Filsafat, Memoir, Racauan

Ilusi Gap Generasi

Doni arinova

Seperti cepatnya perkembangan industri yang menyebabkan global warming dan perubahan iklim, jurang generasi 100 tahun terakhir ini semakin melebar. Apa itu jurang generasi? Jurang itu adalah perbedaan pengetahuan dan persepsi antar sekumpulang orang yang dipisahkan oleh satuan waktu lahir. Melebarnya jurang generasi, berbanding terbalik dengan jarak umur. Lebarnya jurang generasi artinya semakin hari, semakin sulit buat orang tua mengerti anak mudanya. Tapi menurut saya, ini cuma ilusi.

Coba saya jelaskan lebih jauh. Jurang generasi selalu ada di pikiran orang-orang yang merasa tua dan semakin hari semakin banyak orang yang ‘merasa tua’ tadi, karena peradaban sekarang jauh lebih cepat berubah daripada dulu dengan adanya internet dan majunya kecerdasan buatan. Tahun 50an, orang tua lebih mudah meneruskan nilai-nilai budaya pada anak. Namun pasca perang dunia kedua, semakin banyak “rebel without a cause,” khususnya di negara-negara demokrasi. “rebel without a cause” adalah ketidakmengertian orang tua pada anak yang memberontak, padahal yang tidak mereka mengerti bukan anaknya, tapi konteks sosial-politik-psikologi dimana anak itu hidup.

Sudah banyak pembahasan dan pelabelan generasi, dengan nama XYZ, atau baby boomer, post baby boomer dll. Pembahasan ini didasarkan pada event yang terjadi di sebuah masa yang mempengaruhi orang-orang yang lahir pada masa itu. Tapi buat saya, label itu telalu banyak dan membingungkan. Apalagi sulit ketika sample diambil dari negara tertentu. Waktu bisa jadi relatif secara geopolitik teknologi, buktinya saya kenal banyak orang yang lahir di tahun-tahun millenial, tapi otaknya setua senior-senior saya. Hahah.

Image result for senior bully gif

Tapi semua orang angkatan saya ke atas, yang berhadapan dengan anak-anak muda sekarang–yaitu yang masuk dalam kategori milenial bukan hanya secara umur tapi juga secara perilaku hidup–memang banyak yang sedang bingung menghadapi generasi yang begitu cepatnya belajar, kritis, dan melompat melebihi apa yang pernah mereka bayangkan. Butuh energi muda dan akses informasi tak terbatas untuk menjadi seperti angkatan pemuda hari ini, saya sendiri jadi merasa tua di depan mereka yang dengan cepat bisa menguasai skill-skill baru.

Image result for millennial gif

Ketika saya pertama kali memegang kamera umur 20an, mereka sudah terekspos dunia video sejak SD. Ketika saya fasih berbahasa Inggris umur 16an, mereka sudah fasih dari balita. Tapi ini belum apa-apa. Di Amerika Serikat, saya menemukan bocah berumur 9 tahun yang baca bukunya lebih banyak dari saya: buku novel-novel petualangan tebal, dan sains fiksi macam-macam. Pulang dari Amerika, saya merasa bukan cuma saya yang ketinggalan: anak-anak muda yang sulit dimengerti orang tuanya di Indonesia, juga ketinggalan jauh dengan anak-anak muda di negara maju.

Image result for nerd kid gif

Artinya, mereka yang merasa ketinggalan oleh anak-anak muda Indonesia, bukan hanya tua tapi juga bodoh–termasuk saya.

Lalu kita yang tua mau apa? Ya, terserah. Mau belajar bersama yang muda, seperti yang saya lakukan ketika mengajar–yang mana sebenarnya saya belajar lebih banyak dari mereka daripada mereka dari saya; atau mau pakai senioritas, kemarahan, dan frustasi pada generasi yang mereka tidak mengerti? Generasi yang lebih output oriented, mencari insentif untuk membentuk identitas mereka, dan sedang pusing menempatkan diri di dunia global.

Intinya, menurut saya pribadi, gap generasi itu tak ada. Yang ada adalah gap kerajinan dan intelektualitas. Yang malas belajar pada yang muda dan merasa senior, silahkan menyingkir dan pensiun dini saja.

