Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan, Uncategorized

Gerakan Konsumen Melawan Hoax

Summary: pendapatan situs-situs berisi berita palsu adalah dari iklan online. Konsumen bisa menghentikan jalur pendapatan mereka dengan memberitahu pada perusahaan pengiklan kalau iklan mereka muncul di situs hoax; kebanyakan perusahaan tidak tahu itu karena iklan dikendalikan oleh bots.

Suatu hari di akhir November, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan bernama Nathan Phillips mengunjungi situs hoax Breitbart News untuk pertama kalinya. Tuan Phillips telah mendengar headline penuh kebencian di situs itu — seperti “Kontrasepsi Membuat Perempuan jadi Jelek dan Gila” — dan bertanya-tanya perusahaan semacam apa yang mendukung pesan-pesan seperti itu dan beriklan di website tersebut. Ketika ia mengklik website itu, ia begitu terkejut karena menemukan iklan universitas-universitas, termasuk kampus pasca sarjana yang menjadi almamaternya sendiri — Sekolah Lingkungan Nicholas, Duke University. “Itu serasa dipukul di perut,” Katanya.

Mengapa program lingkungan dari kampus ternama mau dipromosikan situs yang menolak perubahan iklim? Tuan Phillips menemukan  bahwa pegawai Universitas Duke tidak tahu di mana iklan mereka akan muncul, jadi ia mengirimkan sebuah twit ke Duke tentang hubungan mereka dengan website yang “seksis dan rasis” tersebut. Akibatnya, setelah percakapan berbunga-bunga dengan departemen lingkungan, ia menerima resolusi yang memuaskan — jaminan bahwa iklan kampusnya takkan muncul lagi di Breitbart.

19667681581_56e50e3275_b

Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Dengan resolusi itu, maka Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Di pertengahan November, sebuah grup twitter bernama Sleeping Giants (Raksasa Tidur) menjadi hub dari gerakan baru tersebut. Giants dan para pengikutnya telah berkomunikasi dengan 1000 perusahaan dan grup-grup non-profit yang iklannya muncul di Breitbart, dan sekitar 400-an dari organisasi itu telah berjanji akan mencoret situs tersebut dari belanja iklan ke depannya.

“Kami fokus ke Breitbart sekarang karena mereka adalah ikan terbesar, ” salah seorang pencetus Sleeping Giants mengatakan pada saya. (Ia meminta anonimitas karena beberapa anggota mereka bekerja di industri media digital.) Dengan itu, Sleeping Giants dapat memperlebar kampanye mereka untuk melawan sekelompok aktor-aktor jahat, tapi mereka membutuhkan pasukan yang lebih banyak, dan “baru satu bulan kami melakukan ini, ” katanya pada saya di Desember. Lalu ia menambahkan,”Ini adalah satu bulan terpanjang selama hidup saya.” Ia mengatakan bahwa ia menemukan ada yang salah di iklan internet di Novermber, saat karena keingintahuan ia mengunjungi situs Breitbart. Seperti tuan Phillips, ia terenyuh dengan apa yang temukan di sana.Ia melihat Breitbart diplaster dengan logo-logo merk Silicon Valley yang ditujukan untuk peminat teknologi, dan millenial yang pro pada keberagaman. “Saya tidak bisa percaya bahwa perusahaan-perusahaan progresif ini membayar untuk Breitbart News,” katanya.

Jadi ia menciptakan akun twitter Sleeping Giants yang membuat dia dan teman-teman aktivisnya bisa secara anonim berinteraksi dengan pengiklan. Lalu mereka mengirim screenshot pada perusahaan seperti Chase, SoFi dan Audi untuk membuktikan bahwa iklan mereka muncul di sebelah konten ofensif. Dalam hitungan jam, mereka mendapatkan respon, dan mereka sadar, mereka telah sampai pada taktik potensial yang kuat.

Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

“Kami mencoba untuk menghentikan website rasis dengan memutus uang iklannya,” tulis Sleeping Giants di profil akunnya. “Banyak perusahaan tidak tahu ini terjadi. Ini saatnya kita bilang pada mereka.” Mereka bilang, tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak. Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

iflix.PNG
Iklan Iflix di Breitbart, 8 Agustus 2017.

…tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak.

Usaha maju-mundur para aktivis ke perusahaan-perusahaan memperlihatkan kabut kebingungan yang melingkupi iklan online. Banyak organisasi sama sekali tidak tahu bahwa iklan mereka akan berdampingan dengan konten yang mengerikan.

