Politik, Racauan

Kita Semua Intoleran!

Sebenernya apa sih, toleransi dan intoleransi? Toleransi berasal dari kata toleran. Menurut KBBI, toleran adalah “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”.

Sesungguhnya definisi KBBI ini kurang tepat. Dalam bahasa Inggris di Kamus Besar Miriam Webster, arti kata toleransi lebih luas lagi. Ada 4 artinya. Pertama, dan yang paling penting, “kemampuan untuk menanggung sakit dan kesusahan” ; kedua “simpati atau mendukung kepercayaan yang berbeda dengan dirinya sendiri atau tindakan mengijinkan sesuatu yang berbeda”–ini mirip KBBI; ketiga, “sikap memperbolehkan sesuatu melenceng dari standar”; ke empat, “kapasitas tubuh untuk bertahan terhadap obat atau racun” atau “jumlah pestisida yang dapat dikonsumsi di dalam makanan.”

KBBI, dan bahasa Indonesia memang selalu berusaha menyederhanakan banyak hal, dan ini jadi masalah. MASALAH BESAR.

Intoleransi menjadi peyorasi, orang tersinggung dibilang intoleran. Toleransi menjadi pujian, dan terus menerus didengungkan. Dua hal oposisi biner, yang jadi sederhana sekali, seperti baik-jahat, atau muslim-kafir.

Padahal kerumitan toleransi ini bisa dijelaskan secara sederhana. Semua orang pada dasarnya toleran dan intoleran. Toleran dan intoleran itu seperti dua kutub, dimana kita, manusia, memiliki kadarnya masing-masing tergantung pengalaman dan pengetahuan kita.

Umpamakan orang yang alergi pada udang. Artinya tingkat toleransinya pada udang sangat kecil. Makan udang, dia langsung bengkak. Ada lagi lactose intolerant, atau tidak toleran pada susu. Minum susu, langsung berak-berak.

manfaatkan-minyak-jarak-untuk-atasi-alergi-udang-kepiting

Di Indonesia, toleransi hanya ditujukan pada budaya dan agama. Orang dibilang intoleran pada agama lain, ras lain, LGBT, jenis kelamin lain. Sementara itu, orang yang toleran pada agama lain, ras lain, LGBT dan jenis kelamin lain merasa dia lebih tinggi. Padahal dia belum tahu saja, siapa tahu dia intoleran pada hal lain–orang miskin pinggir kota yang digusur misalnya. Kawan-kawan saya yang mengaku toleran ini, banyak lho yang senang penggusuran untuk membuat kota lebih baik, dengan slogan “kalau miskin jangan hidup di Jakarta.” Apa itu toleransi?

Kemarin saya sempat berdebat dengan seorang kawan yang bilang bahwa ada kawannya seorang Islam konservatif yang toleran. Saya bilang, kalau dia konservatif artinya dia cenderung mempromosikan ‘intoleransinya”, dan itu bukan hal yang buruk. Muslim yang baik, sudah seharusnya intoleran pada dosa. Cuma kadar intoleransinya saja yang harus dikontrol. Kadar ini bisa terlihat dari cara dia memperlakukan hal yang ia takkan tolerir. Misalnya si Muslim ini percaya bahwa orang Islam tidak seharusnya memilih pemimpin non-muslim–sekompeten apapun dia. Di sini, agamanya berseteru dengan demokrasi dan konsep negara kesatuan. Di sini, ia memilih sebuah intepretasi agama, yang tidak kompatibel dengan demokrasi.

Mungkin ia toleransi pada non-muslim pada kehidupan sehari-hari. Mungkin juga di kantornya, ia punya bos non muslim. Tapi sendainya ia bisa memilih, dalam konsep demokrasi, ia akan memilih pemimpin Muslim sejelek-jeleknya, daripada pemimpin non-Muslim sebaik-baiknya–ini saya tidak bicara soal Anies-Ahok, karena Anies tidak sejelek-jeleknya pemimpin Muslim dan Ahok tidak sebaik-baiknya pemimpin non muslim.

