Saya punya seorang sahabat yang sangat alim, lalu menjadi gay. Saya kenal dia sudah lama, kami sering shalat bareng ketika saya masih rajin dan dia belum ‘open’. Tapi saya sudah tahu kecenderungan bahwa dia gay, sudah lama sekali.
Saya ingat dia sangat-sangat homophobik. Saya sering sekali menggodanya, karena ketakutan dia yang paling utama adalah ‘digrepe-grepe cowok’. Dia juga sangat-sangat takut pada banci. Di situ saya mulai curiga, jangan-jangan dia sebenarnya homo. Dan karena saya tahu dia risih kalau dipegang-pegang, saya malah tambah pegang-pegang dia just for fun.
Saya bilang sama dia bertahun-tahun yang lalu: daripada lu hidup dalam ketakutan, coba lu kenalan sama gay, gue kenal-kenalin deh. Tentu saja dia jijik setengah mati. Entah karena satu atau lain hal, kami jarang nongkrong lagi. Mungkin karena saya mulai sibuk berteater, lulus kuliah dan bekerja. Tapi saya juga sempat merasa bersalah, jangan-jangan bercandaan saya keterlaluan sampai ia marah dan malas bersahabat dengan saya.
Saya bertemu dia lagi beberapa tahun kemudian. Dia sudah mapan bekerja dan gayanya jauh beda: pakai baju ketat V neck, nampak necis, dan… openly gay–khususnya pada teman-temannya. Karena sudah lama tidak ketemu, langsung malam itu kami berdua nongkrong di Margonda. Kami beli bir dan mengenang masa muda. Dia cerita bahwa keluarganya sampai sekarang belum tahu kalau dia gay, dan beberapa kali dia dijodohkan dengan perempuan. Tentu saja ini membuatnya stres. Bapak-ibunya sudah kasih ultimatum umur. Saya tahu keluarganya konservatif dan sangat strict–soalnya dulu saya sering nyontek PR agama sama dia, dan ini anak pengetahuan agamanya naujubile deh. Ketauan dibentuk jadi ‘muslim taat’ dari orok.
Dia merasa tahu keluarganya karena itu dia tidak pernah terbuka. Satu hal yang menarik, menurut dia keluarganya pun tahu kalau dia gay, tapi karena tidak menerima mereka tidak bertanya dan pura-pura tidak tahu. Seringkali keluarganya memperkenalkannya dengan kiai atau dengan psikolog konservatif yang membahas soal orientasi seksual untuk menyudutkannya agar ‘mengaku dan mau sembuh.’ Hasilnya adalah main kucing-kucingan yang membuat saya tertawa-tawa dan membuat dia cemberut karena saya tertawa-tawa atas penderitaannya.
Saya tidak bisa kasih pemecahan soal keluarganya. Saya juga sudah lama tidak menghubungi dia, entah apa hari ini dia sudah kawin apa belum. Malam itu dia sempat berterima kasih pada saya karena ‘menggodanya’ dan menyarankannya untuk kenalan dengan komunitas gay. Dia bilang, sebelum dia melakukan saran saya itu, dia pernah berusaha untuk ‘sembuh’ dan akhirnya sempat depresi. Baru dia bisa menerima bahwa dia tidak mungkin ‘lurus’ lagi.
FYI, dia belum pernah di’tusbol’ atau dipengaruhi oleh gay lain ketika dia merasa tidak mungkin ‘lurus’. Saya adalah pemuda heteroseksual yang jadi setan di awal-awal kegalauannya. Tapi saran setan saya dia mentalkan mentah-mentah sampai dia agak-agak memusuhi saya. Dia akhirnya menemukan dirinya sendiri. Dan saya tidak pernah menyesal pernah jadi ‘setan’-nya, toh dalam kucing-kucingan itu dia nampaknya jauh lebih bahagia dan gembira–bahasa inggris untuk gembira adalah…
gay.
