperti apa maunya seperti yang selama ini dilakukan. Sains pun ternyata butuh untuk belajar pada suku-suku pedalaman yang memperlakukan alam seperti ibu mereka, termasuk dalam membuat energi terbarukan menggunakan tenaga matahari, tenaga air atau tenaga surya. Film dokumenter “This Changes Everything,” memaparkan perlawanan-perlawanan orang-orang di seluruh dunia terhadap ekspansi sains dan teknologi Industri yang merusak alam dan penghidupan banyak orang lokal. Argumen film tersebut sangat kuat: bahwa sains dan teknologi selama ini dibawa ke arah yang salah, arah eksploitasi sumber daya alam.

Namun tentunya, isu Climate Change juga mengalami perlawanan dari kaum pengusaha konservatif yang penghasilannya dari sumber daya alam. Semua perang yang telah terjadi untuk perebutan sumber daya alam bisa percuma kalau semua konsumen mengkonversi kebutuhan energinya pada matahari, air, atau angin. Teknologi-teknologi baru tersebut harus tetap dibuat mahal dan tak terjangkau, hingga teknologi lama yang eksploitatif tetap bisa laku. Inilah hubungan haram antara politik-ekonomi-teknologi yang harus kita kritisi tanpa lelah. Sudah saatnya sains lebih membuka diri pada apa yang mereka anggap ‘tradisional’, seperti budaya-budaya teknologi lokal, dan mengembangkannya untuk membuat teknologi yang lebih ramah lingkungan dan accessible untuk masyarakat luas. Namun lagi-lagi kita akan mentok pada kebodohan. Di sini saya akan mulai masuk ke Politik Kebodohan.

 

Politik kebodohan adalah sebuah cara menunjukkan kuasa dengan membuat pernyataan yang jelas-jelas salah secara faktual dan logika sederhana, jauh dari bukti atau argumen sahih, tapi toh tetap dimajukan sebagai argumen dan, ironisnya, seringkali dimenangkan.

Biasanya politik kebodohan bisa memungkinkan karena ada yang salah dalam sebuah institusi politik, atau representasi yang diwakili oleh seorang individual yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Individualnya salah, namun institusinya memungkinkannya untuk bisa memberikan pernyataan salah tersebut. Contoh yang paling mendunia saat ini adalah Donald Trump.

trump-article-header

Bagaimana mungkin seorang pengusaha yang bukan politikus karir, dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali seksis dan rasis, bisa menjadi satu-satunya calon dari partai Republican dan memiliki jutaan pendukung? Untuk itu, kita tidak harus membicarakan Donald Trump. Kita harus membicarakan institusi yang ia wakili: rakyat kulit putih konservatif Amerika dan partai Republican.

Rakyat kulit putih konservatif Amerika, yang sebutan stereotipenya adalah kaum Red Neck, mendukung Donald Trump karena alasan-alasan yang sederhana: ketakuan kehilangan kuasa atas tanah dan pekerjaan. Dalam perjalanan saya ke beberapa desa di Amerika, saya menemukan hal-hal yang luar biasa menakutkan untuk saya sebagai pendatang dari Asia: ada sebuah restoran yang menempatkan papan besar, “White people only,” (hanya untuk kulit putih). Ada juga sebuah gubuk kayu besar (Shack) dengan tulisan, “Guns available,” yang menandakan bahwa gubuk itu menjual senjata api secara bebas. Restoran dan gubuk senjata itu berada di dua desa yang berbeda yang tidak perlu saya sebutkan dimana. Toh, jikapun Anda ke sana, seperti saya, kemungkinan Anda tak sudi mampir, kecuali jika ingin merasakan panasnya peluru di pantat Anda. Kesamaan di dua desa ini adalah, banyak di halaman rumah mereka terpampang papan: “TRUMP: MAKE AMERICA GREAT AGAIN.”

