Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam, Bagian I: Kontribusi Ilmuan Arab

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Islam kontemporer tidak dikenal karena keterlibatannya dalam proyek sains modern. Tapi Islam adalah pewaris “Masa Keemasan” yang legendaris dari sains Arab yang sering dielu-elukan oleh para komentator, supaya Muslim dan Barat bisa saling menghormati dan mengerti satu sama lain. Presiden Obama, contohnya, di pidatonya tanggal 4 Juni 2009 di Kairo, memuji Muslim untuk kontribusi intelektual dan keilmuannya pada peradaban.

Islamlah yang membawa cahaya belajar selama berabad-abad, membuat jalan untuk Reinassance di Eropa dan masa Pencerahan. Inovasi di komunitas Muslim berkembang menjadi aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; kemampuan kita menggunakan tinta dan mencetak; dan pengertian kita tentang bagaimana penyakit bisa menular dan bagaimana menyembuhkannya.

Puja-puji untuk era sains Dunia Arab biasanya dibuat untuk melayani titik politik yang lebih luas, karena biasanya ia jadi pendahuluan sebelum membicarakan masalah terkini wilayah tersebut. Puja-puji itu menjadi nasihat yang tersembunyi: Masa kehebatan sains dunia Arab memperlihatkan saat itu tidak ada halangan kategori atau asali untuk menjadi toleran, kosmopilitan, dan untuk maju dalam Islam Timur Tengah.

Siapapun yang sudah tahu soal Zaman Keemasan ini, yang secara kasar terbentang dari abad delapan sampai abad tiga belas masehi, pasti tercengang ketika membandingkannya dengan keadaan Timur Tengah hari ini–apalagi ketika membandingkan Timur Tengah dengan bagian dunia yang lain. Dalam bukunya yang terbit tahun 2002, What Went Wrong? (Apa Yang Salah?), sejarawan Bernard Lewis mencatat bahwa “selama berabad-abad, dunia Islam adalah yang terdepan dalam peradaban dan pencapaian manusia.” “Tidak ada seorangpun di Eropa,” tulis Jamil Ragep, seorang profesor Ilmu Sejarah di Universitas Oklahoma, “yang dapat memberikan titik terang tentang apa yang terjadi di dunia Islam sampai sekitar tahun 1600.” Aljabar, algoritma, alkimia, alkohol, alkali, nadir, zenith, kopi, dan lemon: ini adalah kata-kata turunan bahasa Arab, menunjukan kontribusi Islam kepada dunia Barat.

Namun hari ini, semangat keilmuan di dunia Muslim sekering gurun pasir. Fisikawan Pakistan, Pervez Amirali Hoodbhoy meletakannya dalam statistik menyedihkan di artikel tahun 2007 jurnal Physics Today: Negara-negara Muslim punya sembilan ilmuan, insinyur, dan teknisi per seribu orang, dibanding dengan negara-negara berkembang lain di dunia yang perbandingannya 40:1. Di negara-negara muslim terdapat 1800 universitas, tapi hanya sekitar 312 dari sarjana di sana yang telah menerbitkan artikel jurnal. Dari lima puluh universitas yang paling sering menerbitkan jurnal, dua puluh enam ada di Turki, sembilan ada di Iran, Malaysia dan Pakistan masing-masing punya tiga, Uganda, U.A.E, Saudi Arabia, Lebanon, Kuwait, Yordania, dan Azerbaijan masing-masing punya satu.

Kurang lebih ada 1,6 milyar Muslim di dunia, tapi hanya ada dua ilmuan dari negara Muslim yang memenangkan Hadiah Nobel di Sains (satu untuk fisika tahun 1979, yang lain untuk kimia di 1999). Empat puluh enam negara-negara Muslim jika digabungkan semua hanya berkontribusi 1 persen di literatur keilmuan dunia; Spanyol dan India, masing-masing berkontribusi lebih pada Literatur Sains Dunia dibanding semua negara Islam digabungkan. Malahan, walaupun Spanyol bukan superpower intelektual, Spanyol telah menerjemahkan lebih banyak buku dalam setahun daripada seluruh dunia Arab selama seribu tahun belakangan ini. “Walaupun banyak ilmuan berbakat dari dunia Muslim yang bekerja secara produktif di Barat,” kata peraih Nobel fisika, Steven Weinberg, “selama empat puluh tahun terakhir, saya belum melihat satupun paper oleh fisikawan atau astronomer dari negara Muslim yang pantas dibaca.”

