Film, Film/Video, Kurasi/Kritik, Portfolio, Workshop

Memperkenalkan Film Pertama MondiBlanc Film Workshop: Santri Santri Silat

sss2rm
Poster oleh Rizqi Mosmarth

Berawal dari kesibukan super hectic pasca pulang dari US, serta berbekal rasa kesal karena nggak sempet lagi berteater malam-malam, dan band Wonderbra yang tak kunjung berkumpul untuk latihan, saya mengajak beberapa kawan dan junior untuk kongkow bareng di akhir pekan dan membuat video-video iseng.

Setelah dua film improvisasi dan tiga episode tutorial teater, Agung Setiawan, asisten dosen di departemen Filsafat UI, mengajukan ide cerita yang sangat menarik untuk menjadi sketsa sederhana–ide cerita yang membuat saya merasa sayang bahwa filmnya hanya akan jadi sketsa dan tidak digarap terlalu serius. Maka saya mengajak seorang kawan, DoP Koda Aksomo, untuk membantu pembuatan film horror berjudul “Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka.” Saya sendiri menyutradarai film ini. Film ini masih dalam tahap post-produksi dan membutuhkan kerja yang cukup panjang–apalagi dilakukan oleh para relawan yang sehari-harinya sudah sangat sibuk.

Di tengah-tengah penantian penyelesaian film tersebut, kawan kami Maftuh Ihsan, wartawan salah satu media bisnis, mengajukan sebuah ide untuk membuat film silat. Sebagai wartawan dan orang teater yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan dunia film (seperti kebanyakan anak-anak di workshop tersebut), Maftuh mengajukan sebuah naskah yang sangat teatrikal dan tidak mungkin untuk diproduksi jadi film pendek–terlalu banyak dialog dan plot yang ngejelimet.

Namun keberadaan Noer Faryza Sani dan Rasikh Fuadi yang memang bisa silat, dan Kevin Darius yang menjadi penata gerak, membuat kami sangat bersemangat untuk membuat ceritanya jadi mungkin untuk diproduksi. Akhirnya setelah brainstorming dan diskusi berhari-hari, suatu pagi buta lahirlah naskah film pendek yang diberi judul “Santri-Santri Silat”–judul yang diberikan oleh celotehan Rifqi “Ogi” Hasfi, editor di workshop kami yang sedang sibuk menggarap post-produksi film Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka. 

Sebagai sebuah workshop, saya dan Mike Julius bertindak sebagai kameramen (belum pantas menyebut kami DoP di film ini karena kami pun terlalu sibuk untuk bisa mengikuti praproduksi film ini secara pantas–haha). Saya sendiri memproduseri dengan membuat desain produksinya. Saya dan Mike berusaha menjaga aura belajar di workshop ini, dan berusaha memberikan ruang bagi setiap orang untuk membuat terobosan yang tak terduga termasuk juga kesalahan-kesalahan awam. Kami juga menahan segala ego kami tentang apa yang harusnya ada dan tidak ada dalam sebuah produksi film. Saya dan Mike berusaha untuk menjaga standar dasar dari film ini, minimal storyline dan penyampaian harus jelas–namun permasalahan teknis seperti banyaknya shot yang harus diambil serta konsep sinematografinya kami coba buat sesederhana mungkin yang bisa diikuti non-profesional.

Di tengah-tengah kesibukannya, musisi Avrila Bayu Santoso meluangkan 8 jam waktunya untuk membuat scoring (3 jam) dan sound effect (foley) (5 jam). Film ini dikerjakan cukup terburu-buru, dengan tiga kali latihan fighting, seminggu editing, dan 8 jam scoring, karena keinginan MondiBlanc untuk mengikutkannya ke dalam sebuah lomba. Saya pikir, hitung-hitung film pertama, tak apalah dicoba-coba. Banyak hal yang tidak bisa diperbaiki di Post-pro yang singkat; bahkan ada beberapa shot yang menurut saya harus disyuting ulang jika ada dana dan waktu yang cukup untuk semua orang. Tapi itu masalah belakangan. Jangankan post produksi, aktor kami saja belum sembuh benar dari luka-luka produksi ketika film ini selesai.

Ya, syuting satu hari menghasilkan banyak luka-luka. Aktor Rasikh Fuadi mengalami gegar otak setelah 12 kali take shot ia dibanting. Aktris Noer Faryza sempat lumpuh tak bisa jalan seharian setelah syuting karena banyaknya luka-luka akibat beradu tendangan. Kami belajar begitu banyak dari produksi film ini, dan benar kata Jackie Chan: yang diperlukan dalam sebuah film bela diri bukan masalah skill, tapi masalah kesabaran, waktu dan uang. Untuk satu shot, Jackie bisa menghabiskan 120 take, agar ia mendapatkan aksi yang ia inginkan,”Karena penonton tak mau tahu masalah produksimu, begitu film dirilis, ia akan selama-lamanya menjadi catatan sejarah.”