12289674_865102096941936_1974828997264139924_n1

 

Sementara itu, politisi partai Republican kalang kabut mendapati Trump menang sebagai calon mereka. Ini membuktikan betapa hancurnya pengkaderan kepimimpinan partai sayap kanan tersebut. Pasca Bush dan 9-11, lalu krisis ekonomi Amerika tahun 2008, partai yang beranggotakan banyak orang Kristen kaya raya ini tidak berhasil membuat kader-kader yang berkualitas. Menurut saya ini terjadi karena cara politik mereka adalah Politik Kebodohan itu: dengan modal hubungan sosial dan modal, mereka tidak perduli apakah pembenaran mereka soal perang Timur Tengah, atau tuduhan merka bahwa Global Warming adalah propaganda itu salah. Mereka hanya perduli pada ‘kepentingan’ (interest) bahwa perang Timur Tengah menguntungkan pengusaha  dan industri senjata, dan jika Global Warming adalah propaganda, maka mereka bisa terus mengeksploitasi sumber daya. Imajinasi inilah yang mereka tekankan terus-menerus, dan akhirnya Trump masuk mengambil momentum. Karena dari semua capres Republican, Donald Trump adalah yang paling TIDAK PERDULI.

Trump tidak perduli kalau ia seringkali tidak konsisten dalam memberi pernyataan. Ia tidak perduli soal partai politik, ia tidak perduli soal ekonomi Amerika, atau politik luar negerinya. Trump adalah entertainer/entrepreneur sejati yang benar-benar mengenal penontonnya: orang kulit putih konservatif, atau orang yang punya ‘interest’ dalam usahanya. Pengalamannya di televisi membuatnya paham bahwa kontroversi menjual, dan media selalu akan membuat orang tolol semakin terkenal, jika orang tolol itu punya kuasa. Seperti anjing menggigit orang, Donald Trump tidak biasa karena dia orang tolol yang sangat kaya, dengan brand yang dekat dengan kata Triumph (menang). Ia ahlinya periklanan ilusi–propaganda industri dan pembangunan brand. Di sini kita bisa melihat satu lagi karakteristik Politik Kebodohan:

Politik kebodohan mengambil kuasa dari memperbodoh orang lain, dengan cara manipulasi informasi, propaganda, dan menghilangkan orang-orang yang memprovokasi massa untuk berpikir. Politik kebodohan berpegangan pada satu prinsip: menjadi bodoh adalah berkah (ignorant is a bliss).

Dalam politik kebodohan, kesederhanaan adalah segalanya. Pesan untuk massa rakyat harus sepopuler mungkin, dan sepopuler mungkin artinya sesingkat dan seklise mungkin. Masyarakat tak perlu tahu tujuan si politikus, tapi masyarakat hanya harus merasa berbagi imajinasi. Imajinasinya harus mendasar dan sederhana, seperti ketakutan akan kehilangan pekerjaan, atau iming-iming uang, atau  (ini yang akan selalu populer) ketakutan akan neraka.

Di Indonesia, politik kebodohan selalu bekerja dengan baik. Dalam pilpres Prabowo vs Jokowi tahun 2014 lalu, kedua kandidat sesungguhnya memiliki dua sisi tim kampanye: tim kampanye untuk elit politik, dan tim kampanye untuk massa rakyat. Tim kampanye untuk massa rakyat adalah tim yang menggunakan politik kebodohan itu. Prabowo menjual imej pemimpin keras, tegas, galak. Cocok dengan massa rakyat yang maskulin. Sementara itu Jokowi menjual sosok pemimpin yang wajahnya seperti petani, kurus, dan dekat dengan rakyat. Soal politik kebodohan, keduanya sama-sama. 50-50. Seandainya Demokrasi Indonesia diserahkan pada Rakyat sepenuhnya, tidak ada yang akan menang di antara Prabowo dan Jokowi.