***

Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir yang nulis kopi di link ini:

https://trakteer.id/Eseinosa/tip

Thank you.

Image result for retired gif

Filsafat, Memoir, Racauan

Saran Orang Depresi buat Mereka Yang Ingin Membantu

Beware, google is a bad therapist,” kata seorang shaman-intelektual yang kupercayai dengan hidupku. Tapi toh aku tetap ikuti lebih dari 4 tes depresi/anxiety dari google search dan mendapatkan hasil yang konsisten: moderate to severe depression, seek help.

Tenang saja Mbah google, aku sudah punya banyak bantuan yang kubutuhkan, aku akan baik-baik saja dalam hidup atau mati (mati yang baik: tanpa penyesalan dan nggak gentayangan). Aku mungkin sudah beberapa kali depresi, tapi ini mungkin yang terparah–faktor “U”, fleksibilitas sembuhnya jadi kaku. Cuma aku harus ngomong sesuatu pada kawan-kawan/saudara-saudara yang berusaha jadi pahlawanku: jangan. Jangan jadi pahlawanku. Aku anti-idol.

Image result for crying idol gif

***

Sesama penderita depresi, akan mengerti maksud Ketika aku depresi, kau bisa menasihati apa saja padaku, tapi tidak akan banyak pengaruhnya. Kalau kau ceritakan tentang perbandingan penderitaanmu–yang mungkin jauh lebih parah, tapi toh kau masih punya kontrol hingga tak depresi, jadi merasa bisa membantuku–yang aku pikirkan bukan penderitaanmu dan kesuksesanmu melewatinya, tapi aku jadi antipati padamu karena toh aku bukan kau dan masalah kita berbeda–plus kemungkinan ada banyak masalah lain di pikiranku yang kau tak tahu yang mungkin lebih parah daripada masalah yang kau ceritakan padaku.

Kau bisa menasihati untuk mencari kiai, psikolog, atau bantuan lain, tapi egoku akan menolaknya karena banyak pertimbangan. Aku agnostik sejati, Tuhan bisa membantu atau menghukumku secara acak tak ada sebab akibat logis dan aku akan terima itu. Penolakkanku juga bisa karena ideologis, bisa karena uangnya tak ada dan kalaupun ada tak rela dihabiskan untuk mengobrol dengan psikolog yang ‘pura-pura’ jadi temanku, atau sesederhana aku tak mau saja karena… well, aku sedang depresi.

Kau bisa mengajakku mengobrol tentang hal lain, tentang masalah orang lain, tentang kisah-kisah lucu, atau memori-memori untuk membuat fokusku pindah. Ini sering berhasil, tapi ketika depresi adalah prosesku untuk mencari pemecahan-pemecahan masalah, maka kau hanya akan mengganggu fokusku. Lebih baik aku tak dekat-dekat kau.

Kau bisa, dengan pengalaman dan kecerdasanmu, memberikan solusi-solusi atas masalah-masalah yang menjadi sumber depresiku; bahkan kau bisa memberikan argumen logis bahwa kenyataannya, masalahku sudah ketemu pemecahannya dan aku harus melaksanakan solusi itu perlahan-lahan, tidak terbawa pikiran dan tersesat kesedihan. Tapi toh, selesainya masalah-masalah terukur seperti finansial, asmara, keluarga, pertemanan, sosial, dan profesional kemungkinan besar tidak bisa menyelesaikan depresiku karena kompleksitas pikiranku. Di ruang-ruang tersembunyi setan itu bersembunyi dan menghantui, mengganggu tidur dan istirahatku, dan menutup pintu hatiku pada dirimu.