PS: setelah dia openly gay, saya tidak pernah grepe-grepe dia lagi. Takut dibalas… hahahhahaa… Nggak asik banget kalo saya grepe dia tanpa nafsu dan dia grepe saya dengan napsu.
Setelah banyak membaca dan belajar, saya tiba-tiba sadar kalau selain kedamaian dan kekuatan spiritual, Islam juga memberikan ketakutan-ketakutan pada saya. Ketakutan-ketakutan ini membatasi pikiran dan kehidupan saya. Misalnya: saya takut pada anjing karena haram, saya takut pada orang asing (dengan agama asing), saya takut pada makanan yang dibuat orang beragama berbeda, dan saya takut pada seks, saya takut pada LGBT. Setelah banyak membaca dan belajar saya tergoda untuk menantang ketakutan-ketakutan itu. Godaan yang membuat saya menjadi lebih dewasa.
Dulu ketika umur saya lima atau enam tahun, Mama mengajarkan sebuah dzikir ketika menghadapi ketakutan, “Ya Hafidz”, maha penjaga atau maha pemelihara. Saya berdoa agar anjing itu tidak mengejar, menjilat apalagi menggigit saya. Konon ludah anjing najis dan harus dicuci dengan tanah 7 kali. (sekarang saya tidak akan menyebut nama itu lagi gara-gara seorang selebtweet yang alimnya seperti eksibisionis yang suka pamer titit, sampai saya jijik. Itu lho yang pentolan Gerakan Antimo).
Misi untuk menantang ketakutan-ketakutan itu saya jalankan. Saya buang jauh-jauh doa minta dijaga–setiap melihat anjing, saya berusaha mendekati dan membelainya. Karena teman-teman saya banyak pecinta anjing, ketakutan itu berubah menjadi kecintaan. Kini saya merasa bahwa cuci tangan dengan sabun cukup untuk menghilangkan ludah anjing. Apalagi anjing peliharaan jaman sekarang bersih-bersih dan lebih sering ke dokter untuk perawatan daripada saya. Sekarang, salah satu cita-cita saya adalah: punya anjing.
ORANG ASING DAN MAKANANNYA
Photo: Chinese Master Chef UK. ytimg.com
Saya juga diajarkan untuk takut pada orang asing dengan agama asing dan makanan mereka karena banyak sekali keharaman menyangkut makanan: awas ada alkoholnya, awas minyak babi, awas makanan dimasak dengan perlengkapan bekas memasak babi dan awas babi, anjing, kadal, buaya, haram ini haram itu. Papa saya sampai sekarang enggan makan di rumah orang kristen atau orang Cina non muslim walaupun itu saudara atau sahabatnya sendiri dan makanan sudah dilabeli “halal”, dipisahkan dari meja “Mengandung Babi”. Phobia itu tak hilang dari Papa saya yang tak relijius-relijius amat.
Saya melawan ketakutan soal asing dan makanan asing dengan logika dan riset. Sebagai antropolog yang kerjaannya harus bergaul, ketakutan soal makanan ini berbahaya, karena makan adalah tanda keakraban dengan subjek. Menolak suguhan di budaya manapun akan dianggap kasar. Kalau cuma menolak makan babi atau anjing karena muslim, masih tidak masalah. Tapi kalau menolak SEMUA MAKANAN termasuk yang sudah dilabeli “halal” hanya karena yang memasak berbeda agama, itu namanya mencari musuh.
Apalagi soal alkohol. Rata-rata semua makanan ada alkoholnya, dan kebanyakan alami– dan itu HALAL. Ketika makan bakso dengan cuka, itu alkohol. Ketika makan tape, itu alkohol. Duren, itu alkohol. Ada kawan yang menolak makan sushi karena menggunakan arak beras dan mirin di dalamnya, menurut saya itu argumen yang benar-benar tolol. Karena arak beras dan mirin di sushi tidak untuk mabuk, dan fungsinya sama seperti cuka, untuk memberi keasaman. Kalau segitu takutnya pada alkohol, makan buah-buahan saja. Tapi jangan makan duren, pepaya, nanas, anggur, dan salak–semuanya mengandung alkohol!