Metriks perbandingan di dunia Arab juga mengatakan hal yang sama. Arab terdiri dari 5 persen dari populasi dunia, tapi hanya menerbitkan 1,1 persen dari buku di dunia, menurut laporan PBB, Arab Human Development Report tahun 2003. Antara tahun 1980-2000, Korea telah menghasilkan 16.328 hak paten, sementara sembilan negara Arab, termasuk Mesir, Saudi Arabia, dan UAE, dalam jangka tahun yang sama hanya menghasilkan 370, itupun kebanyakan didaftarkan oleh orang asing non-Arab. Sebuah studi tahun 1989 menemukan bahwa dalam satu tahun, Amerika Serikat menerbitkan 10.482 paper ilmiah yang banyak dikutip, sementara seluruh dunia Arab hanya menerbitkan empat. Ini mungkin terdengar seperti lelucon yang buruk, tapi majalah Nature menerbitkan sebuah sketsa tentang sains di dunia Arab tahun 2002, wartawannya hanya mengenali tiga area sains yang dikuasai negara-negara Islam: desalinasi (ilmu pemisahan garam), falconry (olah raga berburu dengan elang), dan reproduksi unta. Dorongan untuk membuat riset dan institusi keilmuan baru di dunia Arab jelas masih jauh– digambarkan di artikel in oleh Waleed Al Shobakky (lihat “Petrodollar Science,” (“Sains Dollar-Minyak”) edisi musim gugur 2008).

8cce9f0cc74fd58c3fb422a687df3d55

Melihat bahwa sains Arab adalah yang paling maju di dunia sampai abad ke tiga belas, maka sangatlah menggoda untuk mencari tahu, apa yang salah —  kenapa sains modern tidak muncul dari Baghdad atau Kairo atau Kordoba. Kita akan kembali ke pertanyaan ini belakangan, tapi sangatlah penting untuk ingat bahwa kejatuhan aktivitas sains adalah aturan, bukan pengecualian, dari peradaban-peradaban. Walau sudah umum untuk berasumsi bahwa revolusi keilmuan dan perkembangan teknologi tak terbendung, sebenarnya dunia Barat adalah satu-satunya kisah sukses peradaban yang periode mekarnya cukup lama. Seperti Muslim, Cina Kuno dan Peradaban India, semua pernah lebih maju dari Barat, tapi tidak membuat revolusi keilmuan.

Terlebih lagi, walau kejatuhan peradaban Arab tidak terlalu istimewa, alasan-alasan kejatuhannya menawarkan petunjuk kepada sejarah dan sifat Islam serta hubungannya dengan modernitas. Kejatuhan Islam sebagai kekuatan intelektual dan politik terjadi secara perlahan tapi jelas: sementara Masa Keemasan luar biasa produktifnya, dengan kontribusi yang dibuat pemikir Arab seringkali orisinil dan inovatif, tujuh ratus tahun terakhir telah memberikan cerita yang lain.

Kontribusi Orisinil Sains Arab

Saya harus memperingatkan tentang dua bagian dari istilah “sains Arab.” Ini adalah, pertama, karena ilmuan yang kita diskusikan di sini tidak semuanya Muslim (atau) Arab asli. Bahkan, kebanyakan pemikir terbesar dari era ini tidak berasal dari etnis Arab. Ini tidaklah mengejutkan ketika kita melihat bahwa selama beberapa abad di sepanjang Timur Tengah, Muslim adalah minoritas (sebuah trend yang baru berubah di akhir abad sepuluh). Peringatan kedua tentang “sains Arab,” adalah sains saat itu berbeda dengan sains saat ini. Sains pre-modern, walau tidak buta akan fungsi-guna suatu ilmu, mencari pengetahuan utamanya dalam rangka mengerti pertanyaan-pertanyaan filosofi mengenai makna, keberadaan, kebaikan, dan lain sebagainya. Sains modern, kebalikannya, tumbuh dari revolusi pemikiran yang mengorientasi ulang politik untuk kenyamanan individual, melalui penguasaan terhadap alam. Sains modern menyingkirkan pertanyaan metafisika kuno dan menggantinya jadi (meminjam kata-kata Francis Bacon) usaha untuk mendapatkan kenikmatan dan kesombongan diri. Apapun yang diambil oleh sains modern dari sains Arab, aktivitas intelektual pada abad pertengahan Islam tidak sama dengan revolusi sains Eropa, yang datang dari perpecahan radikal dengan filsafat  kuno. Karena itulah ketika kita menggunakan isitlah “sains” untuk kemudahan membaca, penting sekali untuk ingat bahwa kata ini tidak ditemukan sampai abad ke sembilan belas; kata terdekat dalam bahasa Arab adalah ilm (ilmu), yang artinya “pengetahuan,” dan ilmu belum tentu tentang alam.

Walau begitu, masih ada dua alasan kenapa masuk akal untuk merujuk aktivitas sains di Masa Keemasan sebagai Sains Arab. Pertama, kebanyakan karya filosofis dan keilmuan saat itu diterjemahkan ke bahasa Arab, yang menjadi bahasa kebanyakan sarjana di daerah itu, apapun etnis atau agamanya. Dan kedua, nama alternatif seperti “sains Timur Tengah,” atau “sains Islam,” lebih tidak akurat lagi. Hal ini sebagian disebabkan karena kita tak tahu banyak tentang latar belakang pribadi para pemikir ini. Ini juga disebabkan karena hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan soal Zaman Keemasan: ternyata hanya sedikit yang kita tahu pasti tentang konteks historis dan sosial dari zaman ini. Abdehamid I. Sabra, sekarang seorang pensiunan profesor sejarah Sains Arab yang mengajar di Harvard, menggambarkan lapangan penelitiannya di the New York Times tahun 2001, sebagai lahan penelitian yang “bahkan belum dimulai.”

