Korban Gusuran Luar Batang. Repro Eseinosa dari cdn.gresnews.com
Jaman Harto memang lebih enak, karena ia berhasil membangun kaum miskin yang docile alias pasif. Rezim itu tidak membiarkan toa masjid bergema keras. Rezim juga tidak membiarkan penyebaran informasi yang bisa membawa kepada tindakan makar dari tingkat terkecil masyarakat. Tidak ada internet, ponsel pintar buatan Cina, media cetak dan elektronik provokatif, dan website abal-abal…
Orang miskin hanya menjadi kecoak yang bersembunyi di sela-sela sampah peradaban dan keluar jadi buas ketika ada kerusuhan dan kesempatan menjarah saja. Sasarannya bisa siapa saja yang disuruh elitis: Cina, Komunis, Aktivis, atau guru ngaji yang dituduh dukun.
Tapi hari ini tidak begitu. Identitas lebih cair, akses ke media dan informasi dikendalikan rating dan kepentingan politik pemilik media. Perang propaganda menyediakan motivasi-motivasi untuk bersatu dan melawan. Melawan siapa?
Melawan yang bisa dilawan walau seringkali salah sasaran.
Melawan siapapun yang dianggap asing, siapapun yang dianggap kaya, siapapun yang dianggap punya kebebasan dan ide untuk merenggut identitas. Karena identitas adalah satu-satunya yang bisa dipertahankan sendiri.
Lalu ekstrimisme itu muncul dalam bentuk ormas-ormas, di antara merdunya pengajian dan dzikir, dan di antara kerasnya seruan untuk melawan kafir. Dan musuh-musuh hadir dalam bentuk-bentuk gaib: pengendara ojek aplikasi, banci dan kaum Luth terkutuk, perempuan dengan lekuk tubuh, hingga anjing penjaga babi ngepet.
Dalam keadaan seperti ini, identitas minoritas adalah kebutuhan imajinatif. Menjadi diri sendiri, percaya pada Tuhan dan agama yang berbeda, mencintai sesama jenis, mengakui seksualitas sendiri, bahkan berpikir dan bicara kritis adalah kemewahan yang harus dibayar mahal. Kau bisa aman beribadah, bercinta dan berpikir kalau kau punya cukup modal.
Akhirnya tembok harus semakin kokoh, dan kaum miskin dan kaya terpisah semakin kedap: suara-suara tak bisa terdengar apalagi dimengerti. Karena toh seniman-seniman intelektual kota seperti sudah enggan menembus tembok-tembok itu, lebih senang teriak lagu kebebasan di kafe-kafe dan bar-bar daripada di mimbar dan teriak BONGKAR!
Kini mimbar berisi kiai-kiai dan habib-habib yang terlalu serius mengajarkan sesatnya nasionalisme, demokrasi dan gerakan politik, tanpa sedikitpun pernah bicara soal komedi dan bernegara yang baik.
Kaum kota semakin ekstrim, Gubernurnya mengejar suara yang terkaya, suara aristokrasi urban. Sementara lawan politiknya akan mengeksploitasi kebodohan dan kemiskinan.
Taik.
Siapa yang benar-benar mau peduli?
Yang jelas jangan salahkan jika yang tergusur semakin gusar dan sembarang menyerang.
Tak usah bawa-bawa HAM dan akal, itu barang mewah. Itu semua sudah direnggut ketika tembok itu dibangun dan yang miskin dikunci di luar untuk jadi mainan penantang kuasa, jadi pion-pion yang dijanjikan kemakmuran.
Yang kalah di luar tembok, tidak akan meruntuhkan kekuasaan. Dari mereka hanya akan tumbuh orang-orang yang nyawanya sangat murah–bisa dibeli dengan janji-janji kemakmuran di dunia atau akhirat.
Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia. Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia seperti psikosis lain, adalah penyakit karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.
