Kurasi/Kritik, Musik

Membalas Keterasingan dengan Kolase Suara: Tentang Sonic Collage: Beats, Glitches and Digital Noises

Esei Pengantar untuk Album Iman Fattah,  “Sonic Collage: Beats, Glitches and Digital Noises,” ini pertama kali terbit di blog Iman Fattah, 18 April 2014.

imanfattah_1456187919_12

Eksistensi. Betapa mudah kita ada di dunia dan betapa berat proses setelahnya. Proses mengisi. Proses menjadi. Sesungguhnya hidup akan lebih mudah ketika kita lahir di sebuah lingkungan sederhana. Sebuah keluarga yang tinggal di hutan, tanpa koneksi ke keluarga-keluarga lain. Tanpa banjir informasi. Tanpa referensi. Aturan hidup jelas: kita hanya mesti bertahan. Tapi semua jadi ringan namun sulit dipapah ketika kita hidup di dalam masyarakat yang kompleks. Dalam teknologi yang maju, teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk membantu hidup kita, kita malah terperangkap. Di gedung-gedung. Di kubikel-kubikel kantor. Di depan TV di rumah. Dalam gubuk kumuh semi permanen di pinggir kali. Dalam bus, angkot dan mobil di kemacetan. Kita, homo Jakartanensis, adalah manusia yang menanggung beban berat. Dimana pun kita hidup, sebagai siapapun: orang kaya, orang miskin, tua, muda, berbagai macam profesi, berbagai macam etnis, berbagai macam perjuangan, kita sulit. Sulit karena kita tidak hanya dituntut untuk bertahan hidup. Kita dituntut untuk kreatif membuat identitas kita, siapa kita, apa yang bisa kita lakukan, apa yang kita bicarakan, apa yang kita tahu, apa yang kita percaya dan apa yang kita beli. Semua itu menentukan identitas kita.

mentawai-3
Suku Mentawai telah hidup di hutan hujan tropis selama ribuan tahun. Kredit foto Sergey Ponomarev untuk The New York Times

Tantangan terbesar bukan bertahan hidup. Tantangan terbesar adalah memaknai hidup. Memaknai diri dan orang lain. Memaknai dunia. Dan semakin banyak informasi, semakin banyak tahu, semakin banyak hubungan maka semakin sulit kita memaknai eksistensi kita. Semakin sulit mencari tujuan. Karena itu kita seringkali lari kepada yang menawarkan kepastian instan: korporasi kapitalis, agama, atau sesederhana menyerah kalah dengan mengerahkan tenaga kita untuk bertahan hidup saja  seperti apapun caranya—halal atau haram. Kota mengajarkan kita untuk menjadi konsumen semata. Menjadi robot yang selalu bekerja. Atau menjadi binatang yang selalu berusaha memuaskan hasrat semata. Di situ kemanusiaan kita diambil. Dalam kekayaan atau kemiskinan material, ketika kita hanya mengonsumsi, kita menjadi miskin. Miskin makna. Miskin keberadaan. Dalam konteks seperti inilah Iman Fattah mengomposisi Sonic Collage: Beats, Glitches and Digital Noises.

Melawan dengan Mengembalikan Suara

Sonic Collage: Beats, Glitches and Digital Noises melawan semua konteks di atas. Direkam dalam medium pita kaset, ia adalah sebuah abstraksi kehidupan posmodern: teknologi baru dalam medium lama. Isinya terdengar baru, namun sesungguhnya ‘hanya’ dibuat dari setitik sisa kemanusiaan dalam peradaban kota kita: setitik elemen manusia yang membaca, memproses dan mencipta hal-hal dari suara-suara keseharian yang seringkali dianggap biasa, mengganggu dan tak ada. Walaupun konsep ini sudah sering dibuat oleh banyak seniman lain baik dalam seni rupa, teater, film dan musik—dalam genre yang kini sering dikenal sebagai Neo-Realisme—namun konsep ini akan jadi selalu baru. Karena manusia adalah makhluk yang selalu unik, tak pernah diciptakan sama. Bahkan anak kembar yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang sama pun akan melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Album ini adalah sedikit permaknaan kehidupan kota. Sebuah bukti bahwa kita yang hidup dalam mesin besar ini adalah manusia, bukan robot atau binatang. Ia adalah kumpulan kolase, bukan montase. Montase adalah gabungan-gabungan elemen yang disatukan tapi memiliki batas sambungan, seperti shot-shot pada sebuah film, seperi Frankenstein, seperti Chimera. Sementara kolase adalah gabungan elemen yang menyatu menjadi satu kesatuan namun masih jelas bentuk aslinya. Seperti komposisi musik dengan suara-suara yang berbeda-beda. Kolase adalah batas abu-abu: ia tidak membuat yang lama lantas hilang jadi yang baru. Ibarat makanan, kolase bukan sup, tapi salad. Bukan sayur asem yang membuat semua bahan didominasi asam, tapi gado-gado yang rasanya khas tapi kita tahu setiap elemen yang kita makan bekerjasama membuat rasa itu.