Contoh lain, salah seorang sepupu saya, salah satu muslim baik yang saya kenal, tidak mentolerir LGBT. Tapi dia punya beberapa kawan gay, dan ia takkan lelah untuk mengingatkan bahwa yang baik adalah jadi straight. Tapi saya yakin, kalau ada yang hendak menyakiti kawan gay-nya itu secara fisik, melanggar hak asasi kawannya itu, pasti dia membela. Bukan karena gay itu benar, tapi karena gay juga manusia dan semua manusia punya hak asasi dasar. Nggak bisa ‘menyembuhkan’ gay dengan memukulinya, apalagi membunuhnya. Membunuh gay cuma akan membuat dia kehilangan kesempatan bertobat.

Dari ilustrasi itu saja kita lihat spektrum toleransi. Ada yang intoleransinya ekstrim sehingga mau membunuh dan menyakiti, ada yang medium, yang bisa mentolerir selama ‘lu gak pegang-pegang gue,” dan ada yang tingkat toleransinya tinggi, sehingga dengan sendirinya menjadi gay.

Soal gay, toleransi saya termasuk medium. Saya tidak percaya itu penyakit. Saya banyak punya teman gay. Tapi saya MEMILIH untuk straight. Bukan karena agama tapi karena pengalaman dan preferensi hidup saya saja. Namun soal pelecehan seksual, intoleransi saya lumayan tinggi. Ada yang menggrepe atau memaksa saya secara seksual (baik lelaki atau perempuan) ya saya jotos secara spontan.

Namun ada satu yang menggelitik saya soal toleransi kita di Indonesia mengenai LGBT–khususnya Gay. Secara kultural, kita punya banyak gender khususnya di budaya-budaya tradisi kita, seperti pendeta Bissu di Sulawesi. Agama semitik masuk dan mengajarkan kita untuk takut dan anti terhadap homoseksualitas. Neo-maskulinitas (keinginan untuk menjadi jantan karena takut disaingi perempuan atau diperkosa lelaki) juga menjangkiti perpolitikan kita, baik di tingkat individu atau di tingkat parlemen (lihat UU kita yang sangat bias gender). Namun sebenarnya di saat yang sama, kita mentolerir homoseksual dalam tingkatan tertentu.

Ambil kasus penggrebekan Atlantis Gym, dimana ratusan orang lelaki ditangkap dan diarak telanjang karena pesta seks. Kalau Anda iseng membaca koran-koran kelas menengah bawah, pengarakan telanjang tidak hanya terjadi pada gay. Seringkali penggrebekan di hotel-hotel melati, atau ketahuannya muda-mudi bercinta di taman kosong, juga berakhir ke penelanjangan dan pengarakan. Yang membuat kasus Atlantis spesial adalah ini kasus homoseksualitas dan pelakunya ratusan orang. Pada tahapan tertentu, ada egalitarian di mata hukum sosial: homo atau hetero, ketika ketahuan, Anda diarak telanjang.

Di sinilah lucunya. Seorang kawan saya yang gay berkata begini dalam facebook messenger: “Gue sih seneng lihat foto-foto [pria gay telanjang Atlantis] itu, six pack. Bagus-bagus. Coba kalo lo yang ketangkep Nos. Flabby, nggak enak dilihat.” Bitch.

Sebagai seorang gay yang sudah lama open ke tema-temannya, kawan saya ini nampaknya tidak begitu khawatir. “Kalo nggak mau digrebek ya main aman.” Kata dia.

six-pack-abs_14_3

Jadi menurut pendapat saya, selama tidak seperti di Aceh, dimana Gay harus dihukum cambuk lebih dari 80 kali, masih mending lah di Jakarta (dan banyak kota besar di Indonesia). Tingkat toleransi terhadap Gay cukup tinggi untuk ukuran negara mayoritas Islam di dunia. Media mainstream pun masih mengandalkan MC dan selebriti gay sebagai salah satu amunisi utama entertainment mereka, dengan syarat ‘Gayness’ hanya boleh simbolik (pakaian, cara bicara, gaya metroseksual). Toleransi kebanyakan orang Indonesia terbatas sampai pengakuan publik.