Kau bisa menawarkan padaku berbagai macam pelarian yang bikin kecanduan: agama, narkoba atau antidepressan resep dokter, minuman keras, olah raga, kerja, seks bebas, atau segala hal yang banal untuk menghabiskan uang dan tenaga secara percuma. Kepercumaan yang mahal hanya supaya tubuh kehabisan tenaga untuk ikut akal yang depresi. Kepercumaan yang bisa berakhir dengan radikalisme, penjara, kecelakaan lalu lintas, sakit jantung/stroke/liver/OD, rusaknya rumah tangga, atau kemiskinan, supaya aku bisa tetap berfungsi dengan baik secara sosial dan dianggap normal untuk beberapa waktu. Tapi tidak ada kecanduan yang baik. Kecanduan adalah amplifikasi kenikmatan yang tinggal sedikit, supaya banyak, tapi seperti hutang dengan rentenir: berbunga-bunga dan ketika aku tak bisa bayar, semua orang akan ikut menanggungnya, bukan cuma aku.

Ketika segala yang bisa kau lakukan tak mampu menyembuhkanku, dan aku berakhir gila atau mati (entah bunuh diri, entah kecelakaan, atau kematian tak wajar lainnya), kau bisa menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuanmu merawatku, atau kau bisa menyalahkan aku karena begitu egoisnya merepotkanmu dan banyak orang. Yang pertama, menyalahkan dirimu, bisa membuatmu depresi; yang kedua bisa membuatmu membenci orang gila/mati, dendam kesumat, menganggapku tidak bersyukur karena dengan segala kemampuanku, segala rizkiku, aku memilih gila atau mati. Kau tidak akan mau mendengar alasanku–mau itu altruistik demi kau dan peradaban, mau itu egoistik, atau spiritualistik, kau akan menanggapku jahat. Maka di kitab-kitab suci, orang bunuh diri punya tempat khusus di antara akhirat dan kehidupan, kaum precariat yang tersiksa abadi. Sebesar itulah kebencianmu nanti padaku atas kegagalanmu mencegah kegagalanku. Sampai akhirnya kau ikut depresi dan mati bersamaku, atau kau membangun egomu lagi, melanjutkan hidup, dan melupakan bagian buruk dari hidupku yang membuat hidupmu ikut buruk.

Image result for suicide gif

Lalu apa yang harusnya kau lakukan ketika aku depresi? Diam? Menemani sambil mendengar? Melayani dan memanjakanku seakan-akan aku sapi wagyu yang akan disembelih? Memusuhiku untuk mencegah kau ikut depresi? Mempercayai tindakanku yang tidak masuk akal? Memaksaku ke psikolog/RSJ untuk ditahan dan dirawat sebelum aku menyakiti diriku sendiri dan orang lain?

Saranku yang sedang depresi ini padamu yang merasa sedang sehat, kau berusahalah jadi orang yang berbahagia dan ceritakan kebahagiaanmu padaku. Jadilah orang ambisius, dan ceritakan perjuangan yang sedang kau lakukan, impianmu, rencanamu meraihnya. Buatkan aku harapan bahwa dunia itu baik, positif, dan umat manusia takkan bunuh diri dengan kebodohan dan depresinya. Buat aku yang sedang depresi ini punya peran dalam perjuanganmu–minimal sebagai pendengar lebih baik kalau ada proyek bareng. Jangan pikirkan depresiku, dengarkan saja ceritaku–itu cukup membantu asal kau tidak terbawa. Buat hal-hal seru denganku. Gunakan aku sampai aku mati, entah dalam waktu dekat, atau dalam waktu yang masih lama. Siapa tahu, kau yang bahagia mati duluan kan, lalu kalau aku masih depresi aku akan menyusulmu dengan bahagia pula, atau kalau aku sehat aku akan melanjutkan perjuanganmu.

Jangan ikut depresi. Jadilah keren, bantu dirimu sendiri maka kau akan membantuku. Seperti apapun akhirnya nanti.

Image result for anthony bourdain gif

Memoir, Politik, Racauan

Facebook Makan Teman

Beberapa bulan yang lalu, untuk menyambut ‘hari teman’ (friends day), facebook membuat fitur video. Isinya adalah foto-foto dan kenangan-kenangan dengan teman-teman dekat di Facebook. Mereka dengan detil mengukur statistik dan data yang menghitung waktu pertemanan, banyaknya hubungan, intensitas hubungan itu, dan saya yakin juga banyak pembicaraan pribadi soal itu.