Saya tidak mampu mendeskripsikan lagu-lagu dalam album ini dengan kata-kata. Saya tidak punya kemampuan untuk mengkotak-kotakkannya, memaknainya dengan pasti. Yang saya bisa lakukan hanya memberikan metafor-metafor untuk mendeskripsikan rasa yang saya dengar. Dan saya yakin, Iman Fattah pun, dengan semua konsep dan penjelasannya mau tak mau harus rela memberikan semua pemaknaan komposisi album ini kepada pendengar. Tapi bukan berarti album ini hadir begitu saja tanpa sebuah proses. Komposisi-komposisi ini adalah abstraksi: hasil perenungan, hasil proses yang diseleksi dan digubah secara sadar yang diambil dari alam bawah sadar. Dari suara-suara yang dihasilkan kota dan diserap oleh senimannya lalu darinya ia ramu sebuah komposisi suara.

Inilah sebuah bentuk perlawanan terhadap semua yang didengar, semua yang dikonsumsi. Suara-suara yang dianggap biasa, mengganggu dan tiada dikombinasikan menjadi sebuah aransemen. Dan bukan sembarang aransemen: seperti mencipta musik Blues, suara-suara mekanik direproduksi dengan alami, melalui proses pengendapan di alam bawah sadar dan dikembalikan ke kenyataan. Inilah perlawanan. Seperti membalas penganiyayan dengan mengembalikannya dalam bentuk pelukan hangat dengan tubuh yang terlanjur rusak. Karena itulah, jika anda merelakan dipeluk oleh kolase-kolase ini, membiarkan setiap suaranya mengalir tanpa anda mencari-cari artinya, niscaya anda akan mendapatkan sebuah katarsis, pembersihan diri, dan hubungan dengan rasa kota. Perlawanan seperti Ahimsa: melawan dengan menyerah.

Homo Jakartanensis Punya Rasa

“Gue selama ini hidup di Jakarta. Kota yang penuh hiruk pikuk manusia dengan semua kehidupan dan suara-suaranya.” Ujar Iman dalam sebuah sesi wawancara via Whatsapp (16/4). “Kenapa Sonic Collage? Karena suara-suara yang setiap hari kita dengar adalah kolase.”

Kolase di kehidupan kota adalah ekses konstruksi kota. Jika anda perhatikan, kota adalah hasil dari modernitas barat yang hadir dengan banyak pengorbanan. Seorang kawan saya pernah mengatakan bahwa Jakarta adalah kanker buat Indonesia. Jakarta menjadi metropolitan, pusat ekonomi dan pemerintahan setelah banyak kejadian berdarah. Dari zaman kolonial, pembantaian PKI tahun 65, pembantaian pemberontakan lokal di seluruh Indonesia, penjualan aset dan sumber daya alam di seluruh negeri, semua untuk memberi asupan kepada kanker ini. Dan kita hidup di dalamnya. Kita makan dari asupan-asupan darah dan penderitaan daerah tertinggal tanpa infrastruktur, dengan korup dari pemerintah lokal yang belajar dari pemerintah pusat. Di sini, di kota ini, Kanker bernyanyi dalam dentuman palu konstruksi gedung, dalam pukulan pada anak-anak jalanan, teriakan tukang bakso, suara pembawa acara infotainment, pidato politik menjual janji, iklan, mal-mal, toa mesjid yang berleleran khotbah benci dan segala keberisikan. Semua ekses ini akan memulu bising dan jahat, jika kita tidak bisa memaknainya.

Manusia Gerobak
Manusia Gerobak di Jakarta. Foto oleh Chelluz Palun (chelluznote.blogspot.co.id)

Maka kolase-kolase ini hadir sebagai sebuah komposisi yang harmonis dalam ketidakharmonisannya. Sebuah Paradoks. Oxymoron. Irasional. Seraya menantang kita untuk memaknainya sesuai dengan pengalaman dan kehidupan kita sendiri. Orang yang tidak tinggal di kota mungkin asing dengan suara-suara ini dan bisa menjadikannya sebuah kebaruan. Sementara kita manusia kota, punya tanggung jawab lebih untuk paham—bukan mengerti, tapi paham. Pengertian perlu penjelasan, namun pemahaman perlu perasaan. Pemahaman perlu kemampuan membaca, mendengar dan merasa. Dan dengan pemahaman itu kita tidak terjebak. Pemahaman membuat kita bermakna dan ada yang bisa kita lakukan dalam konteks kita ini: berproduksi sebagai diri sendiri, untuk diri sendiri dan orang lain. Berbagi pemahaman.

Tanpa pemahaman dan berbagi pemahaman maka yang bisa kita lihat dari kota ini adalah kekosongan makna. Pemuasan hasrat yang tak ada habisnya. Penghabisan umur buat sesuatu yang tidak ada artinya. Tanpa pemahaman, kita akan bergerak tanpa arti atau tujuan. Dan kehidupan menjadi ilusi. Kerja cerdas, pesta keras menjadi prinsip kehidupan kota, tapi untuk apa jika kita tidak paham untuk apa kerja dan ada apa sehabis pesta. Ketika hasil pekerjaan kita hanya uang yang kita hamburkan dalam pesta, sementara kita terasing dari apa-apa yang kita buat dan kita jual sendiri, kita terjebak dalam lingkaran kekosongan ini.

Satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan mengekspresikan rasa itu. Rasa senang, muak, sedih, tawa, tangis, bingung dan ketakutan harus keluar dari tubuh kita dan kita bagi. Seni kota kebanyakan adalah ekspresi rasa-rasa itu, termasuk album eksperimen ini. Semua nomor seperti komposisi musik klasik dalam medium baru, medium suara kota. Nuansa industrial, kesepian dalam keramaian, indoktrinasi politik dan agama serta individualisme, hadir dalam komposisi-komposisi yang berbeda-beda. Kolase adalah rasa Jakarta yang sebenarnya, karena sekeras apapun kita berusaha menjadi berbeda, kita ada di dalam konteks yang sama dan mau tak mau harus terima perbedaan-perbedaan itu. Betapapun sakitnya. Betapapun busuknya.

As We Watch in Horror

Saya tidak mungkin membahas semua komposisi dalam album ini satu persatu. Setiap nomor dibuat dalam suasana dan konteks yang berbeda-beda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih membuat artikel pendek, saya malah bisa membuat sebuah disertasi. Jadi saya memilih membahas satu lagu secara singkat, sebuah nomor berjudul As We Watch in Horror. Lagu ini menarik untuk saya pribadi karena nuansa yang ditampilkan, permainan tempo dan kekayaan komposisinya. Pembukaannya terdengar sangat kota, dengan beat yang cepat dan penuh irama ritmik mekanik. Semakin ke tengah, banyak suara-suara asing masuk dan membuat menjadi sangat horor, dan pada akhirnya tempo melambat dan nuansanya menjadi sangat…melankolik.

Lagu ini menurut saya cocok sekali dimainkan di diskotik ketika para dugemers sedang asik joged dengan inex. Karena setelah bagian tengah dan belakang, niscaya mereka akan dilanda paranoia parah dan pulang dengan melankolia. Karena pada akhir lagu ini, saya bisa merasakan sebuah ketidakberdayaan yang sangat perih. Ketidakberdayaan manusia kota terhadap apa yang mereka tahu: bahwa semua kemapanan bisa berakhir dalam kesia-siaan ketika zaman atau Tuhan atau alam memaksa mereka. Pada akhirnya manusia kota adalah manusia.

Sekedar ilustrasi, As We Watch in Horror mengingatkan saya pada sebuah pementasan teater di Amerika tahun 1970 hasil besutan sutradara, komposer dan pianis Ralph Ortiz berjudul The Sky is Falling. Penonton ditempatkan dalam sebuah ruangan dengan sebuah TV besar. Sejak awal penonton telah diberitahu bahwa apa yang mereka saksikan di TV adalah live dari ruangan sebelah. Sementara di ruangan yang lain, aktor memulai pertunjukkan dengan menyiksa dan membunuh ayam-ayam dan tikus-tikus dengan keji. Setelah pementasan, diadakan sesi diskusi. Para penonton protes, marah, dan kecewa, apalagi ketika mereka melihat ayam-ayam dan tikus-tikus yang termutilasi, dengan darah dan jeroan dimana-mana—beberapa binatang itu masih hidup. Mereka tidak bisa memaknai pertunjukan sadis semacam itu, dan menganggap Ortiz seorang sadis dan gila. Menanggapi amarah penonton, Ortiz malah bertanya balik ke penonton: “Anda melihatnya di TV, anda tahu dimana itu terjadi, kenapa anda tidak menghentikannya?”

destruct01
Ralph Ortiz dalam salah satu pementasannya, yang hari ini dikenal sebagai destructivist art.

Pementasan tersebut adalah sebuah bentuk protes terhadap masyarakat Amerika ketika melihat perang Vietnam. Televisi menyajikan hal yang terjadi di belahan bumi yang lain dan yang bisa orang lakukan adalah mengeluh dan marah-marah dari ruang TV nya—menganggap semua yang terjadi adalah sebuah ‘pertunjukan di luar kuasa mereka.’ Zaman ini tentunya sudah berubah. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi mendukung atau tidak mendukung suatu kejadian di dunia. Dari sumbangan lewat bank, atau sekedar petisi online bisa digunakan sebagai alat politik. Sayangnya, di Indonesia, orang tidak semudah itu bergerak kritis dan lebih sering menjadi penonton pasif. Semakin maju teknologi dan penyebaran informasi, semakin pasif manusianya. Dan kepasifan itu… sakit.

Itulah yang saya rasakan ketika mendengar keseluruhan komposisi panjang As We Watch in Horror. Iman menjelaskan sedikit tentang lagu itu:

Komposisi itu gue bikin sambil lihat gempa dan tsunami di Jepang. Ibaratnya ada tiga part. Part 1 yang kenceng acak-acakan. Jepang sebagai negara maju dengan sonic collage yang rame, part 2 feedback panjang ketika tsunami datang, dan part 3 kehancuran kota-kotanya setelah bencana. As We Watch in Horror adalah representasi ketika kita lihat TV, media, dan timeline. Betapa menakutkannya hal-hal ini dan gerenasi sekarang bisa melihatnya secara langsung semua kejadiannya.