Terus terang, saya takut kejadian menara babel kembali terulang. Kamu tahu kan, ketika budak-budak babylon menghancurkan menara yang mereka bangun karena mereka tak tahu apa artinya–yang tahu artinya hanya para konseptor, arsitek kelas atas, yang tidak mau mendidik para budak karena mereka butuh para budak tetap bodoh supaya jadi budak?
Hari ini ada pencapaian besar. Gelombang Gravitasional kini bisa dideteksi. Apa itu gelombang gravitasional?
Untuk menyederhanakannya, itu adalah gelombang ke ‘ada’ an sebuah benda fisik yang memiliki massa dan energi. Ruang kosong (space) tidaklah kosong. Kekosongan bisa bereaksi ketika ada yang mengisi. Isinya adalah benda dengan massa dan energi tadi. ‘Gaya tarik’ gravitasi adalah sebuah istilah yang kurang tepat, karena gravitasi tidak ‘menarik’. Gravitasi bermain dengan ‘keberadaan’, yang membuat ruang kosong jadi bergelombang, melengkung, atau terlipat. ‘Gaya tarik’ gravitasi ini yang membuat planet berputar mengelilingi matahari, adalah karena matahari membuat ruang kosong menjadi ‘tertekan’, hingga planet-planet yang memiliki massa dan energi berputar mengelilinginya.
Einstein memberi contoh dengan membentangkan seprai di atas udara (empat orang menahan setiap sudutnya). Ia menaruh sebuah bola yang besar dan berat di seprai itu hingga seprai itu melengkung ke dalam. Lalu ia melemparkan bola kecil yang dengan energi dan massanya berputar mengelilingi bola besar. Itulah cara gravitasi bekerja.
Masih kurang jelas? Bayangkan Anda ada di sebuah pesta yang banyak orang. Tiba-tiba masuklah seorang gadis yang sangaat cantik ke ruangan. Semua orang tertarik padanya–para pria berputar di sekitarnya, para wanita menjauh dan mulai mencibir atau memuji diam-diam. Si perempuan cantik itu adalah Matahari di galaksi pesta tersebut. Dan para tamu–baik pria atau wanita, terpengaruh dengan gravitasi si Matahari.
Namun gelombang gravitasi yang dipancarkan setiap tamu-tamu pesta, hampir tidak mungkin dibaca karena riaknya sangat-sangat kecil. Kalaupun energi dan massanya besar, seperti planet atau matahari-matahari lain di galaksi lain, sulit juga menemukan gelombang gravitasinya. Bukan karena kita tak bisa membacanya, tapi karena ada begitu banyak bintang, matahari, dan lubang hitam di luar sana yang mana semuanya mengeluarkan gelombang. Kita tidak bisa membedakan gelombang mana punya siapa. Sampai satu hari yang lalu.
Sampai alat besar bernama LIGO ini berhasil mendeteksi gelombang gravitasi dari dua buah lubang hitam yang saling berkelindan. Satu lubang hitam ukurannya bisa jutaan bahkan milyaran Matahari kita. Jadi lubang hitam adalah benda terbesar di alam semesta yang kita tahu. Kelindan ini terjadi 1.3 milyar tahun yang lalu, dan gelombangnya terasa hari ini, terdeteksi dengan pasti oleh LIGO. Anda bisa simak liputannya di bawah ini.
Masih kurang jelas? Anggaplah perempuan cantik di pesta tadi adalah Lubang Hitam yang menghisap seluruh alam semesta pesta. Dia membuat hati-hati para pria patah karena ditolak, dan emosi para wanita pecah karena cemburu. Lalu masuklah pria itu, pria paling tampan di pesta, lubang hitam yang lain. Dan mereka berdansa di pesta itu, hingga semesta pesta terpana, teraduk, tertarik, dan tidak bisa melupakan tarian dua lubang hitam yang terjadi 1,3 milyar tahun yang lalu.
