Filsafat, Racauan

Tidak bebas, terbatas

Kita tidak bebas. Kita terbatas. Kita dilahirkan ke dalam konteks sosial yang telah terbentuk jauh sebelum kita ada. Sejarah yang luas dan kompleks ini membentuk panggung di mana kita bermain peran. Kita tidak bisa lepas dari pengaruh sosial-politik yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Genetik yang kita warisi membawa riwayat panjang yang tidak bisa kita pilih atau tolak. Ini adalah keterbatasan pertama kita.

Keterbatasan kedua adalah keberadaan orang lain. Setiap individu memiliki kebebasannya sendiri, yang sering kali bertabrakan dengan kebebasan kita. Kita terikat dalam jaringan hubungan sosial yang kompleks, di mana setiap tindakan kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain.

Lalu, bagaimana dengan tanggung jawab? Tanggung jawab adalah konsep yang abstrak, namun sangat nyata dalam kehidupan kita. Tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan orang lain terbentuk dari cara kita dibesarkan, genetik kita, dan sejauh mana kita mampu mengambil kendali atas hidup kita. Eksistensialisme mengajarkan kita bahwa kita ada, dan kita mengisi keberadaan kita melalui referensi yang kita temukan selama hidup. Tanggung jawab ada, namun ia bersifat simbolik, sebuah ikatan antara manusia dan kebudayaan.

Pencarian makna dalam hidup sering kali terasa seperti usaha yang sia-sia. Kita hidup di semesta yang luas, di mana keberadaan kita bisa terasa sepele, seperti kutu di permukaan bumi yang bisa dengan mudah dihapuskan. Namun, kita diberi kemampuan untuk berpikir, untuk merenungkan eksistensi kita. Manusia adalah spesies yang unik, yang mampu menciptakan makna dari cerita-cerita yang kita bangun sendiri.

Maka, meskipun hidup mungkin terasa sia-sia, pencarian makna tetap penting. Kita mencari makna untuk bisa membuat cerita, untuk bergerak dalam ranah simbolik dan pikiran manusia. Ini adalah cara kita memberi arti pada keberadaan kita, cara kita menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang siapa kita dan mengapa kita ada.

Ini bukan untuk mencari jawaban yang pasti atau klise, tapi untuk memahami bahwa dalam keterbatasan kita, ada kebebasan untuk menciptakan makna. Dalam tanggung jawab kita, ada kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia dan orang-orang di sekitar kita. Dan dalam pencarian makna yang mungkin terasa sia-sia, ada keindahan dalam proses penciptaan cerita kita sendiri.

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban. Namun, bukan jawabannya yang penting, melainkan keberanian untuk bertanya dan keberanian untuk mencari makna dalam setiap langkah yang kita ambil. Kita mesti merenung, bukan untuk menemukan kepastian, tapi untuk menghargai keraguan dan ketidakpastian sebagai bagian dari eksistensi kita.


Tulisan ini dicopy edit dari penjelasan panjang saya ke copilot, dan GPT 4 membantu menuliskannya. Saya mengeditnya lagi sesuai selera dan arah yang saya inginkan.

Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Racauan

Kalau sudah terasing lalu apa?

Aku merasa begitu asing dengan dunia hari ini ketika aku melihat media sosial yang random dan di luar kebiasaanku. Pertama kali membuka Tiktok, sebelum ia merekam apa yang kusuka dan tidak kusuka, aku disuguhi apa yang banyak orang Indonesia suka, dan aku mau muntah. Begitupun ketika melihat facebook video yang random keluar di feed berdasarkan kesukaan banyak orang.

Aku tidak bilang bahwa apa yang orang suka, aku tidak paham. Aku hanya merasa bahwa yang kebanyakan orang suka adalah hal-hal banal, tentang seks, perselingkuhan, atau kisah-kisah agama yang sangat dangkal. Kurasa begitulah kebanyakan manusia hidup. Secara praktis apa yang kubaca dan kupikirkan tidaklah begitu berguna untuk kehidupan.

Inginnya sih berusaha rendah diri, dan melihat secara antropologis dan filosofis tentang eksistensi orang lain. Tapi bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri dengan lebih dalam secara eksistensial. Semua misteri tentang keberadaan sudah terjawab. Tuhan tidak bisa dipercaya keberadaannya, dan kalaupun dia ada aku pun tidak mempercayai kebijakan dan apapun yang ia buat. Lalu keberadaanku dan seluruh manusia hingga sekarang cuma kebetulan saja dari sebuah struktur biologis yang tumbuh seperti kanker.