Intinya, semua dogma dan mitos soal makanan di Islam baiknya dipelajari benar-benar dan ditantang dengan logis. Soal Babi, misalnya. Hari ini semua muslim bisa makan babi, karena daging babi sudah ada yang halal: daging babi organik yang terbuat dari tempe dan sayur-sayuran sudah tersedia di pasaran dengan rasa yang otentik! Saya sudah memastikannya–rasanya ENAK. Dan ketakutan pada masakan orang asing, itu yang paling harus disingkirkan. Orang mengundang kita ke rumahnya, kita harus sopan. Orang sudah tahu bahwa kita muslim, dia membuatkan makanan halal, KITA HARUS MAKAN! Jangan suuzhon!
Terakhir masalah seksualitas. Bukan muhrim itu masalah besar buat orang yang dibesarkan di tradisi islam konservatif. Dulu ada kawan saya yang sama sekali tidak berani melihat perempuan! Apalagi menyentuh, dia takutnya setengah mati, bisa keringat dingin. Tentunya ini bisa disembuhkan dengan… PACARAN! Ya, saya sangat menyarankan pacaran dengan bertanggung jawab. Belajar membuat batas, belajar mengontrol dan belajar melepas kontrol. Itu penting!
Ketakutan akan seks, lawan jenis atau sesama jenis itu ketakutan tidak beralasan. Lebih logis takut pada kecoak yang bisa menyebarkan penyakit. Saya menyembuhkan ini dengan banyak bersahabat dengan perempuan, belajar feminisme, belajar teori seksualitas dan kesehatan reproduksi dan pacaran tadi. Islam yang melarang pacaran itu Islam yang tidak akan saya ikuti. Terserah kalau Felix Siauw mau larang-larang anaknya sendiri, nanti juga anaknya akan melanggar. Ha-Ha.
Ketakutan pada seks juga membawa pada ketakutan pada LGBT atau homophobia. Ketakutan ini saya lawan dengan belajar kajian gender dan memperbanyak kawan-kawan gay. Dari mereka saya belajar dan tahu banyak hal. Mereka menghargai orientasi seksual saya seperti saya menghargai orientasi seksual mereka. Kadang kami saling menggoda. Kawan saya bilang, “Semua orang itu ada homo di dirinya. Lu cobain dulu dah.”
Lalu saya jawab, “Kalo nih bray, kalo gua homo. Gua juga pasti pilih-pilih. Kalo cowoknya kayak elu, gak bakal konak gua! Lu pernah nyobain M***k gak? Kalo belom lu AMATIR! Jangan-jangan lu salah jalan.” Haha.
Saya pernah beberapa kali tidur seranjang dengan sahabat-sahabat saya–ada yang gay, ada yang perempuan bukan muhrim. Aman-aman saja, kami tidak saling iseng secara seksual dan menghormati privasi kami masing-masing. Karena kalau tidak jodoh dan tidak nafsu, masa mau dipaksakan? Apalagi kalau sudah jadi modus operandi, seperti kawan sastrawan kita yang tersohor itu. Kalau ada yang memaksa, itu namanya pelecehan seksual. Teriak aja biar tetangga pada bangun. Hahaha.
*
Achdiyat A. Miharja pernah menulis seperti ini di novel Atheis-nya (saya parafrase): Ada dua sebab ketakutan. Ketakutan karena tahu dan ketakutan karena tidak tahu. Ketakutan karena tahu adalah ketika kita sudah memastikan sesuatu bisa menyakiti kita. Misalnya kita lihat api bisa membakar dan menyakiti kita, maka kita takut pada api dan berusaha mengendalikannya. Ketakutan karena tahu adalah ketakutan yang kita perlukan untuk hidup. Ketakutan kedua adalah yang berbahaya: ketakutan karena tidak tahu. Kita takut gelap karena tidak tahu ada apa di kegelapan itu. Kita takut orang asing karena tidak kenal. Ketakutan karena tidak tahu adalah bentuk kepengecutan, dan bisa membawa kepada malapetaka.