Permasalahan utama dalam kasus Atlantis, dan banyak penggrebekan lain baik yang hetero atau pun yang homo, adalah masalah politik tubuh. Negara selalu merasa punya hak atas tubuh warganya. Sehingga walau Indonesia mengakui standar hukum Internasional yang anti-penyiksaan, di sana-sini masih banyak kebocoran. Menelanjangi termasuk suatu bentuk penyiksaan, apalagi hukum pecut. Hukuman fisik, semestinya sudah tidak terjadi lagi hari ini, idealnya. Namun toh itu tetap masih dilakukan di banyak tempat, seperti dalam operasi intelijen/tentara, perpeloncoan kampus/akademi, dan tindakan main hakim sendiri masyarakat kita.

Politik tubuh juga menyangkut segala macam UU yang mengatur bagaimana cara warga negara berpakaian dan merasuki ranah privat kita–UU anti pornografi misalnya, yang pasal karetnya kini dipakai menjerat junjungan kita, yang mulia, HRS. Dalam konteks ini, hukum yang harusnya jadi batas toleransi Negara, dengan mudah dipermainkan oleh banyak pihak yang berebut kepentingan.

Oposisi HRS, Ahok BTP, nampaknya sudah sangat memahami ketika ia mencabut niatnya untuk banding atas vonis 2 tahun penjara yang lebih berat dari tuntutan Jaksa itu. Ia tahu, permainan demonstrasi artinya memberikan panggung untuk para provokator dan perusuh bayaran. Ia tidak mau memilih cara opresi yang sama. Ahok sepertinya akan kembali kepada idealismenya dalam mengopresi: menggunakan konstitusi dan taktik politik bawah tangan yang lebih jitu daripada main pertunjukkan otot massa. Ia tahu pasti, bahwa toleransi dan intoleransi orang Indonesia masih mudah untuk dipermainkan–spektrumnya masih luas. Hidup jadi seru, ketika kita menunggu manuver selanjutnya dari mantan Gubernur kita ini. Karena tidak seperti lawannya, ia tidak lari. Ia mencintai Indonesia dengan baik dan buruknya.

ahok2bhoax

Kesimpulan dari tulisan ini adalah: toleransi-intoleransi adalah barometer kemanusiaan kita, dan seperti identitas, ia tidak pernah saklek. Dengan semua hal besar yang terjadi beberapa bulan ini, kita semua baik yang liberal atau yang konservatif, bisa optimis pada perjuangan masing-masing. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Masih ada cara menjadi besar.”

 

 

 

 

 

Politik, Racauan, Uncategorized

Untuk Sahabat-Sahabat dan Saudara-saudara Konservatifku, yang Percaya Bahwa Ahok Menista Agama Islam

Assalamualaikum Wr.Wb.

Sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku. Aku kenal kalian, beberapa dari kecil semenjak kita lebaran di rumah sesepuh, atau saling menginap, beberapa adalah abang dan kakak yang mengasuh dan mengajarkanku ilmu kehidupan dasar, ada juga yang satu madrasah, yang setiap malam Ramadhan dulu mengantri memukul beduk, atau berlomba-lomba mencium tangan habaib atau kiai yang hendak ceramah menjelang tarawih. Beberapa lagi di SMP, SMA serta di masa-masa kuliah. Kita bertemu di diskusi, kantin, membicarakan hal-hal remeh temeh yang hangat. Jarang kita membicarakan politik dan agama tanpa saling mengalah, kita hampir tak pernah berdebat. Kita tidak pernah menyalahkan satu sama lain, walau seringkali berseberangan. Dan inilah yang membuatku percaya dan sayang pada kalian.

