Horns by Joe Hill
My rating: 4 of 5 stars
DO NOT WATCH THE FILM! It’s a different story and a very bad film. At least finish the novel first so you wont get any description of the characters, because the film cast was awful.
Horns by Joe Hill
My rating: 4 of 5 stars
DO NOT WATCH THE FILM! It’s a different story and a very bad film. At least finish the novel first so you wont get any description of the characters, because the film cast was awful.

DISCLAIMER:
Dilarang posting iklan. Karena ilmu pengetahuan itu GRATIS!
Kalau Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek. Harus profesional, teratur, terstruktur dan meminimalisir hubungan negosiasi antara tukang ojek (yang disebut driver (supir) oleh Gojek, padahal harusnya Rider (pengendara) karena motor tidak disetir tapi dikendarai)). Akan ada kepastian harga, kepastian keselamatan (asuransi) dan tidak ada ruang main-main atau dipermainkan. Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan. Coba saya bantu anda dengan memori saya tentang ‘institusi lokal’ yang hendak dibantai modernisme ini.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya mengubah akun Facebook saya menjadi Guy Fawkes setelah menonton V for Vendetta. Saya bersama kawan saya (anonim) membuat akun tersebut bermodalkan akun saya, supaya si Guy langsung punya teman (yaitu teman-teman saya). Di situ, kami berkomitmen untuk membuat akun GF tersebut jadi simbolik–kami akan upload status, tulisan atau apapun berkenaan dengan gerakan sosial dan segala bentuk perlawanan terhadap tiran. Saya sendiri membuat akun FB lain, yang saat ini saya pakai untuk menulis note ini. Sampai tahun 2011 Guy Fawkes buatan kami cukup banyak followernya–termasuk follower-follower dengan nama dan foto profil sama di seluruh dunia. Guy Fawkes menjadi gerakan anonim yang besar. Ada 22.000 orang lebih di seluruh dunia memakai topeng dan nama ini di facebook. Di tahun 2011 itu lah Facebook memutuskan untuk menghapus semua member yang punya nama Guy Fawkes, God, Muhammad SAW atau Allah SWT, dan hanya memperbolehkan orang membuat Fan Page tentang tokoh-tokoh simbolik ini. Dan semua notes, serta status-status keren hilang bersama Guy Fawkes kami.
Saya baru selesai membaca sebuah buku semi autobiografi seorang filsuf kontemporer. Di dalam buku itu ada kalimat, “Jika ada orang miskin atau anak yang kelaparan di pinggir jalan, itu bukan pekerjaan Tuhan atau setan. Itu adalah masalah etika dan moral manusia.”
Dan keresahan besar saya adalah masalah ascribed status saya–bahwasannya saya lahir di kelas menengah dan saya tak mungkin mati kelaparan selama ada di lingkaran sosial saya. Waktu umur 20an awal, saya pernah memberontak: backpacking dengan uang seadanya, bahkan tidur di halte bus di pinggir jalan. Menjadi semacam kaum stoik: lapar dan terus membaca saja. Dan menghindari tanggung jawab kelas menengah untuk berfungsi secara sosial dengna status sosial saya.
Sekarang saya sudah terima takdir itu–lulus kuliah, kuliah lagi, kerja, menikah. Tapi keresahan itu toh tetap menghantui. Seakan-akan setiap suapan makanan/minuman enak, setiap uang yang terbuang adalah dosa. Kadang ketika berpikir soal kelas, saya jadi sulit bersyukur dan menjadi sinis.
Sepertinya masih ada keinginan untuk suatu hari mati di pinggir jalan. Dalam sekarat dan kesepian yang amat sangat, cuma untuk membayar dosa karena ‘mengada.’