Anda mungkin bisa menyalahkan hal ini –sebagian– pada robot-robot (atau dalam istilah IT di Indonesia sering disebut Bot). Menurut riset firma eMarketer, perusahaan Amerika sekarang menghabiskan lebih dari 22 trilyun dollar per tahun pada “iklan yang terprogram,” jenis iklan yang dibeli dengan sedikit pengawasan manusia. Joshua Zeitz, wakil direktur korporat komunikasi di perusahaan ad-tech AppNexus, menjelaskan kepada saya bagaimana pembelian otomatis ini berlangsung. Saat Anda mengklik sebuah tautan, “dalam kurang dari sedetik, sebuah panggilan akan keluar, dan alogritme dan perangkat lunak otomatis langsung melelang klik Anda pada pengiklan untuk meletakkan iklannya di laman yang Anda klik,” katanya. “Jadi mungkin algoritma Nabisco mau menempatkan iklan di situs itu; juga Macy’s dan Honda.” Algoritma yang memberikan harga tertinggi akan memenangkan kesempatan iklan untuk muncul di layar Anda.

Iklan terprogram juga mengikuti individual di sekitar internet, berdasarkan sejarah browsingnya, seperti yang terjadi pada Tuan Phillips. Iklan target tunggal seperti ini mungkin berharga murah, tapi pundi demi pundi bisa bernilai industri milyaran dollar.

Bahkan ketika penempatan iklan secara otomatis, perusahaan-perusahaan masih punya kekuatan untuk mengontrol pengepul neo-Nazi atau berita palsu. Malahan, sebenarnya cukup mudah untuk perusahaan menuntut kebijakan etis, menurut Tuan Zeitz. Benar, perusahaan dia sendiri (yang mengendalikan iklan terprogram untuk organisasi lain) yang baru saja memutuskan untuk mencopot Breitbart News dari pasar iklannya. “Kami tidak mengasingkan mereka karena mereka kanan atau konservatif. Kami mengasingkan mereka dari pasar kami, karena mereka melanggar kebijakan ujaran kebencian kami, yang melarang iklan di situs yang mempromosikan kekerasan dan diskriminasi terhadap minoritas.” (Breitbart sendiri mengatakan bahwa mereka mengutuk rasisme dan bigotri “dalam bentuk apapun.”)

8621752767_af70604d7f_z

…berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Tuan Zeitz menunjukkan merk-merek perusahaan yang telah menemukan cara untuk tetap menjaga iklan mereka tidak hadir di situs porno, karena “kau tidak mau iklan sereal sarapan di sebelah video porno hardcore, ” jadi “ada alat-alat yang bisa membuat perusahaan mengontrol kemana iklan mereka.” Sebuah perusahaan dapat memblok situs spesifik seperti Breitbart News dari belanja iklannya. Atau perusahaan bisa juga memilih “daftar putih” dari situs yang sejalan dengan nilai-nilai mereka.”

Tapi untuk melakukan itu, perusahaan-perusahaan harus melalui situs yang didesain untuk mengirimkan dengtan tepat apa yang mereka mau — audiens sebanyak mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Pada November, reporter NPR mewawancarai Jestin Coler soal kerajaan berita-palsunya. Tuan Coler dan timnya membuat situs mereka terlihat seperti koran lokal dan mereka menulis headline fantastis dan cerita bohong yang mengundang banyak pembaca. Walau berita itu palsu, iklannya tidaklah palsu. Tuan Coler tidak memberitahu reporter berapa tepatnya penghasilan iklan yang ia dapatkan, tapi ia estimasikan penghasilan iklannya sekitar USD 10.000 (130 juta rupiah) dan USD 30.000 (390 juta rupiah) per bulan.

6348cdcea77dec03dfa96b08da32c535
Jestin Coler, bos besar website Hoax di Amerika

“Pengusaha” semacam itu punya pengaruh luar biasa dalam ranah politik kita. Buzzfeed News melaporkan bahwa selama tiga bulan pemilu, berita-berita hoax telah mengalahkan berita nyata di sosial media. Ini karena orang-orang secara antusias menyebarkan headline pro Trump yang disajikan dengan umpan klik dalam dunia aneh iklan online, berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Ezra Englebardt, seorang strategist periklanan, bergabung dengan kampanye Sleeping Giant karena ia percaya akun tersebut menciptakan transparansi yang sangat dibutuhkan dalam dunia iklan online. Ketika banyak orang berbagi foto di iklan yang mereka lihat di layar mereka, di situ bisa dilihat kemana uang iklan pergi, katanya.

Namun, kenyataan pasca-kebenaran membuat semakin sulit untuk mengukur skup masalahnya. Kepala Redaksi Breitbart mengatakan pada Bloomberg bahwa walaupun sudah di-‘ban’, perusahaanya “terus berkembang secara pesat.” Namun, publik komunikasi twitter dan akun berita membuktikan bahwa para pengiklan telah meninggalkan situs tersebut.

Lebih penting lagi, screenshot aktivis memaksa perusahaan untuk berpihak. Setelah tekanan dari konsumen, perusahaan Kellog’s, misalnya, jadi salah satu merk besar yang mengumumkan bahwa ia akan menarik iklannya dari Breitbart News. Sebagai balasannya, Breitbart mengajak boikot dan merk sereal tersebut mendapatkan reaksi keras di media sosial. Di saat yang sama, Kellog’s juga mendapatkan banyak pemberitaan baik karena telah mengambil stance politik; di awal Desember, banyak konsumen mengumumkan bahwa mereka akan menghadiahi perusahaan tersebut dengan membeli semua jenis sup Kellog untuk memberi makan fakir miskin.