14027988871694362327

Yang memenangkan Jokowi adalah politik elitnya. Pecahnya Golkar dengan merapatnya Jusuf Kalla ke Jokowi, serta diikatnya beberapa petinggi militer dan kepolisian dalam perjanjian politiklah yang memenangkan Jokowi. Belum lagi dukungan dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia–yang terus terang menentang Prabowo. Dari sisi Prabowo sendiri, kita melihat KMP yang isinya orang-orang oportunis dengan politik dua kaki: celup ke ember manapun yang menguntungkan. Seperti banyak pendapat para ahli, politik Koalisi ini takkan tahan lama begitu tidak dikasih makan kuasa.

Apakah ini artinya politik untuk rakyat adalah politik kebodohan dan politik untuk elit adalah politik sebenarnya? Ya dan tidak.

Pada negara-negara yang demokrasinya sudah maju, setiap rakyat adalah elit. Setiap rakyat sudah punya daya baca dan daya kritis untuk memilih dan paham konsekuensi pilihan politiknya. Kalau mau contoh, kita bisa melihat beberapa negara Eropa, dari pemilihan walikota di London, sampai negara-negara dengan sistem pendidikan dan demokrasi mutakhir seperti Finlandia, atau Islandia yang Perdana Menterinya langsung mundur begitu didemo soal Panama Papers. Tapi kalau daya baca rakyat dan elitnya rendah, dan hubungan antara pemerintah, rakyat dan militernya lebih banyak konflik daripada kerjasama, maka Politik Kebodohan akan mendominasi.

Maka itu muncullah imajinasi-imajinasi yang dipaksakan macam kebangkitan PKI. Imajinasi yang dipaksakan ini adalah sebuah delusi, yang ironisnya banyak dipercaya orang-orang dengan ketidakberdayaan intelektual yang sama. Orang-orang pengidap Phronemophobia akut, yang kebanyakan tidak bisa disembuhkan. Mereka hanya bisa menang lewat penipuan besar-besaran atau kekerasan. Dan ketika kalah argumen, mereka tidak akan mengaku kalah, tapi langsung menuduh dizalimi secara politik atau menuduh orang yang benar sebagai orang yang terdoktrin pihak lain. Kuliah umum Kiki Syahnakri soal Marxisme-Aristotelian, misalnya, jelas-jelas salah dan dihujat habis-habisan di Media Sosial. Tapi toh, nampaknya dia cuek saja.

Kiki Syahnakri tidak sendirian. Di Amerika, seorang pendukung Donald Trump garis keras yang masih misterius namanya, pernah melakukan hal yang sama di tahun 2013 ketika ia protes untuk melengserkan presiden Obama. Politik kebodohan ini adalah masalah universal, dan sesuatu yang terus-terusan dipakai dimana-mana.

mtm2njq0odk5njuzotuzmte5
Orang misterius yang protes melengserkan Obama dengan alasan bahwa Obama adalah Muslim dan Muslim adalah Marxist. Dia muncul lagi dalam kampanye Donald Trump tahun ini untuk mendukung sentimen anti-Islam.

Akhirnya, jika kita mau jadi orang baik, perjuangan utamanya adalah mencerdaskan bangsa. Membuat seluruh rakyat jadi elit yang berdigdaya, yang daya bacanya tidak hanya seperti anak kelas 4 SD jaman Orba. Membuat kesadaran dunia-akhirat, bahwasannya dunia tidak kalah penting dibanding akhirat. Warisan utama yang harus ditinggalkan adalah cara berpikir untuk bisa hidup menjadi manusia unggul yang bisa berfungsi baik secara sosial dan politik, dan mendasarkan hidupnya pada rasio dan empiris yang tidak terlepas dari kenyataan sosial yang ada. Warisan itu hanya bisa dilakukan dengan memenangkan politik kebodohan ini, dengan segala cara.

 

 

 

 

Kurasi/Kritik, Teater, Uncategorized, Workshop

Lima Pementasan Hasil Tangkapan di Amerika 2015

Berikut adalah laporan 5 pementasan yang saya tonton di Amerika secara gratis. Gratis bukan berarti murahan, karena empat dari lima pementasan ini adalah profesional dan dimainkan oleh aktor-aktor kenamaan, dengan sutradara dan penulis yang kebanyakan menang Tony Award atau minimal masuk nominasinya. Hampir semua tiket pementasan ini didapatkan atas fasilitas Fulbright, jadi tulisan ini juga untuk berterima kasih atas akses ke kebudayaan tinggi Amerika.