Saya cukup kaget melihat hasil video friends facebook (yang akhirnya tidak saya posting). Artificial Intelligence yang mereka buat semakin hari semakin canggih membaca saya. Sebagai pengguna aktif bertahun-tahun, saya mulai merasa diintai dan ditelanjangi. Apalagi, di timeline suka muncul foto-foto atau status lama yang awalnya berantakan tanpa makna, tapi lama kelamaan juga mengenali saya lebih daripada saya mengenali diri sendiri: tiba-tiba beberapa pengingat ini rekat dengan kejadian yang saya obrolkan dengan orang lain di dalam messenger. Messenger saya tidak aman!

Begitupun soal iklan di bagian samping kanan. Awalnya tidak ada maknanya sama sekali kecuali sebagai iklan. Tapi semakin lama, saya tahu mereka mengikuti trend searching saya di google dengan lebih akurat. Dulu mereka cuma ikut trend saya secara harian, sekarang mereka sudah punya database saya bertahun-tahun dan tahu selera saya yang awalnya saya pikir berubah-ubah.

Ini artinya cuma satu: Facebook tidak hanya punya data-data yang saya berikan, mereka juga punya data-data yang TIDAK saya berikan, yang mereka dapatkan melalui mesin analisis dan rekaman-rekaman lain yang mereka sembunyikan. Facebook memang sudah terkenal tidak transparan soal bagaimana mereka mengolah data-data penggunanya. Mereka pura-pura bego dengan membuat slide foto di video friends day jadi agak-agak tidak nyambung supaya bisa kita edit.

Ini mulai mengganggu. Saya tidak masalah jika data-data yang saya masukan ke dalam facebook dijual untuk korporasi iklan samping. Saya juga tidak masalah mereka tahu siapa saja orang yang saya stalk. Saya memakai facebook dengan pengetahuan bahwa facebook mengintai saya juga. Itu bukan masalah. Saya toh masih bisa mendownload data-data saya di facebook. Dan tiap tahun mereka membuat laporan transparansi tentang siapa saja yang meminta data mereka.

Tapi apa yang saya takutkan sekarang bukan cuma data saya yang mereka punya. Saya takut akan kemampuan analisis engine-nya atas data saya tersebut. Daya interpretasinya sudah keterlaluan, dan melebihi apa yang sudah saya berikan pada mereka. Dengan kemampuan interpretasi tersebut, mereka bisa mengorek hal-hal yang saya tidak masukan ke dalam facebook. Mereka mengintervensi dunia nyata saya.

Saya tidak punya rahasia, tapi dunia pribadi saya bukan urusan siapa-siapa kecuali saya sendiri. Saya ingin punya kebebasan membaginya dengan siapa, termasuk dengan facebook. Ada yang saya ingin bagi dengan dia, ada yang saya tak ingin bagi. Tapi kelakuan Facebook seperti curhat pada seorang kawan yang tiba-tiba menyewa detektif untuk kepo lebih jauh mengurusi urusan saya.

Lalu di timeline, kawan-kawan yang bersebrangan dengan saya secara politis juga mulai banyak jadi baik. Awalnya saya heran, apa mereka berubah. Saya cek page mereka, dan ya, mereka tetap posting hoax, atau postingan-postingan yang paling sering saya troll. Saya masih bisa melihatnya kalau tidak saya cari–artinya ini cuma satu: berdasarkan logaritma saya dan kawan-kawan, facebook mulai menyensor apa yang ada di timeline saya. Asu.

Saya sebenarnya tidak keberatan kalau ada ilmuan yang mendata saya dengan psychotechnology atau pendekatan psikologi-sosial yang lain untuk mendata perilaku saya–toh saya telah membaca banyak skripsi dan tesis soal itu. yang saya keberatan, ilmuan-ilmuan ini juga menggunakan data yang telah dibuat dibuat privat oleh pengguna Facebook. Analisa data yang private berdasarkan interpretasi logaritma yang kita bisa lihat di video-video, iklan, bahkan status kawan-kawan di timeline sungguh mengkhawatirkan.

Lalu setelah kemenangan Trump dan kasus Facebook yang membocorkan data pengguna Amerika pada Rusia–yang berakhir pada persidangan Mark Zuckerberg, dan penjualan data pengguna pada korporate seperti Apple dan Huawei, saya semakin yakin untuk membatasi penggunaan facebook, kecuali untuk kerja.