Kita lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Kita seagama, dan kita percaya bahwa Ahok tidak seharusnya naik menjadi gubernur. Kita sealiran dalam kekesalan melihat ketidakadilan sosial di Jakarta. Kalian tak henti-hentinya mengingatkanku untuk ibadah, untuk kembali ke jalan yang benar. Aku pun tak henti-hentinya mengingatkan kalian untuk jadi kritis, memverifikasi segala hoax, mitos, atau apapun yang dibuat orang-orang iseng untuk membodohi orang lain. Dan ini jugalah yang membuatku percaya dan sayang pada kalian

Ketika Ahok terjerat pasal penistaan, ketika ribuan orang demonstrasi atas nama agama, aku ada di sana di antara kalian, membawa kamera, dan mendengar kalian. Namun di situlah kita bersebrangan paling jauh. Tujuan kita masih sama, kita tak ingin Ahok jadi gubernur. Tapi aku tidak ingin memakai cara provokasi orang dengan sebuah rekayasa. Akhirnya aku menarik dukunganku untuk oposisi Ahok (baik Anies atau AHY). Aku Golput. Dan aku tahu, menjadi golput tidak akan menyumbang apapun. Namun sebagai orang Jakarta, golputnya aku turut membantu Anies untuk menang. Di situ, kalian pun merasa ikut menang. Toh banyak dari kalian merayakan kemenangan seperti lebaran, pasca quick count.

Aku terdidik sebagai sarjana Sastra, Bahasa dan Budaya, dari salah satu Universitas terbaik negeri ini. Aku menghabiskan 7 tahun untuk kuliah, spesifik masalah sastra dan kebudayaan. Dan 7 tahun itu telah membentuk caraku berpikir dan menganalisa. Seperti semua saksi ahli dari universitas dalam sidang Ahok, secara logis dan bahasa aku yakin Ahok tidak bersalah. Argumennya bisa panjang, tapi mungkin kalian sudah tahu. Ketika Jaksa menuntut satu tahun penjara dan masa percobaan, mereka tidak menuntut Ahok atas dasar penistaan agama, karena bukti-buktinya sudah jelas: dia TIDAK menistakan agama islam.

Namun hakim tertekan secara politik dari dua arah. Dari pemerintah secara tidak langsung ia tertekan karena Ahok adalah simbol kooperasi Jakarta pada Jokowi. Secara langsung, ia tertekan oleh usaha-usaha kalian, jutaan umat muslim yang sebagian pernah moderat. Siapa yang tidak tertekan, ketika ada demo besar menjelang sidang, dan setiap persidangan dikawal demonstran serta tentara muslim rakyat. Tadi malam aku mengedit video tentang ketidakpuasan kedua belah pihak, baik dari pendukung Ahok ataupun dari pihak kalian, yang menganggap bahwa vonis 2 tahun itu tidak adil.

Sementara aku mengambil posisi yang lebih ekstrim lagi. Menurutku pasal penistaan itulah yang tidak adil. Hukum Indonesia yang tidak adil. Produknya jelek, pembuatnya korup, dan selalu bisa dimainkan seenak jidat oleh para elit politik. Di sini aku jujur pada kalian, menurutku kalian semua, baik yang pro atau anti-Ahok, sudah dikerjai elit. Kalian adalah boneka-boneka para penguasa dan pengusaha besar yang tidak ada secuilpun peduli pada hidup kalian, kecuali kalau mereka dapat untung.

Vonis dua tahun itu adalah permainan pula. Permainan untuk melanjutkan konflik horizontal di antara kalian, kaum pro dan kaum anti Ahok. Itulah sebabnya aku tak pernah mau ikut-ikutan memihak satu di antara kalian. Sampai kemarin, dimana aku terpaksa memihak demi sesuatu yang lebih kucintai daripada diriku sendiri: Indonesia.

Ahok sudah kalah sebagai gubernur. Tujuanku yang pertama sudah tercapai, tanpa aku memilih. Aku hanya melaksanakan tugas sebagai jurnalis dan akademis yang selalu kritis pada kedua pihak. Sekarang aku merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan. Tanggal 5 Mei kemarin, kalian berdemonstrasi agar Ahok dihukum seberat-beratnya, sambil menyanyikan Indonesia Raya dengan bangga. Tapi kalian lupa, jika Ahok dihukum, dengan fakta bahwa menurut Jaksa, ia tidak bersalah, kalian telah merenggut haknya yang paling dasar sebagai Warga Negara Indonesia: hak untuk menjadi sama di mata hukum, terlepas dari ras dan agamanya.