Melawan ketakutan adalah kewajiban jika ingin hidup dengan tenang. Apa enaknya hidup dibayangi dengan ketakutan? Allah tidak akan menolong orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Untuk apa minta tolong pada Tuhan atas kegoblokan diri sendiri? Walau begitu, tidak semua hal bisa menjadi logis. Kita tidak bisa melogikakan Cinta, misalnya. Saya bisa berkali-kali menyakiti orang tua saya, menjadi anak durhaka, tapi orang tua saya tetap mencintai saya dengan sepenuh hati dan jiwa mereka–logika macam apa itu?
Saya bisa berdebat, bertengkar, dan berbeda pendapat dengan sahabat dan kawan saya, tapi di akhir perdebatan kami akan kembali bicara tentang hal-hal lain yang menyenangkan, ngeteh, ngopi dan bersilaturahmi, sebeda apapun kami. Hubungan yang saya bangun dengan orang-orang yang saya sayang tapi sangat berbeda dengan saya adalah hal mistis. Ini juga yang Islam berikan pada saya.
Islam memberikan sebuah kepastian bahwa hidup pantas dihidupi. Hidup pantas dihidupi dengan segala peperangan, kehilangan, cinta, rejeki, musibah, dan kematian. Dan kematian adalah misteri yang bisa dibaca melalui tanda-tanda yang perlu interpretasi. Mendekatkan diri kepada Allah seperti mendekatkan diri kepada alam semesta, takdir dan kepasrahan tanpa batas. Seperti mengakui kekecilan kita sebagai entitas yang hidup dalam debu biru yang sangat kecil.
Tidak ada yang lebih nyata sekaligus puitis selain cinta dan kematian, yang semuanya dirangkum dalam Islam versi hidup saya.
Saya ingat pertama kali saya shalat setelah beberapa tahun murtad, adalah ketika saya dilanda banyak masalah sekaligus: kegalauan percintaan, ekonomi pribadi, ekonomi keluarga, dan sakit psikologis krisis seperempat abad. Saat semua masalah itu menghantam keras, saya tidak punya cara lain selain shalat dan berdoa. Dan di situ saya begitu malu padaNya; bahwa pada akhirnya saya menyerah pasrah. Dan di situ, Islam dan saya menjadi begitu akrab, begitu bebas, dan begitu rahasia karena sedetil apapun saya bercerita, Anda takkan pernah mengerti penuh pengalaman dan perasaan yang saya alami. Cuma saya dan Allah SWT yang tahu.
Menjadi Antropolog yang belajar soal manusia, kebudayaan, dan kemanusiaan sedikit banyak mengembalikan saya pada Islam versi saya ini, yaitu Islam inklusif yang selalu belajar dari banyak orang. Islam saya bukan agama terinstitusi, yang butuh pengakuan dan butuh pembelaan–ia adalah ikatan pribadi saya dengan Allah SWT. Saya membutuhkan Islam seperti saya membutuhkan udara, air, makan, tempat tinggal, dan seni. Islam versi saya adalah yang membebaskan diri sendiri, tapi tidak membebaskan orang lain–karena kebebasan adalah urusan masing-masing, kita hanya bisa tunjukkan jalan buat yang butuh petunjuk saja.
Bertahun-tahun yang lalu saya pernah bertanya pertanyaan itu kepada dekan FIB UI, ketika kebijakan yang ia keluarkan merugikan banyak pihak di kampus. Saya dan kawan-kawan dari berbagai elemen kampus berdemonstrasi di depan kantornya dan si ibu dekan menerima kami untuk berdiskusi. Namun semua permasalahan yang kami ajukan ia mentalkan dengan jawaban birokrasi. Saya pikir ini sudah buntu maka saya bertanya, “Apa ibu goblok?”
Itu pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab tapi sudah pasti menyakitkan. Akhirnya ijasah saya ditahan beberapa bulan dan saya kesulitan cari kerja. Tapi beberapa masalah yang kami ajukan dapat solusi jadi, yaa alhamdulilah. Haha.