Saya banyak bekerja menggunakan platform page mereka–saya mengurus beberapa akun facebook komunitas, kantor, dan band sendiri. Karena itu saya mengurangi penggunaan facebook untuk keperluan pribadi. Namun kehati-hatian ini sebenarnya tak guna-guna amat, secara mereka toh sudah punya lengkap logaritma saya. Dan dengan membuat setiap konten dan terhubung dengan sebanyak-banyaknya orang, saya memberikan mereka uang banyak. Saya menyuapi facebook teman-teman saya, ia benar-benar makan teman. Ini pekerjaan yang mirip bayar untuk sekolah–yang mana di sekolah, saya kerja jadi murid. Tokai.

 

 

Memoir, Racauan

Cinta dan Pekerjaan

Belajarlah dari petani yang punya tanah sendiri. Mereka tidak punya jam kerja, alat produksi milik sendiri, kerja sebentar tapi telaten, sisa waktu seharian dipakai untuk leha-leha, main judi, berorganisasi, kawin, atau berkesenian. Tapi tak ada pembagian waktu kerja dan waktu santai, toh bekerja pun tetap santai dan (buat banyak petani yang saya kenal) santai pun sebenarnya sambil kerja. Ada saja yang dibuat, dari mulai bikin alat tani sendiri, sampai bangun rumah sendiri.

Dalam konteks kota, kebanyakan kita tentu tidak bisa begitu. Kebanyakan kita yang mau punya peran ekonomi sosial harus bekerja di bawah payung korporasi dengan sistem dan jam kerja yang mengikat, dengan disiplin kerja dan target-target produksi, dan dengan keterasingan bahwa apa yang kita hasilkan adalah milik perusahaan kita. Keringat kita dibayar dengan gaji untuk hidup sehari-hari. Sistem seperti ini tentunya membuat banyak dari kita stress, apalagi kalau kita tidak mencintai pekerjaan kita.

Tapi pada kenyataannya, ketika kita bekerja hal yang kita cintai dalam konteks industri kota, kita akan tetap terasing. Saya, misalnya, sangat menyukai pekerjaan saya saat ini–sebuah pekerjaan impian dimana saya bisa memproduksi film-film dokumenter pendek secara reguler, dari belahan dunia lain, dan mengandung wacana-wacana yang mampu menggelitik (kalau tidak mengubah) peradaban. Saya cukup senang ketika membantu mengedit ulang film kawan saya dari India, Kshitij Nagar, tentang muslim Sunni dan Syiah di New Delhi yang shalat berjamaah ketika lebaran haji. Saya edit dalam bahasa Indonesia/Malaysia, dan efeknya hate speech berseliweran di kolom komentar dari orang-orang ber-IQ 2 digit. Polemik terjadi, dan mulai banyak yang dihadapkan pada keraguan, apakah kebencian ini pantas untuk terus dijalani. Pekerjaan yang sangat asik, bukan?

Dan yang paling mengasyikan dari pekerjaan saya adalah ada kuota yang harus dikejar, tapi tak ada persaingan yang harus dimenangkan–karena kebetulan kantor saya adalah non-profit yang bergerak dengan uang hibah. Memang ada deg-degannya juga ketika uang hampir habis dan harus cari perpanjangan dana–kami semua tentu takut kehilangan pekerjaan. Tapi toh, karena buat beberapa orang (seperti saya dan bos-bos saya), ini adalah pekerjaan impian, kami selalu membuat target sendiri dan menggapainya semampu kami. Dengan semampu kami bukan seadanya, karena toh target yang kami buat setinggi-tingginya. Kami sekelompok masokis yang senang menantang diri sendiri. Hahaha…

Tempo hari saya bicara dengan seorang kawan lama, pemilik sebuah agency/PH yang usahanya hampir mati. Ia stress karena perusahaannya terancam tutup karena mudahnya orang membuat produk media visual. Teknologi merusak pasar, katanya. Saya coba bahas masalahnya dengan sebuah pertanyaan, sejauh mana kamu mencintai pekerjaanmu?