Sekarang, melawan rasisme bisa membuat  beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya.

Saya berharap bahwa perusahaan-perusahaan lain mau menggaungkan pemutusan hubungan mereka dengan Breitbart. Nampaknya mudah untuk P.R. korporasi untuk tahu dan menjauh dari situs-situs rasis yang menulis–“setiap pohon, atap, pagar dan tiang di Selatan Amerika harus mengibarkan bendera konfederasi.”

Tapi ketika saya menghampiri beberapa organisasi yang sepertinya telah bergabung dengan pengasingan Breitbart, mereka tidak mau bicara tentang itu. Sebuah bank dan grup nonprofit tidak merespon pertanyaan saya. Dua perusahaan — 3M dan Zappos — menolak untuk bicara soal itu. Seorang juru bicara dari Patagonia mengatakan bahwa perusahaannya tidak beriklan di situs supremasis — tapi ia tidak mau berkomentar tentang screenshot yang aktivis kirimkan padanya di awal Desember, yang meperlihatkan logo perusahaanya di laman Facebook Breitbart. Warby Parker adalah pengecualian; seorang perwakilan perusahaan tersebut menunjukkan pada saya sebuah pernyataan terimakasih pada seorang aktivis Twitter karena menginspirasi perusahaan itu untuk tidak beriklan di Breitbart.

Dengan perilaku beberapa perusahaan ini, Anda bisa mendeteksi bagaimana norma-norma kita telah bergeser. Dulu, tidak ada akibat yang besar ketika melawan slogan-slogan Neo Nazi secara terbuka. Sekarang, melawan rasisme bisa membuat beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya. Tuan Trump beberapa waktu lalu membuktikan kerusakan yang bisa ia lakukan pada sebuah perusahaan, dengan mengkritik Locheed Martin di Twitter; setelah itu, saham perusahaan tersebut terjun bebas.

trump-article-header

…bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman

Namun, gerakan konsumen baru telah terbit, dan para aktivis percaya bahwa ketika surat suara gagal, dompet bisa berkuasa. Perjuangan ini lebih besar daripada sekadar iklan di Breitbart News — ini tentang menggunakan korporasi sebagai tameng untuk melindungi orang-orang yang rawan di-bully dan jadi korban kejahatan kebencian.

Nicholas Reville, anggota dewan di Participatory Culture Foundation, yang bekerja sama dengan Sleeping Giants, menunjukkan bahwa bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman: “Anda harus menjadi inklusif jika Anda ingin menjual kepada pembeli yang lebih luas.” Dan ia pun menunjukkan aktivisme konsumen bisa menjadi efektif karena banyak orang merasakan merka tidak punya cara lain untuk mengekspresikan ketidaksukaan mereka pada nilai-nilai Trump-ian.

Pencetus Sleeping Giant setuju pada hal ini. “Menakutkan untuk mengatakan ini, tapi mungkin perusahaan-perushaan akan punya standaa moral sekarang,” katanya. Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan mendukung kebijakan (paling tidak di atas kertas) yang melarang bully rasisme dan intimidasi seksual. Bahkan jika Presiden Trump menghilangkan aturan ini, korporasi mungkin akan tetap berusaha menerapkannya. “Kita semua melihat bahwa buku kepegawaian memiliki kode etik perilaku,” katanya. “Mungkin di situlah kita harus mulai bersandar sekarang.”

Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Jangan Pilih Ahok Sebagai Pemimpin Muslim! Capische!?

ahok-hoax
Photo: Agan Harahap

Saya mengaku muslim. Tapi bukan muslim yang baik. Solat masih jarang-jarang, tapi berzakat lumayan teratur (diingetin nyokap). Puasa masih bolong-bolong (tapi diitung buat dibayar belakangan kalo ada umur). Saya juga sudah berhenti solat Jum’at di mesjid Indonesia. Terakhir kali solat Jumat di Indonesia sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu, saya ingat saya Walk Out dengan kesal, nggak tahan dengar setan yang jadi khatib.

Terakhir kali saya Solat Jum’at adalah di World Bank, Washington DC awal tahun ini. Kuil kapitalisme, dimana Tuhan kebanyakan orang disembah hari ini: DUIT. Di sana saya shalat dengan muslim-muslim dari seluruh dunia. Di sebuah mushalla kecil yang pakenya harus shift-shift-an, saya dapat shift 3, sekitar jam 2 siang. Lucunya, sebagai orang yang mengaku ‘kiri’, solat di World Bank membuat saya bukan ‘kiri yang baik,’ walau setiap ada kesempatan saya selalu ikut atau membuat proyek komunitas, dan jalur hidup, prinsip, dan pekerjaan saya lumayan jauh dari struktur industri.