Semoga Anda mengerti dan bisa mengajari orang lain tentang pencapaian besar hari ini. Jauh lebih besar dari perseteruan politik kita sehari-hari. Jauh lebih besar daripada perbedaan kita. Dan semoga ini bisa berlanjut terus, tanpa ada budak-budak bodoh yang tidak mengerti dan ingin menghancurkan peradaban yang kita buat sama-sama selama ribuan tahun umur spesies kita. Tidak ada cara lain untuk mencegah tragedi menara babel selain membuat kesetaraan, menyebar pengetahuan, dan menghancurkan kebodohan dengan kasih sayang dan pendidikan.
Karena pencapaian ini tidak dilakukan oleh segolongan orang, tapi bermacam-macam orang: agamis, atheis, liberal, konservatif, straight, gay, semua. Jangan kehilangan satu orang pun. Jangan renggut Hak Asasi satu orang pun. Jangan buat menara Babel.
Setelah banyak membaca dan belajar, saya tiba-tiba sadar kalau selain kedamaian dan kekuatan spiritual, Islam juga memberikan ketakutan-ketakutan pada saya. Ketakutan-ketakutan ini membatasi pikiran dan kehidupan saya. Misalnya: saya takut pada anjing karena haram, saya takut pada orang asing (dengan agama asing), saya takut pada makanan yang dibuat orang beragama berbeda, dan saya takut pada seks, saya takut pada LGBT. Setelah banyak membaca dan belajar saya tergoda untuk menantang ketakutan-ketakutan itu. Godaan yang membuat saya menjadi lebih dewasa.
Dulu ketika umur saya lima atau enam tahun, Mama mengajarkan sebuah dzikir ketika menghadapi ketakutan, “Ya Hafidz”, maha penjaga atau maha pemelihara. Saya berdoa agar anjing itu tidak mengejar, menjilat apalagi menggigit saya. Konon ludah anjing najis dan harus dicuci dengan tanah 7 kali. (sekarang saya tidak akan menyebut nama itu lagi gara-gara seorang selebtweet yang alimnya seperti eksibisionis yang suka pamer titit, sampai saya jijik. Itu lho yang pentolan Gerakan Antimo).
Misi untuk menantang ketakutan-ketakutan itu saya jalankan. Saya buang jauh-jauh doa minta dijaga–setiap melihat anjing, saya berusaha mendekati dan membelainya. Karena teman-teman saya banyak pecinta anjing, ketakutan itu berubah menjadi kecintaan. Kini saya merasa bahwa cuci tangan dengan sabun cukup untuk menghilangkan ludah anjing. Apalagi anjing peliharaan jaman sekarang bersih-bersih dan lebih sering ke dokter untuk perawatan daripada saya. Sekarang, salah satu cita-cita saya adalah: punya anjing.
ORANG ASING DAN MAKANANNYA
Photo: Chinese Master Chef UK. ytimg.com
Saya juga diajarkan untuk takut pada orang asing dengan agama asing dan makanan mereka karena banyak sekali keharaman menyangkut makanan: awas ada alkoholnya, awas minyak babi, awas makanan dimasak dengan perlengkapan bekas memasak babi dan awas babi, anjing, kadal, buaya, haram ini haram itu. Papa saya sampai sekarang enggan makan di rumah orang kristen atau orang Cina non muslim walaupun itu saudara atau sahabatnya sendiri dan makanan sudah dilabeli “halal”, dipisahkan dari meja “Mengandung Babi”. Phobia itu tak hilang dari Papa saya yang tak relijius-relijius amat.
Saya melawan ketakutan soal asing dan makanan asing dengan logika dan riset. Sebagai antropolog yang kerjaannya harus bergaul, ketakutan soal makanan ini berbahaya, karena makan adalah tanda keakraban dengan subjek. Menolak suguhan di budaya manapun akan dianggap kasar. Kalau cuma menolak makan babi atau anjing karena muslim, masih tidak masalah. Tapi kalau menolak SEMUA MAKANAN termasuk yang sudah dilabeli “halal” hanya karena yang memasak berbeda agama, itu namanya mencari musuh.