Dengan pengakuan itu, bidang ini telah maju cukup jauh untuk dengan meyakinkan dan mendemonstrasikan bahwa peradaban Arab berkontribusi cukup banyak kepada sains daripada transmisi keilmuan ke Barat yang lain (seperti penomoran dari India dan pembuatan kertas dari Cina). Satu hal yang pasti, bangkitnya akademik di masa dinasti Abbasid Baghdad (751-1258) yang menghasilkan penerjemahan semua karya saintifik klasik Yunani ke dalam bahasa Arab, tidaklah main-main. Tapi di luar penerjemahan (dan komentar tentang) peradaban kuno, pemikir Arab juga membuat kontribusi orisinil, baik melalui tulisan ataupun moteode eksperimentasi, di bidang-bidang seperti filsafat, astronomi, kedokteran, kimia, geografi, fisika, optik, dan matematika.

Mungkin klaim yang paling sering diulang-ulang tentang Masa Keemasan adalah bahwa umat Muslim menciptakan aljabar. Klaim ini benar adanya: pada awalnya ilmu ini diinspirasi dari karya-karya Yunani dan India, lalu ilmuan Persia al-Khwarizmi (meninggal tahun 850), menulis buku yang dari judulnya kita mendapat istilah “aljabar.” Buku tersebut dimulai dengan perkenalan terhadap matematika, dan dilanjutkan untuk menjelaskan bagaimana untuk memecahkan masalah-masalah umum waktu itu mengenai perdagangan, warisan, pernikahan, dan emansipasi budak. (Metodenya tidak melibatkan persamaan atau simbol aljabar, tetapi menggunakan figur-figur geometri untuk memecahkan masalah yang hari ini bisa dipecahkan aljabar.) Walaupun berdasarkan urusan praktis, buku ini ada sumber utama yang berkontribusi pada perkembangan sistem aljabar yang kita tahu hari ini.

Masa Keemasan juga melihat kemajuan dalam ilmu kedokteran. Salah satu pemikir paling terkenal dalam sains Arab, dan dianggap salah satu dokter terbaik abad pertengan adalah Rhazes (juga dikenal sebagai al-Razi). Dilahirkan di daerah yang sekarang disebut Teheran, Rhazes (meninggal tahun 925) dilatih di Baghdad dan menjadi direktur dua rumah sakit. Ia mengidentifkasi penyakit cacar dan campak, menulis sebuah risalah tentang dua penyakit itu, yang menjadi buku berpengaruh sampai ke luar Timur Tengah, termasuk ke Eropa di abad ke 19. Rhazes adalah dokter pertama yang menemukan bahwa demam sesungguhnya adalah mekanisme pertahanan. Ia juga penulis sebuah ensiklopedia kedokteran sepanjang dua puluh tiga volume. Apa yang paling mengesankan dari karirnya, seperti yang dikatakan Ehsan Masood dalam Science and Islam, adalah Rhazes adalah orang pertama yang secara serius menantang kekokohan dokter Yunani klasik, Galen. Sebagai contoh, ia menantang teori Galen soal keseimbangan cairan tubuh (Humors). Ia membuat sebuah eksperimen untuk melihat apakah mengambil darah, yang sampai abad ke sembilan belas menjadi prosedur yang biasa dilakukan, ada gunanya sebagai prosedur medis. (Ia menemukan, bahwa memang ada gunanya). Rhazes adalah contoh jelas seorang pemikir yang secara eksplisit bertanya, dan secara empiris menguji, teori yang sudah diterima secara luas dan ditulis oleh seorang dokter terkenal, sambil memberikan kontribusi orisinil terhadap sebuah profesi.

4da2ea8dc39ec39a6a0a134328d099c3
Sejarah dunia keilmuan di sebuah madrasah di Reqistan Square, Samarkand, Turkii (Uzbek): Avicenna, Ali Kuschu, Khwarezmi, Muhammad al-Bukhari, Fergane, Farabi, Abdul Hamid el-Turk dll. Photo Credit Alptekin Cevherli (Turki)

Pencapaian besar di dunia medis berlanjut dengan dokter serta filsuf Avicenna (juga dikenal sebagai Ibnu Sina; meninggal tahun 1037), yang dinilai sebagai dokter terpenting semenjak Hippocrates. Ia menulis Canon of Medicine (Kanon Kedokteran), sebuah survey medis multi-volume yang menjadi rujukan penting untuk dokter di wilayah tersebut, dan — pernah diterjemahkan ke dalam bahasa latin — menjadi buku wajib di Barat selama enam abad. Kanon ini adalah kompilasi dari pengetahuan medis dan sebuah manual untuk mengetes obat. Di dalamnya juga ada penemuan-penemuan Ibnu Sina, termasuk tentang bagaimana tuberculosis (TBC) menular.