Dan dengan kemajuan teknologi media sosial dan kecerdasan buatan, semakin banyak kebodohan yang terlihat–karena orang cerdas memberikan orang-orang tolol kanal bersuara alih-alih membuka komunikasi dengan pendidikan. Aih, racauanku ini seperti tidak ada puasnga bikin masalah.

Namanya racauan, aku meracau saja dulu. Toh pada akhirnya semua ini politik saja. Semua orang berebut kuasa dalam konteksnya sendiri-sendiri, dalal lapisan-lapisan yang berbeda-beda dari borjuis kecil hingga pemilik modal, punya politik horizontalnya masing-masing. Pa

Pada akhirnya semua orang butuh kerja dan diatur masyarakat atau institusi untuk mendapatkan relevansinya masing-masing. Di luar itu manusia akan jadi anarkis atau gila saja.

***

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Jika kamu suka yang kamu baca dan ingin dukung aku, traktir aku kopi, boleh? Biar semangat dan bisa nabung bayar website ini. Klik tombol di bawah.

Memoir, Racauan

Cara Menemukan Tujuan Hidup

Galau ditinggal pacar? Kerjaan kamu nggak enak? Pengangguran? Sering bengong dan mempertanyakan, kamu hidup buat apa? Buat siapa? Kemana setelah mati? Apa arti kehidupan? Apakah upil terbuat dari aibon? Kalau iya, apakah kita bisa mabok menjilat atau menghirup upil sendiri? Ini semua adalah pertanyaan eksistensial, dan harus dijawab biar hidupmu lebih berkualitas. Kita kecilkan dulu pertanyaan besarnya dengan sebuah pertanyaan sederhana:

Apa yang kamu mau di hidup ini?

Kalau sudah tahu, bagus. Kalau nggak tahu, wajar. Kebanyakan orang nggak tahu kok makanya gampang kemakan iklan. Diiming-imingi sesuatu yang kita butuh padahal nggak butuh. Dan satu keinginan dari iklan itu merembet ke banyak keinginan lain. Tepu-tepu kapitalisme!

Kebanyakan orang tidak tahu dia ingin apa, atau merasa tahu tapi tidak bisa menjelaskan. Padahal untuk hidup maksimal, kita perlu untuk punya keinginan jangka panjang, yang kita gapai dengan tindakan-tindakan jangka pendek. Dan ini kerennya: kalian nggak perlu tahu atau punya tujuan besar dalam hidup, kalian selalu bisa go with the flow dengan melakukan tiga cara ini: imitasi, kolaborasi, lalu inovasi.

Semua orang belajar hidup dengan mengimitasi orang lain. Kita belajar bahasa hingga perilaku dan membuat cita-cita dari orang lain. Kebanyakan imitasi ini didapat dari keluarga, dan keluarga juga yang membantu kita (secara sadar atau tidak sadar) dalam memilih jalan hidup kita.

Ada keluarga yang sangat mengontrol anak-anaknya, dan berusaha untuk menentukan tujuan hidup si anak dari hal yang mereka tahu saja, lalu membatasi karir si anak. Misalnya, keluarga polisi berusaha membuat semua anaknya jadi polisi, polwan, atau minimal istri polisi. Begitupun keluarga dokter, bahkan filmmaker dan Seniman. Ini juga ada hubungannya dengan jaringan sosial keluarga. Bahwasannya, seseorang bisa aman jika mengikuti jaringan sosial yang dibangun keluarganya.

Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak mampu atau tidak sudi mengimitasi keluarga terdekatnya, entah karena trauma, atau karena memang tidak diarahkan untuk menjadi seperti orang tuanya. Si anak harus mencari model sendiri, mau apa dia ke depannya, mau jadi apa dia, siapa yang mau dia imitasi kalau bukan keluarganya?

Saya pribadi, tidak mengimitasi keluarga dengan penuh. Hidup saya adalah campuran dari imitasi-imitasi dari orang-orang yang saya kagumi, yang membuat profesi saya juga tidak jelas-jelas amat, dan banyak kepribadian saya yang tidak nyambung dengan keluarga saya. Saya pembaca akut dan entah itu darimana. Tapi dalam kehidupan saya mengikuti orang-orang yang saya kagumi dan membuat diri saya sendiri tanpa ada yang mengarahkan atau menyuruh saya.

Dan semua skill itu saya dapatkan dengan cara kolaborasi dengan orang lain. Saya minta diajarkan untuk membantu proyek orang, begitupun sebaliknya. Banyaknya ngobrol, observasi, partisipasi dan imitasi membuat saya banyak sekali dapat ilmu yang akhirnya bisa saya kombinasikan menjadi sebuah manifes penting. Misalnya: MondiBlanc Film Workshop.