Lagu itu adalah sebuah narasi panjang soal kesakitan masyarakat kota akan kepasifannya sendiri. Empati bisa kita rasakan, tapi mandeg dalam ketidaktahuan kita dan keterputusan kita untuk memberi bantuan atau berbuat sesuatu. Kita di kota lebih suka mengurus hal-hal yang dekat seperti pembunuh kucing atau etika ABG yang tak memberi duduk ibu hamil di kereta, daripada hal-hal jauh yang lebih parah. Kebanyakan kita mengeluh dan menunggu untuk ada orang yang bisa menyalurkan bantuan kita, alih-alih mencari atau membuat saluran bantuan. Filosofi kota yang kebanyakan kita anut adalah Philosophy of the Bystander, filsafat penonton.

*

Aih, saya bicara terlalu banyak. Sebaiknya kita akhiri saja diskusi ini agar anda bisa mulai mencari tahu bagaimana cara mendapatkan album ini dan merasakannya sendiri. Karena album ini penuh tantangan untuk pendengarnya baik dari konten dan distribusinya. “Gue nggak mau berbentuk album musik yang bisa dijual secara populer, makanya musik yang gue compose itu sebetulnya bukan musik, tapi komposisi,” ujar Iman.

“Telinga manusia sebetulnya punya kemampuan untuk isolasi suara;” lanjutnya. “Kita bisa mengisolasi suara mana yang mau kita fokus. Contoh, kalo kita ngobrol dengan lawan bicara di pinggir jalan yang ramai, kita bisa tahu dia ngomong apa, jadi suara jalanan berisik itu jadi background. Dari hal ini gue punya ide bahwa sebetulnya kehidupan kita ini penuh dengan kolase setiap saat.”

Ya. Kita mestinya bisa fokus. Kita bisa memilih. Bahwa dalam kesemerawutan kota, kebisingan bunyi, kita bisa pilih fokus dan tujuan apa. Album ini berusaha mengingatkan kita akan kebebasan itu, agar kita bisa bergerak dalam arus yang kacau. Kebebasan yang seringkali kita lupakan dan saatnya kita rebut kembali.

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (Part I)

Bagaimana Elit Politik dari kedua sisi spektrum politik telah merusak persamaan sosial, politik, dan lingkungan kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

 

Selama 50 tahun, Noam Chomsky telah menjadi Socrates-nya Amerika, mewabahi publik dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyengat. Ia bicara tidak kepada penduduk Athena, tapi kepada desa-desa global yang menderita, dan sekarang, sepertinya, dalam bahaya.

Dunia bermasalah hari ini masih mengetuk pintu Noam Chomsky, karena ia sudah lama memperingatkan akan datangnya angin topan. Dunia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketika Chomsky memperingatkan mereka bahwa bencana sedang mereka buat. Ingatlah ketika Chomsky membantai argumen William F. Buckley Jr., pembawa acara TV terkenal di Amerika, soal perang Vietnam di tahun 1969.

Ada hal aneh soal Noam Chomsky: The New York Times menyebutnya “bisa jadi” pemikir publik terpenting hari ini, walau koran itu jarang mengutipnya, atau berdebat dengannya, apalagi bintang-bintang media populer di televisi jaringan. Namun Chomsky tetap mendunia dan dirujuk di usianya yang ke 89 ini: ia adalah ilmuan yang mengajarkan kita untuk berpikir soal bahasa manusia sebagai sesuatu yang terpatri secara biologis, dan bukan akuisisi sosial; ia adalah humanis yang berdemo melawan Perang Vietnam dan memproyeksikan sisi lain kekuatan Amerika, awalnya atas dasar moral dan lama kelamaan untuk pertimbangan praktis. Ia menjadi rock star di kampus-kampus, di Amerika atau di luar negeri, dan ia menjadi semacam Bintang Utara untuk generasi pasca Occupy Wallstreet yang menolak kekalahan Bernie Sanders. 

Sayangnya, Chomsky tetap terasing di dunia dimana kebijakan dibuat. Tapi di markasnya, di Massachusetts Institute of Technology (MIT), ia tetap seorang profesor tua yang terkenal, yang dengan mudah dihubungi, menjawab email, dan menerima pengunjung seperti kami dengan ramah.

Minggu lalu, kami mengunjungi Chomksy dengan sebuah misi pikiran terbuka: Kami mencari pendapat yang tidak umum tentang sejarah terbaru kita, dari seseorang yang terkenal jujur. Kami bersurel-surelan padanya, dan bilang kami ingin tahu bagaimana ia berpikir, bukan apa yang ia pikirkan. Ia membalas surel kami dengan bilang ia bekerja keras dan membuka pikirannya, dan menerapkan, dalam kata-katanya sendiri, “Kemauan gaya Socrates untuk mempertanyakan apakah doktrin konvensional yang diterapkan cukup adil.”

Christopher Lydon: Kami hanya ingin Anda menjelaskan, sedang dimana peradaban kita hari ini–

Noam Chomsky: Gampang itu.

CL: [Tertawa]—Ketika banyak orang ada di tepian sesuatu, sesuatu yang bersejarah. Adakah ringkasan Anda mengenai semua ini?

NC: Ringkasan singkat?

CL: Ya.