Seperti Renaissance Eropa setelahnya, Zaman Keemasan juga punya banyak ilmuan multidisiplin (polymath) yang unggul dan maju dalam banyak bidang. Salah satu polymath itu adalah al-Farabi (juga dikenal sebagai Alpharabius, meninggal sekitar tahun 950), seorang pemikir Baghdad yang, selain tulisannya mencakup filsafat Platonik dan Aristotelian, juga menulis fisika, psikologi, alkemi, kosmologi, musik, dan banyak lainnya. Ia begitu cerdasnya, hingga dikenal sebagai “Guru Kedua”–kedua terbaik setelah Aristoteles. Polymath lain adalah al-Biruni (meninggal 1048), yang menulis 146 risalah berjumlah 13,000 halaman tentang semua bidang keilmuan. Buku terkenalnya, Deskripsi India, adalah sebuah karya antropologi tentang Hindu. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah pengukuran hampir akurat tentang lingkar bumi menggunakan metode trigonometrinya sendiri; ia hanya kurang 321,89 KM dari lingkar bumi yang benar hari ini, 40072,666 KM. (Namun, tidak seperti Rhazes, Ibnu Sina, dan al-Farabi, karya al-Biruni tidak pernah diterjemakan ke dalam bahasa Latin, karenanya tidak punya pengaruh besar di luar dunia Arab.) Pemikir brilian lain di Zaman Keemasan adalah ahli geometri Ahazen (Juga dikenal sebagai Ibnu al-Haytham; meninggal 1040). Walau warisan terbesarnya tentang ilmu optik — ia menunjukkan kesalahan di teori extramission, yang mengatakan bahwa mata kita mengeluarkan energi yang membuat kita bisa melihat —  ia juga mengerjakan astronomi, matematika, dan teknik. Dan mungkin, ilmuan paling terkenal dari Zaman Keemasan adalah Averroës (juga dikneal sebagai Ibnu Rushid; meninggal 1198), seorang filsuf, ahli agama, dokter, dan ahli hukum yang dikenal karena kritiknya terhadap Aristotles. Dalam 20.000 lembar yang ia tulis selama hidupnya, adalah karya tentang filsafat, kedokteran, biologi, fisika, dan astronomi.

Bersambung ke bagian II

 

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (Part I)

Bagaimana Elit Politik dari kedua sisi spektrum politik telah merusak persamaan sosial, politik, dan lingkungan kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

 

Selama 50 tahun, Noam Chomsky telah menjadi Socrates-nya Amerika, mewabahi publik dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyengat. Ia bicara tidak kepada penduduk Athena, tapi kepada desa-desa global yang menderita, dan sekarang, sepertinya, dalam bahaya.

Dunia bermasalah hari ini masih mengetuk pintu Noam Chomsky, karena ia sudah lama memperingatkan akan datangnya angin topan. Dunia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketika Chomsky memperingatkan mereka bahwa bencana sedang mereka buat. Ingatlah ketika Chomsky membantai argumen William F. Buckley Jr., pembawa acara TV terkenal di Amerika, soal perang Vietnam di tahun 1969.

Ada hal aneh soal Noam Chomsky: The New York Times menyebutnya “bisa jadi” pemikir publik terpenting hari ini, walau koran itu jarang mengutipnya, atau berdebat dengannya, apalagi bintang-bintang media populer di televisi jaringan. Namun Chomsky tetap mendunia dan dirujuk di usianya yang ke 89 ini: ia adalah ilmuan yang mengajarkan kita untuk berpikir soal bahasa manusia sebagai sesuatu yang terpatri secara biologis, dan bukan akuisisi sosial; ia adalah humanis yang berdemo melawan Perang Vietnam dan memproyeksikan sisi lain kekuatan Amerika, awalnya atas dasar moral dan lama kelamaan untuk pertimbangan praktis. Ia menjadi rock star di kampus-kampus, di Amerika atau di luar negeri, dan ia menjadi semacam Bintang Utara untuk generasi pasca Occupy Wallstreet yang menolak kekalahan Bernie Sanders. 

Sayangnya, Chomsky tetap terasing di dunia dimana kebijakan dibuat. Tapi di markasnya, di Massachusetts Institute of Technology (MIT), ia tetap seorang profesor tua yang terkenal, yang dengan mudah dihubungi, menjawab email, dan menerima pengunjung seperti kami dengan ramah.

Minggu lalu, kami mengunjungi Chomksy dengan sebuah misi pikiran terbuka: Kami mencari pendapat yang tidak umum tentang sejarah terbaru kita, dari seseorang yang terkenal jujur. Kami bersurel-surelan padanya, dan bilang kami ingin tahu bagaimana ia berpikir, bukan apa yang ia pikirkan. Ia membalas surel kami dengan bilang ia bekerja keras dan membuka pikirannya, dan menerapkan, dalam kata-katanya sendiri, “Kemauan gaya Socrates untuk mempertanyakan apakah doktrin konvensional yang diterapkan cukup adil.”

Christopher Lydon: Kami hanya ingin Anda menjelaskan, sedang dimana peradaban kita hari ini–

Noam Chomsky: Gampang itu.

CL: [Tertawa]—Ketika banyak orang ada di tepian sesuatu, sesuatu yang bersejarah. Adakah ringkasan Anda mengenai semua ini?

NC: Ringkasan singkat?

CL: Ya.