Saya Solat di World Bank bersama murid-murid saya yang sedang mengunjungi DC. Mereka seperti kebanyakan muslim Indonesia, setengah tidur dengerin ceramah–sudah biasalah mereka nggak perduli dengan isi ceramah Jum’atan. Tapi saya terjaga dan mendengarkan. Inti pembicaraan adalah bagaimana menjadi adil dalam Islam, yaitu ‘menempatkan sesuatu pada konteksnya.’ Yang menarik adalah, si penceramah menarik jauh tema itu menjadi pentingnya ilmu pengetahuan, baik alam, sosial, ekonomi, filsafat dan politik, untuk menjadi adil. Karena keadilan tanpa referensi itu tidak ada. Kita tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya kalau kita tidak tahu itu apa dan dimana tempatnya. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya adalah hal yang tidak adil: memakai celana dalam di kepala, misalnya, adalah hal yang tidak adil buat kepala dan buat si celana dalam (ini kalimat saya sendiri, bukan kalimat si penceramah–haha).

Peristiwa Demo anti-Ahok mengingatkan saya pada ceramah tersebut. Apakah Ahok adil membawa-bawa ayat Al-Quran dalam orasinya? Apakah umat Islam yang anti-Ahok adil dalam menempatkan Ahok sebagai calon pemimpin yang haram bagi muslim? Saya tidak bisa bicara soal ayat, tafsir, atau apapun itu. Itu bukan kapasitas saya dan saya merasa tidak adil bicara soal ayat dalam konteks agama. Dalam konteks budaya, saya masih pede bicara ayat dari kitab manapun, tapi konteks agama? Saya sih merasa tidak adil lah. Di situ saya merasa, Ahok tidaklah adil.

Namun, ketika orang-orang muslim mengharamkan pemimpin non-muslim, apakah itu adil? Ya, kalau pemimpin ‘muslim’ yang dimaksud adalah pemimpin agama, tentu adil-adil saja menolak Ahok. Kalau pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin seluruh umat Islam Jakarta, tentu baiknya jangan memilih pemimpin non muslim. Seorang kiai yang namanya saya lupa berkata, “Tidak mungkin seorang kristen menjadi imam shalat.” Saya setuju.

Cuman ya si Ahok jelas bukan pemimpin muslim. Dia nggak ngajarin agama. Dia juga bukan pemimpin Kristen, toh dia nggak ceramah di gereja tiap minggu–paling cuma sekali-kali aja dituduh pendetanya. Konteksnya, dia bukan pemimpin agama. Dia cuma pelamar kerja untuk jadi pelayan sipil (mengutip dia sendiri). Dia mau jadi CEO-nya Jakarta, anak buahnya warga Jakarta–masalah warga yang mana dari kelas apa, itu masalah lain. Adilkah kita menempatkan Ahok sebagai pemimpin muslim yang harus kita tolak?

Saya ikutan menolak Ahok menjadi pemimpin umat Islam. Tapi soal Ahok jadi pemimpin Jakarta, saya masih mau punya hak memilih dia atau kandidat lainnya. Dan saya yakin, kalau Pilkada Jakarta ini adalah untuk memilih pemimpin dengan tingkat kegantengan, Ahok pasti kalah. Dia jarang ngegym kok. Bandingin aje bodinya sama Sandiaga Uknow atau Agus Udahyanak—Udah Ya Nak, jangan jadi tentara lagi… Nyokap saya aja sudah bulat akan memilih Agus karena doi six pack (aduh mamah… ternyata cukup girang jeee sama brondong.)

Socrates dalam buku ‘Republik’ yang ditulis Plato, diceritakan pernah menggrataki pasar dengan ngajakin orang-orang ngobrol soal keadilan. Jawabannya tentu berbeda, dan seperti biasa, tidak ada kesimpulan mana ‘Adil’ yang benar dan yang salah. Ada yang menjawab keadilan adalah milik penguasa, ada juga yang menjawab–lucunya seperti muslim–bahwa keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, ada juga yang menjawab keadilan adalah ibarat timbangan. Seperti kata Aa Gym (yang juga jarang ngeGym), kita jadi banyak belajar dari kejadian Ahok dan surat Al-Maidah yang dia bawa-bawa. Ambil saja hikmahnya. Tapi, jangan ambil hak suara orang lah… di situ kita harusnya sepakat, mengambil hak suara orang artinya tidak a…

Ah, sudahlah. Saya tidak ingin bikin kesepakatan apa-apa. Terserah aja pilkada nanti gimana. Toh itu juga cuma ilusi besar demokrasi. Saya mah pro khilafah saja. Memilih naik onta dariada naik kendaraan bermotor. Onta ramah lingkungan dan tokainya bisa jadi pacar kuku.

Filsafat, Politik, Racauan

Ilmuan: Bumi Terancam Orang-orang Kebal Fakta

Andy Borowitz*

MINNEAPOLIS (The Borowitz Report)—Ilmuan menemukan tegangan kuat orang-orang kebal fakta yang mengancam kemampuan Bumi untuk mendukung kehidupan, kajian terbaru melaporkan.