NC: Ringkasan singkat saya pikir bisa dimulai ketika kita melihat sejarah baru-baru ini di Perang Dunia Ke-II, sesuatu yang mengagumkan telah terjadi. Pertama, kecerdasan manusia menciptakan dua palu godam raksasa yang dapat menghancurkan keberadaan kita–atau paling tidak keberadan kita yang terstruktur ini—keduanya berasal dari PD II. Salah satunya cukup mudah dikenali. Bahkan keduanya hari ini mudah dikenali. PD II berakhir dengan penggunaan senjata nuklir. Langsung jelas pada tanggal 6 Agustus, 1945, hari yang sangat saya ingat. Jelas bahwa teknologi akan berkembang ke titik dimana ia akan menjadi bencana mutakhir. Para Ilmuan sudah pasti mengerti ini.

 

Tahun 1947, Bulletin of Atomic Scientists meresmikan Jam Kiamatnya yang terkenal. [Jam kiamat adalah sebuah jam simbolik yang maju mundur menuju kiamat, kiamat adalah tengah malam. Ia meramalkan setiap kemungkinan bencana global dari nuklir, perang antar agama, hingga pemanasan global; sifatnya fluktuatif]. Kamu tahu, seberapa dekat jarum menitnya ke tengah malam? Dan itu dimulai tujuh menit sebelum tengah malam. Tahun 1953, ia dua menit ke tengah malam [menjelang perang nuklir]. Itu adalah tahun dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet meledakan bom-bom hidrogen mereka. Tapi kini kita mengerti bahwa di akhr PD II dunia juga memasuki kisah epik geologis yang baru. Epik itu dinamakan Anthropocene, kisah dimana manusia menjadi sebuah perusak atau bencana terhadap lingkungan. Maju lagi ke tahun 2015, lagi di tahun 2016. Langsung setelah pemilihan Trump di akhir Januari tahun ini, jam nya bergerak lagi ke dua setengah menit ke tengah malam, ini yang terdekat sejak tahun ’53.

Jadi ada dua ancaman eksistensial yang kita ciptakan–yang satu kemungkinan perang nuklir menyapu kita semua; dan satu lagi bencana lingkungan hidup, menciptakan akibat parah–lalu ada lagi ancaman lain muncul.

Ancaman ketiga terjadi. Dimulai sekitar tahun 70an, kecerdasan manusia didedikasikan sepenuhnya untuk memusnahkan, atau melemahkan, halangan utama yang bisa menangani dua bencana sebelumnya. Mereka menambah masalah dengan menciptakan neoliberalisme. Ada transisi pada saat itu dari periode yang banyak orang sebut “kapitalisme ter-regimen,” di tahun 50 dan 60-an, periode pertumbuhan besar, pertumbuhan egalitarian, banyak kemajuan di keadilan sosial dan sebagainya–

CL: Sosial Demokrasi…

NC: Ya, sosial demokrasi. Itu juga kadang disebut, “masa keemasan kapitalisme modern.” Itulah yang mengubah tahun 70-an dengan cara pikir era neoliberal yang sampai sekarang kita hidupi. Dan jika Anda tanya diri sendiri, era apakah ini, prinsip utamanya adalah era dimana terjadi pengrusakan mekanisme solidaritas sosial dan dukungan sesama dan keterlibatan populer dalam menentukan kebijakan.

Tapi era ini tidak pernah menyebut dirinya demikian. Apa yang hari ini disebut “kebebasan,” arti sebenarnya adalah manut pada kuasa yang terpusat, tak bertanggung jawab, dan swasta. Itulah arti sebenarnya. Intitusi pemerintahan [demokratis]–atau asosiasi-asosiasi lain yang memperbolehkan masyarakat terlibat dalam pembuatan kebijakan–secara sistematis dilemahkan. Margaret Thatcher mengatakannya dengan gamblang ketika bilang, “tidak ada masyarakat, yang ada hanya individu-individu.”

 

Bersambung ke part II.

Memoir, Politik, Racauan

Tidak Ada Maaf Ramadan Ini

Disclaimer: Bukan tulisan untuk diskusi atau dialog, cuma luapan stres dan kemarahan. Jangan dibaca kalau mau sehat.

pawai_obor_20160912_094604

Dua hari ini saya tertekan. Video-video yang masuk untuk saya kerjakan, adalah video-video yang tak pernah saya bayangkan ada di Jakarta di saat bersamaan, dari inisiasi preman yang membacok secara acak, bom bunuh diri kampung Melayu, dan di malam yang sama, anak-anak kecil berteriak bunuh-bunuh Ahok. Saya selalu berusaha mengerti dan memahami bagaimana pikiran manusia bekerja, tapi beberapa hari ini, saya benar-benar gagal paham.

Besok malam ada tabligh akbar di depan rumah. Saya tidak pernah absen mendengarnya, karena masjid punya toa yang sangat besar dan, ini epik, pernah di suatu gang, saya melihat komunitas pengajian yang jauh dari masjid, mendirikan tenda, menaruh TV LED di atas panggung, lalu memasang live feed youtube dari masjid besar, lengkap dengan amplifier-amplifier dangdut menggemakan suara si Habib. Sponsornya tetangga-tetangga saya sendiri. Nampaknya tabligh akbar sabtu ini akan menggunakan cara yang sama.