William Shakespeare’s The Tempest (Central Park, May 2015)

Sutradara: Michael Greiff

Screen Shot 2016-01-27 at 1.34.49 AM
Prospero dan Ariel

Pementasan ini sangat lambat. Tempo tidak terbantu oleh musik ataupun bloking aktornya, padahal soal keaktoran pementasan di Central Park ini tidak main-main. Ada Sam Waterson, nominator Academy Award yang sering kita lihat dalam serial TV Newsroom dan Law and Order. Waterson bermain sebagai Prospero, namun seperti sama sekali tidak ada usaha untuk menghidupkan karakter yang berbeda dari dirinya sendiri.

17tempestjp-master675
Stage yang sederhana dan kurang memaksimalkan visual. Foto: NY Times

Panggungnya begitu luas tapi kosong. Tata cahaya yang redup dan kalimat-kalimat Shakespeare yang sangat panjang tanpa dibantu musik yang mumpuni membuat pementasan Shakespeare in The Park tahun 2015 ini jadi salah satu yang bikin saya ngantuk. Apalagi aktor utama seperti Chris Parfetti yang bermain sebagai Ariel (asisten Prospero) benar-benar menjatuhkan tempo permainan. Gaya aktingnya yang agak ‘melambai’ seperti ingin memberikan karakter androgini di tokoh Ariel, alih-alih membuat pementasan kaya makna, malahan membuat intensitasnya jatuh bebas, karena semua kata dipukul rata dengan kelembutan.

Kostum dan treatmaent pementasan bertema Bondage dan Sadomasokisme. Tapi apa artinya tema itu jika dibawakan dengan energi dan nafsu yang rendah. Padahal seandainya ada usaha lebih, tema ini bisa membuat The Tempest jadi sangat aktual.

Screen Shot 2016-01-27 at 1.39.07 AM
Sam Waterson dan Francesca Carpanini, dalam The Tempest. Foto: Sarah Krulwich, NY Times

Vanya and Sonya and Masha and Spike

Sutradara: Aaron Posner/ Naskah: Christopher Durang

Vanya and Sonia and Masha and Spike
(L to R) Sherri L. Edelen sebagai Sonia, Grace Gonglewski sebagai Masha, Jefferson Farber sebagai Spike, Rachel Esther Tate sebagai Nina and Eric Hissom sebagai Vanya dalam Vanya and Sonia and Masha and Spike di Arena Stage at the Mead Center for American Theater April 3-May 3, 2015. Foto oleh C. Stanley Photography.

Salah satu pementasan terbaik yang saya tonton tahun kemarin, Vanya and Sonia and Masha and Spike benar-benar drama yang menggembirakan soal orang-orang menyedihkan. Adaptasi drama-drama Chekov oleh Christopher Durang ini diramu seperti sebuah lenong kontemporer yang sesuai perkembangan zaman.  Uncle Vanya dibuat menjadi gay kesepian yang tinggal bersama Sonia, saudaranya yang perawan tua. Mereka didatangi adik bungsu mereka, Masha, seorang artis terkenal menjelang masa tuanya, yang membawa pacarnya, seorang berondong bernama Spike. Para aktor bermain sangat baik dalam format teater arena, yang membuat semua penonton tenggelam ke dalam konflik keluarga yang aneh ini.

Vanya and Sonia and Masha and Spike
Sonia, Masha, dan Vanya. Foto: Washington Post

Drama ini sungguh pantas memenangkan Tony Award 2013 sebagai drama terbaik. Kesederhanaan tata panggung dan jumlah aktor yang sedikit, membuat tidak ada satupun elemen drama ini yang terbuang percuma. Perasaan kesepian dan tawa naik-turun dengan sangat dinamis. Keseriusan yang dibangun bisa dipecahkan permainan, dan permainan dan tawa yang kita berikan bisa tiba-tiba membuat kita merasa bersalah karena ikut berbahagia di atas penderitaan orang lain.