NC: Ringkasan singkat saya pikir bisa dimulai ketika kita melihat sejarah baru-baru ini di Perang Dunia Ke-II, sesuatu yang mengagumkan telah terjadi. Pertama, kecerdasan manusia menciptakan dua palu godam raksasa yang dapat menghancurkan keberadaan kita–atau paling tidak keberadan kita yang terstruktur ini—keduanya berasal dari PD II. Salah satunya cukup mudah dikenali. Bahkan keduanya hari ini mudah dikenali. PD II berakhir dengan penggunaan senjata nuklir. Langsung jelas pada tanggal 6 Agustus, 1945, hari yang sangat saya ingat. Jelas bahwa teknologi akan berkembang ke titik dimana ia akan menjadi bencana mutakhir. Para Ilmuan sudah pasti mengerti ini.

 

Tahun 1947, Bulletin of Atomic Scientists meresmikan Jam Kiamatnya yang terkenal. [Jam kiamat adalah sebuah jam simbolik yang maju mundur menuju kiamat, kiamat adalah tengah malam. Ia meramalkan setiap kemungkinan bencana global dari nuklir, perang antar agama, hingga pemanasan global; sifatnya fluktuatif]. Kamu tahu, seberapa dekat jarum menitnya ke tengah malam? Dan itu dimulai tujuh menit sebelum tengah malam. Tahun 1953, ia dua menit ke tengah malam [menjelang perang nuklir]. Itu adalah tahun dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet meledakan bom-bom hidrogen mereka. Tapi kini kita mengerti bahwa di akhr PD II dunia juga memasuki kisah epik geologis yang baru. Epik itu dinamakan Anthropocene, kisah dimana manusia menjadi sebuah perusak atau bencana terhadap lingkungan. Maju lagi ke tahun 2015, lagi di tahun 2016. Langsung setelah pemilihan Trump di akhir Januari tahun ini, jam nya bergerak lagi ke dua setengah menit ke tengah malam, ini yang terdekat sejak tahun ’53.

Jadi ada dua ancaman eksistensial yang kita ciptakan–yang satu kemungkinan perang nuklir menyapu kita semua; dan satu lagi bencana lingkungan hidup, menciptakan akibat parah–lalu ada lagi ancaman lain muncul.

Ancaman ketiga terjadi. Dimulai sekitar tahun 70an, kecerdasan manusia didedikasikan sepenuhnya untuk memusnahkan, atau melemahkan, halangan utama yang bisa menangani dua bencana sebelumnya. Mereka menambah masalah dengan menciptakan neoliberalisme. Ada transisi pada saat itu dari periode yang banyak orang sebut “kapitalisme ter-regimen,” di tahun 50 dan 60-an, periode pertumbuhan besar, pertumbuhan egalitarian, banyak kemajuan di keadilan sosial dan sebagainya–

CL: Sosial Demokrasi…

NC: Ya, sosial demokrasi. Itu juga kadang disebut, “masa keemasan kapitalisme modern.” Itulah yang mengubah tahun 70-an dengan cara pikir era neoliberal yang sampai sekarang kita hidupi. Dan jika Anda tanya diri sendiri, era apakah ini, prinsip utamanya adalah era dimana terjadi pengrusakan mekanisme solidaritas sosial dan dukungan sesama dan keterlibatan populer dalam menentukan kebijakan.

Tapi era ini tidak pernah menyebut dirinya demikian. Apa yang hari ini disebut “kebebasan,” arti sebenarnya adalah manut pada kuasa yang terpusat, tak bertanggung jawab, dan swasta. Itulah arti sebenarnya. Intitusi pemerintahan [demokratis]–atau asosiasi-asosiasi lain yang memperbolehkan masyarakat terlibat dalam pembuatan kebijakan–secara sistematis dilemahkan. Margaret Thatcher mengatakannya dengan gamblang ketika bilang, “tidak ada masyarakat, yang ada hanya individu-individu.”

 

Bersambung ke part II.

Memoir, Politik, Racauan

Tidak Ada Maaf Ramadan Ini

Disclaimer: Bukan tulisan untuk diskusi atau dialog, cuma luapan stres dan kemarahan. Jangan dibaca kalau mau sehat.

pawai_obor_20160912_094604

Dua hari ini saya tertekan. Video-video yang masuk untuk saya kerjakan, adalah video-video yang tak pernah saya bayangkan ada di Jakarta di saat bersamaan, dari inisiasi preman yang membacok secara acak, bom bunuh diri kampung Melayu, dan di malam yang sama, anak-anak kecil berteriak bunuh-bunuh Ahok. Saya selalu berusaha mengerti dan memahami bagaimana pikiran manusia bekerja, tapi beberapa hari ini, saya benar-benar gagal paham.

Besok malam ada tabligh akbar di depan rumah. Saya tidak pernah absen mendengarnya, karena masjid punya toa yang sangat besar dan, ini epik, pernah di suatu gang, saya melihat komunitas pengajian yang jauh dari masjid, mendirikan tenda, menaruh TV LED di atas panggung, lalu memasang live feed youtube dari masjid besar, lengkap dengan amplifier-amplifier dangdut menggemakan suara si Habib. Sponsornya tetangga-tetangga saya sendiri. Nampaknya tabligh akbar sabtu ini akan menggunakan cara yang sama.