Ia jawab, “Saya mencintai pekerjaan saya, tapi bagaimana caranya bekerja jika tidak ada klien, tidak ada uang?”

“Kalau memang cinta,” kata saya, “kerja yah kerja saja.” Saya jelaskan padanya bahwa kebanyakan proyek-proyek yang saya kerjakan dengan sepenuh hati dan membuat saya bahagia adalah proyek-proyek dengan bujet kecil atau tidak ada dana sama sekali. Toh sebenarnya untuk bisa kerja kita hanya butuh makan-minum-tidur–seperti layaknya para budak. Bedanya, budak dipaksa bekerja sementara saya tidak. Dalam dunia seni visual, jika tidak ada dana kamera, pinjam. Jika kurang gaul sehingga tidak ada yang mau meminjamkan, pakai HP saja. Jika tidak punya gadget apa-apa, melukislah. Jika tidak ada kertas dan alat gambar, ambil tanah, ambil batu, ambil sampah, buatlah seni instalasi. Kau bahkan bisa membuat musik dengan siulan dan tepuk tangan. Kemungkinannya tak terbatas, mengapa membatasi diri dengan uang?

“Ah, tapi seni seperti itu siapa yang mau lihat? Siapa yang mau beli?” Katanya. “Saya juga stres karena banyak orang-orang yang bukan berlatar belakang media, menjual produk media dengan harga murah.”

“Salah sendiri dijual,” kata saya.”Jual belakangan, bro. Bikin dulu aja. Lagian ngapain takut sama kemampuan orang lain bikin produk. Toh, banyak orang bisa menulis tapi berapa sih yang akan jadi penulis?”

“Ah, kalau begitu artinya masturbasi doang dong?”

“Yah, kalau masturbasi disebar kemana-mana, di kolam renang misalnya, kali aja ada yang hamil kan?”

“Gilak, lo!”

***

Seperti mencari jodoh, mencari pekerjaan yang dicintai tidaklah mudah. Saya sendiri harus eksplorasi banyak hal, mengumpulkan segala macam skill untuk berlabuh di pekerjaan ini. Bahkan saya sempat putus asa selama tinggal di Indonesia–karena tidak ada yang memakai skill saya secara maksimal dengan bayaran yang setimpal. Segala proyek-proyek non profit itu adalah lahan belajar saya, cara saya mengumpulkan skill.

Tapi sesungguhnya saya tidak benar-benar masturbasi. Saya selalu punya guru. Untuk masalah editing saya sering nongkrong di studio editing sejak saya SMA, ketika zaman masih kaset video. Copywriting sudah saya lakukan sejak SMA pula, ketika iseng-iseng membantu perusahaan iklan ibu saya. Kuliah di Sastra UI juga banyak membantu. Teater membantu saya untuk fokus pada sebuah peran. Antropologi membantu saya agar tidak anti sosial, serta melihat dari berbagai sudut pandang manusia. Kecintaan saya pada seni banyak sekali membantu saya baik dalam hal referensi ataupun konseptual, dan semua harus diawali bukan dengan mencari uang, tapi mencari kecintaan, mencari kegemaran.

Karena keluarga saya bukan role model yang baik masalah kerja, jadi saya cenderung mencari sendiri. Berbagai kerja saya geluti, dari penerjemahan sampai menjadi badut di Mal. Saya berusaha membuat diri saya sendiri. Dan di situlah saya sadar, pekerjaan tida ada hubungannya dengan kantor, atau gaji. Pekerjaan buat saya adalah pelarian saya yang paling sakral–seperti beribadah. Ia bisa saya imani, dan membantu memyembuhkan saya dari penyakit-penyakit hati dan otak. Pekerjaan adalah terapi, liburan, rekreasi. Betapa menyengangkannya mencipta sesuatu, apalagi ketika menciptakannya dengan kawan-kawan baik. Maka bahkan ketika tidak ada kantor atau uang pun, saya akan tetap bekerja. Badan gerak, tulis, rekam, edit, publish. Sumbangkan perubahan pada dunia. Konsistensi itulah bukti kecintaan, bukan hanya pada pekerjaan tapi pada diri sendiri, dan pada kehidupan.