 

Dear Evan Hansen

Sutradara: Michael Greiff/  Penulis Lirik dan Musik: Benj Pasek & Justin Paul

wk-stagebox0807-1

Memang kita tidak bisa menilai seseorang dengan satu karya saja. Saya bertemu kembali dengan karya Michael Greiff (yang tadi menyutradarai The Tempest di New York), di Washington DC. Kali ini ia menyutradarai sebuah drama musikal berjudul Dear Evan Hansen. Drama musikal remaja yang dbintangi oleh salah seorang bintang dari film Pitch Perfect 2, Ben Platt, meninggalkan kesan yang cukup dalam buat saya. Dari segi musik, drama ini luar biasa. Lagu-lagu gubahan Benj Pasek dan Justin Paul ini mengingatkan saya pada lagu-lagu Ben Folds Five, dan Ben Platt adalah vokalis yang sangat cocok membawakan lagu-lagu semacam ini. Anda bisa dengarkan lagunya di soundcloud yang saya cantumkan di bawah ini.

Screen Shot 2016-04-11 at 11.00.09 AM
Ben Platt (Evan), Michael Park (Larry), Jennifer Laura Thompson (Cynthia), dan Laura Dreyfuss (Zoe).

Saya pribadi kurang suka akting Ben Platt. Dia mungkin vokalis yang bagus, tapi begitu akting, ia seperti berusaha terlalu keras. Saya malah lebih suka akting Mike Faist, yang bermain sebagai tokoh Connor. Connor adalah seorang anak anti-sosial yang akhirnya bunuh diri karena depresi. Sepanjang drama ia menghantui Evan sang tokoh utama, yang memakai kematiannya sebagai alasan untuk kenal kepada Zoe, adiknya. Evan mendapat simpati banyak orang karena pura-pura jadi sahabat Connor, padahal sebenarnya itu semua bohong. Evan, seperti Connor adalah anak-anak anti-sosial, namun kematian Connor jadi pintu masuk Evan ke dunia pergaulan.

tn-1000_14_dehweb_229
Mike Faist sebagai Connor.

Dear Evan Hansen menjadi istimewa karena musik dan wacananya yang kontemporer. Liriknya yang dalam dan cerita tentang keterasingan remaja di era digital, benar-benar terasa aktual di masa ini, dimana semakin terkoneksi internet, seseorang menjadi tambah terasing. Terakhir, Michael Greiff memiliih tone warna tata panggung dan permainan visual yang sama seperti The Tempest: biru dan merah. Namun yang membuat Dear Evan Hansen menjadi sangat berbeda, adalah bagaimana desainer adegan, lighting, proyektor dan stage manajer membuat campuran antara visual digital dengan pergerakan material dari setiap layarnya. Pementasan ini tidak hanya menggunakan video mapping, tapi juga robot-robot panggung untuk memindah-mindahkan layar proyektor ke berbagai posisi dalam pergantian setting.

Midsummer Nights Dream

Sutradara: Ethan McSweeney

midsummer-macao
Sarah Tophan (Titania/Hipolita) dan Dion Johnson (Oberon/Theseus). Foto: shakespearetheater.org

Sebagai aktor yang pernah memainkan drama “suka-suka” ini, sungguh tidak sulit buat saya memaparkan konsep dan konteksnya. Drama ini tidak logis dan memberikan kebebasan interpretasi yang sangat luas kepada sutradaranya. Teater Sastra UI, pernah mementaskan ini dengan menggabungkan kreativitas dan konsep suka-suka ini dengan maksimal, membiarkan setiap divisi dalam mengekplorasi dirinya masing-masing, dari mulai memasukan elemen tradisi dalam koregrafi dan tata gerak, pola-pola kain Indonesia dalam kostum, dan musik yang menggabungkan pop, rock dan tradisional. Pementasan oleh Shakespeare Theater Company ini tentu saja jauh lebih bermodal dan lebih mewah. Pemain-pemainnya pun bukan hanya mahasiswa atau anak muda, tetapi banyak pemain senior yang lebih berpengalaman. Namun dengan semua keunggulan itu, dengan sombong saya bisa bilang bahwa pementasan Teater Sastra UI tidak kalah kualitasnya.

webheader-under35-midsummers2015_194
Pertengkaran Hermia (Chasten Harmon) dan Helena (Julia Ogilvie) menggunakan props panggung yang disiapkan Puck.