Riset tersebut dilakukan oleh Universitas Minnesota, menemukan tegangan orang-orang yang kebal terhadap semua bentuk pengetahuan pasti, membuat para ilmuan putus asa untuk melawan mereka.

“Manusia-manusia ini nampaknya memiliki semua yang diperlukan untuk menerima dan memproses informasi,” kata David Logsdon, salah satu ilmuan yang mengkaji masalah ini. “Namun, entah bagaimana, mereka mengembangkan pertahanan yang, entah apa maksud dan tujuannya, membuat kemampuan berpikirnya mati total.”

Lebih parah lagi, kata Logsdon, “Ketika fakta yang dipaparkan semakin banyak, maka semakin kuat pula pertahanan mereka terhadap fakta-fakta tersebut.”

Ketika para ilmuan tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang mekanisme yang mencegah manusia kebal fakta untuk memproses data, mereka berteori bahwa tegangan ini mungkin disebabkan kemampuan untuk menghadang dan membuang informasi yang mereka terima dari indra mereka ke syaraf otak mereka. “Fungsi normal kesadaran manusia, telah mati rasa seutuhnya,” kata Logsdon.

Ketika memastikan hasil pemeriksaan yang menyedihkan ini, Logsdon masih berharap bahwa ancaman manusia-manusia kebal-fakta ini bisa diatasi di masa depan. “Penelitian kami memang masih awal, tapi ada kemungkinan orang-orang ini akan menjadi lebih menerima kenyataan di lingukngan tanpa makanan, air, atau oksigen,” katanya.

*) Andy Borowitz adalah penulis best-seller dari New York Times dan seorang komedian yang telah menulis di The New Yorker sejak 1998. 

Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

Politik Kebodohan

Dalam politik, seringkali tidak diperlukan fakta, ilmu pengetahuan atau logika; namun fakta, ilmu pengetahuan dan logika memerlukan politik untuk bisa memajukan masyarakat.

Itu adalah hal yang saya pelajari ketika melihat bagaimana politik bekerja di banyak masyarakat di dunia. Politik adalah sebuah seni, dan seni selalu melebihi kenyataan, fakta atau logika. Seni memerlukan imajinasi, kreatifitas, dan kecakapan dalam menggunakan peralatannya: kostum, media, dll. Seni politik, sementara itu, adalah seni yang tujuannya hanya satu: kuasa.

Kuasa sendiri memiliki makna yang luas, dari yang sederhana dengan menggunakan kekuatan fisik semata, sampai yang kompleks dengan kekuatan simbolik seperti bahasa, referensi, hubungan sosial dan modal. Permainan kuasa, karenanya, menghalalkan apa saja, dari tipuan sampai manipulasi kenyataan. Dari membunuh satu orang martir, sampai membantai jutaan orang dalam sebuah genosida. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai, dan tujuan ini tidak pernah sesederhana ‘menguasai dunia’.

 

insides-of-pinky-and-the-brain-80356

Tujuan politik, bahkan yang paling sederhana sekalipun, bergantung pada konteks yang lebih besar dari tubuh individual itu sendiri. Sebuah tindakan pembunuhan dalam masyarakat sederhana, macam Qabil membunuh Habil, mewakili sebuah perebutan kuasa atas tubuh perempuan dan kuasa akan lahan. Setiap individu membawa dalam dirinya representasi-representasi. Keempat anak Adam, misalnya, membentuk oposisi biner dalam budaya agama semit.  Habil sebagai lelaki ideal yang baik dan altruistik, Qabil sebagai lelaki jahat dan egoistik, Lubuda sebagai perempuan buruk rupa, dan Iqlima sebagai perempuan cantik. Di sini lelaki dinilai dari kualitasnya, dan perempuan dinilai dari kuantitasnya.

Representasi-representasi ini adalah imajinasi politik. 

Kuasa politik didapat dengan cara membuat imajinasi politik menjadi kenyataan. Caranya dimulai dengan berbagi imajinasi dengan masyarakatnya. Imajinasi yang pertama kali dibagi adalah melalui bahasa. Bahasa mengajarkan posisi diri sendiri dan orang lain. Ketika seorang bayi belajar menyebut bapak dan ibu, ia pun belajar posisinya sebagai seorang anak yang tidak boleh memanggil bapak atau ibunya dengan sebutan nama langsung, khususnya dalam budaya timur. Dalam keluarga konvensional anak akan belajar bahwa bapak adalah kepala rumah tangga dan ibu adalah ‘milik bapak.’ Bapak adalah imam dan anak istrinya adalah makmum.

