Ethnography, Politik, Racauan

Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

www.go-jek.com
http://www.go-jek.com

DISCLAIMER:

Dilarang posting iklan. Karena ilmu pengetahuan itu GRATIS!

Kalau Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek. Harus profesional, teratur, terstruktur dan meminimalisir hubungan negosiasi antara tukang ojek (yang disebut driver (supir) oleh Gojek, padahal harusnya Rider (pengendara) karena motor tidak disetir tapi dikendarai)). Akan ada kepastian harga, kepastian keselamatan (asuransi) dan tidak ada ruang main-main atau dipermainkan. Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan. Coba saya bantu anda dengan memori saya tentang ‘institusi lokal’ yang hendak dibantai modernisme ini.

Baca lebih lanjut

Filsafat, Politik, Racauan

Dari Manusia Bernama Guido ke Ide bernama V: Kenapa Demonstran KAMMI Gagal Total


Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya mengubah akun Facebook saya menjadi Guy Fawkes setelah menonton V for Vendetta. Saya bersama kawan saya (anonim) membuat akun tersebut bermodalkan akun saya, supaya si Guy langsung punya teman (yaitu teman-teman saya). Di situ, kami berkomitmen untuk membuat akun GF tersebut jadi simbolik–kami akan upload status, tulisan atau apapun berkenaan dengan gerakan sosial dan segala bentuk perlawanan terhadap tiran. Saya sendiri membuat akun FB lain, yang saat ini saya pakai untuk menulis note ini. Sampai tahun 2011 Guy Fawkes buatan kami cukup banyak followernya–termasuk follower-follower dengan nama dan foto profil sama di seluruh dunia. Guy Fawkes menjadi gerakan anonim yang besar. Ada 22.000 orang lebih di seluruh dunia memakai topeng dan nama ini di facebook. Di tahun 2011 itu lah Facebook memutuskan untuk menghapus semua member yang punya nama Guy Fawkes, God, Muhammad SAW atau Allah SWT, dan hanya memperbolehkan orang membuat Fan Page tentang tokoh-tokoh simbolik ini. Dan semua notes, serta status-status keren hilang bersama Guy Fawkes kami.

Baca lebih lanjut

Eksistensialisme, English, Memoir, Puisi, Racauan

Living is Easy with Eyes Closed…

wpid-20150318_175850.jpg

I want everybody to see what I can’t see.

The faith and the belief that everybody have feelings. Including you people.

You people are seen as you want them to see you: cheap, marginalized, exploited, evil, poor.

But I refuse to believe thay because you people survived. As people. Not as animal.

You have love and loved. You have happiness and sadness, in between them you have good and evil. In between good and evil you have calculation and logical reasons of your own.

No matter how error and full of fallacy from common logic, no matter how illogical, it is your own reason.

And if one care to see the bigger context one will understand them. One will know thay if one put themselves in your shoes, one will be you and nothing else. Everybody’s not free. Everybody bound to existence.

I can’t see that right know. My eyes are common eyes like yours or theirs. But I believe its there: the story of being human. I want to see that. And share that. We will meet again. And we will prove to them, that they are us.

Like you are me.