Apapun hasilnya film ini, inilah hasil kerja keras dalam waktu yang singkat. Saya pribadi tidak menyesal sama sekali melewati semuanya bersama MondiBlanc. Nantinya, waktu dan jam terbang toh akan meningkatkan kualitas film mereka ke depannya; juga kualitas saya sebagai pengajar–sejauh ini saya merasa masih sangat bodoh. Yaah, sepuluh film lagi laah.

Maka dengan ini saya persembahkan film keempat MondiBlanc, namun yang pertama kali kami rilis di Youtube, “Santri-Santri Silat.”

Selamat menikmati dan jangan lupa untuk dukung kami dengan subscribe, like dan comment di akun Youtubenya.

 

 

Alam, Eksistensialisme, Memoir, Perlawanan, Puisi

Melihat Indonesia Dari Jauh

freezing_rain_on_tree_branch

Aku di negeri orang dan tadi malam hujan batu menimpa kepalaku
Di kampung halaman aku dipandang terhormat, apa aku mesti pulang?

Melihat Indonesia dari jauh
Ada kerinduan kesumat yang salah alamat
Maksud hati memuja rumah tapi yang terlihat
adalah penjara dengan jeruji keacuhan tingkat

… Dewa

Di kelas, kami membaca teks dari para begawan
soal Indonesia dari mata tajam para ilmuan
kritik kebudayaan yang terasa merendahkan
kami tersinggung, kecewa meyadari pikiran
orang-orang cerdas melihat negeri tiran

Lalu kini kami yang jauh
meneropong negeri lewat jendela
dan kami mulai paham kenapa
para begawan menulis berpeluh

Karena cinta dari kejauhan
jarak dan waktu memberi kejernihan
melihat kebencian dan ketersesatan
lebih jelas daripada di pekarangan

Aih, jiwa ingin kembali
tapi tubuh tercekat
kami ingin kembali
tapi tidak terlalu cepat

Siapa yang tidak kangen
pada keluarga dan sahabat?

Siapa yang kangen
pada kemunafikan dan korupsi?

*

Aku di negeri orang dan tadi malam hujan batu menimpa kepalaku
Di kampung halaman aku dipandang terhormat, apa aku mesti pulang?

Kemanapun aku pergi rumah kubawa di hati
di sana, di rumah hatiku,
selalu hujan belati.

Washington DC, Maret 2016

Perlawanan, Puisi

Interupsi Pidato, Interupsi

Mari kita lupakan yang sudah berlalu
segala pembunuhan, pembantaian, penculikan
itu adalah bagian dari perkembangan peradaban kita

Negara-negara besar bisa besar karena genosida
suku Asli Amerika, Armenia Turki, Yahudi Jerman
biarkan saja mereka semua mati dan hilang
itu adalah bayaran atas peradaban

Jika kau memaksa agar mereka tetap diingat
apa kau mau mengingat pembantaian di Mesopotamia
serangan yang menghabiskan Babylon dan menara gadingnya

Apa kau mau menghitung pembantaian yang dilakukan
suku Maya pada orang rimbanya sebelum orang Eropa datang

Lepaskanlah, lupakanlah
mari kita songsong jaman baru
mari kita bangun peradaban ini
bersama menuju—

Pak

Ya?

Saya tidak kenal orang-orang yang bapak sebut 
tapi bapak sudah membunuh saudara
dan kawan-kawan saya

Lalu

Ya minimal saya pengen semua orang tahu
kalau bapak bukan orang baik dan tidak
semestinya berkuasa

Waktu saya menculik dan membunuh dulu
itu adalah demi kebaikan bersama
itu bukan dosa
bukan!

Terserah bapak tapi bapak sudah
menculik dan membunuh
orang tak bersalah

So?

Saya mau bilang itu berulang-ulang
sambil berdiri di sini

Buat apa?
Saya tak lihat saya tak dengar kok

Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah

Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah

Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah

Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah

Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah

— Dan si orator tetap tidur nyenyak di malam hari, dengan bisikan-bisikan itu.

Racauan, Workshop

Bermain Shakespeare (dalam konteks Indonesia)

Tulisan ini diterbitkan pertama kali di website teater katak. Dalam blog ini diedit ulang seperlunya.

Ilustrasi William Shakespeare/Kalya Risangdaru
Ilustrasi William Shakespeare/Kalya Risangdaru

Tulisan ini adalah penjabaran cara memainkan karya-karya William Shakespeare dalam konteks Indonesia yang dikompilasi dari sumber-sumber online dan pengalaman pribadi saya dalam memainkan dan mengkaji drama Shakespeare. Ada tiga hal yang harus saya tekankan sebagai prasyarat pembaca artikel ini. Jika seorang aktor/pembaca tidak memenuhi syarat-syarat di bawah ini, maka saya sarankan untuk mendiskusikan artikel ini dengan aktor/pelatih/sutradara yang berpengalaman ketika mencobanya. Karena drama Shakespeare mau tak mau akan selalu memiliki konflik interpretasi; bahkan untuk penonton berbahasa Inggris sekalipun, dialog Shakespeare seperti bahasa asing.

Baca lebih lanjut