Ketika masyakarat menjadi lebih kompleks dan teknologi media berkembang dengan ditemukannya tulisan, mesin cetak, lalu media elektronik, imajinasi-imajinasi semakin dinamis berbenturan satu sama lain, berebut tempat dalam kenyataan. Agama yang pada awalnya hanya dikuasai segelintir orang pemilik kitab suci, tiba-tiba mendapat perlawanan dengan cara-cara yang berbeda dalam menafsirkan firman Tuhan. Mashab-mashab bermunculan, perang saudara, perang agama, masa kegelapan berlangsung hanya demi mewujudkan imajinasi soal Tuhan dan dunia Tuhan yang ia percaya. Dunia dijalankan oleh para psikopat delusional. Masa-masa itu tak pernah berakhir, kita masih bisa melihatnya di Timur Tengah hari ini.

isis-2_2591265a
ISIS. Sumber gambar: The Sun

Imajinasi politik non-agama juga tidak kalah mengerikan. Sejarah mencatat Hitler sebagai salah satu diktator paling parah yang ingin mewujudkan dunia ras Arya. Dia berpikir ke depan dengan cara yang sangat-sangat salah. Efeknya tidak main-main: imajinasi Hitler yang telah membantai jutaan orang, membuat sekelompok ras/agama Yahudi mengamini imajinasi mereka yang lain soal negara bernama Israel. Itu jadi masalah kita hari ini, di mana mereka yang sekuler dan konon ras paling cerdas ini, menduduki Palestina dengan alasan Agama dan janji Tuhan mereka akan tanah Perjanjian. Kelindan antara sekularisme dan agama ini membingungkan, saya tahu. Tapi seperti pembukaan tulisan ini, politik tidak pernah masalah logika, tapi kuasa.

Raving_mad_Hitler.gif

Lalu kita bertemu dengan ilmu pengetahuan, sains, yang logis, matematis, eksakta, dan konon, tidak pernah bohong. Banyak orang atheis atau agnostik berharap bahwa ilmu pengetahuan tidak akan mengkhianati mereka; bahwa Tuhan tidak ada kecuali jika bisa dibuktikan ada secara rasional dan empiris. Selama seratus tahun belakangan ini, banyak dari kita percaya bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan adalah mesin anti-politik (anti-political machine). Bahwasannya banyak masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, karena itu objektif.

Tapi bisa jadi masalah terbesar kita di abad ini adalah karena ilmu pengetahuan dan sains. Seratus tahun belakangan ini, terjadi banyak revolusi. Dan kerusakan terbesar datang bukan dari revolusi politik, tapi dari revolusi industri dan Iptek. Perang memang membunuh banyak orang, tapi perang-perang seratus tahun belakangan ini bukan semata-mata karena Tuhan. Imajinasi akan negara dan industrialisasi menimbulkan perang-perang akan sumber daya alam. Lalu ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangan seratus tahun belakangan ini juga berpusat pada eksploitasi terhadap alam dan manusia. Sepanjang sejarah planet ini, sumber daya yang dibentuk ratusan juta tahun, benar-benar dikuras dalam jangka waktu kurang dari seabad. Global warming yang terjadi abad ini adalah yang tercepat dan yang terparah sepanjang sejarah homo sapiens tinggal di bumi.

tumblr_n48sxopo1z1sjwwzso1_500

Pola pikir sains dan Iptek yang seperti mesin ini butuh sentuhan perempuan, sentuhan seorang ibu yang memelihara dan membesarkan alam. Bukan sentuhan seorang bapak yang membentuk alam seperti apa maunya seperti yang selama ini dilakukan. Sains pun ternyata butuh untuk belajar pada suku-suku pedalaman yang memperlakukan alam seperti ibu mereka, termasuk dalam membuat energi terbarukan menggunakan tenaga matahari, tenaga air atau tenaga surya. Film dokumenter “This Changes Everything,” memaparkan perlawanan-perlawanan orang-orang di seluruh dunia terhadap ekspansi sains dan teknologi Industri yang merusak alam dan penghidupan banyak orang lokal. Argumen film tersebut sangat kuat: bahwa sains dan teknologi selama ini dibawa ke arah yang salah, arah eksploitasi sumber daya alam.

Namun tentunya, isu Climate Change juga mengalami perlawanan dari kaum pengusaha konservatif yang penghasilannya dari sumber daya alam. Semua perang yang telah terjadi untuk perebutan sumber daya alam bisa percuma kalau semua konsumen mengkonversi kebutuhan energinya pada matahari, air, atau angin. Teknologi-teknologi baru tersebut harus tetap dibuat mahal dan tak terjangkau, hingga teknologi lama yang eksploitatif tetap bisa laku. Inilah hubungan haram antara politik-ekonomi-teknologi yang harus kita kritisi tanpa lelah. Sudah saatnya sains lebih membuka diri pada apa yang mereka anggap ‘tradisional’, seperti budaya-budaya teknologi lokal, dan mengembangkannya untuk membuat teknologi yang lebih ramah lingkungan dan accessible untuk masyarakat luas. Namun lagi-lagi kita akan mentok pada kebodohan. Di sini saya akan mulai masuk ke Politik Kebodohan.