Pilkada DKI Jakarta telah membawa eksesnya, dan sentimen ini sudah pasti ditunggangi banyak pihak dari opisisi pemerintahan, lalu teroris. Mungkin inilah arti pemerintahan Rakyat yang sebenarnya: rakyat memenangkan seorang gubernur dengan sentimen agama, rakyat menyebar kata-kata kebencian, dan rakyat menuai hasilnya: anak-anak bermulut sadis dan sepasang Jihadis di terminal bus.

Setelah itu pun, akal nampaknya tak juga menyala malah tambah gelap. Teori konspirasi berseliweran, menuduh polisi dan pemerintah sebagai dalang pemboman bunuh diri, sebagai pengalihan isu untuk menangkap mahasiswa Islam yang sedang berdemo di Istana negara. Mahasiswa yang merasa sangat penting, dan sangat cerdas hingga penangkapannya seakan-akan memerlukan pengorbanan 3 orang polisi di Kampung Melayu. Padahal kalau kita baca berita, mahasiswa-mahasiswa demonstran itu otaknya taik kotok: kecil, sangit, baunya setengah mati dan sering jadi jebakan batman di jalanan.

Sungguh menahan mereka sama saja seperti menculik anak miskin yang makannya banyak–tak ada untungnya banyakan ruginya.

Kenyataannya begini kawan, itu hoax-hoax dan teori konspirasi dibikin oleh dua macam orang. Pertama, orang bebal yang ngotot bahwa dia benar dan ingin dapat perhatian; kedua orang cari uang dari klik, iklan, dan duit politik oposisi buat bikin rusuh, dengan tujuan yang lebih jelas: duit. Lalu orang-orang tolol klik, share, dengan rajin copy-paste di WA grup, dan tidak mau dipersalahkan kalau itu hoax, “mana saya tahu, saya kan cuma share dan ingin tahu pendapat kalian di grup ini,” kata si penyebar kotololan. Padahal kita semua tahu, ketololan yang ia sebar didasari atas benci kepada siapapun yang didiskreditkan hoax itu.

Persis seperti orang-orang yang bilang anti-terorisme tapi di saat yang sama mendukung ISIS, dan menyebar kebencian kemana-mana. Dan apapun yang kita sodorkan, argumen sudah mati. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk bicara, karena bicara dijamin konstitusi. Dan tidak ada yang bisa membuat mereka berpikir logis, atau sekedar punya empati pada orang yang berbeda. Jadi muslim yang baik tambah sulit. Di kanan dibilang radikal sementara di kiri dikafir-kafirkan.

18671491_1234722746649797_1134553460836842586_o.jpg

Begitupun mereka yang mengaku liberal, progressif, pendukung Ahok si kalah itu, terus-terusan tidak bisa move on, melemparkan kritik-kritik pada gubernur yang bahkan belum mulai kerja, menyebar hoax-hoax atau berita fakta parsial, hanya untuk nyinyir saja. Eh tot, lu ga ada kerjaan lain? Ini udah darurat bulan puasa isinya telek! If you’r not part of the solution, you’re part of the problem–heck there’s a possibility that you ARE the problem in the first place.

Lalu kalau sudah tidak bisa berdialog, dan hanya bisa bermonolog sama-sama begini, bagaimana cara minta maaf? Bagaimana cara memaafkan? Ramadan ini akan jadi Ramadan terburuk sepanjang tiga dekade hidup saya; sama sekali tidak ada keridhaan di hati saya, dan niat ibadah sudah hilang sama sekali. Setiap detik saya mau muntah, karena toa tak henti-hentinya berteriak-teriak serak. Saya tidak bisa lagi membedakan mana yang dzikir dan mana yang makian. Masjid bertambah megah, tapi udaranya kotor.

Ini seperti menghadapi setan kiriman yang mengganggu tidur. Saya ingin berdzikir untuk melawan kebencian, si setan berdzikir menyebar kebencian. Saya ingin mengaji biar damai, si setan mengaji biar perang dan terbakar. Ah, taiklah semua ini. Marah sendiri tidak ada gunanya, membuka hubungan untuk mengerti terasa sangat menghina pikiran dan hati nurani.

Lalu harus apa? I need an explanation but everything is so scattered now, I got disoriented. Mungkin saatnya mencari ganja ke kampung Arab di belakang komplek rumah. Bandarnya sudah naik haji dua kali dan nampaknya santai saja dengan keadaan ini, tak pernah benci-benci, menjadi sufi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Katanya, “Yang haram adalah yang memabukkan. Cimeng ini menyadarkan, jadi halal.”

Bener, Ji. Suntikin dulu, baru saya maafin semua orang dan ibadah enak Ramadan ini. SSSSUUUUTTT!!!!

1200px-arabischer_maler_des_krc3a4uterbuchs_des_dioskurides_004

Politik, Racauan

Kita Semua Intoleran!

Sebenernya apa sih, toleransi dan intoleransi? Toleransi berasal dari kata toleran. Menurut KBBI, toleran adalah “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”.