Konsep yang ditawarkan McSweeney adalah penggabungan antara kenyataan yang hitam-putih dengan latar negara Eropa tahun 1930-1940an, dunia kelas bawah tempat para pemain drama rendahan seperti Bottom dan kawan-kawan yang berwarna coklat kusam, dan dunia peri dengan hutan imajiner di dalam sebuah panggung teater yang sudah rusak. Hutan imajiner ini menggunakan properti-properti panggung dari mulai tali tambang, piano rusak sebagai ranjang, ember dan lain-lain. Peri-peri menggunakan kostum zaman Victorian yang memang glamor dan penuh dengan mistisisme. Di satu sisi konsepnya jelas, namun di sisi lalu jadi terlalu jelas dan membunuh imajinasi penonton.

cropmidsummers_146-press
Adam Green sebagai Puck memasuki Panggung dengan Akrobat

Pemeran Puck (Adam Green), yang nampaknya jadi aktor yang paling diistimewakan di drama ini, memang bermain prima. Bersama dengan peri-peri lainnya, ia memainkan atraksi lompat tali sirkus yang menantang. Aktor-aktor profesional ini bukan hanya terlatih akting, bernyanyi dan menari, tapi juga atraksi–sepertinya kebanyakan pementasan Midsummer Night’s Dream di industri teater memang harus menampilkan atraksi. Pementasan ini “aman” dan “pantas” untuk kelas Broadway. Tapi di saat yang sama jadi biasa saja, tidak banyak inovasi baru–karena saya pribadi sudah cukup riset dan mencari-cari model Midsummer Night’s Dream dua tahun lalu. Mungkin ini yang terbaik, karena toh, eksperimen yang terlalu macam-macam seperti yang dilakukan Julie Taymor bisa berakibat fatal.

midsummers_108resized1
Pembukaan adegan peri. Foto: Scott Suchman

 

Akeela and the Bee

Sutradara: Charles Randolph-Wright

hires_akeelah02
NIcole Wildy sebagai Akeela dan James William sebagai Dr. Larabee

Tidak banyak yang bisa saya katakan tentang Akeela and The Bee. Drama ini diangkat dari film anak-anak yang bertujuan membuat komunitas Afrika-Amerika yang lebih terdidik dan suka membaca. Dramanya pun dibuat oleh grup komunitas (campuran antara pemain profesional dan amatir). Kualitasnya kurang lebih sedikit di atas kebanyakan teater sekolah/kampus di Indonesia. Dan penontonnya pun rata-rata punya hubungan dengan komunitas tersebut.

1444407559-4_akeelah_tickets
Akeela Lomba Mengeja

Beberapa bagian drama ini cukup melelahkan saya, apalagi karena saya tidak akrab dengan aksen, istilah-istilah dan slang komunitas Afrika-Amerika. Walhasil, saya seringkali tidak tertawa ketika penonton terbahak-bahak, karena saya tidak bisa mengikuti dialog-dialognya. Drama ini mencoba menjadi multikultural, dengan menampulkan tokoh-tokoh berwajah Asia–khususnya Cina–dan memberikan mereka stereotipe “pekerja keras” yang memiliki orang tua yang “ambisius. Lucu juga sebenarnya, ketika orang kulit hitam banyak yang menuntut agar tidak distereotipe, drama ini sangat penuh stereotipe. Bukan hanya pada komunitas lain, tapi juga pada komunitasnya sendiri. Ironis.