Pilkada DKI Jakarta telah membawa eksesnya, dan sentimen ini sudah pasti ditunggangi banyak pihak dari opisisi pemerintahan, lalu teroris. Mungkin inilah arti pemerintahan Rakyat yang sebenarnya: rakyat memenangkan seorang gubernur dengan sentimen agama, rakyat menyebar kata-kata kebencian, dan rakyat menuai hasilnya: anak-anak bermulut sadis dan sepasang Jihadis di terminal bus.

Setelah itu pun, akal nampaknya tak juga menyala malah tambah gelap. Teori konspirasi berseliweran, menuduh polisi dan pemerintah sebagai dalang pemboman bunuh diri, sebagai pengalihan isu untuk menangkap mahasiswa Islam yang sedang berdemo di Istana negara. Mahasiswa yang merasa sangat penting, dan sangat cerdas hingga penangkapannya seakan-akan memerlukan pengorbanan 3 orang polisi di Kampung Melayu. Padahal kalau kita baca berita, mahasiswa-mahasiswa demonstran itu otaknya taik kotok: kecil, sangit, baunya setengah mati dan sering jadi jebakan batman di jalanan.

Sungguh menahan mereka sama saja seperti menculik anak miskin yang makannya banyak–tak ada untungnya banyakan ruginya.

Kenyataannya begini kawan, itu hoax-hoax dan teori konspirasi dibikin oleh dua macam orang. Pertama, orang bebal yang ngotot bahwa dia benar dan ingin dapat perhatian; kedua orang cari uang dari klik, iklan, dan duit politik oposisi buat bikin rusuh, dengan tujuan yang lebih jelas: duit. Lalu orang-orang tolol klik, share, dengan rajin copy-paste di WA grup, dan tidak mau dipersalahkan kalau itu hoax, “mana saya tahu, saya kan cuma share dan ingin tahu pendapat kalian di grup ini,” kata si penyebar kotololan. Padahal kita semua tahu, ketololan yang ia sebar didasari atas benci kepada siapapun yang didiskreditkan hoax itu.

Persis seperti orang-orang yang bilang anti-terorisme tapi di saat yang sama mendukung ISIS, dan menyebar kebencian kemana-mana. Dan apapun yang kita sodorkan, argumen sudah mati. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk bicara, karena bicara dijamin konstitusi. Dan tidak ada yang bisa membuat mereka berpikir logis, atau sekedar punya empati pada orang yang berbeda. Jadi muslim yang baik tambah sulit. Di kanan dibilang radikal sementara di kiri dikafir-kafirkan.

18671491_1234722746649797_1134553460836842586_o.jpg

Begitupun mereka yang mengaku liberal, progressif, pendukung Ahok si kalah itu, terus-terusan tidak bisa move on, melemparkan kritik-kritik pada gubernur yang bahkan belum mulai kerja, menyebar hoax-hoax atau berita fakta parsial, hanya untuk nyinyir saja. Eh tot, lu ga ada kerjaan lain? Ini udah darurat bulan puasa isinya telek! If you’r not part of the solution, you’re part of the problem–heck there’s a possibility that you ARE the problem in the first place.

Lalu kalau sudah tidak bisa berdialog, dan hanya bisa bermonolog sama-sama begini, bagaimana cara minta maaf? Bagaimana cara memaafkan? Ramadan ini akan jadi Ramadan terburuk sepanjang tiga dekade hidup saya; sama sekali tidak ada keridhaan di hati saya, dan niat ibadah sudah hilang sama sekali. Setiap detik saya mau muntah, karena toa tak henti-hentinya berteriak-teriak serak. Saya tidak bisa lagi membedakan mana yang dzikir dan mana yang makian. Masjid bertambah megah, tapi udaranya kotor.

Ini seperti menghadapi setan kiriman yang mengganggu tidur. Saya ingin berdzikir untuk melawan kebencian, si setan berdzikir menyebar kebencian. Saya ingin mengaji biar damai, si setan mengaji biar perang dan terbakar. Ah, taiklah semua ini. Marah sendiri tidak ada gunanya, membuka hubungan untuk mengerti terasa sangat menghina pikiran dan hati nurani.

Lalu harus apa? I need an explanation but everything is so scattered now, I got disoriented. Mungkin saatnya mencari ganja ke kampung Arab di belakang komplek rumah. Bandarnya sudah naik haji dua kali dan nampaknya santai saja dengan keadaan ini, tak pernah benci-benci, menjadi sufi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Katanya, “Yang haram adalah yang memabukkan. Cimeng ini menyadarkan, jadi halal.”

Bener, Ji. Suntikin dulu, baru saya maafin semua orang dan ibadah enak Ramadan ini. SSSSUUUUTTT!!!!

1200px-arabischer_maler_des_krc3a4uterbuchs_des_dioskurides_004

Politik, Racauan

Kita Semua Intoleran!

Sebenernya apa sih, toleransi dan intoleransi? Toleransi berasal dari kata toleran. Menurut KBBI, toleran adalah “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”.