Sesungguhnya definisi KBBI ini kurang tepat. Dalam bahasa Inggris di Kamus Besar Miriam Webster, arti kata toleransi lebih luas lagi. Ada 4 artinya. Pertama, dan yang paling penting, “kemampuan untuk menanggung sakit dan kesusahan” ; kedua “simpati atau mendukung kepercayaan yang berbeda dengan dirinya sendiri atau tindakan mengijinkan sesuatu yang berbeda”–ini mirip KBBI; ketiga, “sikap memperbolehkan sesuatu melenceng dari standar”; ke empat, “kapasitas tubuh untuk bertahan terhadap obat atau racun” atau “jumlah pestisida yang dapat dikonsumsi di dalam makanan.”

KBBI, dan bahasa Indonesia memang selalu berusaha menyederhanakan banyak hal, dan ini jadi masalah. MASALAH BESAR.

Intoleransi menjadi peyorasi, orang tersinggung dibilang intoleran. Toleransi menjadi pujian, dan terus menerus didengungkan. Dua hal oposisi biner, yang jadi sederhana sekali, seperti baik-jahat, atau muslim-kafir.

Padahal kerumitan toleransi ini bisa dijelaskan secara sederhana. Semua orang pada dasarnya toleran dan intoleran. Toleran dan intoleran itu seperti dua kutub, dimana kita, manusia, memiliki kadarnya masing-masing tergantung pengalaman dan pengetahuan kita.

Umpamakan orang yang alergi pada udang. Artinya tingkat toleransinya pada udang sangat kecil. Makan udang, dia langsung bengkak. Ada lagi lactose intolerant, atau tidak toleran pada susu. Minum susu, langsung berak-berak.

manfaatkan-minyak-jarak-untuk-atasi-alergi-udang-kepiting

Di Indonesia, toleransi hanya ditujukan pada budaya dan agama. Orang dibilang intoleran pada agama lain, ras lain, LGBT, jenis kelamin lain. Sementara itu, orang yang toleran pada agama lain, ras lain, LGBT dan jenis kelamin lain merasa dia lebih tinggi. Padahal dia belum tahu saja, siapa tahu dia intoleran pada hal lain–orang miskin pinggir kota yang digusur misalnya. Kawan-kawan saya yang mengaku toleran ini, banyak lho yang senang penggusuran untuk membuat kota lebih baik, dengan slogan “kalau miskin jangan hidup di Jakarta.” Apa itu toleransi?

Kemarin saya sempat berdebat dengan seorang kawan yang bilang bahwa ada kawannya seorang Islam konservatif yang toleran. Saya bilang, kalau dia konservatif artinya dia cenderung mempromosikan ‘intoleransinya”, dan itu bukan hal yang buruk. Muslim yang baik, sudah seharusnya intoleran pada dosa. Cuma kadar intoleransinya saja yang harus dikontrol. Kadar ini bisa terlihat dari cara dia memperlakukan hal yang ia takkan tolerir. Misalnya si Muslim ini percaya bahwa orang Islam tidak seharusnya memilih pemimpin non-muslim–sekompeten apapun dia. Di sini, agamanya berseteru dengan demokrasi dan konsep negara kesatuan. Di sini, ia memilih sebuah intepretasi agama, yang tidak kompatibel dengan demokrasi.

Mungkin ia toleransi pada non-muslim pada kehidupan sehari-hari. Mungkin juga di kantornya, ia punya bos non muslim. Tapi sendainya ia bisa memilih, dalam konsep demokrasi, ia akan memilih pemimpin Muslim sejelek-jeleknya, daripada pemimpin non-Muslim sebaik-baiknya–ini saya tidak bicara soal Anies-Ahok, karena Anies tidak sejelek-jeleknya pemimpin Muslim dan Ahok tidak sebaik-baiknya pemimpin non muslim.

Contoh lain, salah seorang sepupu saya, salah satu muslim baik yang saya kenal, tidak mentolerir LGBT. Tapi dia punya beberapa kawan gay, dan ia takkan lelah untuk mengingatkan bahwa yang baik adalah jadi straight. Tapi saya yakin, kalau ada yang hendak menyakiti kawan gay-nya itu secara fisik, melanggar hak asasi kawannya itu, pasti dia membela. Bukan karena gay itu benar, tapi karena gay juga manusia dan semua manusia punya hak asasi dasar. Nggak bisa ‘menyembuhkan’ gay dengan memukulinya, apalagi membunuhnya. Membunuh gay cuma akan membuat dia kehilangan kesempatan bertobat.

Dari ilustrasi itu saja kita lihat spektrum toleransi. Ada yang intoleransinya ekstrim sehingga mau membunuh dan menyakiti, ada yang medium, yang bisa mentolerir selama ‘lu gak pegang-pegang gue,” dan ada yang tingkat toleransinya tinggi, sehingga dengan sendirinya menjadi gay.

Soal gay, toleransi saya termasuk medium. Saya tidak percaya itu penyakit. Saya banyak punya teman gay. Tapi saya MEMILIH untuk straight. Bukan karena agama tapi karena pengalaman dan preferensi hidup saya saja. Namun soal pelecehan seksual, intoleransi saya lumayan tinggi. Ada yang menggrepe atau memaksa saya secara seksual (baik lelaki atau perempuan) ya saya jotos secara spontan.