Gara-gara demo ijazah ditahan, tapi beberapa tuntutan berhasil which is nice
Beberapa jam yang lalu, saya baru saja merendahkan orang dengan kata-kata itu dalam sebuah diskusi soal LGBT. Orang yang saya tolol dan goblokan tentunya seorang maha suci yang membawa-bawa agama dan melaknatkan LGBT. Sejak awal dia tidak mau diskusi, cuma mau ceramah. Maka saya bertanya padanya, “Apa Anda goblok?” Lalu saya kabur.
Saya ingat seorang sahabat pernah merasa saya tolol dan goblokkan karena dalam diskusi soal Ahmadiyah dan Syiah dia merasa begitu tahu dan menganggap bahwa kedua golongan itu harus (1) hengkang dari indonesia atau (2) direhabilitasi ke jalan islam ‘yang benar’. Ia merasa bahwa kekerasan terhadap mereka sudah sewajarnya dilakukan. Ia belum pernah sama sekali membaca kajian soal kedua aliran tersebut, atau berniat untuk tahu. Biasa, pak Ustad pengajiannya bilang itu salah maka itu salah. Daya kritis mati sudah, dan terpaksa keluar lagi pertanyaan itu dari mulut saya, “Apa Anda goblok?” Lalu saya kabur lagi
Pertanyaan “Apa Anda goblok?” adalah senjata pamungkas saya untuk mengakhiri debat kusir. Saya tidak perlu jawaban. Saya tidak perlu memanjangkan debat itu. Ketika orang sejak awal hanya berniat debat kusir, tidak berniat belajar dan cari solusi, kita langsung tahu betapa buang-buang waktunya berdiskusi dengan orang macam itu. Jadi lebih baik diakhiri saja dengan manis.
Mungkin saya sendiri sudah lelah untuk bermain debat kusir di Internet. Mungkin saya sendiri sudah berubah menjadi orang goblok yang cuma pengen didengar dan tidak ingin mendengar apalagi diskusi/berdebat. Permasalahan yang diangkat itu lagi-itu lagi, berulang-ulang dan saya pribadi sudah bosan. Jumlah bigot tidak berkurang, malah cenderung bertambah dari hari ke hari. Tapi umur baru segini, masa nyerah!?
Saya rasa yang harus saya lakukan adalah belajar lebih banyak untuk berdiskusi sehat di internet. Berdiskusi dengan setting dan kondisi yang kondusif, dan memastikan bahwa lawan bicara memang mau diskusi. Kalau tidak mau diskusi, baiknya segera diakhiri saja, toh alat kontrolnya sudah banyak. Blog ini misalnya, saya sangat kontrol siapa yang komentar. Demokrasi? My Ass!
Kebuntuan diskusi adalah hal kontraproduktif yang sedapat mungkin saya hindari.
Tapi semua akan kembali pada takdir. Saya pernah beberapa kali menjadi orang gobloknya karena saya sembrono dan sok pintar. Dan orang serius yang mau diskusi baik-baik malah saya nafikkan dengan kasar–mungkin waktu itu saya sedang PMS. Saya pernah menafikkan seorang profesor ternama, psikolog ternama, dan ahli hukum ternama karena kesotoyan saya. Dan salah satu dari mereka pernah bertanya balik ke saya, “Apa Anda goblok?”
Waktu itu tentunya saya dengan ego saya menyangkal pertanyaan itu. Tapi sekarang saya sudah tahu jawaban pastinya.