Sesungguhnya definisi KBBI ini kurang tepat. Dalam bahasa Inggris di Kamus Besar Miriam Webster, arti kata toleransi lebih luas lagi. Ada 4 artinya. Pertama, dan yang paling penting, “kemampuan untuk menanggung sakit dan kesusahan” ; kedua “simpati atau mendukung kepercayaan yang berbeda dengan dirinya sendiri atau tindakan mengijinkan sesuatu yang berbeda”–ini mirip KBBI; ketiga, “sikap memperbolehkan sesuatu melenceng dari standar”; ke empat, “kapasitas tubuh untuk bertahan terhadap obat atau racun” atau “jumlah pestisida yang dapat dikonsumsi di dalam makanan.”

KBBI, dan bahasa Indonesia memang selalu berusaha menyederhanakan banyak hal, dan ini jadi masalah. MASALAH BESAR.

Intoleransi menjadi peyorasi, orang tersinggung dibilang intoleran. Toleransi menjadi pujian, dan terus menerus didengungkan. Dua hal oposisi biner, yang jadi sederhana sekali, seperti baik-jahat, atau muslim-kafir.

Padahal kerumitan toleransi ini bisa dijelaskan secara sederhana. Semua orang pada dasarnya toleran dan intoleran. Toleran dan intoleran itu seperti dua kutub, dimana kita, manusia, memiliki kadarnya masing-masing tergantung pengalaman dan pengetahuan kita.

Umpamakan orang yang alergi pada udang. Artinya tingkat toleransinya pada udang sangat kecil. Makan udang, dia langsung bengkak. Ada lagi lactose intolerant, atau tidak toleran pada susu. Minum susu, langsung berak-berak.

manfaatkan-minyak-jarak-untuk-atasi-alergi-udang-kepiting

Di Indonesia, toleransi hanya ditujukan pada budaya dan agama. Orang dibilang intoleran pada agama lain, ras lain, LGBT, jenis kelamin lain. Sementara itu, orang yang toleran pada agama lain, ras lain, LGBT dan jenis kelamin lain merasa dia lebih tinggi. Padahal dia belum tahu saja, siapa tahu dia intoleran pada hal lain–orang miskin pinggir kota yang digusur misalnya. Kawan-kawan saya yang mengaku toleran ini, banyak lho yang senang penggusuran untuk membuat kota lebih baik, dengan slogan “kalau miskin jangan hidup di Jakarta.” Apa itu toleransi?

Kemarin saya sempat berdebat dengan seorang kawan yang bilang bahwa ada kawannya seorang Islam konservatif yang toleran. Saya bilang, kalau dia konservatif artinya dia cenderung mempromosikan ‘intoleransinya”, dan itu bukan hal yang buruk. Muslim yang baik, sudah seharusnya intoleran pada dosa. Cuma kadar intoleransinya saja yang harus dikontrol. Kadar ini bisa terlihat dari cara dia memperlakukan hal yang ia takkan tolerir. Misalnya si Muslim ini percaya bahwa orang Islam tidak seharusnya memilih pemimpin non-muslim–sekompeten apapun dia. Di sini, agamanya berseteru dengan demokrasi dan konsep negara kesatuan. Di sini, ia memilih sebuah intepretasi agama, yang tidak kompatibel dengan demokrasi.

Mungkin ia toleransi pada non-muslim pada kehidupan sehari-hari. Mungkin juga di kantornya, ia punya bos non muslim. Tapi sendainya ia bisa memilih, dalam konsep demokrasi, ia akan memilih pemimpin Muslim sejelek-jeleknya, daripada pemimpin non-Muslim sebaik-baiknya–ini saya tidak bicara soal Anies-Ahok, karena Anies tidak sejelek-jeleknya pemimpin Muslim dan Ahok tidak sebaik-baiknya pemimpin non muslim.

Contoh lain, salah seorang sepupu saya, salah satu muslim baik yang saya kenal, tidak mentolerir LGBT. Tapi dia punya beberapa kawan gay, dan ia takkan lelah untuk mengingatkan bahwa yang baik adalah jadi straight. Tapi saya yakin, kalau ada yang hendak menyakiti kawan gay-nya itu secara fisik, melanggar hak asasi kawannya itu, pasti dia membela. Bukan karena gay itu benar, tapi karena gay juga manusia dan semua manusia punya hak asasi dasar. Nggak bisa ‘menyembuhkan’ gay dengan memukulinya, apalagi membunuhnya. Membunuh gay cuma akan membuat dia kehilangan kesempatan bertobat.

Dari ilustrasi itu saja kita lihat spektrum toleransi. Ada yang intoleransinya ekstrim sehingga mau membunuh dan menyakiti, ada yang medium, yang bisa mentolerir selama ‘lu gak pegang-pegang gue,” dan ada yang tingkat toleransinya tinggi, sehingga dengan sendirinya menjadi gay.

Soal gay, toleransi saya termasuk medium. Saya tidak percaya itu penyakit. Saya banyak punya teman gay. Tapi saya MEMILIH untuk straight. Bukan karena agama tapi karena pengalaman dan preferensi hidup saya saja. Namun soal pelecehan seksual, intoleransi saya lumayan tinggi. Ada yang menggrepe atau memaksa saya secara seksual (baik lelaki atau perempuan) ya saya jotos secara spontan.