Namun ada satu yang menggelitik saya soal toleransi kita di Indonesia mengenai LGBT–khususnya Gay. Secara kultural, kita punya banyak gender khususnya di budaya-budaya tradisi kita, seperti pendeta Bissu di Sulawesi. Agama semitik masuk dan mengajarkan kita untuk takut dan anti terhadap homoseksualitas. Neo-maskulinitas (keinginan untuk menjadi jantan karena takut disaingi perempuan atau diperkosa lelaki) juga menjangkiti perpolitikan kita, baik di tingkat individu atau di tingkat parlemen (lihat UU kita yang sangat bias gender). Namun sebenarnya di saat yang sama, kita mentolerir homoseksual dalam tingkatan tertentu.

Ambil kasus penggrebekan Atlantis Gym, dimana ratusan orang lelaki ditangkap dan diarak telanjang karena pesta seks. Kalau Anda iseng membaca koran-koran kelas menengah bawah, pengarakan telanjang tidak hanya terjadi pada gay. Seringkali penggrebekan di hotel-hotel melati, atau ketahuannya muda-mudi bercinta di taman kosong, juga berakhir ke penelanjangan dan pengarakan. Yang membuat kasus Atlantis spesial adalah ini kasus homoseksualitas dan pelakunya ratusan orang. Pada tahapan tertentu, ada egalitarian di mata hukum sosial: homo atau hetero, ketika ketahuan, Anda diarak telanjang.

Di sinilah lucunya. Seorang kawan saya yang gay berkata begini dalam facebook messenger: “Gue sih seneng lihat foto-foto [pria gay telanjang Atlantis] itu, six pack. Bagus-bagus. Coba kalo lo yang ketangkep Nos. Flabby, nggak enak dilihat.” Bitch.

Sebagai seorang gay yang sudah lama open ke tema-temannya, kawan saya ini nampaknya tidak begitu khawatir. “Kalo nggak mau digrebek ya main aman.” Kata dia.

six-pack-abs_14_3

Jadi menurut pendapat saya, selama tidak seperti di Aceh, dimana Gay harus dihukum cambuk lebih dari 80 kali, masih mending lah di Jakarta (dan banyak kota besar di Indonesia). Tingkat toleransi terhadap Gay cukup tinggi untuk ukuran negara mayoritas Islam di dunia. Media mainstream pun masih mengandalkan MC dan selebriti gay sebagai salah satu amunisi utama entertainment mereka, dengan syarat ‘Gayness’ hanya boleh simbolik (pakaian, cara bicara, gaya metroseksual). Toleransi kebanyakan orang Indonesia terbatas sampai pengakuan publik.

Permasalahan utama dalam kasus Atlantis, dan banyak penggrebekan lain baik yang hetero atau pun yang homo, adalah masalah politik tubuh. Negara selalu merasa punya hak atas tubuh warganya. Sehingga walau Indonesia mengakui standar hukum Internasional yang anti-penyiksaan, di sana-sini masih banyak kebocoran. Menelanjangi termasuk suatu bentuk penyiksaan, apalagi hukum pecut. Hukuman fisik, semestinya sudah tidak terjadi lagi hari ini, idealnya. Namun toh itu tetap masih dilakukan di banyak tempat, seperti dalam operasi intelijen/tentara, perpeloncoan kampus/akademi, dan tindakan main hakim sendiri masyarakat kita.

Politik tubuh juga menyangkut segala macam UU yang mengatur bagaimana cara warga negara berpakaian dan merasuki ranah privat kita–UU anti pornografi misalnya, yang pasal karetnya kini dipakai menjerat junjungan kita, yang mulia, HRS. Dalam konteks ini, hukum yang harusnya jadi batas toleransi Negara, dengan mudah dipermainkan oleh banyak pihak yang berebut kepentingan.

Oposisi HRS, Ahok BTP, nampaknya sudah sangat memahami ketika ia mencabut niatnya untuk banding atas vonis 2 tahun penjara yang lebih berat dari tuntutan Jaksa itu. Ia tahu, permainan demonstrasi artinya memberikan panggung untuk para provokator dan perusuh bayaran. Ia tidak mau memilih cara opresi yang sama. Ahok sepertinya akan kembali kepada idealismenya dalam mengopresi: menggunakan konstitusi dan taktik politik bawah tangan yang lebih jitu daripada main pertunjukkan otot massa. Ia tahu pasti, bahwa toleransi dan intoleransi orang Indonesia masih mudah untuk dipermainkan–spektrumnya masih luas. Hidup jadi seru, ketika kita menunggu manuver selanjutnya dari mantan Gubernur kita ini. Karena tidak seperti lawannya, ia tidak lari. Ia mencintai Indonesia dengan baik dan buruknya.

ahok2bhoax

Kesimpulan dari tulisan ini adalah: toleransi-intoleransi adalah barometer kemanusiaan kita, dan seperti identitas, ia tidak pernah saklek. Dengan semua hal besar yang terjadi beberapa bulan ini, kita semua baik yang liberal atau yang konservatif, bisa optimis pada perjuangan masing-masing. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Masih ada cara menjadi besar.”