Keadaan bangsa ini sudah lama carut marut dan dihukumnya Ahok akan memperburuk keadaan. Kalian tidak boleh lupa bahwa Indonesia tidak lahir secara alami. Kita adalah perjanjian politik berdasarkan asas nasionalisme, bukan agama. Indonesia adalah perjanjian antara berbagai agama, suku, etnis dan ras. Ketika kalian mengambil panggung untuk menyatakan diri sebagai mayoritas, sebagai yang terbesar dan yang terkuat di antara orang Indonesia, lalu beberapa di antara kalian yang aku tidak kenal menghardik umat, etnis atau ras lain secara sengaja atau tidak sengaja, di situlah perpecahan NKRI dimulai. Bukan dari Ahok, tapi dari kalian.

Ini permainan elit. Mereka ingin kita saling memilih pihak dan bertarung untuk pertarungan mereka. Elit kalian sudah berhasil mengumpulkan kalian, membuat kalian teratur dan solider. Sementara elit pemerintah ingin kelas menengah sekuler yang sehari-hari sibuk kerja dan jarang ibadah, ikut turun lapangan. Elit rezim ini ingin membuat dualitas Islam vs Nasionalisme. Karena itulah wacana makar diperbesar, HTI dicecar. Aku benar-benar tidak ingin ikut ke dalam arus ini. Aku takut kehilangan persahabatan kalian.

Namun kali ini, setelah bertahun-tahun, aku terpaksa berpihak lagi. Aku terpaksa menyatakan diri bersebrangan dengan kalian. Aku terpaksa menjadi alat politik elit. Karena sahabatku bukan hanya kalian. Aku punya sahabat yang beretnis beda, agama beda, dan suku berbeda. Aku punya beberapa sahabat Cina Kristen yang stress takut setengah mati, karena ancaman-ancaman yang dikobarkan oleh beberapa di antara kawan-kawan kalian (bukan kawan-kawanku). Aku merasa tugasku sekarang menenangkan sahabat-sahabatku ini, supaya mereka merasa mereka masih orang Indonesia, mereka masih punya sahabat dan saudara sebangsa setanah air yang peduli pada mereka. Aku ingin membuiat mereka merasa aman, meyakinkan mereka bahwa Ahok akan bebas, seperti dulu aku meyakinkan kalian bahwa Ahok akan kalah di pilkada.

Semoga kalian tidak marah-marah amat pada pilihanku. Dan setlah semua ini berakhir, kita bisa berkumpul lagi, ngobrol lagi tentang hal remeh temeh. Kalian bisa mengajarkanku agama lagi, dan aku bisa belajar lebih banyak dari kalian. Semoga ini tidak membuat kalian mengasingkanku. Kalian orang-orang baik, dan aku tidak ingin diasingkan orang baik.

Tabik.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Nosa Normanda

Eksistensialisme, Ethnography, Perlawanan, Politik, Puisi, Racauan

3329

Kau anggap tak berdaya
tuk berkuasa
kami tak paham kata
kau telah rampas semua

Kami tak punya peta
namun tidak buta
kau pancang tanah mulia
kau telah rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kau jejalkan

Kau datang bagai Nabi
mengaku suci
tapi engkau pencuri
kau telah rampas semua

Tradisi harus mati
demi rezeki
kau didik anak kami
tuk ikut rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kebablasan

Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhan yang esa
Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhantuhantu

manokwari

Politik, Racauan

Bisnis Bencana dan Banjir Jakarta

Salah satu model bisnis terbesar di dunia adalah bisnis bencana (Business of Disaster). Logika bisnis ini sederhana: mereka untung dari bencana maka bencana harus dipelihara.

Jangkauan bisnis ini sangat luas: dari perdagangan obat-obatan dan vaksin, program perang dan perdagangan senjata, program pembangunan dan perbaikan infrastruktur, sampai program CSR dan pengelolaan sumbangan. Tanpa bencana, mereka akan rugi besar.