Namun ada satu yang menggelitik saya soal toleransi kita di Indonesia mengenai LGBT–khususnya Gay. Secara kultural, kita punya banyak gender khususnya di budaya-budaya tradisi kita, seperti pendeta Bissu di Sulawesi. Agama semitik masuk dan mengajarkan kita untuk takut dan anti terhadap homoseksualitas. Neo-maskulinitas (keinginan untuk menjadi jantan karena takut disaingi perempuan atau diperkosa lelaki) juga menjangkiti perpolitikan kita, baik di tingkat individu atau di tingkat parlemen (lihat UU kita yang sangat bias gender). Namun sebenarnya di saat yang sama, kita mentolerir homoseksual dalam tingkatan tertentu.

Ambil kasus penggrebekan Atlantis Gym, dimana ratusan orang lelaki ditangkap dan diarak telanjang karena pesta seks. Kalau Anda iseng membaca koran-koran kelas menengah bawah, pengarakan telanjang tidak hanya terjadi pada gay. Seringkali penggrebekan di hotel-hotel melati, atau ketahuannya muda-mudi bercinta di taman kosong, juga berakhir ke penelanjangan dan pengarakan. Yang membuat kasus Atlantis spesial adalah ini kasus homoseksualitas dan pelakunya ratusan orang. Pada tahapan tertentu, ada egalitarian di mata hukum sosial: homo atau hetero, ketika ketahuan, Anda diarak telanjang.

Di sinilah lucunya. Seorang kawan saya yang gay berkata begini dalam facebook messenger: “Gue sih seneng lihat foto-foto [pria gay telanjang Atlantis] itu, six pack. Bagus-bagus. Coba kalo lo yang ketangkep Nos. Flabby, nggak enak dilihat.” Bitch.

Sebagai seorang gay yang sudah lama open ke tema-temannya, kawan saya ini nampaknya tidak begitu khawatir. “Kalo nggak mau digrebek ya main aman.” Kata dia.

six-pack-abs_14_3

Jadi menurut pendapat saya, selama tidak seperti di Aceh, dimana Gay harus dihukum cambuk lebih dari 80 kali, masih mending lah di Jakarta (dan banyak kota besar di Indonesia). Tingkat toleransi terhadap Gay cukup tinggi untuk ukuran negara mayoritas Islam di dunia. Media mainstream pun masih mengandalkan MC dan selebriti gay sebagai salah satu amunisi utama entertainment mereka, dengan syarat ‘Gayness’ hanya boleh simbolik (pakaian, cara bicara, gaya metroseksual). Toleransi kebanyakan orang Indonesia terbatas sampai pengakuan publik.

Permasalahan utama dalam kasus Atlantis, dan banyak penggrebekan lain baik yang hetero atau pun yang homo, adalah masalah politik tubuh. Negara selalu merasa punya hak atas tubuh warganya. Sehingga walau Indonesia mengakui standar hukum Internasional yang anti-penyiksaan, di sana-sini masih banyak kebocoran. Menelanjangi termasuk suatu bentuk penyiksaan, apalagi hukum pecut. Hukuman fisik, semestinya sudah tidak terjadi lagi hari ini, idealnya. Namun toh itu tetap masih dilakukan di banyak tempat, seperti dalam operasi intelijen/tentara, perpeloncoan kampus/akademi, dan tindakan main hakim sendiri masyarakat kita.

Politik tubuh juga menyangkut segala macam UU yang mengatur bagaimana cara warga negara berpakaian dan merasuki ranah privat kita–UU anti pornografi misalnya, yang pasal karetnya kini dipakai menjerat junjungan kita, yang mulia, HRS. Dalam konteks ini, hukum yang harusnya jadi batas toleransi Negara, dengan mudah dipermainkan oleh banyak pihak yang berebut kepentingan.

Oposisi HRS, Ahok BTP, nampaknya sudah sangat memahami ketika ia mencabut niatnya untuk banding atas vonis 2 tahun penjara yang lebih berat dari tuntutan Jaksa itu. Ia tahu, permainan demonstrasi artinya memberikan panggung untuk para provokator dan perusuh bayaran. Ia tidak mau memilih cara opresi yang sama. Ahok sepertinya akan kembali kepada idealismenya dalam mengopresi: menggunakan konstitusi dan taktik politik bawah tangan yang lebih jitu daripada main pertunjukkan otot massa. Ia tahu pasti, bahwa toleransi dan intoleransi orang Indonesia masih mudah untuk dipermainkan–spektrumnya masih luas. Hidup jadi seru, ketika kita menunggu manuver selanjutnya dari mantan Gubernur kita ini. Karena tidak seperti lawannya, ia tidak lari. Ia mencintai Indonesia dengan baik dan buruknya.

ahok2bhoax

Kesimpulan dari tulisan ini adalah: toleransi-intoleransi adalah barometer kemanusiaan kita, dan seperti identitas, ia tidak pernah saklek. Dengan semua hal besar yang terjadi beberapa bulan ini, kita semua baik yang liberal atau yang konservatif, bisa optimis pada perjuangan masing-masing. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Masih ada cara menjadi besar.”