Mondi adalah gabungan dari dua imitasi. Imitasi pertama atas kawan-kawan saya di New York dan di Muntilan untuk mewujudkan  sebuah tempat belajar yang gratis dan siswanya dibayar, dan imitasi kedua ide kawan saya Tito Imanda yang punya impian bikin kampus gratis. Saya coba bikin workshop ini dengan kolaborasi dan kami berhasil mencapai lebih dari 150 orang alumni, dengan karya dan aliran yang beda-beda. Di sini saya berinovasi dengan semua yang sudah saya imitasi dalam hidup saya. Dan saya sudah nekat: saya sudah tinggalkan pekerjaan tetap saya untuk fokus di MondiBlanc dan eseinosa ini.

Tujuan besar saya yang lain adalah sebuah inovasi. Saya ingin membuat film panjang saya sendiri dari institusi yang saya buat sendiri. Jadi sambil bikin film panjang, saya mau membuktikan bahwa institusi saya berhasil membuat orang-orang hebat.

Maka tujuan besar saya sudah jelas dan tujuan kecil-kecilnya sudah dan sedang dilaksanakan. Dan ketika tujuan besar tercapai, saya akan cari tujuan besar lain. Menolak Oscar, misalnya. Keren kan, menang aja jauh banget, tapi kalau menang maunya nolak. Biar keren aja gitu kayak Marlon Brando. Tapi mari kita lihat saja. Karena tujuan besar bisa berubah-ubah disebabkan keadaan dan kenyataan. Dan itu tidak apa-apa, selama kita bersandar pada apa yang ada, dan kita rawat dan kembangkan tanpa terjebak pada hal yang besar-besar. Semua dimulai dari hal kecil. Seperti upil, yang nyangkut di hidung saya. Membuat saya agak mabuk. Mungkin benar, ia terbuat dari aibon.

***

Hai, Terima Kasih sudah membaca post ini sampai habis. Buat yang belum tahu, website ini dibiayai donasi dan hostingnya lumayan mahal. Jika kamu ada rejeki, bolehkah traktir yang nulis kopi gula aren murahan? Klik tombol di bawah ini ya…

English, Memoir, Racauan

Dysphoria #1: Self-made Hell

This is a work fiction. All resemblance with the reality is on purpose. Explicit content.

It is obvious that my loneliness is the main cause of all these fuss, unfaithfulness, the distorted feeling of entitlement. It is my most deceptive defensive mechanism–that the truth, in itself, is self destructing. I am alienating people in order to alienate myself from the hell that they construct.

Creating my own hell, is better than living somebody else’s heaven.

Thus, I hurt myself again, just to find a way to make me forget that I am lonely. I hurt myself with bulimia, with days of sleep, with obsessive scratching, cutting, and obsessive exercise when the manic came, sleepless nights, and after that I still want to punch any guy, or fuck any girl that I think deserve my fist or my dick. I am all open to fight or fuck because I’m sick of flight.

And I’d desperately love anybody who wants to love me. And I’d burn myself, sacrifice myself, ready to be crucify like Jesus H. Christ, and I’d beg people not to leave me until they’d got annoyed and see me as a freak and they need to leave me to stay sane because I’d drive them crazy, so I’d drive my car. I’d drive and drink myself hope to die on the road, hopefully with other assholes that swarming the highways of this city.

And all of it would be my fault. Nobody can blame or even care about my disorder, my upbringing, the system that I am in. I and only I, will be held responsible for all this mess that’s happening with my life and other people that I dragged.

The fucking shrink might say that this thought is cognitive distortion, self entitlement, but fuck you, the court, the people’s court cannot hold my disorder, my upbringing responsible for my actions. They cannot put those abstract nouns in jail, they could not rehabilitate my illness. It is I and only I, will be held responsible for my actions.

And what else should I do but to embrace what the universe has given me? I have eliminate the choice to take my own life because of the meds or because I’m a fucking coward. Anyway, I have no choice but struggle against a sea of trouble and by opposing hope to end them. Even though I know, that I will lose and drown and will face inevitable slow death. But at least I did fight back and refuse to flight.

At least I did good, at being brave. To open my eyes every day, and trying hard to get out of bed and go out to the world. To fight or to fuck. And if I have to lose love again, I think it’s just because I don’t deserve love. I am condemn to beg. For mercy, for love, for attention, only to toss it all out, when I feel lonely.

Because of this distorted feelings and thought, that I’d rather be alone, than be lonely. And the only way to be out of the misery of loneliness, is to break all ties and be perfectly alone to face the misery of the ubermench, the homo deus. Until there is no happines or misery any more, until there is no value in the narrative of my life.

It is when I became forgetful, mad, or die.

Sickness unto death.

This site is run by donation. If you like what you read, please be a patron at by clicking this link.