 

Politik kebodohan adalah sebuah cara menunjukkan kuasa dengan membuat pernyataan yang jelas-jelas salah secara faktual dan logika sederhana, jauh dari bukti atau argumen sahih, tapi toh tetap dimajukan sebagai argumen dan, ironisnya, seringkali dimenangkan.

Biasanya politik kebodohan bisa memungkinkan karena ada yang salah dalam sebuah institusi politik, atau representasi yang diwakili oleh seorang individual yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Individualnya salah, namun institusinya memungkinkannya untuk bisa memberikan pernyataan salah tersebut. Contoh yang paling mendunia saat ini adalah Donald Trump.

trump-article-header

Bagaimana mungkin seorang pengusaha yang bukan politikus karir, dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali seksis dan rasis, bisa menjadi satu-satunya calon dari partai Republican dan memiliki jutaan pendukung? Untuk itu, kita tidak harus membicarakan Donald Trump. Kita harus membicarakan institusi yang ia wakili: rakyat kulit putih konservatif Amerika dan partai Republican.

Rakyat kulit putih konservatif Amerika, yang sebutan stereotipenya adalah kaum Red Neck, mendukung Donald Trump karena alasan-alasan yang sederhana: ketakuan kehilangan kuasa atas tanah dan pekerjaan. Dalam perjalanan saya ke beberapa desa di Amerika, saya menemukan hal-hal yang luar biasa menakutkan untuk saya sebagai pendatang dari Asia: ada sebuah restoran yang menempatkan papan besar, “White people only,” (hanya untuk kulit putih). Ada juga sebuah gubuk kayu besar (Shack) dengan tulisan, “Guns available,” yang menandakan bahwa gubuk itu menjual senjata api secara bebas. Restoran dan gubuk senjata itu berada di dua desa yang berbeda yang tidak perlu saya sebutkan dimana. Toh, jikapun Anda ke sana, seperti saya, kemungkinan Anda tak sudi mampir, kecuali jika ingin merasakan panasnya peluru di pantat Anda. Kesamaan di dua desa ini adalah, banyak di halaman rumah mereka terpampang papan: “TRUMP: MAKE AMERICA GREAT AGAIN.”

12289674_865102096941936_1974828997264139924_n1

 

Sementara itu, politisi partai Republican kalang kabut mendapati Trump menang sebagai calon mereka. Ini membuktikan betapa hancurnya pengkaderan kepimimpinan partai sayap kanan tersebut. Pasca Bush dan 9-11, lalu krisis ekonomi Amerika tahun 2008, partai yang beranggotakan banyak orang Kristen kaya raya ini tidak berhasil membuat kader-kader yang berkualitas. Menurut saya ini terjadi karena cara politik mereka adalah Politik Kebodohan itu: dengan modal hubungan sosial dan modal, mereka tidak perduli apakah pembenaran mereka soal perang Timur Tengah, atau tuduhan merka bahwa Global Warming adalah propaganda itu salah. Mereka hanya perduli pada ‘kepentingan’ (interest) bahwa perang Timur Tengah menguntungkan pengusaha  dan industri senjata, dan jika Global Warming adalah propaganda, maka mereka bisa terus mengeksploitasi sumber daya. Imajinasi inilah yang mereka tekankan terus-menerus, dan akhirnya Trump masuk mengambil momentum. Karena dari semua capres Republican, Donald Trump adalah yang paling TIDAK PERDULI.

Trump tidak perduli kalau ia seringkali tidak konsisten dalam memberi pernyataan. Ia tidak perduli soal partai politik, ia tidak perduli soal ekonomi Amerika, atau politik luar negerinya. Trump adalah entertainer/entrepreneur sejati yang benar-benar mengenal penontonnya: orang kulit putih konservatif, atau orang yang punya ‘interest’ dalam usahanya. Pengalamannya di televisi membuatnya paham bahwa kontroversi menjual, dan media selalu akan membuat orang tolol semakin terkenal, jika orang tolol itu punya kuasa. Seperti anjing menggigit orang, Donald Trump tidak biasa karena dia orang tolol yang sangat kaya, dengan brand yang dekat dengan kata Triumph (menang). Ia ahlinya periklanan ilusi–propaganda industri dan pembangunan brand. Di sini kita bisa melihat satu lagi karakteristik Politik Kebodohan:

Politik kebodohan mengambil kuasa dari memperbodoh orang lain, dengan cara manipulasi informasi, propaganda, dan menghilangkan orang-orang yang memprovokasi massa untuk berpikir. Politik kebodohan berpegangan pada satu prinsip: menjadi bodoh adalah berkah (ignorant is a bliss).

Dalam politik kebodohan, kesederhanaan adalah segalanya. Pesan untuk massa rakyat harus sepopuler mungkin, dan sepopuler mungkin artinya sesingkat dan seklise mungkin. Masyarakat tak perlu tahu tujuan si politikus, tapi masyarakat hanya harus merasa berbagi imajinasi. Imajinasinya harus mendasar dan sederhana, seperti ketakutan akan kehilangan pekerjaan, atau iming-iming uang, atau  (ini yang akan selalu populer) ketakutan akan neraka.