Apalagi soal alkohol. Rata-rata semua makanan ada alkoholnya, dan kebanyakan alami– dan itu HALAL. Ketika makan bakso dengan cuka, itu alkohol. Ketika makan tape, itu alkohol. Duren, itu alkohol. Ada kawan yang menolak makan sushi karena menggunakan arak beras dan mirin di dalamnya, menurut saya itu argumen yang benar-benar tolol. Karena arak beras dan mirin di sushi tidak untuk mabuk, dan fungsinya sama seperti cuka, untuk memberi keasaman. Kalau segitu takutnya pada alkohol, makan buah-buahan saja. Tapi jangan makan duren, pepaya, nanas, anggur, dan salak–semuanya mengandung alkohol!
Intinya, semua dogma dan mitos soal makanan di Islam baiknya dipelajari benar-benar dan ditantang dengan logis. Soal Babi, misalnya. Hari ini semua muslim bisa makan babi, karena daging babi sudah ada yang halal: daging babi organik yang terbuat dari tempe dan sayur-sayuran sudah tersedia di pasaran dengan rasa yang otentik! Saya sudah memastikannya–rasanya ENAK. Dan ketakutan pada masakan orang asing, itu yang paling harus disingkirkan. Orang mengundang kita ke rumahnya, kita harus sopan. Orang sudah tahu bahwa kita muslim, dia membuatkan makanan halal, KITA HARUS MAKAN! Jangan suuzhon!
Terakhir masalah seksualitas. Bukan muhrim itu masalah besar buat orang yang dibesarkan di tradisi islam konservatif. Dulu ada kawan saya yang sama sekali tidak berani melihat perempuan! Apalagi menyentuh, dia takutnya setengah mati, bisa keringat dingin. Tentunya ini bisa disembuhkan dengan… PACARAN! Ya, saya sangat menyarankan pacaran dengan bertanggung jawab. Belajar membuat batas, belajar mengontrol dan belajar melepas kontrol. Itu penting!
Ketakutan akan seks, lawan jenis atau sesama jenis itu ketakutan tidak beralasan. Lebih logis takut pada kecoak yang bisa menyebarkan penyakit. Saya menyembuhkan ini dengan banyak bersahabat dengan perempuan, belajar feminisme, belajar teori seksualitas dan kesehatan reproduksi dan pacaran tadi. Islam yang melarang pacaran itu Islam yang tidak akan saya ikuti. Terserah kalau Felix Siauw mau larang-larang anaknya sendiri, nanti juga anaknya akan melanggar. Ha-Ha.
Ketakutan pada seks juga membawa pada ketakutan pada LGBT atau homophobia. Ketakutan ini saya lawan dengan belajar kajian gender dan memperbanyak kawan-kawan gay. Dari mereka saya belajar dan tahu banyak hal. Mereka menghargai orientasi seksual saya seperti saya menghargai orientasi seksual mereka. Kadang kami saling menggoda. Kawan saya bilang, “Semua orang itu ada homo di dirinya. Lu cobain dulu dah.”
Lalu saya jawab, “Kalo nih bray, kalo gua homo. Gua juga pasti pilih-pilih. Kalo cowoknya kayak elu, gak bakal konak gua! Lu pernah nyobain M***k gak? Kalo belom lu AMATIR! Jangan-jangan lu salah jalan.” Haha.
Saya pernah beberapa kali tidur seranjang dengan sahabat-sahabat saya–ada yang gay, ada yang perempuan bukan muhrim. Aman-aman saja, kami tidak saling iseng secara seksual dan menghormati privasi kami masing-masing. Karena kalau tidak jodoh dan tidak nafsu, masa mau dipaksakan? Apalagi kalau sudah jadi modus operandi, seperti kawan sastrawan kita yang tersohor itu. Kalau ada yang memaksa, itu namanya pelecehan seksual. Teriak aja biar tetangga pada bangun. Hahaha.