Potensi bisnis ini pun sama luasnya: dari bencana alam, bencana kemanusiaan, sampai bencana alam karena manusia–yang terakhir ini yang paling sering dieksploitasi. Ini adalah jawaban kenapa bahan bakar ramah lingkungan (tenaga matahari dan biofuel) tidak juga diproduksi massal dan murah, malah tersendat-sendat; kenapa perang-perang terus menerus diadakan dan senjata bekas perang A dijual ke bakal perang B; kenapa jutaan orang jadi korban virus baru, atau ujicoba vaksin/obat baru; kenapa jalan-jalan tidak pernah berhenti diperbaiki dan dengan cepat rusak lagi, dan kenapa banjir di Jakarta harus tetap ada.

Bisnis adalah permainan manipulasi, penciptaan kebutuhan. Untuk punya sebuah pesawat TV hari ini, Anda harus punya internet (dulu antena), lalu ada stasiun TV, satelit, dan segala infrastrukturnya. Kebutuhan terus diciptakan tanpa akhir. Yang mengerikan adalah ketika kebutuhan itu diciptakan dari menciptakan bencana. Akan ada banyak orang yang mati, untuk memberi contoh yang hidup. Tapi itu tidak cukup. Yang hidup harus diajari untuk cepat puas dengan menambal tanpa menyelesaikan masalah.

Contoh kecilnya adalah banjir Jakarta. Siapa yang untung dari banjir Jakarta? Secara lokal, ada orang-orang yang menyewakan perahu karet, tenda pengungsian, atau penyalur sumbangan yang di dalamnya terdapat jalur distribusi bantuan. Lebih luas lagi, pemberi bantuan dapat keuntungan pencitraan politik. Yang lebih luas lagi, pemerintah dan DPR selalu dapat proyek. Secara global, saham-saham seperti farmasi, sparepart, perkebunan, apartemen, dan bahan pokok, selalu naik setiap kali banjir. Penting untuk melihat siapa saja yang untung setiap ada banjir, karena dengan itu, kita bisa melihat konflik kepentingan kenapa banjir harus dipertahankan di Jakarta.

Dengan ini saya merasa bahwa tidak akan ada gubernur yang benar-benar bisa membuat Jakarta tidak banjir, kecuali, ketika masyarakat Jakarta sendiri benar-benar bisa memiliki kekuatan politik yang benar-benar besar, yaitu kekuatan politik yang mengatasnamakan kepentingan kehidupan mereka sendiri alih-alih kepentingan politikus atau golongan agama tertentu. Kekuatan ini hanya bisa didapat ketika masyarakatnya sudah memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab, serta punya kecerdasan dasar dalam pengelolaan ruang dan ekonomi yang berpikir untuk kepentingan publik. Dari mulai pengelolaan sampah, sampai pemilihan tempat tinggal dan konsumsi belanja yang memikirkan orang lain. Semua tindakannya sudah bisa memperhitungkan publik, seperti menyiram toilet umum yang ia pakai dengan bersih karena berpikir bahwa sehabis ia pakai, akan ada orang lain yang memakai fasilitas itu.

Kewajiban yang sudah dipenuhi itu akan memberikan hak warga untuk bersuara secara lebih efektif. Di sini warga bisa menganalisa pengambil kebijakan dan mengkritisinya ketika melanggar hak publik dengan korupsi atau penipuan proyek. Hukum bisa ditegakkan, kalau mayoritas subjeknya sudah memenuhinya, dan sisanya tinggal dikoreksi. Tapi selama kesadaran politik itu belum ada, selama money politics masih bisa jalan dengan mulus, selama kepentingan golongan yang dipegang oleh beberapa orang masih lebih bisa bersuara daripada kepentingan publik keseluruhan, lupakan saja bebas banjir. Itu hanya angan-angan saja.

Silahkan menunggu banjir dengan setia setiap tahun, dan jangan lupa maki-makilah sesama demi pilkada. Toh yang diharapkan adalah kemenangan calon, bukan kemenangan diri sendiri dan kemenangan publik. Selamat berenang dan menyelam.