Di Indonesia, politik kebodohan selalu bekerja dengan baik. Dalam pilpres Prabowo vs Jokowi tahun 2014 lalu, kedua kandidat sesungguhnya memiliki dua sisi tim kampanye: tim kampanye untuk elit politik, dan tim kampanye untuk massa rakyat. Tim kampanye untuk massa rakyat adalah tim yang menggunakan politik kebodohan itu. Prabowo menjual imej pemimpin keras, tegas, galak. Cocok dengan massa rakyat yang maskulin. Sementara itu Jokowi menjual sosok pemimpin yang wajahnya seperti petani, kurus, dan dekat dengan rakyat. Soal politik kebodohan, keduanya sama-sama. 50-50. Seandainya Demokrasi Indonesia diserahkan pada Rakyat sepenuhnya, tidak ada yang akan menang di antara Prabowo dan Jokowi.

14027988871694362327

Yang memenangkan Jokowi adalah politik elitnya. Pecahnya Golkar dengan merapatnya Jusuf Kalla ke Jokowi, serta diikatnya beberapa petinggi militer dan kepolisian dalam perjanjian politiklah yang memenangkan Jokowi. Belum lagi dukungan dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia–yang terus terang menentang Prabowo. Dari sisi Prabowo sendiri, kita melihat KMP yang isinya orang-orang oportunis dengan politik dua kaki: celup ke ember manapun yang menguntungkan. Seperti banyak pendapat para ahli, politik Koalisi ini takkan tahan lama begitu tidak dikasih makan kuasa.

Apakah ini artinya politik untuk rakyat adalah politik kebodohan dan politik untuk elit adalah politik sebenarnya? Ya dan tidak.

Pada negara-negara yang demokrasinya sudah maju, setiap rakyat adalah elit. Setiap rakyat sudah punya daya baca dan daya kritis untuk memilih dan paham konsekuensi pilihan politiknya. Kalau mau contoh, kita bisa melihat beberapa negara Eropa, dari pemilihan walikota di London, sampai negara-negara dengan sistem pendidikan dan demokrasi mutakhir seperti Finlandia, atau Islandia yang Perdana Menterinya langsung mundur begitu didemo soal Panama Papers. Tapi kalau daya baca rakyat dan elitnya rendah, dan hubungan antara pemerintah, rakyat dan militernya lebih banyak konflik daripada kerjasama, maka Politik Kebodohan akan mendominasi.

Maka itu muncullah imajinasi-imajinasi yang dipaksakan macam kebangkitan PKI. Imajinasi yang dipaksakan ini adalah sebuah delusi, yang ironisnya banyak dipercaya orang-orang dengan ketidakberdayaan intelektual yang sama. Orang-orang pengidap Phronemophobia akut, yang kebanyakan tidak bisa disembuhkan. Mereka hanya bisa menang lewat penipuan besar-besaran atau kekerasan. Dan ketika kalah argumen, mereka tidak akan mengaku kalah, tapi langsung menuduh dizalimi secara politik atau menuduh orang yang benar sebagai orang yang terdoktrin pihak lain. Kuliah umum Kiki Syahnakri soal Marxisme-Aristotelian, misalnya, jelas-jelas salah dan dihujat habis-habisan di Media Sosial. Tapi toh, nampaknya dia cuek saja.

Kiki Syahnakri tidak sendirian. Di Amerika, seorang pendukung Donald Trump garis keras yang masih misterius namanya, pernah melakukan hal yang sama di tahun 2013 ketika ia protes untuk melengserkan presiden Obama. Politik kebodohan ini adalah masalah universal, dan sesuatu yang terus-terusan dipakai dimana-mana.

mtm2njq0odk5njuzotuzmte5
Orang misterius yang protes melengserkan Obama dengan alasan bahwa Obama adalah Muslim dan Muslim adalah Marxist. Dia muncul lagi dalam kampanye Donald Trump tahun ini untuk mendukung sentimen anti-Islam.

Akhirnya, jika kita mau jadi orang baik, perjuangan utamanya adalah mencerdaskan bangsa. Membuat seluruh rakyat jadi elit yang berdigdaya, yang daya bacanya tidak hanya seperti anak kelas 4 SD jaman Orba. Membuat kesadaran dunia-akhirat, bahwasannya dunia tidak kalah penting dibanding akhirat. Warisan utama yang harus ditinggalkan adalah cara berpikir untuk bisa hidup menjadi manusia unggul yang bisa berfungsi baik secara sosial dan politik, dan mendasarkan hidupnya pada rasio dan empiris yang tidak terlepas dari kenyataan sosial yang ada. Warisan itu hanya bisa dilakukan dengan memenangkan politik kebodohan ini, dengan segala cara.