*
Achdiyat A. Miharja pernah menulis seperti ini di novel Atheis-nya (saya parafrase): Ada dua sebab ketakutan. Ketakutan karena tahu dan ketakutan karena tidak tahu. Ketakutan karena tahu adalah ketika kita sudah memastikan sesuatu bisa menyakiti kita. Misalnya kita lihat api bisa membakar dan menyakiti kita, maka kita takut pada api dan berusaha mengendalikannya. Ketakutan karena tahu adalah ketakutan yang kita perlukan untuk hidup. Ketakutan kedua adalah yang berbahaya: ketakutan karena tidak tahu. Kita takut gelap karena tidak tahu ada apa di kegelapan itu. Kita takut orang asing karena tidak kenal. Ketakutan karena tidak tahu adalah bentuk kepengecutan, dan bisa membawa kepada malapetaka.
Melawan ketakutan adalah kewajiban jika ingin hidup dengan tenang. Apa enaknya hidup dibayangi dengan ketakutan? Allah tidak akan menolong orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Untuk apa minta tolong pada Tuhan atas kegoblokan diri sendiri? Walau begitu, tidak semua hal bisa menjadi logis. Kita tidak bisa melogikakan Cinta, misalnya. Saya bisa berkali-kali menyakiti orang tua saya, menjadi anak durhaka, tapi orang tua saya tetap mencintai saya dengan sepenuh hati dan jiwa mereka–logika macam apa itu?
Saya bisa berdebat, bertengkar, dan berbeda pendapat dengan sahabat dan kawan saya, tapi di akhir perdebatan kami akan kembali bicara tentang hal-hal lain yang menyenangkan, ngeteh, ngopi dan bersilaturahmi, sebeda apapun kami. Hubungan yang saya bangun dengan orang-orang yang saya sayang tapi sangat berbeda dengan saya adalah hal mistis. Ini juga yang Islam berikan pada saya.
Islam memberikan sebuah kepastian bahwa hidup pantas dihidupi. Hidup pantas dihidupi dengan segala peperangan, kehilangan, cinta, rejeki, musibah, dan kematian. Dan kematian adalah misteri yang bisa dibaca melalui tanda-tanda yang perlu interpretasi. Mendekatkan diri kepada Allah seperti mendekatkan diri kepada alam semesta, takdir dan kepasrahan tanpa batas. Seperti mengakui kekecilan kita sebagai entitas yang hidup dalam debu biru yang sangat kecil.
Tidak ada yang lebih nyata sekaligus puitis selain cinta dan kematian, yang semuanya dirangkum dalam Islam versi hidup saya.
Saya ingat pertama kali saya shalat setelah beberapa tahun murtad, adalah ketika saya dilanda banyak masalah sekaligus: kegalauan percintaan, ekonomi pribadi, ekonomi keluarga, dan sakit psikologis krisis seperempat abad. Saat semua masalah itu menghantam keras, saya tidak punya cara lain selain shalat dan berdoa. Dan di situ saya begitu malu padaNya; bahwa pada akhirnya saya menyerah pasrah. Dan di situ, Islam dan saya menjadi begitu akrab, begitu bebas, dan begitu rahasia karena sedetil apapun saya bercerita, Anda takkan pernah mengerti penuh pengalaman dan perasaan yang saya alami. Cuma saya dan Allah SWT yang tahu.
Menjadi Antropolog yang belajar soal manusia, kebudayaan, dan kemanusiaan sedikit banyak mengembalikan saya pada Islam versi saya ini, yaitu Islam inklusif yang selalu belajar dari banyak orang. Islam saya bukan agama terinstitusi, yang butuh pengakuan dan butuh pembelaan–ia adalah ikatan pribadi saya dengan Allah SWT. Saya membutuhkan Islam seperti saya membutuhkan udara, air, makan, tempat tinggal, dan seni. Islam versi saya adalah yang membebaskan diri sendiri, tapi tidak membebaskan orang lain–karena kebebasan adalah urusan masing-masing, kita hanya bisa tunjukkan jalan buat yang butuh petunjuk saja.