SMP dan SMA saya adalah sekolah negeri. Tidak banyak interaksi saya soal agama di sana kecuali bergabung dengan Remaja Mushola sebentar hanya untuk merasa terasing. Saya terasing karena saya mulai suka baca. Di SMP, guru bahasa Indonesia saya adalah salah seorang yang paling menginspirasi untuk menghabiskan novel-novel klasik balai pustaka dari Siti Nurbaya Marah Rusli sampai Salah Asuhan Abdoel Moeis. Keduanya novel yang sangat dewasa untuk ukuran anak SMP, dan saya jadi agak-agak pervert karenanya. Saya ingat pernah terkunci di perpustakaan sekolah karena membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya HAMKA sampai langit gelap (filmnya tidak sekeren Novelnya, serius!). Saya membaca di pojokan perpustakaan yang selalu sepi, jadi mereka mengunci perpustakaan itu tanpa tahu kalau saya masih di dalam. Untungnya ada penjaga sekolah yang patroli malam itu dan membukakan saya.
Bacaan-bacaan membuat imajinasi saya liar. Saya ingat ketika SMP, selain di perpustakaan sekolah saya juga menghabiskan waktu dan uang saya untuk membaca buku, novel, novellette dan komik di perpustakaan pasar Kramat Jati. Waktu itu satu buku sekitar Rp. 500 jika baca di tempat, dan Rp. 1000 jika dibawa pulang dengan uang jaminan. Di masa SMP itu pula saya pertama kali habis membaca Frankenstein dalam bahasa Indonesia yang ditinggalkan om Saya, Om Donny, di rumah Kebagusan. Lalu Om Dicky (adik bungsu Mama saya) juga memberikan saya novel Si Jamin dan Si Johan karya Merrari Siregar yang isinya ada soal gubuk candu tahun 70-an dan membuat saya penasaran pengen nyimeng. (download bukunya di sini)
Di SMA bacaan saya semakin menggila. Saya mulai membaca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer dan mulai punya mimpi-mimpi menjadi Minke–tampan, intelektual, sekular, dan playboy. Waktu itu buku Pram masih dilarang, dan saya membaca stensilan milik Om Djody, kakak Mama saya. Begitu tergila-gilanya saya pada Pram, bahkan gebetan saya waktu SMA adalah refleksi dari Annelies: cewek cantik kulit porselen yang rapuh. Galaunya tidak ketolongan! Sialan imajinasi si Pram!
Yang saya baca covernya mirip ini tapi fotokopian.
Tentunya sejak saya jadi pembaca akut, dunia saya mulai berubah. Saya bergaul dengan Shaka Mahottama (kepala redaksi Pos Ronda) dan sering meminjam buku di perpustakaan pribadinya. Ketika kuliah saya semakin menggila karena koleksi Asep (sahabat saya sekaligus basis Wonderbra), lebih gila lagi: dari eksistensialisme, buku-buku puisi sampai novel-novel erotis semua dia punya dan saya lahap. Lalu saya mulai keblinger. Membaca Nietzsche, membaca Sartre, membaca Marx, membaca Dostoyevski, jadi Ateislah, Tuhan itu bohong ilusi dan sebagainya. Buku-buku mempengaruhi hidup saya dengan begitu kerasnya. Bahkan ketika mabuk-mabukan, seringkali saya ambil buku dan membaca–kadang dalam keadaan mabuk, kemampuan baca dan imajinasi saya meningkat jauh. Saya ingat sahabat saya, Pawl, Pernah keheranan melihat saya bicara sendiri di kosan. Saya berdiskusi dengan Nietzsche dan Riffaterre setelah membaca buku mereka bolak-balik buat skripsi saya.
Karena keranjingan baca dan kegalauan hormonal, keluarga saya menjadi semakin saya asingkan. Saya tidak mengerti sama sekali logika mereka, dengan agama mereka, dengan praktik hidup yang kontradiktif dengan apa yang mereka percaya. Agama menjadi semakin seperti dongeng untuk menakuti anak-anak. Saya bahkan memutuskan untuk pergi dari rumah karena masalah ini (dan banyak masalah personal lain yang tak relevan untuk diceritakan). Putus dengan keluarga sama dengan putus dengan Islam–saya menjadi pemberontak penuh, saya lawan Tuhan!
Nantinya saya tahu bahwa saya salah besar. Saya salah besar tentang banyak hal. Tentang manusia dan Tentang Tuhan. Dan tentang diri sendiri.